• Tidak ada hasil yang ditemukan

Masyarakat Sipil (Civil Society) ________________

Dalam dokumen Dinamika Politik Lokal Indonesia (Halaman 59-69)

demikian menutup kemungkinan masuknya kekuatan- kekuatan anti-demokrasi ataupun kekuatan-kekuatan yang menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya.

PROSEDUR DAN INSTITUSI adalah cara menyelesaikan masalah, bukan pemaksaan kehendak dan kekerasan

Keteladanan dalam perilakunya yang selalu menghindari cara-cara non-demokratis atau melawan hukum dalam melaksanakan kebijakan tertentu atau dalam menggunakan sumber-sumber daya pembangunan dalam mencapai tujuan tertentu yang sudah digariskan. Pendeknya, pemimpin yang baik TIDAK MENGHALALKAN SEGALA CARA untuk mencapai tujuan tertentu.54

transparan dan akuntabel maka keberhasilan tersebut dapat dicapai”.55

Dari pendapat Tadao di atas bisa disimpulkan bahwa kesamaan hak, kesamaan kesempatan dan kesamaan kemampuan antara penguasa dan rakyat merupakan syarat mutlak bagi terwujudnya tujuan yang berpihak pada masyarakat. Kesetaraan kedudukan tersebut dinyatakan secara konkret melalui partisipasi masyarakat dalam proses politik.

Proses politik adalah bagian dari ruang publik karena publik adalah sekelompok warga negara yang mempunyai hak dan kewajiban, dan wujud nyata kesetaraan antara pemerintah dan rakyat diwujudkan dalam partisipasi mayarakat dalam proses kebijakan yang dijamin oleh konstitusi yang mengikat warga negara.

Selanjutnya, indikator dalam menentukan kemakmuran suatu bangsa sangat tergantung pada situasi dan kondisi serta kebutuhan masyarakatnya. Akhir-akhir ini masyarakat Indonesia mencuatkan suatu kemakmuran yang didambakan yaitu terwujudnya masyarakat sipil. Munculnya istilah masyarakat sipil pada era Reformasi tidak terlepas dari kondisi politik negara yang berlangsung selama ini. Sejak Indonesia merdeka, masyarakat belum merasakan makna kemerdekaan yang sesungguhnya.

Walaupun pemerintah atau penguasa belum banyak memberi kesempatan bagi semua lapisan masyarakat untuk mengembangkan potensi secara maksimal, bangsa Indonesia belum terlambat mewujudkan masyarakat sipil asalkan semua potensi sumber daya manusia mendapat kesempatan berkembang dan dikembangkan. Dalam mewujudkan

55 He fah Sumarto, Inovasi, Par sipasi dan Good Governance, Jakarta: YOI, 2003, hlm. 5.

masyarakat sipil banyak tantangan yang harus diatasi. Untuk itu perlu adanya strategi peningkatan peran dan fungsi masyarakat dalam mengangkat martabat manusia menuju masyarakat sipil tersebut.

Masyarakat sipil secara umum bisa diartikan sebagai suatu masyarakat atau institusi sosial yang memiliki ciri-ciri antara lain: kemandirian, toleransi, keswadayaan, kerelaan menolong satu sama lain, dan menjunjung tinggi norma dan etika yang disepakati secara bersama-sama.56 Sebenarnya masyarakat sipil secara substansial sudah ada sejak zaman Aristoteles, yakni suatu masyarakat yang dipimpin dan tunduk pada hukum.

Penguasa, rakyat dan siapa pun harus taat dan patuh pada hukum yang dibuat bersama. Bagi Aristoteles siapa saja bisa memimpin negara secara bergiliran dengan syarat bisa berlaku adil, dan keadilan baru bisa ditegakkan apabila setiap tindakan didasarkan pada hukum. Karena hukumlah ikatan moral yang bisa membimbing manusia agar senantiasa berbuat adil.57

Dalam mende inisikan terminologi masyarakat sipil ini sangat tergantung pada kondisi sosio-kultural suatu bangsa, karena bagaimanapun konsep masyarakat sipil merupakan bangunan terma yang lahir dari sejarah pergulatan bangsa Eropa Barat. Sebagai titik tolak, Azyumardi Azra mengemukakan beberapa de inisi masyarakat dari para ahli di berbagai negara yang menganalisis dan mengkaji fenomena masyarakat sipil berikut ini.

