PERAN BIDAN DALAM PERSALINAN
3.3 Macam-macam peran bidan
Peran bidan sebagai petugas kesehatan yaitu sebagai komunikator, motivator, fasilitator, dan konselor bagi masyarakat. Macam-macam peran tersebut yaitu:
a. Komunikator
Komunikator adalah orang yang memberikan informasi kepada orang yang menerimanya. Komunikator merupakan orang ataupun kelompok yang menyampikan pesan atau stimulus kepada orang atau pihak lain dan diharapkan pihak lain yang menerima pesan (komunikan) tesebut memberikan respon terhadap pesan yang diberikan. Proses dari interaksi komunikator ke komunikan disebut juga dengan komunikasi. Selama proses komunikasi, tenaga kesehatan secara fisik dan psikologis harus hadir secara utuh, karena tidak cukup hanya dengan mengetahui teknik komunikasi dan isi komunikasi saja tetapi juga penting untuk mengetahui sikap, perhatian, dan penampilan dalam berkomunikasi.
Seorang komunikator, tenaga kesehatan seharusnya memberikan informasi secara jelas kepada pasien, pemberian informasi sangat diperlukan karena komunikasi bermanfaat untuk memperbaiki kurangnya pengetahuan dan sikap masyarakt yang salah terhadap kesehatan dan penyakit. komunikasi dikatakan efektif jika dari tenaga kesehatan mampu memberikan informasi secara jelas kepada pasien, sehingga dalam penanganan selama kehamilan diharapkan tenaga kesehatan bersikap
ramah, dan sopan pada setiap kunjungan ibu hamil.
Tenaga kesehatan jugaharus mengevaluasi pemahaman ibu tentang informasi yag diberikan dan juga memberikan pesan kepada ibu hamil apabila terjadi efek samping yang tidak bisa ditanggulagi sendiri segera datang kembali dan komunikasi ke tenaga kesehatan.
b. Sebagai motivator
Motivator adalah orang yang memberikan motivasi kepada orang lain. Sementara motivasi diartikan sebagai dorongan untuk bertindak agar mencapai suatu tujuan tertentu dan hasil dari dorongan tersebut diwujudkan dalam bentuk perilaku yang dilakukan. Motivasi adalah kemampuan seseorang untuk melakukan sesuatu, sedangkan motif adalah kebutuhan, keinginan, dan dorongan untuk melakukan sesuatu. Peran tenaga kesehatan sebagai motivasi tidak kalah penting dari peran lainnya. Seorang tenaga kesehatan harus mampu memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan dalam meningkatkan kesadaran pihak yang dimotivasi agar tumbuh kearah pencapaian tujuan yang diinginkan.
Tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya sebagai motivator memiliki ciri-ciri yang perlu diketahui, yaitu melakukan pendampingan, menyadarkan, dan mendorong kelompok untuk mengenali masalah yang dihadapai, dan dapat mengembangkan potendinya untuk memecahkan masalah tersebut. Tenaga kesehatan sudah seharusnya memberikan dorongan kepada ibu hamil untuk patuh dalam melakukan pemeriksaa kehamilan dan menanyakan apakah ibu sudah memahami isi dari buku KIA. Tenaga kesehatan juga harus mendengarkan keluhan yang disampaikan ibu hamil dengan penuh minat, dan yang perlu diingat adalah semua ibu hamil
memerlukan dukungan moril selama kehamilannya sehingga dorongan juga sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan tumbuhnya motivasi
c. Sebagai Fasilitator
Fasilitator adalah orang atau badan yang memberikan kemudahan dalam menyediakan fasilitas bagi orang lain yang membutuhkan. Tenaga Kesehatan dilengkapi dengan buku KIA dengan tujuan agar mampu memberikan penyuluhan mengenai kesehatan ibu dan anak Tenaga kesehatan juga harus membantu klien untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal agar sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Peran sebagai fasilitator dalam pemanfaatan buku KIA kepada ibu hamil juga harus dimiliki oleh setiap tenaga kesehatan pada setiap kunjungan ke pusat kesehatan. fasilitator harus terampil mengintegritaskan tiga hal penting yakni optimalisasi fasilitas, waktu yang disediakan, dan optimalisasi partisipasi, sehingga pada saat menjelang batas waktu yang sudah ditetapkan ibu hamil harus diberi kesempatan agar siap melanjutkan cara menjaga kesehatan kehamilan secara mandiri dengan keluarga.
