• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Pendidikan Islam: Keutamaan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Skripsi Pendidikan Islam: Keutamaan Belajar dan Mengajar Al-Qur'an"

Copied!
108
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan Pendidikan Islam

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh :

LITA MARGARETA NIM. 084 131 108

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

SEPTEMBER 2017

(2)
(3)
(4)

ٍلﺎَﻬْـﻨِﻣ ُﻦْﺑ ُجﺎﱠﺠَﺣ ﺎَﻨْـﺛﱠﺪَﺣ : َلﺎَﻗ

َـﺛﱠﺪَﺣ َأ : َلﺎَﻗ ُﺔَﺒْﻌُـﺛ ﺎَﻨ

ِﺛْﺮَﻣ ُﻦْﺑ ُﺔَﻤَﻘْﻠُﻋ ِﱐَﺮَـﺒْﺧ

ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ِﺪْﺒَﻋ ِﰊأ ْﻦَﻋ َةَﺪْﻴَـﺒُﻋ َﻦْﺑ َﺪْﻌَﺳ ُﺖْﻌَِﲰ َﻤْﺜُﻋ ْﻦَﻋ ،ﱢﻲِﻤَﻠﱡﺴﻟا

َﻲِﺿَر َنﺎ

ِﻦَﻋ ،ُﻪْﻨَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا : َلﺎَﻗ َﻢﱠﻠَﺳ َو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱢِﱯﱠﻨﻟا

َﻣ ْﻢُﻛُﺮْـﻴَﺧ َنآْﺮُﻘْﻟا َﻢﱠﻠَﻌَـﺗ ْﻦ

ُﻪَﻤﱠﻠَﻋَو َو :َلﺎَﻗ . .ُجﺎﱠﺠَﳊا َنﺎَﻛ ﱠﱴَﺣ َنﺎَﻤْﺜُﻋ ِةَﺮْﻣِإ ِﰲ ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻮُـﺑَأ ِﱐَأَﺮْـﻗَأ

َو :َلﺎَﻗ .اَﺬَﻫ يِﺪَﻌْﻘَﻣ ِﱐَﺪَﻌْـﻗَأ يِﺬﱠﻟا َكاَذ

(يﺮﺨﺒﻟا ﻩاور)

Artinya : Hujjaj Ibn Minhal menceritakan kepada kami, bahwa beliau diceritakan oleh Syu’bah, bahwa dia (Hujjaj) berkata: saya telah dikabarkan oleh

‘Ulmiqoh Ibn Murtsid: bahwa Sa’ad Ibn Ubaidah telah mendengar dari Abi ‘Abdi Al-Rahman Al-Sulami, dari Ustman r.a, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik–baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)1

1Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhari, Daar Ihya, 1232.

(5)

1. Bapak dan Ibuku (Sugeng Agustiono dan Herlina) tercinta terima kasih atas semangat yang diberikan, untuk selalu berjuang menata masa depan yang baik serta terima kasih atas restu dan lantunan doamu yang selalu mengiringi langkahku hingga sampai saat ini.

2. Adikku tersayang Reyno Dwi Chandra terima kasih telah menjadi penyemangat dan sumber inspirasi bagi kakak untuk selalu melakukan yang terbaik.

3. Untuk guru-guruku dari TK sampai Perguruan Tinggi.

4. Untuk mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember yang telah meluangkan waktunya untuk menjadi subyek penelitian dalam skripsi ini.

5. Sahabat-sahabatku dan teman kelas A3 terima kasih selalu menemani hari- hariku dengan penuh keceriaan dan semangat yang tinggi.

6. Untuk Almamaterku IAIN Jember tercinta.

(6)

Alhamdulillah, ungkapan rasa syukur kami kepada Allah Dzat yang Maha Penyantun Robbil Izzah atas kesenantiasaan-Nya mengilhamkan inspirasi dalam berkarya. Sholawat serta salam kami persembahkan kepada sang revolusioner dunia Nabi besar muhammad SAW, sebagai ungkapan penghormatan untuknya yang telah menciptakan mata air peradaban dengan maslahah yang dapat dinikmati oleh seluruh penduduk alam semesta.

Selesainya penyusunan karya ilmiah ini tidak terlepas dari keterlibatan pihak-pihak baik langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itulah, sebagai bentuk penghargaan, kami haturkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada:

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE, MM selaku Rektor IAIN Jember yang telah memberikan fasilitas selama berada di IAIN Jember.

2. Dr. H. Abdullah Syamsul Arifin M.Ag selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang meluangkan waktunya untuk menyetujui hasil skripsi yang telah diselesaikan.

3. Dr. H. Mundir, M.Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan Islam FTIK IAIN Jember yang telah meluangkan waktunya untuk menyetujui hasil skripsi yang telah diselesaikan.

4. H. Mursalim, M.Ag selaku Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam FTIK IAIN Jember yang meluangkan waktunya untuk menyetujui hasil skripsi yang telah diselesaikan.

(7)

6. Alfisyah Nurhayati, S.Ag., M.Si selaku kepala kepustakaan IAIN Jember beserta seluruh karyawan yang telah memberikan pelayanan dengan baik.

7. Bapak dan Ibu penguji yang telah berkenan menjadi penguji dalam ujian sidang skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari harapan yang ideal, yang mana kekurangan pasti ada didalamnya. Namun, walaupun dengan waktu yang sangat terbatas penulis mencoba untuk menyusunnya berdasarkan kemampuan yang ada dan untuk menyempurnakannya tentu tidak lepas dari kritik dan saran yang bersifat konstruktif dari para pembaca.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis hanya berharap ridho Allah SWT, semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat dan barokah di dunia dan di akhirat, khususnya bagi penulis dan para pembaca pada umumnya. Amin ya robbal almin.

Jember, 16 Oktober 2017

Penulis

(8)

mengarahkan perilaku, afeksi dan atensinya untuk memunculkan respon yang sesuai dengan tuntutan dari dalam dirinya dan lingkungan, menggunakan berbagai strategi dalam rangka mencapai tujuan. Upaya pencapaian tujuan ini dilakukan secara teru- menerusoleh individu melalui beberapa proses penilaian yang berulang.

Untuk memudahkan proses penelitian ini, maka peneliti membuat beberapa fokus penelitian, yaitu: 1) Bagaimana regulasi diri intrapersonal mahasiswa penghafal Al- Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember Tahun Akademik 2016/2017?. 2) Bagaimana regulasi diri interpersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember Tahun Akademik 2016/2017?. 3) Bagaimana regulasi diri metapersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember Tahun Akademik 2016/2017?.

Tujuan penelitian ini adalah: 1) Untuk mendeskripsikan regulasi diri intrapersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember Tahun Akademik 2016/2017. 2) Untuk mendeskripsikan regulasi diri interpersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember Tahun Akademik 2016/2017. 3) Untuk mendeskripsikan regulasi diri metapersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember Tahun Akademik 2016/2017.

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Dalam pengumpulan data peneliti menggunakan metode observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis yang digunakan adalah analisis deskriptif.

Keabsahan data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini yaitu: 1) Regulasi diri intrapersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an dalam hal pemeliharaan tujuan diantaranya adalah melakukan muroja’ah apabila ada waktu kosong dan memiliki jadwal menambah hafalan baru yang teratur. Kemudian motivasi yang didapatkan oleh mahasiswa pengahafal Al-Qur’an bersumber dari motivasi atas keyakinan akan janji Allah, motivasi yang muncul dari dalam dirinya dan motivasi dari dari orang tua dan temannya. Dalam hal yang mempengaruhi perasaan dari mahasiswa penghafal Al-Qur’an adalah sulit berkonsentrasi karena banyak fikiran, kantuk dan hambatan dari lawan jenis. Namun hambatan tersebut bisa diatasi dengan menguatkan tekad yang kuat sehingga semua hambatan yang datang dapat teratasi dengan baik. 2) Regulasi diri interpersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an diantaranya adalah hubungan dengan teman atau lawan jenis berjalan dengan baik. Kemudian mahasiswa penghafal Al-Qur’an telah mendapatkan restu dari keluarga, terutama orang tua. Sedangkan, hubungan dengan pembimbing hafalan berjalan dengan baik sehingga muncullah manfaat yang baik. 3) Regulasi diri metapersonal mahasiswa penghafal Al-Qur’an yang diantaranya adalah mendekatkan diri kepada Allah dengan berusaha melakukan puasa sunnah senin dan kamis, mengerjakan sholat-sholat sunnah seperti sholat sunnah dhuha, sholat rawatib dan sholat tahajud.

