BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4. Struktur Biaya Usahatani Padi Jarwo dan Non Jarwo di Kab. Lobar 2017
4.4.2. Biaya Tetap
Biaya tetap adalah biaya yang besar kecilnya tidak tergantung pada besar kecilnya produksi, dengan kata lain besar kecilnya biaya tetap tidak mempengaruhi hasil produksi dan tidak habis dipakai dalamsatu masa produksi. Biaya tetap dalam
penelitian ini adalah biaya sewa lahan, pajak lahan dan penyusutan alat. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Tabel 4.15.
Tabel 4.15. Biaya Tetap Per Hektar Per Musim Tanam pada Usahatani Padi Jajar Legowo dan Non Jajar Legowo di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017
No Jenis Biaya
Nilai Biaya Tetap/MT (Rp/Ha)
Usahatani Padi Jarwo Usahatani Padi Non Jarwo
1 Pajak Lahan 95.334 72.207
2 Sewa Lahan 4.055.556 4.071.429
3 Penyusutan Alat 412.387 212.454
Total 4.563.277 4.356.090
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.15. menunjukkan bahwa rata-rata jumlah biaya tetap pada usahatani padi jajar legowo sebesar Rp. 4.563.277 per ha, sedangkan pada usahatani padi non jajar legowo sebesar Rp.4.356.090 per ha.adapun uraian mengenai biaya pajak lahan, sewa lahan dan penyusutan alat sebagai berikut:
1. Biaya Pajak Lahan
Biaya pajak dilahan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan non sistem tanam jajar legowo berbeda/tidak sama yaitu pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo pembayaran pajaklahan sebesar Rp. 95.334 per ha, sedangkan pada usahatani padi non sistem tanam jajar legowo yaitu sebesar Rp.72.207 per ha.
2. Biaya Sewa Lahan
Sewa lahan pada lokasi penelitian berbeda antara lokasi yang satu dengan yang lainnya halini dikarenakan tergantung letak lahan dari pemukiman masyarakat atau jika dalam pajak tergantung NJOP (Nilai Jual Objek Pajak). Misalnya di Desa Terong Tawah sewa lahan per are sebesar Rp. 50.000, di Desa Gunungsari sebesar Rp. 40.000 dan di Desa Gerung Utara sebesar Rp. 60.000.
3. Biaya Penyusutan Alat
Biaya penyusutan alat dalam penelitian adalah biaya dari alat-alat yang digunakan dalam melakukan aktivitas pada usahatani padi jajar legowo dan non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat. Alat-alat yang dimiliki petani responden, yaitu cangkul biasa, cangkul garpu, sabit, sprayer, ember dan parang.untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada Tabel 4.16
Tabel 4.16. Biaya Penyusutan Alat Per Musim Tanam pada Usahatani Padi Jajar Legowo dan Non Jajar Legowo di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017.
No Jenis Peralatan
Nilai Penyusutan (Rp/Ha) Usahatani Padi
Jarwo
Usahatani Padi Non Jarwo
1 Cangkul Biasa 131.375 74.978
2 Cangkul Garpu 99.677 107.248
3 Sprayer 479.558 109.137
4 Ember 23.148 43.960
5 Sabit 35.683 49.828
6 Parang 55.334 39.757
Total Nilai Penyusutan 824.775 424.908
Total nilai penyusutan permusim tanam 412.387 212.454 Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.16, dapat diketahui bahwa rata-rata biaya penyusutan alat permusim tanam pada usahatani padi jajar legowo dan non jajar legowo berbeda. Rata- rata biaya penyusutan alat pada usahatani padi jajar legowo lebih besar dibandingkan non jajar legowo yaitu sebesar Rp.412.387per ha. Sedangkan non jajar legowo sebesar Rp. 212.454per ha, perbedaan tersebut dikarenakan alat-alat yang digunakan pada usahatani padi jajar legowo dan non jajar legowo rata-rata memiliki umur pakai yang berbeda-beda.
