BAB III METODELOGI PENELITIAN
3.7. Analisis Data
1) Untuk menghitung biaya dan pendapatan usahatani padi yang menerapkan sistem tanam jajar legowo pada padi sawah akan digunakan rumus (Soekartawi, 1995) sebagai berikut:
a. Biaya Usahatani
TC = FC + VC Keterangan :
TC = Biaya Total (Rp) FC = Biaya Tetap (Rp) VC = Biaya Variabel (Rp) b. Nilai Produksi
TR = P.Q Keterangan :
TR = Nilai Produksi (Rp)
P = Harga Jual Produksi (Rp/Unit) Q = Jumlah Produksi (Unit)
c. Pendapatan usahatani adalah selisih antara penerimaan dan semua biaya, akan digunakan rumus (Soekartawi, 1995).
Pd = TR – TC Keterangan :
Pd = Pendapatan Usahatani TR = Total Penerimaan TC = Total Biaya
d. Untuk mengetahui penyerapan tenga kerja pada usahatani padi yang menerapkan sistem tanam jajar legowo akan digunakan rumus hari kerja orang (HKO) sebagai berikut (Hernanto,1993):
P =( )
Keterangan :
P = Penyerapan tenaga kerja (HKO)
t = Jumlah tenaga kerja yang digunakan (Orang) h = Jumlah hari kerja yang digunakan
j = Jumlah jam kerja yang digunakan (Jam) 7 = Standard jam kerja perhari
2). Dampak Sistem Tanam Jajar Legowo
Untuk mengetahui dampak pengembangan sistem tanam jajar legowo terhadap produksi dan pendapatan petani dilakukan pengujian terhadap produksi dan pendapatan petani yang mengembangkan sistem tanam jajar legowo dengan petani yang tidak mengembangkan sistem tanam jajar legowo menggunakan Uji T-test dua arah pada taraf nyata 5%.
Rumus Hipotesis
H0: X = Y(Artinya tidak berpengaruh nyata terhadap rata-rata produksi dan pendapatan antara petani sistem tanam jajar legowo dengan rata-rata produksi dan pendapatan petani sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat)
H1 : X ≠ Y (Artinya berpengaruh nyata terhadap rata-rata produksi dan pendapatan antara petani sistem tanam jajar legowo dengan rata-rata produksi dan pendapatan petani sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat.
Langkah-langkah pengujian hipotesis:
1. Untuk mengetahui homogen tidaknya variance kedua sampel digunakan uji F pada taraf nyata 5% dengan rumus sebagai berikut:
F-hitung : , jika Sx2> Sy2atau F hitung jika Sy2> Sx2 didapatkan dari:
Sx2: ∑( ̅)
( ) dan Sy2: ∑( ̅)
( )
Jika F-hitung ≤ F-tabel berarti variance kedua sampel homogen Jika F-hiutng ≥ F-tabel berarti variance kedua sampel tidak homogen 2. Apabila variance kedua sampel homogen, maka digunakan rumus :
T-hitung : ̅ ̅
√
SP2 : ∑( ̅( )( ) ∑( ̅ ) )
3. Apabila variance kedua sampel tidak homogen, maka diguanakan rumus:
T-hitung : ̅ ̅
√
Keterangan :
̅ : Rata-rata pendapatan usahatani padi sistem tanam non jarwo ̅ : Rata-rata pendapatan usahatani padi sistem tanam jarwo Sx2 : Variance X
Sy2 : Variance Y
Sp2 : Variance gabungan dari X danY n1 : Jumlah Petani sistem tanam non Jarwo n2 : Jumlah Petani sitem tanam Jarwo 4. Kriteria penerimaan hipotesis :
1. Sisi Negatif (Kiri)
i. Jika t hitung< t tabel, maka ada pengaruh nyata (H1 diterima H0 ditolak), artinya ada pengaruh nyata rata-rata produksi atau pendapatan petani sistem tanam jajar legowo dengan sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat.
ii. Jika t hitung> t tabel, maka tidak ada pengaruh nyata (H0 ditolak H1 diterima), artinya tidak ada pengaruh nyata rata-rata produksi atau pendapatan petani sistem tanam jajar legowo dengan petani sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat.
