SKRIPSI
Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh
gelar Sarjana Ekonomi (S.E) Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam
Jurusan Ekonomi Islam Program Studi Ekonomi Syariah
Disusun Oleh:
Dio Feni Arun Nadifah NIM: E20182275
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI KYAI HAJI ACHMAD SIDDIQ JEMBER FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
JUNI 2023
iv
Artinya: Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (Qs Al-Isra: 35).*
* Kementerian Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahannya (Jakarta Timur: Pustaka Al-Mubin, 2013), 285.
v
1. Bapak Sunari dan Ibu Sunaiyah selaku orang tua yang selalu memberikan kasih sayang, semangat, cucuran keringat, perjuangan nasehat yang tiada hentinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, membesarkan dan membiayai tanpa mengeluh, baik berupa materil maupun spiritual serta mengalirkan doa untuk kebahagiaan putra bungsunya didunia maupun di akhirat nanti dan demi keberhasilannya mencapai cita-cita serta harapan yang lebih baik.
2. Kakakku Firda Silvia selaku kakak yang selalu memberikan support dan doa untuk adiknya agar mencapai cita-cita serta harapan yang lebih baik.
Teruntuk adikku Salwatul Aisyah terimakasih telah memberi dukungan dan selalu menghibur disaat ada dititik capek untuk menyelesaikan skripsi ini.
3. Guru sekolah mulai dari SD sampai MA, dan guru mengaji yang telah memberikan ilmunya kepada saya.
4. Dosen-dosen FEBI yang telah memberikan ilmunya kepada saya, semoga ilmu yang diberikan dapat bermanfaat sebagai bekal kehidupan di dunia maupun di akhirat.
5. Sahabatku Firda Trisna Wardani, Novita Sari, dan Nusaibah Azizah yang saling menyemangati, mendengarkan, saling memberi solusi atas masalah yang ada dan saya juga bisa belajar dari pengalaman mereka.
6. Teman-teman kelas Ekonomi Syariah 1 dan teman angkatan 2018 Ekonomi Syariah yang telah memberikan semangat kepada saya.
vi
hidayahnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan judul “Efektivitas Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi”. Dan tak lupa pula sholawat selalu dipanjatkan kepada Rasulullah SAW semoga selalu mendapat syafaatnya.
Manusia memiliki kekurangan dan kekhilafan sama seperti halnya penulis jauh dari kata sempurna dalam menyelesaikan skripsi ini karena kurangnya pengetahuan. Dengan demikian saya selaku penulis masih membutuhkan kritikan dari pembaca agar tulisan ini dapat lengkap dan sesuai harapan.
Selesainya skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan kerjasama yang baik dari pihak-pihak sekalian, dengan ini terimaksih penuli ucapkan untuk:
1. Bapak Prof. Dr. H. Babun Suharto, S.E. MM., selaku Rektor UIN KHAS Jember.
2. Bapak Dr. Khamdan Rifa’i, S.E, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam.
3. Ibu Dr. Nikmatul Masruroh, S.H.I, M.E.I selaku Ketua Jurusan Ekonomi Islam.
4. Bapak M.F. Hidayatullah, S.H.I., M.S.I, selaku Koordinator Program Studi Ekonomi Syariah.
5. Bapak Dr. Abdul Rokhim, S.Ag, M.E.I selaku dosen pembimbing.
vii
8. Seluruh staf Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
9. Bapak Tobi’I selaku pemilik usaha kripik UD. Alfn Jaya dan seluruh karyawan yang telah mendukung dan membantu selama melakukan penelitian di lapangan.
10. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
11. Almamaterku tercinta UIN KHAS Jember.
Selanjutnya penulis sangat terbuka dengan kritikan dan saran pada kepenulisan ini agar dapat menghasilkan karya ilmiah yang lebih baik lagi.
Selebihnya penulis memasrahkan kepada Allah agar pembca mendapat manfaat dari skripsi ini.
Jember, 27 Juni 2023
Dio Feni Arun Nadifah NIM. E20182275
viii
Kata Kunci: Efektivitas, Pengemasan Tradisional, Produk Kripik
Teknologi pengemasan semakin terus berkembang dari waktu ke waktu dan dimulai proses pengemasan yang sederhana atau tradisional hinga pengemasan yang sifatnya modern. Seiring dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup, pengemasan makanan secara tradisional mulai ditinggalkan oleh masyarakat Karena dinilai kurang higienis, kurang praktis dan kurang memiliki daya tarik terhadap konsumen. Dan sampai Saat ini pengemasan merupakan salah satu faktor penting dalam persaingan dunia usaha. Hampir semua orang membutuhkan kemasan untuk setiap produknya. Selain sebagai alat pelindung dari kerusakan, kemasan juga berfungsi sebagai nilai yang estetika dan menjadi alasan mengapa orang memilih atau membeli produk tersebut.
Dengan Fokus Penelitian: 1) Bagaimana Cara Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi?. 2) Bagaimana Efektivitas Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi?.
Tujuan Penelitiannya: 1) Untuk Mendeskripsikan Cara Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi. 2) Untuk Mendeskripsikan Efektivitas P Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi.
Pendekatan yang digunakan dalam penulisan skripsi ini ialah jenis pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif merupakan jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak didapatkan dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau menggunakan angka-angka, karena pendekatan kualitatif digunakan sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.
Hasilnya: 1) Langkah cara pengemasannya yaitu kondisi kripik harus dingin dan minyaknya turun terlebih dahulu, mempersiapkan alat-alat yag dibutuhkan dalam proses pengemasan seperti alat memasukkannya dan bungkusan plastik yang beratnya bisa menampung 2 sampai 5 kg. 2) Pengemasan tradisional pada produk kripik UD Alfan Jaya masih belum memenuhi kriteria efektif. Hal tersebut dapat dilihat dari kemasan yang dipakai tidak terdapat informasi apapun bahkan label halal juga tidak tercantum, tidak ada informasi mengenai rencana dan tujuan penjualan, prosedur pengemasan yang sesuai dengan selera juga tidak ada, hanya saja ketentuan benar atau tidaknya pengemasan tergantung dari kemauan dari pemiliknya.
ix
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
MOTTO ... iv
PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... xi
BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian ... 1
B. Fokus Penelitian ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Manfaat Penelitian ... 6
E. Definisi Istilah ... 7
F. Sistematika Pembahasan ... 9
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Penelitian Terdahulu ... 11
B. Kajian Teori ... 22
BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian... 45
B. Lokasi Penelitian ... 45
x
F. Keabsahan Data ... 51 G. Tahap-tahap Penelitian ... 52 BAB IV PEMBAHASAN
A. Gambaran Obyek Penelitian ... 53 B. Penyajian Data dan Analisis... 54 C. Pembahasan Temuan ... 59 BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ... 66 B. Saran ... 67 DAFTAR PUSTAKA ... 68 Pernyataan Keaslian Tulisan
Lampiran-lampiran Biodata Penulis
xi
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian
Tantangan yang dihadapi di Indonesia pada zaman era integrasi ekonomi Asean tidak hanya persaingan dengan Negara sesama Asean dan Negara lain di luar Asean, tetapi juga yang bersifat internal di dalam negeri termasuk kesiapan wilayah daerah/kota. Demikian juga dengan pelaku usaha di Indonesia dan produknya, yang harus mampu bersaing dengan produktif dan berksenimbungan. Adapun salah satu upaya agar mampu bersaing dalam era ini, maka semua permasalahan yang teridentifikasi, harus segera terselesaikan. Salah satu penyebab masalah yang muncul adalah kemasan yang justru selalu menjadi permasalahan bagi produk industri kecil dan menengah sektor makanan dan minuman. Walaupun dari sisi rasa dan dipandang enak, tetapi karena kemasan tidak menarik, maka banyak produk yang tidak laku. Kemasan sebagai sarana komunikasi dan informasi dari suatu produk. Sehingga kemasan sebaiknya bersifat information, dan mempunyai label yang jelas dan akurat, dan sesuai dengan peraturan label dan periklanan dan yang menarik.2
Perekonomian dunia bisnis ritel yang semakin meluas dan meningkat dengan perkembangan teknologi dan informasi. Sehingga perusahaan dihadapi dengan meningkatnya persaingan bisnis, perusahaan semakin
2 R.P.Much.Muchtar, Hidayat, dkk,“Perbaikan Kemasan dan Palebelan Produk kripik Singkong Madura untuk Mewujudkan Pelaku Usaha Mandiri Menyongsong Tantangan Masyarakat Ekonomi Asean yang Berkelanjutan”, Jurnal Abdiraja, 1 (September, 2018): 1.
bersaing untuk memajukan teknologi perusahaannya. Dan tidak hanya untuk memajukan teknologi perusahaanya, tetapi perusahaan pun harus berinovasi dan kreatif untuk membuat strategi pemasaran yang efektif. Strategi pemasaran yang efektif harus melihat perkembangan zaman agar mampu bersaing dengan perusahaan lain yang sejenis. Bisnis ritel merupakan sarana sebagai mata rantai yang menghubungkan produsen dan konsumen akhir.
