• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KAJIAN PUSTAKA

B. Deskripsi Khusus Latar Penelitian

4. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat

Penduduk dalam kawasan didominasi oleh suku Bugis dan suku Bajo dan selebihnya etnis lain seperti Makassar, Selayar dan Flores. Dalam pergaulan sehari-hari mereka menggunakan bahasa Bugis, bahasa Bajo atau bahasa Selayar.

Rumah penduduk umumnya merupakan rumah tipe panggung yang terbuat dari kayu dengan atap dari daun kelapa atau seng.

BAB V

PENGARUH WESTERNISASI PADA MASYARAKAT DI KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR

Di dalam rumusan masalah ini membahas tentang pengaruh westernisasi pada masyarakat. Di mana kita ketahui bahwa westernisasi adalah sebuah arus besar yang mempunyai jangkauan politik, social, budaya, dan teknologi. Arus ini bertujuan mewarnai kehidupan sehari-hari masyarakat dengan gaya barat.

Westernisasi merupakan suatu proses peniruan oleh suatu masyarakat tentang kebudayaan barat yag dianggap lebih baik daripada kebudayaan mereka sendiri.

Banyak cara westernisasi mempengaruhi masyarakat, salah satu contoh melalui media sosial seperti TV yang di mana acara-acara yang ditampilkan terlalu berkiblat pada budaya barat. Adapun pengaruh westernisasi yang telah terjadi pada masyarakat saat ini yaitu :

A. Gaya Hidup

Gaya hidup modern merupakan gejala social yang terjadi akibat adanya berbagai pengaruh yang muncul dalam masyarakat. Gaya hidup modern sangat mempengaruhi nilai-nilai yang sudah tertanam dan melekat dalam kehidupan bermasyarakat sehingga mau tidak mau masyarakat dihadapkan dengan nilai-nilai tersebut, yang pada akhirnya harus menentukan sikap untuk menerima atau menolaknya. Masuknya nilai-nilai dari luar yang bersifat asing dan baru itu membuat masyarakat menggumuli nilai-nilai yang berbeda

63

Salah satu yang menandai gaya hidup dalam masyarakat modern adalah kepraktisan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Manusia semakin menginginkan hal-hal yang instan. Karateristik inilah yang menjadi dampak negatif di era modern, yang bisa membawa masyarakat ke arah westernisasi.

Selain itu, adapun gaya hidup yang lain seperti gaya hidup dengan pola hidup konsumtif yaitu gaya hidup di mana seseorang suka membelanjakan uangnya untuk mengkonsumsi daripada memilih untuk memproduksi atau membuat sendiri atau dengan kata lain pola hidup konsumtif ini yaitu dimana seseorang membeli barang yang tidak begitu penting, rekreasi, makan-makan, jalan-jalan. Hal ini sesuai dengan penuturan yang diberikan oleh salah seorang informan Sh kepada peneliti ketika ditanya, bahwa:

Gaya modern memang lapengaruhimu masyarakat injo, mannaka gelepi lapinahang ngase’, hanya sebagian japa nu lapinahang, simpole HP, cara appakeang, tingkat pendidikan, surang rie’mo rasa assai’-saingang lalang ri pattolongang pamarentah (Wawancara 25 September 2016).

Artinya:

Gaya hidup modern berpengaruh pada masyarakat desa akan tetapi tidak semua diikuti oleh masyarakat, hanya sebagian saja pola hidup dari masyarakat modern yang diikuti oleh masyarakat desa seperti misalnya penggunaan media komunikasi, cara berpakaian, tingkat pendidikan, persaingan untuk duduk di bangku pemerintahan telah nampak di masyarakat tersebut (Wawancara 25 September 2016).

Hal yang sama diungkapkan oleh Jd, bahwa:

Masyarakat desa larasangkangmu hidup modern karna riolo gele rie’ HP surang kendaraan ampa la’lampaiki. Hanya injoja ka biasa la salah gunakangi simple injon HP ka terkadang rie’ tau geleji semata-mata la pake nelpong, mannaka lapakenaja biasa nontong nu gele baji’. Biasa loheang ana’ muda la salah gunakan injo tekhnologi (Wawancara 26 September 2016).

