• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Industri Rumah Tangga Tahu di Kelurahan Balang, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto. Pemilihan lokasi ini pada dasarnya bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha industri tahu karena usaha tahu ini belum pernah melakukan pengkajian kelayakan secara formalitas studi pada usahanya.Oleh sebab itu perlu kiranya dilakukan adanya studi kasus mengenai kelayakan usaha dari beberapa aspek termasuk finansial.Penelitian dilaksanakan pada bulan desember 2020.

3.2. Teknik Penentuan informan

Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) pada pemilik usaha tahu. Dalam penelitian ini peneliti mengambil keseluruhan karyawan dan pemilik sebagai informan diantaranya 1 pemilik usaha(owner) Ahmad Jaelani Yaitu untuk mendapatkan informasi berupa data- data keseluruhan pendapatan baik per hari hingga dalam kurung waktu 3 tahun terakhir., 3 orang karyawan produksi untuk mendapatkan informasi yang lebih detail mengenai jumlah produksi tahu dalam satu hari. Kemudian 4 orang karyawan bagian penggorengan untuk mendapatkan informasi yang lebih spesifik mengenai jumlah produksi tahu goreng, 1 orang karyawan bagian pemasaran hasil produksi tahu.Peneliti mengambil Studi Kasus Tahu Ajeng Mulya Abadi dengan

25 pertimbangan bahwa usaha tersebut memiliki tingkat produksi yang tinggi dan baru berdiri selama 5 tahun.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Adapun jenis data pada penelitian ini yaitu data kualitatif dan Kuantitatif.

Data kuantitatif merupakan data yang berbentuk angka, atau data kuantitatif yang diangkakan (Scoring) (Sugiyono, 2015).Sedangkan Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata, skema, dan gambar.Data kualitatatif penelitian ini berupa nama dan alamat obyek penelitian (Sugiyono, 2015).

Disebut kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik (Sugiyono, 2018), sedangkan menurut Siregar (2016) prosedur pemecahan masalah pada penelitian deskriptif adalah dengan cara menggambarkan objek penelitian pada saat keadaan sekarang berdasarkan fakta- fakta sebagaimana adanya, kemudian dianalisis dan diinterpretasikan.

Adapun sumber data pada penelitian yang digunakan yaitu Data Primer dan data sekunder.Data primer merupakan data yang di dapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan seperti hasil wawancara atau hasil pengisian kuesioner yang biasa dilakukan oleh peneliti (Husein Umar, 2013).

Sedangkan data sekunder merupakan data yang telah diolah oleh data primer dan dilanjutkan atau disajikan baik oleh pihak pengumpul data primer atau oleh pihak lain misalnya dalam bentuk tabel-tabel atau diagram-diagram (Husein Umar, 2013).

26 3.4 Teknik Pengumpulan Data

1. Pengamatan (observasi)

Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap unsur-unsur yang nampak dalam suatu gejala pada objek penelitian (Widoyoko, 2014).

2. Wawancara (Interview)

Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang disusun secara sistematis dan lengkap untuk mengumpulkan data yang dicari (Sugiyono, 2010).

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah mencari data mengenai variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah dan sebagainya (Arikunto, 2006).

3.5 Teknik Analisis Data

Data yang diperoleh menggunakan analisis kualitatif dan kuantitatif. Untuk menganalisis penelitian ini digunakan dengan rumus sebagai berikut:

1. Analisis Biaya

Menurut Suratiyah (2009) menjelaskan bahwa untuk menghitung besarnya biaya total (Total Cost) diperoleh dengan cara menjumlahkan biaya tetap (Fixed Cost/ FC) dengan biaya variabel (Variable Cost) dengan rumus adalah sebagai berikut:

TC = FC + VC

27 Dimana :

TC = Total Cost (Biaya Total) FC = Fixed Cost (Biaya Tetap Total) VC = Variabel Cost (Biaya Variabel) 2. Analisis Penerimaan

