• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Pengumpulan Data

III. METODE PENELITIAN

3.4 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Fermentasi

Metode Fermentasi, metode pemisahan minyak kelapa dari santan adalah dengan ekstraksi. Fermentasi ini metode pengambilan sari dari material induk, seperti pemisahan minyak kelapa yang merupakan sari dari santan yang merupakan material induk.

2. Observasi

Metode Observasi, dalam metode observasi ini penulis terjun langsung mengamati beberapa masyarakat sekitar yang ada di Desa Bababulo terhadap pengetahuannya tentang bagaimana cara mengolah minyak kelapa hingga bisa dikonsumsi.

3. Wawancara

Metode Wawancara, penulis menggunakan metode wawancara ini yaitu dengan teknik wawancara yang mengajukan pertanyaan bersifat bebas dan terbuka. Pihak yang diwawancarai adalah beberapa masyarakat di Desa Bababulo

4. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan salah satu teknik yang penting dalam melakukan suatu kegiatan, untuk mengumpulkan data dan dokumen penting.

Dalam proses pengolahan minyak kelapa ini penulis merekam bagaimana tahap pengolahan minyak kelapa dari awal hingga selesai.

3.5 Teknis Analisis Data

1. Proses pengolahan VCO memiliki berbagai macam prosedur yang telah ditentukan oleh Kelompok Usaha Anjoro Tuo di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene mulai dari menyiapkan bahan baku sampai dengan proses pengemasan.

2. Teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif- kualitatif yaitu metode untuk mengetahui dan memberikan gambaran mengenai data primer dan sekunder yang telah dikumpulkan.

3. Analisis pendapatan usaha yaitu analisis yang menghitung besarnya penerimaan dan keuntungan yang diperoleh petani dengan adanya sistem agribisnis selama proses produksi yang dihitung sebagai berikut :

a. Analisis Biaya

Untuk menghitung besarnya total biaya (Total Cost) diperoleh dengan cara menjumlahkan biaya tetap (Fixed Cost) dengan biaya variabel (Variable Cost) dengan rumus menurut Suratiyah (2015) :

TC = FC + VC Keterangan :

TC = Total Cost (Total Biaya)

FC = Fixed Cost (Biaya Tetap)

VC = Variable Cost (Biaya Variabel)

b. Analisis Pendapatan Usaha Minyak Kelapa : π = TR - TC Keterangan :

π = Pendapatan

TR = Total Revenue (total penerimaan) TC = Total cost (total biaya)

c. Dengan analisis sederhana dengan mencari pendapatan usaha minyak kelapa dengan rumus :

TR = Y. Py Keterangan :

TR = total revenue (total penerimaan)

Y = produksi yang diperoleh Py = Harga Y

Maka pendapatan dapat diperoleh dengan rumus : I = TR-TC Keterangan :

I = Income (pendapatan)

TR = Total revenue (total penerimaan) TC = Total cost (biaya)

3. Analisis Kelayakan

Menurut Suratiyah (2015), R/C adalah perbandingan antara penerimaan dengan total biaya.

R/C = Penerimaan Total (TR) Biaya Total (TC) Dimana :

TR = Total Penerimaan TC = Total Biaya Kriteria penerimaan R/C Ratio :

R/C < 1= usaha produksi minyak kelapa murni mengalami kerugian.

R/C > 1= usaha produksi minyak kelapa murni memperoleh keuntungan.

R/C = 1 = usaha produksi minyak kelapa murni mencapai titik impas.

3.6 Definisi Operasional

1) Kelapa (Cocos Nucifera L) merupakan buah kelapa yang langsung di panen milik orang dan diperoleh dengan cara membeli dari hasil perkebunan milik orang lain.

2) Minyak kelapa terbuat dari daging kelapa segar prosesnya dilakukan dengan manual dan modern sehingga dapat menghasilkan minyak yang layak konsumsi.

3) Proses pembuatan minyak kelapa dilakukan dengan memberikan peluang lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.