Produk yang dijual biasanya merupakan produk untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga seperti sembilan bahan produk. Bisnis ritel di Indonesia memberikan manfaat yang signifakan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan mampu menyerap banyak banyak sumber daya manusia di Indonesia.3
Teknologi pengemasan semakin terus berkembang dari waktu ke waktu dan dimulai proses pengemasan yang sederhana atau tradisional hinga pengemasan yang sifatnya modern. Seiring dengan perkembangan teknologi dan gaya hidup, pengemasan makanan secara tradisional mulai ditinggalkan oleh masyarakat karena dinilai kurang higienis, kurang praktis dan kurang memiliki daya tarik terhadap konsumen. Saat ini pengemasan merupakan salah satu faktor penting dalam persaingan dunia usaha. Hampir semua orang membutuhkan kemasan untuk setiap produknya. Selain sebagai alat pelindung dari kerusakan, kemasan juga berfungsi sebagai nilai yang estetika dan menjadi alasan mengapa orang memilih atau membeli produk tersebut.
Singkong merupakan salah satu produk pertanian yang bisa dijadikan unit
3 Arum Wahyuni Purbohastuti, “Efektivitas Bauran Pemasaran pada Keputusan Pembelian Konsumen Indomaret”, Jurnal Sains Manajemen, 7 (Juni, 2021): 1.
bisnis karena manfaat yang diperoleh dari pertanian singkong cukup banyak salah satunya adalah dengan mengolah singkong menjadi kripik karena usaha pasar yang masih sangat luas.
Adapun cara-cara pengemasan dan pemberian label yang baik serta menarik tentu sangat diperlukan dalam mendukung suatu produk makanan.
Sayangnya masih belum semua produsen seperti UMKM dapat menerapkannya. Sampai saat ini pun kemasan produk masih merupakan masalah bagi para pengelola usaha, khususnya UMKM. Permasalahan tentang kemasan produk dan labelnya terkadang menjadi kendala bagi perkembangan atau kemajuan suatu usaha. Banyak persoalan yang muncul ketika suatu usaha ingin memiliki suatu kemasan produk yang baik, berkualitas, dan memenuhi standart nasional yang ada. Bagi para pengelola UMKM dengan segala keterbatasan modal usaha sebaiknya permasalahan tentang kemasan bisa ditangani dengan keunikan dan kreativitasnya.
Kemasan yang baik dan menarik tidak selalu identik dengan harga kemasan yang mahal. Dengan hanya bahan pengemasan yang biasa-biasa saja, asalkan dirancang sedemikian rupa baik bentuk maupun desain labelnya pasti akan tercipta sebuah kemasan yang tidak kalah bersaing dengan kemasan-kemasan modern saat ini.4
Mitra adalah rumah usaha barang atau perusahaan kecil. Dikatakan sebagai perusahaan kecil karena semua jenis kegiatan ekonomi ini dipusatkan dirumah. Mitra berarti industri rumah tangga, karena termasuk usaha kecil.
4 Made semariyani, “Pengemasan dan Strategi Pemasaran Produk Pangan di Desa Sulangai”, Community Services Journal (CSJ), 2 (Januari, 2019): 24.
Dikatakan sebagai perusahaan kecil karena jenis kegiatan ekonomi ini dipusatkan di rumah. Mitra dapat berarti industri rumah tangga, karena termasuk usaha kecil yang dikelola keluarga di rumah. Dapat dilihat bahwa semakin banyak masyarakat yang terjun ke dunia bisnis, dengan membuka usaha sendiri, baik skala kecil, menengah, dan skala besar dalam berbagai sektor akan mempengaruhi pertumbuhan usaha.
Sebagai penyedia lapangan pekerjaan baru dan mengurangi jumlah pengangguran dan kemiskian keberadaaan mitra perlu diperhitungkan dengan baik dan diperhatikan oleh pemerintah. Dari penyerapan tenaga kerja dengan seleksi yang baik dan bermutu akan menimbulkan banyak wirausaha baru yang mempengaruhi prilaku berwirausaha dari mitra tersebut. Menyadari pentingnya peran industri diperumahan dan didaerah pedesaan. Dapat dikatakan bahwa mitra dari kripik Alfan Jaya juga menjadi penyedia lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitar terutama ibu-ibu rumah tangga sebagai pekerjaan sampingan, sehinga dapat membantu untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Industri rumahan telah banyak berkembang di Indonesia, baik di kota-kota kecil diseluruh pelosok negeri dan eksistensinya tidak dapat diabaikan.5
Produk keripik Alfan Jaya berdiri pada tahun 2004 dengan di latar belakangi berawal ikut bekerja dengan orang lain hingga berinisiatif untuk membangun usaha sendiri pada tahun 2014 hingga sekarang. Alfan Jaya merupakan industri makanan kripik dengan pemilik bernama pak Tobi’i.
5 Andi Suryadi, “Pemberdayaan Keluarga Melalui Usaha kripik ubi pedas Azizah di Desa Sedinginan Kabupaten Rokan Hilir”, (Skripsi, Universitas Islam Negri Suska Riau, 2022), 1.
Beliau memproduksi berbagai macam jenis kripik seperti kripik tela, sukun, ubi ungu dan pisang. Semakin berjalannya waktu usaha yang dirintis oleh Bapak Tobi’i mulai meluas ke beberapa daerah, akan tetapi perkembangan tersebut menjadi tantangan tersendiri melihat banyaknya pesaing yang datang dengan gaya, rasa dan nama baru untuk memikat para pembeli. Alfan Jaya yang sudah berdiri sejak 9 tahun terakhir tetap mempertahankan gaya pengemasan dengan model sederhana yaitu bal-balan atau ukuran besar meskipun para kompetitornya sudah menggunakan gaya yang lebih modernisasi. Hal tersebut dilakukan karena sudah menjadi ciri khas tersendiri bagi Alfan Jaya dan meskipun pengemasan masih terbilang tradisional masih banyak masyarakat yang lebih memilih pengemasan seperti itu. Alasan lain yang menjadikan Alfan Jaya tetap menggunakan sistem pengemasan lama karena kripik hasil produksinya akan diperjualbelikan kembali dengan gaya dan model terbaru oleh agennya. Dengan demikian perlu diperhatikan kembali bahwa mangsa pasar yang semakin modern dan meningkat besar kemungkinan bisa menghacurkan gaya pengemasan yang seperti itu. Bukan hanya itu saja para agen yang sudah berlangganan lama bisa meniru resep kripiknya hingga nantinya bisa menghancurkan usaha yang telah lama dirintisnya.6
Berdasarkan pemaparan di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Efektivitas Pengemasan Tradisional Produk
6 Dio Feni Arun Nadifah, Observasi, Banyuwangi 27 Desember 2022
Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi”.
B. Fokus Penelitian
Melalui konteks penelitian yang telah peneliti paparkan tersebut di atas, terdapat beberapa problematika dalam pembahasan ini yang dapat peneliti rumuskan, yaitu:
1. Bagaimana Cara Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi?
2. Bagaimana Efektivitas Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi?
C. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini, yaitu:
1. Untuk Mendeskripsikan Cara Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi.
2. Untuk Mendeskripsikan Efektivitas P Pengemasan Tradisional Produk Kripik UD Alfan Jaya Di Desa Setail Kecamatan Genteng Kabupaten Banyuwangi.
D. Manfaat Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, manfaat dalam penelitian ini adalah:
1. Manfaat Teoritis
Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan dan wawasan ilmu terkait cara pengemasan tradisional produk kripik dan efektivitas pengemasan tradisional UD Alfan Jaya.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti
Semoga bisa menjadi tambahan pengalaman dalam hal penulisan karya ilmiah dan bisa memenuhi tugas akhir perkuliahan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (S.E) dari Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam UIN KIAI HAJI ACHMAD SIDDIQ Jember.
b. Bagi UD Alfan Jaya
Hasil penelitian yang dilakukan dapat memberi manfaat sebagai bahan informasi dan masukan bagi pihak manajemen instansi dalam melaksanakan efektivitas pengemasan tradisional produk kripik.
c. Bagi UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember
Semoga dengan adanya penelitian ini lembaga pendidikan tinggi termasuk UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember mampu memberikan kontribusinya dalam efektivitas pengemasan tradisional pada produk kripik.