4.5.Penyerapan Tenaga Kerja Pada Usahatani Padi Sistem Tanam Jajar Legowo dan Sistem Tanam Non Jajar Legowo di Kabupaten Lombok Barat.
Penyerapan tenaga kerja dalam keluarga dan luar keluarga dapat dibedakan berdasarkan komposisi menurut umur, jenis kelamin, kualitas dan prestasi kerja.
Prestasi kerja tenaga kerja luar keluarga sangat dipengarui oleh sistem upah, lama waktu kerja, dan umur tenaga kerja. Sementara prestasi tenaga kerja dalam keluarga dipegaruhi oleh besarnya kebutuhan keluarga disamping kebutuhan-kebutuhan yang lain (Ragil, 2017). Adapun rincian penyerapan tenaga kerja disajikan pada tabel 4.17 Tabel 4.17. Penyerapan Tenaga Kerja Per Ha Per Musim Tanam pada Usahatani Padi
Sistem Tanam Jajar Legowo dan Non Jajar Legowo
No Kegiatan
Usahatani Padi Jarwo Usahatani Padi Non Jarwo TKDK TKLK Total
(HKO)
TKDK TKLK Total (HKO)
1 Pengolahan Tanah 0,41 5,08 5,30 0,00 5,84 5,84
2 Pembibitan 6,38 1,08 7,47 7,33 0,18 7,50
3 Penggarisan 1,66 0,22 1,88 0,00 0,00 0,00
4 Penanaman 0,21 23,20 23,41 0,00 15,34 15,34
5 Pemupukan 4,02 1,35 5,37 3,80 0,50 4,30
6 Penyiangan 7,12 2,92 10,05 1,48 9,60 11,08
7 Penyemprotan 2,15 1,88 4,03 3,50 0,35 3,84
8 Pengairan 12,62 0,70 13,32 16,56 0,00 16,56
9 Pemanenan 0,00 20,36 20,36 0,00 19,73 19,73
10 Pengangkutan 0,00 5,81 5,81 0,00 5,14 5,14
Jumlah 34,37 62,61 96,98 32,66 56,68 89,35
Sumber: Data Primer Diolah
Keterangan:
TKDK : Tenaga Kerja Dalam Keluarga TKLK : Tenaga Kerja Luar Keluarga
Berdasarkan tabel 4.17. Menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten lombok barat mengalami perubahan. Penyerapan tenaga kerja dalam usahatani padi meliputi kegiatan pengolahan tanah, pembibitan, penanaman, pemupukan, penyiangan, penyemprotan, pengairan, pemanenan dan pengangkutan.
Rata-rata penyerapan tenaga kerja pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo yaitu sebesar96,98 HKO/Per Ha. lebih besar daripada sistem tanam non jajar legowo yaitu 89,35 HKO/Per Ha. peningkatan terjadi sebesar 7,63 HKO/Per Ha peningkatan penyerapan tenaga kerja terjadi karena adanya kegiatan tambahan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo yaitu kegiatan penggarisan yang dilakukan untuk mengatur jarak tanam yang akan diterapkan pada kegiatan usahatani padi sistem tanam jajar legowo serta penambahan penggunaan tenaga kerja yang cukup signifikan terjadi pada kegiatan penanaman karena usahatani padi jajar legowo pada kegiatan penanaman membutuhkan tenaga kerja yang lebih banyak dan juga lebih terampil.
4.6. Analisis Produksi, Nilai Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Jajar Legowo dan Non Jajar Legowo di Kabupaten Lombok Barat
4.6.1. Produksi Usahatani Padi Sistem Tanam Jajar Legowo dan Sistem Tanam Non Jajar Legowo di Kabuapten Lombok Barat
Produksi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah rata-rata jumlah produksi yang dihasilkan petani responden pada usahatani padi jajar legowo dan non jajar legowo dalam satu kali musim tanam. Hasil produksi usahatani padi jajar legowo dan non jajar legowo dijual dalam bentuk gabah basah dalam satuan kuintal per ha (Ku/ha). Hasil penelitian menunjukkan bhwa rata-rata jumlah produksi pada usahatani
padi jajar legowo dan non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat dapat dilihat pada tabel. 4.18.
