BAB III METODE PENELITIAN
B. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian menunjukkan dimana penelitian tersebut hendak dilakukan.62 Adapun yang menjadi lokasi dalam melaksanakan penelitian ini adalah bertempat di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguran (FTIK) IAIN Jember, tepatnya berada di Jl. Mataram No.1, Mangli, Kaliwates- Jember - Jawa Timur. Penentuan lokasi penelitian ini berdasarkan atas pertimbangan karena di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember terdapat mahasiswa yang mampu meluangkan waktunya untuk menghafalkan Al-Qur’an meski sibuk kuliah.
C. Subyek Penelitian
Dalam penelitian ini subyek penelitian yang digunakan adalah purposive sampling (sampel bertujuan). Purposive sampling adalah tekni pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.63 Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan, sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.
Dalam penelitian ini subyek penelitian atau informan yang terlibat atau mengetahui permasalahan yang dikaji adalah:
61Nazir, Metode Penelitian (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014), 43.
62Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 46.
63Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2016), 218.
1. Mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember.
2. Guru/ pembimbing hafalan Al-Qur’an 3. Teman penghafal Al-Qur’an
4. Orang tua penghafal Al-Qur’an D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data agar data tersebut dapat dipercaya dan hasil penelitiannya dapat dipertanggung jawabkan, maka dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik, yaitu:
1. Observasi
Observasi atau pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala- gejala yang di selidiki.64
Dalam konteks penelitian kualitatif, observasi tidak untuk menguji kebenaran tetapi untuk mengetahui kebenaran yang berhubungan dengan aspek/kategori sebagai aspek studi yang dikembangkan peneliti. 65
Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation, selanjutnya dari segi instrumentasi yang
64Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), 70.
65Nasution, Metode Research: Penelitian Ilmiah (Jakarta: Bumi Aksara,2011), 104.
digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstuktur.66
a. Observasi berperan serta (Participant Observation)
Dalam observasi ini, peneliti terlibat dalam kegiatan sehari- hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi persiapan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.
b. Observasi Nonpartisipan
Kalau dalam observasi partisipan peneliti terlibat langsung dengan aktivitas orang-orang yang sedang diamati, maka dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.
Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi nonpartisipan. Metode observasi ini digunakan untuk memperoleh data tentang:
1) Kondisi objek penelitian
2) Aktivitas mahasiswa penghafal Al-Qur’an
66Sugiono, Metode Penelitian, 145-146.
2. Wawancara atau interview
Wawancara merupakan salah satu teknik mendapatkan data dengan cara mengadakan percakapan secara langsung antara pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dengan pihak yang diwawancarai (interviewee) yang menjawab pertanyaan itu.67 Wawancara dalam sebuah penelitian bertujuan untuk mengumpulkan keterangan tentang kehidupan manusia dalam suatu masyarakat serta pendirian-pendiriaan tersebut merupakan suatu pembantu utama dari metode observasi.68
Ditinjau dari pelaksanaannya, maka dibedakan atas:69
a. Interviu bebas, inguided interview, dimana pewawancara bebas menanyakan apa saja, tetapi juga mengingat akan data apa yang akan dikumpulkan.
b. Interviu terpimpin, guided interview, yaitu interviu yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci seperti yang dimaksud dalam interviu terstruktur.
c. interviu bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara interviu bebas dan interviu terpimpin.
Dalam penelitian ini, jenis wawancara yang digunakan yaitu wawancara bebas terpimpin. Karena sebelum diadakan wawancara terlebih dahulu menetapkan masalah dan pertanyaan yang akan diajukan,
67 M. Djamal, Paradigma Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 75.
68Anselm Strauss & Juliet Corbi, Dasar-dasar penelitian kualitatif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2013), 36.
69Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Yogyakarta: Rineka Cipta, 2010), 199.
kemudian pertanyaan tersebut digunakan sehingga informan akan menjawab dengan keterangan yang panjang. Data yang diperoleh dengan menggunakan metode wawancara yaitu:
1) Sejarah berdirinya Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember
2) Regulasi diri intrapersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember tahun akademik 2016/2017
3) Regulasi diri interpersonal mahasiswa pennghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember tahun akademik 2016/2017
4) Regulasi diri metapersonal mahasiswa pennghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember tahun akademik 2016/2017
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.70 Metode dokumentasi ini digunakan untuk mencari data tentang:
1) Denah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember 2) Struktur Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember, 3) Foto-foto yang berkaitan dengan penelitian.
70Ibid., 240.
4) Aktivitas mahasiswa penghafal Al-Qur’an.
E. Analisis Data
Dalam penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dalam menganalisis data yang diperoleh dalam pelaksanaan penelitian. Deskriptif kualitatif adalah suatu metode penelitian yang bermaksud untuk membuat penginderaan (deskripsi) mengenai situasi-situasi dan kejadian-kejadian.71
Menurut Miles dan Huberman yang dikutip oleh Sugiyono, tahap analisis data terdiri dari tiga tahapan yaitu: reduksi data (data reduction), penyajian data (data display) dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing verivication).72
1. Data reduction (reduksi data). Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.
2. Data display (penyajian data). Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Miles dan Huberman menyatakan bahwa yang paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalan dengan teks yang bersifat naratif.
71Sumadi Suryabrata, Metode Penelitian (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2011), 76.
72Sugiono, Metode Penelitia, 246-253.
3. Cunclusion Drawing/verification. Langkah ke tiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Humerman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumya belum pernah ada.
F. Keabsahan Data
Untuk menguji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi dalam hal ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi terdiri atas triangulasi sumber, tekhnik, dan waktu.73
1. Triangulasi sumber
Triangulasi sumber untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber.
2. Triangulasi teknik
Triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.
3. Triangulasi waktu
Waktu juga sering mempengaruhi kredibilitas data. Data yang dikumpulkan dengan teknik wawacara di pagi hari pada saat narasumber masih segar, belum banyak masalah, akan memberikan data yang lebih
73Ibid., 273.
valid sehingga lebih kredibel. Untuk itu dalam rangka pengujian kredibilitas data dapat dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda. Bila hasil uji menghasilkan data yang berbeda, maka dilakukan secara berulang-ulang sehingga sampai ditemukan datanya.
Dalam penelitian ini teknik triangulasi yang digunakan adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik.
G. Tahapan-tahapan Penelitian
Bagian ini menguraikan proses pelaksanaan penelitian, mulai dari penelitian pendahuluan, pengembangan desain, penelitian sebenarnya dan sampai pada penulisan laporan dalam penelitian. Lexy J.Moleong mengemukakan tahapan penelitian kualitatif terbagi menjadi tiga, yaitu:74 1. Tahap pra lapangan
a. Menyusun rancangan penelitian b. Memilih lapangan penelitian c. Mengurus peridzinan
d. Menjajaki dan menilai keadaan lapangan e. Memilih dan memanfaatkan informan f. Menyiapkan perlengkapan penelitian g. Persoalan etika penelitian
2. Tahap pekerjaan lapangan
a. Memahami latar penelitian dan persiapan diri
74Mundir, Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif (Jember: STAIN Jember Press, 2013), 61- 68.
b. Memasuki lapangan
c. Berperan serta sambil mengumpulkan data 3. Tahap analisa data
a. Merumuskan tema dan merumuskan hipotesis b. Menganalisis berdasarkan hipotesis.
1. Sejarah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember Pada tahun 1965 Fakultas Tarbiyah yang berafiliasi ke IAIN sunan Ampel di Surabaya, sehingga ketika itu disebut sebagai Fakultas Tarbiyah Cabang IAIN Sunan Ampel di Jember. Pada tahun 1997, IAIN Sunan Ampel di Jember berubah menjadi STAIN sesuai dengan Keputusan Presiden No. 11 Tahun 1997 tentang pendirian Sekolah tinggi, sehingga status nama fakultas menjadi jurusan merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari.