(9)

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vi

ABSTRAK ... vii

DAFTAR ISI ... viii

DAFTAR TABEL ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 8

E. Definisi Istilah ... 9

F. Sistematika Pembahasan ... 11

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Kajian Terdahulu ... 13

B. Kajian Teori... 17

BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian ... 39

B. Lokasi Penelitian ... 39

(10)

F. Keabsahan Data ... 45 G. Tahap-Tahap Penelitian ... 46 BAB IV PENYAJIAN DAN ANALISIS DATA

A. Gambaran dan Obyek Penelitian ... 48 B. Penyajian dan Analisis Data ... 52 C. Pembahasan Temuan ... 72 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan ... 82 B. Saran-Saran ... 83 DAFTAR PUSTAKA ... 85 Lampiran-Lampiran:

1. Matrik

2. Surat Pernyataan Keaslian 3. Pedoman Wawancara

4. Surat Izin Penelitian Penyusunan Skripsi 5. Jurnal Penelitian

6. Surat Keterangan Selesai Penelitian 7. Dokumentasi

8. Biodata penulis

(11)

4.2 Data Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an ... 52 4.3 Kartu Prestasi ... 56 4.4 Temuan Penelitian ... 69

(12)

Pendidikan pada masa sekarang ini merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat sehingga pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan formal dan nonformal selalu berusaha memajukan pendidikan bagi masyarakat karena dengan pendidikan diharapkan akan melahirkan manusia-manusia generasi penerus yang bertanggung jawab dan kreatif.

Demikian pentingnya pendidikan bagi manusia sehingga mengharuskan manusia untuk dapat memperoleh pendidikan, baik pendidikan formal maupun pendidikan nonformal.1

Pendidikan agama Islam merupakan usaha berupa bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar dapat memahami dan mengamalkan, serta menjadikannya sebagai pandangan hidup (way of life).2 Menurut Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan pasal 1 ayat 2 bahwa:

“Pendidikan agama berfungsi membentuk manusia Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta berakhlak mulia dan mampu menjaga kedamaian dan kerukunan hubungan inter dan antar umat beragama. Pendidikan agama bertujuan untuk berkembangnya kemampuan peserta didik dalam memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai agama yang menyerasikan penguasaanya dalam ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.”3

1Kompri, Manajemen Pendidikan: Komponen-Komponen Elementer Kemajuan Sekolah (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015), 16.

2Zakiyah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), 86.

3Tim Penyusun, Himpunan Perundang-undangan Tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Bandung: Fokus Media, 2008), 86.

(13)

Pendidikan agama sangatlah penting dalam kehidupan manusia, sehingga diakui atau tidak sesungguhnya manusia sangatlah membutuhkan agama dan sangat dibutuhkannya agama oleh manusia. Al-Qur’an merupakan sumber utama dalam pendidikan agama Islam. Al-Qur’an adalah Kitab Suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah SWT Tuhan Seru Sekalian Alam kepada Junjungan kita Nabi Besar dan Rasul terakhir Muhammad saw melalui malaikat Jibril, untuk diteruskan penyampaiannya kepada seluruh umat manusia di muka bumi ini sampai akhir zaman nanti.4 Allah SWT berfirman:



































“Sesungguhnya Al Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (Q.S. al- Isra’ [17]: 9).5

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat-ayat tentang iman, amal, ilmu dan cabang-cabangnya, aturan yang berhubungan dengan keluarga, pertanian dan perdagangan, manusia dan hubungannya dengan masyarakat, sejarah dan kisah-kisah, dakwah, akhlak, negara dan masyarakat, agama- agama dan lain-lainnya. Seorang penghafal Al-Qur’an akan mudah menghadirkan ayat-ayat itu dengan cepat untuk menjawab permasalahan- permasalahan di atas.6

4Wisnu Arya Wardhana, Al-Qur’an dan Energi Nuklir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), 46.

5Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemah (Jakarta: Kota Ilmu, 2012), 283.

6Rofiul Wahyudi, Sukses menghafal Al-Quran Meski Sibuk Kuliah (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2016), 15.

(14)

Menghafalkan al-Qur’an merupakan serangkaian kegiatan yang dituntut untuk memberikan waktu, tenaga, bahkan biaya. Dalam proses menghafalkan al-Qur’an sudah tentu harus meluangkan waktu untuk menambah hafalan, menjaga hafalan dan mengulang hafalan. Proses yang dijalani oleh seseorang untuk menjadi penghafal Al-Qur’an tidaklah mudah dan sangat panjang. Dikatakan tidak mudah karena harus menghafalkan isi Al-Qur’an dengan kuantitas yang sangat besar terdiri dari 114 surat, 6.236 ayat, 77.439 kata, dan 323.015 huruf yang sama sekali berbeda dengan simbol huruf dalam bahasa Indonesia. Menghafal Al-Qur’an bukan pula semata-mata menghafal dengan mengandalkan kekuatan memori, akan tetapi termasuk serangkaian proses yang harus dijalani oleh penghafal Al-Qur’an setelah mampu menguasai hafalan secara kuantitas.7 Rasulullah Saw bersabda:

ُﻦْﺑ ُﺔَﻤَﻘْﻠُﻋ ِﱐَﺮَـﺒْﺧَأ :َلﺎَﻗ ُﺔَﺒْﻌُـﺛ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ :َلﺎَﻗ ٍلﺎَﻬْـﻨِﻣ ُﻦْﺑ ُجﺎﱠﺠَﺣ ﺎَﻨْـﺛﱠﺪَﺣ ْﻦَﻋ ،ﱢﻲِﻤَﻠﱡﺴﻟا ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ِﺪْﺒَﻋ ِﰊأ ْﻦَﻋ َةَﺪْﻴَـﺒُﻋ َﻦْﺑ َﺪْﻌَﺳ ُﺖْﻌَِﲰ :ٍﺪِﺛْﺮَﻣ ا َﻲِﺿَر َنﺎَﻤْﺜُﻋ ْﻢُﻛُﺮْـﻴَﺧ :َلﺎَﻗ َﻢﱠﻠَﺳ َو ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪﱠﻠﻟا ﻰﱠﻠَﺻ ﱢِﱯﱠﻨﻟا ِﻦَﻋ ،ُﻪْﻨَﻋ ُﻪﱠﻠﻟ

ِﻦَْﲪﱠﺮﻟا ِﺪْﺒَﻋ ْﻮُـﺑَأ ِﱐَأَﺮْـﻗَأَو :َلﺎَﻗ .ُﻪَﻤﱠﻠَﻋَو َنآْﺮُﻘْﻟا َﻢﱠﻠَﻌَـﺗ ْﻦَﻣ َنﺎَﻤْﺜُﻋ ِةَﺮْﻣِإ ِﰲ

ﱠﱴَﺣ : َلﺎَﻗ .ُجﺎﱠﺠَﳊا َنﺎَﻛ َكاَذَو

يِﺬﱠﻟا ِﱐَﺪَﻌْـﻗَأ ْﻘَﻣ

.اَﺬَﻫ يِﺪَﻌ

Hujjaj Ibn Minhal menceritakan kepada kami, bahwa beliau diceritakan oleh Syu’bah, bahwa dia (Hujjaj) berkata: saya telah dikabarkan oleh ‘ulmiqoh Ibn Murtsid: bahwa Sa’ad Ibn Ubaidah telah mendengar dari Abi ‘Abdi Al-Rahman Al-Sulami, dari Ustman r.a, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik–baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)8

7Lisya Chairani & Subandi, Psikologi Santri Penghafal Al-Qur’an (Peranan Regulasi Diri), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), 2.

8Muhammad bin Ismail, Shahih Bukhar, Daar Ihya, 1232.

(15)

Dari hadits diatas telah disebutkan tentang keutamaan orang yang membaca, belajar dan mengajarkan Al-Qur’an yang merupakan sebaik- baiknya manusia di dunia ini.

