• Tidak ada hasil yang ditemukan

MERAIH SWASEMBADA GARAM NASIONAL

Dalam dokumen Majalah Mina Bahari Edisi 3 (Halaman 67-70)

" Masakan akan terasa hambar tanpa ada garam. Begitulah gambaran peran garam

dalam dunia kuliner. Tidak hanya untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga saja,

garam juga sangat dibutuhkan oleh industri lainnya seperti aneka pangan, industri

chlor alkali plan (soda kostik), industri farmasi, dan lain-lain.

MINA BAHARI | November 2015

68

baik untuk konsumsi dan industri sebanyak 3,6 juta ton dan sebesar 2,2 juta ton diantaranya merupakan garam impor. Di sisi lain, kondisi tahun 2014 menunjukkan bahwa lahan yang tersedia hanya seluas 30.000 hektare. Sebagian besar lahan belum bersertifikat dan masih banyak memiliki keterbatasan dalam hal saluran irigrasi dan jalan produksi. Data menunjukkan rata-rata produktivitas lahan 97 ton/ha setiap musim yang menghasilkan produksi garam nasional, hanya mencapai 2,5 juta ton dengan 30% produksi garam kelas satu. Keterbatasan itu bukan hanya dari segi lahan saja, tetapi juga dari sarana dan prasarana.

Sebagian besar petani garam masih menggunakan peralatan yang tergolong tradisional. Tahun ini, pemerintah menargetkan pengurangan impor 50 persen yang berarti produksi garam nasional ditargetkan dapat memenuhi 1.000 ton kebutuhan garam industri.

Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berkomitmen menjaga stabilitas dan memacu perkembangan industri garam nasional. Dimulai dari komitmen melakukan harmonisasi regulasi, penyederhanaan regulasi dan perizinan, hingga pemberian berbagai insentif.

Seperti yang diketahui, kondisi awal importisasi garam yang tidak terkendali mengakibatkan

produksi garam rakyat tidak terserap. Harga jual garam turun mencapai Rp 275-300/kg.

KKP sendiri telah menyiapkan beberapa target perbaikan kondisi garam rakyat, salah satunya melalui program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) pada tahun 2015. Kegiatan program PUGAR diantaranya menciptakan ketersediaan lahan garam sebanyak 30 ribu hektare, meningkatkan produksi garam nasional sebanyak 3,3 juta ton (meningkat dari tahun 2014 yang sebesar 2,5 juta ton), meningkatkan jumlah produksi garam sebanyak 60 persen, dan meningkatkan harga garam rakyat. Termasuk penggunaan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, serta pola usaha yang berbasis klaster dan sistem pembiayaan yang lebih baik (resi gudang).

Program PUGAR telah berhasil menghasilkan produktivitas garam yang meningkat serta kualitas KP1 (kualitas produk I) untuk memenuhi kebutuhan garam industri. Program yang dimulai tahun 2011 itu terus melakukan upaya meningkatkan produksi dan kulitas garam rakyat. Pada tahun 2012 PUGAR telah berhasil mengantarkan Indonesia mewujudkan swasembada garam konsumsi nasional. Kemudian di tahun 2015, pemberdayaan petambak ditingkatkan menjadi PUGAR untuk mencapai Swasembada Garam Industri yang diharapkan dapat terwujud.

KOMITMEN AKSELERASIKAN PRODUKTIVITAS GARAM BERKUALITAS

KKP merencanakan peningkatan garam produksi rakyat dengan Kualitas Produksi 1 sebesar 3,6 juta ton pada tahun 2016. Hal ini dapat diwujudkan dengan memberikan perlindungan terhadap nelayan, pembudidaya, dan petambak garam. Prioritas KKP dalam memberikan

November 2015 | MINA BAHARI69

perlindungan terhadap nelayan, pembudidaya dan petambak garam terutama menyelesaikan Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan.

RUU ini harus memberikan kepastian kepada nelayan, pembudidaya ikan, dan petambak garam, khususnya terkait dengan harga produk yang dihasilkan, seperti ikan, udang, dan garam.

Dengan kepastian harga, maka mereka akan termotivasi untuk memproduksi pangan khas pesisir tersebut. RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam juga merupakan instrumen yang dapat digunakan untuk mengeliminasi tumpang-tindihnya kebijakan di bidang kelautan dan perikanan maupun sektoral lainnya yang mengancam hajat hidup masyarakat pesisir, seperti perlindungan terhadap wilayah tangkap nelayan dan lahan budidaya/tambak garam, dan lainnya.