E. Definisi Istilah
Dalam judul penelitian ini terdapat kata yang harus diperjelas agar tidak terjadi kesalahpahaman antara pembaca dengan penulis, adapun istilah yang dimaksud:
1. Efektivitas
Efektivitas adalah suatu ukuran yang menyatakan seberapa jauh target (kualitas, kuantitas dan waktu) yang telah dicapai oleh manajemen, yang mana target tersebut sudah ditentukan terlebih dahulu.7 Dimana makin besar presentase target yang dicapai, makin tinggi efektivitasnya.
Dan efektivitas tidak dapat dilihat dari sisi produktivitasnya tetapi juga dapat dilihat dari sisi persepsi atau sikap individu. Efektivitas berkaitan dengan tingkat kebenaran, keberhasilan dan kesalahan dari suatu organisasi untuk membuat perbandingan dengan kebenaran dan ketepatan. Semakin rendah tingkat kesalahan yang terjadi maka semakin dapat mendekati ketepatan dalam melakukan pelaksanaan setiap aktivitas atau pekerjan yang di bebankan.8
2. Pengemasan Tradisional
Secara umum, kemasan diartikan sebagai wadah atau pembungkus yang berguna untuk mencegah atau meminimalisir terjadinya kerusakan pada barang yang dikemas. Bagi banyak jajanan tradisional, kemasan tersendiri menjadi satu masalah di era modern. Terdapat anggapan bahwa jajanan tradisional itu kurang keren karena dapat ditemui dengan mudah di pasar tradisional, dikemas seadanya, tanpa kemasan yang menarik.
Kemasannya yang terkesan standar dan identik tidak higienis, tidak praktis dan seolah-olah tidak layak dipandang oleh konsumen. Konotasi
7 Nashar. Kualitas Pelayanan Akan Meningkat Kepercayaan Masyarakat (Pamekasan: CV. Duta Media Publishing, 2020), hal. 8.
8 Muh. Yusri Abadi, dkk. Efektivas Kepetahuan Terhadap Protokol Kesehatan Covid-19 Pada Pekerja Sektor Informal Di Kota Makasar (Ponorogo: CV. Uwais Inspirasi Indonesia, 2019), 2.
makanan yang standart ini membuat jajanan tradisional memiliki mitra yang tidak dapat menjangkau pasar yang lebih luas atau menjadi produk khas suatu daerah. Salah satu yang mungkin menjadi nilai tambahan lagi bagi kemasan yang baik dan benar adalah terbangunnya loyalitas pembeli atau konsumen, namun inovasi yang kecil sekalipun jika dilakukan secara tepat akan memberikan nilai tambah yang signifkan bagi produk yang dihasilkan. Salah satu pertambahan nilai yang mungkin kecil dan tidak mengubah secara signifkan produk adalah pemberian kemasan yang baik dan menarik. Pemberian kemasan seperti ini akan memberikan kesan pada produk yang dihasilkan bahwa produsen telah bersungguh- sungguh mengolah produk tersebut dengan baik dan penuh perhatian.
Dengan begitu produk akan lebih siap untuk dipasarkan dan dijadikan sebagai buah tangan. Kemasan yang baik juga dapat menjadi sarana promosi bagi produk-produk lainnya, dengan melihat kemasan yang menarik pembeli juga kemungkinan akan membelanjakan uangnya lebih banyak karena rasa penasaran mereka pada produk-produk yang dihasilkan. 9
F. Sistematika Pembahasan
Untuk memperoleh gambaran yang jelas serta mempermudah dalam pembahasan, maka secara keseluruhan dalam penelitian skripsi ini terbagi menjadi lima bab, diantaranya:
10 Mujirin M. Yamin, dkk, “Sosialisasi Pengemasan Kue Tradisional di Desa Sepabatu, Kec.
Tinambung, Kab. Polewali Mandar”, Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat, (2018): 33.
BAB I pendahuluan, yang berisi konteks penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, metode penelitian, serta sistematika pembahasan. Adapun fungsi dari bab ini adalah untuk memperoleh gambaran secara umum mengenai pembahasan penelitian yang dilakukan oleh peneliti dalam skripsi.
BAB II kajian kepustakaan, yang berisi tentang ringkasan penelitian terdahulu yang memiliki relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan pada saat ini serta memuat tentang kajian teori.
BAB III metode penelitian, yang berisi tentang metode yang digunakan peneliti yang meliputi pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, sumber data, metode pengumpulan data, keabsahan data dan yang terakhir tahapan-tahapan penelitian.
BAB IV hasil penelitian, yang berisi tentang inti atau hasil penelitian, objek penelitian, penyajian data, analisis data dan pembahasan temuan.
BAB V kesimpulan dan saran, yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian yang dilengkapi dengan saran dan peneliti.
11
BAB II
KAJIAN KEPUSTAKAAN
A. Penelitian Terdahulu
Agar tidak terjadi pengulangan pembahasan maupun penelitian, maka diperlukan wacana atau pengetahuan tentang penelitian-penelitian sejenis yang membahas tentang tindak pidana pengonsumsi minuman beralkohol antara lain:
1. Ari Putra pada tahun 2018 dengan judul “Perancangan Kemasan Canggoreng Sa`ma Polewali Mandar”.
Hasil dari penelitian ini perancangan bertujuan untuk membuat desain kemasan mengenai khas tradisional yang ada di polewali mandar.
Kumpulan data dalam perancangan berupa metode data primer dan sekunder yang berupa observasi dan wawancara ke toko-toko khas tradisional yang ada di polewali mandar serta dokumentasi. Konsep desain kemasan yang akan dilakukan menggunakan konsep desain ramah lingkungan, dari konsep tersebut dihasilkan gambaran ilustrasi Vector dari bahan olahan dan bentuk produk Canggoreng Sa`ma, agar dapat memberikan informasi kepada mereka yang sedang mencari makanan khas tradisional khususnya Canggoreng Sa`ma, agar dapat memberikan informasi kepada mereka yang sedang mencari makanan khas tradisional khususnya Canggoreng Sa`ma Polewali Mandar.10 Perbedaan dalam penelitian oleh Ari Putra berfokus pada desain kemasan mengenai khas
10 Ari Putra, “Perancangan Kemasan Canggoreng Sa`ma Polewali Mandar,” (Skripsi, Universitas Negeri Makassar, 2018).
yang ada di Polewali sedangkan peneliti berfokus pada pengemasan tradisional. Persamaan penelitiaan ini yaitu sama-sama membahas tentang kemasan produk.
2. Bianca Averiliandia Pribadi pada tahun 2019 dengan judul “Komparasi Model Kemasan Aktif Terhadap Umur Simpanan Bakpia Pathok Coklat”.
Hasil dari penelitian ini adalah untuk mengetahui komparasi model kemasan konvensinal dan model kemasan aktif pada bakpia pathok coklatterhadap kadar air, asam lemak bebas, angka TBA, angka kapang/khamir dan organoleptik meliputi warna, aroma dan tekstur.11 Perbedaannya terletak pada metode peelitian yaitu penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif, sedangkan peneliti menggunakan metode kualitatif. Persamaan penelitiaan ini adalah sama-sama menjelaskan tentang model kemasan.
3. Sheila Andita Putri, Teuku Zulkarnain Muttaqien, dan Asep Sufyan Muhakik Atamtajani pada tahun 2019 dengan judul “Desain Kemasan Untuk Mendukung Pemasaran Produk Olahan Pangan Kelompok Wanita Tani Kreatif Permata”.
Hasil dari penelitian ini adalah kelompok wanita tani (KWT) kreatif permata yang berlokasi di Bojongsoang, Bandung hingga ini aktif menjalankan kegatan budidaya tanaman sayuran dan tambak ikan secara organik. Produk yang dihasilkan umumnya berupa hasil panen segar.