Artinya:

Masyarakat desa sudah merasakan hidup modern karena dulunya tidak punya alat komunikasi sekarang sudah memiliki alat komunikasi serta kendaraan untuk bepergian. Hanya saja terkadang sebagian masyarakat menyalahgunakan alat–alat tersebut seperti HP, ada sebagian masyarakat menggunakan HP hanya digunakan untuk hal-hal yang tidak baik. Hal itu banyak terjadi pada kalangan remaja, yang sering menyalahgunakan alat tekhnologi tersebut (Wawancara 26 September 2016).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hr, bahwa:

Masyarakat desa saat ini ampa la ritilingii gaya hidupna, nu larasakanmu ri kanjo hidup modern bahkan rie’ tommo tau la tirumu gaya pakeanna nu rie’ injo ri televise, manna nu gele assituru’ kabiasaan ri kampongta. Tide’ salana amminahang gaya pakeanna nu modern injo mannaka ri kondisikan tonjuangi surang keadaan ri kampongta (Wawancara 27 September 2016).

Artinya:

Masyarakat desa saat ini jika dilihat dari gaya hidup mereka, mereka telah merasakan pola hidup modern yang bahkan sebagian masyarakat sudah mulai meniru gaya pakaian yang tidak sesuai dengan keadaan lingkungan yang biasa mereka lihat di TV , yang di mana sudah banyak masyarakat baik dari kalangan remaja maupun orang tua yang cara berpakaiannya maupun pergaulannya yang tidak sesuai dengan adat di kampung kita. Tidak ada salahnya jika mengikuti perkembangan zaman tetapi kita juga harus melihat apakah hal tersebut sesuai dengan adat dan kebiasaan yang ada di kampung kita (Wawancara 27 September 2016).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hw, bahwa:

Battu ri sikura lohena rupa tau tumminahang cara pakeanna nu rie’ injo ri televise, loheang nu latontong injo nu deremo battu ri ada’na kampongta.

Terkadang rie’ tau menuru’na injo pakean nu lapakenjo nu baji’mo, mannaka ditteka geleki biasa jari injo pakean injo ri janjang mara-maraengi (Wawancara 28 September 2016).

Artinya:

Dari banyaknya masyarakat yang sudah mulai meniru dari cara berpakaian yang tidak sesuai dengan lingkungannya sendiri, itu tidak terlepas dari banyaknya acara-acara TV yang ditayangkan. Di mana dari kebanyakan acara- acara yang ditonton di TV itu sudah jauh dari adat berpakaian masyarakat di

kampung kita. Terkadang ada orang yang memakai pakaian yang menurut kita tidak baik dan tidak sesuai dengan keadaan lingkungan dan terlihat aneh tapi justru mereka merasa nyaman dengan pakaian tersebut (Wawancara 28 September 2016).

Berdasarkan pernyataan Sh, Jd, Hr, dan Hw di atas dapat disimpulkan bahwa masyarakat telah merasakan dan mengikuti gaya hidup modern. Tetapi dari semua masyarakat yang telah merasakan perubahan, hanya sebagian masyarakat yang telah terpengaruh oleh gaya hidup yang cenderung kebarat-baratan. Hal itu disebabkan adanya perkembangan teknologi. Sebenarnya tidak ada salahnya jika kita mengikuti perkembangan zaman tetapi kita harus menempatkan pada tempatnya karena terkadang seseorang hanya ikut-ikutan dan tidak mengetahui mana yang perlu diikuti dan mana yang tidak perlu diikuti, karena sebagian dari perkembangan gaya hidup modern dapat membawa masyarakat ke gaya hidup yang bernilai negatif.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa perubahan yang terjadi pada masyarakat merupakan tuntutan zaman yang mau atau tidak mau semua masyarakat akan menuju ke arah perubahan baik perubahan yang bernilai positif maupun yang bernilai negatif. Perubahan yang terjadi pada masyarakat terutama dari segi gaya hidup, sudah pasti para remaja yang paling cepat terpengaruh oleh budaya-budaya luar, seperti gaya hidupnya yang cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

Jika dilihat perubahan gaya hidup dari segi cara berpakaian pada masyarakat saat ini memang sudah banyak masyarakat yang mengikuti model pakaian yang

ngetren dengan alasan mereka tidak mau ketinggalan dengan perkembangan zaman.