Tenaga kesehatan harus mampu menjadi seorang pendamping dalam suatu forum dan memberikan kesemapatan pada pasien untuk bertanya mengenai penjelasan yang kurang dimengerti. menjadi seorang fasilitator tidak hanya di waktu pertemuan atau proses penyuluhan saja. tetapi seorang teanga kesehatan juga harus mampu menjadi seorang fasilitator secara khusus, seperti menyediakan waktu dan tempat ketika pasien ingin bertanya secara lebih mendalam dan tertutup (Simatupang, 2008).
d. Sebagai konselor
Konselor adalah orang yang memberikan bantuan kepada orang lain dalam membuat keputusan atau memecahkan suatu masalah melalui pemahaman tehadap fakta-fakta, harapan, kebutuhan dan perasaan-perasaan klien. Proses dari pemberian bantuan tersebut disebut juga konseling.
Tujuan umum dari pelaksanaan konseling adalah membantu ibu hamil agar mencapai perkembangan yang optimal dalam menentukan batasan-batasan potensi yang dimiliki, sedangkan secara khusus konseling bertujuan untuk mengarahkan perilaku tidak sehat menjadi perilaku sehat, membimbing ibu hamil belajar membuat keputusan dan membimbingn ibu hamil mencegah timbulnya masalah selama proses kehamilan.
Konselor yang baik harus memiliki sifat peduli dan mau mengajarkan melalui pengalaman, mampu menerima orang lain, mau mendengarkan dengan sabar, optimis, terbuka terhadap pandangan interaksi yang berbeda, tidak menghakimi, dan menyimpan rahasia, mendorong pengambilan keputusan, memberikan dukungan, membentuk dukungan atas dasar kepecayaan, mampu berkomunikasi, mengerti perasaan dan kekhawatiran klien, serta mengerti keterbatasan yang dimiliki oleh klien. Konseling yang dilakukan antara tenaga kesehatan dan ibu hamil memiliki beberapa unsur. Proses dari konseling terdiri dari empat unsur kegiatan yaitu pembinaan hubungan baik antara tenaga kesehatan dengan ibu hamil, penggalian informasi (identifikasi masalah, kebutuhan, perasaan, kekuatan diri, dan sebagainya) dan pemberian informasi mengenai kesehatan ibu dan anak, pengambilan keputusan mengenai perencanaan persalinan, pemecahan masalah
yang mungkin nantinya akan dialami, serta perencanaan dalam menindak lanjuti pertemuan yang telah dilakukan sebelumnya.
Peran bidan dalam promosi kesehatan:
a. Bidan sebagai advocator
Tujuan advokasi adalah diperolehnya komitmen dan dukungan dalam upaya kesehatan, baik berupa kebijakan, tenaga, sarana, kemudahan, keikutsertaan dalam kegiatan, maupun bentuk lainnya sesuai dengan keadaan dan suasana. Salah satu tantangan yang terus menerus dihadapi bidan yang mengupayakan safe motherhood adalah bagaimana menangani isu-isu dalam masyarakat dengan lebih baik. Bidan harus menguasai keterampilan advokasi, menggerakkan massa, dan metodologi pembelajaran yang meningkatkan partisipasi anggota, serta pendekatan penyimpangan positif (positive deviance). Peran bidan sebagai advokator adalah melakukan advokasi terhadap pengambil keputusan dari kategori program ataupun sektor yang terkait dengan kesehatan maternal dan neonatal. Melakukan advokasi bearti melakukan upaya-upaya agar pembuat keputusan atau penentu kebijakan tersebut mempercayai dan meyakini bahwa program yang ditawarkan perlu mendapat dukungan melalui kebijakan-kebijakan atau keputusan-keputusan politik. Metode yang digunakan oleh bidan harus mampu meyakinkan bahwa program membawa perbaikan ataupun perubahan positif bagi pertumbuhan bangsa yang pada akhirnya dalah pertumbuhan negara (menyangkut nasib banyak orang).
Agar proses advokasi berhasil dengan baik, bidan perlu menyiapkan data masalah dan perencanaan yang akan
diambil sebagai solusi dan harus mampu memanfaatkan data-data tersebut sehingga sesuai harapan pimpinan sehingga pimpinan dapat memberi dukungan.
Beberapa peran bidan sebagai advokator adalah
Advokasi dan strategi pemberdayaan wanita dalam mempromosikan hak-haknya yang di perlukan untuk mencapai kesehatan yang optimal (kesetaraan dalam memperoleh pelayanan kebidanan).
