• Tidak ada hasil yang ditemukan

Materi dan Metode yang harus Dikuasai Guru PAI

BAB II BAB II

A. Upaya Guru Pendidikan Agama Islam

4. Materi dan Metode yang harus Dikuasai Guru PAI

Materi pokok yang harus dikuasai oleh guru pendidikan agama Islam adalah semua masalah hidup dan kehidupan manusia menurut ajaran agama Islam dengan sumbernya yang sudah jelas yaitu kitab suci Al- Qur’an dan Hadits Nabi SAW dan materi yang disampaikan itu harus sesuai dengan kemempuan atau kecerdasan serta pertumbuhan siswanya.

Materi pokok pendidikan agama Islam dan ruang lingkup pembahasan di atas maka pendidikan agama Islam itu berlangsung secara kesinambungan, sejak dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai pada tingkat pertumbuhan dan kecerdasan peserta didiknya. Yang akhirnya pendidikan agama Islam itu dapat diarahkan kepada anak yang selalu taat menjalankan ajaran-

30 M. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2017), h.7

ajaran agama Islam, sehingga akan terbentuklah anak yang berkepribadian muslim. Terdapat beberapa tujuan pendidikan Islam yaitu:

a. Membina murid-siswa untuk beriman kepada Allah SWT, mencintai, menaati-Nya dan berkepribadian yang mulia.

b. Memperkenalkan hukum-hukum agama dan cara-cara menunaikan ibadah serta membiasakan mereka senang melakukan syiar-syiar agama dan menaatinya.

c. Mengambangkan pengetahuan agama merka dan memperkenalkan adab sopan santun Islam.

d. Memantapkan rasa keagamaan pada siswa-siswa, membiasakan diri berpegang pada akhlak mulia.

e. Membina perhatian siswa terhadap aspek-aspek kesehatan.

f. Membiasakan siswa bersikap rela, optimis dan percaya diri, menguasai emosi, tahan menderita dan berlaku sabar.

g. Membimbing siswa kearah sikap yang sehat.

h. Membiasakan siswa sopan santun di rumah, di sekolah dan di jalan.

i. Membina siswa agar menghargai kerja.

j. Menjelaskan kepada mereka bahwa takhayul-takhayul dan adab kebiasaan yang negaitif yang terbesar dalam masyarakat beretentangan dengan ajaran agama.

k. Siswa merasa bangga dengan warisan kebudayaan Islam

l. Menyadari adanya ikatan yanag baikpada rosulullah dan sejarah para sahabat.

m. Menjelaskan kedudukan jihad dijalan Allah SWT dalam mengembangkan ajaran agama, membela hak milik dan tanah air kaum muslimin.

n. Memperkuat rasa nasionalisme yang tercermin dalam kecintaan tanah air, lotal,siap berkorban untuk mememliharan kemerdekaan dan meyakini itu semua merupakan prinsip agama Islam.

o. Siswa mengetahui bahwa agama islam adalah agama ketertiban, persaudaraan dan kesejahteraan buat seluruh bangsa walau berbeda keyakinan, warna kulit maupun tanah air. 31

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan dalam suatu pendidikan merupakan titik akhir dari segala usaha yang akan dicapai atau merupakan titik pangkal untuk mencapai tujuan- tujuan lain. Dalam hal ini tujuan pendidikan Islam harus dikaitkan pula

31. Muhammad Abdul Qadir Ahmad, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2008), h. 15.

dengan tujuan pendidikan nasional negara tempat pendidikan Islam itu dilaksanakan dan harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan itu.

Materi Pendidikan Agama di Sekolah Menengah Pertama bertujuan untuk membekali siswa dengan berbagai pengetahuan agama sesuai dengan perkembangannya, baik tentang secara dasar-dasar atau hikmah- hikmah hukum Islam maupun tentang bacaan dan hafalan Al-Qur’an.

Dalam menerapkan materi Pendidikan Agama Islam terdapat tujuan umum dan tujuan khusus, dapat dijelaskan sebagai berikut:

a. Tujuan Umum, meliputi

1) Meningkatkan kepercayaan siswa kepada agama, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an atau hadis-hadis yang membahas tentang agama dan sejarah Islam.

2) mengembangkan pengajaran agama dan menjauhkan mereka dari pemikiran-pemikiran yang salah dan mematikan jiwa dan semangat keagamaannya.

3) Menciptakan amalan-amalan yang baik yang dapat membantu pembinaan kepribadian siswa dan mengarahkan mereka kejalan yang baik sehingga mereka mengenal pekerjaan yang baik dan benar serta melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

4) Ikatan siswa-siswa dalam berbagai kegiatan amal baik, cinta kasih, tolong menolong dan mbermoral tinggi serta menjauhkan diri dari berbagai aliran kefanatikan sehingga sikap yang demikian itu berkembang dalam masyarakatnya.

5) Meningkatkan kesadaran siswa mengenai kewajiban terhadap Negara sehingga mereka merasa bertanggung jawab untuk ikut serta membela kemerdekaan.