Menurut Suratiyah (2009) secara umum perhitungan penerimaan total (Total Revenue/ TR) adalah perkalian antara jumlah produksi (Y) dengan harga jual (Py) dan dinyatakan dengan rumus sebagai berikut:

TR= Py . Y Dimana :

TR = Total Revenue (Penerimaan Total) Py = Harga produk

Y = Jumlah produksi 3. Analisis Pendapatan

Menurut Suratiyah (2009) menjelaskan bahwa pendapatan adalah selisih antara penerimaan (TR) dan biaya total (TC) dan dinyatakan dengan rumus adalah sebagai berikut:

Pd = TR –TC Dimana :

Pd = Pendapatan

TR = Total Revenue(Penerimaan Total) TC = Total Cost (Biaya Total)

4. Analisis R/C

28 Menurut Suratiyah (2009) menjelaskan bahwa R/C adalah perbandingan antara penerimaan dengan biaya total adalah sebagai berikut:

R / C = Penerimaan Total

Biaya Total (biaya tetap + biaya variabel) Dimana:

Revenue = Besarnya penerimaan yang diperoleh Cost = Besarnya biaya yang dikeluarkan Ada tiga kriteria dalam perhitungannya, yaitu:

a) Apabila R/C > 1 artinya usaha tahu tersebut menguntungkan b) Apabila R/C = 1 artinya usaha tahu tersebut impas

c) Apabila R/C < 1 artinya usaha tahu tersebut rugi 3.6 Definisi Operasional

Untuk menyamakan dan memperjelas dalam penelitian ini, maka variabel- variabel yang diteliti, di operasional sebagai berikut:

1. Tahu adalah bahan baku Tahu Ajeng Mulya Abadi Di Kelurahan Balang Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto.

2. Industri rumah tangga merupakan usaha yang digolongkan berdasarkan jumlah tenaga kerja serta kapasitas modal yang dimiliki oleh Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi.

3. Biaya produksi merupakan keseluruhan jumlah biaya produksi yang dikeluarkan dalam suatu produk tahu goreng oleh Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi yang dinyatakan dalam bentuk satuan (Rp/Tahun).

29 4. Penerimaan merupakan jumlah hasil perkalian antara jumlah produksi tahu goreng yang dihasilkan dengan harga jual dari suatu produk Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi yang dinyatakan dalam bentuk satuan (Rp/Tahun).

5. Pendapatan adalah selisih antara jumlah total penerimaan dengan keseluruhan jumlah biaya variabel yang dikeluarkan untuk memproduksi suatu produk tahu goreng dari Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi yang dinyatakan dalam bentuk satuan (Rp/Tahun).

6. Keuntungan yaitu selisih antara biaya dan keseluruhan penerimaan, baik biaya tetap maupun biaya variabel dari Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi yang dinyatakan dalam bentuk satuan (Rp/Tahun).

7. Analisis kelayakan adalah untuk mengetahui apakah Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi dapat dikatakan layak atau tidak untuk diusahakan yang dinyatakan dalam bentuk angka-angka dengan tiga kriteria dalam perhitungannya, yaitu apabila R/C > 1 artinya usaha tahu tersebut menguntungkan, apabila R/C = 1 artinya usaha tahu tersebut impas dan apabila R/C < 1 artinya usaha tahu tersebut rugi.

30

IV. KEADAAN UMUM DAN WILAYAH PENELITIAN

4.1 Sejarah berdirinya usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi

Tahu ajeng mulya abadi didirikan oleh seseorang yang bernama bapak Ahmada Jaelani. Ahmad Jaelani dilahirkan di daerah Banyuwangi, pada tanggal 21 mei tahun 1982 asal provinsi Provinsi Jawa Timur. Kemudian Pak Ahmad Jaelani mulai menggeluti usaha Tahu setelah beberapa tahun lebih dahulu menjadi karyawan sebuah pabrik tahu di Jawa Timur.