4) Hasil pengolahan minyak kelapa ini memberikan kemudahan tersendiri terhadap masyarakat di dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi selama masa pandemi covid-19 serta langkahnya minyak goreng, karena pengolahan minyak kelapa ini masyarakat lebih mudah mendapatkan keperluan di dalam kehidupan rumah tangga.

5) Minyak kelapa merupakan hasil dari produksi kelapa segar yang diolah dengan cara tradisional. Usaha perakitan dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.

6) Usaha minyak VCO adalah salah satu usaha yang mengolah kelapa menjadi suatu produk yang memiliki nilai tambah di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene.

7) Biaya tetap (fixed cost) adalah biaya yang relative tetap jumlahnya dan terus dikeluarkan walaupun jumlah minyak VCO yang diproduksi banyak atau sedikit.

8) Biaya variabel (variable cost) adalah biaya yang besar kecilnya dipengaruhi oleh jumlah minyak VCO yang diproduksi.

9) Total biaya adalah keseluruhan biaya produksi yang digunakan selama melakukan kegiatan usaha minyak VCO di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene.

10) Penerimaan adalah harga produk dikali dengan jumlah produksi minyak VCO di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene.

11) Pendapatan adalah selisih antara penerimaan dan total biaya pada usaha minyak VCO di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene.

12) Kelayakan adalah ukuran perbandingan antara penerimaan usaha (revenue) dan total biaya (total cost) pada usaha minyak VCO di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene.

IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITIAN

4.1 Sejarah Desa Bababulo

Sejarah dahulu Desa Bababulo berada dalam wilayah Kerajaan Pamboang salah satu kerajaan di wilayah mandar yang dipimpin langsung oleh Pabicara Bonde selaku anggota tokoh adat kerajaan dan berada satu wilayah dengan Desa Bababulo terbilang maju disbanding dengan Desa-desa di sekitarnya akibat asimilasi budaya yang kian cepat serta pengalaman penduduknya yang kebanyakan adalah pelaut berlayar ke berbagai wilayah di Nusantara seperti Ternate, Ambon bahkan sampai ke Singapura salah satu buktinya adalah banyaknya warga Desa yang mempunyai garis keturunan diwilayah tersebut serta adanya beberapa pulau di Kalimantan, Jawa Timur, serta diberbagai pulau terluar Indonesia.Bahkan Bonde (Sekarang Bababulo) merupakan Sejarah Pendaratan Pejuang Mandar Ammana Wewang setelah diasingkan di Walitung (Belitung) pada tahun 1947.

Seiring dengan perkembangan ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Seni yang selanjutnya disebut dengan IPTEKS, serta adanya pergeseran paradigm pembangunan yang mana persaingan global semakin nyata di depan mata, dan hal tersebut sejarah dengan kebutuhan manusia atau masyarakat semakin banyak, maka terlahirlah inisiatif pemekaran desa menjadi dua Desa yaitu Desa Bababulo dan Desa Bababulo Utara.

Pemekaran Desa Bababulo menjadi 2 Desa ini dilakukan oleh pemerintah pada tahun 2010 yang menjadikan Desa Bababulo lebih sempit

yang dulunya terdiri dari Dusun Rawang, Dusun Bababulo, Dusun Saleppa, Dusun Kampung Baru dan kini menjadi Dusun Rawang, Dusun Porendeang, Dusun Bababulo, dan Dusun Bonde Talawar. Namun pemekaran desa Bababulo menjadi sebuah yang lebih sempit, tidaklah mengubah identitas Desa Bababulo sebagai Bababulo Induk yang merupakan sejarah pendaratan pejuang Mandar Ammana Wewang. Hal ini disebabkan karena tempat bersejarah dari daerah ini masih tetap menjadi bagian dari Wilayah Desa Bababulo, tempatnya di Dusun Bonde Talawar.

