• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

B. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini harus dilakukan penentuan lokasi terlebih dahulu.

Adapun lokasi yang dijadikan penelitian bertempat pada di industri kripik

43 Bahder Johan Nasution, Metode Penelitian Ilmu Hukum (Bandung: CV Mandar Maju, 2016), 3.

44 Farida Nugrahani, Metode Penelitian Kualitatif dalam Penelitian Pendidikan Bahasa (Surakarta: 2014), 8.

Alfan Jaya yang berlokasi RT 001 RW 009 Jalan Darungan, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi.

Alasan untuk memilih meneliti tempat ini dikarenakan beberapa hal antara lain:

1. Industri kripik UD Alfan Jaya merupakan usaha yang mempunyai berbagai macam jenis kripik dan mempunyai peluang yang cukup besar.

2. Proses pembuatan yang sederhana dari pengelolaan hingga ke pengemasannya.

3. Adanya daya saing yang semakin besar dan kuat, UD Alfan Jaya masih tetap teguh mempertahankan proses produksi dan pengemasan yang sudah lama.

4. Lokasi UD Alfan Jaya mudah dijangkau dan salah satu tempat yang masih mempertahankan pola pengemasan yang lama.

5. Pelanggannya masih tetap setia.

C. Subjek Penelitian

Untuk menentukan subjek penelitian sebagai sumber informasi dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik purposive atau penentuan informan ditentukan sendiri oleh peneliti dengan pertimbangan tertentu, pertimbangan tertentu tersebut misalnya, orang tersebut dianggap paling mengetauhi tentang permasalahan yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, sumber data yang digunakan adalah sumber data primer dan data sekunder.

1. Data primer

Data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data (peneliti) atau data yang diperoleh langsung dari lapangan (obyek data). Data yang akan didapatkan peneliti yaitu menggunakan wawancara, observasi. Adapun Informan-informan yang dibutuhkan untuk mendapatkan data yaitu:

a. Pemilik UD Alfan Jaya b. Karyawan UD Alfan Jaya c. Konsumen UD Alfan Jaya 2. Data Sekunder

Data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data atau data yang diambil peneliti sebagai bahan pendukung atas penelitian dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Data sekunder yang digunakan oleh peneliti yakni berupa dokumentasi, buku, website yang berkaitan dengan judul penelitian.

D. Teknik pengumpulan data

Peneliti menggunakan beberapa teknik dalam proses pengumpulan data, seperti observasi, wawancara, dan dokumentasi. Masing-masing dari proses tersebut mempunyai peranan penting dalam upaya mendapatkan informasi yang akurat. Adapun pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi sebagai teknik pengumpulan dan mempunyai ciri spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara, kuesioner selalu berkomunikasi dengan orang, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga obyek-obyek yang lain.45

Dalam hal ini peneliti menggunakan observasi non partisipan, dimana peneliti tidak terlibat secara langsung dan hanya sebagai pengamat independen. Adapun yang akan diamati oleh peneliti yaitu:

a. Cara Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya.

b. Efektivitas Pengemasan Tradisional UD Alfan Jaya.

2. Wawancara

Wawancara merupakan salah satu teknik yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan cara mengadakan percakapan secara langsung antara pewawancara (interview) atau peneliti yang mengajukan pertanyaan dengan pihak yang diwawancarai (interview)atau informan yang menjawab pertanyaan tersebut.46

Dalam teknik ini peneliti menggunakan wawancara tidak terstruktur. Dalam artian peneliti melakukan wawancara secara bebas tanpa terpaku pada catatan (pedoman) yang telah peneliti siapkan sebelum melakukan wawancara di lapangan. Adapun wawancara yang akan dilakukan peneliti, yaitu:

45 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2017), 145.

46 M. Djamal, Paradigma Penelitian Kualitatif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), 75.

a. Mengenai profil narasumber.

b. Latar belakang pengemasan tradisional.

c. Cara pengemasan tradisional produk kripik UD Alfan Jaya.

d. Efektivitas pengemasan tradisional UD Alfan Jaya.

3. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, (life histories), cerita, biografi, peraturan, kebijakan.

Dokumen yang berbentuk gambar misalnya foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain.47

Penggunaan teknik ini digunakan untuk memperoleh data-data berupa catatan tertulis maupun peristiwa tertentu yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan data terkait efektivitas pengemasan tradisional UD Alfan Jaya di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. Data yang akan diperoleh dalam teknik pengumpulan data dengan dokumentasi dapat berupa:

a. Foto kegiatan.

b. Sarana dan prasarana.

c. Keadaan lingkungan, dan lain-lain yang mendukung.

47 Sugiyono, Metode Penelitian, 240.

E. Teknik Analisis Data

Analisis Data merupakan proses untuk mencari dan menyusun data secara sistematis, data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi, kemudian peneliti melakukan analisis atau pengolahan data, analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif.

Teknik analisis yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles & Huberman mencakup tiga kegiatan yang bersamaan.48

1. Reduksi Data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari càtatan-catatan tertulis di lapangan. Setelah data secara keseluruhan maka peneliti segera melakukan pemilihan data dari catatan tertulis yang diperoleh dari lapangan, dan pemilihan data tersebut harus berlangsung secara terus menerus selama penelitian kualitatif berlangsung.

2. Penyajian Data yakni alur penting yang kedua. Miles dan Huberman membatasi suatu “penyajian” sebagai sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.49 Setelah mereduksi data kemudian peneliti sajikan data-data yang telah terkumpul tentang cara pengemasan tradisional produk kripik UD Alfan Jaya.

48 Basrowi dan Suwandi, Memahami Penelitian Kualitatif (Jakarta: Rineka Cipta, 2008) 209-210.

49 Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Ranangan Penelitian (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2011), 244.

3. Verifikasi (penarikan kesimpulan) yaitu pembuktian kembali.

Kesimpulan awal hanya bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti kuat yang mendukung pada pengumpulan data berikutnya, tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, maka merupakan kesimpulan yang kredibel. Verifikasi dilakukan untuk mencari pembenaran dan data yang didapat menjadi data yang valid.

F. Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti.50 Lebih jauh lagi, untuk memeriksa keabsahan data, maka peneliti memakai validitas data trianggulasi. Trianggulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Adapun tehnik trianggulasi yang banyak digunakan adalah pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik, dan teori.51

Adapun penelitian ini menggunakan triangulasi sumber yang berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang diperoleh dalam penelitian kualitatif.

50 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2010), 119.

51 Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012), 330.

G. Tahap-tahap Penelitian

Langkah pertama yang dilakukan oleh peneliti adalah mencari permasalahan dan mencari referensi terkait. Peneliti mengambil permasalahan peningkatan penjualan setelah ada perubahan konsep dengan mengangkat judul “efektivitas pengemasan tradisional UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi”. Adapun tahap pra lapangan meliputi:

1. Tahap Pra Lapangan

a. Menentukan lokasi penelitian.

b. Menyusun rancangan penelitian.

c. Mengurus perizinan.

d. Menyiapkan perlengkapan penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan

Setelah mendapatkan izin penelitian, peneliti akan memasuki objek penelitian dan langsung melakukan pengumpulan data dengan observasi dan wawancara untuk mendapatkan informasi yang berkaitan dengan cara pengemasan tradisional produk kripik UD Alfan Jaya dan efektivitas pengemasan tradisional UD Alfan Jaya.

3. Tahap Penyusunan Laporan

Setelah peneliti mendapatkan data, dan data tersebut sudah dianalisis, langkah selanjutnya yang dilakukan oleh peneliti adalah membuat laporan penelitian. Laporan penelitian tersebut kemudian diserahkan kepada dosen pembimbing untuk dikoreksi dan direvisi jika ada kesalahan.

