BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.7 Matriks Penelitian
Denah St. Coletta School
Sumber:https://www.archdaily.com/88771/ad-classics-st-coletta-school-michael- graves?ad_source=search&ad_medium=projects_tab
Biasa Tunagrahita Di Kota Pekanbaru Provinsi Riau Vol 6, No 1, Januari 2019
Repi, Rika Cheris
kegiatan proses belajar mengajar tingkat dasar bagi penyandang tunagrahita di Provinsi Riau khusus nya kota pekanbaru yang sarana Pendidikan bagi Tunagrahita yang masih sangat minim. Ada
beberapa faktor penyebab antara lain: genetik, sebab-sebab pada masa prenatal, sebab-sebab pada natal, sebab-sebab pada masa postnatal, sosiokultar. Anak Tunagrahita memiliki beberapa karakteristik dan mendapatkan pelayanan Pendidikan yang bervariasi di sesuaikan dengan karakter yang dimiliki siswa.
kurangnya perhatian anak tunagrahita terhadap suatu benda atau kegiatan. Untuk meminimalisir permasalahan tersebut maka adanya sarana terapi saraf sensorik dan motorik di lingkungan Sekolah Dasar Luar Biasa Tunagrahita Kota Pekanbaru Provinsi Riau
2. Perancangan Sekolah Luar Biasa
Dengan Pendekatan Arsitektur Psikologi Di Jakarta Timur
Deni Ismanto, Asri Budiarto, Karya Widyawati.
Sekolah luar biasa di Jakarta Timur belum memiliki fasilitas yang mudah dijangkau sehingga memungkinkan menjadi pusat pendidikan anak-anak
berkebutuhan khusus di Jakarta timur. Penyediaan pelayanan anak- anak berkebutuhan khusus di Jakarta Timur merupakan pelayanan gabungan yang melayani bermacam disabilitas.
Inilah yang menyebabkan pendidikan dan pelayanan anak anak disabilitas di Jakarta Timur kurang maksimal. Anak-anak penyandang disabilitas memiliki kebutuhan yang jauh berbeda dari anak normal. Perhatian khusus diperlukan dalam perancangan ruang personal dan sosial, faktor distraksi dari luar maupun dalam, ketahanan dari material,
ketenangan akustik, pola warna serta permainan tekstur dan macam-macam hal yang harus diperhatikan lainnya.
Sekolah Luar Biasa untuk disabilitas mental akan menjadi fasilitas pendidikan terpadu bagi murid SLB pertama di Jakarta TImur timur, jika didirikan di Jaktim . Penggunaan tema arsitektur melalui pendekatan pshikologi juga menjadikannya sekolah pertama yang
mengimplementasikan gagasan pshikologi secara lengkap di Indonesia. Konsep rancangan sekolah didasarkan pada triad estetika
pengalaman arsitektural dari pendekatan psikologi, yakni;
sistemaning system, dan emotionvaluation system
3. Sekolah Menengah Pertama Inklusi Di Kota Pontianak.
Vol. 9, No. 2, Tahun 2021
Aulia Mustika Ratu , Muhamma d Ridha Alhamdani , Rudiyono
Sekolah Inklusi ini akan dirancang sebagai lembaga milik negara.
Adanya sekolah ini dengan tujuan sebagai wadah yang
mengoptimalkan fasilitas pendidikan Sekolah Menengah Pertama Inklusi sebagai sekolah yang ramah anak. Hasil rancangan diharapkan dapat mengakomodasi siswa untuk melatih diri dan mengembangkan diri siswa, serta menciptakan konsep ruangan yang baik bagi para siswa Sekolah Menengah Pertama Inklusi agar merasa senang di sekolah.
Fasilitas yang mewadahi kegiatan di sekolah, baik secara makro maupun mikro.
perancangan ini adalah berupa konsep yang diterapkan pada bangunan yang dapat merespon isu dan masalah yang terjadi
mengenai sekolah bagi anak berkebutuhan khusus.
Perancangan tata ruang luar direncanakan dapat
mewadahi setiap anak dari adanya pencapaian dengan pedestrian dari parkiran menuju bangunan dengan guiding block bagi pengguna tuna netra, adanya akses ramp yang aman bagi penyadang tuna daksa menggunakan kursi roda maupun tongkat. Bentuk bangunan menyesuaikan dengan kebutuhan ruang, serta mengambil intisari dari filosofi “Dibalik Kekurangan Terdapat Kelebihan”. Melihat kondisi tapak, desain dibuat merespon pepohonan eksisting.