Penghafal Al-Qur’an berkewajiban untuk menjaga hafalannya, memahami apa yang dipelajarinya dan bertanggung jawab untuk mengamalkannya. Oleh karena itu, proses menghafal dikatakan sebagai proses yang panjang karena tanggung jawab yang diemban oleh penghafal Al-Qur’an akan melekat pada dirinya hingga akhir hayat. Konsekuensi dari tanggung jawab menghafal Al-Qur’an terhitung berat. Bagi penghafal Al- Qur’an yang tidak mampu menjaga hafalannya maka perbuatannya dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk perbuatan dosa.9

Beberapa masalah kerap dialami oleh mahasiswa sekaligus menghafal Al-Qur’an, yaitu ketika tugas- tugas kuliah sudah menumpuk dan belum menambah hafalan, maka disini kebimbangan sedang diuji. Sering kali bagi mereka yang menghafalkan Al-Qur’an mendahulukan tugas kuliah sehingga mengesampingkan tambahan hafalan. Selain itu, ketika mahasiswa mengikuti organisasi tertentu baik ekstra maupun intra kampus, maka tidak jarang dari mereka kewalahan membagi waktu untuk rapat, mengadakan event dan menambah hafalannya.

Dengan demikian, selain membutuhkan kemampuan kognitif yang memadai, kegiatan menghafal Al-Qur’an juga membutuhkan kekuatan tekad dan niat yang lurus. Dibutuhkan pula usaha yang keras, kesiapan lahir dan

9Chairani, Psikologi, 2.

(16)

bathin, kerelaan dan pengaturan diri (regulasi diri) yang ketat. Pengaturan diri yang ketat ini dalam istilah psikologi dapat disebut sebagai regulasi diri (self regulation). Pengaturan diri merupakan proses kepribadian yang penting ketika seseorang berusaha untuk melakukan kontrol terhadap pikiran, perasaan, dorongan-dorongan dan keinginan serta kinerja mereka. 10

Kegiatan menghafal Al-Qur’an dari segi kuantitasnya saja sudah membutukan waktu yang tidak sedikit dan tuntutan menjaga kualitas hafalan yang tidak bisa dibilang mudah, kemudian menjaga hubungan dengan orang- orang disekitar juga mampu mempengaruhi proses menghafal Al-Qur’an.

Sehingga kegiatan menghafal Al-Qur’an tentunya menuntut kemampuan regulasi yang baik.

Dengan demikian banyak yang masih menganggap bahwa menghafal Al-Qur’an hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang hanya di Tahfidzul Qur’an (lembaga/pondok pesantren khusus menghafal Al-Qur’an). Menurut mereka, sebuah kemustahilan seseorang yang sibuk kuliah, bekerja, atau berkeluarga mampu menghafalkan Qur’an sebagaimana orang-orang yang belajar di lembaga Tahfidzul Qur’an. Namun pada realitanya, proses panjang tersebut dialami oleh mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember, yang tidak hanya memiliki kegiatan menghafal Al- Qur’an, akan tetapi juga memiliki kesibukan dengan kegiatan kuliah dan kegiatan organisasi. Sehingga hal tersebut menjadi penting dan langka dalam

10Ibid., 3.

(17)

fenomena kehidupan ini. Penting karena harus diketahui dan dapat dicontoh bagi mahasiswa lainya.

Dari Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember belum mempunyai data terkait mahasiswa penghafal Al-Qur’an. Meskipun telah diketahui bahwa diantara mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) terdapat mahasiswa yang sedang dalam proses menghafal Al-Qur’an. Namun, berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti tentang mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember telah ditemukan sebanyak 16 mahasiswa yang saat ini sedang dalam proses menghafal Al-Qur’an.

Dari pemaparan di atas maka perlu diadakan sebuah penelitian dengan judul ”Regulasi Diri Mahasiswa Penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember Tahun Akademik 2016/2017”.

B. Fokus penelitian

Perumusan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan istilah fokus penelitian.11 Fokus yang dimaksud (dalam metode penelitian) berarti masalah utama yang akan menjadi objek penelitian. Masalah utama itu menjadi acuan utama sekaligus menjadi arah bagi penelitian yang akan dilakukan.12 Beberapa fokus penelitian yang muncul berdasarkan latar belakang yang dipaparkan sebelumnya adalah sebagai berikut:

11Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember Press, 2017), 44.

12Andi Prastowo, Memahami Metode-metode Penelitian (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 47.

(18)

1. Bagaimana regulasi diri intrapersonal mahasiswa penghafal al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember tahun akademik 2016/2017?

2. Bagaimana regulasi diri interpersonal mahasiswa penghafal al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember tahun akademik 2016/2017?

3. Bagaimana regulasi diri metapersonal mahasiswa penghafal al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember tahun akademik 2016/2017?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.13 Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mendeskripsikan regulasi diri intrapersonal mahasiswa penghafal al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember tahun akademik 2016/2017.

2. Untuk mendeskripsikan regulasi diri interpersonal mahasiswa penghafal al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember tahun akademik 2016/2017.

3. Untuk mendeskripsikan regulasi diri metapersonal mahasiswa penghafal al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember tahun akademik 2016/2017.

13Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 45.

(19)

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian. Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan praktis seperti kegunaan bagi penulis, instansi dan masyarakat secara keseluruhan. 14

Adanya penelitian dapat memberikan manfaat apabila dapat digunakan oleh semua pihak. Sedangkan manfaat yang diharapkan penelitian ini sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi dan sumbangsi pemikiran untuk memperkaya khazanah keilmuan dalam bidang pendidikan terutama terkait dengan penghafalan al-Qur’an.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

1) Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan khasanah keilmuan bagi peneliti tentang bagaimana menulis karya ilmiah yang baik guna sebagai bekal mengadakan penelitian dan penulisan karya limiah selanjutnya serta memberikan wawasan yang integral terhadap disiplin ilmu yang berhubungan dengan masalah pendidikan.

2) Hasil penelitian ini digunakan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) Fakultas Tarbiyah dan

14Ibid., 45.

(20)

Ilmu Keguruan Program Studi Pendidikan Agama Islam di IAIN Jember.

b. Bagi Pembaca

Penelitian ini diharapakan dapat memberikan motivasi untuk menghafalkan al-Qur’an meskipun dalam keadaan sibuk misalnya sibuk dengan tugas kuliah dan kegiatan ekstrakurikuler.

c. Civitas akademik IAIN Jember

Penelitian ini diharapkan dapat memberi kontribusi dalam menambah dan mewarnai nuansa ilmiah di lingkungan kampus IAIN Jember dalam wacana pendidikan serta menambah koleksi literatur /refrensi di perpustakaan.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.15 Adapun istilah yang dimaksud sebagai berikut:

1. Regulasi diri

Regulasi diri (Self regulation) adalah suatu upaya untuk mengendalikan pikiran, perasaan dan perilaku dalam rangka mencapai suatu tujuan.16

15Ibid., 45

16Agus Abdul Rahman, Psikologi Sosial (Jakarta: PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2013), 68.

(21)

Regulasi diri yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu pengaturan diri yang menjadi bagian penting dari proses pencapaian dan penjagaan hafalan Al-Qur’an oleh mahasiswa penghafal Al-Qur’an.

2. Mahasiswa

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mahasiswa adalah orang yang belajar diperguruan tinggi.17 Sedangkan menurut Undang-undang RI Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi pasal 1 ayat 15 bahwa:

“Mahasiswa adalah peserta didik pada jenjang pendidikan tinggi.”18

Mahasiswa yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember yang bertempat tinggal di kos-kosan sekitar daerah karang mluwo, mangli jubung, ledokombo dan curahmalang.

3. Penghafal Al-Qur’an

Penghafal Al-Qur’an adalah orang yang menghafalkan surat dan ayat yang terdapat di dalamnya, untuk dapat mengucapkan dan mengucapkannya kembali secara lisan pada semua surat dan ayat tersebut.

Penghafal Al-Qur’an yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu mahasiswa yang mampu meluangkan waktunya untuk menghafalkan Al-Qur’an.