Hal tersebut menjadi modal dasar bagi Pak Ahmad jaelani untuk membangun usaha sendiri di Kabupaten Jeneponto. Sehingga pengetahuannya mengenai proses pengolahan tahu serta bagaimana cara memproduksi tahu dengan kualitas terbaik cukup mumpuni. Selanjutnya, ia merantau ke Provinsi Sulawesi Selatan tepatnya di Kabupaten Jeneponto, setelah mendapatkan tempat yang ideal dengan modal Awalnya sekitar Rp 100.000.000,-. Yang mana dana tersebut dipakai guna menyewa rumah tempat tinggal dan rumah produksi serta membeli mesin, untuk memproduksi tahu.

Ahmad Jaelani memulai usaha tahu dengan penuh kesungguhan dan perjuangan sehingga ia mampu mendirikan usaha tahu sendiri pada tahun 2014 di Lingkungan Balang Beru, Kelurahan Balang Beru, Kecamatan Binamu, Kabupaten Jeneponto dengan nama usaha Ajeng Mulya Abadi. Adapun jumlah bahan baku yang diolah dalam usaha tersebut yakni dalam perharinya berkisar antara 40–50 kilogram kedelai. Kegiatan proses pengolahan produksi tahu dilakukan Ahmad Jaelani bersama istrinya karena belum memiliki karyawan atau

31 tenaga kerja dan belum menggunakan mesin atau dengan kata lain masih dengan cara-cara sederhana dan tradisional.

Awal usaha yang dilakukan Pak Ahmad Jaelani mengalami banyak kendala baik dari segi modal maupun dari segi infrastruktur, harga bahan baku kedelai yang fluktuatif dan keterbatasan modal sehingga usahanya pada saat itu mengalami penurunan produksi. Dari segi infrastruktur, sulitnya akses menuju lokasi. Pak Ahmad Jaelani pada saat itu mengambil sebuah keputusan yang akhirnya menurunkan jumlah bahan baku yang diolah dari 40-50 kilogram ke 30- 40 kg.Pada tahun 2016, Pak Ahmad Jaelani dengan modal yang cukup sekitar Rp.

200.000.000.

Modal tersebut dipergunakan untuk membeli tanah dan bangunan, pengadaan listrik serta membangun rumah produksi.Ia berpindah ke lokasi pabrik yang baru yaitu Lingkungan Lembang loe Kelurahan Balang Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto.Lokasi dipilih karena memiliki area yang luas, akses yang mudah dijangkau dan dapat dilalui oleh kendaraan umum. Dengan modal tersebut, Pak Ahmad Jaelani mulai berpikir untuk meningkatkan volume produksi, maka harus menambah tenaga kerja dan membeli peralatan supaya mempercepat proses produksi. Kemudian pak Ahmad Jaelani sekarang sudah mempunyai 8 Karyawan yang terdiri dari 4 orang karyawan bagian Produksi, 3 orang Karyawan bagian penggorengan tahu dan 1 orang karyawan pengantar olahan tahu

4.2 Struktur Organisasi Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi

usaha tahu ajeng mulya abadi ditinjau dari segi struktur maupun susunan keorganisasian dalam industri tahu tersebut memiliki struktur yang sangat

32 sederhana di mana pemilik usaha yakni ahmad jaelani bukan hanya berperan sebagai pemilik usaha, tapi juga termasuk manajer yang mengatur keseluruhan pengelolaan usaha tahu tersebut. Dan tak jarang pula ahmad jaelani membantu para anggotanya dalam bekerja. Kemudian susunan selanjutnya yaitu para karyawan yang terbagi dalam tiga bagian divisi yaitu bagian produksi, penggorengan, dan pemasaran/distributor.

