• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap-tahap penelitian

BAB III METODE PENELITIAN

G. Tahap-tahap penelitian

Untuk mengetahui proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti mulai awal hingga akhir maka perlu diuraikan tahap-tahap penelitian. Tahap penelian ada 3 yaitu tahap pra lapangan, tahap pekerja lapangan, dan tahap analisis data.

Dalam hal ini tahapan-tahapan penelitian yang dilakukan peneliti diantaranya adalah:

72Lexy J. Moleong, Metode penelitian kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009), 275

73Ibid, 331

1. Tahap pra lapangan

Dalam tahap penelitian pra lapangan terdapat enam tahapan dan tahapan tersebut dilalui sendiri oleh peneliti diantaranya:

a. Menyusun rencana penelitian

Pada tahapan ini peneliti membuat rancangan penelitian terlebih dahulu, dimulai dari pengajuan judul, penyusunan matrik dan seminar skripsi.

b. Memilih lapangan penelitian

Sebelum melakukan penelitian, seorang peneliti harus terlebih dahulu memilih tempat penelitian. Tempat penelitian yang dipilih yaitu SMA Nuris Jember.

c. Mengurus perizinan

Sebelum mengadakan penelitian, peneliti mengurus perizinan terlebih dahulu ke pihak kampus.

d. Menjajaki dan menilai lapangan

Setelah diberi izin, peneliti mulai melakukan penjajakan dan mengamati kondisi lapangan sebagai tempat penelitian untuk lebih mengetahui latar belakang objek penelitian, lingkungan sosial, adat- istiadat, kebiasaan, agama dan pendidikannya. Hal ini dilakukan agar memudahkan peneliti dalam menggali data.

e. Memilih dan memanfaatkan informan

Pada tahap ini peneliti mulai memilih informan untuk mendapatkan informasi, informan yang diambil dalam penelitian ini adalah guru PAI.

f. Menyiapkan perlengkapan penelitian

Setelah semua selesai mulai dari rancangan penelitian hingga memilih informan, maka peneliti menyiapkan perlengkapan penelitian sebelum terjun ke lapangan yakni mulai dari menyiapkan buku catatan, kertas dan sebagainya.

2. Tahap pekerjaan lapangan

Pada tahap ini peneliti terjun langsung ke lapangan untuk memperoleh data-data mengenai fokus pemasalahan yang dijadikan sebagai bahan kajian dalam penelitian. Hal ini peneliti menggunakan metode observasi, interview, dan dokumentasi untuk memperoleh informasi tersebut.

3. Tahap analisis data

Tahap ini, peneliti menggunakan penghalusan data yang diperoleh dari subjek, informan, maupun dokumen dengan memperbaiki bahasa dan sistematikannya agar dalam laporan hasil penelitian tidak terjadi kesalahpahaman.

4. Tahap penulisan laporan penelitian

Tahap ini merupakan tahap terakhir dari proses penelitian. Pada tahap ini peneliti menyusun laporan yang mencakup keseluruhan proses

penelitian mulai latar belakang sampai dengan penyajian hasil penelitian, analisis data dan kesimpulan.

H. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskriptif alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup.74 Sistematika pembahasan ini untuk memberi gambaran secara menyeluruh isi dari satu bab ke bab yang lain yang dijadikan sehingga akan lebih memudahkan dalam meninjau dan menanggapi isinya, untuk lebih jelasnya akan dipaparkan dari satu bab hingga bab terakhir.

Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagian awal skripsi, yang berisi: Cover, halaman judul, halaman persetujuan pembimbing, halaman pengesahan tim penguji, motto dan persembahan, pernyataan pertanggung jawaban penulis skripsi, kata pengantar, abstrak, daftar isi, daftar gambar, dan daftar lainnya.

2. Bagian inti skripsi dibagi menjadi lima BAB, yaitu:

BAB I: Pendahuluan merupakan dasar atau pijakan dalam penelitian yang meliputi latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, sistematika pembahasan. Fungsi bab ini adalah untuk memperoleh gambaran secara umum dalam skripsi ini.

BAB II: Berisi kajian kepustakaan yang didalamnya mencakup penelitian terdahulu dan kajian teori yang erat kaitannya

74TIM Penyusun IAIN Jember, Pedoman karya ilmiah, 48

dengan masalah yang akan diteliti yaitu mengenai Peran Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mencegah Paham Radikalisme di Sekolah Menengah Atas Nuris Jember.