B. Nilai dan Norma Sosial

Zaman modern ditandai dengan munculnya beberapa gaya hidup modern, yang pada sisi tertentu menimbulkan persoalan jika dipandang dari sisi nilai-nilai yang sudah ada sebelumnya termasuk dari sisi nilai-nilai agama. Ada banyak orang merasa tidak sanggup menjawab setiap persoalan yang muncul sebagai akibat adanya gaya hidup modern, karena mereka merasa tidak memiliki

“pegangan nilai” lagi. Seolah-olah, nilai-nilai yang pernah ada sebelumnya dan yang sedang ada sekarang ini tidak sanggup menjawab semua masalah yang muncul. Salah satu hal yang menggelisahkan adalah persoalan nilai-nilai moral.

Oleh karena itu, dalam menghadapi zaman modern sangat perlu untuk merumuskan kembali nilai-nilai moral yang dinamis.

Sesuai dengan penuturan yang diberikan oleh salah seorang informan Ah kepada peneliti ketika ditanya, bahwa:

Sebelumna rie pengaruh rikanni modernisasi nu biasa battu rinjoji na munculki pengaruh-pengaruh budayana tau tumaraeng. Kulle ripau masyarakat sanna’ lahargainna nilai-nilai dan norma social nu rie’ injo lalang ri kampong simple sopan santun, tata krama. Mannaka ri’naja biasa pengaruh-pengaruh battu pantara sampe-sampe biasa masyarakat ta’pengaruhi tommo. Ia monjo na perlui la tanamkan lalang ri kalengna tentang paralluna la pertahankan adat ri kampongna (Wawancara 29 September 2016).

Artinya:

Sebelum adanya pengaruh modernisasi yang mengarah ke westernisasi, masyarakat sangat menghargai dan menerapkan nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku sebagai masyarakat dengan adat dan budaya sendiri. Seperti sopan santun, tata krama, kerukunan dan sebagainya. Sekarang, nilai- nilai dan norma- norma tersebut mulai bergeser. Akibat pengaruh tekhnologi dan budaya asing, nilai-nilai dalam kehidupan kemasyarakatan seperti nilai kerukunan dan nilai kebersamaan ini sudah mulai luntur. Apalagi di kota-kota besar nilai-nilai semacam ini sudah jarang ditemui. Oleh karenanya sudah selayaknya masyarakat menyaring pengaruh-pengaruh dari budaya asing yang tidak bermoral. Agar masyarakat tidak menjadi korban arus westernisasi perlu kembali melihat nilai- nilai adat budaya yang telah berakar yang sangat baik pada warga pedesaan (Wawancara 29 September 2016).

Sebagaimana diungkapkan oleh Lr, bahwa:

Sebagian masyarakat masih berpegang teguh pada nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, seperti bagi para orang tua yang masih memegang teguh nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat, mereka akan mengajarkan kepada anaknya tentang sopan santun dan tata krama, lain halnya dengan orang tua yang kurang memperhatikan tentang nilai-nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat (Wawancara 30 September 2016).

Berdasarkan pernyataan Ah dan Lr di atas dapat di simpulkan bahwa dalam bertindak masyarakat sebagian masih berpegang teguh pada nilai-nilai dan norma adat yang berlaku, hanya saja mulai mengalami pergeseran karena terpaan daripada arus westernisasi. Tetapi bagi masyarakat yang masih memiliki rasa peduli yang tinggi terhadap nilai dan norma social, maka pola pikir dan perilaku tidak akan mudah terpengaruh oleh pengaruh budaya-budaya luar

Pada masa sekarang ini, generasi muda merupakan objek yang paling cepat dipengaruhi dampak perubahan sosial yang dibawa arus globalisasi yang berkiblat ke budaya barat. Apalagi generasi muda yang sama sekali tidak mengenal jati

dirinya sendiri. Mereka cenderung lebih cepat dipengaruhi efek globalisasi sehingga mereka cepat sekali mengalami perubahan sosial yang negatif.