Saat itu, Jurusan Tarbiyah menyelenggarakan 3 (tiga) program studi (prodi), yakni Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI), Prodi Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dan Prodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI). Baru pada tahun akademik 2013/ 2014 dibuka program studi baru, Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
Semenjak berdiri tahun 1997, kepemimpinan di Jurusan Tarbiyah adalah sebagai berikut:
Ketua Jurusan:
Drs. Abdul Muis (1997 - 2002)
Dra. Hj. Titiek Rohanah, M.Pd. (2002 - 2004)
Drs. Moh. Sahlan, M.Ag. (2004 - 2008)
Dr. Syamsun Ni’am, M.Ag. (2008 - 2012)
Dr. Syamsun Ni’am, M. Ag. (2012 - 2015) Sekretaris Jurusan :
Drs. Ainur Rafik, M.Ag. (1997 - 2000)
Drs. Moh. Sahlan, M.Ag. (2000 - 2004)
Drs. Mundir, M.Pd. (2004 - 2008)
Mashudi, M.Pd. (2008 - 2012)
Drs. Sarwan, Mpd. (2012 - 2015)
Pada tahun 2014, STAIN Jember beralih status menjadi IAIN Jember sesuai dengan Keputusan Presiden (Keppress) Nomor 142 Tahun 2014. Kemudian ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Agama RI Nomor 6 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata Kerja Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.
Seiring terjadinya transformasi menuju IAIN Jemebr dibuka banyak program studi, hal ini dimaksudkan bisa dalam rangka untuk memenuhi kebutuhan masyarakat luas. Adapun, Fakultas yang ada diantaranya adalah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK).
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, mengembangkan sepuluh program studi, yaitu: 75
a. Pendidikan Agama Islam (PAI) b. Pendidikan Bahasa Arab (PBA) c. Manajemen Pendidikan Islam (MPI)
d. Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI).
75Tim Penyusun, Pedoman Pendidikan S-1 Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember (IAIN Jember, 2017)
e. Pendidikan Guru Radhatul Athfal (PGRA) f. Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) g. Tadris Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) h. Tadris Bahasa Inggris
i. Tadris Matematika j. Tadris Biologi
2. Struktur dan Jabatan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember
Tabel 4.1
Struktur dan Jabatan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember76
76Ibid., 178
No Jabatan Pemangku Jabatan
1 Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
DR. H. Abdullah, S. Ag., M.HI
2 Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum, Perencanaan dan Keuangan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Drs. Sarwan, M.Pd
3 Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Khoirul Faizin, M.Ag 4 Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan
dan Kerja Sama Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Hafidz, S.Ag, M.Hum
5 Kepala Laboratorium Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Dra. H. D. Fajar Ahwa, M.Pd.I
6 Ketua Jurusan Pendidikan Islam Dr. H. Mundir, M.Pd.
7 Sekretaris Jurusan Pendidikan Islam Fathiyaturrahmah, M.Ag 8 Ketua Program Studi Pendidikan
Agama Islam
H. Mursalim, M.Ag 9 Ketua Program Studi Pendidikan Guru
Madrasah Ibtidaiyah
Dr. Mustajab, M.Pd.I 10 Ketua Program Studi Pendidikan Guru
Raudlatul Athfal
Drs. H. Mahrus, M.Pd.I 11 Ketua Program Studi Tadris Biologi Suwarno, M.Pd
12 Ketua Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam
Abdul Rahim, S.Si, M.Si 13 Ketua Program Studi Ilmu Musyarofah, M.Pd
Pengetahuan Sosial
14 Ketua Program Studi Tadris Matematika
Indah Wahyuni, M.Pd 15 Sekretaris Program Studi Pendidikan
Agama Islam
16 Sekretaris Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah
17 Sekretaris Program Studi Pendidikan Guru Raudhatul Athfal
18 Sekretaris Program Studi Tadris Biologi
19 Sekretaris Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Alam
20 Sekretaris Program Studi Tadris Ilmu Pengetahuan Sosial
21 Sekretaris Program Studi Tadris Matematika
22 Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa As’ari, M.Pd.I
23 Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa Syamsul Anam, S.Ag, M.Pd 24 Ketua Program Studi Pendidikan