2. Sisi Positif (Kanan)
i. Jika t hitung> t tabel, maka ada pengaruh nyata (H1 diterima H0 ditolak), artinya ada pengaruh nyata rata-rata produksi atau pendapatan petani sistem tanam jajar legowo dengan petani sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat.
ii. Jika t hitung< t tabel, maka tidak ada pengaruh nyata (H0 ditolak H1 diterima), artinya tidak ada pengaruh nyata rata-rata produksi atau pendapatan petani sistem tanamjajar legowo dengan petani sistem tanam non jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Daerah Penelitian
Kabupaten Lombok Barat merupakan salah satu Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat yang keadaan geografisnya menguntungkan. Pemandangan alamnya yang indah, tanah yang subur serta cadangan air yang melimpah menjadi potensi yang dimanfaatkan dengan baik oleh penduduk yang tinggal di Kabupaten ini.
4.1.1. Keadaan Geografis
4.1.1.1. Letak dan Luas Wilayah
Kabuapaten Lombok Barat sebagai salah satuderah di Provinsi Nusa Tenggara Barat, letaknya diampit antara sebelah utaranya berbatasan dengan Kabupaten Lombok Utara, sedangkan Sebelah Selatannya berbatsan dengan Samudra Hindia.
Letaknya antara 115,49ᵒ- 116,20ᵒbujur timur, dan 8,24ᵒ-8,25ᵒLintang Selatan. Batas- batas wilayah Kabupaten Lombok Barat adalah sebagai berikut:
Sebelah Utara : Kabupaten Lombok Utara Sebelah Timur : Kabupaten Lombok Tengah Sebelah Selatan : Samudra Hindia
Sebelah Barat : Selat Lombok dan Kota Mataram
Luas wilayah Kabupaten Lombok Barat adalah sebesar 1.053,92 Km2, yang terbagi dalam 10 kecamatan. Kecamatan terluas adalah Kecamatan Sekotong yaitu 529,38 Km2, disusul Kecamatan Narmada dengan luas wilayah 107,62 Km2. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1. Luas Kabupaten Lombok Barat dirinci Menurut Kecamatan Pada Tahun 2015.
No Kecamatan Luas
(Km2)
Persentase (%)
1. Sekotong 529,38 50,23
2. Lembar 62,66 5,95
3. Gerung 62,30 5,91
4. Labuapi 28,33 2,69
5. Kediri 21,64 2,05
6. Kuripan 21,56 2,05
7. Narmada 107,62 10,21
8. Lingsar 96,58 9,16
9. Gunung Sari 89,74 8,51
10. Batulayar 34,11 3,24
Total 1.053,92 100,00
Sumber: BPS Provinsi NTB Lombok Barat dalam Angka, 2016
4.1.1.2. Keadaan Iklim
Kabupaten Lombok Barat merupakan daerah yang beriklim tropis sama halnya dengan daerah Kabupaten dan Kota lainnya di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Menurut stasiun klimatologi Kabupaten Lombok Barat, suhu udara rata-rata di Lombok Barat tahun 2014 berkisar 31,08ᵒC sampai dengan 35,00ᵒC. Untuk kelembaban udara rata- rata bervariasi, dari 78% sampai dengan 87%. Curah hujan tertinggi tercatat pada bulan januari sebesar 383 mm dan hari hujan terbanyak tercatat pada bulan januari sebesar 22 hari (BPS Provinsi NTB, 2015).