Sesuai dengan definisi istilah diatas dapat disimpulkan bahwa regulasi diri mahasiswa penghafal Al-Qur’an dalam penelitian ini adalah

17Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 2007), 696.

18Undang-undang Republik Indonesia No 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi (Jakarta:

Sinar Grafika, 2012), 5.

(22)

pengaturan diri yang menjadi bagian penting dari proses pencapaian dan penjagaan hafalan Al-Qur’an oleh mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember yang bertempat tinggal di sekitar daerah karang mluwo, mangli jubung, ledokombo dan curahmalang.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.19 Adapun sistematika pembahasan dalam penyusunan skripsi ini terbagi menjadi lima bab, yaitu sebagai berikut:

Bab pertama, pendahuluan, pada bab ini barisi tentang komponen dasar penelitian yaitu latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah dan sistematika pembahasan.

Bab kedua, kajian kepustakaan, pada bab ini berisi tentang ringkasan penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian yang hendak dilakukan serta memuat tentang kajian teori.

Bab ketiga, metode penelitian, pada bab ini membahas tentang metode yang digunakan dalam penelitian, yang meliputi: pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data dan tahap-tahap penelitian.

Bab keempat, penyajian data dan analisis, pada bab ini berisi tentang hasil penelitian yang meliputi gambaran objek penelitian, penyajian dan analisis data serta pembahasan temuan

19Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 48.

(23)

Bab kelima, penutup atau kesimpulan dan saran, bab ini merupakan bab terakhir yang berisi kesimpulan yang di ambil dari keseluruhan pembahasan dan dilengkapi dengan saran-saran yang mengacu atau bersumber dari temuan penelitian, pembahasan dan kesimpulan akhir hasil penelitian.

(24)

Penelitian terdahulu pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan atau belum terpublikasikan (skripsi, tesis, disertasi dan sebagainya). Dengan melakukan langkah ini, maka akan dapat dilihat sampai sejauh mana orisinalitas dan posisi penelitian yang hendak dilakukan.20 Penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini diantaranya:

1. Skripsi karya Aisyah dengan judul “Pola Komunikasi Kyai dan Santri Penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Serut Kecamatan Panti Kabupaten Jember dalam Meningkatkan Jumlah Hafalan”. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Teknik pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah:

a. Pola komunikasi yang dilakukan oleh kyai dan santri penghafal Al- Qur’an dipondok pesantren Miftahul Ulum menggunakan dua pola komunikasi yaitu pola antar pribadi dan komunikasi kelompok.

b. Faktor pendukung komunikasi kyai dan santri penghafal AL-Qur’an adalah pesan yang dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, dan pesan yang disampaikan sama-sama dapat dimengerti oleh kyai dan

20Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 45.

(25)

santri. Pesan yang disampaikan kyai dan santri dapat membangkitkan kebutuhan dari keduanya. Dan memberikan saran kepada komunikan sesuai yang dikehendaki. Sedangkan faktor yang dapat menghambat komunikasi kyai dan santri adalah gangguan yang datang dari faktor lingkungan, perbedaan kepentingan yang ada pada komunikator atau komunikan, motivasi terpendam pada komunikan, dan prasangka. 21 2. Skripsi karya Lina Dalilah dengan judul ” Pengaruh Dawamul Wudhu

terhadap Kemampuan Menghafal Al-Qur’an di Pondok pesantren Tahfidz Putri Yasinat Jember Tahun 2015/2016”. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Tujuan penelitian ini ada dua, yaitu:

tujuan umum dan tujuan khusus. Adapun tujuan umum penulisan penelitian ini adalah ”untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dawamul wudhu terhadap kemampuan menghafal Al-Qur’an dari segi kecepatan di Pondok Pesantren Tahfidz putri Yasinat Jember Tahun 2015/2016.”, sedangkan tujuan khusus dalam penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh Dawamul Wudhu terhadap kemampuan menghafal Al-Qur’an dari segi kecepatan di Pondok Pesantren Tahfidz Putri Yasinat Jember Tahun 2015/2016.

b. Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh Dawamul Wudhu terhadap kemampuan menghafal Al-Qur’an dari segi kekuatan di Pondok Pesantren Putri Yasinat Jember Tahun 2015/2016.”

21Aisyah, Pola Komunikasi Antara Kyai dan Santri Penghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Serut Kecamatan Panti Kabupaten Jember (IAIN Jember: 2015).

(26)

Hasil penelian ini menunjukkan bahwa Dawamul Wudhu tidak memiliki pengaruh terhadap kemampuan menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Tahfidz Putri Yasinat Tahun 2015/2016.22

3. Skripsi karya M. Taqdir Ali Rofiqi dengan judul “Implementasi metode menghafal Al-Qur’an Pada Anak di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Sukogidri Jember Tahun 2016.” Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Metode pengumpulan datanya menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan:

a. Implementasi metode menghafal Al-Qur’an menggunakan metode talqin pada anak di Pondok Pesantren Nurul Qur’an digunakan bagi anak umur 7-10 tahun. Penerapan metode talqin dilaksanakan pada waktu setelah subuh dan magrib. Pada waktu subuh pelaksanaan talqin dilakukan dengan bersama-sama yaitu ustadz membacanya terlebih dahulu kemudian ditirukan oleh santri secara bersama. Pada waktu setelah magrib pelaksanaan talqin dilakukan dengan individu, metode talqin dikhususkan bagi santri yang masih belum bisa membaca al- Qu’an sama sekali. Talqin dilakukan dengan cara mendikte bacaan kepada anak, kemudian anak mengikutinya. Ini dilakukan berulang- ulang sehingga anak dapat membaca dengan baik.

b. Implementasi metode menghafal Al-Quran menggunakan metode Talaqqi pada anak di Pondok Pesantren Nurul Qur’an digunakan pada

22Lina Dalilah, Pengaruh Dawamul Wudhu terhadap Kemampuan Menghafal Al-Qur’an di Pondok pesantren Tahfidz Putri Yasinat Jember Tahun 2015/2016 (IAIN Jember: 2016).

(27)

anak usia remaja yaitu pada umur 11-15 tahun. Di Pondok Pesantren Nurul Qur’an setoran dilakukan setiap hari kecuali hari jum’at yang dilaksanakan pada waktu pagi ba’da subuh dan malam ba’da magrib.

Yang terbagi menjadi tiga bagian yaitu ba’da subuh setoran hafal baru dan sima’an dan ba’da magrib setoran takriran.23

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan

Penelitian Terdahulu dan Penelitian Sekarang

No Judul Persamaan Perbedaan

1. Pola Komunikasi Kyai dan Santri Penghafal Al- Qur’an di Pondok Pesantren Miftahul Ulum Desa Serut Kecamatan Panti Kabupaten Jember dalam

Meningkatkan Jumlah Hafalan

- Metode penelitian kualitatif - Jenis penelitian

deskriptif - Meneliti tentang

penghafal Al- Qur’an

- Pada penelitian Aisyah fokus penelitiannya yaitu pada pola

komunikasi Kyai dan Santri penghafal Al- Qur’an, sedangkan pada penelitian ini fokus

penelitiannya yaitu pada regulasi diri mahasiswa penghafal Al- Qur’an.

- Lokasi penelitian Aisyah dilakukan dalam lingkungan pondok pesantren, sedangkan dalam penelitian ini dilakukan pada lembaga perguruan tinggi.

2. Pengaruh Dawamul Wudhu terhadap Kemampuan Menghafal Al-

- Meneliti tentang menghafal Al- Qur’an

- dalam penelitian Lina Dalilah menggunakan penelitian

23M. Taqdir Ali Rofiqi, Implementasi Metode Menghafal Al-Qur’an Pada Anak di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Sukogidri Jember Thun 2016 (IAIN Jember: 2016).

(28)

Qur’an di Pondok pesantren Tahfidz Putri Yasinat Jember Tahun 2015/2016

kuantitatif, sedangkan dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif - Dalam penelitian

Lina Dalilah mengkaji tentang Dawamul Wudhu, sedangkan dalam penelitian ini mengkaji tentang regulasi diri 3. Implementasi

metode menghafal Al-Qur’an Pada Anak di Pondok Pesantren Nurul Qur’an Sukogidri Jember Tahun 2016

- Metode penelitian kualitatif - Metode

pengumpulan data

menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi - Meneliti tentang

menghafal Al- Qur’an

- Jenis penelitian M.