4. Sekolah Inklusi Untuk Anak
Berkebutuha n Khusus:
Tanggapan Terhadap Tantangan Kedepannya.
21
November 2015
Jamilah Candra Pratiwi
Penyelenggaraan sekolah inklusi di Indonesia, dilatar belakangi oleh hak anak untuk memperoleh pendidikan. Tidak berbeda dengan orang-orang normal, anak-anak berkebutuhan khusus juga mempunyai kebutuhan yang sama. Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tidak terbatas di sekolah luar biasa, tetapi juga pendidikan yang terintegrasi, yang memungkinkan
Sekolah inklusi adalah sebuah pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus tanpa memandang kondisi fisik, intelegensi, sosial, emosional, dan kondisinya lainnya seperti memiliki potensi keceradasan dan bakat istimewa untuk belajar bersama dengan anak-anak normal di sekolah regular.
Manfaat yang diperoleh dari
anak luar biassa belajar bersama dengan anak normal. Sistem pendidikan seperti ini disebut dengan pendidikan inklusi.
inklusi salah satunya adalah Sekolah inklusi dipandang paling efektif untuk melawan sikap
diskriminatif,menciptakan masyarakat yang mau menerima kedatangan anak luar biasa, dan mencapai pendidikan untuk semua.
5. Penerapan Aksesibilitas pada Desain Fasilitas Pendidikan Sekolah Luar Biasa.
SAINS DAN SENI POMITS Vol. 2, No.
2, (2013)
Narulita Anugrahin g Widi, Rullan Nirwansya h
Pada bangunan sekolah utamanya Sekolah Luar Biasa yang
mewadahi proses pendidikan anak berkebutuhan khusus sudah harus memiliki standard khusus pada seluruh fasilitasnya. Fasilitas yang ada diantaranya dalah fasilitas ruang kelas, fasilitas penunjang, taman bermain, dan kamar mandi. Setiap detail interiornya dan rancangan secara arsitekturalnya harus difikirkan secara jeli. Penggunaan railing, ramp, dan tangga juga harus diperhitungkan walaupun jarak bukan hal utama. Penerapan aksesibilitas yang ada pada detail bangunan fasilitas pendidikan diharapkan dapat dijadikan sebuah
tuntunan agar setiap anak berkebutuhan khusus dapat melakukan aktivitasnya secara mandiri. Desain ruang yang ada ini dimaksudkan bukan hanya melihat dari segi kenyamanan tetapi juga segi keamanan yang lebih penting
Dengan adanya issue aksesibilitas, maka perlu adanya
standarisasi bagi bangunan untuk memenuhi kebutuhan manusia bagi penyandang cacat. Bangunan sekolah Khusus atau Sekolah Luar Biasa sangat perlu
mengutamakan aksesibilitas sirkulasi maupun
desain dari interior hingga eksteriornya, sehingga pencapaian rasa aman dan nyaman dalam melakukan aktivitas belajar mengajar dapat terlaksana. Adanya detail yang diberikan dalam satu ruang kelas akan memberikan manfaat yang luar biasa bagi anak
berkbutuhan khusus tersebut. Oleh karena itu, adanya standar serta
persyaratan yang sudah ada di
dalam Kepmen PU No 486 tahun 1998 perlu diterapkan dan dikaji sehingga dapat memberikan inovasi baru bagi standart ruang bagi penyandang cacat.
Dari matriks di atas memiliki perbedaan dengan penelitian ini dari segi perancangan dan pendekatan yang digunakan. Pendekatan yang di angkat pada perancangan ini yaitu arsitektur perilaku. Pada perancangan Sekolah ini mewadahi untuk semua jenis ketunaan. Perancangan sekolah ini juga bertujuan untuk memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas dengan memperhatikan standar-standar dari fisik bangunan, aksebilitas bangunan, sirkulasi bangunan, penghawaan bangunan, maupun interior dan eksterior yang sesuai dengan kebutuhan kaum disabilitas.
BAB III
METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif.
Penelitian deskriptif kualitatif, deskriptif yaitu suatu rumusan masalah yang memandu penelitian untuk mengeksplorasi atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh, luas dan mendalam. Menurut Bogdan
dan Taylor yang dikutip oleh Lexy.J. Moleong, pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi tentang konsep dan teori-teori yang dapat dijadikan landasan dalam melakukan penelitian ini. Sehingga menjadi metode perancangan arsitektur. (Lexy J. Meleong, 2007)