Produk olahan yang saat ini berhasil dikembangkan adalah produk baso
11 Bianca Averiliandia Pribadi, “Komprasi Model Kemasan Konvensional dan Model Kemasan Aktif Terhadap Umur Simpan Bakpia Pathok Coklat”, (Skripsi, Universitas Semarang, 2019).
ikan yang terbuat dari hasil budidaya ikan KWT dan produk berbahan dasar sayuran segar seperti mie kering dan roti manis siap saji. Produk olahan ini akan dipasarkan kepada konsumen di luar lingkungan KWT.
Untuk mendukung kegiatan pemasaran, produk perlu dilengkapi dengan kemasan yang didesain khusus. Desain kemasan yang akan dibuat bertujuan untuk menarik calon konsumen sekaligus menampilkan informasi mengenai produk dan KWT kreatif permata.12 Perbedaan dalam penelitan ini yaitu penelitian oleh Sheila andita dkk berfokus pada kemasan untuk mendukung pemasaran produk olahan pangan sedangkan peneliti berfokus pada kemasan tradisional. Pada penelitian ini sama- sama menjelaskan tentang kemasan produk olahan.
4. Eny Setyariningsih, M. Syamsul Hidayat pada tahun 2019 dengan judul
“Pendampingan Pengemasan Produk (packing) dan pembukuan sederhana untuk meningkatkan kemampuan UMKM dalam Mengelola Usaha pada UKM Jamu Tradisional di Kota Mojokerto”.
Hasil dari penelitian ini adalah 1) Untuk menentukan kemasan produk yang baik dan menarik, 2) Untuk membuat kemasan produk yang aman dan sehat (produk akan memiliki dayaa jual) serta dengan kemasan konsumen akan selalu mengingat produk yang kita miliki, 3) Bagaimana melakukan kegiatan pembukuan dalam bentuk laporan keuangan supaya pelaku UMKM tersebut mampu mendeteksi keuntungan atau kerugian
12Sheila Andita Putri, dkk, “Desain Kemasan Untuk Mendukung Pemasaran Prooduk olahan Pangan Kelompok Wanita Tani Kreatif Permata”, Charity Jurnal Pengabdian Masyarakat, Vol.
02, No. 01 (2019).
dari usaha yang dilakukan.13 Penelitian oleh Eny Setyariningsih dkk berfokus tentang pengemasan produk (packing) jamu tradisional sedangkan peneliti berfokus pada pengemasan tradisional. Persamaan penelitian ini yaitu sama-sama memahas tentang kemasan yang tradisional.
5. Rahma Yuliani, Widyakanti pada tahun 2020 dengan judul “Peningkatan Penjualan Melalui Inovasi Kemasan dan Label pada UMKM”.
Tujuan pengabdian masyarakat adalah untuk meningkatkan penjualan pada UMKM sehinga produk ini dapat dijual di pasar modern permasalahan mitra dalam kegiatan ini adalah proses produksi masih menggunakan alat-alat yang sangat tradisional, kemasan produk yang sangat sederhana, label yang kurang menarik dan belum adanya P-irt sehingga produk ini hanya sampai pada pasar tradisional. Hasil dari kegiatan ini adalah proses produksi yang lebih cepat dengan menggunakan mesin keripik tempe, kemasan menggunakan standing pouch, desain label menarik, adanya sertifikat keamanan paangan yang diterbitkan dinas kesehatan pemerintah kota Banjarmasin maka pangsa pasar UMKM meningkatkan pada pasar modern.14 Penelitian oleh Rahma Yuliani dkk berfokus tentang penjualan melalui inovasi kemasan dan label pada UMKM sedaangkan peneliti berfokus pada pegemasan
13 Eny setyariningsih,dkk, “Pendampingan Pengemasan Produk (packing) dan pembukuan sederhana untuk meningkatkan kemampuan UMKM dalam Mengelola Usaha pada UKM Jamu Tradisional di Kota Mojokerto,” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Vol.01, No 01,2019
14 Rahma Yuliani,dkk, “Peningkatan Penjualan Melalui Inovasi Kemasan dan Label pada UMKM”
Jurnal Keuangan Umum dan Akuntansi Terapan , Vol. 02, No 02, 2022
tradisional. Penelitian ini yaitu sama-sama menjelaskan tentang kemasan dalam makanan.
6. Aris Munandar pada tahun 2020 dengan judul “Efektivitas Kebijakan Gambar Bahaya Merokok Pada Kemasan rokok Dalam Mengurangi Perokok Kelurahan Pasie Nan Tigo Kota Padang”.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kebijakan gambar merokok pada kemasan rokok dalam mengurangi kelurahan pasie nan tigo kota padang. Dalam penelitian ini metode yang diunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif, cara pengumpulan data yaitu melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efektivitas kebijakan gambar bahaya merokok pada kemasan rokok dalam mengurangi perokok kelurahan paie nan tigokota padangmasih belum efektif dapat dilihat dari masyarakat yang sudah memperhatikan kebijakan sejak awal meski berjalan lama dan fungsi dinas kesehatan kota padang sebagai pelaksana kebijakan kurang berperan aktif dalam pelaksanaanya kebijakan gambar bahaya merokok.15 Perbedaanya terletak pada subjek dan objek yang di teliti.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan adalah mengunakan jenis penelitian kualitatif dengan variable yang sama yaitu efektifitas.
15 Aris Munandar, Efektivitas Kebijakan Gambar Bahaya Merokok Pada Kemasan Rokok Dalam Mengurangi Perokok Kelurahan Pasie Nan Tigo Kota Padang, (Skripsi, Universitas Negeri Padang, 2020
7. Gracelin Jospehina p pada tahun 2021 dengan judul “Perancangan Desain Kemasan Tradisional Yang Ramah Lingkungan Untuk Makanan Kiai Haji Achmad Siddiq Kota Semarang”.
Hasil dari penelitian ini adalah, saat ini penggunaan kemasan tradisional sudah jarang digunakan oleh masyarakat kota semarang dan mulai tergantikan oleh peggunaan packing atau kemasan berbahan plastik. Padahal, penggunaan kemasan berbahan plastik sangat tidak dianjurkan karena plastik merupakan bahan yang tidak diurai, selain itu menggunakan kemasan berbahan dasar plastik dapat mengancam kesehatan manusia karena zat yang terkandung dalam plastik. Merupakan zat-zat berbahaya bagi tubuh manusia, alasan lain kemasan tradisional mulai ditinggal karena menurut sebagai masyarakat, kemasan tradisioonal ini terlihat kumuh dan tidak efisien bahkan dinilai tidak dapat memberikan nilai jual tinggi untuk produk didalamnya.16 Pada penelitiaan ini fokus mengkaji tentang kemasan tradisonal yang ramah lingkungan. Pada objek kajian yang dibahas yaitu sama-sama membahas tentang kemasan tradisinal. Selain itu sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif.
8. Desiana Nur Indra Kusumawati, Wisnu Indra Kusumah, dan R. Widyo Wibisono pada tahun 2022 dengan judul “Analisis Desain Kemasan Produk UMKM Makanan Tradisional Lemper Berbahan Alami Memiliki Daya Tarik dan Ketahanan Mutu Produk”.
16 Gracelin Jospehina p., “Perancangan Desain Kemasan Tradisional Yang Ramah Lingkugan Untuk Makanan Khas Kota Semarang” ,Skripsi Fakultas Arsitektur Dan Desain Unika Soegijapranata Semarang, 2021
Hasil dari penelitian ini adalah perancangan kemasan yang memiliki daya tarik pada unsur desain dan pelabelan yang memberikan informasi serta bentuk dan bahan kemasan yang dapat melindungi produk UMKM makanan tradisional lemper agar tidak mudah rusak.
Kesimpulannya sebelum melakukan suatu perancangan kemasan terutama pada makanan UMKM produk tradisional lemper perlu dilakukannya sebuah analisis faktor-faktor kemasan agar menghasilkan suatu rancangan yang dapat menjadikan daya tarik kemasan dan dapat melindungi produk sehingga produk memiliki daya tahan melalui kemasan yang baik dan benar.17 Penelitian oleh Desiana Nur Indra dkk yaitu tentang kemasan yang dipakai untuk makanan tradisionalnya menggunkan kemasan alami seperti halnya (daun) sedangkan peneliti berfokus pada pengemasan tradisional. Persamaan penelitian ini yaitu sama-sama menjelaskan kemasan suatu bahan pangan.
