• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEMPERTAHANKAN EKSISTENSI

Dalam dokumen Abd. Syakur_book_Tarekat Shiddiqiyyah.pdf (Halaman 195-200)

168

Tarekat dan Gerakan Sosial Dinamika Tarekat Shiddiqiyyah di Indonesia

Strategi Berlindung Diri

Sejak divonis sebagai tarekat Ghairu Mu‘tabarah, Shiddiqiyyah menghadapi perjuangan berat, tidak saja membutuhkan pengorbanan mental-spiritual, tetapi juga menuntut pengorbanan material. Strategi yang digunakan warga Shiddiqiyyah dalam menghadapi fitnah akibat vonis tersebut pada awalnya adalah dengan teknik isolasi dan menutup diri dengan tidak mempedulikan ocehan dan cemoohan orang-orang yang membenci Shiddiqiyyah.274

Dalam konteks strategi ini, Mursyid mengkonsolidasikan langkah- langkah perjuangan dan pengembangan Tarekat. Untuk itu, pada periode ini, dalam kerangka pertahanan diri dan menciptakan harga diri Tarekat, Mursyid membangun ideologi dan identitas tarekat agar dapat lebih memudahkan Shiddiqiyyah untuk dikenal dan dipahami oleh masyarakat.

Identitas tersebut adalah terkandung di dalam lambang Tarekat Shiddiqiyyah. Asumsinya, bahwa dengan memiliki lambang tersendiri, Shiddiqiyyah dapat disosialisasikan secara mudah dengan penuh rasa kebanggaan. Murid-murid Shiddiqiyyahpun pada akhirnya bertambah dan menyebar di mana-mana, jauh dari pusat Tarekat, Losari-Ploso- Jombang. Untuk itu, selanjutnya diperlukan adanya sebuah wadah yang menangani atau mengurusi murid-murid baru ini agar semakin dapat mendalami ajaran ke-Shiddiqiyyah-an dengan mudah. Oleh sebab itu didirikanlah sebuah yayasan yang bergerak dalam pendidikan Shiddiqiyyah.

Sementara itu, di pusat, sudah berjalan proses pendidikan spiritual Islam dengan sistem peguron atau padepokan yang diasuh oleh Mursyid sendiri yang dibantu oleh murid-murid senior yang diangkat sebagai khalifah, seperti Muhammad Munif, Masrukhan Mu’thi, Mukhayyarun Mu’thi, Saifu Umar Ahmadi, Tasrichul Adib Aziz, dan lain-lain, dengan santri yang berasal dari berbagai daerah, baik dari dalam maupun dari luar Jombang yang bermukim di pusat,

274 Strategi ini dikemukakan oleh Khalifah Banaji, bahwa pada fase perjuangan Shiddiqiyyah, orang Shiddiqiyyah diajari agar bersifat tegas dalam menghadapi pertanyaan dan persoalan, agar tidak ngreken (tidak menanggapi ocehan) orang luar, akan tetapi tegas dan berani menjawab jika ditanya tentang Shiddiqiyyah. (Hasil wawancara dengan khalifah Banaji pada 29 Juli 2006.)

169

Tarekat dan Gerakan Sosial Dinamika Tarekat Shiddiqiyyah di Indonesia

Losari. Oleh karena itu, seiring dengan pendirian Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah, maka didirikan pula sebuah Pesantren Shiddiqiyyah sebagai formalisasi sistem padepokan yang sudah berjalan sejak awal perjalanan Shiddiqiyyah, sejak tahun 1960. Pesantren tersebut, karena memiliki visi tersendiri yang bercorak sufistik, maka diberi nama pesantren "Majma'al Bahrain - Shiddiqiyyah."

Pesantren tersebut didirikan dengan fungsi untuk menghimpun murid-murid Shiddiqiyyah yang belajar di bawah pengawasan Kiai Muchtar, Mursyid Shiddiqiyyah, yang bermukim di pusat untuk mendapatkan bimbingan ruhani dan amalan-amalan tarekat. Dengan demikian, proses pengajaran tarekat dapat berjalan secara intensif, karena langsung ditangani di bawah pengawasan Mursyid. Pesantren ini karena sifatnya adalah sufistik, maka lebih merupakan lembaga penempaan moral-spiritual dengan bentuk amalan-amalan z\ikir keta- rekatan daripada sebagai lembaga tempat pengajaran ilmu pengetahu- an keislaman yang bersifat formal sebagaimana disebut dengan ilmu syari'ah.

