• Tidak ada hasil yang ditemukan

Beberapa kondisi, seperti leukoplakia, erythroplakia (munculnya bercak merah di dalam rongga mulut), dan tumor kelenjar air liur, diduga dapat meningkatkan risiko kanker mulut. Selain itu, infeksi HIV/AIDS dan Virus Epstein-Barr (EBV) juga dapat menyebabkan sel-sel di dalam mulut mengalami perubahan sifat menjadi sel ganas.

Infeksi Herpes Virus, dan penyakit mutasi genetik bawaan tertentu, seperti anemia Fanconi, atau diskeratosis kongenital, juga meningkatkan risiko kanker rongga mulut.

Faktor resiko pada penyakit mulut lainnya.

1. Herpes Simpleks Virus (HSV) adalah infeksi virus yang terjadi pada sudut bibir atau mulut. HSV ditularkan melalui kontak personal erat. Infeksi terjadi melalui inokulasi virus ke permukaan mukosa yang rentan (misalnya orofaring, serviks, konjungtiva) atau melalui pori-pori kulit. HSV-1 ditularkan terutama melalui kontak dengan saliva terinfeksi. Berikut merupakan faktor resiko dari penyakit HSV, khususnya HSV-1:

a. HSV-1 dapat menular melalui kontak langsung sederhana dari penderita herpes ke orang yang sehat. Contohnya adalah lewat berciuman (termasuk saat mencium bayi), berbagi pakai peralatan makan atau lipstik dan kosmetik.

HSV-1 dapat ditularkan melalui lesi kulit yang umum terlihat, dibandingkan dengan HSV-2 yang biasanya ditularkan melalui kontak genital (Bernstein et al., 2012; Salameh et al., 2012).

b. Imun yang lemah. Sistem imun yang lemah membuat tubuh kurang mampu mencegah virus masuk dan pada orang yang sudah pernah terkena, imun yang lemah dapat membuat celah untuk virus dapat aktif kembali. Seperti pada pasien dengan kondisi immunocompromised seperti pasien kanker, HIV, penerima transplantasi organ, infeksi oleh HSV-1 dapat berakibat fatal, karena memiliki resiko lebih tinggi untuk terkena HSV-1

c. Lingkungan dan sosial-ekonomi, gender, usia. Pada daerah dengan kondisi sosial-ekonomi yang rendah, ditemukan bahwa infeksi terjadi sejak usia balita, dimana sekitar satu per lima anak sudah terdeteksi memiliki antibodi terhadap HSV-1 (Bernstein et al., 2012). Pada negara berkembang, frekuensi infeksi HSV-1, diperoleh lebih banyak pada usia dewasa (Sukik et al., 2019).

Prevalensi infeksi HSV-1 juga dipengaruhi oleh jenis kelamin, dimana infeksi lebih banyak terjadi pada perempuan (Whitley et al., 1998; Durukan et al., 2019). Prevalensi HSV-1 pada anak balita di US: 18%; Afrika: 35%

d. Trauma dan Stress. HSV sendiri memiliki kemampuan biologis berupa neurovirulensi (kemampuan menginvasi dan bereplikasi dalam sistem saraf), latensi (kemampuan membentuk dan mempertahankan infeksi laten pada sel saraf ganglia proksimal sampai ke lokasi infeksi. Infeksi orofasial paling sering melibatkan ganglia trigeminal), dan reaktivasi (kemampuan HSV laten untuk aktif kembali dan bereplikasi di daerah yang dipersarafi oleh ganglia

tempat pembentukan infeksi latennya). Stres juga dapat menyebabkan masalah kulit seperti pecah-pecah atau luka kecil pada mukosa, yang menjadi pintu masuk virus HSV. Oleh karena itu, stimulus seperti demam, trauma, stres emosional, sinar matahari, menstruasi dapat memicu reaktivasi HSV.

2. Glossitis merupakan penyakit radang pada lidah dimana keadaannya di dalam mulut biasanya ditunjukkan dengan adanya pembengkakan di lidah, jika kasusnya lebih parah mampu memicu penyumbatan pernafasan pada saat lidah membengkak yang sangat parah (Lita, 2016).