4.1.2. Keadaan Demografi dan Sosial Ekonomi 4.1.2.1. Keadaan Penduduk
Berdasarkan data yang ada di BPS tahun 2015, jumlah penduduk Lombok Barat tercatat 654.892 jiwa. Jumlah penduduk perempuan lebih besar dibandingkan jumlah penduduk laki-laki, ditunjukkan oleh rasio jenis kelamin (rasio jumlah penduduk laki-laki terhadap jumlah penduduk perempuan), sebesar 95%. Penduduk Lombok Barat belum menyebar secara merata diseluruh wilayah Lombok Barat.
Umumnya, penduduk banyak menumpuk di Kecamatan Narmada dengan jumlah sebesar 96.052 jiwa. Secara rata-rata, kepadatan penduduk Lombok Barat tercatat sebesar 621 jiwa setiap kilometer persegi dan wilayah terpadat yaitu Kecamatan Kediri
yang memiliki tingkat kepadatan 2.737 orang setiap kilometer persegi. Untuk lebih rincinya dapat dilihat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2. Kepadatan Penduduk Menurut Kecamatan di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2015.
No Kecamatan Luas Daerah (Km2)
Jumlah Penduduk (Jiwa)
Kepadatan Penduduk Per
(Km2)
1. Sekotong 529,38 61.447 116
2. Lembar 62,66 48.548 775
3. Gerung 62,30 81.223 1.304
4. Labuapi 28,33 66.393 2.344
5. Kediri 21,64 59.233 2.737
6. Kuripan 21,56 37.176 1.724
7. Narmada 107,62 96.052 893
8. Lingsar 96,58 69.292 717
9. Gunung Sari 89,74 85.929 958
10. Batulayar 34,11 49.559 1.454
Total 1.053,92 654.892 621
Sumber : BPS Provinsi NTB Lombok Barat dalam Angka, 2016
Tabel diatas menunjukkan bahwa kepadatan penduduk di Kabupaten Lombok Barat tergolong sedang dengan jumlah kepadatan mencapai 621 per Km2. Sesuai dengan pernyataan Kasryono (1995) dalam Utami (2012) bahwa klasifikasi kepadatan penduduk secara geografis digolongkan menjadi tiga yaitu: golongan padat (>1000 jiwa/Km2), golongan sedang (500-1000 jiwa/Km2), golongan jarang (<500 jiwa/Km2).
4.1.2.2. Mata Pencaharian
Ditinjau dari sektor ekonomi, mata pencaharian penduduk Kabupaten Lombok Barat yaitu penduduk yang bekerja menurut lapangan usahanya yaitu dibagi menjadi beberapa sektor seperti: pertanian, pertambangan, industri, (listrik, gas, air), konstruksi, perdagangan, komunikasi, keuangan, jasa, dan lainnya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.3. Persentase Penduduk yang Bekerja Menurut Lapangan Usaha Tahun 2015.
No Lapangan Usaha Laki-laki Perempuan Laki-laki dan Perempuan
1. Pertanian 36,44 39,68 37,77
2. Pertambangan 6,18 1,65 4,33
3. Industri 7,39 11,59 9,11
4. Listrik,Gas dan Air 0,66 0,00 0,39
5. Konstruksi 16,32 0,35 9,79
6. Perdagangan 15,05 3,428 2,292
7. Komunikasi 5,57 0,35 3,44
8. Keuangan 0,48 0,76 0,60
9. Jasa 11,52 9,98 10,89
10. Lainnya 0,38 1,36 0,78
Total 100,00 100,00 100,00
Sumber: BPS Provinsi NTB Lombok Barat dalam Angka, 2016
Tabel 4.3. menunjukkan bahwa mata pencaharian penduduk di Kabupaten Lombok Barat menurut lapangan usaha bervariasi, dimana sebagian besar penduduk di Kabupaten Lombok Barat bekerja di sektor pertanian yaitu mencapai 37,77%, sedangkan sektor listrik, gas dan air hanya mencapai 0,39%. Hal ini di karenakan lahan pertanian masih luas untuk dimanfaatkan atau dikelola.