Desa Bababulo yang terdiri dari 4 dusun mengalami cukup kendala dalam proses pemerataan pembangunan, sehingga dalam perjalanannya pemerintah Desa Bababulo masih tergolong Desa berkembang. Berikut adalah para Kepala Desa yang pernah memimpin Desa Bababulo dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3.Nama-Nama Demang/Kepala Desa dari masa ke masa sebelum dan sesudah Berdirinya Desa Bababulo

No. Nama Kepala Desa Periode Keterangan

1. H. AM. Makmur 1983 s/d 1987 Masa Kerja 5 Tahun 2. Muh. Arif Abduh 1987 s/d 1989 Masa Kerja 2 Tahun 3. Alimuddin Palewangi 1989 s/d 2007 Masa Kerja 18 Tahun 4. Tamzil Haeruddin 2007 s/d 2010 Masa Kerja 2 Tahun

5. Taufik 2010 s/d 2011 Masa Kerja 1 Tahun

6. Muchdiar 2011 s/d 2017 Masa Kerja 6 Tahun

7. Taufik, S.IP 2017 s/d 2020 Masa Kerja 2,4 Tahun 8. Albar Mustar, S. Sos. M.Si 2020 s/d 2021 Masa Kerja 1 Tahun 9. Muh. Arzil A. Palewangi 2021 s/d 2023 Sekarang Sumber : Desa Bababulo, 2022.

4.2 Letak Geografis

Desa Bababulo adalah salah satu Desa yang berada di Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene yang berjarak -+ 7 km dari Ibu Kota Kecamatan Pamboang.

Desa Bababulo adalah daerah pedesan yang berada di pesisir pantai barat Sulawesi, dengan mayoritas penduduknya adalah Pelaut/nelayan dan petani, hiduplah sekelompok masyarakat rukun dan damai meskipun kehidupan penduduk dalam kehidupan sederhana, orang menyebutnya Desa Bababulo yang merupakan pemerintahan dari Desa Bonde pada tahun Tahun 1983 kondisi geografisnya berada ditepi pantai selat Makassar. Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene, terdiri dari empat dusun yaitu Dusun Bonde Talawar, Dusun Bababulo, Dusun Porendeang, dan Dusun Rawang.

Luas Desa Bababulo sekitar 1,94 Km2 dengan Luas tanah pemukiman 18 ha/m2, tanah kering 17 ha/m2, tanah perkebunan 259 ha/m2, dan Tanah Hutan 115 ha/m2. Luas Wilayah Desa Bababulo berada pada titik koordinat antara 03030120- 0303130 Lintang Selatan dan antara 118053’55”-118055’00”

Bujur Timur dengan Batas sebagai berikut:

a. Sebelah Utara : Desa Bababulo Utara b. Sebelah Selatan : Desa Bonde Utara c. Sebelah Barat : Selat Makassar

d. Sebelah Timur : Desa Buttu Pamboang

Desa Bababulo secara umum beriklim tropis. Ada dua musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan, sehingga sangat berpengaruh pada

pendapatan penduduk khususnya nelayan dan petani. Iklim tropis dengan rata- rata curah hujan 1,6/456,4 Mm, jumlah bulan hujan 6 bulan, suhu rata-rata 27 s/d 300C, kelembaban udara 73-820C, dan ketinggian 3 Mdpl.

4.3 Kondisi Demografis

Penduduk Desa Bababulo Tahun 2022 (sumber data) + 1.863 Jiwa.

Terdiri dari laki-laki 927 Jiwa sedangkan perempuan 936 Jiwa. Seluruh penduduk Desa Bababulo terhimpun dalam keluarga (rumah tangga) dengan jumlah sebanyak 437 KK. Untuk lebih jelasnya jumlah penduduk Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene.

Tabel 4.Jumlah Penduduk berdasarkan jenis kelamin

No. Jenis Kelamin Jumlah (orang) Persentase (%)

1. Laki-Laki 927 49,76

2. Perempuan 936 50,24

Total 1.863 100

Sumber : Desa Bababulo, 2022.

Tabel 4 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene yang memiliki jenis kelamin tertinggi yaitu perempuan sebanyak 936 jiwa dengan 50,24%.

Tabel 5.Jumlah Penduduk berdasarkan umur

No. Umur (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)

1. 4-17 728 39,07

2. 18-29 450 24,16

3. 30-41 236 12,67

4. 42-54 229 12,30

5. 55-70 220 11,80

Total 1.863 100

Sumber : Desa Bababulo, 2022.