“Menurut Zbigniew Rau, masyarakat sipil adalah suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan ruang di mana individu dan perkumpulan

56 Dien Syamsuddin, ka Agama dalam Membangun Masyarakat Madani, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1999, hlm. 12.

57 Aristotle, PoliƟ cs, Terj.: Robin Waterfi eld, Oxford: Oxford World’s Classics, Oxford University Press, 1995.

tempat mereka bergabung, bersaing satu sama lain guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini. Ruang ini timbul di antara hubungan-hubungan yang merupakan hasil komitmen keluarga dan hubungan-hubungan yang menyangkut kewajiban mereka terhadap negara. Lebih tegasnya terdapat ruang hidup dalam kehidupan sehari- hari serta memberikan integritas sistem nilai yang harus ada dalam masyarakat sipil, yakni individualisme, pasar dan pluralisme.”

Menurut Han Sung-joo, masyarakat sipil merupakan sebuah kerangka hukum yang melindungi dan menjamin hak- hak dasar individu, perkumpulan sukarela yang terbebas dari negara, suatu ruang pablik yang mampu mengartikulasikan isu- isu politik, gerakan warga negara yang mampu mengendalikan diri dan independen, yang secara bersama-sama mengakui norma-norma dan budaya yang menjadi identitas dan solidaritas yang terbentuk serta pada akhirnya akan terdapat kelompok inti dalamnya.

Menurut Kim Sun Hyuk, masyarakat sipil adalah suatu satuan yang terdiri atas kelompok-kelompok yang secara mandiri menghimpun dirinya dan gerakan-gerakan dalam masyarakat yang relatif otonom dari negara. Masyarakat sipil, dengan demikian, adalah gabungan satuan-satuan dasar reproduksi dan masyarakat politik yang mampu melakukan kegiatan politik dalam ruang publik guna menyatakan kepedulian mereka dan memajukan kepentingan-kepentingan mereka menurut prinsip-prinsip pluralisme dan pengelolaan yang mandiri.58

Ketiga batasan ini tentunya merupakan buah dari analisis kontekstual terhadap berbagai kinerja untuk mewujudkan

58 Azyumardi Azra, Menuju Masyarakat Madani (Gagasan, fakta, dan Tantangan), Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.

masyarakat sipil. Meskipun mensyaratkan idealisme berbeda tentang masyarakat sipil, secara garis besar ketiga batasan di atas memperlihatkan benang merah, yaitu pengertian masyarakat sipil sebagai sebuah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri independen di hadapan penguasa dan negara, memiliki ruang publik dalam mengemukakan pendapat. Lembaga-lembaga mandiri itulah yang berperan menyalurkan aspirasi dan kepentingan publik.

Relasi antara negara dan masyarakat sipil di Indonesia sangat dipengaruhi oleh konteks lokal (kultur masyarakat dan kultur politik), karakter organisasi masyarakat sipil (SDM dan manajemen, inansial, model gerakan, jaringan), dan dinamika ekonomi politik lokal dan nasional. Ciri-ciri khusus daerah yang ada seharusnya menjadi perhatian dalam perencanaan pengembangan masyarakat sipil. Organisasi masyarakat sipil merupakan potensi penting bagi proses konsolidasi demokrasi di Indonesia. Terdapat banyak LSM lokal yang sudah memiliki kapasitas memadai dan mampu memberi pengaruh positif dalam mengelola hubungan negara dan masyarakat sipil. LSM- LSM semacam ini menjadi patron (secara tidak langsung) bagi pertumbuhan LSM baru, di mana kemampuan dalam manajemen organisasi, pengelolaan pendanaan, dan kapasitas jaringan dengan lembaga-lembaga di tingkat nasional maupun internasional yang dimiliki dapat menjadi pendorong pertumbuhan organisasi masyarakat sipil yang sehat di tingkat lokal.59

Konsep masyarakat sipil adalah konsep masyarakat yang mandiri atau otonom. Dalam batas-batas tertentu masyarakat sipil dilihat sebagai entitas yang mampu memajukan diri sendiri, bisa “membatasi” intervensi pemerintahan dan negara dalam

59 Otho H. Hadi, “Peran Masyarakat Sipil dalam Proses Demokra sasi”, Vol. 14, No. 2, Desember 2010, hlm. 117–129.

realitas yang diciptakannya, serta senantiasa memperlihatkan sikap kritis dalam kehidupan politik. Beberapa karakteristik penting dari eksistensi masyarakat sipil, antara lain, adalah otonom secara politik di hadapan negara, swadaya, dan swasembada. Dari berbagai karakteristik tersebut yang paling ditekankan adalah karakteristik otonomi politiknya.