BAB III: Membahas mengenai metodologi penelitian oleh peneliti terkait dengan pendekatan dan jenis penelitian yang digunakan, lokasi penelitian, subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisi data, keabsahan data, dan tahap- tahap penelitian.

BAB IV: Berisi tentang penyajian data dan analisis yang mana terkait dengan gambaran obyek penelitian, penyajiyan data dan analisis, dan pembahasan temuan.

BAB V: Berisi tentang penutup atau kesimpulan dan saran, bab ini merupakan akhir dari penulisan karya ilmiah dan merupakan kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan. Dan sebagian akhir dari penelitian ini ditutup dengan saran-saran.

3. Bagian akhir skripsi, yang berisi: Daftar pustaka, pernyataan keaslian tulisan, lampiran-lampiran (matrik penelitian, formulir pengumpulan data), foto, gambar/denah, surat keterangan (izin penelitian dan lain- lain), dan Biodata penulis.

A. Gambaran Obyek Penelitian

Pada bagian ini, peneliti mendeskripsikan gambaran obyek penelitian secara umum dengan tujuan untuk mengetahui keadaan dan obyek yang diteliti.

Berikut pembahasan mengenai Sekolah Menengah Atas Nuris Jember.

1. Sejarah Berdirinya SMA Nuris Jember

SMA Nuris Jember merupakan sebuah lembaga pendidikan yang didikan pada tahun 1989, berlokasi di Desa Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember dibawah naungan “Yayasan Darussalam”

yang diasuh oleh KH. abdussomad.

Pada tahun 1997 SMA Nuris tidak lagi dibawah naungan “Yayasan Darussalam”, melainkan sudah berdiri sendiri bernama “Yayasan Nurul Islam” yang diasuh oleh putra KH. Abdussomad Yaitu KH. Muhyiddin Abdusshomad sampai sekarang.

Tujuan utama pendirian SMA Nuris adalah menjadi wadah bagi pelajar lulusan SMP untuk mendalami berbagai bidang ilmu, khususnya ilmu umum. SMA Nuris dikelola dengan urutan sebagai berikut:

Pertama dipimpin oleh : Bpk. Drs ponco setiono Kedua dipimpin oleh : Bpk. Ahmad Nursalim Ketiga dipimpin oleh : Bpk. Amad Sahlan Keempat dipimpin oleh : Bpk. Drs. S. Haryono Kelima dipimpin oleh : Bpk. Suwandi, S. Pd

Keenam dipimpin oleh : Bpk. Muh. Soleh Samroji Ketujuh dipimpin oleh : Bpk. Muhammad Faisol, M Ag Kedelapan dipimpin oleh : Bpk. Robith Qoshidi, Lc.

Dan sampai saat ini SMA Nuris Jember masih di pimpin oleh Bapak Robith Qoshidi, Lc.

2. Identitas Sekolah

a. Nama Sekolah : SMA Nuris Jember

b. Alamat : Jl. Pangandaran No. 48 Desa Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember

c. No. Telepon : 0331-339544

d. Status Sekolah : Swasta

e. Nilai akreditasi sekolah : A

f. NSS : 304052402091

g. NSPN : 20523800

h. Tahun Didirikan : 1989 i. Tahun Beroprasi : 1989 j. Kepemilikan Tanah/Bangunan : Yayasan

k. Luas tanah : 3.000 m2

l. Luas bangunan : 1481 m2

3. Letak geografis SMA Nuris Jember

Lokasi SMA Nuris Jember terletak di Jl. Pangandaran No. 48 Desa Antirogo Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember. Lokasi ini terletak di beberapa batas wilayah diantaranya yaitu:

a. Batas wilayah utara : Perumahan Penduduk b. Batas wilayah Selatan : Perkebunan

c. Batas wilayah Timur : Perumahan Penduduk d. Batas wilayah barat : SMK Farmasi dan jalan raya 4. Visi dan Misi SMA Nuris Jember

a. Visi Sekolah

Menciptakan insan yang bertakwa, berakhlak mulia, berdaya saing global, dan siap menjadi pemimpin masa depan.

b. Misi Sekolah

1) Membiasakan ritualisasi keagamaan dalam kehidupan sehari-hari yang didampingi oleh guru profesional.

2) Mengontrol penerapan akhlakul karimah dalam kehidupan sehari- hari.

3) Mengadakan pembinaan dalam mencapai prestasi akademis dan non akademis.

4) Mengadakan berbagai kegiatan OSIS, pelatihan, dan diklat untuk mengembangkan sikap kepemimpinan siswa.