Berikut struktur organisasi usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi

Gambar 2. Struktur organisasi Analisis Kelayakan Finansial Usaha Tahu AjengMulya Abadi (Studi Kasus Pada Agroindustri Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi di Kelurahan Balang Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto)

Ahmad Jaelani (Pemilik) Tahu

karyawan

❖ Produksi tahu 1) Heri Irawan 2) Frenki Ternado 3) Rdwan

4) Khaerul Alam

❖ Penggorengan 1) Rmlah

2) Megawati 3) Salmawati

❖ Distributor Karim

33 4.3 Deskripsi Produk Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi

Usaha tahu ajeng mulya abadi merupakan salah satu agroindustri tahu yang ada kabupaten jeneponto.kondisi dan situasi persaingan usaha tahu yang ada di jeneponto dianggap ketat dikarenakan banyaknya pabrik tahu yang di jeneponto. Hal tersebut membuat bapak ahmad jaelani mengubah jenis produk tahu yang dihasilkan yaitu dari penjualan usaha tahu menjadi usaha tahu goreng.

Hal tersebut sudah berlangsung selama 4 tahun terakhir di mana tahu ajeng mulya abadi berfokus pada produk tahu goreng. Usaha tahu ajeng mulya abadi kini telah memiliki sistem kerja sama pada beberapa penjual bakso dan penjual gorengan yang tersebar di beberapa kelurahan di kabupaten jeneponto sebagai segmen pasar usaha tahu goreng.

4.4 Batas Wilayah Dan Topografi 1. Batas Wilayah

Kelurahan Balang merupakan salah satu daerah yang berada di wilayah kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto yang terletak pada 3,4 Km dari Ibukota Kecamatan Binamu dan 2,6 Km dari Ibukota Kabupaten Jeneponto dengan luas cakupan wilayah mencapai 4,02 Km 2 .

● Batas-batas Wilayah Kelurahan Balang adalah : 1) Sebelah Barat : Kelurahan Balang Beru 2) Sebelah Selatan : Kelurahan Panaikang

34 3) Sebelah Utara : Desa Sapanang

4) Sebelah Timur : Kelurahan Balang Toa

● Jumlah Lingkungan di kelurahan balang terdiri dari 5 lingkungan yakni : 1). Lingkungan Lembangloe

2). Lingkungan Romagna 3). Lingkungan Bontoloe 4.). Lingkungan Pacceko 5). Lingkungan BTN Romanga 2. Topografi

Dilihat dari segi Topografinya, Kelurahan Balang memiliki topografi dataran rendah dengan ketinggian ± 0 – 500 m dpl.Kemudian kelurahan Balang memiliki jenis tanah yang berwarna hitam berliat dan sebahagian kecil tanah bebatuan.Adapun Sumber air yang digunakan oleh masyarakat yakni masih mengandalkan hujan serta memiliki kondisi iklim yang kering atau tropis dengan curah hujan rata-rata 90 – 140 hari dengan suhu udara 28 ˚C – 32 ˚C.

4.5 Kondisi Industri

Usaha industri yang berkembang di Kecamatan Binamu adalah industri barang dari kulit sebanyak 1 unit, industri kayu sebanyak 44 unit, kemudian industri kain sebanyak 54 unit, industri gerabah/keramik/batu sebanyak 5 unit.

Industri makan dan minum sebanyak 113 unit, dan terdapat 57 unit merupakan industri kategori lainnya. (Badan Pusat Statistika Jeneponto, 2019). Jumlah

35 industri rumah tangga di Kelurahan Balang sebanyak 3 industri. Serta terdapat 1 unit industri rumah tangga pengolahan tempe, dan terdapat 2 unit ndustri.

36

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1 Identitas Responden

Identitas responden merupakan suatu proses mendeskripsikan para responden berdasarkan jenis kelamin, usia, dan pendidikan. Penggunaan tenaga kerja sejak tahun 2019 yaitu menggunakan tenaga kerja yang ada di sekitar Kelurahan Balang yang berjumlah 8 orang karyawan tetap, karena permintaan konsumen. Uraian tenaga kerja yang dipergunakan dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Keadaan Tenaga Kerja Pengolahan Tahu Pada Industri Tahu Ajeng Mulya Abadi Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, dan Pendidikan

No Nama

Umur (Tahu)

Jenis

Kelamin Pendidikn Ket.