53

BAB IV

PENYAJIAN DATA ANALISIS

A. Gambaran Obyek Penelitian

1. Sejarah UD Alfan Jaya

Awal mula usaha Alfan Jaya berada di Bali dengan berjualan sebagai seorang sales pada tahun 1998 hingga 2004. Pada tahun 2004 mencoba membangun usaha sendiri di Bali dengan menggunakan produk kemasan grosiran. Pada tahun 2015 pindah ke Jawa dan tetap melanjutkan usaha dirumahnya, adapun usaha yang didirikan ialah industri makanan kripik yang sangat beragam. Awalnya proses pengupasan, pengelolaan dan pengiriman dilakukan sendiri. Hingga ia berkembang memiliki empat agen di Bali dan setiap tahunnya menambah karyawan.

2. Profil UD Alfan Jaya

UD Alfan Jaya berdiri pada tahun 2015 dimana sebagai industri makanan kripik. Adapun kripik yang di produksi pada UD Alfan Jaya ini adalah kripik ketela, sukun, ubi ungu, singkong dan pisang. UD Alfan Jaya berlokasi di Krajan I, Setail Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur, Kode Pos 68465 dengan nomor telepon 0823-4133-9090. Pemilik dari UD Alfan Jaya Pak Tobi’i dan memiliki 15 karyawan.

B. Penyajian dan Analisis Data

1. Cara Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi

Sebuah produk akan mudah diingat oleh masyarakat dari segi rasa, jenis dan model atau bentuk kemasannya. Sedangkan untuk menarik pembeli agar rasa ingin mencobanya bahkan hingga ketagihan bisa dilihat dari bentuk kemasannya, karena kemasan yang bagus memiliki daya tarik yang kuat dalam sebuah usaha perniagaan. Pengemasan sebuah produk saat ini mengalami peningkatan berbagai macam bentuk dan gaya. Bahkan pengemasan ini muncul sebab pengaruh teknologi yang semakin meningkat.

Pengemasan yang beragam dan berkarakter dijadikan sebagai bukti bahwa produk tersebut milik seorang pengusaha yang jelas. Namun terdapat pula sebuah produk yang dibungkus dengan pengemasan tradisional seperti daun pisang, kertas koran, plastik ukuran besar, dan janur kelapa muda. Hal tersebut terdapat pada UD Alfan Jaya yang masih tetap menggunakan sistem pengemasan tradisional meskipun usahanya telah berdiri sejak 2014, dengan beberapa alasan seperti menjadi ciri khas selain rasa yang enak dan gurih. Sebagaimana yang disampaikan oleh Bapak Tobi’I selaku pemilik usaha kripik UD Alfan Jaya berkata bahwa:

“Kami disini memproduksi 4 jenis bahan yang diproses menjadi kripik antara lain singkong, ubi ungu, pisang dan sukun. Dari keempat jenis tersebut hanya ada satu yang mudah di dapat yaitu singkong sedangkan lainnya kita mengalami kesulitan, namun hal tersebut tetap kita upayakan untuk selalu ada, hanya saja tidak semudah kripik singkong. Untuk proses pembuatannya sama

seperti yang lainnya hanya saja pengemasan kripiknya yang berbeda yaitu dengan sistem bal-balan atau sekala besar sekitar 5 kg perbungkus. Proses pengemasannya itu ada beberapa langkah yaitu kripik yang sudah di goreng harus didinginkan di atas meja khusus terlebih dahulu selama 10 menit agar minyaknya turun dan kripiknya lebih dingin. Selanjutnya kripik tersebut dimasukkan atau dibungkus sesuai ukurannya yaitu isi 5 kg, namun ada juga yang berisi 2 kg. Setelah dimasukkan kripik yang sudah di bungkus tidak boleh di ikat terlebih dahulu sekitar 15 menit agar hawa panasnya keluar, sehingga kripik tetap bagus dan tidak hancur. Setelah selesai baru di ikat dan di tata dengan baik agar kripik tidak pecah atau hancur.52

Hal tersebut juga diutarakan oleh Bapak Ajir selaku karyawan bagian pengemasan produk kripik UD Alfan Jaya berkata bahwa:

“Untuk pengemasannya saya mempersiapkan bungkus dan alat untuk memasukkan kripiknya. Setelah semuanya siap saya memastikan terlebih dahulu apakah kripik ini sudah siap di bungkus atau tidak dengan memperhatikan tingkat kepanasannya.