5) Menyiapkan peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa melalui program-program OSIS tentang keagamaan serta menerapkan nilai-nilai agama pada kegiatan belajar mengajar.

6) Mengintegrasikan bekal pengetahuan umum dengan pengetahuan agama dengan harapan para lulusan melandasi pikiran, perilaku dan kinerjanya sesuai dengan ajaran agama Islam.

7) Membiasakan peserta didik untuk menjadi pembelajar sejati sepanjang hayat serta sehat jasmani dan rohani.

8) Menyiapkan peserta didik agar mampu mengaitkan pengetahuan yang dimilikinya dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar bangsa, negara, serta kawasan regional dan internasional.

9) Membiasakan peserta didik memiliki keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, kritis, kolaboratif dan komunikatif..

10) Membekali peserta didik dengan pengembangan diri melalui pembekalan IPTEK dan Life Skill sehingga dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu melanjutkan ke perguruan tinggi atau terjun ke masyarakat dan mampu berkolaborasi dengan pihak lain.

11) Menyiapkan peserta didik untuk berprestasi dalam Ujian Nasional 12) Menyiapkan peserta didik untuk berprestasi dalam berbagai bidang

kompetisi di tingkat lokal, kabupaten, Nasional dan Internasional.

13) Menyiapkan peserta didik untuk siap berkompetisi dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai dengan minatnya dengan program pendampingan yang dilakukan oleh guru BK.

14) Membekali peserta didik dengan kegiatan pengembangan diri berupa kegiatan ekstrakurikuler agar dapat dimanfaatkan ditengah masyarakat.

15) Membekali peserta didik dengan pengembangan diri melalui kegiatan organisasi.

5. Struktur Organisasi SMA Nuris Jember

Untuk memperlancar tugas dari program pendidikan di SMA Nuris Jember, maka dibentuklah struktur organisasi lembaga yang berwenang, dan ketentuan kinerja di SMA Nuris Jember sebagaimana layaknya setiap intansi. Berikut ini adalah Struktur Organisasi SMA Nuris Jember:

75

75 Dokumentasi SMA Nuris Jember

Bagan 4.1

Struktur Organisasi SMA Nuris Jember

Garis Komando

 Garis Koordinator KOMITE

Hasan Holiq, M. Pd

KEPALA SEKOLAH Robith Qosidi, Lc

KORLAK TU Husni, S.Pd

Wk. KURIKULUM Dian Retno W, S.Si

Wk. KESISWAAN Sofyan Arie, S.pd

Wk. SAR/PRAS Hilmi Bin Abdus salam

Wk. HUMAS Imaroh D, S, Pd

WALIKELAS GURU

SISWA SMA NURIS JEMBER TU

Ibti Ulatari D, S.Pd Ahmad Dhobit Arief R, S.Pd

Khotamul Laili, S.Pd

B. Penyajian dan Analisi Data

Penyajian data dan analisis data yang terdapat pada bab ini merupakan hasil dari penelitian yang dilakukan oleh peneliti melalui teknik pengumpulan data baik dengan cara observasi, wawancara dan teknik dokumenter. Data yang diperoleh dari penelitian disajikan mengikuti urutan tiga fokus penelitian yang dipaparkan di bab I.

Sebelum menyajikan data lebih lanjut mengenai Peran Guru PAI Dalam Mencegah Paham Radikalisme di SMA Nuris Jember, tentu peneliti ingin mengetahui terlebih dahulu pandangan guru PAI di sekolah tersebut.

Mengenai paham radikalisme, hal ini sangat penting dikarenakan untuk dapat melakukan pencegahan paham radikalisme, tentu para guru harus memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan paham tersebut. Berikut ini merupakan pendapat guru PAI di SMA Nuris Jember:

Bapak Taufik Ahmad selaku guru PAI di SMA Nuris Jember, berpendapat bahwa radikalisme merupakan paham yang dianut oleh sekelompok orang yang identik dengan menggunakan kekerasan dengan berbagai tindakan bebas.