9. Ellen Moz Ligun pada tahun 2022 dengan judul “Efektifitas Desaian Kemasan Thung Cha Terhadap Ergonomic Konsumen”.
Berdasarkan hasil penelitian adalah kreatifitas desain kemasan sangat bermanfaat untuk membantu meningtakan nilai jual dalam berbisnis. Banyak pengusaha yang menjual minuman kemasan, sehingga persaingan bisnispun tetep berjalan oleh sebabitu kreatifitas diperlukan untuk menciptakan perbedaan yang unik. Dan salah produk yang menerapkan strategi tersebut adalah produk minuman thai tea merk thung
17 Desiana Nur Indra Kusumawati, dkk, “ Analisis Desain Kemaasan Produk UMKM Makanan Tradisional Lemper Berbahan Alami Memiliki Daya Tarik Dan Ketahanan Mutu Produk,” Jurnal Nawala Visual Vol.04 No.01, 2022
cha. Thai tea merupakan minuman teh dari Thailand, yang saaat ini sedang popular. Thung cha sebagai salah satu merk thai tea membuat desain kemasan yang menarik melalui kemasan zip bag. Kemasan ini berbentuk seperti pouch atau kantung dengan flip di bagian atasnya.
Kemasan zip bag umumnya di gunakan untuk mengemas snack atau makanan ringan. Alasan menggunakan kemasan zip bag terhadap produk thung cha membuat peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian ini.18 Peneliti oleh Ellen dkk berfokus tentang desain kemasan thung cha sedangkan peneliti berfokus pada pengemasan tradisional. Persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang ialah sama-sama membahas tentang desin kemasan pada makanan.
10. Rohadi, Ika Fitriana, dan Elly Yuniarti Sani pada tahun 2022 dengan judul “Pelatihan Pengemasan Pangan Olahan Untuk Usaha Mikro Dan Kecil Bidang Makanan Di Kota Semarang”.
Hasil dari penelitian ini adalah pelatihan diberikan menggunakan metode ceramah, diskusi dan praktik pengemasan, bertempat di laboratorium rakayasa pangan, Departemen teknologi hasil pertanian.
Efektivitas pelatihan dievaluasi dengan tes pemahaman teori dan praktik dan disajikan secara deskriptif. Hasil pelatihan menunjukkan bahwa pelatihan kurang efektif untuk peningkatan pengetahuan umum namun efektif untuk peningktan keterampilan peserta dibidang pengemasan
18 Ellen Moza Liguana, “Efektiftas Desain Kemasan Tung Cha Terhadap Ergonomi Konsumen,”
Jurnal Desain Komunikasi Visual Dan Metode Baru, Vol.01, No.01, 2018
pangan.19 Peneliti oleh Rohadi dkk berfokus tentang pengemasan makanan olahan UMKM sedangkan peneliti berfokus pada pengemasan tradisional. Persamaan antara penelitian terdahulu dengan penelitian sekarang ialah sama-sama membahas tentang pengemasan olahan makanan.
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No. Nama Dan
Tahun Judul Persamaan Perbedaan
1. Ari Putra (2018) Skripsi Fakultas Seni Dan Desain Universitas
Negeri Makassar
Perancangan Kemasan Canggoreng Sa`ma Polewali Mandar
Persamaan penelitiaan ini yaitu sama-sama memahas tentang kemasan produk.
Perbedaan dalam penelitian oleh Ari Putra berfokus pada desain kemasan mengenai Kiai Haji Achmad Siddiq tradisional yang ada di polewali sedang kan peneliti berfokus pada pengemasan
tradisional 2. Bianca
Averiliandia Pribadi (2019) Skripsi Fakultas Arsitektur Dan Desain Unika Soegijapranata Semarang
Komparasi Model Kemasan konvensional dan Model Kemasan Aktif Terhadap Umur Simpan Bakpia Pathok Coklat
Persamaan penelitiaan ini adalah sama-sama menjelaskan tentang model kemasan.
Perbedaan nya terletak pada metode peelitian yaitu penelitian ini menggunakan
penelitian kuantitatif,
sedangkan peneliti menggunakan
metode kualitatif 3. Sheila Andita
Putri, Teuku Zulkarnain
Muttaqien, dan Asep Sufyan Muhakik
Atamtajani (2019)
Desain Kemasan Untuk Mendukung Pemasaran Produk Olahan Pangan
Pada
penelitian ini sama-sama menjelaskan tentang kemasan produk
Perbedaan dalam penelitan ini yaitu penelitian oleh Sheila andita dkk berfokus pada kemasan untuk mendukung
19 Rohadi, dkk, “Pelatihan Pengemasan Pangan Olahan Untuk Usaha Mikro Dan Kecil Bidang Makanan Di Kota Semarang,” Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, Vol. 01, No.01,2022
Jurnal Pengabdian Masyarakat
Kelompok Wanita Tani Kreatif
Permata
olahan. pemasaran produk olahan pangan sedangkan peneliti berfokus pada kemasan tradisional 4. Eny
Setyariningsih, M. Syamsul Hidayat (2019) Jurnal Pengabdian Kepada
Masyarakat
Pendampingan Pengemasan Produk
(Packing) dan Pembukuan Sederhana untuk
Meningkatkan Kemampuan UKM dalam Mengelola Usaha Pada UKM jamu Tradisional di Kota
Mojekerto
Persamaan penelitian ini yaitu sama- sama
memahas tentang kemasan yang tradisional.
Penelitian oleh Eny Setyariningsih dkk berfokus tentang pengemasan produk (packing) jamu tradisional
sedangkan peneliti berfokus pada pengemasan
tradisional
5. Rahma Yuliani, Widyakanti (2020) Jurnal Keuangan Umum dan Akuntansi Terapan
Peningkatan Penjualan Melalui Inovasi
Kemasan Dan Label Pada UMKM
Penelitian ini yaitu sama- sama
menjelaskan tentang kemasan dalam makanan.
Penelitian oleh Rahma Yuliani dkk berfokus tentang penjualan melalui inovasi kemasan dan label pada UMKM sedaangkan peneliti berfokus pada pegemasan
tradisional 6. Aris Munandar
(2020) Skripsi Universitas Negri Padang
Efektvitas Kebijakan Gambar Bahaya
Merokok Pada Kemasan Rokok Dalam Mengurangi Kelurahan Pasie Nan Tigo Kota Padag
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan adalah mengunakan jenis
penelitian kualitatif dengan variable yang sama yaitu efektifitas.
Perbedaanya terletak pada subjek dan objek yang di teliti.
7. Gracelin
Jospehina P.
(2021) Skripsi Fakultas
Arsitektur Dan Desain Unika Soegijapranata Semarang
Perancangan Desain Kemasan Tradisional yang Ramah Lingkungan untuk
Makanan Kiai Haji Achmad Siddiq Kota Semarang
Pada objek kajian yang dibahas yaitu sama-sama membahas tentang kemasan tradisinal.
Selain itu sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif
Pada penelitiaan ini fokus mengkaji tentang kemasan tradisonal yang ramah lingkungan
8. Desiana Nur Indra
Kusumawati, Wisnu Indra Kusumah, dan R.
Widyo Wibisono (2022) Jurnal Nawala Visual
Analisis Desain Kemasan Produk UMKM Makanan Tradisional Lemper Berbahan Alami
Memiliki Daya Tarik Dan Ketahanan Mutu Produk
Persamaan penelitian ini yaitu sama- sama
menjelaskan kemasan suatu bahan pangan.
Penelitian oleh Desiana Nur Indra dkk yaitu tentang kemasan yang dipakai untuk makanan
tradisionalnya menggunkan
kemasan alami seperti halnya (daun) sedangkan peneliti berfokus pada pengemasan tradisional.
9. Ellen, Moza, Liguna (2022) Jurnal Desain Komunikasi Visual Media Baru
Efektifitas Desain Kemasan Thung Cha Terhadap Ergonomi Konsumen
Sama-sama membahas tentang desin kemasan pada makanan
Peneliti oleh Ellen dkk berfokus tentang desain kemasan thung cha sdangkan peneliti berfokus pada pengemasan
tradisional 10. Rohadi, Ika
Fitriana, dan Elly Yuniarti Sani (2022) Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Pelatihan Pengemasan Pangan Olahan Untuk Usaha Mikro Dan Kecil Bidang Makanan Di Kota
Semarang
Sama-sama membahas tentang pengemasan olahan makanan
Peneliti oleh Rohadi dkk berfokus tentang pengemasan makanan olahan UMKM sedangkan peneliti berfokus pada pengemasan tradisional
Dari beberapa jenis penelitian yang telah di paparkan di atas, terdapat persamaan dan perbedaan penelitian dengan penelitian yang telah dilakukan dengan penelitian yang akan dilakukan penulis. Perbedaan dari penelitian di atas adalah tentang keunikan dan keragamaan dalam pengemasannya dan Persamaanya yaitu sama-sama membahas efektivitas pengemasan tradisional.
