BAB IV PEMBAHASAN
C. Konsep Pendidikan Karakter Anak dalam Lingkungan Keluarga
5. Membentuk Karakter Anak terhadap Saudara-saudaranya
67
n. Jika orang tua mencegah, jangan pernah melawan, patuh dan diamlah
o. Jangan pernah marah dan menangis dihadapanya p. Janganlah berdehem-dehem terhadapnya
q. Selalu berbuat hal-hal yang menjadikan hati ayah dan ibu bahagia.64
ىَلَعوَأ ،ٍةَبْعُل ىَلَعوَأ ،ٍماََّحْ ِلوُخُد ىَلَع ،ًكِتْخُأْوَأ َكْيِخَأ َعَم ْعَزاَنَ تَ ت َلا َكِلاَذَكَو ىَلَع وَأ ،ِّىِسْرُكْلا ىَلَع ِسْوُلُْلْا ،اًمِئاَد َلَزاَنَ تَ تَوَِبَْصَت ْنَأ َكْيَلَعَو ،َرَخآ ٍئْيَش
.اَُهُاَضِر ُبِّبَسُيَو َكْيَدِلاَو ُحِّرَفُ ياَِّمِاَذَهَ ف ْنَعْدِعَتْ باَو ،ىَرْخُأًةَّرَم َطَلْغَ ي َّلاَئِل ٍةَفاَطَلِب ُوَطَلَغ ُوَلْرِهْظَأَو ،َطِلَغاَذِا َكاَخَأ ْحَِسَ
َِلْ ،ِحاَزِمْلاِةَرْ ثَك .َةَمَصاَخُمْلاَوَدْقِلْا ُبِّبَسُت اَهَّ ن
ٙ٘
Saudara-saudaramu yang laki-laki maupun yang perempuan adalah orang yang paling terdekat kepadamu setelah kedua orang tuamu. Maka apabila engkau ingin bapak dan ibumu bahagia terhadapmu maka beradablah kepada mereka (saudara- suadaramu), dengan cara engkau hormati saudara laki-lakimu yang besar dan saudara perempuanmu yang besar pula, kau cinta keduanya dengan kecintaan yang tulus, kau ikuti nasihat- nasihatnya, kau sayangi saudara laki-lakimu yang kecil dan saudara perempuanmu yang kecil, kau cintai juga keduanya dengan kecintaan yang benar, dan jangan kau menyakiti keduanya dengan pukulan atau mencelanya, dan juga jangan saling menyakiti, atau mengganggu permainan keduanya, karena hal tersebut akan membuat murka kedua orang tuamu.
Dan begitu juga janganlah kamu bertengkar kepada saudara laki-lakimu atau saudara perempuanmu dalam urusan masuk ke kamar mandi atau dalam bermain atau dalam masalah tempat duduk atau dalam perkara lainnya. Engkau wajib bersabar dan mengalahlah selalu. Maka hal ini termasuk perkara yang dapat membuat kedua orang tuamu bahagia dan menyebabkan keridhoan keduanya.
Maafkanlah saudaramu ketika ia marah, nampakkanlah kelembutanmu kepadanya ketika ia marah, agar ia tidak marah lagi, jauhilah dari banyak bercanda karena hal itu menyebabkan kedengkian dan permusuhan.
Dari penjelasan pasal tersebut dapat kita ketahui bahwa kita harus memiliki akhlak yang baik terhadap saudara-saudara kita. Akhlak yang dapat kita terapkan sesuai dengan pendapat Syaikh Umar bin Ahmad Baradja diantaranya sebagai berikut:
65 Baradja, Al-Akhlaq li Al-Banin Jilid I, 25-26.
69
a. Menghormati saudaramu yang lebih tua, baik laki-laki ataupun perempuan
b. Mencintai mereka dengan tulus
c. Menjalankan seluruh nasihat-nasihat mereka
d. Menyayangi saudaramu yang lebih kecil, baik laki-laki maupun perempuan
e. Mencintai mereka dengan sebenar-benar cinta
f. Tidak menyakiti mereka dengan memukul atau berkata kasar g. Tidak menyembunyikan mainan mereka sebab akan membuat
orang tua kita marah
h. Tidak berebut ketika akan ke kamar mandi, bermain, duduk ataupun yang lain
i. Selalu sabar menghadapi mereka
Supriyanto, dkk. mengemukakan bahwa anak harus diajarkan akhlak yang baik terhadap saudara-saudaranya sendiri seperti perintah untuk menjaga silaturrahmi meskipun terdapat perbedaan atau perselisihan, dapat menyadari bahwa saudara berada dalam satu kolektivitas keluarga, menjaga persatuan, lebih memprioritaskan kepentingan saudara di atas kepentingan diri sendiri dan orang lain.66 Hal ini selaras dengan pepatah yang berbunyi “Buruk-buruk papan jati”
yang memiliki makna seburuk-buruknya saudara sendiri, masih satu darah dan satu keluarga yang harus kita sayangi dalam keadaan apapun