Bahasa Arab
Bambang Irawan, M.Ed 25 Ketua Program Studi Pendidikan
Bahasa Inggris
26 Sekretaris Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris
27 Ketua Jurusan Kependidikan Islam Dr. Hj. St. Rodliyah, MPd 28 Sekretaris Jurusan Kependidikan
Islam
Rif’an Humaidi, M.Pd.I 29 Ketua Program Studi Manajemen
Pendidikan Islam
Nuruddin, M.Pd.I 30 Sekretaris Program Studi Manajemen
Pendidikan Islam
31 Kepala Bagian Tata Usaha Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Moh. Zainuri, SE.
32 Kepala Sub Bagian Administrasi Umum dan Keuangan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Marita Fitriana, SE
33 Kepala Sub Bagian Akademik,
Kemahasiswaan, dan Alumni Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Drs. Muh. Ansori
3. Data Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember.
Tabel 4.2
Data Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an77
No Nama Smt Prodi Jenis
kelamin
Usia Hafalan yang dikuasai
Lama Menghafal 1. Siti Wimro’atus S 9 PAI P 22 tahun 12 juz 2,5 tahun 2. Ainul Maghfiroh 5 MPI P 20 tahun 5 juz 2 tahun 3. Evi Wijayanti 5 PAI P 20 tahun 2,5 juz 2 tahun 4 Umi Faidatul M 9 PAI P 22 tahun 20 juz 4 tahun
5. Anisa 5 PAI P 19 tahun 11 juz 2 tahun
6. Ridfa Nitara Z R 5 PAI P 20 tahun 5 juz 1,5 tahun 7. Rifqi Nur Aini 5 PAI P 20 tahun 15 juz 4,5 tahun 8. St. Alfi Nur Saadah 5 PAI P 20 tahun 25 juz 4 tahun 9. Fatia Inast Tsuroya 5 PAI P 20 tahun 16 juz 4 tahun 10 Syarif Hidayat 7 PAI L 22 tahun 2 juz 2 tahun 11 Nindia Hikamatul 3 PAI P 19 tahun 2 juz 1,5 tahun 12 Isna Zahrotuz S 3 MPI P 19 tahun 7 juz 1,5 tahun 13 Zulfatus Sa’adah 7 PBA P 22 tahun 9 juz 2 tahun 14 Farrah Camelia 5 PAI P 21 tahun 9 juz 1 tahun
15 Windawati 7 PAI P 21 tahun 5 juz 4 tahun
16 Miftahus Sa’diyah 3 PBA P 19 tahun 3 juz 3 tahun
B. Penyajian Data dan Analisis
Setelah mengalami perolehan data dengan berbagai metode yang digunakan, mulai dari data yang umum hingga data yang spesifik.
Selanjutnya data-data tersebut akan dianalisis secara rinci dan sistematis, dengan harapan dapat memperoleh data yang akurat. Secara beruntun akan
77 Hasil wawancara dan observasi oleh peneliti.
disajikan data-data yang mengacu kepada fokus penelitian. Data yang digali tentang regulasi diri mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember Tahun Akademik 2016/2017.
Adapun data-data yang diperoleh dari metode wawancara, observasi dan dokumentasi yang berkaitan dengan fokus penelitian adalah sebagai berikut:
1. Regulasi diri intrapersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember
Regulasi diri intrapersonal merupakan pengaturan diri yang dilakukan untuk mengatur proses-proses yang terjadi di dalam diri sendiri. Termasuk disini adalah bagaimana memelihara tujuan, bagaimana menjaga motivasi dan menjaga perasaan (afeksi).
a. Dinamika pemeliharaan dan pencapaian tujuan
Dalam mencapai tujuan yang dinginkan tentu ada usaha yang dilakukan sehingga mampu membuat langkah-langkah yang akan diambil untuk mengarahkan pada pencapaian tujuan dan menetapkan cara-cara apa yang akan ditempuh untuk mengatasi hambatan dalam pencapaian tujuan. Hal yang dapat dilakukan dalam pencapai tujuan dalam menghafal Al-Qur’an adalah dengan melakukan muroja’ah dan menambah hafalan baru.
