BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS
3. Visi Dan Misi Desa Bayu
Adapun Desa Bayu kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi memiliki Visi dan Misi dalam menjalankan kegiatan yaitu:60
a. Visi
Menjadi kepala desa yang bersih, transparan dan amanah dalam rangka mewujudkan masyarakat sejahtera yang kompak, kreatif, inovatif, mandiri, santun, dan berkepribadian.
b. Misi
1) Memperkokoh persatuan dan kerukunan antar warga di Desa Bayu tanpa memandang agama, status sosial, golongan maupun jenis kelamin.
2) Meningkatkan sistem pelayanan yang baik kepada masyarakat khususnya Desa Bayu.
3) Memberdayakan masyarakat Desa Bayu dalam proses pembangunan melalui penguatan ekonomi kerakyatan.
4) Terwujudnya transparansi dan profesionalisme dalam penyelenggaraan pemerintah Desa Bayu.
5) Melestarikan seni budaya yang ada di wilayah Desa Bayu.
6) Pelestarian lingkungan hidup dalam setiap kebijakan pembangunan.
60 Dokumen Desa Bayu.
7) Berkoordinasi serta bermusyawarah dengan lembaga desa dalam setiap membuat keputusan di segala bidang.
8) Menciptakan pemerintahan Desa Bayu bisa lebih baik lagi dalam melayani masyarakat Desa Bayu.
9) Berlaku adil serta transparan dalam pemerataan pembangunan fisik agar tidak terjadi kesenjangan sosial di tengah-tengah masyarakat.
50
Sumber: Dokumentasi Desa Bayu.
Kepala Desa Sugito
BPD Gatot. P
SEKDES K
Kaur Keuangan Dan Perencanaan
Ahmad Ro’up
Kaur tata usaha umum
Sri Marsatun
Kasi Pemerintahan
Mahmudi
Kasi Kemasyarakatan Dan Pelayanan
Panoto
Kepala Dusun sambung rejo
Akma
Kepala Dusun Bayurejo
Sarwo Edy. P
Kepala Dusun Kentangan
Sugito
Kepala Dusun Bayulor
Hariyadi
Kepala Dusun Bumisari
Matarip
Kepala Dusun Tegalrejo
Mulyono
Kepala Dusun Plantaran
Sriyono
53
Dari setiap bagian dalam Struktur Desa Bayu memiliki tugas dan fungsi masing-masing. Tugas tersebut antara lain:65
a. Kepala Desa
Dalam memimpin penyelenggaran Pemerintah Desa, Kepala Desa dibantu oleh Perangkat Desa yang menjalankan tugasnya sesuai dengan bidangnya masing-masing.
b. Sekretaris Desa
Sekertaris desa sebagai unsur staf Pembantu Kepala Desa memimpin Sekretariat Desa dengan tugas menjalankan adminitrasi kepada Kepala Desa. Sekretaris Desa bertangung jawab kepada Kepala Desa.
c. Kepala Seksi
Kepala seksi sebagai unsur staf Pembantu Kepala Desa mempunyai tugas melaksanakan tugas-tugas Kepala Desa di bidang pembinaan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Kepala seksi bertanggung jawab kepada Kepala Desa.
d. Kepala Urusan
Kepala Urusan sebagai unsur staf yang berkedudukan di bawah sekretaris Desa adalah membantu sekretaris Desa bertugas menjalankan kegiatan adminitrasi Desa sesuai dengan bidangnya masing-masing.
65 Dokumen Desa Bayu.
e. Kepala Dusun
Kepala Dusun sebagai unsur pembantu Kepala Desa di wilayah bagian Desa dan bertanggung jawab kepada Kepala Desa.
f. Badan Permusyawaratan Desa (BPD)
Dalam menjalankan roda Pemerintah Desa, Pemerintah Desa di bantu BPD, mengingat BPD berkedudukan sejajar dan menjadi mitradari Pemerintah Desa sebagai kontrol untuk mengevaluasi kinerja Pemerintah Desa sesuai dengan Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa yang telah disepakati bersama, juga sebagai wadah untuk menampung dan menyampaikan aspirasi rakyat.