4.1.2.3. Keadaan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana merupakan faktor yang sangat penting dalam menunjang kemajuan perekonomian suatu daerah dan memperlancar berbagai kegiatan perdagangan khususnya hasil-hasil perindustrian dan pertanian di Kabupaten Lombok Barat. Salah satunya yaitu tersedianya sarana transportasi yang dapat memperlancar arus penyampaian hasil produksi dari produsen ke konsumen. Sarana transportasi mempunyai arti sangat penting terhadap ketempatan waktu tempuh dan memperkecil resiko kerusakan. Adapun keadaan sarana tranportasi di Kabupaten Lombok Barat disajikan pada tabel 4.5.
Tabel 4.4. Jumlah dan Jenis Alat Transportasi di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2015.
No Jenis Transportasi Jumlah (Unit) Persentase (%)
1. Bus 20 0,26
2. Mini Bus 66 0,87
3. Truck 91 1,19
4. Pick Up 86 1,12
5. Cidomo 221 2,89
6. Sepeda 2.545 33,23
7. Sepeda Motor 4.658 60,44
Jumlah 7.658 100,00
Sumber: BPS Provinsi NTB Lombok Barat dalam Angka 2016
Berdasarkan tabel 4.5. dapat disimpulkan bahwa jenis transfortasi sepeda motor merupakan alat transportasi terbanyak yang dimiliki oleh penduduk di Kabupaten Lombok Barat sebesar 60,44% atau 4.658 unit. Jenis transportasi sepeda motor bagi petani di Kabupaten Lombok Barat digunakan sebagai alat transportasi ke sawah, digunakan untuk memudahkan dalam pembelian sarana produksi yang dibutuhkan bagi para petani di Kabupaten Lombok Barat.
Selain sarana transportasi dalam melancarkan usahatani padi di Kabupaten Lombok Barat harus tersedinya sarana komunikasi, sarana komunikasi merupakan salah satu sarana yang efektif dalam menyampaikan pesan, keluhan petani, ataupun informasi dari penyuluh ke petani. Adanya sarana tersebut, maka pesan yang disampaikan dapat dilakukan melalui berbagai alat telekomunikasi seperti pos, telepon, hubungan radio dan televisi.
4.2. Karakteristik Responden
Karakteristik responden adalah gambaran keadaan responden yang terdiri atas umur petani responden, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga, luas lahan garapan, pengalaman berusahatani, status penguasaan lahan dan jenis pekerjaan.
4.2.1. Umur Responden
Umur sangat berkaitan erat dengan pola pikir atau keputusan yang diambil dari berbagai jenis pilihan yang ada, semakin tinggi umur seseorang maka pola pikir akan semakin berkurang. Umur dapat mempengaruhi fisik dalam bekerja, cara berfikir, serta
keinginan untuk menerima ide-ide baru dalam mengelola usahatani. Kisaran umur petani responden dapat dilihat pada tabel 4.5.
Tabel. 4.5. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Umur di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017
No Kisaran Umur (Thn)
Petani Jarwo Petani Non Jarwo Orang Persentase (%) Orang Persentase (%)
1 30 – 40 7 37 3 16
2 41 – 50 5 26 6 31,5
3 51 – 60 4 21 6 31,5
4 61 – 70 3 16 4 21
Total 19 100 19 100
Sumber : Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.5, dapat disimpulkan bahwa semua petani responden yang menerapkan sistem tanam jajar legowo maupun yang tidak menerapkan sistem tanam jajar legowo (Jarwo)tergolong dalam usia yang produktif pada petani responden sistem tanam jajar legoworata-ratausia terbanyak berkisar antara 30-40 tahun yaitu 7 orang dan rata-rata usia terendah berkisar antara 61-70 tahun yaitu 3 orang. Sedangkan pada petani responden sistem tanam non jajar legowo rata-rata usia terbanyak berkisar antara 41-50 tahun dan 51-60 tahun yaitu 6 orang dan rata-rata usia terendah berkisar antara 30-40 tahun yaitu 3 orang. Hal ini didukung oleh pendapat simanjutak (1985) bahwa golongan umur produktif berkisar antara 15-65 tahun karena usia tersebut petani memiliki kemampuan bekerja yang tinggi baik dari segi fisik maupun mental dalam melakukan usahataninya.