Dalam proses perubahan sosial, banyak remaja yang tidak menfilter hal yang akan mereka ikuti. Kebanyakan dari mereka ketika melalui proses perubahan sosial tidak berpikir panjang dan tidak menimbang tentang pentingnya nilai-nilai social-budaya yang awalnya mereka ikuti.

C. Etika Dalam Berpakaian

Sewajarnya seseorang itu memakai pakaian yang sesuai karena pakaian sopan dan menutup aurat adalah cermin seseorang itu muslim yang sebenarnya. Islam tidak menetapkan bentuk atau warna pakaian untuk dipakai, baik ketika beribadah atau di luar ibadah. Islam hanya menetapkan bahwa pakaian itu mestilah bersih, menutup aurat, sopan dan sesuai dengan akhlak seorang Muslim.

Sebagai seorang muslim kita harus melihat kaidah-kaidah berpakaian yang sesuai dengan syari’at Islam, supaya apa yang kita kenakan dapat dipertanggungjawabkan di akhirat kelak dan tidak memicu hal-hal yang tidak diinginkan. Berbeda dengan zaman sekarang banyak dikenal model yang tidak sesuai dengan syari’at Islam, sebagai contoh adalah model pakaian yang dikenal dengan istilah “you can see” yang artinya kamu boleh melihat, atau bahkan ada yang rela mati-matian untuk menaikan bagian bawahnya ke atas dan yang atas rela diturunkan ke bawah, atau ada yang mengenangkan baju yang semestinya dipakai oleh anak TK/SD (pakaian super ketat) hingga terlihatlah apa yang seharusnya tidak terlihat.

Hal ini sesuai dengan penuturan yang diberikan oleh salah seorang informan Hb kepada peneliti ketika ditanya, bahwa:

Mengenai etika berpakaian masyarakat desa khususnya remaja pada saat ini menurut saya sebagian remaja mengenakan hijab akan tetapi pakaian yang dikenakan itu terlalu ketat seperti halnya membungkus badan saja jadi mengundang mata laki-laki saja untuk meliriknya, ada juga yang tidak berhijab pakaiannya serba ketat dan leher bajunya lebar. Lain halnya para ibu-ibu sebagian besar telah menggunakan hijab ketika bepergian jadi sudah seharusnya para orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya cara berpakaian yang baik (Wawancara 01 Oktober 2016).

Sebagaimana diungkapkan oleh Ba, bahwa:

Sebagai seorang muslim seharusnya memperhatikan etika dalam berpakaian khususnya kaum perempuan dan Alhamdulillah sebagian besar masyarakat masih memperhatikan etika dalam berpakaian (Wawancara 02 Oktober 2016.

Sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang informan Nr, bahwa:

Saya termasuk memiliki gaya hidup modern karena dapat dilihat pola hidup saya yang serba instan, apalagi kan saya sebagai seorang mahasiswa sudah seharusnya mengikuti pola perkembangan zaman agar tidak ketinggalan, saya menggunakan media social serta cara berpakaian saya yang ikut gaya ngetren.

Karena dengan seperti itu saya akan merasa lebih pede dan gaul serta memiliki jaringan yang luas. Dan saya merasa tidak ada salahnya jika orang mengikuti perkembangan zaman karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa manusia memang akan selalu mengikuti setiap perkembangan zaman. Di samping saya mengikuti model pakaian yang tren saat ini, saya juga tetap mengikuti aturan yang sesuai dengan ajaran agama Islam (Wawancara 03 Oktober 2016).

Sebagaimana diungkapkan oleh salah seorang informan Hy, bahwa:

Dari segi berpakaian masyarakat desa pun sudah modern dan tren akan tetapi dari segi etika berpakaian masih memperlihatkan dalam artian masih lebih banyak yang menutup aurat. Akan tetapi cara berhijabnya pun masih mengikuti tren ikut model terbaru jadi agak dilema seperti menutup aurat tapi masih modis, tapi yang lainnya pun para remaja dan orang tua sebagian masih ada yang minim akan etika dalam berpakaian (Wawancara 04 Oktober 2016).

