• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menanggapi Pembacaan Cerpen

Seni Itu Indah

B. Menanggapi Pembacaan Cerpen

Seni Itu Indah 123

yang terbaik dan memberikan uang ini kepada sang pengarang. Jadi, buatlah karangan sebagus-bagusnya. Carilah ide dan tentukan temanya mulai dari sekarang.”

Mendengar penugasan dan hadiah uang, anak-anak jadi ramai. “Mau mengarang tentang apa, ya?” keluh mereka.

Bu Siska tersenyum. “Ibu bisa memberi bocoran beberapa tema. Kalian bisa menulis mengenai persahabatan, keindahan alam, keluarga, atau misteri.”

Tepat di akhir kalimat, bel berbunyi. Bu Siska pun keluar kelas, seketika suasana makin ramai.

“Wah, mau buat cerita apa, ya?” keluh Alex. Dia memang tidak pandai mengarang. Kalau mendapat tugas mengarang, dia pasti pusing tujuh keliling.

Alvin yang sedari tadi diam di bangkunya, akhirnya berdiri sambil tersenyum. “Teman-teman, jadi kalian mau mengarang apa? Kalau aku sih sudah dapat temanya. Aku mau mengarang cerita misteri,” jelasnya mantap.

“Misteri?” Alex, Beni, dan Rio berkomentar bersamaan.

Alvin mengangguk senang. “Dan bicara soal misteri, di dekat rumahku ada tanah lapang yang seraaaaammmm banget setiap malam. Aku sering mendengar bunyi lonceng dari arah lapangan itu. Padahal aku tidak melihat siapa-siapa.”

“Ah, pasti ada orang yang sengaja membunyikannya,” kata Alex yang terkenal sebagai pemberani.

“Atau mungkin itu bunyi dari lonceng yang dipasang di pintu rumah, lalu tertiup angin. Jadi bunyi deh,” timpal Rio.

Alvin menggeleng. “Aku sudah memeriksa di sekeliling rumah dan tidak menemukan lonceng. Aku juga sudah bertanya kepada tetangga. Mereka juga

Seni Itu Indah 125

tampaknya ogah-ogahan.

“Kalian juga penasaran, kan?” tanya Alex. Beni dan Rio langsung menggeleng. “Bukankah lebih baik kita berkonsentrasi pada tugas mengarang kali ini?” kata Rio memelas.

“Ah, kalian nggak asyik! Tenang saja ada Alex!” seru Alex.

Beni dan Rio saling berpandangan pasrah. Kalau sudah berhadapan dengan Alex, pasti pada akhirnya harus menuruti keinginannya.

Oke, kalau begitu kutunggu di rumahku kapan saja. Aku tidak pergi- pergi kok,” ujar Alvin.

Oke!” jawab Alex.

Alvin senang sekali. “Yes! Aku sudah dapat mangsa, nih. Akan kubuat mereka penasaran dan ketakutan setengah mati,” kata Alvin dalam hati sambil tersenyum senang.

“Tunggu saja, teman-teman. Biasanya suara itu muncul setelah jam sembilan,” kata Alvin sambil melihat jam beker di kamarnya. Dia kembali membaca komik. “Aduh, perutku tiba-tiba sakit. Teman-teman, aku ke belakang dulu, ya,” kata Alvin sambil meringis-ringis. Dia buru-buru keluar dari kamar sambil memegangi perutnya.

“Makan apa, sih, dia, tiba-tiba bisa sakit perut? Aneh-aneh saja,” komentar Alex. “Tapi kulihat beberapa kali, Alvin memegangi perutnya,” kata Rio.

“Ssssttt... sssttt... diam, teman-teman!” teriak Beni tiba-tiba. “Sss..., apa kalian dengar sesuatu?”

Alex dan Rio langsung diam, lalu terdengar bunyi lonceng. Jelas sekali!

Alex langsung membuka jendela kamar dan melihat ke sekeliling. Ternyata tidak ada apa-apa. Suara itu pun terdengar menuju ke arah lapangan.

“Aku harus mendapatkannya!” Alex langsung menggandeng kedua temannya.

Mereka tiba di lapangan. Bunyi lonceng itu masih ada, tetapi mereka tidak melihat apa-apa. Hanya sekadar bunyi.

“Nah, bunyi itu ke arah sana. Ayo, teman-teman!” Alex berlari ke arah bunyi lonceng, sementara Rio dan Beni perlahan-lahan pergi dari lapangan dengan wajah pucat.

“Ke mana lagi, sih, bunyi itu?” Alex tidak mendengar lagi bunyi lonceng.

“Klining... kloneng ... klining ....” Tiba-tiba bunyi itu terdengar lagi. Alex langsung menoleh ke kanan. Terlihatlah sebuah lonceng yang melayang- layang setinggi sepuluh sentimeter di rerumputan. Lonceng itu pun bergerak menjauhi Alex.

“Waaaaaaaaaaa!!!” Alex berteriak histeris sambil berbalik dan berlari menuju ke rumah Alvin.

“Meong... meong... bleki...,” panggil Alvin lembut. Sebuah lonceng tampak melayang-layang ke arah Alvin. Tapi semakin mendekat, tampaklah seekor kucing hitam yang memang tidak terlihat jelas dari kejauhan, apalagi di malam hari.