Kalau baru diangkat dari tempat penggorengan lalu mau di bungkus yang ada tempat bungkusnya rusak dan hasilnya tidak bagus. Setelah semua dirasa siap maka saya mulai mengemas dengan hati-hati agar kripiknya tidak hancur. Sesuaikan dengan isi dan pesanan yaitu 2-5 kg. Kripik yang sudah di kemas lalu di tata berdiri tanpa diikat ujungnya agar sisa panasnya keluar terlebih dahulu. Setelah di rasa dingin maka selanjutnya di ikat dan di tata sesuai dengan isinya.53

Pernyataan tersebut diperkuat oleh Ibu Ima selaku karyawan bagian pengemasan produk kripik UD Alfan Jaya berkata bahwa:

“Iya betul sekali mbak… Pengemasan kripik ini membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit agar medapatkan hasil yang bagus.

Sebenarnya bisa lebih cepat tanpa harus menunggu, hanya saja hasilnya pasti tidak bagus karena hasil kripiknya menjadi banyak minyaknya, kripik mudah hacur, bungkus kripik akan rusak akibat panas dari kripik tersebut. Dengan demikian prosesnya harus sabar dan hati-hati agar kripiknya tidak hancur.”54

52 Tobi’I, diwawancarai oleh peneliti, Banyuwangi, 24 Januari 2023.

53 Ajir, diwawancarai oleh peneliti, Banyuwangi, 15 Maret 2023.

54 Ima, diwawancarai oleh peneliti, Banyuwangi, 02 April 2023.

Dari hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di UD Alfan Jaya telah ditemukan bahwa:

“Peneliti melihat dan menyaksikan proses pengemasan produk kripik yang masih tradisional menggunakan plastik bening dengan berat 2-5 kg. Bahkan teknik pengemasannya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit agar kripiknya tetap bagus.”

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa langkah cara pengemasannya yaitu kondisi kripik harus dingin dan minyaknya turun terlebih dahulu, mempersiapkan alat-alat yag dibutuhkan dalam proses pengemasan seperti alat memasukkannya dan bungkusan plastik yang beratnya bisa menampung 2 sampai 5 kg. Setelah siap semua proses pengemasan sudah bisa di mulai dan dilakukan dengan hati-hati agar tidak hancur. Kripik yang sudah di bungkus lalu diletakkan secara rapi berdiri dengan ujung atas tidak di ikat sehingga sisa panasnya bisa keluar. Lama waktu menuggunya yaitu kurang lebih 30 menit. Setelah dirasa dingin baru ujungnya di ikat dan di tata dengan rapi agar tidak hancur.

2. Efektivitas Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi

Sebuah usaha pasti memiliki sebuah strategi agar bisa mewujudkan tujuannya. Namun perlu diketahui bersama bahwa strategi bisa memberikan dampak yang baik atau malah sebaliknya. Maka dengan hal itu perlunya sebuah pemahaman bagi pelaku usaha agar rencana yang telah ditata dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Rencana bisa

berjalan efektif apabila masyarakat merasa nyaman dan relevan terhadap produk yang diterimanya, atau bahkan syarat-syarat penunjang harus lengkap dan siap digunakan, seperti dalam hal pengemasan produknya dari segi kriteria bahan untuk membungkus, informasi yang tercantum pada bungkus produknya, daya tahan dan tampung serta izin resmi usaha yang diberikan oleh pemerintah setempat.