B. Kajian Teori
1. Tinjauan Umum Tentang Efektivitas a. Pengertian Efektivitas
Efektifitas berasal dari kata dasar efektif. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kata efektif mempunyai arti efek, pengaruh, akibat atau dapat membawa hasil. Jadi, efektivitas keaktifan, daya guna, adanya kesesuaian dalam suatu kegiatan orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang ditujuh. Efektivitas pada dasarnya tertuju pada taraf tercapainya hasil.20 Istilah efektivitas atau keefektifan merupakan terjemahan dari istilah bahasa inggris
“effectifines” yang dalam kamus besar bahasa indonesia efektivitas diartikan sebagai suatu yang ada efeknya (akibatnya, pengaruh) dan dapat membaa hasil, behasil guna (tindakan) serta dapat pula berarti berlaku. Efektivitas adalah hubungan antara output dan tujuan atau dapat juga dikatakan merupakan ukuran seberapa jauh tingkat output, kebijakan dan prosedur dari organisasi. Efektivitas juga berhubungan dengan derajat keberhasilan suatu operasi pada sektor
20 Gary Jonathan Mingkid, dkk, “Efektivitas Pengunaan Dana Desa Dalam Peningkatan Pembangunan”(Studi Kasus di Desa Watutumou Dua Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara), Jurnal Jurusan Ilmu Pemerintahan, Vol. 02 No. 02 (2017),3.
public sehingga suatu kegiatan dikatakan efektif jika kegiatan tersebut mempunyai pengaruh besar terhadap kemampuan menyediakan pelayanan masyarakat yang merupakan sasaran yang telah ditemukan.
Berdasarkan pendapat di atas mengenai efektivitas, dapat ditarik kesimpulan bahwa suatu hal dapat dikatakan efektif apabila hal tersebut seuai dengan yang dikehendaki. Artinya, pencapaian hal yang dimaksud merupakan pencapaian tujuan dilakukannya tindakan-tindakan untuk mencapai hal tersebut.
b. Ukuran Efektivitas
Mengukur efektivitas suatu program kegiatan bukanlah suatu hal yang sangat sederhana, karena efektivitas dapat dikaji dari berbagai sudut pandang dan tergantung pada siapa yang menilai serta menginterpretasikannya. Bila dipandang dari sudut produktivitas, maka seorang menajer produksi memberikan pemahaman bahwa efektivitas berarti kualitas dan kuantitas (output) barang dan jasa.
Tingkat efektivitas juga dapat di ukur dengan membandingkan antara rencana yang telah ditentukan dengan hasil nyata yang telah diwujudkan. Namun, jika usaha atau hasil pekerjaan dan tindakan yang dilakukan tidak tepat sehingga menyebabkan tujuan tidak tercapai atau sasaran yang diharapkan, maka hal itu dilakukan tidak efektif. 21
21 Iga Rosalina, “Efektif Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perkotaan Pada Kelompok Pinjaman Bergulir Di Desa Mantren Kec Karangrejo Kabupaten Madetaan”. Jurnal Efektivitas Pemberdayaan Masyarakat, Vol. 01 No. 01 (2012), 3.
Adapun kriteria atau ukuran mengenai pencapaian tujuan efektif atau tidak, yaitu:22
1) Kejelasan tujuan yang hendak dicapai, hal ini dimaksudkan supaya karyawan dalam pelaksanaan tugas mencapai sasaran yang terarah dan tujuan organisasi dapat tercapai.
2) Kejelasan strategi pencapaian tujuan, telah diketahui bahwa strategi adalah “pada jalan” yang diikuti dalam melakukan berbagai upaya dalam mencapai sasaran-sasaran yang ditentukan agar para implementer tidak tersesat dalam pencapaian tujuan organisasi.
3) Proses analisis dan perumusan kebijakan yang mantap, berkaitan dengan tujuan yang hendak dicapai dan strategi yang telah ditetapkan artinya kebijakan harus mampu menjembatani tujuan-tujuan dengan usaha-usaha pelaksanaan kegiatan operasional.
4) Perencanaan yang matang pada hakekatnya berarti memutuskan sekarang apa yang dikerjakan oleh organisasi dimasa depan.
5) Penyusunan program yang tepat suatu rencana yang baik masih perlu dijabarkan dalam pogram-program pelaksanaan yang tepat sebab apabila tidak, para pelaksana akan kurang memiliki pedoman bertindak dan bekerja.
22 Rosalina, “Efektif Program Nasional, 5.
6) Tersedianya sarana dan prasarana kerja, salah satu indikator efektivitas organisasi adalah kemampuan bekerja secara produktif. Dengan sarana dan prasarana yang tersedia dan memungkinkan disediakan oleh organisasi.
7) Pelaksanaan yang efektif dan efisien, bagaimana baiknya suatu program apabila tidak dilaksanakan secara efektif dan efisien maka organisasi tersebut tidak akan mencapai sasarannya, karena dengan pelaksanaan oeganisasi semakin didekatkan pada tujuannya.
8) Sistem pengawasan dan pengendalian yang bersifat mendidik mengingat sifat manusia yang tidak sempurna maka efektivitas organisasi menuntut terdapatnya system pengawasan dan pengendalian.23
Adapun kriteria dalam pengukuran efektivitas, yaitu:24 1) Produktivitas
2) Kemampuan adaptasi kerja 3) Kepuasan kerja
4) Kemampuan berlaba 5) Pencarian sumber daya.
23 Rosalina, “Efektif Program Nasional, 6.
24 Ibid, h7
2. Tinjauan Umum Tentang Pengemasan a. Pengertian Kemasan
Kemasan merupakan bagian dari formal produk, yang meliputi packaging, features, brand name, styling dan quality yang artinya
sebuah produk diasosiasikan dengan bentuk kemasannya, kelengkapan atau fitur, merek, model, dan kualitas bahan.25 Kemasan sebagai kegiatan penempatan produk ke dalam wadah, tempat isi, atau yang sejenis yang terbuat dari timah, kayu, gelas, besi, baja, plastik, selulosa transparan, kain, karton, atau material lainnya, yang dilakukan oleh produsen atau pemasar untuk disampaikan kepada konsumen.26
Pengemasan merupakan kegiatan mendesain dan memproduksi wadah atau pembungkus produk. Pengemasan merupakan cara untuk melindungi produk agar tidak mudah rusak dan siap untuk disimpan atau didistribusikan hingga ke tangan konsumen.27
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa kemasan merupakan wadah yang berfungsi untuk melindungi kualitas produk selama proses pendistribusian dari produsen hingga ke tangan konsumen serta berfungsi untuk menyampaikan informasi produk kepada konsumen sekaligus meningkatkan nilai dari sebuah produk.
25 Marianne Rosner, Desain Kemasan (Jakarta: Erlangga, 2007), 34.
26 Danang Sunyoto Dasar-dasar Manajemen Pemasaran: Konsep, Strategi, dan Kasus (Yogyakarta: Center of Academic Publishing Service, 2014), 119.
27 Maimunah Hindun Pulungan dan Tim, Teknologi Pengemasan dan Penyimpanan (Malang:
Universitas Brawijaya Press, 2018), 1.
b. Peran Dan Fungsi Kemasan
Kemasan mempunyai tiga peran utama, yaitu sebagai wadah (to contain), pelindung produk (to protect), dan sebagai sarana
promosi (to promote). Di sisi calon konsumen, kemasan perlu diperhatikan oleh produsen karena kemasan yang Kiai Haji Achmad Siddiq dan indah dapat meningkatkan hasrat untuk membeli dan mempermudah ingatan pembeli terhadap produk.28
Dalam industri pengolahan makanan dan minuman, peran dan fungsi kemasan sangatlah besar. Kemasan memiliki tiga peran penting (kecuali untuk buah-buahan, sayuran segar, dan baja struktural) yang diantaranya adalah sebagai berikut:29
1) Pada pertokoan, pengemasan berperan sebagai iklan yang memamerkan merek produk, mengidentifikasi ciri dan manfaat produk, serta membuat produk terlihat menarik.
2) Pengemasan berperan untuk mengurangi kerusakan dan pembusukan produk yang dikemas.
3) Kemasan berperan sebagai wadah fisik yang memuat produk.