Faktor resiko Glossitis adalah sebagai berikut :

a. Nutrisi yang kurang bagus: anemia defisiensi zat besi dapat menyebabkan lidah menjadi bengkak, nyeri, dan pucat karena vitamin B12, zat besi, atau asam folat, sering dikaitkan dengan glositis atrofi atau lidah halus (lidah tanpa papila)

b. Kebiasaan buruk seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko dan peradangan pada lidah

c. Kondisi psikologis yang kurang baik seperti stress, gelisah, depresi, trauma:

Trauma fisik pada lidah, seperti luka akibat gigi tajam, kawat gigi, atau tindakan dental, dapat memicu glositis. Kebiasaan menggigit lidah atau konsumsi makanan panas juga menjadi faktor.

3. Xerostomia merupakan kondisi dimana mulut menjadi kering karena penurunan obyektif dalam laju aliran air liur.

Banyak faktor yang dikaitkan dengan xerostomia. Faktor risiko paling umum adalah:

a. Obat-obatan (lebih dari 400 obat berhubungan dengan xerostomia sebagai efek samping); Penggunaan obat-obatan dan usia secara mandiri meningkatkan kemungkinan terjadinya xerostomia sebesar 1,24 kali untuk setiap 10 tahun usia (Penurunan fungsi kelenjar saliva seiring bertambahnya usia).. Penulis yang sama juga melaporkan prevalensi xerostomia hampir empat kali lebih besar pada pasien yang memakai obat (28%), dibandingkan dengan mereka yang tidak memakai obat apapun (7,5%). Telah dilaporkan bahwa tidak hanya jenis obat, tetapi juga jumlah obat yang diminum (polifarmasi, atau penggunaan beberapa obat secara bersamaan) meningkatkan kemungkinan terjadinya xerostomia, yang merupakan ciri umum pada pasien usia lanjut.

b. Kondisi psikologis, seperti stres dan kecemasan. Stres psikologis merangsang sistem saraf simpatik, yang memicu respons "fight or flight." Respons ini mengurangi aktivitas sistem saraf parasimpatik yang bertanggung jawab atas produksi air liur. Maka, kelenjar air liur menghasilkan lebih sedikit air liur, menyebabkan mulut kering

c. Gangguan kelenjar ludah, seperti sindrom Sjögren yang merupakan penyakit autoimun yang menyerang kelenjar eksokrin, termasuk kelenjar saliva.

Peradangan ini merusak struktur dan fungsi kelenjar air liur, sehingga produksi air liur menurun secara signifikan

d. Radioterapi kepala dan leher. Radioterapi pada area kepala dan leher dapat merusak kelenjar saliva, menyebabkan penurunan produksi air liur.

Kemoterapi dapat memengaruhi produksi saliva sementara melalui efek toksik pada sel kelenjar.

4. Oral Candidiasis merupakan penyakit pada rongga mulut berupa lesi merah dan lesi putih yang disebabkan oleh jamur jenis Kandida sp, dimana Kandida albikan merupakan jenis jamur yang menjadi penyebab. Candida albicans adalah salah satu komponen dari mikroflora oral dan sekitar 30-50% . Terdapat lima tipe spesies kandida yang terdapat di kavitas oral, diantaranya adalah:

1. Candida albicans 2. Candida tropicalis 3. Candida krusei 4. Candida parapsilosis 5. Candida guilliermondi

Dari Kelima tipe tersebut, Candida Albicans adalah yang paling sering terdapat pada kavitas oral. Candida albicans merupakan Jamur yang menyebabkan infeksi opurtunistik pada manusia. Salah satu kemampuan yangdari Candida Albicans adalah kemampuan untuk tumbuh dalam Dua cara, reproduksi dengan tunas, membentuk tunas elipsoid, dan bentuk hifa, yang dapat meningkatkan miselabaru atau bentuk seperti jamur.

b. Faktor Risiko Penyakit Kandidiasis Oral 1. Faktor sistemik

Penggunaan obat-obatan seperti antibiotik spektrum luas dapat mempengaruhi flora lokal oral sehingga menciptakan lingkungan yang sesuai untuk Jamur Kandida berproliferasi. Penghentian obat-obatan ini akan mengurangi dari infeksi jamur kandida.