Advokasi bagi wanita agar bersalin dengan aman.
Advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan
b. Bidan sebagai edukator
Bidan sebagai seorang pendidik harus memastikan bahwa informasi yang diberikan mudah dipahami, memberikan waktu untuk bertanya, dan peka terhadap tanda-tanda non verbal dari pasien (contoh: raut wajah yang menggambarkan bahwa klien masih kurang paham dengan penjelasan yang diberikan oleh bidan, atau gerakan-gerakan (bahasa tubuh) klien yang menyatakan agar bidan tidak terburu-buru dalam memberikan penjelasan, dan bahasa tubuh yang lainnya yang diungkapkan oleh klien).
Latihan
Latihan diberikan kepada setiap mahasiswa sesuai materi pada Bab III secara terstruktur dan sistematis pada akhir pertemuan sehingga mahasiswa memiliki penguasaan yang baik terhadap Bab tentang Peran bidan dalam persalinan. Adapun soal yang digunakan untuk latihan adalah sebagai berikut:
1. Jelaskan tentang pengertian peran 2. Jelaskan tentang pengertian bidan
3. Jelaskan tentang macam-macam peran bidan 4. Jelaskan tentang pengertian konselor
5. Jelaskan tentang pengertian fasilitator Soal Latihan
1. Seorang perempuan umur 24 tahun, melahirkan bayi pertama 3 hari yang lalu. Datang ke PMB mengatakan malas meneteki bayinya karena payudara terasa bengkak dan sakit. Apa tindakan yang tepat pada kasus di atas ?
a. Bayi diberi PASI saja
b. Bayi tidak perlu berlatih menetek c. Kelaurkan ASI sebagian
d. Menganjurkan tetap menyusui bayinya on demand e. Ibu dianjurkan periksa ke dokter
2. Seorang perempuan, umur 23 tahun, G1POA0, di PMB mengatakan merasa ingin mengedan. Hasil Pemeriksaan pembukaan 10 cm, selaput ketuban belum pecah. His 3x dalam 10 menit, lamanya 40 detik. DJJ 124 x/menit.
Tampak selaput putih menonjol di vulva saat ibu mengedan. Apa tindakan awal yang tepat pada kasus diatas ?
a. Memberikan rehidrasi b. Memimpin mengedan
c. Amniotomi d. Episiotomi
e. Mendokumentasikan di partograf
3. Seorang perempuan usia 23 tahun, P1A0, mengatakan bahwa 6 jam yang lalu melahirkan anak pertama normal BB 2800 gram, PB 47 cm. mengeluh kelelahan, perut mules dan belum BAK, tampak pasif. Hasil pemeriksaan : TTV normal, lochea berisi darah segar, sisa selaput ketuban. Berapa lama periode adaptasi psikosasi terjadi ?
a. 1-2 hari b. 2-4 hari c. 6 hari d. 10 hari e. 14 hari
4. Seorang perempuan, umur 23 tahun, G1POA0, sudah dipimpin mengedan 30 menit yang lalu. Hasil pemeriksaan taksiran berat janin 3500 gram, DJJ 130 x/menit. Kontraksi 5 kali 10 menit dan lamanya 40 detik., tetapi keadaan umum ibu sudah tampak lelah. Bidan ingin melakukan episiotomy untuk mempersingkat kala II. Kapan waktu yang tepat untuk bidan melakukan episiotomi?
a. Presentasi kepala
b. Penurunan kepala sudah di Hoodge III c. Perineum sudah berwarna merah muda
d. Kepala sudah mengadakan putaran paksi dalam e. Saat perineum sudah menipis dan pucat
5. Seorang perempuan, usia 30 tahun, GV PIVA0, hamil 9 bulan, mengeluh perut mules dan keluar darah bercampur lender. Hasil pemeriksaan keadaan umum
baik, TD 180/100 mmHg, ekstrimitas oedem, palpasi TFU 34 cm, punggung kanan, presentasi kepala 3/5, His 3x10‘40‖, VT : pembukaan serviks 3 cm, ketuban (+0, denyut jantung janin (+) 136 kl/menit, hasil lab urine protein (+). Apa asuhan kebidanan yang tepat?