Taqdir Ali Rofiqi menggunakan field research sedangkan dalam penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif deskritif - Dalam penelitian

M. Taqdir Ali Rofiqi mengkaji tentang metode menghafal Al- Qur’an, sedangkan dalam penelitian ini mengkaji tentang regulasi diri mahasiswa penghafal Al- Qur’an.

B. Kajian Teori

1. Kajian Teoritik tentang Regulasi Diri a. Definisi regulasi diri

Menurut Bandura, regulasi diri merupakan mengatur tingkah laku dan menjalankan tingkah laku tersebut sebagai strategi yang berpengaruh terhadap performansi seseorang mencapai tujuan atau

(29)

prestasi sebagai bukti peningkatan.24 Sedangkan menutut Zimmerman, regulasi diri merujuk pada pikiran, perasaan dan tindakan yang terencana oleh diri dan terjadi secara berkesinambungan sesuai dengan upaya pencapaian tujuan pribadi.25

Jadi dapat disimpulkan yang dimaksud regulasi diri adalah suatu cara yang digunakan oleh seseorang untuk mengendalikan diri dengan aturan tertentu dan tindakan yang dilakukan sendiri dengan cara menentukan target yang diinginkan serta upaya pencapaian target tersebut.

1) Faktor eksternal dalam regulasi diri

Faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dengan dua cara, pertama faktor eksternal memberi standar untuk mengevaluasi tingkahlaku. Faktor lingkungan berinteraksi dengan pengaruh-pengaruh pribadi, membentuk standar evaluasi diri seseorang. Melalui orang tua dan guru anak-anak belajar baik- buruk, tingkahlaku yang dikehendaki dan tidak dikehendaki.

Melalui pengalaman berinteraksi dengan lingkungan yang lebih luas anak kemudian mengembangkan standar yang dipakai untuk menilai prestasi diri. 26

Kedua, faktor eksternal mempengaruhi regulasi diri dalam bentuk penguatan (reinforcement). Hadiah intrinsik tidak selalu memberi kepuasan, orang membutuhkan insentif yang berasal dari

24Chairani, Psikologi, 14.

25Ibid., 14.

26Alwisol, Psikologi Kepribadian (Malang: UMM Press, 2016), 301.

(30)

lingkungan eksternal. Standar tingkahlaku dan penguatan biasanya bekerja sama; ketika orang dapat mencapai standar tingkahlaku tertentu, perlu penguatan agar tingkahlaku semacam itu menjadi pilihan untuk dilakukan lagi.

2) Faktor internal dalam regulasi diri

Faktor internal berinteraksi dengan faktor internal dalam mengatur diri sendiri. Bandura mengemukakan tiga bentuk terhadap pengaruh internal:27

a) Observasi diri (self observation): dilakukan berdasarkan faktor kualitas penampilan, kuantitas penampilan, orisinalitas tingkahlaku diri, dan seterusnya. Orang harus mampu memonitor performansinya, walaupun tidak sempurna karena orang cenderung memilih beberapa aspek dari tingkahlakunya dan mengabaikan tingkahlaku lainnya. Apa yang diobservasi seseorang tergantung kepada minat dan konsep dirinya.

b) Proses penilaian atau mengadili tingkahlaku (judgmental process): adalah melihat kesesuaian tingkahlaku dengan standar pribadi, membandingkan tingkahlaku dengan norma standar atau dengan tingkahlaku orang lain, menilai berdasarkan pentingnya suatu aktivitas, dan memberi atribusi performansi.

27Ibid., 302.

(31)

c) Reaksi diri afektif (self response): akhirnya berdasarkan pengamatan dan judgement itu, orang mengevaluasi diri sendiri positif atau negatif, dan kemudian menghadiahi atau menghukum diri sendiri. Bisa terjadi tidak muncul reaksi afektif, karena fungsi kognitif membuat keseimbangan yang mempengaruhi evaluasi positif atau negatif menjadi kurang bermakna secara individual.

3) Regulasi Diri Intrapersonal, Interpersonal dan Metapersonal

Lisya Chaerani & Subandi menyebutkan dalam temuannya dan dalam penelitiannya mengenai regulasi diri santri penghafal Al-Qur’an diantaranya adalah:28

a) Regulasi diri intrapersonal

Regulasi diri intrapersonal yaitu bagaimana santri mengatur proses-proses yang terjadi di dalam dirinya sendiri.

Menurut Bandura yang dikutip oleh Zimmerman menyebutkan bahwa individu merupakan agen utama perubahan dalam proses regulasi diri. Peran individu menjadi sangat penting untuk menentukan tindakan yang efektif dalam menghadapi berbagai situasi dan tugas. Watson & Tharp menyatakan bahwa kemampuan individu di dalam meregulasi diri dipandang sebagai suatu keterampilan yang dipelajari dan akan berkembang pada diri seseorang dalam rentang waktu

28Chairani, Psikologi, 223.

(32)

tertentu. Mengenai kemampuan regulasi diri intrapersonal yang dimiliki oleh santri penghafal Al-Qur’an nampak pada indikator-indikator berikut ini: 29

(1) Dinamika pemeliharaan dan pencapaian tujuan

Oemar Hamalik menyebutkan bahwa tujuan adalah sesuatu yang hendak dicapai oleh suatu perbuatan yang apabila tercapai akan memuaskan individu. Adanya tujuan yang jelas akan mempengaruhi kebutuhan dan ini akan mendorong timbulnya motivasi.30

Tujuan dalam menghafal Al-Qur’an terbagi menjadi dua yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang.

(a) Tujuan jangka pendek dalam menghafal Al-Qur’an didasarkan atas pencapaian kuantitas yang artinya dalam menghafal Al-Qur’an menggunakan takaran satu halaman Al-Qur’an dan juz.

(b) Tujuan jangka panjang adalah konsistensi dalam menghafal agar dapat menguasai hafalan sebanyak 30 juz, dapat menjaga dan mengamalkan isi Al-Qur’an.31

Penetapan tujuan ditinjau dari aspek kognitif melibatkan proses regulasi diri untuk mampu menilai aktivitas yang dipilih sebagai sesuatu yang memang bernilai bagi dirinya. Mampu membuat perencanaan

29Ibid., 225.

30Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar (Jakarta: PT Bumi Aksara: 2010), 160.

31Chairani, Psikologi, 229.

(33)

langkah-langkah apa yang akan diambil untuk mengarahkan pada pencapaian tujuan dan menetapkan cara apa yang akan ditempuh untuk mengatasi hambatan dalam pencapaian tujuan. Ditinjau dari aspek afektif penetapan tujuan berfungsi untuk menggerakkan sistem motivasi individu.32

Dengan demikian pada dinamika pemeliharaan tujuan dan pencapaian tujuan ini ditinjau dari aspek kognitif mencangkup langkah-langkah menghafal Al- Qur’an, metode yang digunakan serta cara untuk mengatasi hambatan dalam proses menghafal Al-Qur’an.

Selain itu penetapan tujuan yang jelas akan akan memperkuat komitmen penghafal Al-Qur’an untuk mencapai tujuan.

(2) Dinamika aspek-aspek motivasional

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai dengan tibulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.33

Tiga komponen utama motivasi, yaitu kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan, yang merupakan segi pertama dari motivasi, timbul dalam diri seseorang apabila ia merasa adanya kekurangan dalam dirinya. Dorongan

32Ibid, 226.

33Hamalik, Proses Belajar Mengajar, 158

(34)

merupakan usaha pemenuhan kekurangan secara terarah.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dorongan sebagai segi kedua motivasi, berorientasi pada tindakan tertentu yang secara sadar dilakukan oleh seseorang.

Segi ketiga motivasi adalah tujuan. Dalam teori motivasi, tujuan adalah segala sesuatu yang menghilangkan kebutuhan dan mengurangi dorongan.

Dengan perkataan lain, mencapai tujuan berarti mengembalikan keseimbangan dalam diri seseorang baik yang bersifat fisiologis maupun bersifat psikologis.34

Beberapa hal yang menjadi sumber motivasi para penghafal Al-Qur’an, diantaranya: motivasi transendental, motivasi personal dan motivasi sosial. Motivasi transendental didasarkan atas keyakinan akan janji Allah bagi setiap individu yang menghafalkan Al-Qur’an.