Tabel.4.18. Produksi Per Ha Per Musim Tanam pada Usahatani Padi Jajar Legowo dan Non Jajar Legowo di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017
No Uraian Usahatani Padi
Jarwo
Usahatani Padi
Non Jarwo Selisih
1 Produksi (Ku) 57,51 47,56 9,95
2 Harga (Rp) 350.000 350.000 0
Nilai Produksi (Rp) 20.128.728 16.645.406 3.483.094 Sumber : Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.18, menunjukkan bahwa produksi padi pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat mengalami perubahan. Rata-rata produksi padi pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo yaitu sebesar 57,51 Ku lebih besar daripada produksi padi pada usahatani padi sistem tanam non jajar legowo yaitu sebesar Rp. 47,56 Ku. Terjadi peningkatan sebesar 9,95 Ku.
4.5.2. Nilai Produksi Usahatani Padi Sistem Tanam Jajar Legowo Di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017
Nilai produksi adalah hasil perkalian antara jumlah produksi (Ku) dengan harga yang berlaku persatuan kuintal (Rp). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata- rata jumlah penerimaan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan sistem tanam non jajar legowo dapat dilihat pada tabel 4.18. diatas.
Rata-rata nilai produksi terbesar terjadi pada usahatani padi sistem tanamjajar legowo sebesar Rp. 20.128.500 per ha lebih besar daripada usahatani padi sistem tanam non jajar legowo yaitu sebesar Rp. 16.645.406 per ha. sedangkan untuk harga penjualan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan sistem tanam non jajar legowo tetap atau sama.
4.5.3.Pendapatan Usahatani Padi Sistem Tanam Jajar Legowo Di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017
Pendapatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pendapatan bersih yang diperoleh dari sisa pengurangan penerimaan dengan total biaya produksi yang
dikeluarkan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan non sistem tanam jajar legowo. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel 4.19.
Tabel 4.19. Pendapatan Per Ha Per Musim Tanam Usahatani Padi Sistem Tanam Jajar Legowo dan Non Sistem Tanam Jajar Legowo di Kabupaten Lombokbarat Tahun 2017
No Uraian Usahatani Padi
Jarwo
Usahatani Padi Non
Jarwo Selisih
1. Produksi (Ku/Ha) 57,51 47,56 9,95
2.
3.
4.
5.
6.
Harga (Rp/Ku) Nilai Produksi (Rp) Biaya Produksi (Rp) Pendapatan (Rp) R/C Ratio
350.000 20.128.728 12.800.759 7.327.969 2,24
350.000 16.645.406 11.566.569 5.078.837 1,99
0 3.483.094 1.234.190 2.249.132 0,25
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.18, menunjukkan bahwa adanya perbedaan total pendapatan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dengan sistem tanam non jajar legowo yaitu sebesar Rp. 7.327.969 per ha pada sistem tanam jajar legowo dan Rp. 5.078.837 per ha pada sistem tanam non jajar legowo. Terjadi peningkatan sebesar Rp. 2.249.132 per ha.
Meningkatnya rata-rata pendapatan per hektar karena terjadi peningkatan rata-rata produksi per hektar yang berpengaruh terhadap rata-rata nilai produksi pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo. Sistem tanam jajar legowo mendapatkan produksi yang lebih tinggi karena intensitas cahaya matahari yang diterima tanaman lebih merata sehingga proses fotosintesis lebih bagus. Menurut Soerodji (2013), sistem tanam jajar legowo memiliki beberapa tipe diantaranya jajar legowo 2:1 dengan peningkatan populasi 30%, jajar legowo 3:1 dengan peningkatan populasi 25%, jajar legowo 4:1 dengan peningkatan populasi 20%, Akantetapi dalam penelitian ini semua responden menggunakan jarak tanam legowo 4:1.
