• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melakukan Pengiriman Tersangka Dan Barang Bukti

Dalam dokumen pembuktian terhadap tindak pidana perkosaan (Halaman 74-80)

BAB 4 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.2 Pembuktian Tindak Pidana Perkosaan Dengan Tersangka Saudara

4.2.13 Melakukan Pengiriman Tersangka Dan Barang Bukti

Setelah berkas perkara tindak pidana perkosaan dengan tersangka saudara SYAMSUL dinyatakan lengkap, penyidik unit pelayanan perempuan dan anak melakukan pengiriman tersangka beserta barang bukti kepada pihak kejaksaan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan oleh jaksa yang menangani perkara tersebut.

Sampai disinilah pihak kepolisian dalam membuktikan kasus tindak pidana perkosaan dengan tersangka saudara SYAMSUL, karena penyidik unit pelayanan perempuan dan anak yang menangani kasus tersebut sudah mendapatkan surat P21 dari pihak kejaksaan atas pengiriman berkas perkara tindak pidana perkosaan.

Selanjutnya peran jaksa penuntut umum yang akan berperan untuk menghadapkan tersangka pada sidang pengadilan dikantor pengadilan negeri makassar untuk dilakukan vonis oleh hakim untuk tersangka tindak pidana perkosaan. Kemudian setelah hakim sudah memvonis terdakwa, maka selanjutnya terdawa akan dikirim ke lembaga pemasyarakatan untuk menjalani hukumannya dikurangi dengan masa tahanan ketika ditahan dirumah tahanan polisi sektor panakkukang.

4.3 Hambatan Pembuktian Tindak Pidana Perkosaaan di Polisi Sektor Panakkukang dengan Tersangka Saudara SYAMSYUL.

4.3.1 Hambatan Umum Kasus Tindak Pidana Perkosaaan

Dari hasil wawancara penulis dengan Kepala Unit Reserse Kriminal Polisi Sektor Panankkukang, ia mengatakan bahwa yang menjadi hambatan umum dalam penanganan kasus tindak pidana perkosaan adalah tidak adanya laporan atau pengaduan dari pihak korban perkosaan yang tidak melaporkannya kepada pihak berwajib akan kejadian tindak pidana perkosaan yang korban alami, sehingga pihak kepolisian tidak mengetahui atau tidak bisa memproses pelaku

tindak pidana perkosaan. Padahal tindak pidana perkosaan bisa dilaporkan oleh siapa saja kepada pihak kepolisian, yang terpenting pihak yang akan melapor tersebut mengetahui bahwa telah terjadi tindak pidana perkosaan, atau korban mau jujur kepada keluarga, saudara ataupun teman dekatnya dan langsung mengadukan kepada pihak kepolisian.

Bukan hanya hambatan tersebut diatas, penyidik juga mengatakan hambatan yang lain dalam penanganan kasus tindak pidana perkosaan berupa, penyidik harus menghadirkan saksi ahli dari kedokteran, saksi ahli ini yang menerangankan korban diperkosa atau tidak biasanya dituangkan kedalam hasil Visum Et Repertum, hasil visum tersebut sangat berguna bagi penyidik agar mengetahui apakah korban benar-benar telah diperkosa atau hanya suka sama suka.

Selanjutnya dari hasil wawancara penulis dengan beberapa penyidik unit reserse kriminal yang lainnya juga mengatakan, ada yang unik dalam menangani kasus tindak pidana perkosaan ini, yaitu banyaknya masyarakat atau korban tindak pidana perkosaan yang melaporkannya tidak sesuai fakta, misalnya korban mengaku diperkosa tetapi setelah dilakukan penyelidikan dan dimintaan visum et repertum dirumah sakit ternyata korban tersebut tidak diperkosa, melainkan suka sama suka, sehingga dari pihak kepolisian khususnya penyidik unit reserse kriminal tidak bisa menindak lanjuti laporan

tersebut, dan biasanya keluarga korbanlah yang tidak terima anaknya telah berhubungan layaknya hubungan suami istri dengan laki – laki tersebut sehingga melaporkannya kepada pihak kepolisian. Terkait dengan kasus dengan model seperti ini biasanya pihak kepolisian menyelesaikannya dengan cara mediasi, antara pihak keluarga perempuan dan pihak keluarga laki – laki sehingga pada akhirnya didapat kesepakatan pihak laki – laki mau bertanggung jawab dan akan segera menikahi perempuan tersebut yang telah melakukan layaknya hubungan suami istri dengan dasar suka sama suka. Kasus seperti ini banyak terjadi di usia remaja yang tidak lain karna ada hubungan berpacaran.

