BAB II LANDASAN TEORI
7. Makanan Yang Halal Dan Haram
5) Jual-beli anggur untuk dijadikan khamar
Menurut ulama Hanafiyah dan Syafi‘iyah zahirnya sahih, tetapi makruh, sedangkan munurut ulama Malikiyah dan Hanabilah adalah batal.
6) Jual-beli induk tanpa anaknya yang masih kecil
Hal itu dilarang sampai anaknya besar dan dapat mandiri.
7) Jual-beli barang yang sedang dibeli oleh orang lain
Seseorang telah sepakat akan membeli suatu barang, namun masih dalam khiyar, kemudian datang orang lain yang menyuruh untuk membatalkannya sebab ia akan membelinya dengan harga lebih tinggi.
8) Jual-beli memakai syarat
Menurut ulama Hanafiyah, sah jika syarat tersebut baik, seperti,
―saya akan membeli baju ini dengan syarat bagian yang rusak dijahit dulu‖begitu pula menurut jumhur ulama Malikiyah membolehkannya jika bermanfaat. Menurut ulama Syafi‘iyah dibolehkan jika syarat maslahat bagi salah satu pihak yang melangsungkan akad, sedangkan menurut ulama Hanabilah, tidak dibolehkan jika hanya bermanfaat bagi salah satu yang akad.67
merujuk kepada hal-hal yang diperbolehkan, sedangkan haram merujuk kepada hal-hal yang dilarang. Setiap muslim diperintahkan hanya untuk mengkonsumsi makanan/minuman yang halal dan sebisa mungkin baik dan menyehatrkan.
Begitupun sebaliknya, dilarang mengkonsumsi makanan/minuman yang haram dan ada ancaman bagi orang yang memakan yang haram didasarkan pada firman Allah SWT:
ُلُك ُساَّنلااَهُّػيَاَي ْمُكَل ُوَّنِا.ِنّٰطْيَّشلا ِتّٰوُطُخاْوُعِبَّتَػت َلََّو.اًبِّيَط ًلَلَح ِضْرَْلَّا ِفِاَِّمِاْو
ٌْيِبُّمُوُدَع
“Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan.
Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”(Q.S. Al-Baqarah:168).
ُتَبِّيَّطلآ ُمُكَل َّلِحُأ ْلُق ،ْمَُلَ َّلِحُأآَذاَم َكَنوُلَػئْسَي
“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad): “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah: “Dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik.” (Q.S. Al-Ma‘idah: 4)68
Secara garis besar makanan yang berasal dari hewan dibagi menjadi dua yaitu hewan darat dan hewan air. Adapun hewan yang dimakan oleh manusia dibagi menjadi dua bagian yaitu hewan yang boleh/halal dikonsumsi dan hewan yang tidak boleh/haram dikonsumsi.
Hewan yang boleh dikonsumsi (halal dimakan) tanpa harus disembelih
68 Departemen Agama RI, Al-Qur‟an Dan Terjemahannya (Klaten: Pustaka Al-Fatih, 2009), 107.
misalnya jenis ikan dan belalang, tetapi ada juga yang harus disembelih dengan tata cara tertentu untuk mencapai kehalalannya untuk dimakan.69 a. Hewan Air
Berkanaan dengan binatang air, seluruh ulama sepakat dengan kehalalan ikan, kecuali yang sudah mengapung (karena sudah lama mati) yang menurut mazhab Hanafi tidak halal. Namun, menurut mazhab-mazhab yang lain halal. Imam Malik memandang Makruh babi laut. Namun menurut pendapat yang dipegang dalam mazhab Maliki, hukumnya mubah seperti halnya anjing air (berang-berang).
Adapun kodok, jumhur ulama selain Malikiyah menyatakan hukumnya tidak halal.