Selain jarak tanam yang mampu meningkatkan produksi pada sistem tanam jajar legowo, penambahan pupuk organik sangat bermanfaat bagi peningkatan produksi pertanian. Halini sesuai dengan hasil penelitian Karyadi dan Suratiningsih (2011), bahwa penggunaan pupuk anorganik yang memandukan pupuk organik dalamupaya perawatan lebih baik dibandingkan dengan usahatani pengguna pupuk
anorganik saja, sehingga produksi usahatani padi yang menggunakan pupuk anorganik yang ditambah dengan pupuk organik lebih besar, karena bahan pupuk organik sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas lahan secara berkelanjutan serta mengurangi pencemaran lingkungan. Penggunaan pupuk organik dalam jangka panjang dapat meningkatkan produktivitas lahan dan dapat mencegah degradasi lahan.
Suatu usaha layak untuk dikembangkan apabila nilai efisiensi usaha atau R/C ratio>1. Pada tabel 4.19 menunjukkan bahwa rata-rata R/C Ratio per hektar yang diperoleh pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo maupun sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten Lombok Baratlayak untuk dikembangkan karena R/C ratio>1. Akantetapi pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo lebih layak dikembangkan daripadi sistem tanam non jajar legowo karena nilai R/C Ratio pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo lebih besar yaitu 2,24 daripada nilai R/C Ratio pada usahatani padi sistem tanam non jajar legowo yaitu 1,99. Terjadi peningkatan nilai R/C Ratio yaitu 0,25.
4.6. Analisis Dampak Pengembangan Sistem Tanam Jajar Legowo Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja, Pembiayaan, Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Lombok Barat.
Setelah menganalisis dampak dengan menggunakan uji t-test. Terlebih dahulu melakukan uji homogenitas data dengan menggunakan F-test Two Sample For Variances. Hasil uji F-test Two Sample For Variances penyerapan tenaga kerja, pembiayaan, produksi dan pendapatan disajikanpada Tabel 4.1.
Tabel 4.20. Uji F-test Two Sample For Variances Penyerapan Tenaga Kerja, Pembiayaan, Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi Sistem Tanam Jajar Legowo dan Non Sistem Tanam Jajar Legowo di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017.
No Uraian Rata-rata Nilai F-
hitung
F-tabel Data
Jarwo Non Jarwo
1 Penyerapan TK (HKO/Ha)
96,98 89,35 2,28 2,21 Heterogen
2 Pembiayaan (Rp/Ha) 12.800.759 11.566.569 0,35 0,45 Homogen
3 Produksi (Ku/Ha) 57,51 47,56 3,95 2,21 Heterogen
4 Pendapatan(Rp/Ku) 7.327.969 5.078.837 0,68 0,45 Heterogen
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarka tabel 4.19. menunjukkan bahwa hasil uji homogenitas penyerapan tenaga kerja, pembiayaan, produksi dan pendapatan usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat.
Jika dilihat dari segi penyerapan tenaga kerja yakni nilai F-hitung (2,28) lebih besar dari F-Tabel (2,21) maka data tersebut merupakan data yang heterogen.
Jika dilihat dari segi pembiayaan yakni nilai F-hitung (0,35) lebih kecil dari F-tabel (0,45) maka data tersebut merupakan data yang homogen
Jika dilihat dari segi produksi yakni F-hitung (3,95) lebih besar dari F-tabel (2,21) maka data tersebut merupakan data yang heterogen
Jika dilihat dari pendapatan yakni nilai F-hitung (0,68) lebih besar dari F- tabel (0,45) maka data tersebut merupakan data yang heterogen
Selanjutnya dampak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dampak penyerapan tenaga kerja, pembiayaan, produksi dan pendapatan usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan non sistem tanam jajar legowo yang dianalisis menggunakan T-test: Two Sample Assuming Uniquel Variancesuntuk data heterogen dan T-test: Two Sample Assuming aiquel Variancesuntuk data homogen. Analisis komperasi penyerapan tenaga kerja, pembiayaan, produksi dan pendapatan usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan non sistem tanam jajar legowo disajikan pada tabel 4.21.