6) Membangkitkan rasa bangga dikalangan siswa-siswa terdapat peninggalan (sejarah) Islam dan menhajak merka untuk mengikuti jejak paras pahlawan Islam.

7) menjaga dasar-dasar dan syiar agama, membiasakan mereka mengurus masjid dan menjaga agar mereka tidak mengukuti aliran yang menyesatkan.

b. Tujuan Khusus

1) Meningkatkan hubungan siswa dengan AL-Qur’an secara baik dan benar.

2) Menguatkan hubungan siswa dengan Kitabullah sehingga mereka merasakan indahnya metode yang dipakai Al-Qur’an.

3) menjelaskan maksud Al-Qur’an tentang tanda-tanda kekuasaan Allah dan anjuran untuk mempelajari tentang sifat-sifatnya.

4) menjelaskan bahwa sunnah Rasul berfungsi sebagai penafsir Al- Qur’an.

5) Membekali siswa dengan berbagai ibadah, hukum-hukum agama dan permasalahan masyarakat, agar agama dan ibadah mereka benar serta bermoral tinggi.

6) Para siswa menerapkan pelajaran ini dalam kehidupan mereka dalam berbagai kegiatan baik kegiatan agama maupun kegiatan sosial.32

Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat dijelaskan bahwa tujuan pendidikan Agama Islam adalah mendidik anak, agar mereka menjadi muslim sejati, beriman teguh, dan beramal shaleh serta berakhlak mulia, sehingga dapat berdiri sendiri, mengabdi kepada Allah SWT, berbakti kepada bangsa, negara serta tanah air, agama dan bahkan sesama umat manusia.

Menurut Departemen Agama RI, metode yang harus dikuasai oleh guru pendidikan agama Islam terdiri dari Metode ceramah, tanya jawab, diskusi (diskusi kelompok), demonstasi,tugas belajar dan resitrassi, kerja kelompok, sosiodrama (role playing), pemecahan masalah (problem solving), sistem regu (team teaching), karyawisata (fiel trip), manusia sumber (recourceperson), simulasi, titorial, studi kasus, curah gagasan (brain storming), studi bebas, kelompok tanpa pemimpin, dan latihan (drill), dan latihan kepekaan (dinamika kelompok).33

Metode mengajar di atas tidak semuanya dapat diterapkan, karena mengingat situasi dan kondisi sekolah serta sarana sekolah yang berbeda- beda di samping kemampuan guru juga sangat menentukan. Oleh karena itu Departemen Agama memberikan petunjuk bagi guru pendidikan Agama Islam dalam melaksanakan proses belajar mengajar di sekolah.

Keberhasilan dalam kegiatan belajar mengajar dapat dilihat dari proses pembelajarannya, dalam proses belajar mengajar melibatkan faktor utama yang saling berinteraksi yaitu guru dan siswa. Walaupun proses

32. Ibid, h.258.

33Departemen Agama RI, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, (Jakarta : Dirjen Binbaga Bahasa, 2004), h. 103.

belajar mengajar yang didalamnya terdapat interaksi antara guru dan siswa serta adanya bahan pelajaran yang terlebih dahulu disiapkan dan dilakukan dengan baik, akan tetapi ada beberapa siswa yang kurang memahami penjelasan-penjelasan yang telah disampaikan oleh guru disebabkan karena tidak cukupnya waktu dalam proses belajar mengajar. Oleh karena itu seorang guru harus menguasai beberapa metode pembelajaran agar hasil belajar yang dicapai dapat ditingkatkan kearah yang lebih baik.

Dalam melaksanakan interaksi kegiatan belajar mengajar juga harus memperhatikan adanya sarana, alat, materi, kurikulum pembelajaran, dan lingkungan pembelajaran. Seorang guru juga harus memperhatikan metode penyampaian materi pelajaran, agar proses pembelajaran tidak monoton dan siswa mudah untuk memahami dan mengerti materi yang telah diberikan oleh guru. Demikian halnya metode dalam pembelajaran pendidikan agama Islam.

Dengan banyaknya metode pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru, salah satunya adalah metode resitasi. Yaitu dengan memberikan tugas-tugas diluar jam pelajaran, agar siswa mudah memahami atau menguasai materi yang sudah disampaikan oleh guru di kelas. Dengan banyaknya kegiatan-kegiatan pendidikan yang dilakukan dalam usaha sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan sehingga menyita waktu siswa untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Apabila guru hanya menggunakan jam pelajaran yang ada untuk tiap mata pelajaran, hal itu tidak mencukupi tuntutan luasnya pelajaran yang diharuskan seperti yang

tercantum di dalam kurikulum. Dengan demikian perlu diberikan tugas- tugas sebagai selingan untuk memvariasikan teknik penyajian dalam pembelajaran. Tugas tersebut dapar dikerjakan diluar jam pelajaran dan dapat juga dilakukan di dalam kelas, halaman sekolah, di laboraturium, perpustakaan, di rumah siswa sendiri atau dimana saja baik dapat dikerjakan bersama-sama dengan temannya maupun sendiri.

Dokumen terkait