4.3.2 Hambatan Kasus Tindak Pidana Perkosaan Tersangka Saudara Syamsul.

Berbicara tentang hambatan yang didapatkan oleh penyidik unit pelayanan perempuan dan anak dalam menangani kasus tindak pidana perkosaan ini penulis sudah mewawancarai langsung Bripda Afrah, dan penyidik menjelaskan bahwa hambatan dalam penanganan perkaranya sangat banyak, mulai dari penyidik yang harus mencari saksi – saksi yang mendukung laporan korban, penyidik yang harus mengumpulkan bukti – bukti, penyidik yang haris berkoordinasi dengan saksi ahli dalam hal ini adalah dokter yang menangani visum korban dan berkoordinasi dengan instansi terkait, serta waktu yang sangat singkat untuk menyelesaikan pemberkasan sebelum masa

penahanan tersangka habis, sehingga penyidik harus konsentrasi dalam menyelesaikan berkas perkaranya, tetapi penyidik mengatakan semua hambatan itu dapat dilalui dengan baik berkat kerja sama tim yang selalu memberikan support kepadanya. Dan yang terakhir hambatan yang dialami oleh penyidik unit pelayanan perempuan dan anak adalah penyidik harus melengkapi petunjuk jaksa pada berkas perkara yakni harus menambah satu saksi dari pihak kepolisian yang menangkap tersangka, dan jaksa penuntut umum juga memberi petunjuk kepada penyidik unit pelayanan perempuan dan anak agar semua saksi dibuatkan berita acara sumpah untuk menguatkan laporan korban di persidangan nanti.

4.4 Pandangan Pengacara Mengenai Tindak Pidana Perkosaan.

Dari hasil wawancara penulis dengan pengacara PBHI, bahwa tindak pidana perkosaan itu adalah suatu tindak pidana yang sangat banyak terjadi dimasyarakat, namun tindak pidana ini jarang sekali terekspos karena korban tindak pidana perkosaan ini enggan memberitahukan kepada siapapun termasuk keluarganya sendiri dengan alas an aib. Selain menjadi aib, korban biasanya mendapat ancaman dari pelaku tindak pidana perkosaan sehingga tidak pernah melaporkan kejadian tersebut kepada aparat penegak hukum maupun keluarganya sendiri.

Tindak pidana perkosaan hampir terjadi disetiap daerah yang ada diindonesia, maka dari itu tindak pidana perkosaan ini harus ditindak secara tegas untuk melindungi korban, terutama para wanita usia remaja. Kita

perlu mengedukasi masyarakat untuk tidak takut melaporkan tindak pidana perkosaan kepada pihak kepolisian, hal ini sudah dapat membantu menghukum pelaku tindak pidana perkosaan agar jera dan tidak ada pelaku yang berbuat tindak pidana perkosaan lagi.

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang bisa penulis simpulkan bahwa kasus tindak perkosaan tidaklah mudah untuk dibuktikan seperti apa anggapan yang beredar masyarakat. Salah satu faktor yang paling penting untuk memperoses kasus tindak pidana perkosaan yaitu yang paling pertama masyarakat harus mengadukan atau melaporkan tindak pidana perkosaan yang terjadi disekitar kita kepada pihak kepolisian terdekat agar pelaku tindak pidana perkosaan tersebut bisa diproses sesuai dengan hukum yang berlaku, tetapi kalau masyarakat sama sekali enggan melaporkan suatu tindak pidana perkosaan yang terjadi maka tidak akan bisa menghukum para pelaku yang telah melakukan perbuatan yang melawan hukum. Dengan adanya masyarakt yang sadar akan pentingnya melaporkan suatu tindak pidana kepada pihak kepolisian sudah membantu untuk memproses pelaku tindak pidana.

5.2 Saran

Saran penulis untuk masyarakat jangan pernah takut untuk melaporkan suatu peristiwa tindak pidana, karena dengan melakukan hal tersebut masyarakat sudah berperan menegakan hukum dan sangat membantu pihak kepolisian dalam untuk menghukum para pelaku tindak pidana.