4.2.2. Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan responden merupakan salah satu aspek penting untuk mengembangkan sumberdaya manusia (SDM) yang ada pada suatu wilayah tingkat pendidikan akan mempengaruhi motivasi petani untuk berpikir lebih baik dalam memilih alternatif danmemecahkan masalah yang dihadapi pada saat mengelola usahataninya. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka semakin maju pola pikir, kemampuan adaptasi, dan adopsi terhadap inovasi teknologi baru dalam kegiatan
usahataninya sehingga mampu meningkatkan produksi dan pendapatannya. Tingkat pendidikan petani responden dapat dilihat pada tabel 4.6.
Tabel. 4.6. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017.
No Tingkat
Petani Jarwo Petani Non Jarwo Orang Persentase (%) Orang Persentase (%)
1. TTSD - - 5 26
2. SD 7 31 8 42
3. SMP 4 21 4 21
4. SMA 6 37 2 11
5. TPT 2 11 - -
Total 19 100 19 100
Sumber : Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.6. dapat disimpulkan bahwa rata-rata petani responden pernah menempuh pendidikan formal mulai dari SD hingga perguruan tinggi pada petani responden jajar legowo (Jarwo) rata-rata tingkat pendidikan terbanyak yaitu SD sebanyak 7 orang (31%) dan rata-rata tingkat pendidikan terendah yaitu tamat perguruan tinggi sebanyak 2 orang (11%) dari petani responden jajar legowo.
Sedangkan petani responden non jajar legowo (Non Jarwo) rata-rata tingkat pendidikan terbanyak yaitu SD sebanyak 8 orang (42%) dan rata-rata tingkat pendidikan terendah yaitu SMA sebanyak 2 orang (11%). Hal ini berarti rata-rata tingkat pendidikan petani responden jarwo maupun non jarwo tergolong rendah.
4.2.3. Jumlah Tanggungan Keluarga
Jumlah tanggungan keluarga yang dimaksud dalam penelitian adalah jumlah anggota keluarga petani responden yang terdiri dari ayah, ibu, anak, dan lainnya yang tinggal dalam satu rumah dan makan dalam satu dapur. Jumlah tanggungan keluarga petani responden dapat dilihat di tebel 4.7.
Tabel. 4.7. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan Keluarga di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017
No Kisaran jumlah Petani Jarwo PetaniNon Jarwo
tanggungan keluarga Orang Persentase (%) Orang Persentase (%)
1 1 – 2 3 16 5 26
2 3 – 4 14 73 11 58
3 >5 2 11 3 16
Jumlah 19 100 19 100
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.7. dapat disimpulkan bahwa rata-rata petani responden pada usahatani padi jajar legowo dan non jajar legowo tergolong memiliki jumlah tanggungan keluarga sedang atau menengah, jumlah tanggungan keluarga terbanyak pada petani responden sistem tanam jajar legowo maupun sistem tanam non jajar legowo yaitu pada kisaran 3-4 sebanyak 14 orang (73%) pada petani responden sistem tanam jajar legowo dan 11 orang (58%) pada petani responden sistem tanam non jajar legowo. Hal ini didukung oleh pendapat Ilyas (1988) bahwa kriteria jumlah tanggungan anggota keluarga kisaran 1-2 orang tergolong kecil atau rendah, kisara 3- 4 orang tergolong menengah dan lebih dari 4 terolong besar atau tinggi
4.2.4. Pengalaman Berusahatani
Pengalaman berusahatani adalah pengalaman petani responden dalam melakukan usahatani padi. Pengalaman berusahatani juga sangat mempengaruhi petani dalam mengelola usahataninya. Petani yang mempunyai banyak pengalaman berusahatani, tentunya akan lebih ahli dalam mengelola usahatani atau sebaliknya petani yang mempunyai pengalaman akan mengalami kesulitan dalam menentukan langkah-langkah dan keputusan-keputusan yang harus diambil dalam menjalankan usahatani. Pengalaman berusahatani dapat dilihat pada tabel 4.8.