Tabel 4.21. Dampak Pengembangan Sistem Tanam Jajar Legowo Terhadap Penyerapan Tenaga Kerja,Struktur Pembiayaan, Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017
No Uraian
Rata-rata Nilai
T-hitung T-tabel Hipotesis
Jarwo Non Jarwo
1 Penyerapan TK (HKO/Ha)
96,98 89,35 -1,43 2,03 H0 diterima
2 Pembiayaan (Rp/Ha) 12.800.759 11.566.569 -1,26 2,03 H0 diterima
3 Produksi (Ku/Ha) 57,51 47,56 -5,99 2,03 H0 ditolak
4 Pendapatan(Rp/Ku) 7.327.969 5.078.837 -2,85 2,03 H0 ditolak Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.20. menunjukkan bahwa hasil analisis komperasi penyerapan tenaga kerja, pembiayaan, produks, dan pendapatan usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan non sistem tanam jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat.
Jika dilihat dari segi penyerapan tenaga kerja bahwa nilai t-hitung │- 1,43│=│1,43│ lebih kecil dari t-tabel (2,03), maka H0 diterima sehingga H1 ditolak.
Artinya pengembangan sistem tanam jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat tidak berpengaruh nyata terhadap perbedaan penyerapan tenaga kerja pada usahatani padi dengan sistem tanam jajar legowo dansistem tanam non jajar legowo.
Jika dilihat dari segi pembiayaan bahwa nilai t-hitung │-1,26│=│1,26│ lebih kecil dari t-tabel (2,03), maka H0 diteriam sehingga H1 ditolak. Artinya pengembangan sistem tanam jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat tidak berpengaruh nyata terhadap perbedaan struktur pembiayaan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan sistem tanam non jajar legowo.
Jika dilihat dari segi produksi bahwa nilai t-hitung │-5,99│=│5,99│ lebih besar dari nilai t-tabel (2,03), maka H0 ditolak sehingga H1 diterima.
Artinyapengembangan sistem tanam jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat berpengaruh nyata terhadap perbedaan produksi pada usahatani padi dengan sistem tanam jajar legowo dan sistem tanam non jajar legowo.
Jika dilihat dari segi pendapatan bahwa nilai t-hitung bahwa nilai t-hitung │- 2,85│=│2,85│lebih besar dari nilai t-tabel (2,03), maka H0 ditolak sehingga H1 diterima. Artinya pengembangan sistem tanam jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat berpengaruh nyata terhadap perbedaan pendapatan pada usahatani padi dengan sistem tanam jajar legowo dan sitem tanam non jajar legowo.
4.7. Kendala-Kendala Pada Usahatani Padi di Kabupaten Lombok Barat
Dalam melakukan usahatani, petani akan dihadapkan pada berbagai macam kendala untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan. Kendala-kendala tersebut perlu diketahui agar petani dapat mengantisipasi dan mencari solusi bijaksana untuk mengatasi setiap kendala sehingga usahatani padi dapat dilakukan secara optimal.
Adapun kendala-kendala petani responden pada usahatani padi di Kabupaten Lombok Barat yaitu serangan hama, serangan penyakit, kekurangan air, kekurangan keterampilan tenaga kerja penanaman. Dapat dilihat pada tabel 4.22.
Tabel 4.22. Kendala-kendala Responden pada Usahatani Padi Sistem Tanam Jajar Legowo dan Non Sistem Tanam Jajar Legowo di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017.