5. Potensi Wisata Desa Bayu
Desa Bayu merupakan sebuah desa yang berkaitan langsung dengan kawasan wisata Rowo Bayu, yang masih asri dan bersejarah bagi pemerintah Kabupaten Banyuwangi. Dan mempunyai aset untuk menjadi kawasan wisata yang asri. Antara lain sebagai berikut:
a. Keadaan alam Desa Bayu yang masih alami, adanya sungai dan air terjun yang juga masih asri. Banyaknya sawah-sawah yang luas dan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi dan membuat desa tersebut menjadikan pemandangan elok dipandang.
b. Desa Bayu memiliki ragam kesenian tradisional yang bisa di tampilkan di semua wisatawan:
1. Kesenian jaranan 2. Kesenian janger
3. Kesenian kuntulan 4. Kesenian jaran kencak
c. Desa Bayu di jadikan sebagai festival tahunan di Kabupaten Banyuwangi, yaitu Festival napak tilas Puputan Bayu.
d. Adanya Perkebunan Kopi, Cengkeh, kelapa, coklat, karet dan vanili sekitar 38 Ha.
e. Adanya aset-aset wisata yang belum tergali secara maksimal karena kurangnya dana.
f. Beragamnya suku di Desa Bayu; ada suku osing asli banyuwangi, suku jawa, dan suku madura.
g. Adanya wisata Rowo Bayu merupakan rawa yang bersejarah bagi masyarakat banyuwangi di mana disana pernah ada peperangan antara masyarakat blambangan dengan Belanda (VOC). Untuk merebutkan daerah blambangan dan peperangannya sering disebut dengan Perang Puputan Bayu.
B. Penyajian Data dan Analisis Data
Proses selanjutnya dari skripsi ini adalah menyajikan hasil data yang diperoleh selama penelitian di lapangan, baik dari data yang diperoleh dari wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dari data yang diambil dari wawancara, observasi dan dokumentasi tersebut di kemukakan secara rinci dengan bukti yang diperoleh selama penelitian.
Data-data yang diperoleh dianalisis dan disajikan sebagai berikut:
1. Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Bank Sayur Di Dusun Sambungrejo Desa Bayu Kecamatan Songgon.
Ekonomi kreatif adalah sebuah konsep yang menepatkan kreativitas dan pengetahuan sebagai aset utama yang menggerakkan ekonomi. Potensi desa dikelola dengan baik dan terencana. Di Dusun Sambungrejo ini banyak potensi-potensi yang sudah dimanfaatkan diantaranya yaitu penanaman sayuran dipekarangan rumah warga Dusun Sambungrejo Desa Bayu Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi ini. Dimana tujuan pengelolaan tersebut adalah memperdayakan masyarakat dan menjadikan Dusun Sambungrejo Desa Bayu Kecamatan Songgon menjadikan dusun yang mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pernyataan ini sesuai dengan hasil wawancara dengan bapak Ahmad Fadli selaku ketua RT Di Dusun Sambungrejo Desa Bayu Kecamatan Songgon Kabupaten Banyuwangi pada tanggal 22 juli 2018 yang menyatakan bahwa:
“Awalnya saya mempunyai ide untuk membuat kas RT untuk kebutuhan lingkungan RT. Di saat ada kerusakan lampu jalan biar kita bisa memperbaikinya dengan uang kas tersebut. Tapi bagaimana ya biar kita mempunyai kas RT tetapi tidak memberatkan warga saya. Pada saat itu juga berdekatan dengan acara 17 Agustus. Daripada bingung-bingung iuran kan bisa juga kas tersebut dibuat acara tersebut Saya ngomong ke pak Sugiarto dia tetangga sebelah saya. Dan saya sama pak sugiarto tukar pendapat. Dan akhirnya kita berfikir bagaimana kalau kita mengumpulkan warga saja. Besoknya saya kumpulkan warga semua di rumah saya. Musyawarah terjadi tukar pendapat pun dimulai.
Saya bilang bapak ibu warga RT 01 bagaimana kalau kita membuat kas RT agar di saat ada kebutuhan RT kita tidak iuran lagi. Dan Pak
sugiarto menyampaikan idenya juga yaitu membuat semacam komunitas. Dengan menyediakan lahan kosong di sekitar rumah untuk menanam tanaman sayuran seperti terong, cabe, seledri, bawang pre, sayur sawi, dan lain sebagainya. Hasil panennya sebagian kita buat kas. Akhirnya warga menyetujui jika di lakukan sistem menabung untuk kas RT. Dan di beri nama "Bank Sayur".