Motivasi personal muncul ketika individu merasakan begitu banyak manfaat setelah menghafalkan al-Qur’an.

Sementara motivasi sosial lebih menekankan pada aspek keterhubungan diri responden pada dunia luar dirinya terutama orang tua.35

34Sondang P Siagian, Teori Motivasi dan Aplikasinya (Jakarta: PT Rineka Cipta: 2004), 142.

35Chairani, Psikologi, 231.

(35)

Jadi, seorang penghafal Al-Qur’an tentunya mendapatkan motivasi yang berbeda-beda baik dari motivasi transendental, personal dan sosial.

(3) Dinamika regulasi afeksi

Regulasi afeksi menjadi bagian penting dalam proses penjagaan hafalan Al-Qur’an. Regulasi afeksi memungkinkan remaja penghafal Al-Qur’an untuk merasakan, mengelola dan mengekspresikan dengan baik emosi-emosi yang dirasakannya tanpa menghilangkan integritas dirinya. Proses menghafal Al-Qur’an adalah proses panjang dan menuntut tingkat kedisiplinan yang tinggi. Lisya Chaerani & Subandi mengemukakan bahwa sebagian besar cobaan yang harus dihadapi oleh remaja penghafal Al-Qur’an bersumber dari diri sendiri yaitu terganggunya suasana hati yang sering kali mengganggu konsentrasi untuk menghafal. Suasana hati yang terganggu ini dipicu oleh beberapa sebab yaitu: masalah dengan teman, godaan dari teman, pekerjaan yang tidak kunjung selesai, sulit berkonsentrasi karena banyak fikiran, mendekati masa datangnya haid, kondisi lingkungan yang ramai dan juga ketidak cocokan dengan sistem bimbingan yang diterapkan. Munculnya perasaan jenuh dan bosan tentu saja dapat mengganggu proses tercapainya tujuan.

(36)

Gangguan internal dan eksternal (malas, pacaran dan sibuk) juga dapat menghambat dalam proses mengahafal. Solusi untuk menghindari perasaan malas yaitu hendaklah mengingat niat kembali untuk menghafal, lalu berikan semangat pada diri sendiri secara persuasif agar semangat muncul kembali. Mengenai banyaknya kesibukan, pandai-pandailah mengatur waktu, kuasai keadaan dan jangan larut dalam kesibukan sendiri.36

Jadi, dapat disimpulkan bahwa suasana hati pada diri penghafal Al-Qur’an dapat berpengaruh terhadap proses penghafalan Al-Qur’an dengan demikian seorang penghafal Al-Qur’an tentunya harus menggunakan peranan regulasi diri yang baik agar pada saat suasana hati terganggu dapat teratasi dengan adanya solusi yang baik.

b) Regulasi diri interpersonal

Regulasi diri interpersonal pada remaja merupakan salah satu aspek perkembangan psikososial. Dalam perkembangan ini remaja akan banyak dipengaruhi oleh hubungannya dengan orang tua, teman sebaya dan juga guru.

Kemampuan remaja penghafal Al-Qur’an dalam regulasi interpersonal tampak pada kemampuan mengatasi hambatan yang bersumber dari:

36Rofiul Wahyudi, Sukses Menghafal Al-Qur’an MeskiSibuk Kuliah (Yogyakarta: Semesta Hikmah, 2016), 57.

(37)

(1) Hubungan dengan teman sebaya

Lisya Chaerani & Subandi menyebutkan dalam penelitiannya, beberapa hal yang menjadi permasalahan bagi remaja penghafal Al-Qur’an antara lain: kesulitan menjalin hubungan interpersonal dengan teman sebaya disebabkan oleh status yang disandangnya yaitu sebagai penghafal Al-Qur’an, munculnya rasa iri dari teman yang lain karena mendapatkan perlakuan yang berbeda dari pengurus dan adanya keterkaitan dengan lawan jenis.37

Memiliki teman seperjuangan dalam menghafal Al- Qur’an tentunya terdapat faedah yang menguntungkan, diantaranya yaitu:38

(a) Dapat menjadi penolong dan penyemangat (b) Dapat memperdengarkan hafalan

(c) Dapat saling mengingatkan dan menasihati satu sama lain.

Salah satu saran dalam menghafal Al-Qur’an adalah menjauhi teman yang suka menyia-nyiakan waktu karena teman-teman itu akan mengajak untuk bermain dan berbicara mengenai hal-hal yang tidak bermanfaat.39

37Chaerani, Psikologi, 246.

38Ahmad Rais, Kado Untuk Penghafal Al-Qur’an (Malang: AE Publishing, 2016), 61.

39Yahya Abdul Fattah Az-Zawawi, Metode Praktis Cepat Hafal Al-Qur’an (Solo: Pustaka Iltizam, 2013), 85.

(38)

Dengan demikian seorang penghafal Al-Qur’an tentu memiliki cara untuk menjalin hubungan dengan teman sebayanya sehingga hubungan tersebut berjalan dengan semestinya. Apabila memiliki teman yang juga menghafalkan Al-Qur’an maka proses menghafal Al- Qur’an akan lebih baik dan lebih menguntungkan satu sama lain.

(2) Hubungan dengan keluarga

Al-lahim menyebutkan bahwa fenomena menarik yang perlu dicermati dalam hubungan keluarga penghafal Qur’an adalah kewajiban untuk menjaga hafalan Al- Qur’an tidak semata-mata menjadi tugas individu yang menghafal tetapi juga kewajiban bagi seluruh anggota keluarganya termasuk ayah, ibu dan saudara-saudaranya.

Oleh karena itu ketika seseorang berniat untuk menghafalkan Al-Qur’an maka dianjurkan untuk meminta idzin terlebih dahulu dengan orang tua dan mengabarkannya kepada seluruh keluarga. Hal ini bukan ditujukan untuk berbuat riya’ ataupun sombong tetapi untuk memperoleh dukungan.40

Dengan meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua atau suami, apabila suatu hari mengalami hambatan

40Chaerani, Psikologi, 252

(39)

dan permasalahan saat proses menghafal Al-Qur’an, maka akan mendapat motivasi dan do’a dari orang tua. Do’a tersebut sangat berperan untuk kelanjutan dan kelancaran dalam proses menghafal. Sebab, setiap orang yang sedang menuntut ilmu pasti akan mendapatkan ujian dari Allah.41

Ridha kedua orang tua sangat berpengaruh besar dalam kesuksesan aktivitas yang dilakukan oleh sang anak, termasuk juga dalam menghafal Al-Qur’an. Jika keduanya telah meridhai untuk menghafal Al-Qur’an maka lakukanlah dengan berbekal ridhanya dan wujudkanlah keinginan keduanya.42

Jadi dapat disimpulkan bahwa, sebelum menghafal Al-Qur’an terdapat hal penting yang harus dilakukan salah satunya yaitu meminta idzin orang tua dan mengabarkan kepada seluruh keluarga.

(3) Hubungan dengan guru/ pembimbing

Peran Guru di dalam menghafal AL-Qur’an sangatlah penting. Setiap individu yang ingin menghafalkan Al-Qur’an diwajibkan berguru kepada seseorang yang memiliki sanad. Sanad adalah riwayat pendidikan Al-Qur’an yang dimiliki oleh seseorang. Sanad ini menggambarkan kepada siapa saja seseorang berguru

41Wiwi Alawiyah Wahid, Panduan Menghafal Al-Qur’an Super Kilat (Yogyakarta: DIVA Press, 2015), 28.

42Rais, Kado Untuk Penghafal, 62.