Tabel 5 diatas menunjukkan bahwa jumlah umur penduduk tertinggi adalah dari umur 4-17 yaitu 728 orang dengan 39,07% sedangkan jumlah umur penduduk terendah adalah dari umur 55-70 yaitu 220 dengan 11,80%.

Tabel 6.Jumlah Penduduk berdasarkan Tingkat Pendidikan

No. Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)

1. SD/sederajat 658 47,51

2. SMP/sederajat 261 18,85

3. SMA/sederajat 297 21,45

4. Diploma 44 3,17

5. Sarjana (S1-S2) 125 9,02

Total 1.385 100

Sumber : Desa Bababulo, 2022.

Tabel 6 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene dilihat dari tingkat pendidikan tertinggi didominasi oleh SD/sederajat sebanyak 658 orang dengan 47,51%.

Adapun jumlah penduduk berdasarkan pekerjaan/mata pencaharian di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene dapat dilihat pada Tabel 7 berikut:

Tabel 7.Jumlah Penduduk berdasarkan Pekerjaan/Mata Pencaharian

No. Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase (%)

1. Petani 174 9,35

2. Pedagang/wiraswasta 114 6,11

3. PNS/TNI/POLRI 63 3,39

4. Karyawan Perusahaan Swasta 8 0,42

5. Nelayan 894 47,99

6. Tenaga Kontrak/Sukarela 45 2,42

7. Buruh/Tenaga lepas 21 1,12

8. Pensiunan 10 0,53

9. Belum/tidak bekerja 534 28,67

Total 1.863 100

Sumber: Desa Bababulo, 2022.

Tabel 7 menunjukkan bahwa jumlah penduduk di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene berdasarkan pekerjaan/mata

pencaharian, dominan penduduk bekerja sebagai nelayan adalah sebanyak 894 orang yaitu 47,99% dari jumlah keseluruhan penduduk adalah sebanyak 1.863 orang.

4.4 Kondisi Pertanian

Penduduk Desa Bababulo mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Disamping sebagai nelayan yang aktivitasnya dapat dikatakan seharian berada dilaut namun setelah dari menangkap ikan, masyarakat Desa Bababulo juga menyempatkan diri di waktu sore hari untuk bertani atau berkebun. Di sektor Pertanian dan Perkebunan, Masyarakat Desa Bababulo kebanyakan menanam kelapa, pisang, dan ubi. Adapun cabai, jagung, dan bawang merah merupakan tanaman musiman yang sebagian kecil masyarakat melakukan penanaman.

Hasil dari Sektor Pertanian dan Perkebunan ini dijadikan peluang oleh sebagian warga Desa Bababulo untuk kebutuhan pribadi dan sebagai mata pencaharian. Yang mana hasil panen dari pisang, kelapa sering dibawah ke pasar-pasar untuk dijual, adapun sebagian kecil dari hasil panen ubi kayu biasanya masyarakat desa menjadikannya olahan bisnis kuliner suku Mandar yaitu jepa.

Produk unggulan tanaman perkebunan di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene adalah kelapa.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identitas Informan

Informan dalam penelitian ini merupakan Kelompok Usaha Anjoro Tuo yang mengusahakan minyak VCO (Virgin Coconut Oil) di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene. Karakteristik informan dapat dilihat dari segi umur, pendidikan, jenis kelamin, dan pengalaman usaha. Aspek-aspek tersebut sangat mempengaruhi kinerja pengembangan VCO.

5.1.1 Karakteristik Informan Berdasarkan Umur

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan seseorang dalam mengelola minyak VCO adalah umur. Hal ini sangat mempengaruhi kemampuan fisik dalam pola pikir sehingga berpengaruh dalam pengambilan keputusan. Di Desa Bababulo umur merupakan faktor penting dalam melakukan pengolahan minyak VCO sebab semakin bertambahnya umur maka semakin dewasa pemikiran dalam melakukan sebuah usaha. Adapun umur masing-masing informan, diperlukan pengelompokan umur dari interval tertentu. Pada Tabel 8 berikut ini akan menggambarkan pengelompokan umur sebagai berikut :

Tabel 8.Identitas Informan Kelompok Usaha Anjoro Tuo Berdasarkan Umur di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene

No. Umur (Tahun) Jumlah (Orang) Persentase (%)

1. 47-49 3 30

2. 50-56 2 20

3. 57-61 5 50

Total 10 100

Sumber: Data Primer (diolah) Tahun 2022.