Berdasarkan pernyataan informan Hb, Ba, Nr, Hy di atas dapat di simpulkan bahwa sudah ada masyarakat yang sudah mengikuti perkembangan zaman dapat dilihat pada cara mereka mengikuti cara berpakaian yang ngetren. Kita memang pada dasarnya akan selalu mengikuti arah perubahan yang terjadi pada masyarakat dan manusia memang identik dengan perubahan. Akan tetapi bagi masyarakat yang masih mengerti tentang etika dalam berpakaian, sekalipun mereka megikuti mode pakaian yang ada pada saat ini, mareka akan tetap memperhatikan pakaian mana yang layak dan pantas untuk dipakai.

Pakaian yang dipakai oleh orang barat atau yang dikenakan oleh orang eropa tidak sesuai dengan budaya yang ada pada masyarakat .Banyak orang-orang zaman sekarang memakai baju yang dipakai budaya barat, yang terbuka sana sini.

Menurut mereka itu adalah salah satu model pada masa yang modern ini, menurut mereka tidak pakai baju seperti itu adalah kampungan dan tidak modern, tetapi sebenarnya secara tidak sadar mereka telah terpengaruh oleh budaya-budaya luar yang akan merusak jati diri terutama bagi generasi muda.

Kita sudah sama-sama tau bahwa apabila kita mengikuti gaya berpakaian budaya barat akan memiliki banyak dampak negatif seperti, semakin hilangnya budaya kesopanan kita dalam berpakaian, apalagi kita dari dulu sangat sopan dalam berpakaian, hasil penjualan baju buatan lokal pun menjadi menurun drastis karena menurunnya peminat baju lokal, mereka lebih memilih baju import.

Semakin banyaknya kriminalitas, contohnya apabila kita memakai baju yang tidak sopan atau terlalu terbuka. Itu mungkin akan membuat orang semakin berpikiran kotor dan melakukan tindak kejahatan.

BAB VI

PERAN TOKOH AGAMA ISLAM DALAM MEMFILTER PENGARUH WESTERNISASI PADA MASYARAKAT DI KABUPATEN

KEPULAUAN SELAYAR

Dalam penelitian ini terdapat beberapa peran tokoh agama Islam dalam memfilter pengaruh westernisasi pada masyarakat, yang di mana kita ketahui bahwa telah banyak pengaruh budaya luar yang telah berusaha untuk mempengaruhi pola pikir dan perilaku terhadap masyarakat. Dengan adanya pengaruh-pengaruh dari luar yang akan membawa masyarakat ke jalan yang tidak benar olehnya itu untuk mengurangi pengaruh-pengaruh tersebut maka perlu adanya peran dari tokoh agama Islam itu sendiri.

Fungsi agama adalah sebagai landasan dimana individu itu bertindak atau melakukan sesuatu dalam kehidupannya. Selain daripada fungsi agama sebagai landasan dalam tindakan individu agama juga sebagai pengendali di dalam langkah kehidupan masyarakat, selain itu agama sebagai pemersatu umat manusia karena adanya persamaan keyakinan maka peran agama di dalam perkembangan masyarakat:

A. Peran Motivator

Peran tokoh agama sebagai motivator (pendorong) yaitu tokoh agama dapat memberikan dorongan batin atau motif, akhlak dan moral manusia yang mendasari dan melandasi cita-cita dan perbuatan manusia dalam seluruh aspek hidup dan kehidupan, termasuk dalam perubahan sosial. Tokoh agama sebagai motivasi memberikan pengaruh dalam mendorong individu untuk melakukan

72

suatu aktivitas, karena perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang keyakinan agama dinilai mempunyai unsur kesucian, serta ketaatan.

Sebagaimana diungkapkan oleh Sh kepada peneliti ketika ditanya, bahwa:

Sebagai tokoh agama sudah seharusnya memperhatikan hal-hal yang terjadi pada masyarakat terutama yang berkaitan dengan nilai agama. Salah satu cara yang bisa dilakukan oleh tokoh agama yaitu dengan menjalankan perannya sebagai motivator dengan cara memperlihatkan hal-hal yang dilakukan itu bernilai positif sehingga masyarakat bisa termotivasi untuk mengikuti nilai-nilai agama yang diterapkan oleh tokoh agama itu sendiri (Wawancara 25 September 2016).