Selain itu, masyarakat sipil adalah konsep yang sangat luas.

Cohen dan Arato 60 mende inisikan masyarakat sipil sebagai wilayah interaksi sosial yang di dalamnya mencakup semua kelompok sosial paling akrab (khususnya keluarga), asosiasi (terutama yang bersifat sukarela), gerakan kemasyarakatan, dan berbagai wadah komunikasi publik lainnya yang diciptakan melalui bentuk-bentuk pengaturan dan mobilisasi diri secara independen baik dalam hal kelembagaan maupun kegiatan.

Dari skema pada Gambar 1 bisa dilihat bahwa kontribusi masyarakat sipil terhadap konsolidasi demokasi dengan berbagai peran yang dijalankannya tentu saja tidak terjadi dengan sendirinya. Karena itu, penting dipelajari tantangan yang dihadapi organisasi masyarakat sipil dalam dua konteks besar, yaitu dari sisi eksternal dan internal. Dari sisi eksternal perhatian lebih banyak diberikan pada permasalahan konteks lingkungan yang mendukung masyarakat sipil dalam menjalankan peran yang dapat dan hendak disumbangkan kepada masyarakat sasaran. Sedangkan sisi internal lebih menunjuk pada konteks penguatan kapasitas yang dimliliki secarakelembagaan oleh masyarakat sipil dan upaya pengembangan karakternya dari dan oleh elemen masyarakat sipil itu sendiri.

60 Diku p dalam ibid.

Gambar 1.

Aspek Eksternal dan Internal

Enabling Environment (Hubungan Ma sya- rakat Sipil dengan Negara dan Non-ne gara Lainnya):

A. Peran Pemerintah 1. Regulasi Peme-

rintah Pusat/

Daerah 2. Akses (Forum/Me-

dia) Partisipasi 3. Program Pember-

dayaan

4. Ketersediaan Sum- ber Pendanaan B. Peran Masyarakat

(Modal Sosial)

Kapasistas Organisasi (Karakter Masyarakat Si pil):

1. Otonomi 2. Keswadayaan 3. Keswasembadaan

Kondisi Aktual dan Pe- ran Masyarakat Sipil:

1. Pengawas Terhadap Negara

2. Mediator Partisipasi Masyarakat 3. Civic Education

Kebijakan Pengembangan Masyarakat Sipil

Sumber: “Peran Masyarakat Sipil dalam Demokratisasi” dalam Jurnal MAKARA, SOSIAL HUMANIORA, VOL. 14, NO. 2, DESEMBER 2010:

117–129

Karakteristik-karakteristik yang merupakan prasyarat untuk merealisasikan wacana masyarakat sipil tidak bisa dipisah-pisahkan, merupakan satu integral dan menjadi dasar serta nilai bagi masyarakat. Adapun karakter-karakter tersebut, menurut Hannah Arendt dan Jurgen Habermas, antara lain:

1. Free Public Sphere, adanya ruang publik yang bebas sebagai sarana mengemukan pendapat. Pada ruang publik yang bebas semacam itu individu dalam posisinya yang setara mampu melakukan transaksi-transaksi

wacana dan praksis politik tanpa mengalami distorsi dan kekhawatiran. Sebagai sebuah prasyarat untuk mengembangkan dan mewujudkan masyarakat sipil dalam sebuah tatanan masyarakat, ruang publik yang bebas adalah salah satu bagian yang harus diperhatikan.

Mena ikan ruang publik yang bebas dalam tatanan masyarakat sipil sama saja dengan memungkinkan terjadinya pembungkaman oleh penguasa tiran dan otoriter atas kebebasan warga negara dalam menyalurkan aspirasinya terkait kepentingan umum.

2. Demokratis. Demokrasi adalah entitas penegak wacana masyarakat sipil, di mana dalam menjalani kehidupan warga negara memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan aktivitas kesehariannya, termasuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

3. Toleran. Sikap ini dikembangkan dalam masyarakat sipil untuk menunjukan sikap saling menghargai dan menghormati aktivitas yang dilakukan orang lain.

4. Pluralisme, inilah pertalian sejati kebinekaan dalam ikatan-ikatan keadaban. Bahkan, pluralisme adalah suatu keharusan bagi kemaslahatan manusia yang harus dipelihara melalui, antara lain, mekanisme pengawasan dan pengimbangan.