Tabel. 4.8. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Pengalaman Berusahatani di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017.
No Lama
Berusahatani
Petani Jarwo Petani Non Jarwo Orang Persentase (%) Orang Persentase (%)
1 1 – 10 6 31 2 11
2 11 – 20 4 21 4 21
3 21 – 30 7 37 8 42
4 31 – 40 2 11 5 26
Total 19 100 19 100
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.8.dapat disimpulkan bahwa rata-rata pengalaman berusahatani petani responden usahatani padi jajar legowo maupun non jajar legowo tergolong cukup berpengalaman, kisaran terbanyak berkisar antara 21-30 tahun sebanyak 7 orang dengan presentase 37 % dan kisaran terendah berkisar antara 31-40 tahun dengan presentase 11% pada petani responden usahatani sistem tanam jajar legowo dan sebanyak 8 orang dengan presentase 42 % dan kisaran terendah berkisar antara 1-10 tahun dengan presentase 11% pada petani responden usahatani padi sistem tanam non jajar legowo.
4.2.5. Luas Lahan Garapan
Luas lahan garapan dalam penelitian ini merupakan modal utama yang dimiliki oleh petani sebagai tempat melakukan aktivitas usahatani padi untuk memperoleh sumber pangan dan pendapatan. Luas lahan garapan sangat menentukan besarnya produksi usahatani yang dihasilkan.
Luas lahan dikatakan luas apabila luasnya >1 Ha, dikatakan sedang apabila luasnya antara 0,5-1 Ha, dikatakan sempit apabila luasnya <0,5 Ha (www.digilib.unila.ac.id). Luas lahan garapan dapat dilihat pada tebel 4.9.
Tabel. 4.9. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Luas Lahan Garapan di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017
No Luas Lahan Garapan (Ha)
Petani Jarwo Petani Non Jarwo Orang Persentase (%) Orang Persentase (%)
1 0,01 – 0,50 13 68 13 68
2 0,51 – 1,00 4 21 3 16
3 1,00 – 1,50 2 11 3 16
Total 19 100 19 100
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.9, dapat disimpulkan bahwa rata-rata petani responden pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo maupun sistem tanam non jajar legowo
memiliki luas lahan garapan tergolong sempit. Karena luas lahan garapan kisaran terbanyak yang dimiliki petani responden pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo maupun sistem tanam non jajar legowo berada pada kisaran 0,01-0,50 Ha yaitu masing-masing sebanyak 13 orang petani responden dengan presentase 68%.
4.2.6. Status Kepemlikan Lahan
Status kepemilikan lahan dalam penelitian ini adalah status terhadap lahan yang dikelola dalam melakukan usahatani padi oleh petani responden. Status kepemilikan lahan, yaitu milik sendiri, sewa dan gadai. Lahan sebagai salah satu faktor produksi merupakan tempat melakukan proses produksi yan sangat penting dalam usahatani. Status Kepemilikan lahan dapat dilihat pada tabel 4.10.
Tabel. 4.10. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Status Kepemilikan Lahan di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017.
No Status Penguasan Lahan
Petani Jarwo Petani Non Jarwo Orang Persentase (%) Orang Persentase (%)
1 Milik sendiri 17 89 13 68
2 Sewa 2 11 5 26
3 Gadai - - 1 5
Total 19 100 19 100
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.10, dapat disimpulkan bahwa rata-rata petani responden pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo maupun sistem tanam non jajar legowo memiliki lahan sendiri yaitu sebanyak 17 orang dengan presentase 89% pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan sebanyak 13 orang dengan presentase 68% pada usahatani padi sistem tanam non jajar legowo.