Dana yang kita gunakan dari warga yang mau menyumbang seperti polibak dan bibit. Perawatan seperti pemberian pupuk kita menggunakan yang alami saja. Pupuk yang kita gunakan pupuk kompos dari kotoran kambing dan sapi. Di situlah banyak warga yang mau di ajak bergabung awalnya 15 anggota. Mungkin dipikir - pikir juga bisa di buat sampingan ibu-ibu yang menganggur setelah pekerjaan rumah selesai yaitu dengan merawat tanaman tersebut.”66 Pernyataan ini juga disampaikan Bapak Sugiarto selaku pengurus dan pengelola Bank Sayur pada tanggal 25 November 2017 dan 22 Juli 2018 yang menyatakan bahwa:
“Pengelolaan Bank Sayur awalnya dari kumpul-kumpul dengan warga sekitar. Sistem menabung bersama ini tidak langsung dalam bentuk uang. Melainkan harus merawat sayur terlebih dahulu dengan pemanfaatan lahan di rumah masing-masing warga. Hasil panennya kemudian menjadi tabungan bersama yang diberi nama
“Bank Sayur”. semua biaya mulai dari polibag, bibit, perawatan sampai panen dilakukan oleh kelompok Bank Sayur. Semua warga tidak perlu mengeluarkan biaya penanaman, namun cukup menyediakan lahan kosong dirumahnya dan ikut merawat tanamannya. Tempatnya bisa di samping atau halaman rumah.
Sedangkan saat masa panen sayuran tersebut, warga tidak boleh menjual sendiri. Semua harus melalui kelompok Bank Sayur.
Tujuannya, untuk mempersatukan petani agar persoalan harga jual tidak dipermainkan tengkulak. Jadi kalau panen, jualnya harus lewat Bank Sayur. Nanti ada pembukuan dan pembagiannya 50 persen untuk warga, sisanya masuk ke kas Bank Sayur, nantinya akan kembali untuk kebutuhan penanaman dan perawatan. Seperti pembibitan, pengobatan, dan perawatan. Saat ini, dari anggota 15 anggota relawan Bank Sayur, sudah berhasil melakukan penanaman perdana pada 17 agustus 2017 sejumlah 200 tanaman. Sebagai awalan sekaligusnmemperingati HUT RI ke 71. Dari total warga di RT 01, RW 01 yang berjumlah 37KK. Jenis sayuran yang ditanami untuk sementara ini berupa sayuran, seledri, bawang pre , cabai, dan semua yang dibutuhkan masyarakat. Meskipun warga yang menyediakan lahan sayuran tidak diperbolehkan menjual sendiri, namun bisa memanfaatkan sayur-sayuran tersebut untuk dimasak.
66 Ahmad Fadli, Wawancara, Songgon, 22 Juli 2018.
Hasilnya, sudah mulai dibentuk koperasi dengan jaminan bisa meminjam uang ke Bank Sayur dengan maksimal Rp 100.000. Satu untuk tabungan, dan setiap tabungan bisa pinjam uang paling besar seratus ribu rupiah. Tanpa bunga, dan satu bulan harus kembali.
Untuk sementara, terkait perawatan sayuran, memang sudah ada bagian perawatan sendiri. Karena warga ada yang mau merawat dan ada juga yang tidak mau merawat. Jadi tujuannya untuk membantu masyarakat dalam peningkatan ekonominya. Semua biaya tidak meminta sumbangan dari siapun tetapi mereka sendiri yang memberikan bantuan sumbangan sendiri.”67
Dari wawancara di atas dapat diambil kesimpulan banyak manfaat yang didapatkan. Hingga kemudian ketua RT mengumpulkan warganya untuk mengajak untuk menanam sayuran dilahannya yang kosong.
Dengan menyediakan lahan kosong yang digunakan untuk penanaman bibit-bibit sayur tersebut. Bahan pengobatan untuk tanaman dibuat dari bahan alami. Bukan saja untuk kas RT tetapi juga manambah keuntungan bagi anggota. Keuntungannya yaitu jika masak tidak susah-susah lagi untuk cari bahan untuk dimasak dan untuk iuran yang dibutuhkan dalam acara 17 Agustus. Uang kas tersebut juga bisa dipinjam oleh anggota yang bergabung. Dengan jumlah maksimal Rp. 100.000 tanpa bunga dan jangka satu bulan harus dikembalikan. Dan disaat perawatan tanaman juga tidak menggunakan uang sepeser pun untuk anggota.