5. Keadilan Sosial, yang dimaksudkan dengan keadilan sosial adalah keseimbangan dan pembagian yang proporsional atas hak dan kewajiban setiap warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan.61 Pentingnya peningkatan peran masyarakat sipil dalam demokratisasi di Indonesia dituangkan dalam Undang-Undang

61 M.J. Mawardi, “Strategi Pemberdayaan Masyarakat Madani”, Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam, Volume 4, No. 1, Juni, 2009, hlm. 21.

Nomor 17 tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN). Dalam praktiknya, sosok masyarakat sipil yang dimaksud mencakupi institusi-institusi non- pemerintah yang berada di masyarakat yang mewujudkan diri melalui organisasi, perkumpulan atau pengelompokan sosial dan politik yang berusaha membangun kemandirian seperti organisasi sosial dan keagamaan, lembaga swadaya masyarakat (LSM), paguyuban, kelompok-kelompok kepentingan, dan sebagainya yang juga bisa mengambil jarak dan menunjukkan otonomi terhadap negara.

Akhirnya, masyarakat sipil menurut Surbakti,62 jika dipahami secara sepintas merupakan format kehidupan sosial yang mengedepankan semangat demokratis dan menjunjung tinggi nilai-nilai hak asasi manusia. Dalam masyarakat sipil, warga negara bekerja sama membangun ikatan sosial, jaringan produktif dan solidaritas kemanusiaan yang bersifat non- pemerintahan untuk mencapai kebaikan bersama. Karena itu, tekanan sentral masyarakat sipil terletak pada independensinya terhadap negara. Masyarakat sipil berkeinginan membangun hubungan yang konsultatif bukan konfrontatif antara warga negara dan negara. Masyarakat sipil juga tidak hanya bersikap dan berperilaku sebagai warga negara yang memiliki hak dan kewajiban, melainkan juga harus menghormati hak serata, memperlakukan semua warga negara sebagai pemegang hak kebebasan yang sama.

Di sinilah masyarakat sipil menjadi alternatif pemecahan dengan pemberdayaan dan penguatan daya kontrol masyarakat terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, tentunya setelah terwujud kekuatan masyarakat sipil yang mampu merealisasikan dan mampu menegakkan konsep

62 Ibid.

hidup yang demokratis dan menghargai hak-hak asasi manusia.

Masyarakat sipil dipercaya sebagai alternatif paling tepat bagi demokratisasi, terutama di negara yang demokrasinya mengalami ganjalan akibat kuatnya hegemoni negara. Tidak hanya itu, masyarakat sipil juga dipakai sebagai cara pandang untuk memahami universalitas fenomena demokrasi di berbagai negara.

Kontribusi masyarakat sipil dalam proses demokratisasi yang bergulir adalah isu yang sangat penting mengingat dalam dua puluh lima tahun ke depan sasaran pembangunan politik Indonesia adalah mencapai apa yang disebut demokrasi terkonsolidasi sebagaimana telah ditetapkan dalam Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005–2025.

Langkah jangka panjang yang harus ditempuh adalah mengupayakan agar seluruh elemen masyarakat sipil memiliki kapasitas kemandirian yang tinggi sehingga secara bersamaan dapat mempertahankan kehidupan demokrasi. Dalam kaitan ini, agaknya kita perlu merenungkan kesimpulan John Keane dalam Democracy and Civil Society yang dikutip oleh Azyumardi Azra, bahwa demokrasi bukanlah musuh bebuyutan maupun teman akrab kekuasaan negara. Demokrasi menghendaki pemerintah memerintah masyarakat sipil secara tidak berlebihan ataupun terlalu sedikit. Sesungguhnya, tatanan yang demokratis tidak bisa dibangun melalui kekuasaan negara, dan juga tidak bisa diciptakan tanpa kekuasaan negara. Sedangkan masyarakat sipil dapat memberi masukan kepada masyarakat politik, seperti orsospol, birokrasi, dan sebagainya dalam pengambilan setiap keputusan publik.Pada saat yang sama, masyarakat politik bisa melakukan rekrutmen politik dari kelompok-kelompok dalam masyarakat sipil sehingga kualitas para politisi dan elite politik bisa setinggi yang diharapkan.

Dalam dokumen Dinamika Politik Lokal Indonesia (Halaman 59-69)

Dokumen terkait