1 Ahmad Jaelani 38 Laki-Laki SMP Pemilik

2 Heri Irawan 20 Laki-Laki SMP Produksi

3 Frankie Tornado

22 Laki-Laki SMP Produksi

4 Muh. Ridwan 22 Laki-Laki SMP Produksi

5 Khaerul alam 18 Laki-laki STM Produksi

6 Ramlah 30 Perempuan SMP Penggorengan

7 Megawati 38 Perempuan SMP Penggorengan

8 Salmawati 47 Perempuan SMK Penggorengan

9 Karim 27 Laki-Laki SD Pemasaran

Sumber: Data primer diolah, 2020

Dari data tabel 2 di atas menunjukkan bahwa tenaga kerja home Industri Tahu Ajeng Mulya Abadi umumnya berada pada klasifikasi umur produktif sedangkan menyangkut pendidikan hampir semuanya berstatus berpendidikan sehingga mampu menyesuaikan dengan pekerjaan yang diberikan oleh pemilik industri selaku pimpinan Usaha Industri Tahu Ajeng Mulya Abadi Kelurahan Balang Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto.

37 5.1.1 Deskripsi Pengolahan Industri Tahu Ajeng Mulya Abadi

Proses pengolahan merupakan teknik untuk menghasilkan atau menambah kegunaan suatu barang atau jasa dengan sumber-sumber yang tersedia seperti material, tenaga kerja, modal dan teknologi. Proses pengolahan tahu memerlukan beberapa alat dan bahan seperti. Alat yang digunakan dalam pengolahan tahu meliputi mesin penggiling, ember hitam, baskom besar, baskom kecil, pisau, kain penyaring, cetakan tahu, timbah, sepatu air, ember drum, drum plastic dan keranjang, . Bahan yang digunakan dalam pengolahan tahu yaitu, kayu bakar, cuka cair, kedelai. Adapun proses pengolahan tahu dapat dilihat pada gambar 3.

Gambar 3. Proses Pengolahan Tahu

Dari Gambar 3 diatas menunjukkan bahwa proses pengolahan tahu pada Industri Tahu Ajeng Mulya Abadi yaitu :

a) 300 kg kedelai yang akan digunakan di bersihkan dengan cara direndam menggunakan air yang bersih selama 8 jam. Dalam proses perendaman ini kedelai akan mengembang. Bersihkan kembali kedelai dengan cara dicuci berkali-kali.

b) Kedelai yang telah direndam selama 8 jam kemudian dibersihkan dengan cara dicuci berulang-ulang 3-4 kali sampai benar-benar bersih.

Penyiapan Kedelai

Pencucian Kedelai

Penggilingan Kedelai

Perebusan Kedelai

Penyaringan Kedelai Penambahan

Asam Cuka Penekanan

Tahu Pencetakan

Tahu

38 c) Setelah selesai kedelai dibersihkan, kemudian kedelai dihancurkan

menggunakan mesin penggiling hingga berbentuk bubur.

d) Setelah kedelai selesai dihancurkan hingga berbentuk bubur, kemudian kedelai dimasak. Dalam proses perebusan bubur kedelai tidak boleh terlalu kental Kemudian dalam proses perebusan bubur kedelai ditandai dengan adanya gelembung-gelembung kecil.

e) Lanjut bubur kedelai dimasak dengan memberikan air panas yang sudah dimasak dari ketel uap, lalu di hisap dengan menggunakan mesin hisap ke alat mesin ayunan tahu yang memakai saringan. Hasil saringan selanjutnya dialirkan ke tempat penyimpanan berupa drum stenlis selanjutnya dilakukan penambahan asam cuka sambil terus diaduk secara pelan-pelan, hingga bubur kedelai menggumpal. Fungsi Penambahan asam cuka adalah mengendapkan dan menggumpalkan protein tahu sehingga terjadi pemisahan antara lapisan atas (Whey) dengan gumpalan tahu.

f) Dari gumpalan tahu yang telah ditambahkan asam cuka siap di press,.