Bapak Yadi selaku pengelola Bank Sayur di Dusun Sambungrejo Desa Bayu Kecamatan Songgon memberikan pernyataan tambahan mengenai pengelolaan Bank Sayur pada tanggal 23 Juli 2018 yang menyatakan bahwa:
67 Sugiarto, Wawancara, 25 November 2017 dan 22 Juli 2018.
“Pengelolaan di bank sayur ini sebenarnya lumayan bisa. Cuma saja dananya kita itu minim dalam mengelolanya karena kita dari bahan dan alat yang sederhana. Untuk tanahnya yang kita buat dari kompos. Kita tidak menerima uang sedikit pun dari pemerintah atau semacam apresiasi buat kita sama sekali tidak ada. Mendirikan Bank Sayur ini kita berdiri sendiri dengan cara iuran dan sumbangan. Sebenarnya ini menarik tetapi ketertarikan warga itu kurang. Saya dan teman - teman sudah berusaha bagaimana cara kita mengajaknya. Padahal warga lain atau kampung lain yang tidak di prioritaskan malah mereka ingin bergabung. Mereka seperti ini karena kurangnya pengetahuan yang luas dan pengalaman. Padahal banyak sekali potensi-potensi yang ada di Dusun Sambungrejo ini.
Jika kita bisa mengolah dan memanfaatkannya dengan baik insyaallah lumayan banyak penghasilan. Kenapa seperti itu di Dusun Sambungrejo ini dekat dengan wisata Rawa Bayu. Di samping banyak wisatawan kita juga bisa memanfaatkan berjualan oleh-oleh yang khas di Dusun Sambungrejo ini. Kemarin juga ada bapak - bapak dari koramil 0856 dari songgon itu berkunjung di Bank Sayur ini. Mereka juga ikut menanam benih cabe dan melihat semua tanaman yang ada di Bank Sayur. Akhirnya bapak - bapak koramil tersebut tertarik untuk mengembangkan tanaman tersebut diberikanlah bantuan berupa polibak. Dan kami terima dengan lapang dada dan digunakan untuk pengelolaan pembibitanS.”68
Hal tersebut juga disampaikan oleh Bapak Agus selaku pengelola Bank Sayur pada tanggal 23 Juli 2018 yang menyatakan bahwa:
“Sangat menarik sekali adanya Bank Sayur ini. Mengapa dikatakan demikian karena tidak semuanya Desa atau Dusun yang melakukan hal seperti ini. dengan adanya Bank Sayur ini kita mempunyai kas RT. Awalnya disaat lampu di jalan mati atau ada acara agustusan iuran sekarang agak enteng karena kita punya kas RT. Kita bisa memanfaatkan potensi yang ada misalnya penanaman sayuran tersebut. Dalam saat perawatan kita juga dibantu oleh pengurus Bank Sayur bagaimana cara menanam sayuran yang baik agar tumbuhnya bagus atau besar-besar disaat panen. Dari hal tersebut kita juga memanfaatkan potensi yang ada. Di Dusun juga ada wisata Rawa Bayu dan Air Terjun Pertemon. Banyak wisatawan yang datang kesana. Bukan hanya wisatawan lokal saja tetapi juga ada wisatawan asing. Pastinya wisatawan mencari makanan yang khas dari Dusun tersebut. Jadinya kita berfikir bagaimana jika kita membuat makanan yang untuk dijadikan oleh-oleh dengan memanfaatkan hasil panenan dari warga yang menjadi anggota Bank Sayur. Akhirnya, dari hasil panen tersebut diolah lagi menjadi
68 Yadi, Wawancara, Songgon, 23 Juli 2018.
camilan. Seperti seledri digunakan untuk stick seledri. Dan ada lagi yang di produksi oleh bank sayur diantaranya keripik sale gedhang, kopi gedhe, dan bagiak pandan wangi. Ada juga paket wisata yaitu wisata air terjun Pertemon, nandur sayur, makani wedhus, goreng kopi, mlaku nong sawah, blolang nok alas/metik pakis, matuk getah, dan kampung sayur. Beberapa juga wisatawan yang kesana untuk melihat langsung keadaan disana. Sebenarnya banyak potensi- potensi yang belum digali di desa ini karena minimnya dana yang kita dapat.“69
Dalam hal tersebut dalam pengelolaan sangat membutuhkan warga yang mau diajak kerjasama. Untuk menggali potensi yang ada di Dusun Sambungrejo tersebut. Dengan memanfaatkan potensi yang ada dengan memproduksi makanan atau membuat wisata yang menarik. Wisata membutuhkan peran dalam masyarakat. Dimana nantinya masyarakat dapat menikmati atau mendapatkan hasil dari pengelolaan Bank Sayur ini.