Dan penulis menyarankan kepada para penyidik untuk tetap semangat dalam membuktikan suatu kasus tindak pidana walaupun prosesnya pembuktiannya panjang dan tidak mudah. Pihak kepolisian sebagai ujung tombak dalam memberantas kejahatan terkhusus bagi para penyidik yang langsung berperan dalam membuktikan suatu perkara tindak pidana yang ditangani.

DAFTAR PUSTAKA

1. Buku

Abdul Wahid dan Muhammad Irfan, 2001, Perlindungan Terhadap Korban Kekerasan Seksual, Advokasi atas Hak Asasi Perempuan, PT Refika Aditama, Bandung.

Andi Hamzah, 2017, Hukum Acara Pidana Indonesia, Edisi Kedua, Sinar Grafika, Jakarta.

Andika Wijaya dan Wida Peaca Ananta, 2016, Darurat Kejahatan Seksual, Sinar Grafika, Jakarta.

Andi Sofyan dan Abd. Asis, 2014, Hukum Acara Pidana Suatu Pengantar, Kencana, Jakarta.

Eko Prasetyo dan Suparman Marzuki, 2004, Perempuan Dalam Wacana Perkosaan, Pustaka Belajar Offset, Yogyakarta.

Ismu Gunadi dan Jonaedi Sfendi, 2004, Hukum Pidana, Prenadamedia Group, Jakarta.

M. Yahya Harahap, 2016, Pembahasan dan Penerapan KUHAP, Sinar Grafika, Jakarta.

Maria S.W Sumardjono, 2014, Metode Penelitian Ilmu Hukum, Tanpa Penerbit, Yogyakarta.

Mukti Fajar dan Yulianto Akhmad, 2010, Dualisme Penelitian Hukum : Normatif dan Empiris, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.

Mustafa Bola dan Judhariksawan, 2004, Pedoman Perkara Hukum, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sudarsono, 2012, Kamus Hukum, PT Rineka Cipta, Jakarta.

Sudikno Mertokusumo, 2008, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta.

Suhwardi K Lubis, 2014, Etika Profesi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta.

Suparman Marzuki, Eko Prasetyo dan Aroma Elmins Martha, 2002, Pelecehan Seksual, Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Topo Santoso, 2003, Seksualitas Dan Hukum Pidana, INHILL CO, Jakarta.

2. Perundang-Undangan

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.

Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia

Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana.

3. Internet

Anonim, “Tiap Hari 8 Wanita Diperkosa di Indonesia”, melalui https://m.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20191126131351-282-

451567/komnas-perempuan-tiap-hari-8-wanita-diperkosa-di-indonesia , diakses Minggu, 22 Desember 2019 Pukul 21.00 Wita.

Anonim, “Kasus Pemerkosaan di Indonesia Sepanjang Tahun 2019”, melalui

https://www.google.co.id/amp/s/m.merdeka.com/amp/peristiwa/kasus- kejahatan-pada-permpuan-di-2019-kdrt-turun-namu-pemerkosaan-

meningkat.html , diakses Senin, 30 Desember 2019 Pukul 10.00 wita.

Artikel, Pengertian Tindak Pidana Menurut Para Ahli, melalui http://prasko17.blogspot.com/2011/05/pengerttian-tindak-pidana-menurut- para.html?m=1, diakses Rabu, tanggal 25 Desember 2019, pukul 19.00 Wita.

Artikel, Pengertian Tindak Pidana Menurut Para Ahli, melalui http://tipsserbaserbi.blogspot.com/2015/06/pergertian-tindak-pidana-

menurut-para.html?m=1, diakses Rabu, tanggal 25 Desember 2019, pukul 20.00 wita.

Bastianto Nugroho, melalui http://e-

journal.unair.ac.id/YDK/article/download/4780/pdf1, diakses Senin, tanggal 23 Desember 2019, Pukul 10.00 Wita.

Profile Polisi Sektor Panakkukang

Penyidik Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA)

Reserse Kriminal Unit Penyidik

Dalam dokumen pembuktian terhadap tindak pidana perkosaan (Halaman 74-80)

Dokumen terkait