2. Kondisi kebersihan mulut yang buruk

kebersihan mulut yang buruk dapat menjadi faktor resiko munculnya kandidiasis oral.

karena dapat mengakibatkan terjadinya penumpukan sisa makanan yang merupakan predisposisi terbentuknya plak, sehingga meningkat prevalensi mikroorganisme Kandida albikan dan menyebabkan terjadinya kandidiasis.

3. Sedang menjalani perawatan kanker (Kemoterapi) 4. Sistem imun yang lemah

5. Xerostomia

Fungsi kelenjar saliva yang terganggu dapat menjadi prediposisi dari kandidiasis lisan. Sekresi ludah menyebabkan lemahnya danmenbersihkan berbagai organisme dari mukosa. Pada Saliva terdapat berbagai Protein-Protein antimikrobial seperti laktoferin, sialoperoksidase, lisosim, dan Antibodi antikandida yang spesifik.

c. Tatalaksana Penyakit kandidiasis oral

Penatalaksanaan Klinis kandidiasis oral yang diberikan adalah antifungal dan antiseptik.

5. Penyakit sariawan atau stomatitis aftosa adalah peradangan yang terjadi pada jaringan lunak di dalam mulut, yang ditandai dengan munculnya lesi atau luka kecil yang nyeri. Sariawan bisa disebabkan oleh berbagai faktor, dan faktor-faktor risiko ini dapat bervariasi berdasarkan individu. Berikut adalah penjelasan tentang faktor risiko yang dapat mempengaruhi seseorang untuk mengalami sariawan:

a. Faktor Genetik

- Riwayat Keluarga : Ada bukti bahwa faktor genetik dapat berperan dalam kecenderungan seseorang untuk mengembangkan sariawan. Jika ada anggota keluarga yang sering mengalami sariawan, kemungkinan seseorang untuk mengalaminya juga bisa meningkat.

- Predisposisi Genetik : Beberapa penelitian menunjukkan bahwa individu dengan kecenderungan genetik terhadap gangguan autoimun atau peradangan mungkin lebih rentan terhadap sariawan.

b. Faktor Perilaku dan Kebiasaan

- Stres : Stres emosional atau fisik sering kali diidentifikasi sebagai pemicu sariawan. Stres dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh, yang bisa mengarah pada peradangan di mulut.

- Trauma Fisik pada Mulut : Cedera pada jaringan mulut, seperti gigitan pada pipi, penggunaan sikat gigi yang terlalu keras, atau makanan yang kasar bisa memicu terjadinya sariawan. Penggunaan gigi palsu yang tidak pas atau pemakaian kawat gigi juga dapat menyebabkan trauma pada mulut.

- Kebiasaan Merokok : Meskipun merokok sering dikaitkan dengan penurunan risiko sariawan karena sifatnya yang dapat mengurangi kontak langsung antara mulut dengan faktor eksternal, merokok dapat memperburuk kondisi pada beberapa individu yang sudah rentan terhadap penyakit ini.

c. Faktor Kekebalan Tubuh

- Gangguan Autoimun : Individu dengan penyakit autoimun, seperti penyakit celiac, lupus eritematosus sistemik, atau HIV/AIDS, memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami sariawan. Pada gangguan autoimun, sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan tubuh sendiri, termasuk mukosa mulut.

- Infeksi Virus dan Bakteri : Infeksi tertentu, seperti infeksi herpes simplex, dapat menyebabkan luka pada mulut yang mirip dengan sariawan. Meskipun herpes simplex biasanya lebih dikenal dengan gejala luka dingin, infeksi ini bisa meningkatkan kemungkinan sariawan.

d. Faktor Nutrisi

- Kekurangan Vitamin dan Mineral : Kekurangan beberapa vitamin dan mineral dapat meningkatkan risiko sariawan. Kekurangan vitamin B12, asam folat, zat

besi, atau vitamin C telah dikaitkan dengan sariawan. Vitamin ini berperan dalam proses regenerasi sel dan pemeliharaan jaringan mukosa mulut.

- Alergi terhadap Makanan : Beberapa orang mengalami sariawan setelah mengkonsumsi makanan tertentu, seperti coklat, kacang, atau makanan pedas.