UD Alfan Jaya adalah tempat yang memproduksi sebuah kripik yang dikemas dengan gaya tradisional meskipun di luar sana sudah banyak sekali inovasi-inovasi perihal kemasan sebuah produk. Meskipun menggunakan pengemasan tradisional daya jual kripik di UD Alfan Jaya tidak kalah bersaing dengan produk-produk kripik yang sudah menggunakan pengemasan modern. Akan tetapi nilai efektifitas dari pengemasannya masih belum efektif. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak Tobi’i selaku pemilik usaha kripik UD Alfan Jaya berkata bahwa:

“Sebenarnya jika dilihat dari segi efektif pengemasannya, produk kami masih belum efektif, saya berkata jujur seperti ini karena memang itu fakta yang ada. Buktinya bisa dilihat pada kemasannya yang tidak mencantumkan sertifikasi halal atau izin resmi dari pemerintah setempat. Jadi pengemasan produk kripik ini masih dalam bentuk polosan tidak ada informasi resmi di luarnya. Hal lain juga dalam prosedur pengemasan, target penjualan kami masih belum tertulis secara jelas, bahkan kriteria pengemasan yang benar masih belum ada. Biasanya kami hanya mengarahkan ketika ada kesalahan dalam pengemasan produk kripik.”55

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibu Ima selaku karyawan bagian pengemasan produk kripik UD Alfan Jaya berkata bahwa:

55 Tobi’I, diwawancarai oleh peneliti, Banyuwangi, 24 Januari 2023.

“Saya tidak faham perihal efektif itu mbak… Tapi kalau informasi yang ada di luar bungkusan itu memang tidak ada sama sekali, hanya saja kita mengetahui jenis-jenis kripiknya meskipun sudah masuk dalam bungkusan itu. Kalau perihal pengawasan dari pemerintah setempat masih belum ada dan izin secara resmi juga belum ada. hal lain seperti tujuan, target rencana dan prosedur itu masih belum jelas juga. Saya hanya mengikuti permintaan dari pemilik disini, maunya seperti apa dan bentuk yang benar itu seperti apa mengkuti kemauan dari pemilik saja.”56 Hal tersebut diperkuat oleh Ibu Fatima selaku karyawan bagian pengemasan produk kripik UD Alfan Jaya berkata bahwa:

“Yang saya ketahui kalau perihal izin dari pemerintah setempat sudah ada, tapi kalau yang berlabel halal itu masih belum ada, hanya saja hal itu tidak dicantumkan pada bungkusan itu.

Mungkin alasannya itu karena kripik ini sudah di pesan oleh pelanggan sendiri yang selanjutnya akan diperjualbelikan kembali. Untuk selebihnya saya tidak faham mbak…”

Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibu Ratih selaku pelanggan dari produk kripik UD Alfan Jaya berkata bahwa:

“Saya membeli kripik disini karena ingin saya jual kembali dengan model bungkusan yang berbeda. Kalau pengemasan yang dari UD Alfan Jaya itu memang tidak ada labelnya sama sekali, ya polosan gitu. Dan alasan saya mengambil di tempat tersebut karena pelanggan saya banyak yang cocok juga meskipun kripiknya ini tidak memiliki informasi secara detail seperti komposisi, izin, berat dan nama produknya itu. Kalau kripik yang saya jual menggunakan kemasan yang lebih menarik dan memberikan informasi di luar kemasannya itu.”57

Hasil observasi yang dilakukan oleh peneliti di UD Alfan Jaya telah ditemukan bahwa:

“Peneliti melihat kemasan kripik miliki UD Alfan Jaya tidak tercantum informasi apapun. Baik itu target penjualan, produksi, kriteria pengemasan yang benar dan kontak person sebagai bentuk menerima kritik dari konsumen juga tidak ada.”

56 Ima, diwawancarai oleh peneliti, Banyuwangi, 02 April 2023.

57 Ratih, diwawancarai oleh peneliti, Banyuwangi, 02 April 2023.

Berdasarkan data wawancara dan observasi di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengemasan tradisional pada produk kripik UD Alfan Jaya masih belum memenuhi kriteria efektif. Hal tersebut dapat dilihat dari kemasan yang dipakai tidak terdapat informasi apapun bahkan tidak ada informasi mengenai rencana dan tujuan penjualan, prosedur pengemasan yang sesuai dengan selera juga tidak ada, hanya saja ketentuan benar atau tidaknya pengemasan tergantung dari kemauan dari pemiliknya.