Oleh karena itu, tidak terdapat aktivitas pembacaan kitab kuning, baik yang berkaitan dengan fiqih, dan tauh}i>d, maupun kitab-kitab akhlaq-tasawuf dalam Pesantren Shiddiqiyyah tersebut sebagaimana dalam tradisi pesantren ilmu syari'ah, sepeti di Pesantren Tebuireng, Darul 'Ulum Peterongan, Manba'ul Ma'arif-Denanyar, Bahrul 'Ulum- Tambak Beras, dan lain-lain. 275 Aktivitas pendidikan Pesantren Shiddiqiyyah lebih banyak bersifat "wejangan" dan pendalaman ilmu- ilmu hikmah (semacam filsafat hidup Islami) dengan mengintensifkan amalan-amalan z\ikir ketarekatan melalui sistem pembai'atan terlebih dahulu. Tujuan pesantren ini adalah meningkatkan kerohanian santri/murid Shiddiqiyyah yang pada akhirnya muncul kader-kader yang akan ikut mengajarkan Tarekat ini di tengah masyarakat.

Untuk lebih mengintensifkan program kaderisasi Shiddiqiyyah, sebagaimana yang berjalan melalui sistem pendidikan pesantren tersebut, maka Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah bertugas untuk

275 Hasil pembandingan antara aktifitas pesantren syari'ah seperti pesantren Tebuireng, Tambakberas, Darul Ulum dan pesantren tarekat, Majma'al Bahrain-Shiddiqiyyah, melaui observasi pada masing-masing pesantren tersebut pada tanggal 4-5 April 2006.

170

Tarekat dan Gerakan Sosial Dinamika Tarekat Shiddiqiyyah di Indonesia

mengelola kegiatan pendidikan santri dan murid Shiddiqiyyah dengan dilengkapi pengajaran keilmuan syari'ah. Pada awalnya terdapat pem- bagian tugas antara Pesantren dan Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah (YPS). Kalau pesantren mengurusi murid-murid Shiddiqiyyah yang bermukim/mondok di pusat untuk menimba ilmu-ilmu hikmah dari kiai secara langsung,276 maka YPS selanjutnya menjadi wadah pendidikan ke-Shiddiqiyyah-an dan pembai'atan Tarekat. Kedua institusi tersebut bekerjasama dalam mempersiapkan kader-kader Shiddiqiyyah yang handal.

Oleh karena itu, YPS tidak hanya didirikan di pusat, akan tetapi juga harus didirikan sampai ke cabang-cabang daerah di mana terdapat komunitas Shiddiqiyyah baik di Jombang maupun di luar daerah Jombang.

Terkait dengan ini, maka Mursyid Shiddiqiyyah menghendaki murid- muridnya yang dirasa sudah memenuhi kualifikasi tertentu277 untuk diangkat menjadi khalifahnya yang bertugas membantu, meng-urusi, dan melayani murid-murid Shiddiqiyyah yang ada di daerah-daecah cabang Shiddiqiyyah, baik dalam hal memberikan informasi-informasi

276 Ada dua kategori santri dalam Shiddiqiyyah ini: pertama, yaitu santri Pesantren Majma'al Bahroin yang menimba ilmu Hikmah dari kiai/ Mursyid dengan masuk pesantren melalui pintu Bai'at Tarekat Shiddiqiyyah. Sistem pengajaran santri ini mirip dengan pola pesantren kerja.

Artinya, santri diajak bekerja di lapangan (dengan mengerjakan penanaman perkebunan atau pertanian maupun membangun program-program pembangunan sesuai dengan petunjuk kiai).

Di sela-sela menyelesaikan aktivitas kerja itu kiai memberikan hikmah-hikmah dan wejangan- wejangan. Mereka juga diwejang untuk mengamalkan wirid-wirid dan amalan-amalan sesuai dengan tingkatan ruhaniah masing-masing. Santri seperti ini diberi nama oleh kiai dengan

"ARWAH" (kependekan dari Arek Sawah). Mereka karena pada umumnya tidak diberi pelajaran berupa materi-materi keilmuan seperti fiqih, tafsi>r, tajwi>d, tauh}i>d dengan membaca atau menulis sebagaimana berjalan pada sekolah formal, tetapi ilmu-ilmu yang bersifat wejangan, fatwah dan nasehat spiritual keagamaan yang langsung melalui lisan dan tindakan- tindakan instruksional kiai. Kedua, adalah santri yang diasramakan dalam "Murabitul Ghulam"

untuk yang laki-laki, dan "Murabitul Banat" untuk yang perempuan. Santri model kedua ini dirancang menjadi da>‘i Shiddiqiyyah dengan argumentasi-argumentasi ilmiah yang mampu berdalil dengan al Qur'an dan al Hadis. Oleh karena itu, santri model ini diprogramkan untuk mengikuti pendidikan formal-sekolah diniyyah yang dikelola oleh YPS Pusat dalam bentuk madrasah yang ditangani lembaga THGB (Tarbiyatu Hifz\il Ghula>m wal Bana>t) Shiddiqiyyah.