Hal itu pada larangan dari Rasulullah SAW. untuk membunuh kodok. Sehingga jika ia memang halal dimakan, niscaya beliau tidak akan membunuhnya. Sementara itu, mazhab Maliki menghalalkan makan kodok karena tidak ada dalil atau nash yang menyatakan terlarang.
b. Hewan Darat
Adapun dari jenis binatang darat, maka diharamkan memakan bangkai, darah, daging babi, hewan-hewan yang dipersembahkan kepada selain Allah SWT (yaitu yang ketika menyembelihnya disebut nama sembahan selain Allah SWT). Hewan yang mati tercekik, yang mati karena terinjak hewan lain, yang mati karena dipukul, yang mati
69 Nurjanah, ―Makanan Halal Dan Penyembelihan Secara Islam,‖ Jurnal Aplikasi Ilmu-Ilmu Agama Vol 7, 2 (2006): 150.
karena jatuh dari ketinggian, yang mati karena perutnya dijebol hewan buas lainnya. Kecuali jika hewan-hewan yang disebutkan kondisinya tersebut sempat disembelih ketika masih hidup, maka ketika itu dihalalkan memakannya.
Diharamkan memakan hewan-hewan yang buas seperti serigala, singa dan harimau menurut jumhur ulama. Sementara menurut mazhab Maliki, hukumnya makruh. Keharamannya yang sama juga berlaku terhadap jenis-jenis burung pemangsa seperti elang, rajawali, burung nasar, dan sebagainya. Tetapi menurut mazhab Maliki, semuanya adalah mubah, kecuali kelalawar yang makruh hukumnya melaksankannya menurut pendapat yang dipandang lebih kuat dalam mazhab ini.
Dalam Islam dilarang memakan berbagai macam makanan berikut ini:
a. Daging Babi
Babi adalah binatang yang kotor yang memiliki kebiasaan kotor dan cara makan kasar. Apabila orang mengetahui kondisi seperti ini, maka dagingnya menjijikkan. Bahkan memakan daging babi akan menyebabkan penyakit kelenjar dan lepra.
b. Bangkai
Bagi orang muslim memakan bangkai itu dilarang. Al- Qur‘an menjelaskan hal ini dalam kata ―maytata‖ yang memberi arti binatang yang tidak disembelih secara sah.
c. Darah yang mengalir dari binatang dengan paksa
Memakan dan meminum darah juga dilarang. Orang yang senang mengumpulkan darah dan memaksanya, kemudian menjadikannya sebagai makanan layaknya seperti hati, lalu memakannya, juga diharamkan dalam Islam.
d. Daging binatang yang mati karena dicekik
Daging binatang apapun yang mati karena dicekik juga haram dimakannya dalam Islam.
e. Daging binatang yang mati karena dipukul
Daging binatang yang mati karena dipukul juga haram dimakan.
f. Daging binatang yang mati karena jatuh
Apabila binatang mati karena jatuh, dagingnya haram dimakan bagi orang Islam.
g. Daging binatang yang mati karena ditanduk
Apabila binatang mati karena ditanduk lantaran bertengkar dengan binatang yang lain, dagingnya haram dimakan bagi orang Islam.
h. Binatang yang mati karena dimakan binatang buas
Apabila binatang mati karena dimakan binatang buas, juga haram dagingnya dimakan oleh orang Islam. Daging tersebut tidak sehat (berpenyakit).
i. Binatang yang mati secara alamiah
Apabila binatang mati karena sakit atau karena sebab lain, dagingnya haram dimakan bagi orang Islam.
j. Binatang yang disembelih untuk berhala
Islam sebagai agama Tauhid dan segala macam bentuk syirik itu dianggap dosa paling besar. Al-Qur‘an menjelaskan bahwa binatang yang disembelih dengan nama berhala, haram bagi orang Islam. Ini berati bahwa binatang yang disembelih untuk penyembahan berhala yang namanya dibacakan ketika menyembelih.
k. Binatang yang mati karena gigitan binatang buruan
Rasulullah SAW. mengharamkan binatang yang mati karena gigitan binatang binatang buas. Berburu hanya dengan tujuan olahraga belaka adalah perbuatan yang menjijikkan menurut Syari‘ah. Akan tetapi berburu dengan tujuan lain selain olahraga adalah halal. Setiap buruan yang dibunuh dengan anjing atau burung pemburu binatang atau burung yang dagingnya halal untuk dikonsumsi, makan halal dagingnya.70