Ini dapat menunjukkan adanya reaksi alergi atau intoleransi makanan yang mempengaruhi mukosa mulut.

e. Faktor Hormon

- Perubahan Hormon : Sariawan lebih sering terjadi pada wanita, terutama selama masa menstruasi atau kehamilan. Fluktuasi kadar hormon, terutama peningkatan estrogen dan progesteron, dapat mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan luka di mulut.

- Kondisi Reproduksi : Wanita yang mengonsumsi pil KB atau sedang hamil cenderung lebih rentan terhadap sariawan, kemungkinan karena pengaruh hormon yang memengaruhi kerentanannya terhadap peradangan.

f. Faktor Lingkungan dan Paparan Kimia

- Paparan Alergen atau Iritan : Beberapa bahan kimia dalam pasta gigi (seperti natrium lauril sulfat) atau obat kumur yang mengandung alkohol dapat menyebabkan iritasi pada mulut dan meningkatkan kemungkinan sariawan.

- Cuaca Ekstrem : Perubahan suhu ekstrem, baik panas maupun dingin, serta paparan sinar matahari yang berlebihan dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terkena sariawan, meskipun ini lebih jarang.

g. Faktor Psikososial

- Stres Emosional : Stres sering dianggap sebagai pemicu atau faktor yang memperburuk sariawan. Hal ini mungkin karena stres berhubungan dengan penurunan sistem kekebalan tubuh, yang membuat tubuh lebih rentan terhadap peradangan.

Referensi:

- Eddy, F. N., & Mutiara, H. (2015). Peranan ibu dalam pemeliharaan kesehatan gigi anak dengan status karies anak usia sekolah dasar. Majority, 4(8), 1–6. Fakultas Kedokteran Universitas Lampung.

- Milingou M, Konstantinidou E. Oral mucosal lesions and environmental factors: A study on the etiology of recurrent aphthous stomatitis. J Oral Maxillofac Res.

2011;2(3):e16.

- Putri, A. F., & Adnani, H. (2023).Analisis faktor risiko karies gigi anak prasekolah di taman kanak-kanak [Analysis of risk factors for dental caries in kindergarten children]. Health Sciences and Pharmacy Journal, 7(3), 138–145.

https://doi.org/10.32504/hspj.v7i3.908

- Utami, S. (2018). Faktor-faktor yang berhubungan dengan status karies gigi anak usia prasekolah Kabupaten Sleman tahun 2015 [Factors associated with dental caries status among preschool children in Sleman District 2015]. Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan,18(2), 67-70. https://doi.org/10.18196/mm.180218

- Koshi E, Rajesh S, Koshi P, Arunima PR. Penilaian risiko penyakit periodontal. J Periodontol Soc India. 2012 Juli; 16(3):324-8. doi: 10.4103/0972-124X.100905.

PMID: 23162323; PMCID: PMC3498698.

- Larasati, Ratih. Pengaruh Stres pada Kesehatan Jaringan Periodontal. E-jurnal Keperawatan Gigi Poltekkes Surabaya.

- Adityawan F, Dentawan F, Pritama AS. Kanker Mulut. Yogyakarta: UGM PRESS;

2023.

- Nurprilinda M. Faktor Risiko Kanker Rongga Mulut. 2024.

- Reamy BV, Derby R, Bunt CW. Common tongue conditions in primary care.Am Fam Physician. 2010;81(5):627-634

- Irianti, M. I., Fitriana, W., Arifianti, A. E., & Rahmasari, R. (2024). Herpes Simplex Virus Tipe 1: Prevalensi, Infeksi dan Penemuan Obat Baru. Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

- Eppy. (2024). Infeksi Virus Herpes Simpleks dan Komplikasinya. Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam, RSUP Persahabatan, Jakarta, Indonesia.

- Jensen SB, Pedersen AM, Vissink A, et al. A systematic review of salivary gland hypofunction and xerostomia induced by cancer therapies.Support Care Cancer.

2010;18(8):1039-1060.

- Niklander, S., Veas, L., Barrera, C., et al. Risk factors, hyposalivation and impact of xerostomia on oral health-related quality of life.Community Dental Health.

2016;31(14);1807-3107.

5. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan upaya promotif dan preventif

Dokumen terkait