Pengepresan dilakukan dengan tujuan agar bubur kedelai yang telah diendapkan, kandungan airnya benar-benar habis.

g) Gumpalan tahu di press, selanjutnya tahu kemudian dicetak segi empat.

h) Dari 300 Kg Biji Kedelai menjadi tahu, menghasilkan 120 cetakan tahu mentah.

i) Tahu mentah yang telah jadi dilakukan pemotongan. Hasil potongan tahu dapat berbentuk kotak maupun segitiga disesuaikan dengan pesanan pelanggan

39 dan selanjutkan dilakukan proses penggorengan, hasil gorengan dikemas dalam kantong plastik dan siap dipasarkan kepada konsumen.

Langkah-langkah pengolahan tahu di Industri Tahu Ajeng Mulya Abadi.Alat-alat yang gunakan cukup sederhana. Saat pembuatan tahu masih dikerjakan oleh manusia, hanya sedikit menggunakan teknologi seperti pakai mesin penggiling.

5.2. Analisis finansial Usaha Industri Tahu Ajeng Mulya Abadi

Biaya produksi merupakan penjumlahan keseluruhan akumulasi dari semua biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses produksi pembuatan tahu dengan tujuan untuk menghasilkan suatu produk tahu. Biaya produksi di usaha tahu ajeng mulya abadi merupakan biaya-biaya untuk membuat suatu bahan baku kedelai maupun cuka menjadi suatu produk tahu yang dapat bernilai ekonomis. biaya produksi juga termasuk pengeluaran yang tidak dapat dihindari dalam usaha tahu baik di tiap harinya maupun di tiap tahunnya, akan tetapi hal tersebut dapat diperkirakan berapa jumlah bahan baku kedelai yang yang akan diolah dengan jumlah jumlah cetakan tahu yang dihasilkan dalam sekali produksi.

1. Biaya Tetap

Biaya merupakan biaya-biaya dengan jumlah tetap yang harus dikeluarkan oleh perusahaan tahu ajeng mulya abadi untuk memproduksi sejumlah cetakan tahu atau yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk memproduksi sejumlah barang. Biaya tetap yang dikeluarkan oleh usaha tahu ajeng mulya abadi merupakan biaya yang jumlah totalnya tetap dalam kisaran volume kegiatan

40 tertentu dalam setiap kali produksi atau sering juga disebut dengan biaya yang tidak habis dalam satu kali proses produksi tahu.Biaya tetap dalam usaha tahu ajeng mulya abadi dalam penelitian ini terdiri dari modal awal, pajak usaha, pajak bumi dan bangunan, listrik dan nilai penyusutan alat.Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 3 Rekapitulasi Hasil Biaya Tetap Selama 3 Tahun Terakhir yang Dikeluarkan Oleh Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi

No. Uraian Total Biaya Tetap (Rp)

1. Nilai Penyusutan Alat (NPA)

14.007.000

2 Modal awal

200.000.000

3 Pajak Bumi dan Bangunan

300.000

Total 214.307.000 Sumber: Data primer Setelah Diolah 2020

Berdasarkandata pada tabel 3 di atas maka dapat kita lihat bahwa jumlah keseluruhan biaya tetap dari Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi yakni sebesar Rp.

214.307.000.dalam 3 tahun terakhir. Biaya tersebut merupakan biaya di investasi yang dikeluarkan untuk membeli peralatan seperti mesin penggiling 2 unit, ember 10 unit, tungku/ketel uap 1 unit, pisau 3 buah, kain penyaringan 1 unit, mesin ayunan tahu 1 unit, cetakan tahu 8 unit, timba 1 unit, sepatu bot 4 pasang, drum stenlis besar 3 unit, drum plastic besar 1 unit, bola lampu 100WT 3 unit, keranjang 4 unit, meja cetakan tahu 2 unit, meja stenlis pemotong tahu 1 unit, wajan besar 2 unit, saringan minyak besar 2 unit, spatula besar 2 unit, basko, 40 unit dan motor vario 1 unit. Dan nilai penyusutan serta pajak bumi dan bangunan.