4.2.7. Jenis Pekerjaan Petani Responden
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan pekerjaan pokok adalah penghasilan utama bagi petani responden, sedangkan pekerjaan sampingan merupakan pekerjaan diluar pekerjaan untuk memperoleh tambahan penghasilan. Jenis pekerjaan dapat dilihat pada tabel 4.11.
Tabel. 4.11. Karakteristik Petani Responden Berdasarkan Jenis Pekerjaan diKabupaten Lombok Barat Tahun 2017
No Jenis Pekerjaan
Petani Jarwo Petani Non Jarwo
Utama Sampingan Utama Sampingan
Org % Orang (%) Orang (%) Org (%)
1 Petani 17 89 2 11 19 100 0 0
2 Peternak 0 0 5 26 0 0 6 31
3 Pedagang 0 0 2 11 0 0 3 16
4 Buruh 0 0 3 16 0 0 2 11
5 Wiraswasta 0 0 0 0 0 0 2 11
6 PNS 2 11 0 0 0 0 0 0
7 Tidak memiliki
pekerjaan sampingan
0 0 7 37 0 0 6 31
Total 19 100 19 100 19 100 19 100
Sumber: Data Primer Diolah
Berdasarkan tabel 4.11, dapat dilihat bahwa rata-rata pekerjaan utama petani responden sistem tanam jajar legowo maupun sistem tanam non jajar legowo terbanyak adalah sebagai petani sebanyak 17 orang (89%) pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan sebanyak 19 orang (100%) pada petani sistem tanam non jajar legowo, dan rata-ratamemiliki pekerjaan sampingan terbanyak sebagai peternak yaitu 5 orang (26%) pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan 6 orang (31%) pada usahatani padisistem tanam non jajar legowo dan tidak memiliki pekerjaan sampingan sebanyak 7 orang (37%) pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan 6 orang (31%) pada petani responden sistem tanam non jajar legowo.
4.3. Gambaran Umum Sistem Tanam Jajar Legowo di Kabupaten Lombok Barat Tahun 2017
Sistem tanam jajar legowo merupakan cara tanam padi sawah dengan pola beberapa barisan tanaman yang diselingi satu barisan kosong. Tanaman yang seharusnya ditanam pada barisan yang kosong dipindahkan sebagai tanaman sisipan didalam barisan. Pada awalnya tanam jajar legowo umum diterapkan untuk daerah yang banyak serangan hama dan penyakit. Pada baris kosong, diantara unit legowo, dapat dibuat parit dangkal. Parit dapat berfungsi untuk mengumpulkan keong mas, menekan tingkat keracunan besi pada tanaman padi atau untuk pemeliharaan ikan kecil (muda). namun kemudian pola tanam ini berkembang untuk memberikan hasil yang lebih tinggi akibat dari peningkatan populasi dan optimalisasi ruang tumbuh bagi tanaman.
Sistem tanam jajr legowo pada arah barisan tanaman terluar memberikan ruang tumbuh yang lebih longgar sekaligus populasi yang lebih tinggi. Dengan sistem tanam ini, mampu memberikan sirkulasi udara dan pemanfaatan sinar matahari lebih optimal untuk pertanaman.selain itu,upaya penanggulangan gulma dan pemupukan dapat dilakukan dengan lebih mudah.
Adapun manfaat dan tujuan dari penerapan sistem tanam jajar legowo yaitu: 1) menambah jumlah populasi padi sekitar 30% yang diharapkan akan meningkatkan produksi baik secara makro maupun mikro. 2) dengan adanya barisan kosong ditengah akan mempermudah pelaksanaan pemeliharaan, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit tanaman yaitu dilakukan melalui barisan kosong. 3) mengurangi kemungkinan serangan hama dan penyakit. 4) dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo akan menambah kemungkinan barisan tanaman untuk mengalami efek tanaman pinggir dengan memanfaatkan sinar matahari secara optimal bagi tanaman yang berada pada barisan pinggir.