Sebagaimana diungkapkan oleh Na, bahwa:

Di dalam menyampaikan ajaran-ajaran tentang nilai-nilai agama kepada masyarakat memang bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan karena kita ketahui bersama bahwa sebagian masyarakat pandai menilai seperti dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, sebelum menyampaikan ajaran-ajaran tentang nilai agama terlebih dahulu tokoh agama memberikan contoh yang baik dalam melakukan aktivitas sehari-hari, agar supaya melalui cara itu masyarakat dapat termotivasi untuk melakukan hal-hal yang baik pula(Wawancara 28 September 2016).

Hal yang sama diungkapkan oleh Tj, bahwa:

Di dalam menyampaikan ajaran-ajaran tentang nilai-nilai agama kepada masyarakat tidak semudah yang kita pikir karena tidak semua masyarakat bisa menerima apa yang kita sampaikan kepada mereka sekalipun itu tentang kebaikan. Biar seribu kali kita menyampaikan kepada mereka, mereka tidak akan begitu mudah untuk menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi saya rasa untuk mengurangi pengaruh-pengaruh buruk terhadap masyarakat yaitu perlu adanya taqwa yang dimiliki oleh setiap orang, agar kita sebagai masyarakat yang beragama Islam dalam kehidupan kita sehari-hari dalam beraktivitas selalu dilandasi dengan akhlak dan moral yang baik sehingga tidak mudah terpengaruh oleh budaya-budaya asing yang akan merusak moral kita sendiri (Wawancara 30 September 2016).

Berdasarkan pernyataan dari informan Sh, Na, dan Tj dapat disimpulkan bahwa sebagai tokoh agama memang sudah seharusnya menjalankan perannya dengan baik, di dalam menyampaikan ajaran tentang nilai-nilai agama memang tidak semudah yang kita pikir karena tidak semua masyarakat memiliki iman atau

taqwa yang tinggi. Bagi masyarakat yang memiliki tingkat keimanan yang baik mereka tidak akan mudah terpengaruh oleh budaya-budaya asing yang akan merusak moral kita sendiri, tetapi lain halnya dengan masyarakat yang bisa dikatakan tingkat keimanannya masih kurang mereka akan mudah terpengaruh oleh budaya-budaya asing. Oleh sebab itu, untuk menghindari terjadinya hal-hal yang seperti itu memang perlu adanya contoh perilaku yang baik dari tokoh agama yang berlandaskan pada akhlak dan moral yang baik yang dapat dicontoh oleh masyarakat dalam melakukan aktivitas.

B. Peran Kreator dan Inovator

Tokoh agama sebagai kreator (pencipta) dan inovator (pembaharu), memberikan semangat dorongan untuk bekerja kreatif (mempunyai kemampuan untuk mencipta) dan produktif (banyak menghasilkan) dengan penuh dedikasi (pengabdian) untuk membangun kehidupan dunia yang lebih baik dan kehidupan akhirat yang baik pula. Oleh karena itu, disamping bekerja kreatif, agama mendorong pula adanya pembaharuan dan penyempurnaan (inovatif).

Sebagaimana diungkapkan oleh Tj kepada peneliti ketika ditanya, bahwa:

Selain sebagai motivator, tokoh agama juga dapat berperan sebagai pencipta atau pembaharu di mana tokoh agama dapat memberikan semangat dorongan untuk bekerja kreatif kepada anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa untuk membangun kehidupan dunia dan akhirat yang lebih baik. Oleh sebab itu, perlu adanya peran dan tanggung jawab tokoh agama dan masyarakat dalam pembinaan akhlak anak. Selain itu orang tua juga bisa mengajarkan anak- anaknya tentang nilai-nilai agama (Wawancara 30 September 2016).

Sebagaimana diungkapkan oleh Ah, bahwa:

Untuk menghadapi perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat karena adanya pengaruh-pengaruh budaya luar, maka perlu adanya dorongan dari

Dokumen terkait