Berdasarkan Tabel 8 menunjukkan bahwa jumlah Kelompok Usaha Anjoro Tuo yang terbanyak pada kelompok umur 57-61 tahun sebanyak 5 orang dengan persentase 50%. Hal ini menunjukkan bahwa Kelompok Usaha Anjoro Tuo di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene berada pada kategori usia yang produktif. Sedangkan jumlah terendah berada pada umur 47-49 tahun sebanyak 3 orang dengan persentase 30% artinya pada usia tersebut kurang produktif.

5.1.2 Tingkat Pendidikan Informan

Secara umum dapat dikatakan bahwa pendidikan akan membentuk keleluasan pengetahuan seseorang yang akan mengetahui perilaku dan pengembangan keputusannya. Tingkat pendidikan adalah jenjang seseorang dalam menempuh studi terakhir untuk menambah ilmu pengetahuan dan wawasan untuk mempelajari keadaan yang akan dihadapi. Tingkat pendidikan formal Kelompok Usaha Anjoro Tuo merupakan salah satu faktor yang cukup berpengaruh dalam pengembangan minyak VCO, khususnya dalam pengerapan inovasi yang dapat menunjang pencapaian pendapatan yang optimal. Apabila pendidikan formal pengusaha relatif tinggi, maka akan memudahkan dalam menerapkan teknologi baru, serta manajemen yang lebih efektif dan efisien.

Adapun jenjang Pendidikan yang ditempuh Kelompok Usaha Anjoro Tuo dibagi menjadi 3 bagian yaitu SD, SMP, dan SMA dapat di lihat pada Tabel 9 berikut :

Tabel 9.Identitas Informan Kelompok Usaha Anjoro Tuo Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene

Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Persentase (%)

SD 2 20

SMP 4 40

SMA 4 40

Total 10 100

Sumber: Data Primer (diolah), 2022.

Berdasarkan Tabel 9 dapat dikatakan bahwa jenjang Pendidikan yang ditempuh Kelompok Usaha Anjoro Tuo terbagi menjadi 3 yaitu jenjang SD, SMP, dan SMA dengan jumlah jenjang SD sebanyak 2 orang dengan persentase 20%, jenjang SMP sebanyak 4 orang dengan persentase 40% dan sebanding dengan jenjang SMA dengan jumlah 4 orang dengan persentase 40%, dengan demikian kelompok usaha anjoro tuo mendapatkan pendidikan yang tinggi sehingga dapat mengolah usaha dengan baik.

5.1.3 Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga merupakan anggota keluarga yang tinggal satu rumah dan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya berada dalam satu unit manajemen. Besarnya jumlah tanggungan keluarga sangat terkait dengan tingkat pendapatan seseorang. Jumlah tanggungan yang semakin besar menyebabkan seseorang memerlukan tambahan pengeluaran atau kebutuhan penghasilan yang lebih tinggi untuk membiayai kehidupannya.

Tabel 10.Informan Kelompok Usaha Anjoro Tuo Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene

No. Jumlah Tanggungan Keluarga

Jumlah (orang) Persentase (%)

1. 1-3 8 80

2. 4-5 2 20

Total 10 100

Sumber: Data Primer (diolah), 2022.

Tabel 10 dapat menunjukkan bahwa informan Kelompok Usaha Anjoro Tuo di Desa Bababulo 80% termasuk dalam kategori keluarga kecil, sebesar 20% tergolong dalam kategori keluarga besar. Artinya bahwa konsekuensi alokasi tenaga kerja dan pendapatan petani informan termasuk kecil untuk memenuhi kebutuhan keluarga baik konsumsi maupun untuk kepentingan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.

5.1.4 Pengalaman Usaha

Pengalaman usaha berpengaruh positif terhadap tingkat pendapatan.