Berkaitan dengan dinamika pemeliharaan dan pencapaian tujuan dalam menghafal Al-Qur’an ini peneliti melakukan
wawancara dengan Umi Faidatul M, selaku mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, menyatakan:
Dalam memelihara tujuan untuk dapat menghafal Al-Qur’an sebanyak 30 juz, hal tersebut dilakukan dengan cara menambah hafalan baru setelah sholat shubuh sebanyak 1 sampai 2 kaca. Sedangkan cara yang digunakan untuk menambah hafalan baru yaitu dengan mengulang-ngulang bacaan sebanyak 7 kali atau bisa disebut dengan metode bin- nazhar. Selain menambah hafalan baru, cara yang digunakan untuk memelihara tujuan yaitu dengan melakukan muroja’ah hafalan yang dimiliki setelah sholat magrib sebanyak 1 sampai 2 juz atau jika ada waktu yang tidak dipergunakan untuk kegiatan kuliah maka muroja’ah juga dapat dilakukan diwaktu kosong tersebut. 78
Senada yang diungkapkan oleh Siti Wimro’atus S, selaku mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan menyatakan :
Muroja’ah memang sangat penting dilakukan karena dengan muroja’ah saya mampu mengingat kembali hafalan yang saya miliki. Saat kuliah pun terkadang saya menyempatkan diri untuk muroja’ah yaitu ketika dosen belum memasuki kelas.
Meskipun tidak istiqomah saya lakukan, namun saya terus berusaha mengisi waktu kosong saya dengan muroja’ah dan menambah hafalan baru. Untuk menambah hafalan baru biasanya terlebih dahulu saya mengulang-ngulang bacaan (per ayat) yang akan saya hafal sebanayak 10 kali. Kemudian setelah itu saya hafalkan ayat tersebut sedikit demi.79
Pernyataan diatas diperkuat tentang muroja’ah dan menambah hafalan, Rifda Nitara menyatakan bahwa:
Menambah hafalan itu wajib bagi saya pribadi, walaupun hanya 1 sufah, waktunya tergantung bagaimana kita pandai mengatur waktu. Banyaknya itu tidak bisa disebutkan, tetapi paling sedikit 1 hari 1 sufah. Muroja’ah jika saya pribadi peling sedikit 3 sufah atau seperempat juz.80
78Umi faidatul M, wawancara, Jember 2 Juni 2017.
79Siti Wimro’atus S, Wawancara, Jember 5 Juni 2017
80Ridfa Nitara ZR, Wawancara, Jember 10 Agustus 2017)
Kemudian selain kegiatan muroja’ah dapat dilakukan secara individu, kegiatan muroja’ah juga dapat dilakukan dengan cara menggunakan metode tasmi’ yaitu memperdengarkan hafalan kepada orang lain. Dalam hal ini muroja’ah diperdengarkan kepada teman. Hal tersebut diungkapkan oleh beberapa mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.81
Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan tentang kegiatan muroja’ah dengan menggunakan metode tasmi’, kegiatan tersebut memang dilaksanakan setelah sholat magrib secara bergantian. Kegiatan muroja’ah dengan menggunakan metode tasmi’
dilakukan antara 1 sampai 5 halaman, karena kegiatan tersebut tidak memiliki peraturan yang mewajibkan seberapa banyak yang harus disetorkan atau diperdengarkan kepada pentashih.82 Kemudian setoran muroja’ah tersebut ditulis pada kartu prestasi yang dimiliki.83 Berikut contoh kartu prestasi milik Umi Faidatul M:
81(Isna Zahrotuz S, Siti Wimro’atus S, Nindia Hikmatul dan Umi Faidatul M, Wawancara, Jember 8 Juni 2017).
