• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengilhami Resiliensi

Dalam dokumen Psikologi Positif (Halaman 72-75)

BAB 5 RESILIENSI DAN POST-TRAUMATIC GROWTH

5.2 Mengilhami Resiliensi

Resiliensi merupakan kemampuan individu untuk beradaptasi dengan situasi sulit dan krisis dalam hidupnya sehingga mampu pulih dengan cepat. Resiliensi juga dapat didefinisikan sebagai kemampuan individu dalam mempertahankan fungsi-fungsi normal kehidupannya ketika menghadapi suatu permasalahan atau kondisi krisis dalam hidupnya (Finstad et al., 2021). Resiliensi dapat dipahami sebagai suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu dalam bertahan dan menghadapi suatu permasalahan dalam hidup dengan beradaptasi dan bereksplorasi terhadap sumber daya yang dimilikinya dalam menentukan solusi permasalahan yang dapat dilakukannya.

Resiliensi juga merupakan kemampuan individu dalam menyeimbangkan fungsi-fungsi kehidupannya selama menghadapi fase krisis dalam hidup. Setelah individu kembali dalam keadaan seimbang, proses yang selanjutnya dilakukan individu yang resilien adalah individu melentingkan diri untuk pulih kembali ke keadaan normal (Hedo and Simarmata, 2021).

Resiliensi merupakan suatu konsep sehat dengan fungsi adaptif dan positif yang berperan di dalam diri individu ketika mengalami tekanan hidup. Resiliensi berperan sebagai suatu penyangga atau pelindung bagi individu yang sedang mengalami masa sulit dan masalah dalam hidupnya. Resiliensi membantu

individu menggunakan tekanan dan kesulitan yang dialami selama fase krisis sebagai media dan kesempatan melakukan upaya perbaikan diri yang memampukan individu untuk kembali pulih ke situasi dan kondisi normal. Teori resiliensi menyatakan bahwa resiliensi memampukan individu untuk melakukan proses mobilisasi terhadap aset dan sumber daya yang dimilikinya sebagai upaya mencapai suatu keseimbangan selama mengalami fase krisis dalam hidupnya. Aset merupakan faktor internal positif yang terdapat di dalam diri individu, misalnya kompetensi, kemampuan koping, dan kepercayaan diri. Sumber daya merupakan faktor positif yang berasal dari luar diri individu yang dapat diperoleh dari adanya dukungan sosial oleh figur signifikan, lingkungan, dan komunitas di lingkungan sekitar individu. Aset dan sumber daya tersebut berproses dengan saling berinteraksi satu sama lain.

Proses interaksi tersebut berfungsi dalam menetralkan dampak dan pengalaman negatif yang dirasakan individu ketika mengalami suatu permasalahan atau fase krisis dalam hidupnya (Hedo and Simarmata, 2021).

Terdapat beberapa teori tentang resiliensi dan proses yang terjadi terkait resiliensi di dalam diri individu yang dijelaskan oleh beberapa peneliti awal teori resiliensi. Beberapa teori dan pembahasan resiliensi diungkapkan oleh Grotberg, Garmezy, Wagnild dan Young, Luthar, Rutter, dan Ungar. Teori yang diungkapkan oleh Grotberg menyatakan bahwa resiliensi terbentuk dari adanya interaksi yang bersifat dinamis dari sumber daya internal dan eksternal pada diri individu. Sumber daya internal dan eksternal individu meliputi beberapa hal yang dimiliki individu di dalam dirinya terkait dengan apa yang dimiliki oleh dirinya yang berasal dari luar diri individu misalnya dukungan sosial dari figure signifikannya (I have), siapa dirinya yang meliputi profil kekuatan dan karakter kekuatan diri (I am), dan kemampuan yang dimilikinya terkait dengan ketrampilan sosial dan kemampuan interpersonal (I can) (Grotberg, 1995).