“Meong... meong....” Kucing itu menggeliat manja di kaki Alvin. Alvin menggendong Bleki dan mengantungi lonceng misterius itu.

“Terima kasih, ya, Bleki. Sudah ada ikan kesukaanmu di kandang.” Alvin pun pulang ke rumahnya sambil mengelus-elus Bleki, kucing hitam peliharaannya. Yes! Mereka ketakutan, hi... hi... hi....

Dua minggu kemudian, saat pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung.

“Baik anak-anak, saya sudah membaca cerita kalian dan sudah menentukan

pemenangnya. Cerita yang menang adalah ....”

Anak-anak serius menunggu pengumuman Bu Siska. Bahkan ada yang sampai meremas-remas tangan karena deg-degan.

“Milik Alex!” seru Bu Siska.

Seisi kelas menoleh ke arah Alex dengan terkejut, tetapi tak lama kemudian bertepuk tangan. Alex sendiri masih kaget dan terbengong-bengong.

“Cerita karangan Alex benar-benar bagus. Saya sendiri sampai merinding membacanya. Tapi... sebenarnya saya juga menemukan tiga cerita lagi yang hampir sama dengan milik Alex. Apa... jangan-jangan kisah nyata, ya? Bunyi lonceng di malam hari?” Bu Siska tampak penasaran.

Alex, Alvin, Rio, dan Beni saling berpandangan. Tapi sepertinya hanya Alvin yang benar-benar senang, tidak ada raut ketakutan sama sekali di wajahnya.

Karya : Monica Kristiani K.

(Sumber: Yunior, Edisi 24, Tahun Ke-8, 29 Juli 2007, hlm. 9)

Mintalah temanmu untuk memberikan komentar dan penilaian atas pembacaan yang kamu lakukan! Gunakan tabel di bawah ini untuk memberikan penilaian!

Nama teman : __________________

No. Aspek Penilaian Tanggapan

B C K

1. Ketepatan intonasi 2. Kejelasan pelafalan

3. Kesesuaian ekspresi wajah Keterangan:

- B = Baik - C = Cukup - K = Kurang

Seni Itu Indah 127

3. Latihan

Bacalah penggalan teks cerpen berikut dengan intonasi, lafal, dan ekspresi yang tepat! Mintalah teman-temanmu memberi tanggapan dan penilaian atas penampilanmu!

Aku Cuma HP

Karya: Muslimin

Mia tidak mau tahu. Mia mau model yang baru, yang ada radio, kamera, dan yang 3G seperti milik Tari,” kata Mia ngotot kepada Mama. “Ini kan masih bagus, Mia. Kurang bagus apanya? Belum juga setahun Mama belikan, garansinya juga belum habis. Lagian apa manfaatnya beli begituan buat kamu?

Kamu kan masih SMP, nanti saja kalau sudah SMA atau kuliah,” balas Mama.

“Mia malu, Ma. Model ginian sudah ketinggalan zaman, sudah kuno dan tidak modif. Ini pantasnya jadi rongsokan atau dibuang saja, itu lebih baik,” Mia membanting aku ke sofa.

Mama tidak tahu harus berkata apa lagi karena Mama merasa penjelasan apa pun akan percuma kalau Mia sudah ngambek, karena permintaan yang dia inginkan tidak dipenuhi.

“Pokoknya Mia minta ganti. Titik!” kata Mia sambil berlari ke kamarnya, lalu membanting daun pintu dengan keras.

Kepalaku masih pening ketika Mama memungutku dari sofa. Mama mengikuti Mia ke kamar, wajahnya tampak khawatir melihat putri tercintanya itu. Mia adalah anak satu-satunya. Selama ini dia memang begitu dimanja.

Itulah sebabnya Mia selalu berusaha memaksakan semua keinginannya.

“Begini, sementara kamu bawa ini dulu, Mama belum ada uang. Awal bulan saja, setelah Papa kamu gajian. Sekarang kita makan dulu, yuk,” bujuk Mama mengajak Mia makan siang dulu. Tapi Mia tetap ogah, sama sekali ia tidak menggubrisnya.

Mama meletakkan aku di atas meja belajar, lalu keluar kamar Mia. Aku butuh waktu lama untuk sadar kalau diriku sudah dicampakkan.

Dicampakkan, sungguh kata yang tidak mengenakkan. Ya, Mia sudah tidak butuh aku lagi. Ada yang lain, yang lebih baik dan sempurna dibanding aku.

Karena aku banyak kekurangan dan tidak punya kemampuan untuk membantahnya.

Ya, karena aku hanya sebuah handphone atau yang biasa memanggilku HP saja. Aku adalah alat canggih dari perkembangan telepon kabel.Aku telah mengubah dunia dengan teknologiku. Bahkan dewasa ini, kebanyakan orang membutuhkan aku seperti mereka membutuhkan nasi. Bisa jadi aku sekarang sudah digolongkan pada kebutuhan primer atau masuk dalam lima sehat enam sempurna. Aku bukan barang mewah lagi. Semua orang merasa perlu mempunyai aku.

Sudah nasibku, aku kalah saingan dengan model-model baru. Aku harus dibuang dan disia-siakan.

...

(Sumber: Yunior, edisi 09, Tahun ke-8, 15 April 2007, hlm. 6)