Pelaksanaan usahatani padi dengan mengembangkan sistem tanam jajar legowo di Kabupaten Lombok Barat dimulai sejak 2015 bersamaan dengan program GP-PTT padi. Sistem tanam jajar legowo merupakan salah satu unit kegiatan yang terdapat pada program GP-PTT padi. Sistem tanam jajar legowo yang dilaksanakan di Kabupaten Lombok Barat memiliki berbagai macam pola diantaranya 2:1, 4:1, 6:1.
Akantetapi pola terbanyak yang diterapakan yaitu pola 4:1 yang mampu meningkatkan populasi sebanyak 25% atau setara dengan 250.000 rumpun per ha.
Besarnya rata-rata produksi padi pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dikarenakan sistem tanam jajar legowo memiliki jumlah tanaman pinggir yang lebih banyak, jumlah anakan pada setiap rumpun tanaman pinggir akan meningkat yang menyebabkan produksi padi lebih tinggi, adanya penambahan pupuk organi sehingga meningkatkan jumlah produksi.
Respon petani terhadap sistem tanam jajar legowo tersebut sangat positif, petani sangat antusias dalam melaksanakan pengembangan sistem tanam jajar legowo, petani mengatakan bahwa sistem tanam jajar legowo lebih banyak menghasilkan produksi dari sebelumnya menggunakan sistem tanam tandur jajar, pemupukan dan
pengendalian hama dan gulma lebih gampang dilakukan oleh petani.Beberapa hal yang berkaitan dengan produksi anatara lain:
1. Input Produksi dan Aplikasinya
Input produksi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi produksi seperti, lahan, benih, pupuk, obat-obatan dan tenaga kerja. Adapun uraian tentang input produksi usahatani padi sistem tanam jajar legowo antara lain:
a. Lahan
Lahan dalam usahatani padi jajar legowo (Jarwo) dan non jajar legowo (Non Jarwo) di Kabupaten Lombok Barat memiliki rata-rata luas lahan yang berpariasi atau berbeda-beda dimana pada petani responden usahatani padi sistem tanam jajar legowo memiliki rata-rata luas lahan garapan seluas 0,50 ha, sedangkan pada petani responden non sistem tanam jajar legowo memiliki rata-rata luas lahan garapan seluas 0,46 ha b. Benih
Benih unggul yang digunakan petani responden pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan non jajar legowo yaitu benih padi inbrida varietas ciliwung, ciherang, dan cigelis yang berlabel ungu. Rata-rata benih yang digunakan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan non sistem tanam jajar legowo berbeda yaitu 40 kg/ha pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dan 50 kg/ha pada usahatani padi non sistem tanam jajar legowo.
c. Pupuk
Pupuk yang digunakan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo antara lain pupuk urea 209 kg/ha, NPK Phonska 251,06 kg/ha, SP36 67,27 kg/ha dan pupuk organik 500 kg/ha. Pupuk yang digunakan pada usahatani padi non sistem tanam jajar legowo yaitu pupuk urea 287,59 kg/ha, NPK Phonska 199,89 kg/ha dan SP36 63,21 kg/ha,
pemupukan pada usahatani padi sistem tanam jajar legowo dilakukan sebanyak 2 kali ada juga yang 3 kali, pemupukan yang dilakukan dengan dosis yang dianjurkan pupuk urea 200 kg/ha, NPK Phonska 300 kg/ha dan pupuk organik 500 kg/ha. Pemupukan pertama dilakukan sebelum pengolahan tanah dengan pupuk organik, pupuk oraganik ditaruh pada beberapa titik sawah dan pemerataan melalui