Teori resiliensi yang diungkapkan oleh Garmezy menyatakan tentang prinsip kompensasi, interaksi perlawanan kekebalan dan kerentanan, dan tantangan yang terdapat di dalam proses resiliensi pada diri individu. Prinsip kompensasi dalam resiliensi menjelaskan bahwa resiliensi terbentuk pada diri

individu ketika individu dapat menggunakan kompetensi dan atribut personal psikologisnya sebagai pelindung yang akan mengkompensasi pengalaman negatif yang dihasilkan dari faktor resiko dalam masalah yang dialaminya. Prinsip interaksi perlawanan kekebalan dan kerentanan menjelaskan bahwa proses resiliensi meliputi adanya interaksi perlawanan yang dilakukan oleh individu melalui atribut personal psikologis yang dimilikinya terhadap faktor resiko dari suatu permasalahan yang dihadapi.

Interaksi perlawanan ini bersifat langsung dan bertujuan untuk menghindarkan individu dari pengalaman negatif yang dihasilkan dari adanya faktor resiko permasalahannya tersebut. Prinsip tantangan menjelaskan bahwa individu dapat mengalami resiliensi dari adanya suatu tekanan atau resiko pada tingkat yang tidak terlalu rendah dan juga tidak terlalu tinggi sehingga dapat berperan sebagai suatu tantangan yang dapat dihadapi individu dengan memobilisasi sumber daya yang dimilikinya (Garmezy, 1991).

Teori tentang resiliensi juga dijelaskan oleh Peterson dan Seligman yang menyatakan bahwa resiliensi dapat melakukan suatu proses perlindungan terhadap individu yang sedang mengalami fase krisis dalam hidupnya. Proses perlindungan tersebut meliputi adanya proses resiliensi dalam melakukan beberapa hal berikut: (1) mengurangi masalah secara langsung, (2) melakukan interaksi dengan faktor resiko untuk menyangga dampak negatif yang dihasilkan (buffer), (3) mengintervensi dan menghalangi proses yang mengarahkan faktor resiko menjadi masalah yang nyata, (4) menghancurkan atau menghilangkan faktor-faktor resiko (Peterson and Seligman, 2004).

Resiliensi juga diungkapkan dalam penjelasan tentang teori resiliensi yang dikemukakan oleh Wagnild dan Young. Resiliensi dijelaskan sebagai suatu kemampuan individu dalam melakukan adaptasi dan keseimbangan ketika menghadapi permasalahan atau suatu keadaan sulit dalam hidupnya. Resiliensi berproses dalam diri individu dan menghasilkan kemampuan individu dalam melakukan identifikasi tentang masalah yang sedang dihadapinya, melakukan peninjauan yang realistis terkait kemampuan diri untuk mengatasi masalah, dan menentukan solusi yang dapat

Teori tentang resiliensi juga dikembangkan dari penelitian yang dilakukan oleh Rutter. Teori ini menyatakan bahwa resiliensi dapat bekerja di dalam diri individu ketika individu mengalami permasalahan yang mengandung faktor resiko yang berada dalam kendali kemampuannya dan dapat diatasinya dengan efektif melalui suatu mekanisme koping yang tepat (Rutter, 1987, 2012).

Resiliensi dapat menghadirkan beberapa pengalaman di dalam diri individu terkait dengan rasa keberhargaan diri yang muncul dari kemampuan individu dalam mengatasi masalah dengan menemukan solusi dari masalah yang dihadapinya. Luthar, Cicchetti, dan Becker mengembangkan teori resiliensi tersebut secara lebih lanjut. Teori ini menyatakan bahwa resiliensi meliputi adanya proses kerja yang dilakukan oleh berbagai faktor promotif atau protektif dalam menghasilkan manfaat positif bagi individu.

Proses resiliensi tersebut dapat terjadi dengan adanya suatu latar pemicu yaitu adanya situasi yang menimbulkan tekanan bagi individu dan adanya kemampuan individu untuk mengatasi situasi yang menekannya tersebut (Luthar, Cicchetti and Becker, 2000).

Dalam dokumen Psikologi Positif (Halaman 72-75)