Hal itu ia sampaikan saat wawancara dengan peneliti seperti berikut ini:

“Radikalisme menurut saya itu mas ya, bebas, dalam artian sebuah paham yang dianut oleh sekelompok orang yang identik dengan menggunakan kekerasan dengan berbagai tindakan bebas yang menginginkan suatu perubahan, tapi untuk menciptakan perubahan itu menggunakan kekerasan. Baik secara ideologi maupun tindakan. Sebenarnya niatnya bagus sih mas, tapi caranya saja yang kurang sesuai menurut saya.”76

76 Taufik Ahmad, Wawancara, Jember, 16 September 2019

Bapak Sarbini, memahami radikalisme sebagai sebuah paham yang dapat memicu pada tindakan terorisme yang akan membuat kerusakan dengan merugikan banyak pihak. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara berikut:

“Saya memahami radikalisme itu sebuah paham mas, yang nantinya dari paham ini akan memicu tindakan terorisme yang akan membuat kerusakan dengan merugikan banyak pihak. Kadang kita lihat di masyarakat fenomena sekelompok orang yang tidak sepaham dengan mereka adalah kafir. Dan yang paling parah lagi mengunakan tindakan kekerasan.”77

Selain meminta pendapat para guru PAI diatas, peneliti juga mencoba untuk menggali informasi kepada wakil kepala sekolah SMA Nuris Jember.

Adapun pandangan beliau mengenai radikalisme adalah sebagai berikut:

Menurut Ibu Arifiatun sebagai wakil kepala sekolah memahami radikalisme sebagai suatu paham keagamaan yang tidak sesuai dengan ajaran pancasila dan bertentangan dengan ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara berikut:

“Kalau paham radikalisme itu adalah suatu paham keagamaan yang tidak sesuai dengan ajaran dari NKRI, Pancasila sendiri kemudian juga bertentangan dengan Ahlusunnah Wal Jamaah. Karena kita sendiri disini menganut NU. Kalau saya lihat ketika gerakan- gerakan radikalisme itu kan sepertinya pembenaran dari ajaran mereka sendiri disitu ada ajaran kekerasan, itu sudah melanggar dari konsep-konsep kenegaraan kita dan keagamaan kita sendiri.”78 Kemudian peneliti mencoba bertanya lebih dalam mengenai penyebab munculnya paham radikalisme, karena untuk bisa menentukan upaya pencegahan perlu dipahami dulu penyebab munculnya radikalisme. Berikut ini merupakan pendapat guru PAI dan pimpinan SMA Nuris Jember:

77 Sarbini, Wawancara, Jember, 17 September 2019

78 Arifiatun, Wawancara, Jember, 18 September 2019

a. Kurangnya ilmu keagamaan

Menurut Bapak Taufik Ahmad selaku guru PAI di SMA Nuris Jember menyatakan bahwa dengan kurangnya ilmu keagamaan yang dimiliki oleh siswa, atau memahami ilmu agama hanya sekilas, karena generasi muda seperti siswa yang sedang mencari jati diri rawan disusup ajaran kelompok tertentu. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara berikut:

“Jadi, faktor munculnya radikalisme itu ya, kurangnya ilmu keagamaan yang dimiliki oleh siswa, atau memahami ilmu agama hanya sekilas, karena generasi muda seperti siswa yang sedang mencari jati diri rawan disusup ajaran kelompok tertentu.”79

Kemudian Pernyataan diatas di perkuat oleh Bapak Sarbini selaku guru PAI di SMA Nuris Jember menyatakan radikalisme bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Karena radikaisme banyak disebabkan oleh adanya paham atau pemikiran yang sempit tentang ilmu keagamaannya. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara berikut:

“Radikalisme bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan dimana saja. Tidak peduli anak-anak, remaja, orang dewasa, dan tidak pandang mereka miskin atau kaya.

Karena radikaisme banyak disebabkan oleh adanya paham atau pemikiran yang sempit tentang ilmu keagamaannya.”80 Jadi dari pernyataan diatas peneliti menyimpulkan bahwa paham radikalisme bisa menimpa siapa saja, kapan saja dan dimana saja.

karena ilmu keagamaannya kurang.

79 Taufik Ahmad, Wawancara, Jember, 16 September 2019

80 Sarbini, Wawancara, Jember, 17 September 2019

b. Pergaulan dan Pertemanan

Menurut Ibu Arifiatun sebagai wakil kepala sekolah menyatakan bahwa penyebab munculnya benih-benih radikal dimulai dari pergaulan dan pertemanan yang mana jika hal tersebut tidak diketahui latar belakang dari temannya maka siswa yang pemahaman keagamaannya kurang akan mudah terkontaminisi radikalisme. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara berikut:

“Penyebab yang kedua dari munculnya benih-benih radikal dimulai dari pergaulan dan pertemanan yang mana jika siswa tidak mengetahui latar belakang dari temannya maka siswa yang pemahaman keagamaannya kurang akan mudah terkontaminisi radikalisme. Kadang siswa itu mudah ikut temennya karena diawali dengan kebaikan secara terus menerus secara tidak langsung disitulah biasanya seseorang akan simpati terhadap kebaikannya .”81

c. Ikut organisasi yang radikal

Ibu Arifiatun sebagai wakil kepala sekolah menyatakan bahwa ketika siswa lulus dari sekolah dan masuk perguruan tinggi banyak siswa yang terpengaruh oleh pergaulan luar dikarenakan tejebak oleh strategi yang dilakukan oleh oknum radikal dengan segala cara untuk menyebarkan keyakinannya secara sembunyi-sembunyi dan siswa mudah terjebak dan kemudian ikut dalam organisasi yang tidak jelas (radikal) yang menentang atau bertolak belakang dengan NKRI dan mampu mengemas gerakannya dengan cara mereka sendiri. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara berikut:

81 Arifiatun, Wawancara, Jember, 18 September 2019

“Penyebab yang ketiga yang perlu diperhatikan disini yaitu organisasi yang tidak jelas (radikal) yang menentang atau bertolak belakang dengan NKRI dan mampu mengemas gerakannya dengan cara mereka sendiri. Saat siswa lulus dari sekolah dan masuk perguruan tinggi, biasanya mereka membantu siswa mencari kos-kosan dan lain sebagainya.

Mereka memberi dampingan saat masa-masa sulit memulai pembelajaran di tingkat perguruan tinggi. Dengan cara seperti itulah siswa akan mudah terjebak oleh strategi mereka dan mereka akan berusaha dengan segala cara untuk menyebarkan keyakinannya secara sembunyi- sembunyi.”82

Berdasarkan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pandangan guru PAI mengenai paham radikalisme yaitu paham yang dianut oleh sekelompok orang yang tidak sesuai dengan ajaran Pancasila dan bertentangan dengan ajaran Ahlusunnah Wal Jamaah yang dapat memicu pada kekerasan atau terorisme yang akan membuat kerusakan dengan merugikan banyak pihak. Sedangkan penyebab munculnya paham radikalisme antara lain:

Kurangnya ilmu keagamaan, Pergaulan dan Pertemanan dan Ikut organisasi yang radikal.

Peran guru PAI dalam mencegah paham radikalisme di SMA Nuris Jember dilihat dari cara mendidik, mengajar dan membimbingnya. Hal tersebut peneliti paparkan sebagai berikut:

1. Peran guru PAI sebagai pendidik dalam mencegah paham radikalisme di SMA Nuris Jember

Menanggapi fenomena radikalisasi yang terjadi di dunia pendidikan, lembaga pedidikan perlu melakukan upaya-upaya pencegahan. Salah satu

82 Arifiatun, Wawancara, Jember, 18 September 2019

pihak yang bertanggung jawab dalam mencegah paham radikalisme dikalangan siswa adalah para guru PAI.

Guru PAI sebagai pendidik di SMA Nuris Jember dalam mencegah paham radikalisme senantiasa mengubah sikap siswa dari hal yang tidak baik menjadi baik dan guru selalu menjaga hubungannya dengan siswa.

Dengan demikian, siswa tidak hanya cerdas dalam lingkup intelektualnya saja, akan tetapi siswa harus mempunyai bekal yang sangat baik yang tersimpan didalam hatinya, sehingga prinsip-prinsip kecerdasan spiritual yang sumbernya dari nilai-nilai al-Qur’an itu melekat dan supaya tidak mudah terkontaminasi oleh paham radikalisme. Hal tersebut sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bapak Taufik Ahmad dalam hasil wawancara sebagai berikut:

“Tugas guru bukan hanya mengajar atau mentransfer pengetahuan kepada siswa, akan tetapi dituntut untuk mendidik dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan terutama akhlaqul karimah.

Guru PAI sebagai pendidik harus mengubah sikap siswa dari hal yang tidak baik menjadi baik dan guru harus selalu menjaga hubungannya dengan siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya cerdas dalam lingkup intelektualnya saja, akan tetapi siswa harus mempunyai bekal yang sangat baik yang tersimpan didalam hatinya, sehingga prinsip-prinsip kecerdasan spiritual yang sumbernya dari nilai-nilai al-Qur’an itu melekat dan supaya tidak mudah terkontaminasi oleh paham radikalisme”83

Bapak Sarbini selaku guru PAI di SMA Nuris Jember menambahkan bahwa upaya guru PAI sebagai pendidik dalam mencegah paham radikalisme di SMA Nuris Jember dilihat pada saat di dalam proses pembelajaran guru PAI melakukan pembiasaan terhadap siswa agar selalu