82Observasi, Kegiatan Muroja’ah dengan Menggunakan Metode Tasmi’, Jember 10 Juni 2017
83(Dokumentasi kartu prestasi Umi Faidatul M)
Tabel 4.3 Kartu Prestasi NAMA : Umi Faidatul M
No Hari/Tgl Juz Hal.
Juz
Ayat Kesalahan Ttd.
Pentas hih
1 2 3 4 5
Ayat Ayat ayat Ayat ayat 1 05/09/16 12 223-
225
6-28 - - 24 - -
2 06/09/16 12 226- 228
29-53 32 - 51 - -
3 07/09/16 12 229- 231
54-81 - 68, 70 72, 80 - - 4 16/09/16 17 18-20 56-78 57,
60, 62
- 74, 76-78
- -
5 18/09/16 17 20, 1- 2
73-78, 1- 24
- 9 16,
18, 23
- -
6 19/09/16 1 1-6 1-48 - 14 24 27 36
7 20/09/16 17 3-5 25-57 41 51,52 - - -
8 21/09/16 1 7-11 49-83 57 - 64, 66 - 81 9 26/09/16 17 6-15 58-112 68, 71 77,
79, 86
85, 86, 90
96, 98 104, 108, 109
10 28/09/16 17 - - 66 78,
80, 81
82, 90 97, 98, 100
105, 108, 110
11 Pulang -
12 03/10/16 1 12-14 84-101 - - 98,99 - -
13 04/10/16 4 1-4 92-115 -
14 05/10/16 4 4-8 116-153 129, 131
- 146, 148 15 14/10/16 4 9-11 154,-173 165
16 16/10/16 4 12-14 174-194
17 17/10/16 4 15-17 195-11 199 1, 5 18 18/10/16 4 18-20 12-23 13 18
19 19/10/16 4 - 12, 14 18, 19 23
20 21/10/16 4 1-5 92-132 112,
114
117- 119
129- 131 21 23/10/16 17 1-3 1-35 3
22 24/10/16 17 4-6 36-72 66,
68, 71 23 25/10/16 17 7-9 733-101 77,
79,
85, 90 96, 98 24 26/10/16 17 1-3 1-35 - 18, 29 34 25 28/10/16 17 10-13 102-23 105 - 15 26 09/11/16 5 1-3 24-37 27
27 12/11/16 5 4-6 38-59 - 46 58,59
28 13/11/16 5 1-5 24-51 - 27 - 42-44 46, 47 29 14/11/16 5 6-8 52-74 58, 59 60,
62, 65
68,69, 73
30 15/11/16 5 6-8 65
31 16/11/16 5 8-10 66-86 - 77, 79 81 32 18/11/16 5 1-5 24-59
33 20/11/16 5 11-12 87-94 94 34 21/11/16 5 13-15 95-113 96,
99, 100
102, 105
111- 113 35 22/11/16 5
36 23/11/16
37 25/11/16 4 99,
100
104 112 38 06/12/16 6 1-3 148-170 154
39 13/12/16 6 4-5 40 14/12/16 6
41 16/12/16 1 1-5 14 26 37
42 18/12/16 1 6-10
43 19/12/16 1 11-15 86 91, 93
44 20/12/16 1 16-20 126 134 140,
141
45 20/12/16 32 34, 37 38,
39, 44
50, 51
Berdasarkan hasil wawancara tentang kegiatan menambah hafalan, hal tersebut dilakukan dengan menggunakan metode talaqqi yaitu menyetorkan atau memperdengarkan hafalan yang baru dihafal kepada guru atau pembimbing hafalan. Metode ini dilakukan setelah hafalan baru benar-benar dikuasai.84 Berdasarkan hasil obeservasi yang dilakukan oleh peneliti tentang metode talaqqi, kegiatan tersebut memang dilakukan oleh mahasiswa penghafal Al-Qur’an dengan jumlah setoran baru sebanyak 1 sampai 2 halaman.85
84Rifqi Nur Aini, Wawancara, Jember 17 Mei 2017
85Observasi, kegiatan Metode Talaqqi, Jember 19 Mei 2017.