Pengalaman usaha merupakan waktu yang terhitung sejak mulai melakukan usaha minyak VCO. Umumnya semakin lama pengalaman dalam berusaha, maka semakin terampil dalam meningkatkan sistem usaha yang lebih baik. Hal ini tentu saja akan meningkatkan keberhasilan akan usahanya, karena selain mereka mempunyai pengalaman dengan pengolahannya mereka juga mengetahui celah-celah mana yang sekiranya masyarakat berminat untuk berwirausaha khususnya di dalam bidang VCO sehingga akan mengurangi pengangguran di lingkungan masyarakat khususnya di Desa Bababulo. Untuk mengetahui pengalaman usaha Kelompok Usaha Anjoro Tuo khususnya

Tabel 11. Informan Kelompok Usaha Anjoro Tuo Berdasarkan Pengalaman Usaha di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene No. Pengalaman Usaha (tahun) Jumlah (orang) Persentase (%)

1. 6 3 30

2. 8 4 40

3. 10 3 30

Total 10 100

Sumber: Data Primer (diolah), 2022.

Berdasarkan Tabel 11 menunjukkan bahwa pengalaman usaha informan Kelompok Usaha Anjoro Tuo di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene paling lama 10 tahun. Dominan informan memiliki pengalaman usaha 8 tahun yakni 40%. Usaha ini memang tergolong sudah cukup lama dijalankan oleh informan Kelompok Usaha Anjoro Tuo di Desa Bababulo.

5.2. Penyediaan Bahan Baku

Bahan baku merupakan faktor produksi penting untuk melakukan suatu produksi dalam suatu industri atau pabrik, karena merupakan sumber bahan pokok untuk diolah menjadi suatu produk unggulan yang bermutu. Mutu produk sangat ditentukan oleh mutu bahan baku yang digunakan dalam proses produksi minyak VCO. Pengadaan bahan baku harus dilakukan terus menerus agar bahan baku selalu tersedia pada saat dibutuhkan. Kriteria bahan baku yaitu dilihat dari fungsinya, jika tanpa bahan baku yang dibutuhkan barang tidak akan jadi atau tidak akan berfungsi sama sekali, (Mulyadi, 1986).

Penyediaan bahan baku buah kelapa merupakan hal pertama yang harus dilakukan dalam proses produksi. Kelapa yang paling banyak menghasilkan minyak yaitu kelapa yang sudah tua yang warna sabutnya sudah berwarna

cokelat, sementara kelapa yang sabutnya yang masih berwarna hijau, minyak yang dihasilkan lebih sedikit jika dibandin1gkan dengan buah kelapa yang memiliki sabut kelapa yang berwarna cokelat, adapun kelapa yang sudah memiliki tunas itu kurang lagi minyak yang dihasilkan dibandingkan dengan kelapa yang memiliki sabut berwarna hijau karena kondisi daging yang didalamnya cenderung lebih tipis akibat tunas yang telah tumbuh, dengan adanya beberapa bagian atau ciri-ciri kelapa yang menghasilkan minyak cukup baik seperti yang telah disebutkan diatas, akan tetapi semuanya tetap menghasilkan minyak yang baik dan layak untuk di konsumsi oleh konsumen ataupun produsen. Total produksi kelapa informan yang mengolah minyak VCO di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene adalah sebanyak 13.000 buah kelapa dengan rata-rata produksi 1.300 per kelompok usaha. Jenis kelapa yang digunakan dalam pengolahan VCO adalah kelapa dalam atau lokal.

Bahan baku yang digunakan merupakan buah kelapa yang langsung dipanen milik orang lain dan diperoleh dengan cara membeli dari hasil perkebunan milik orang lain. Jumlah rata-rata buah kelapa yang digunakan informan dalam satu kali produksi yaitu 130 buah per satu kali produksi dan menghasilkan minyak VCO sekitar kurang lebih 3-4 jergen.