a. Pemberian Anti biotika dan segera rujuk ke RS b. Pemberian MgSO4 dan segera rujuk ke RS c. Pemberian Uterus tonika dan segera rujuk ke RS d. Pemberian Nutrisi dan segera rujuk ke RS e. Pemberian massase dan segera rujuk ke RS
6. Seorang perempuan, usia 30 tahun, GV PIVA0, hamil 9 bulan, mengeluh perut mules dan keluar darah bercampur lender. Hasil pemeriksaan keadaan umum baik, TD 180/100 mmHg, ekstrimitas oedem, palpasi TFU 34 cm, punggung kanan, presentasi kepala 3/5, His 3x10‘40‖, VT : pembukaan serviks 3 cm, ketuban (+0, denyut jantung janin (+) 136 kl/menit, hasil lab urine protein (+). Apakah syarat pemberian MgSO4?
a. Reflek patella (+) jumlah urine > 400 cc b. Reflek patella (-) jumlah urine < 400 cc c. Reflek ginjal (+) jumlah urine > 200 cc d. Reflek isap (+) jumlah urine < 300 cc e. Reflek ginjal (-) jumlah urine > 100 cc
7. Bayi Ny.A baru lahir 20 menit yang lalu. Bidan kemudian membantu perempuan untuk segera menyusui bayinya. Saat puting susu menyentuh langit–langit mulut bayi, bayi secara spontan melakukan gerakan menghisap. Apakah nama refleks bayi yang secara spontan menghisap tersebut?
a. Swallowing reflex
b. Tonic neck reflex c. Sucking reflex d. Reflex morrow e. Rooting reflex
8. Seorang perempuan, umur 23 tahun, telah melahirkan anak ketiga 2 hari yang lalu, datang ke PMB, mengeluh merasa mules dan masih mengeluarkan darah berwarna merah segar. Apa yang terjadi berdasarkan keluhan yang dialami oleh ibu ?
a. Proses involusio uteri b. Proses Sub involusio c. Proses involusio plasenta d. Proses emosional
e. Proses puerferium
9. Seorang perempuan, usia 30 tahun, GV PIVA0, hamil 9 bulan, mengeluh perut mules dan keluar darah bercampur lender. Hasil pemeriksaan keadaan umum baik, TD 180/100 mmHg, ekstrimitas oedem, palpasi TFU 34 cm, punggung kanan, presentasi kepala 3/5, His 3x10‘40‖, VT : pembukaan serviks 3 cm, ketuban (+0, denyut jantung janin (+) 136 kl/menit, hasil lab urine protein (+). Apa rencana asuhan kebidanan yang tepat pada kasus tersebut?
a. Melakukan rujukan ke RS b. Melakukan rujukanke PKM c. Melakukan rujukan ke PMB
d. Melakukan rujukan ke klinik bersalin e. Melakukan rujukan ke dokter SpOG
10. Seorang perempuan, usia 30 tahun, GV PIVA0, hamil 9 bulan, mengeluh perut mules dan keluar darah
bercampur lender. Hasil pemeriksaan keadaan umum baik, TD 180/100 mmHg, ekstrimitas oedem, palpasi TFU 34 cm, punggung kanan, presentasi kepala 3/5, His 3x10‘40‖, VT : pembukaan serviks 3 cm, ketuban (+0, denyut jantung janin (+) 136 kl/menit, hasil lab urine protein (+). Apa tujuan penatalaksanaan asuhan kebidanan ?
a. Mencegah komplikasi terjadinya kejang b. Mencegah komplikasi terjadinya anemia c. Mencegah komplikasi terjadinya perdarahan d. Mencegah komplikasi terjadinya infeksi e. Mencegah komplikasi terjadinya gagal ginjal.
Umpan Balik dan Tindak Lanjut
Dosen memberikan penilaian dari hasil latihan dan diskusi dan menindaklanjuti dengan memberikan masukan kepada mahasiswa terkait capaian pembelajaran yang harus dikuasai dalam bab ini.
Daftar Pustaka
JNPK-KR. 2008. Asuhan Persalinan Normal dan Inisiasi Menyusui Dini. Jakarta: Jhpleg
Marmi, S.ST. 2012. Asuhan Kebidanan Pada Persalinan.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar
Rohani, S.ST., dkk. 2011. Asuhan Kebidanan pada Masa Persalinan.
Jakarta : Salemba Medika
Sondakh, Jenny J.S. 2013. Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Penerbit Erlangga.
Sujiyatini, S.SiT, M.Keb, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan II (Persalinan). Yogyakarta: Rohima Press
Yanti, S.ST, M.Keb. 2010. Penuntun Belajar Kompetensi Asuhan Kebidanan Persalinan. Yogyakarta: Pustaka Rihama