• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Stress Pada Penyakit Jantung Koroner

STRESS DAN PENYAKIT JANTUNG KORONER

D. Manajemen Stress Pada Penyakit Jantung Koroner

Stress yang berkepanjangan dapat menyebabkan sesorang mencari pelampiasan, sayangnya hal ini sering tidak dilakukan dengan cara yang benar. Orang yang tengah mengalami stress cenderung melakukan kebiasaan buruk, misalnya mengkonsumsi alkohol dan rokok. Kebiasaan–kebiasaan tersebut hanya akan menyiksa tubuh dan membuat risiko penyakit menjadi lebih tinggi. Kebiasaan ini juga bisa meningkatkan risiko penyakit jantung koroner menyerang.

Emosi dan kognitif memiliki hubungan yang erat dalam perilaku kesehatan (Gallo et.al, 2004) dalam penelitian Indrawati (2012).

Perasaan optimis dan kontrol emosi yang postif dapat mendorong seseorang untuk melakukan gaya hidup gaya hidup yang sehat.

seseorang cenderung mampu untuk menghindari rokok, makan makanan yang sehat, berolahraga dan memiliki koping yang positif dalam menghadapi setiap masalah kesehatan terutama PJK (Gallo et.al, 2004)

Berikut ini beberapa tehnik dan cara melakukan manajemen stress agar terhindar dari PJK : 1) latihan nafas dalam dengan prosedur tindakan : berdiri santai atau duduk dengan posisi tegak, tutup mata dan biarkan kepala mengarah ke depan, bernafaslah perlahan-lahan melalui hidung, tahan sebentar, hembuskan nafas perlahan-lahan

melalui mulut, lakukan hal ini berulang ulang sampai Anda merasa rileks, buka mata anda perlahan lahan. 2) Relaksasi otot dengan prosedur tindakan : duduklah di atas kursi senayaman mungkin, tutuplah mata Anda, kepalkan kuat kuat salah satu tangan anda, biarkan beberapa lama, pusatkan perhatian Anda pada tangan yang dikepal, perlahan-lahan kendurkan kepalan tangan Anda dan rasakan ketegangan yang mengalir keluar dari tangan, ulangi latihan ini dengan menggunakan bagian tubuh anda yang lain seperti : lengan, bahu, kaki, pinggul perut, mulut, kening, mata, muka dan lain- lain.

3) Relaksasi mental dengan prosedur tindakan : bunyikan/pasang musik yang lembut, seperti musik klasik, duduklah di atas kursi yang nyaman atau berbaring, tutuplah mata Anda, kendorkan otot dan lemaskan seluruh tubuh Anda, bayangkan tentang hal-hal yang indah dan menyenangkan, tarik nafas dalam-dalam dan nikmati hal itu, kemudian lanjutkan kegiatan ini hingga anda benar-benar merasa rileks.

4) Tehnik lima jari dengan prosedur tindakan : atur posisi berbaring, mata ditutup, lingkungan harus tenang atau sunyi sehingga bisa berkosentrasi, sentuhkan ibu jari dengan telunjuk, sambil melakukannya, bapak/ibu kenang saat bapak ibu merasa sehat, menikmati kegiatan isik yang menyenangkan (misalnya bapak bayangkan ketika bapak baru saja selesai mengikuti pertandingan bulutangkis dan bapak menjadi pemenangnya, sentuhkan ibu jari bapak dengan jari tengah, sambil melakukannya, kenang saat bapak bersama dengan orang yang bapak sayangi (anak, orangtua, pasangan hidup, sahabat, sentuhkan ibuu jari bapak dengan jari manis dan bayangkan ketika bapak pertama menerima pujian yang paling berkesan, sentuhkan ibu jari bapak dengan kelingking dan bayangkan bapak berada disatu tempat yang paling bapak sukai (misalnya pantai), bayangkan bapak berjalan di sekeliling pantai, kembangkan khayalan bapak. Ulangi setiap gerakan, Anda masih ingat apa yang harus dibayangkan tiap ibu jari bersentuhan dengan jari yang lain.

Penyakit jantung koroner merupakan penyakit kronis yang memiliki banyak faktor risiko dan seharusnya dapat dicegah sejak dini.

Kondisi stress akan semakin memperburuk kondisi jantung seseorang

apabila tidak segera ditangani dan dilakukan deteksi dini. Dibutuhkan program edukasi jangka panjang dan berkelanjutan dalam menyikapi masalah ini. Stress yang bersifat negative dapat menurunkan daya tahan tubuh seseorang , sehingga tubuh menjadi rentan sakit dan tidak mampu untuk melakukan mekanisme pertahanan diri. Sejalan dengan penelitian Indrawati (2012) , bahwa pengetahuan dan dan kesadaran diri yang tinggi akan pentingnya melakukan pencegahan faktor risiko teermasuk salah satnnya adalah stress dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas PJK. Seorang perawat medical bedah memiliki kemampuan untuk menjalankan program edukasi tersebut mulai dari upaya preventif, promotif dan rehabilitative untuk pasien PJK pasca rehabilitasi. dengan kolaborasi yang baik antara petugas kesehatan akan dapat mempengaruhi dan menekan kejadian PJK secara dini di masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Badan litbangkes Depkes`RI (2001), Penyakit Jantung Koroner pada Pralansia, Jakarta

Black, Joyce M & Hawks (2009). Medical surgical Nursing Clinical Management for Positive Outcomes (8th edition). Singapore:

Elsevier (Singaporre) Pte Ltd

Farahdika A, Faktor Risiko yang berhubungan dengan Penyakit Jantung Koroner pada usia Madya (41-60 tahun ); Studi kasus di RS Umum Daerah Kota Semarang, Unnes Journal of Public Health, Volume 2, tahun 2015

Muttaqien, Arif (2009). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Kardiovaskular, Jakarta, Salemba Medika

Patriyani, REH; Purwanto DF, Faktor Dominan Risiko terjadinya Penyakit Jantung Koroner, Jurnal Keperawatan Global, Volume 1, No1, Juni 2016 hlm 01-54

Ramadini I, Lestari S, Hubungan aktivitas isik dengan Nyeri Dada Pasien PJK, Jurnal Human Care, Volume 2 no 3, tahun 2017 Sumiati dkk, 2010 Penanganan Stress pada PJK, CV. TIM, Jakarta Smeltzer, C; & Bare, BG (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal

Bedah: Brunner and Suddarth (Edisi 8): volume 2, Jakarta. EGC

BIODATA PENULIS

Lina Indrawati lahir di Jakarta 21 Oktober 1980 dari pasangan Suyadi dan Sari, menikah dengan Eko Supriadi dan dikaruniai 2 orang anak perempuan.

Pendidikan yang telah ditempuh SDN lulus 1992, SMP lulus 1995 di Jakarta, Akper Depkes RI Jakarta lulus tahun 2001, Sarjana Keperawatan dan Ners di PSIK FK Universitas Brawijaya lulus tahun 2005, mendapatkan beasiswa BPPS dari Kemenristekdikti untuk melanjutkan S2 Keperawatan di Universitas Indonesia lulus tahun 2012.

Pengalaman bekerja di RS Usada Insani Tangerang tahun 2001- 2002 dan menjadi Dosen tetap di STIKes Medistra Indonesia sejak tahun 2005 s.d sekarang. Aktif di organisasi Perawat (PPNI) sejak 2016. Sejak menjadi dosen aktif melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat sejak tahun 2014.

BAB IX

FAKTOR–FAKTOR YANG BERHUBUNGAN