(40)

dan juga di runut sampailah silsilah itu kepada Nabi Muhammad. Kejelasan sanad ini ditujukan untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an dan sekaligus memberi informasi gaya bacaan apa yang akan digunakan sesuai dengan pendidikan yang ditempuh oleh seseorang atau guru.43

Selain itu seorang yang menghafalkan Al-Qur’an harus berguru kepada ahlinya, yaitu guru tersebut harus seorang yang hafal Al-Qur’an, serta sudah mantap dalam segi agama dan pengetahuannya tentang Al-Qur’an, seperti ulumul Qur’an, asbab al-nuzul-nya, tafsir, ilmu tajwid dan lain-lain.44

Menghafalkan Al-Qur’an tidak diperbolehkan sendiri tanpa seorang guru, karena di dalam Al-Qur’an banyak terdapat bacaan-bacaan yang sulit (musykil) yang tidak bisa dikuasai hanya dengan mempelajari teorinya saja. Bacaan musykil tersebut hanya bisa dipelajari dengan cara melihat guru. Sehingga seorang yang menghafal Al- Qur’an sendiri tanpa diperdengarkan kepada seorang guru yang ahli kurang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.45

Dengan demikian seorang guru dapat dikatakan sebagai model yang membantu perkembangan regulasi diri

43Chairani, Psikologi, 255.

44Wahid, Panduan Menghafal, 34.

45Sa’dulloh, 9 Cara Cepat Menghafal Al-Qur’an (Jakarta: Gema Insani, 2013), 32.

(41)

seseorang dengan cara memberikan bantuan pada saat individu membutuhkannya.

c) Regulasi diri metapersonal

Regualsi diri metapersonal adalah hubungannya dengan spiritual. Menghafal Al-Qur’an bukanlah aktivitas kognitif semata melainkan sangat dipengaruhi oleh hal-hal diluar proses masuknya informasi ke otak. Hidayat menegaskan bahwa dalam berinteraksi dengan kitab suci, tidak dapat hanya didekati secara semantik tetapi menggunakan multi pendekatan yang didasari oleh keimanan. Keimanan inilah yang nantinya akan melahirkan daya mantra dan intuisi tentang kehadiran Tuhan dalam diri seseorang. Salah satu pernyataan aspek keimanan adalah dengan meniatkan setiap tindakan dan perbuatan semata-mata untuk memperoleh ridho Allah.46

Niat iklas yang tertanam kuat dalam sanubari penghafal Al-Qur’an akan mengantarkan ke tempat tujuan yang diinginkannya dan akan menjadi benteng terhadap kendala-kendala yang mungkin akan dilaluinya.47 Allah SWT berfirman:

46Chairani, Psikologi, 260.

47Wahyudi, Sukses Menghafal, 30.

(42)





















Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. Az-Zumar: 11)48

Niat yang menyimpang sering kali dirasakan oleh remaja penghafal- Al-Qur’an mempengaruhi kemampuannya dalam memanggil kembali informasi yang telah masuk ke otak dan tidak jarang pula menjadi kesulitan untuk mengatasi hal ini biasanya dengan melakukan introspeksi diri dan kembali meluruskan niatnya. Maka dari itu, selain menerapkan strategi kognitif, remaja penghafal Al-Qur’an juga melakukan upaya bathin tertentu untuk memudahkan proses menghafal dan menjaga bathinnya.

Upaya- upaya bathin yang biasa dilakukan adalah melakukan puasa sunnah, melakukan amalan sunnah seperti sholat tahajjud dan sholat hajat, membaca dalail khoirot (Buku yang berisi sholawat), melakukan mujahadah, memberikan bingkisan doa kepada ahli kitab atau penghafal yang telah meninggal dunia dan membaca doa yang dikhususkan bagi penghafal Al-Qur’an untuk memperkuat ingatan.49

48Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemah (Jakarta: Kota Ilmu, 2012), 460.

49Chairani, Psikologi, 261.

(43)

Wiwi alawiyah Wahid mengatakan bahwa sebesar apapun usaha seseorang dalam menghafalkan AlQur’an, tanpa adanya sebuah permintaan dan berdo’a kepada sang penentu kesuksesan, maka Allah akan menentukan jalan lain. Dengan demikian, sangat dianjurkan untuk selalu berdo’a dengan sungguh-sungguh, tulus, dan ikhlas selama proses menghafal Al-Qur’an.

Adapun waktu-waktu yang tepat untuk berdo’a ialah seperti waktu-waktu yang telah diwasiatkan oleh Rasulullah Saw. kepada umatnya, yaitu sepertiga malam, di penghujung shalat, sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan (terutama pada malam-malam ganjil), ketika turun hujan, atau saat bepergian.50

Lisya Chaerani & Subandi menyatakan bahwa ada perbedaan konsep antara regulasi diri secara umum dan regulasi diri yang terkait dengan kegiatan keagamaan (ibadah).

Pada regulasi diri remaja penghafal Al-Qur’an, proses regulasi diri dipengaruhi oleh adanya kekuatan supranatural. Secara umum remaja penghafal Al-Qur’an merasakan adanya perubahan yang luar biasa setelah menetapkan diri menjadi penghafal Al-Qur’an. Perubahan-perubahan ini hampir seluruhnya bersifat positif sehingga seolah-olah menjadi suatu

50Wahid, Panduan Menghafal, 39.

(44)

penguat yang tidak hanya memberikan sensasi fisik berupa hati yang terasa lapang, kepala yang dingin, dada yang sejuk dan merasa lebih sehat secara fisik. Akan tetapi juga menjadikannya lebih terarah, secara emosional lebih terjaga dan merasa tercukupkan dalam hal.

Selain itu menjaga dalam konteks menghafal Al- Qur’an tidak terbatas pada menjaga hafalan secara kuantitas tetapi juga kualitas. Kualitas penjagaan diwujudkan dalam upaya seorang penghafal al-Qur’an menjaga diri dalam berbagai hal, mulai menjaga niat agar selalu konsisten, menjaga pikiran, perilaku dan juga perbuatan.51

Dapat disimpulkan bahwa dalam proses regulasi diri metapersonal keikhlasan niat memiliki peran penting sehingga keikhlasan niat tersebut ditujukan untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah.

2. Kajian Teoritik tentang Penghafal Al-Qur’an a. Pengertian penghafal Al-Qur’an

Penghafal Al-Qur’an biasanya disebut dengan sebutan hāfidzun (bagi laki-laki) dan hāfidzatun (bagi perempuan). Kata ini berasal dari kata hāfidza yang artinya menghafal, berarti sebutan ini ditujukan bagi orang yang menghafalkan Al-Quran.52 Allah SWT berfirman:

51Chairani, Psikologi, 260.

52Ibid., 38.

(45)

















Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran (dihafalkan), maka adakah orang yang mengambil pelajaran (menghafalkannya)?” (Q.s. al-Qamar [54]: 17)53

b. Metode menghafal AlQur’an

Metode dan cara yang digunakan di dalam menghafal Al- Qur’an berbeda-beda pada setiap orang. Akan tetapi bagaimanapun cara yang digunakan oleh individu dalam proses menghafal Al-Qur’an, tidak akan lepas dari proses pembacaan secara berulang-ulang hingga akhirnya mampu membacanya tanpa melihat mushaf lagi. Sa’dulloh memaparkan beberapa metode yang biasanya digunakan oleh penghafal Al-Qur’an:54

1) Bi al-Nadhar yaitu: Membaca dengan cermat ayat-ayat Al-Qur’an yang akan dihafalkan dengan melihat mushaf secara berulang- ulang.

2) Tahfizh yaitu: melafalkan sedikit demi sedikit ayat-ayat Al-Qur’an yang telah dibaca berulang-ulang pada saat bin-nazhar hingga sempurna dan tidak terdapat kesalahan. Hafalan selanjutnya dirangkai ayat demi ayat hingga hafal.

53Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemah (Jakarta: Kota Ilmu, 2012), 529.

54Sa’dulloh, 9 Cara cepat, 55.

(46)

3) Talaqqi yaitu menyetorkan atau memperdengarkan hafalan kepada seorang guru atau instruktur yang telah ditentukan.

Allah SWT berfirman:

















Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al-Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha bijaksana lagi Maha mengetahui. (Q.s. an- Naml [27]: 6)55

4) Takrir yaitu: mengulang hafalan atau melakukan sima’an terhadap ayat yang telah dihafal kepada guru atau orang lain. Takrir ini bertujuan untuk mempertahankan hafalan yang telah dikuasai.