41 2. Biaya Variabel

Biaya variabel merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh produsen yang besarnya berubah-ubah. Biaya variabel dalam usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi merupakan biaya yang tidak menetap atau dengan kata lain bahwa biaya yang besarnya dipengaruhi oleh jumlah produksi tahu yang dihasilkan dalam tiap kali produksi. Sehingga dapat apabila produksi tahu bertambah maka biaya variabel dari usaha tersebut juga bertambah, demikian sebaliknya, apabila produksi tahu dikurangi maka jumlah biaya yang dikeluarkan setiap kali produksi juga berkurang.

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Keseluruhan Biaya Variabel (Variable Cost) Dalam 3 Tahun Terakhir Yang Dikeluarkan Oleh Usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi

Jenis biaya

Total Biaya Variabel

Total Biaya (Rp) 2018

(Rp)

2019 (Rp)

2020 (Rp)

Tenaga kerja 141.950.000 159.750.000 187.600.000 489.350.000 Kayu bakar 71.000.000 71.000.000 124.250.000 266.250.000 Kedelai 532.500.000 665.625.000 798.750.000 1.996.880.000 Minyak goreng 170.400.000 239.625.000 287.550.000 697.580.000 Transportasi 17.040.00 23.075.000 24.850.000 64.965..000 Cuka air 8.875.000 10.650.000 14.200.000 33.730.000

Listrik 1.200.000 1.440.000 1.800.000 4.440..000

Telfon 1.080.000 1.200.000 1.440.000 3.720.000

Total biaya variabel 3.558.915.000 Sumber: Data primer Setelah Diolah 2020

Berdasarkan pada tabel 8, maka dapat dilihat bahwa biaya variabel yang dikeluarkan setiap tahunnya meningkat.hal ini dikarenakan bertambahnya jumlah produksi yang dihasilkan serta meningkatnya harga bahan baku dalam pembuatan

42 tahu. Biaya tertinggi selama tiga tahun terakhir yaitu kedelai yang meningkat harganya dalam setiap tahunnya di man pada tahun 2020 biaya kedelai mencapai Rp.798.750.000 dan jumlah keseluruhan selama 3 tahun terakhir mencapai Rp.1.998.880.000. begitu pula dengan kayu bakar yang meningkat pesat pada tahun 2020. pada tahun 2018-2019 pengeluaran masih sama hal ini dikarenakan harga kayu bakar masih sama yakni Rp.200.000/mobil sedangkan pada tahun 2020 harganya mencapai Rp. 350.000/mobil. Selain dikarenakan meningkatnya jumlah kebutuhan bahan bakar kayu, juga dikarenakan susahnya mendapatkan kayu sehingga harganya pun meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2020 biaya kayu bakar mencapai Rp. 124.250.000 dan jumlah keseluruhan selama tiga tahun mencapai Rp.266.250.000.

Biaya telepon merupakan pengeluaran terendah serta tidak mengalami perubahaan dari 3 tahun terakhir hal ini dikarenakan pemakaian pulsa yang menetap yakni biaya perbulan.Dan adapun jumlah keseluruhan biaya telepon yaitu Rp.3.600.000. biaya tenaga kerja juga mengalami peningkatan setiap tahunnya hal ini dikarenakan meningkatnya jumlah produksi tahu.

harga minyak goreng juga bertambah dari tahun ke tahun disebabkan karena meningkatnya harga jual serta bertambahnya produksi tahu. dan adapun jumlah pengeluaran biaya minyak goreng yakni Rp.697.580.000.begitupun dengan cuka air dan transportasi yang meningkat setiap tahunnya disebabkan karena harga beli yang meningkat serta meningkatnya jumlah produksi tahu. dan adapun jumlah keseluruhan biaya variabel dalam usaha Tahu Ajeng Mulya Abadi dalam tiga tahun terakhir sebesar Rp 3.558.915.000..

Dokumen terkait