No Jenis Kendala
Jarwo Non Jarwo
Jumlah Persentase % Jumlah Persentase %
1 Modal 0 0 19 100
2 Serangan Hama 19 100 19 100
3 Kekuranga Air 0 0 6 32
4 Kekurangan
keterampilan TK penanaman
7 37 0 0
Sumber: Data Primer Diolah
Tabel 4.21. menunjukkan kendala-kendala yang dihadapioleh responden sistem tanam jajar legowo dan non sistem tanam jajar legowo dalam berusahatani di lokasi penelitian sebagai berikut:
Kendala pertama, sebanyak 19 orang (100%) petani responden sistem tanam non jajar legowo menhadapi kendala kekurangan modal dalam melaksanakan usahataninya. Karena kendala inilah yang membuat petani masih sulit dalam menerima inovasi atau teknologi baru yang dianjurkan oleh pemerintah. akantetapi pada petani responden sistem tanam jajar legowo kekurangan modal sudah tidak menjadi kendala bagi mereka
Kendala kedua, sebanyak 19 orang (100%) juga petani responden sistem tanam jajar legowo maupun sistem tanam non jajar legowo menghadapi kendala yang sama yaitu serangan hama, hama ulat aktifmemakan dedaunan bahkan pangkal batang.
Daun yang sudah dimakan hama ulat hanya tersisa rangka atau tulang daunnya saja, Hama tikus memakan tenaman padi sehingga membuat produksi padi menurun, hama walang sangit menghisap bulir-bulir padi sehingga bulir padi akan menjadi hampa (sugiarto,2011). Untuk mengatasi ham tersebut petani menyemprotkan pestisida jenis insektisida.
Kendala ketiga yaitu sebanyak 6 orang (32%) responden mengalami kendala kekurangan air yang disebabkan karena 6 orang responden tersebut hanya memanfaatkan sumur dangkal sebagai wadah proses pengairan usahatani padi, sedangkan sumur dangkal yang digunakan dimanfaatkan juga oleh petani di desa lain.
Hal itulah yang menyebabkan petani responden mengalami kekurangan air
Kendala keempat, beberapa responden kesulitan dalam mendapatkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan menanam sistem tanam jajar legowo pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo sebanyak 7 orang (37%) responden yang mengalami kendala kekurangan keterampilan tenaga kerja menanam karena menurut responden bahwa tenaga kerja menganggap proses menanam jajar legowo sulit dilakukan, sebab membutuhkan keterampilan yang maksimal.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan dan tinjauan penelitian, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1) Struktur biaya pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan non sistem tanam jajar legowotidak berbeda nyata namun pada perhitungan matematika mengalami perbedaan yaitu
a. Total biaya pada usahatani padi jajar legowo sebesar Rp. 12.800.759 per hektar dengan princian biaya variabel Rp. 8.237.482 per hektar dan biaya tetap Rp.
4.563.277 per hektar.
b. Total biaya pada usahatani padi non jajar legowo sebesar Rp. 11.566.569 per hektar dengan princian biaya variabel Rp. 7.210.479 per hektar dan biaya tetap Rp.
4.356.090 per hektar.
2) Penyerapan tenaga kerja pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan non sistem tanam jajar legowo tidak berbeda nyata namun pada perhitungan matematika mengalami perbedaan yaitusebesar 96,98 HKO per ha pada jajar legowo lebih besar jika dibandingkan penyerapan tenaga kerjanon jajar legowo yaitu sebesar 89,35 HKO per ha, terjadi perbedaan penyerapan tenaga kerja sebesar 7,63 HKO per ha.
3) Sistem tanam jajar legowo berdampak positif terhadap peningkatan produksi dan pendapatan usahatani padi di Kabupaten Lombok Barat. Hal ini ditunjukkan oleh a. produksi padi pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo sebesar 57,51 Ku/Ha,
lebih besar jika dibandingkan dengan produksi padi padausahatani padi sistem tanam non jajar legowo yaitu sebesar 47,56 Ku/Ha, sehingga terjadi peningkatan sebesar 9,95 Ku/Ha.
b. pendapatan usahatani padi sistem tanam jajar legowo sebesar Rp. 7.327.969lebih besar jika dibandingkan dengan pendapatan usahatani padi sistem tanam non jajar legowo yaitu sebesar Rp. 5.078.837per ha, terjadi peningkatan pendapatan sebesar Rp.2.249.132per ha.