Ibu Shinta Desi selaku pengelola dan anggota Bank Sayur memberikan pernyataan mengenai pengelolaan Bank Sayur pada tanggal 24 Juli 2018 yang menyatakan bahwa
“Iya awalnya belum kepikiran kalau mau mengolah sayur - sayuran yang ada di Bank Sayur ini. Dan saya melihat artikel - artikel ekonomi kreaatif yang banyak memberikan inspirasi bagi saya.
Saya pengen coba - coba saja di rumah ternyata banyak yang suka.
Akhirnya saya berfikir membikin banyak. Saya membuat ladrang seledri dan kripik sale. Kemudian saya promosikan lewat facebook dan whatsapp saya. Saya beri nama “Oleh-oleh Kang Zalma”. Gak taunya banyak yang memesan ladrang seledri dan kripik sale. Di sinikan banyak wisatawan juga yang ingin mengunjungi wisata Rawa Bayu. Banyak wisatawan yang mampir ke tempat saya untuk membelikan oleh - oleh untuk keluarganya. Pesanan saya juga sampai di luar kota juga. Kemarin itu saya ngirim ke Probolinggo sama Jember. Kalau masalah pendapatan iya alhamdulliah bisa di buat makan. Kalau masalah produksi itu gak mesti ya. Saya membuat 5 kg - 10 kg sehari kripik seledri sama kripik sale. Tetapi saat bulan ramadhan itu banyak pesanan kemarin itu sampai 50 kg
69 Agus Sujarwo, Wawancara, Songgon, 23 Juli 2018.
produksi. Yang sering laku keras itu salenya. Sale yang saya buat ini tidak kecut dan manis. Ini yang membedakan antara sale yang lainnya. Kalau ladrang seledri yang membedakan seledrinya yaitu setiap satu ladrang itu banyak seledrinya. Saya produksi ini juga di bantu tetangga sekitar. Ya alhamdullah meskipun kecil gajinya bisa memberikan lapangan pekerjaan bagi ibu - ibu yang ada di sini. Gaji yang saya berikan Rp. 30.000 – Rp 50. 000. Tergantung pada pemesanan jika setengah hari saya kasih Rp. 30.000 kalau satu hari Rp. 50.000 tetapi terkadang saya kasih bonus. Soalnya kebanyakan orang sini tidak bersekolah tinggi jadinya kalau tidak kesawah atau ke hutan kerja apalagi. Sekarang yang di butuhkan pekerjaan itu minimal lulusan SMA.”70
Jadi berdasarkan hasil wawancara yang dipaparkan di atas mengenai pengelolaan Bank Sayur dapat disimpulkan bahwa awal berdirinya atau terbentuknya Bank Sayur karena adanya suatu ide dari Bapak Sugiarto yang menarik. Yaitu membuat kas RT di Dusun Sambungrejo tetapi tidak memberatkan warga dengan adanya kas RT tersebut. Dan bentuk dari tabungan tersebut tidak berbentuk uang melainkan sayuran. Dengan menyediakan lahan kosong di sekitar rumah untuk menanam tanaman sayuran seperti terong, cabe, seledri, bawang pre, sayur sawi, dan lain sebagainya. Hasil panennya sebagian dibuat kas. Dana yang gunakan dari warga yang mau menyumbang seperti polibak dan bibit. Perawatan seperti pemberian pupuk menggunakan yang alami. Pupuk yang digunakan pupuk kompos dari kotoran kambing dan sapi. Di situlah banyak warga yang mau di ajak bergabung awalnya 15 anggota. Bisa juga dibuat pekerjaan sampingan ibu-ibu yang menganggur setelah pekerjaan rumah selesai yaitu dengan merawat tanaman tersebut. Dengan adanya
70 Shinta Desi, Wawancara, Songgon 24 Juli 2018.
sumbangan dari warga sehingga dikelola Bank sayur dengan berbagai usaha yang dilakukan, seperti:
1. Dari hasil panen yang ditanam di rumah warga tersebut selain dijual ketengkulak juga sebagian dikelola sendiri oleh anggota. Yaitu usaha Oleh-oleh Kang Zalma untuk oleh-oleh wisatawan yang mengunjungi wisata Rawa Bayu. Dalam pengelolaannya membuat camilan kripik sale dan ladrang seledri. Kemudian ditaruh ke Bank Sayur untuk dijual ke wisatawan.