Selain itu, kemasan memiliki beberapa fungsi yaitu sebagai berikut:30
28 Nanang Wahyudi & Sonny Satriyono, Mantra Kemasan Juara (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2017), 4.
29 Sarfilianty Anggiani, Kewirausahaan: Pola Pikir, Pengetahuan, dan Keterampilan Edisi Kedua (Jakarta: Prenadamedia Group, 2018), 134.
30 Yuyun A dan Delli Gunarsa, Cerdas Mengemas Produk Makanan dan Minuman (Jakarta:
Agromedia Pustaka, 2011), 14-21.
1) Fungsi Tardisional
Dalam fungsi ini, kemasan digunakan hanya untuk membungkus makanan dan minuman agar mudah dibawa, tidak tumpah dan tidak tercecer.
2) Fungsi Keamanan Dan Manfaat
Kini, kemasan tidak hanya dituntut untuk mampu melindungi apa yang dikemasnya, tetapi kemasan juga harus mampu menjadi sarana pengawetan yang baik. Selain itu, kemasan harus terjamin keamanannya serta tidak mengandung bahan-bahan berbahaya yang dapat menimbulkan keracunan bagi orang yang mengonsumsinya.
3) Fungsi Marketing
Pada fungsi ini, kemasan harus mampu memberikan identitas bagi produk yang ditawarkan sekaligus menjual produk yangdikemasnya.
Secara garis besar fungsi kemasan sebagai berikut31 1) Fungsi Praktis Kemasan
Fungsi praktis kemasan secara umum dapat dirinci sebagaiberikut:
a) Mewadahi Produk Selama Penditribusian
Kemasan digunakan untuk mewadahi produk selama pendistribusian dari produsen hingga konsumen. Hal ini
31 Arief Rakhman Kurniawan, Total Marketing (Bantul Yogyakarta: Kobis, 2014), 28-29.
dilakukan agar produk tidak tercecer dan berantakan, terutama untuk produk yang bentuknya cair, pasta, atau butiran.
b) Melindungi Dan Menjaga Kualitas Produk
Kemasan harus mampu melindungi produk dari berbagai ancaman kerusakan yang dapat timbul ketika proses produksi hingga proses distribusi.
c) Meningkatkan Efisiensi
Kemasan dapat mempermudah penyimpanan dan membuat pekerjaan dalam penghitungan jumlah produk menjadi relatif lebih cepat. Selain itu, kemasan juga dapat memudahkan pengiriman produk dari distributor hingga sampai kepada konsumen. Namun, pemilihan kemasan juga harus dilakukan dengan cermat terutama dari sisi ekonomi agar biaya kemasan tidak melebihi proporsi manfaatnya.
2) Fungsi Promosi, Simbolik Dan Estetik
Berikut merupakan fungsi promosi, simbolik dan estetik yang harus dimiliki oleh sebuah kemasan:
a) Fungsi Promosi
Label yang ada pada kemasan dapat digunakan sebagai sarana komunikasi dan informasi bagi produsen kepada konsumen. Di dalam kemasan harus disajikan informasi produk secara detail, kreatif dan komunikatif
karena kemasan menyampaikan pesan terakhir dan merupakan penentu keputusan akhir konsumen apakah akan membelinya atau tidak. Di sisi lain, kemasan juga berfungsi sebagai media iklan yang harus mampu mewakili ketidakhadiran seorang pelayan dalam menunjukkan kualitas produk.
b) Fungsi Simbolik
Kemasan memiliki fungsi sebagai identitas produk juga tanda pengenal bagi barang/produk yang dikemas dan bagi perusahaan yang memproduksinya. Maka dari itu, kemasan harus mampu menyampaikan brand massage atau pesan simbolik dari sebuah produk. Kemasan juga berperan sebagai brand identity dari produk yang dikemasnya. Selain itu, fungsi lain dari kemasan adalah sebagai media untuk mengkomunikasikan suatu citra atau image produk.
Sehingga, calon konsumen dapat menyimpulkan seberapa bagus citra suatu produk atau merek berdasarkan kemasannya.
c) Fungsi Estetik
Kemasan memiliki fungsi sebagai daya tarik calon pembeli dan menambah estetika serta nilai jual. Pakar pemasaran menyatakan bahwa desain kemasan merupakan pesona produk (the product charm), sebab kemasan berada
pada tingkat akhir dalam suatu proses alur produksi untuk memikat mata (eye catching) dan memikat pemakaian (usage attractiveness).
Selain beberapa fungsi kemasan yang dipaparkan di atas, kemasan juga memiliki peranan penting bagi beberapa pihak, yaitu:32 1) Bagi pemerintah, kemasan dapat digunakan sebagai salah satu
usaha perlindungan bagi konsumen.
2) Bagi konsumen, kemasan berguna sebagai sumber informasi mengenai isi dari produk yang dibutuhkan oleh konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian produk terkait.
c. Kriteria Dan Syarat Kemasan
Agar dapat memenuhi fungsinya dengan baik, maka kemasan produk harus memiliki kriteria-kriteria berikut ini:33
1) Dapat Mewadahi Produk
Kemasan harus memiliki bentuk fisik yang didesain sedemikian rupa agar mampu menampung produk dengan efektif.
2) Dapat Melindungi Produk
Kemasan harus dibuat dengan tepat agar mampu melindungi produk dari cuaca, cahaya matahari, goncangan, suhu panas, serta aman bagi konsumen.
32 Kurniawan, Total Marketing, 31-33.
33 Kurniawan, Total Marketing, 34-35.
3) Dapat Menjual Produk
Kemasan harus mampu menunjukkan identitas produk sekaligus menjadi daya jual produk. Maka dari itu, pada kemasan harus tertera:
a) Deskripsi singkat mengenai produk.
b) Nama brand.
c) Nama dagang.
d) Perusahaan, nama produsen, dan logo;
e) Isi, volume atau berat;
f) Petunjuk pemakaian.
g) Ilustrasi yang menggambarkan produk.
h) Harga.
4) Efisiensi Biaya
Produsen harus memperhitungkan biaya pengemasan dengan tepat agar biaya yang dikeluarkan untuk kemasan bisa seefisien mungkin.
Ada beberapa syarat kemasan yang harus dipenuhi karena kemasan memiliki fungsi yang lebih luas dari sekedar membungkus produk. Syarat-syarat tersebut ialah sebagai berikut:34
34 Sofjan Assauri, Manajemen Pemasaran (Jakarta: Rajawali Pers, 2014), 209-210.
1) Sebagai Tempat
Kemasan harus dibuat dari bahan-bahan yang menyesuaikan dengan bentuk produk. Misalnya, produk yang berbentuk cair maka kemasannya adalah botol.
2) Menarik
Kemasan sebaiknya dibuat dengan semenarik mungkin agar dapat menarik perhatian calon konsumen, sehingga melakukan pembelian bahkan menjadi pelanggan. Kemasan yang menarik juga memberikan kesan bahwa produk yang dikemasmemiliki kualitas baik.
3) Dapat Melindungi
Penjualan suatu produk dipengaruhi oleh kualitas produk itu sendiri. Maka, disinilah peran kemasan diperlukan untuk melindungi produk agar tetap memiliki kualitas yang baik selama proses distribusi.
4) Praktis
Kemasan hendaknya dibuat dengan sepraktis mungkin agar ringan, mudah dibawa, serta mudah dibuka dan ditutup kembali. Hal ini untuk memudahkan konsumen agar mereka tidak merasa kesulitan dalam menggunakan produk.
5) Menimbulkan Harga Diri
Kemasan yang dibuat dengan menarik biasanya otomatis dapat menimbulkan harga diri bagi konsumen yang
membelinya. Misalnya, produk kue yang dikemas dengan kaleng cantik dapat menimbulkan rasa percaya diri bagi yang membelinya sehingga ia akan merasa bangga ketika membawa kue tersebut.
6) Ketepatan Ukuran
Ukuran kemasan harus diperhatikan karena erat hubungannya dengan harga. Produk dengan kemasan kecil dimaksudkan agar konsumen yang memiliki daya beli rendah tetap mampu membeli produk tersebut karena harganya lebih murah dibandingkan dengan produk berukuran besar, meskipun sebetulnya produk dengan kemasan kecil ini justru harganya lebih mahal.
7) Pengangkutan
Kemasan sebaiknya dibuat dengan memperhitungkan biaya pengangkutan. Kemasan yang fleksibel biasanya lebih hemat ongkos karena dalam satu mobil bisa menampung produk lebih banyak. Berbeda dengan kemasan yang tidak fleksibel, maka dalam satu mobil menampung lebih sedikit produk.