5.2. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dapat disampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Diharapkan kepada dosen atau penyuluh untuk menyampaikan kepada petani agar tetap menerapkan sistem tanam jajar legowo dalam melakukan usahatani padi seperti yang dianjurkan oleh pemerintah, sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal dan mampu meningkatkan pendapatan. Meskipun terdapat kesulitan dari sisi tenaga kerja dan adanya tambahan biaya namun dari sisi produksi dan pendapatan tetap menguntungkan.
2. Pemerintah dan Dinas terkait sebaiknya melakukan desimilasi penyuluhan kepada petani agar petani menyadari bahwa sistem tanam jajar legowo dapat menguntungkan petani karena berdasarkan penelitian yang dilakukan usahatani padi yang menerapkan sistem tanam jajar legowo cukup menguntungkan.
3. Diharapkan kepada pemerintah dan dinas terkait memberikan pelatihan kepada petani untuk meningkatkan keterampilan para tenaga kerja dalam usahatani padi yang menerapkan sistem tanam jajar legowo, serta tetap mengawasi kegiatan usahataninya dan lebih dekat dengan petani agar pemerintah mengetahui permasalahan yang dihadapi dan cepat mencarikan solusi sehingga permasalahan cepat terselesaikan.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2012. Hasil penelitian dan pengkajian terhadap motede tandur joget dan tandur jajar.www.ntb.litbang.pertanian.go.id (diakses tanggal 12 feb 2017).
, 2012. Tanam Padi Sistem Jajar Legowo. Di
https://sekarmadjapahit.wordpress.com. (diakses tanggal 12 feb 2017)
, 2015. Pedoman Teknis GP-PTT Padi 2015 di Nusa Tenggara Barat.
www.ntb.litbang.pertanian.go.id / (diakses tanggal 22 feb 2017)
, 2015. Pedoman Upaya Khusus Padi jagung dan kedelai.
http://www.pertanian.go.id/assets/upload/doc/permentan_pedum_upsus_apbnp.pd f / (diakses tanggal 7 feb 2017)
, 2016. Revolusi padi di Nusa Tenggara Barat.
http://www.kompasiana.com/mtf3lix5tr/revolusi-padi-di-nusa-tenggara- barat_579e20b4c3afbdb71fc9ecbf (diakses tanggal 21 feb 2017)
, Metodelogi Penelitian.http://digilib.unila.ac.id/15454/5/BAB%203.Pdf.
(diakses 18 Nov 2017)
Badan Pusat Statistik, 2015. Lombok Barat dalam Angka 2016. Kantor Biro Pusat Statistik Provinsi NTB. Mataram
Balai Penyuluh Pertanian, 2016. Program Penyuluh Kecaman Gerung. Gerung , 2016. Program Penyuluh Kecamatan Lembar. Lembar , 2016. Program Penyuluh Kecamatan Labuapi. Labuapi
Dinas Pertanakbun, 2016. Data luas lahan bantuan jajar legowo Kabupaten Lombok Barat . Dinas Pertanian, peternakan dan perkebunan Kabupaten Lombok Barat.
Labuapi
Firmana F dan Nirmalina R, 2016. Dampak Penerapan Program SLPTT terhadap Pendapatan Usahatani Padi di Kecamatan Telagasari Kabupaten Karawang.
Departemen Agribisnis Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Institut Pertanian Bogor. Jurnal Agrikultura ISSN 0853-2885
Hernanto, F. 1993. Ilmu Usahatani. Penerbit : Penebar swadaya.Jakarta
Ikhwani, 2013. Peningkatan Produktivitas Padi Melalui Jajar Legowo. Puslitbang Tanaman Pangan. Jurnal Iptek Tanaman Pangan Vol. 8 NO. 2 2013
Ilyas. 1988. Kajian Fakto-faktor Sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Fasilitas Usia Produktif Dalam Rangka Pegelolaan Kependudukan. LP3ES. Jakarta
Kementrian Pertanian, 2013. Panduan Sistem Tanam Jajar legowo. Direktorat Jendral Tanaman Pangan. Kementrian Pertanian