C. Pembahasan Temuan

Dari data yang telah diperoleh melalui interview, observasi, dan dokumentasi, kemudian disajikan dalam bentuk penyajian data dan analisis.

Kemudian data yang diperoleh, diolah kembali sesuai dengan fokus penelitian. Adapun temuan-temuan dilapangan adalah sebagai berikut:

1. Cara Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi

Pengemasan sebuah produk saat ini mengalami peningkatan berbagai macam bentuk dan gaya. Bahkan pengemasan ini muncul sebab pengaruh teknologi yang semakin meningkat. Pengemasan yang beragam dan berkarakter dijadikan sebagai bukti bahwa produk tersebut milik seorang pengusaha yang jelas. Namun terdapat pula sebuah produk yang dibungkus dengan pengemasan tradisional seperti daun pisang, kertas koran, plastik ukuran besar, dan janur kelapa muda.

Dalam penelitian ini, telah ditemukan bahwa terdapat beberapa langkah cara pengemasannya yaitu kondisi kripik harus dingin dan minyaknya turun terlebih dahulu, mempersiapkan alat-alat yag dibutuhkan dalam proses pengemasan seperti alat memasukkannya dan bungkusan plastik yang beratnya bisa menampung 2 sampai 5 kg. Setelah siap semua proses pengemasan sudah bisa di mulai dan dilakukan dengan hati-hati agar tidak hancur. Kripik yang sudah di bungkus lalu diletakkan secara rapi berdiri dengan ujung atas tidak di ikat sehingga sisa panasnya bisa keluar. Lama waktu menuggunya yaitu kurang lebih 30 menit.

Setelah dirasa dingin baru ujungnya di ikat dan di tata dengan rapi agar tidak hancur.

Temuan di atas terdapat kesesuaian dengan teori yang mengatakan bahwa kemasan sebagai kegiatan penempatan produk ke dalam wadah, tempat isi, atau yang sejenis yang terbuat dari timah, kayu, gelas, besi, baja, plastik, selulosa transparan, kain, karton, atau material lainnya, yang dilakukan oleh produsen atau pemasar untuk disampaikan kepada konsumen.58 Dengan begitu pengemasan harus sesuai dengan syarat-syaratnya yaitu:59

a. Sebagai Tempat

Kemasan harus dibuat dari bahan-bahan yang menyesuaikan dengan bentuk produk.

58 Danang Sunyoto Dasar-dasar Manajemen Pemasaran: Konsep, Strategi, dan Kasus (Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service, 2014), 119.

59 Sofjan Assauri, Manajemen Pemasaran (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 209-210.

b. Menarik

Kemasan sebaiknya dibuat dengan semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian calon konsumen, sehingga melakukan pembelian bahkan menjadi pelanggan..

c. Dapat Melindungi

Penjualan suatu produk dipengaruhi oleh kualitas produk itu sendiri. Maka, disinilah peran kemasan diperlukan untuk melindungi produk agar tetap memiliki kualitas yang baik selama proses distribusi.

d. Praktis

Kemasan hendaknya dibuat dengan sepraktis mungkin agar ringan, mudah dibawa, serta mudah dibuka dan ditutup kembali.

Hal ini untuk memudahkan konsumen agar mereka tidak merasa kesulitan dalam menggunakan produk.

e. Menimbulkan Harga Diri

Kemasan yang dibuat dengan menarik biasanya otomatis dapat menimbulkan harga diri bagi konsumen yang membelinya.

f. Ketepatan Ukuran

Ukuran kemasan harus diperhatikan karena erat hubungannya dengan harga. Produk dengan kemasan kecil dimaksudkan agar konsumen yang memiliki daya beli rendah tetap mampu membeli produk tersebut karena harganya lebih murah dibandingkan dengan

Dokumen terkait