Contoh
lainnya, kemasan berbentuk kotak akan lebih hemat ongkos karena mudah dirapikan.
Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam membuat kemasan produk makanan dan minuman:
1) Efektivitas
Bahan kemasan harus dirancang dan disesuaikan dengan sifat dan karakteristik produk yang akan dikemas.
2) Keamanan Pangan
Kemasan tidak boleh terbuat dari bahan berbahaya yang dapat mengontaminasi makanan dan minuman yang dikemas.
Maka dari itu, kemasan hendaknya food grade agar produk yang dikemas aman untuk dikonsumsi. Selain itu, kemasan juga harus diperhatikan dari sisi kebersihannya juga cara mengemasnya agar tidak merusak mutu produk.
3) Mudah Dikirim
Kemasan hendaknya dirancang dengan memperhatikan kemudahan dalam proses pengiriman. Hal ini bertujuan agar distribusi produk lancar, dan penjualan produk tidak terhambat. 4) Mudah Dikenali
Kemasan harus dibuat dengan desain yang terlihat berbeda dari produk lain agar mudah ditemukan oleh konsumen.
Sehingga, tanpa membaca kemasan secara detail pun, konsumen mampu mengenali produk walau hanya melihat dengan sekilas.
5) Desain Aergonomis
Desain kemasan aergonomis maksudnya adalah kemasan yang memiliki berbagai kemudahan, seperti mudah dibawa kemana pun, mudah diambil, mudah dibuka, dan tidak membuat
produk berhamburan atau berantakan. Hal ini bertujuan agar konsumen tidak merasa kerepotan dengan kemasan yang digunakan.
6) Faktor Keindahan
Penampilan luar suatu produk harus diperhatikan melalui penggunaan kemasan yang bagus. Bahkan dalam industri pangan, gambar produk yang tercantum pada kemasan harus mewakili kelezatan produk yang menggugah selera. Penggunaan atribut lainnya seperti warna, huruf, logo, tagline, dan yang lainnya harus juga diperhatikan karena dapat mempengaruhi harmonisasi kemasan suatu produk.
7) Faktor Informasi Dan Promosi
Kemasan adalah sarana untuk memberikan penjelasan kepada konsumen terkait keunggulan dan manfaat produk yang dikemas. Kemasan juga dapat menjadi alat promosi pengenalan produk kepada konsumen.
d. Jenis Dan Klasifikasi Kemasan
Kemasan dapat diklasifikasikan berdasarkan struktur sistem kemas, sifat kekakuan bahan kemasan, frekuensi pemakaian, tingkat kesiapan pakai, dan sifat perlindungan terhadap lingkungan:
1) Klasifikasi kemasan berdasarkan struktur sistem kemas
a) Kemasan primer (bersentuhan langsung dengan produk yang dikemas);
b) Sekunder (tidak bersentuhan langsung dengan produk, melainkan dengan kemasan primer);
c) Tersier dan kuartener (untuk mengemas setelah kemasan primer atau sekunder atau keduanya).
2) Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat kekakuan bahan
a) Kemasan fleksibel (mudah dilenturkan tanpa patah atau retak, seperti kertas, foil, dan plastik);
b) kaku (kemasan yang bersifat keras seperti kayu, logam, dan gelas);
c) Semi fleksibel (misalnya botol plastik untuk susu dan kecap atau kemasan produk berbentuk pasta).
3) Klasifikasi kemasan berdasarkan frekuensi pemakaian a) kemasan sekali pakai (disposable);
b) kemasan yang bisa digunakan berulang kali (multitrip);
c) kemasan semi disposable yang tidak dibuang melainkan digunakan kembali untuk keperluan lain.
4) Klasifikasi kemasan berdasarkan perakitan atau tingkat siap pakai:
a) Wadah siap pakai (misalnya botol, kaleng, dll.);
b) Wadah siap dirakit (wadah yang memerlukan proses perakitan atau pelipatan, seperti kertas, foil, dan plastik).
5) Klasifikasi kemasan berdasarkan sifat perlindungan terhadap lingkungan:
a) kemasan hermetis (tahan uap, air dan gas, seperti kemasan kaleng dan botol gelas yang ditutup secara hermetis);
b) tahan cahaya (kemasan yang tidak transparan, seperti logam, foil, dan kertas);
c) tahan suhu tinggi (kemasan untuk produk yang memerlukan proses pasteurisasi, sterilisasi, dan pemanasan yang biasanya terbuat dari dari gelas dan logam).
e. Faktor-faktor Yang Perlu Diperhatikan Dalam Kemasan
1) Sifat-sifat bahan yang dikemas, yaitu jenis kemasan yang digunakan harus sesuai dengan sifat bahan yang dikemas, misalnya tape yang bertekstur lembek daan berair bisa dikemas menggnakan kemasan dari daun pisang.
2) Nilai ekonomis, yaitu perhitungan biaya prduksi harus efektif termasuk biaya pemelihan bahan, sehingga biaya tidak melebihi proporsi manfaat.
3) Kepraktisan, yaitu kemasan mudah di distribusi dari pabrik ke distributor atau pengecer sampai ketangan konsumen.
4) Estetika, yaitu keindahan merupakan daya tarik visual yang mencaangkup pertimbangan penggunaan warna, bentuk, merek/logo, ilustrasi, huruf dan tata letak untuk mencapai mutu daya tarik visual secara optimal.35
35 Ni Made Ayu Suardani Singapurwa, “Sekilas Pangan Tradisional”, (Surabaya: CV.Scopindo Media Pustaka, 2022)34.
f. Jenis-jenis Bahan Kemasan
1) Bahan alami, contohnya adalah daun, kelebot, upih, tempurung kelapa, bambu, kayu.
2) Bahan sintesis, contohnya adalah gelas, plastik, kertas, logam, alumunium foil, gabus.
g. Kemasan Berdasarkan Frekuensi Pemakaian
1) Kemasan sekali pakai, yaitu kemasan yang lagsung dibuang setelah di pakai, seperti kemasan produk instant, permen, dll.
2) Kemasan berulang kali, yaitu kemasan yang dapat dipakai berungkali (multitrip) dan biasanya dikembalikan ke produsen, contoh: botol minuman, boto kecap, botol sirup.
3) Kemasan yang tidak dibuang atau dikembalikan, yaitu kemasan atau wadah yang tidak dibuang atau dikembalikan oleh konsumen (semi disposable, tapi digunakan untuk kepentingan lain oleh konsumen, misalnya botol untuk tempat air minum dirumah, kaleng susu untuk tempat gula, kaleng biscuit untuk tempat krupuk, wadah jam untuk merica dll.
h. Kemasan Berdasarkan Struktur Sistem Kemas
1) Kemasan primer, yaitu kemasan yang langsung bersentuhan dengan produk yang dibungkusnya.
2) Kemasan sekunder, yaitu kemasan yang tidak bersentuhan langsung dengan produk yang telah dikemas dengan kemasan primer.
3) Kemasan tersier dan kuartener, yaitu kemasan untuk mengemas setelah kemasan primer atau sekunder.
i. Kemasan Berdasarkan Sifat Kakunya
1) Bahan kemas fleksibel, yaitu bahan kemasan yang mudah dilenturkan tanpa adanya retak atau patah. Misalnya plastic, kertas dan foil.36
2) Bahan kemas kaku, yaitu bahan kemas yang bersifat keras, kaku, tidak tahan lenturan, patah bila dibengkokkan relative lebih tebal dari kemasan fleksibel. Misalnya kayu, gelas dan logam.
3) Bahan kemas semi kaku, yaitu bahan kemas yang memiliki sifat-sifat antara kemasan fleksibel dan kemasan kaku. Misalnya botol plastik (susu, kecap, saus), dan wadah bahan yang berbentuk pasta.
j. Kemasan Berdasarkan Sifat Perlindungannya Dalam Lingkungan 1) Kemasan hermetis, yaitu kemasan yang secara sempurna tidak
dapat dilalui oleh gas udara atau uap air sehingga selama masih hermetis wadah ini tidak dapat dilalui leh bakteri, kapang, ragi dan debu. Misalnya kaleng, botol gelas yang ditutupi secara hermatis.37
2) Kemasan tahan cahaya, yaitu wadah yang tidak bersifat transparan, misalnya kemasan logam, kertas dan foil. Kemasan
36 Ibid 36
37 Ibid 37