83 Taufik Ahmad, Wawancara, Jember, 16 September 2019

menghormati antar sesama baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas dengan menerapkan 6S diantaranya: senyum, salam, sapa, sopan, santun, sanjung. Keenam tersebut merupakan usaha dari guru PAI sebagai pendidik untuk menciptakan suasana tentram, damai dan toleran. Hal tersebut mengantisipasi terjadinya tindakan radikal. Sebagaimana yang telah diungkapkan beliau dalam wawancara sebagai berikut:

“Berbicara mengenai peran guru sebagai pendidik, kami selalu melakukan pembiasaan terhadap siswa agar selalu menghormati antar sesama baik itu di dalam kelas maupun di luar kelas dengan menerapkan 6 S diantaranya: senyum, salam, sapa, sopan, santun, sanjung. Keenam tersebut merupakan bentuk kami dalam mendidik siswa agar siswa dapat berbaur terhadap masyarakat. Jika keenam itu diterapkan maka InsyaAllah nikmat dan tidak ada yang namanya pertengkaran, tidak ada rasa iri. Hal tersebut mengantisipasi terjadinya tindakan radikal.”84

Pernyataan diatas di perkuat oleh Bapak Taufik Ahmad selaku guru PAI di SMA Nuris Jember beliau mengatakan:

“Sebagai pendidik tentunya didalam Proses pembelajaran kita selalu mengajarkan sikap toleransi dan memberi pemahaman Islam yang rahmatan lil alamin, jangan sampai siswa dipengaruhi atau diajarkan untuk membenci orang yang berbeda keyakinan atau beda pemahaman ajaran Islam dengan mereka. Kita selalu memberi contoh, maksudnya kita dengan anak-anak maupun dengan guru harus menampilkan perilaku baik, baik itu di kelas maupun di luar kelas.”85

Pernyataan diatas di perkuat oleh Ahmad Faisol Gozali kelas XII IPA mengatakan:

“Iya pak, pak Taufik dalam pelaksanaan pembelajaran PAI selalu mengajarkan kepada kita bagaimana saling menghargai, menjaga kerukunan, kedamaian, dan tolong menolong antar sesama. Dan tidak hanya itu, pak Taufik selalu melakukan pembiasaan kepada

84 Sarbini, Wawancara, Jember, 17 September 2019

85 Taufik Ahmad, Wawancara, Jember, 16 September 2019

kami dengan senyum, salam, sapa. Hal itu membuat kami senang.

Karena itu bisa kami contoh ketika di lingkungan sekolah, lingkungan pondok, maupun dirumah.”86

Hal diatas di perkuat oleh pernyataan Ibu Arifiatun selaku wakil kepala sekolah bahwa dengan diimplementasikan pendidikan agama Islam yang berparadigma rahmatan lil alamin dalam proses pembelajaran, mampu menginternalisasi dan membentuk karakter siswa. Nilai-nilai luhur seperti menghargai kesetaraan, tegur sapa, musyawaroh, keadilan inilah yang mampu menjadi sistem kekebalan bagi pola pikir peserta didik dari idiologi radikal. Hal tersebut ia sampaikan dalam wawancara berikut:

“Dengan diimplementasikan pendidikan agama Islam yang berparadigma rahmatan lil alamin dalam proses pembelajaran maupun kegiatan keseharian, itu mampu menginternalisasikan dan membentuk karakter siswa. Nilai-nilai luhur seperti menghargai kesetaraan, tegur sapa, musyawarah, keadilan inilah yang mampu mampu menjadi sistem kekebalan bagi pola pikir peserta didik dari idiologi radikal.”87

Guru PAI sebagi pendidik di SMA Nuris Jember selalu memberikan didikan kepada siswa bahwa siswa tidak boleh mengejek atau merendahkan tata cara beribadah agama lain karena hal tersebut dapat menimbulkan perpecahan dan siswa tidak boleh menganggap dirinya yang paling benar apalagi menganggap orang lain sesat. Hal itu sebagaimana yang telah disampaikan oleh Bapak Taufik Ahmad dalam hasil wawancara sebagai berikut:

“Sebagai pendidik di dalam mengajar biasanya saya selalu memberikan didikan kepada siswa bahwa siswa tidak boleh mengejek atau merendahkan tata cara beribadah agama lain karena

86 Ahmad Faisol Gozali, Wawancara, Jember, 21 September 2019

87 Arifiatun, Wawancara, Jember, 19 September 2019

Dokumen terkait