Setelah menyelesaikan sekitar 12 (dua belas) tingkat, maka mengikuti program "Maqa>s}idul Qur'a>n" sekitar tiga tahun dan selanjutnya dibai'at sebagai "Khoddamul 'Ulum", semacam kader Shiddiqiyyah yang berbekal ilmu-ilmu ke-Islaman yang meliputi ‘aqidah, syari’ah, al Qur'an, Hadis\, dan lain-lain.

277 Setelah murid mencapai tingkat ruhani tertinggi, minimal sudah tamat program khalwatan, dan berdasarkan penilaian Mursyid yang dikonsultasikan dengan ruhaniah para guru-guru silsilah Shiddiqiyyah (ini merupakan hak prerogatif Mursyid), maka mursyid mengangakatnya sebagai khalifahnya. (Hasil wawancara dengan Sa'id, murid Shiddiqiyyah dan sebagai anak asuh khalifah Banaji, pada tanggal 14 Juni 2006.)

171

Tarekat dan Gerakan Sosial Dinamika Tarekat Shiddiqiyyah di Indonesia

dan wejangan-wejangan ke-Shiddiqiyyah-an, maupun dalam hal membai’at murid-murid baru. Taktik demikian, memudahkan sistem rekruitmen keanggotaan murid Shiddiqiyyah. Strategi perjuangan seperti itu tampaknya membuahkan hasil yang besar, karena banyak murid-murid baru Shiddiqiyyah yang dengan mudah menjadi warga Shiddiqiyyah tanpa harus berbai'at ke pusat, yaitu di Losari, Ploso, Jombang.

Peran YPS menjadi sangat penting dalam kerangka pengem- bangan Shiddiqiyyah ini. Dalam kurun 5 (lima) tahun sejak berdirinya, sudah berdiri 6 buah YPS di wilayah Jombang. Fenomena seperti ini tidak hanya di Jombang saja, tetapi secara simultan juga di daerah- daerah dan cabang-cabang Shiddiqiyyah di luar Jombang, walaupun tidak lepas sama sekali dari hambatan-hambatan. Karena longgarnya sistem rekruitmen murid/warga Shiddiqiyyah ini, di mana ketentuannya yaitu: tidak ada persyaratan harus berbai'at ke pusat jika ingin menjadi murid Shiddiqiyyah; dan tidak ada persyaratan ketat dari sisi usia untuk memasuki Shiddiqiyyah; serta tidak ada persyaratan ketat agar calon murid harus sudah menguasai ilmu syari'ah secara sempurna terlebih dahulu, maka murid-murid Shiddiqiyyah semakin lama semakin berkembang dengan pengikut yang beragam usianya (tua maupun muda), jenis kelaminnya (laki-laki maupun perempuan), serta beragam status sosialnya (dari kalangan rakyat biasa maupun tokoh masyarakat).278

YPS ini didirikan pada tanggal 15 Januari 1973 M., dan men- dapatkan nomor resmi dan Akte notaris 137. Pada tahun ini memang Shiddiqiyyah mendapatkan serangan hebat dari masyarakat dan Federasi Tarekat Mu‘tabarah NU, dan seringkali muncul fitnah yang mendeskriditkan Shiddiqiyyah. Tidak jarang terjadi intimidasi, baik bersifat sosial, maupun politis yang mendesak agar Shiddiqiyyah dibubarkan dan jangan sampai berkembang.279 Dan pendirian YPS ini

278 Salah satu bukti yang baik dalam hal ini adalah masuknya Abdul Wahab Dasuki. Dia seorang tentara yang sejak tahun 1964 masuk Shiddiqiyyah dengan tekun, dan konon tanpa mondhok berlama-lama di Pusat Losari, Ploso, maka dia diangkat sebagai khalifah yang bertugas mengembangkan Shiddiqiyyah di Karangrejo, Wonokromo, Surabaya sejak sekitar 1975 hingga sekarang (2006). Pada saat sekarang, dia berstatus sebagai purnawirawan TNI angkatan 66. (Hasil observasi dan telaah dokumentasi perkembangan Shiddiqiyyah di Surabaya pada tanggal 14 – 20 Mei 2006.)

279 Salah seorang murid pertama Shiddiqiyyah bercerita, bahwa pada suatu ketika, kiai Muchtar bepergian keluar kota untuk kepentingan tertentu, datanglah sebuah rombongan satu truk

Dalam dokumen Abd. Syakur_book_Tarekat Shiddiqiyyah.pdf (Halaman 195-200)