5) Tasmi’ yaitu: memperdengarkan hafalan kepada orang lain baik kepada perseorangan ataupun jama’ah.56

c. Menjaga hafalan Al-Qur’an dengan muraja’ah 1) Muraja’ah bi al-Nafsi (individu)

Seorang hafizh bersandar pada dirinya sendiri dalam melakukan muraja’ah. Membuat jadwal muraja’ah sesuai dengan aktivitas harian dan waktu luangnya. Metode ini terdiri dari beberapa cara:57

(a) Tasdisu / Menjadikan enam bagian, artinya setiap harinya mengulang lima juz dan selesai dalam waktu 6 hari.

55Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemah (Jakarta: Kota Ilmu, 2012), 377.

56Sa’dulloh, 9 Cara cepat, 57.

57Ahmad Rais El Hafizh, Kado Untuk Penghafal Al-Qur’an (Malang: AE Publishing, 2016), 164- 167.

(47)

(b) Tasbi’u al-Qur’an / Menjadikan 7 bagian, artinya metode ini mengulang hafalan dengan membagi surat menjadi tujuh bagian dan khatam dalam satu minggu.

(c) Muraja’ah dalam jangka waktu 10 hari, artinya cara ini diterapkan dengan mengulang 3 juz setiap harinya dan mengkhatamkan dalam jangka waktu 10 hari. Jadi, dalam 1 bulan 3 kali khatam dan setahun 36 kali khatam.

(d) Pengulangan dengan cara mengkhususkan, artinya setiap minggu mengkhususkan 3 juz untuk diulang-ulang setiap hari selama satu minggu.

(e) Khatam sekali dalam setiap bulan, artinya mengulang satu juz setiap hari dan dalam satu bulan khatam.

(f) Muraja’ah dalam sholat, artinya mengulang bacaan ayat atu surat yang telah di hafalkan dengan baik di dalam sholat wajib maupun sholat sunnah.

(g) Muraja’ah dengan bantuan kaset, artinya dilakukan dengan mendengar atau memutar kaset ketika pergi dan pulang kerja di dalam kendaraan atau memutarnya sebelum tidur.

2) Muraja’ah bi al-ghairi (bersama orang lain)

Metode ini membutuhkan seorang syekh atau teman yang lebih unggul dan mantap hafalannya untuk mendengarkan atau

(48)

memerlukan orang lain untuk menyimak. Metode ini memiliki banyak cara:58

(a) Istima’ ’Alā al-syaikhi (memperdengarkan kepada guru), artinya seorang hafidz membaca hafalannya di depan gurunya, sedangkan gurunya mendengarkan dengan teliti.

(b) Muraja’ah al-Jibriliyah, artinya melakukan muraja’ah bulanan, mingguan atau harian bersama teman dengan cara menyimak secara bergiliran dan bergantian posisi sekaligus memberikan pertanyaan pada ayat yang mirip atau lanjutan ayat pada lembaran berikutnya sehingga mantap hafalannya.

(c) Guru menyimak setoran muraja’ah lebih dari satu murid pada waktu yang bersamaan.

58 Ibid., 167.

(49)

untuk memecahkan masalah dan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya yang tepat dan benar (valid).59 Sehingga penelitian bisa dilakukan dengan mudah dan lebih terarah sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Adapun metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif merupakan suatu penelitian yang bermaksud memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah serta dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Sedangkan jenis penelitian dalam penelitian ini adalah berbentuk penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian terhadap masalah- masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi yang meliputi kegiatan penilaian sikap atau pendapat terhadap individu, organisasi, keadaan, ataupun prosedur.60 Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat

59Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007), 124.

60Etta Mamang Sangadji & Sopiah, Metodologi Penelitian (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2010), 21.

(50)

mengenal fakta- fakta, sifat- sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. 61

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian menunjukkan dimana penelitian tersebut hendak dilakukan.62 Adapun yang menjadi lokasi dalam melaksanakan penelitian ini adalah bertempat di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguran (FTIK) IAIN Jember, tepatnya berada di Jl. Mataram No.1, Mangli, Kaliwates- Jember - Jawa Timur. Penentuan lokasi penelitian ini berdasarkan atas pertimbangan karena di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember terdapat mahasiswa yang mampu meluangkan waktunya untuk menghafalkan Al-Qur’an meski sibuk kuliah.

C. Subyek Penelitian

Dalam penelitian ini subyek penelitian yang digunakan adalah purposive sampling (sampel bertujuan). Purposive sampling adalah tekni pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.63 Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang diharapkan, sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi obyek/situasi sosial yang diteliti.

Dalam penelitian ini subyek penelitian atau informan yang terlibat atau mengetahui permasalahan yang dikaji adalah:

61Nazir, Metode Penelitian (Bogor: Ghalia Indonesia, 2014), 43.

62Tim Penyusun, Pedoman Penulisan, 46.

63Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: ALFABETA, 2016), 218.

(51)

1. Mahasiswa penghafal Al-Qur’an Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Jember.

2. Guru/ pembimbing hafalan Al-Qur’an 3. Teman penghafal Al-Qur’an

4. Orang tua penghafal Al-Qur’an D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data agar data tersebut dapat dipercaya dan hasil penelitiannya dapat dipertanggung jawabkan, maka dalam penelitian ini menggunakan beberapa teknik, yaitu:

1. Observasi

Observasi atau pengamatan adalah alat pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematik gejala- gejala yang di selidiki.64

Dalam konteks penelitian kualitatif, observasi tidak untuk menguji kebenaran tetapi untuk mengetahui kebenaran yang berhubungan dengan aspek/kategori sebagai aspek studi yang dikembangkan peneliti. 65

Dari segi proses pelaksanaan pengumpulan data, observasi dapat dibedakan menjadi participant observation (observasi berperan serta) dan non participant observation, selanjutnya dari segi instrumentasi yang

64Cholid Narbuko dan Abu Ahmadi, Metodologi Penelitian (Jakarta: Bumi Aksara, 2010), 70.

65Nasution, Metode Research: Penelitian Ilmiah (Jakarta: Bumi Aksara,2011), 104.

(52)

digunakan, maka observasi dapat dibedakan menjadi observasi terstruktur dan tidak terstuktur.66

a. Observasi berperan serta (Participant Observation)

Dalam observasi ini, peneliti terlibat dalam kegiatan sehari- hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi persiapan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang nampak.

b. Observasi Nonpartisipan

Kalau dalam observasi partisipan peneliti terlibat langsung dengan aktivitas orang-orang yang sedang diamati, maka dalam observasi nonpartisipan peneliti tidak terlibat dan hanya sebagai pengamat independen.

Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi nonpartisipan. Metode observasi ini digunakan untuk memperoleh data tentang:

1) Kondisi objek penelitian

2) Aktivitas mahasiswa penghafal Al-Qur’an

66Sugiono, Metode Penelitian, 145-146.

Gambar

Tabel 4.3  Kartu Prestasi  NAMA : Umi Faidatul M
Tabel 4.4  Temuan Penelitian

Referensi

Dokumen terkait

Sementara Sugiyono (2015:15), metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berdasarkan pada postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan peneliti dengan judul “Peranan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Meningkatkan Motivasi Membaca Al-Qur’an Siswa SMA

Lafaz la’ibun wa lahwun menjelaskan hakikat kehidupan di dunia, laksana permainan dan olok-olok yang sifatnya membosankan, sementara dan tidak abadi, yang dapat menyesatkan

Konsep pendidikan humanis al-Zarnuji sangat menekankan pada kasih sayang Niat adalah hal yang wajib dilaksanakan dalam proses belajar mengajar (Mencari Ilmu)

Jawab: menurut saya, cara yang paling efektif untuk mendorong peserta didik yang tidak mencapai target tahfizh Al-Qur’an adalah adanya dorongan dan motivasi serta

Maksud dari ayat di atas adalah Allah memerintahkan agar merendahkan diri kepada kedua orang tua dengan penuh kasih sayang. Yang dimaksud dengan merendahkan diri dalam

memberikan pelatihan kepada para pendidik tentang bagaimana cara memberikan motivasi atau mengggunakan alat peraga yang sesuai dengan kebutuhan siswa dalam

Adapun mandat-mandat yang dimaksud adalah: a Patuh dan tunduk sepenuhnya pada titah Allah, serta menjauhi larangannya; b Bertanggungjawab atas kenyataan dan kehidupan di dunia sebagai