2. Mengelola wisata yang ada di sekitar yaitu Air Terjun Pertemon.
Karena masih asri dan sejuk disana. Banyak orang yang belum tahu air terjun tersebut tentang pemandangan yang di suguhkan.
3. Mengelola wisata didalam Bank Sayur itu sendiri yaitu nandur sayur, makani wedhus, goreng kopi, mlaku nong sawah, bolang nok alas/metik pakis, matuk getah, dan kampung sayur.
Adapun upaya untuk meningkatkan kualitas dari pengelolaan Bank Sayur serta meningkatkan kunjungan wisatawan ke Dusun Sambungrejo Desa Bayu, pengelola terus melakukan beberapa pengembangan agar Bank Sayur samakin baik dan maju.
Pernyataan ini juga disampaikan Bapak Sugiarto selaku pengurus dan pengelola Bank Sayur pada tanggal 25 November 2017 dan 22 Juli 2018 yang menyatakan bahwa:
“Dalam melakukan pengembangan bank sayur ini saya mulai dari pembibitan dulu. Awalnya itukan sekitar 200 bibit yang ditanam.
Panen berikutnya ada 3500 calon bibit yang saya tanam. Dan kalau bisa dipinggir jalan akan saya berikan tempat untuk tanaman
sayuran tersebut. Saya buat dari ban mobil truk saya bentuk seperti meja. Dalam perawatannya seperti penyiraman dijalan itu saya dan teman-teman yang melakukan. Kita akan kerja bareng-bareng biar pekerjaan yang awalnya berat menjadi ringan. Dan saya juga berfikir lagi ini kalau bisa tidak usah jual ke tengkulak panennya melainkan diproduksi sendiri. Tetapi ini masih dalam proses. Kalau dalam produksi Bank sayur seperti ladrang seledri dan sale pisang saya tambah lagi kripik buah naga dan bakiak pandan wangi.
Sekarang Bank Sayur membuat atau mengolah kopi yang beda. Ciri khas yang berbeda dengan kopi-kopi lainnya. Saya beri nama “Kopi Gedhe”. Itu hasil dari penanaman buah naga didepan rumah warga.
Untuk wisata yang kami olah sekarang misalnya Air Terjun Pertemon saya perbaiki jalan yang disana tetapi tidak mengurangi kealamiannya atau keasriannya. Hanya saya mempermudah jalan masuk ke wisata. Untuk nandur sayur, makani wedhus, goreng kopi, mlaku nong sawah, bolang nok alas/metik pakis, matuk getah, dan kampung sayur. Saya buat semenarik mungkin agar wisatawan yang kesana tidak bosan dan mau kesini lagi. Dan tempat bank sayur saya model semua ornamen dan tempat apapun ada tanaman sayurannya. Dan juga tempat berselfi bagi yang suka selfi. Dan semua akan saya kembangkan lagi.”71
Hal tersebut juga disampaikan oleh Bapak Agus selaku pengelola Bank Sayur pada tanggal 23 Juli 2018 yang menyatakan bahwa:
“Perkembangan terus kita lakukan bagaimanapun itu caranya. Dan dari kita juga melakukan pelatihan-pelatihan agar masyarakat bisa mengembangkan potensi yang ada. Salah satu pelatihan yang sering kita lakukan yaitu membuat camilan. Karena dari hal tersebut kita bisa berbisnis melalui camilan. camilan makanan tergolong usaha rumahan yang sangat mudah dijalankan karena waktu kerja yang fleksibel, tidak memerlukan keahlian khusus, modal yang dikeluarkan juga tidak banyak. Karena disini kebanyakan orangnya kebanyakan menganggur. Dan kita juga mengembangkan usaha yang kita lakukan sebelumnya. Saya akan membuat merk atau nama produknya. Saya buat semenarik mungkin agar orang-orang tertarik untuk membelinya. Kualitas juga saya akan tingkatkan agar wisatawan tidak rugi untuk membeli camilan ini. Mengapa saya memilih untuk mengembangkan camilan. Karena camilan juga dapat menjadi teman asyik disaat mengerjakan sesuatu ataupun sedang berkumpul bersama keluarga. Dan dapat dipastikan hampir semua masyarakat menyukai camilan. Ini berarti cemilan sudah menjadi idola setiap kalangan. Ini dibuktikan dengan penikmat
71 Sugiarto, wawancara, songgon, 25 November dan 22 Juli 2018.