Pernyataan diatas diperkuat oleh Ibu Khiyarotul Bintiah selaku pembimbing hafalan tentang metode talaqqi, menyatakan bahwa:
Setelah sholat subuh rifqi ataupun anak-anak yang lain mempunyai kegiatan untuk menyetorkan hafalan ke saya.
Biasanya sebanyak 1 atau 2 kaca dan itu selalu dilakukan kecuali ada halangan. Hal ini dilakukan secara bergantian.
Namun yang lebih sering banyak hafalan yang disetorkan yaitu sebanyak 1 kaca.86
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa dinamika memeliharaan dan pencapaian tujuan dapat dilakukan dengan cara menentukan target dalam sehari-hari, mulai dari kegiatan muroja’ah dan menambah hafan baru. Kegiatan Muroja’ah dilakukan di waktu-waktu kosong misalnya setelah magrib. Selain itu muroja’ah dapat dilakukan dengan menggunakan metode tasmi’
yaitu dengan memperdengarkan hafalan kepada orang lain.
Sedangkan untuk menambah hafalan baru, dalam sehari ada target yang ditentukan seberapa banyak yang harus dihafal dan waktu yang dapat digunakan untuk menambah hafalan baru yaitu setelah sholat shubuh. Setelah dapat menguasai hafalan tersebut, maka tahap selanjutnya yaitu disetorkan kepada guru pembimbing hafalan.
b. Dinamika aspek-aspek motivasional
Beberapa hal yang menjadi sumber motivasi responden pada penelitian ini diantaranya yaitu motivasi transendental, motivasi
86Khiyarotul Bintiah, Wawancara, Jember 17 Mei 2017.
personal dan motivasi sosial. Berdasarkan hasil wawancara dengan Siti Wimro’atus S, mengatakan bahwa:
Menghafal Al-Qur’an merupakan salah satu keinginan yang diharapkan oleh saya sejak kecil. Selain itu, saya juga termotivasi dari janji Allah yang menyebutkan bahwa seseorang yang menghafalkan Al-Qur’an itu akan mendapat syafaat Al-Qur’an dan akan menjadi keluarganya Allah, kemudian seorang penghafal Al-Qur’an juga akan diberikan mahkota kemuliaan dan saat di alam kubur tidak akan busuk.
Dengan mengingat janji-jandi Allah bagi seorang penghafal al-Qur’an maka saya selau mendapat dorongan dan terus termotivasi untuk menghafal Al-Qur’an.87
Senada yang diungkapkan oleh Anisa, selaku mahasiswa penghafal Al-Qur’an menyatakan :
Dalam hadis kan dijelaskan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya, dari hadist ini saya termotivasi untuk menghafal Al-Qur’an.
Selain itu motivasi yang saya dapatkan untuk menghafal Al- Qur’an adalah bahwa nanti, saya pernah baca dibuku, kalau seorang yang manghafalkan Al-Qur’an akan diberikan mahkota kemulian. Dari situlah saya termotivasi untuk menghafalkan Al-Qur’an. Dan hal itu yang selalu saya ingat untuk tidak berhenti menghafal Al-Qur’an.88
Berbeda dengan yang diungkapkan oleh Ainul Maghfiroh selaku mahasiswa penghafalkan Al-Qur’an yang menyatakan bahwa menghafal Al-Qur’an merupakan keinginan dari orang tuanya sejak kecil, berikut penjelasannya:
Dari kecil sebenarnya sudah diarahkan, sepulang sekolah itu harus nyemak mp3 1 juz, tapi ya itu cuma saya dari kecil itu gak srek jadi saya gak mau. Tapi setelah lulus SMA ibu kan punya kenalan Kyai, tau kalau saya itu nganggur dirumah dan menunggu daftar ulang dari kampus. Jadi saya dijemput sama Kyai untuk mondok dan semenjak itu saya mulai menghafal.
87Siti Wimro’atus, Wawancara, Jember 5 Juni 2017.
88Anisa, Wawancara, Jember 16 Mei 2017.