66 Supriyanto, dkk., Islam and Local Wisdom: Religious Expression in Southeast Asia (Yogyakarta: Deepublish, 2018), 82.
dan harus kita bantu saat mengalami kesusahan. Sebagaimana yang terkandung dalam Surat Al-Isra‟ ayat 26:
( اًريِذْبَ ت ْرِّذَبُ ت لاَو ِليِبَّسلا َنْباَو َينِكْسِمْلاَو ُوَّقَح َبِْرُقْلا اَذ ِتآَو
ٕٙ
)
Artinya: “dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.”67
Syaikh Umar bin Ahmad Baradja juga memberikan gambaran tentang akhlak seorang anak kepada saudaranya dengan mengisahkan seseorang yang menjaga adabnya kepada saudaranya pada pasal 18, sebagai berikut:
،ِّيَِوَساَهْ نِم ِناَعِجْرَ يَواًعَم ِةَسَرْدَمْلا َلَِا ِناَبَىْذَي : ِنَّبَّاَحَتُم ِناَوَخَأُدَْحَْأَو ُّىِلَع ْلا ِفَِو ِلِزْنَمْلا ِفِ اَمُهَسْوُرُد ِناَعِلاَطُيَ ف ،اَمِِتِاَبِجاَوِءاَدَأ ىَلَع ِنَنََواَعَ تَ يَو ،ِةَسَردَم
.اًعَم ِبْعَّللا َتْقَو ِناَبَعْلَ يَو َلَأَسَف ،َْينِنَبْلِل ِق َلاْخَلْا ِباَتِك ْنِم ِْينَ تَخْسُن ّّىِلَع ىَرَ تْشا ،ِمَّيََلْا َنِم ٍموَي ِفَِو َيِدىُأ ْنَأُديِرُأ ِّنِِاَف ُدَحَْأ ىِخَأ َنْيَأ ، ِنِِْبَْخَأ ْلَّضَفَ ت ِبَِأ َيَ : ًلاِئاَق ُهَبََّأ ِوْيَلِا
.ِةَعَلاَطُمْلا ِةَرْجُح ِفِ ُهاَخَأ َّنَِبِ ُهَرَ بْخَأَواِّدِج ُهوُبَأ َحِرَفَ ف ،ِباَتِكلااَذَى ْنِم ًةَخْسُن ُوَلَوَنََو ،ِوْيَلَع َمَّلَسَف ُوَسوُرُد ُعِجاَرُ ي ُهاَخَأاًذِاَف ،ِةَرْجُلْا َلَِا اًعِرْسُم ّّىِلَع َبَىَذَف ْ بُمَوُىَو َةَخْسُّنلا َُّثُ .ِةَنْ يِمَّثلا ِوِتَّيِدَى ىَلَع ِويِخَِلْ اًرِكاَش ُدَحَْأ اَهَلَّ بَقَ تَ ف ،ٌروُرْسَم ٌمِسَت
ِتََّّيِدَى ِهِذَىَو : ُلوُقَ ي َوُىَو ِمِساَرَمْلا ِظْفِِلْاًفيِطَل اًقوُدْنُص ٍّىِلَع ِوْيِخَِلْ ُدَحَْأ َمَّدَق ِثَك ّّيِلَع َّرُسَف .ِزيِزَعلا ىِخأَيَ ،َكَل .ِوْيَلَع ُهَرَكَشَو ِقوُدْنُّصلِبَّ َحِرَفَو ِويِخَأ ْنِم اًيْ
َلاَقَو ،ِذيِم َلاَّتلا َماَمَأاَمُهَحَدَمَو ِحَرَفلا َةَياَغاَمُهْ نِم َحِرَف ،اَمِهِتَّصِقِبُذاَتْسُلْا َعَِسَ اَّمَلَو اَُهَُدَعْسَأ اَم َدَحَْأَو ٍّىِلَع َلَِاُد َلاْوَلْااَهُّ يَأاوُرُظْنُأ : ،ِنْيَوَخَْلْا ِنْيَذَى َلْثِماًعيَِجَاوُنوُكَف
.ٍءاَنَىَوٍةَداَعَس ِفِاوُشْيِعَتِل
ٙٛ
Ali dan Ahmad adalah dua orang bersaudara yang saling mencintai, keduanya pergi ke sekolah bersama, pulang darinya
67 Depag RI, Alquran dan Terjemahnya, 388.
68 Baradja, Al-Akhlaq li Al-Banin Jilid I, 26-28.
71
pun bersama-sama pula. Keduanya saling bantu membantu didalam mengerjakan tugas rumahnya, kedua juga mempelajari pelajaran-pelajarannya di rumah maupun di sekolah dan keduanya pun bermain di waktu bermain bersama-sama.
Pada suatu hari, Ali membeli dua buah naskah (buku) dari kitab Al-Akhlaq li Al-Banin. Kemudian ia bertanya kepada ayahnya,
“Wahai ayahku, bisakah engkau memberitahuku dimana saudaraku Ahmad? Sungguh aku ingin menghadiahkan kepadanya satu naskah dari kitab ini” (setelah mendengar hal tersebut) ayahnya senang sekali, kemudian ia memberitahu pada Ali bahwa saudaranya berada di ruang belajar.
Maka Ali pergi dengan segera menuju kamar. Tiba-tiba ia mendapati saudaranya sedang mengulang-ngulang pelajaranya.
Kemudian Ali mengucapkan salam padanya, dan memberikan kepada Ahmad naskah itu dan Ahmad dalam keadaan tersenyum bahagia, Ahmad menerima pemberianya itu dalam keadaan bersyukur kepada saudaranya atas hadiahnya yang berharga.
Kemudian Ahmad juga memberikan kepada saudaranya, Ali, sebuah kotak yang lembut untuk menyimpan gambar. Dan ia berkata, “ini adalah hadiahku untukmu wahai saudaraku yang mulia” maka Ali sangat bahagia sebab saudaranya dan ia bahagia dengan kotak itu dan berterima kasih padanya.
Ketika gurunya mendengar kisah keduanya, ia pun ikut berbahagia dengan sangat bahagia dan memuji keduanya di hadapan murid-murid yang lain. Dan berkata, “lihatlah wahai anak-anak kepada Ali dan Ahmad, alangkah berbahagianya keduanya, jadilah kalian semua seperti dua saudara ini, agar kalian hidup dalam kebahagiaan dan kegembiraan.