5.2.1 Peralatan Produksi Minyak VCO

Peralatan merupakan suatu bagian yang sangat penting dalam proses pengolahan VCO, karena dapat mempermudah dalam proses pengolahan baik

secara manual maupun menggunakan mesin. Adapun jenis-jenis alat yang digunakan yaitu :

1. Linggis merupakan alat yang digunakan untuk membuka kulit atau sabut kelapa.

2. Parang merupakan alat yang digunakan untuk membelah buah kelapa.

3. Panisi/pencungkil merupakan alat yang digunakan untuk mencungkil daging kelapa sehingga mempermudah dalam memisahkan daging kelapa dengan tempurungnya.

4. Ember merupakan alat yang digunakan untuk menyimpan santan kelapa yang akan dipakai untuk proses pengolahan VCO.

5. Baskom yang berukuran besar merupakan alat yang digunakan sebagai tempat untuk kelapa yang sudah di pisahkan dari tempurungnya, selain itu juga digunakan untuk pencucian kelapa dan memeras kelapa yang sudah diparut.

6. Baskom yang berukuran sedang merupakan alat yang digunakan untuk menampung santan kelapa yang sudah diperas.

7. Mesin parut kelapa merupakan alat yang digunakan untuk memarut daging kelapa.

8. Tapis merupakan alat yang digunakan untuk menyaring sari-sari kelapa yang sudah diparut yang masih tercampur dengan air kelapa.

9. Spatula yang berukuran besar merupakan alat yang digunakan untuk mengaduk ketika proses tanak.

10. Corong merupakan alat yang digunakan untuk mempermudah minyak untuk dimasukkan ke dalam jergen/botol.

11. Jergen/botol merupakan alat yang digunakan sebagai tempat minyak.

5.2.2 Proses Produksi VCO

Di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene sangat berpotensi untuk dilakukan pengembangan wirausaha minyak kelapa, terutama pengembangan VCO yang layak untuk dikonsumsi. Adapun jenis kelapa yang digunakan dalam pengolahan VCO di daerah penelitian adalah kelapa dalam atau lokal.

Proses pengolahan kelapa menjadi VCO di Desa Bababulo Kecamatan Pamboang Kabupaten Majene, tentunya terdapat berbagai macam prosedur yang telah ditentukan oleh Kelompok Usaha Anjoro Tuo. Proses produksi kelapa menjadi VCO yaitu :

Bahan Baku

Melepas Sabut Kelapa

Pembelahan Buah Kelapa

Mencungkil Daging Kelapa Proses Produksi Kelapa menjadi VCO

Gambar 2. Proses Produksi Kelapa menjadi VCO.

Proses Pembersihan Daging Kelapa

Proses Pemarutan Kelapa

Proses Pemerasan

Fermentasi Santan

Setelah Fermentasi

Proses Tanak

Proses Pengemasan

Pada Gambar 2 diatas terdapat beberapa tahap untuk proses produksi kelapa menjadi VCO, berikut penjelasan dari proses produksi yaitu :

1. Bahan Baku

Persiapan bahan baku digunakan dengan cara membeli dari hasil perkebunan orang lain dan cara pengangkutan kelapa dengan menggunakan mobil pick up.

Bahan baku dalam pengolahan VCO harus memakai buah kelapa yang memiliki kualitas yang baik karena dapat mempengaruhi minyak yang akan dihasilkan.

2. Melepas Sabut Kelapa

Pelepasan sabut kelapa dilakukan dengan menggunakan linggis yang telah disiapkan. Linggis alat ini mempermudah untuk memisahkan kelapa dengan sabutnya.

3. Pembelahan Buah Kelapa

Pembelahan buah kelapa dilakukan dengan menggunakan parang yang telah disediakan. Sebelum kelapa dibelah disediakan terlebih dahulu ember yang berukuran besar beserta tapis/penyaring untuk diambil airnya karena akan dipakai untuk memeras hasil kelapa yang sudah diparut.

4. Proses Mappanisi/mencungkil Daging Kelapa

Proses Mappanisi/mencungkil daging kelapa ini dilakukan untuk memisahkan antara daging kelapa dengan tempurung kelapa. Kelapa yang telah dipanisi/cungkil kemudian disimpan ke dalam baskom yang berukuran besar.

Dokumen terkait