Sementara itu, dalam memenuhi target swasembada garam industri, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya mendorong produksi garam nasional terutama garam rakyat agar menjadi kualitas industri.

Pemerintah sengaja memprioritaskan perbaikan kualitas garam terlebih dahulu, karena jika ingin menambah luas lahan akan memerlukan waktu.

Dalam memperbaiki kualitas garam, pemerintah berupaya mengganti geo isolator menjadi geo membran dengan ukuran lebih lebar dan tebal sehingga lebih awet dan tidak mudah robek. Geo membran merupakan lembaran lapisan yang bersifat tahan air, korosi, minyak, asam, dan panas tinggi. Dengan begitu kualitas garam yang dihasilkan dari teknologi itu lebih putih, padat, dan harganya dua kali lipat lebih tinggi dibanding biasanya.

Saat ini KKP tengah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya terkait kualitas garam produksi rakyat, sebab masih banyak pihak yang menyangsikan kualitas garam rakyat sebagai pembenaran impor garam untuk memenuhi kebutuhan industri. Selain itu KKP juga akan mengambil sampel garam dari perusahaan yang menggunakan garam impor. “Kita mau coba cek sampel garam dengan Standar Nasional Indonesia (SNI). Garam juga akan dicek di laboratorium

independen. Hasil laboratorium ini nantinya akan dijadikan dasar untuk duduk bersama kementerian terkait dan perusahaan.” ungkap Menteri Susi.

Menteri Susi mengungkapkan harus ada pembatasan impor agar garam lokal tidak jatuh, dan perusahaan, dilarang impor garam ketika sedang musim panen. Hal ini penting dan mendesak dilakukan karena petambak tidak memiliki dana untuk menyimpan stok garam dalam jangka waktu lama. Ia berharap PT Garam dapat menampung garam petambak agar kualitas dapat tetap terjaga. Kebutuhan garam industri saat ini kurang lebih sebesar 1,166 juta ton per tahun.

Dengan begitu ia meyakini bahwa tidak perlu izin impor garam diberikan sebanyak 2 juta ton per tahun.

Negara harus hadir dengan goodwill untuk memperbaiki tata niaga. Perbaikan tata niaga tersebut mencakup meniadakan kartel impor garam dan mempertahankan swasembada garam konsumsi. Dengan tata niaga yang benar, harga garam petambak akan sesuai dengan harga yang disarankan pemerintah. Ini karena harga garam di distributor jauh lebih tinggi daripada harga di petambak.

Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti pada konferensi pers di KKP, Jakarta (17/9) menegaskan akan terus mendorong peningkatan kualitas produksi garam lokal agar mampu memenuhi standar industri untuk memenuhi kebutuhan industri kimia, farmasi, minuman bersoda dan industri lainnya. MKP juga akan duduk bersama Menteri Perdagangan dan Perindustrian untuk menentukan stimulus ini efektif dan tepat sasaran. Stimulus ini juga menentukan bagaimana nasib petambak jika harga garam di bawah ongkos produksi, sebab para petambak garam tidak akan bisa bertahan.

Masih banyak berbagai target pembangunan sektor kelautan dan perikanan lain yang direncanakan KKP. Namun yang perlu diketahui oleh masyarakat luas adalah bahwa semua kebijakan (policy) yang dicanangkan, ditujukan untuk memberikan jaminan hasil bagi petambak garam. Semua kebijakan ini dicanangkan dengan satu harapan kuat: industri garam nasional tetap berdaulat.

MINA BAHARI | November 2015

70

M

eningkatkan kecintaan dan kepedulian generasi muda dan masyarakat terhadap kekayaan laut dan perikanan di Indonesia, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyelenggarakan Aksi Cinta Laut 2015. Dengan tema “Laut Masa Depan Bangsa”, Aksi Cinta Laut mengajak pelajar setingkat SD/

MI, SMP/MTS, SMA/SMK/MA, mahasiswa/

akademisi, dan jurnalis untuk mengekspresikan kepedulian dan kecintaan mereka terhadap laut dengan kekayaan yang ada didalamnya.

Selain meningkatkan kesadaran dan kepedulian generasi muda dan masyarakat, aksi ini diharapkan mampu menggugah partisipasi aktif mereka dalam pelestarian lingkungan hidup, khususnya pada sektor kelautan dan perikanan. Aksi Cinta Laut juga bertujuan mengembangkan kreativitas anak bangsa, khususnya di bidang kelautan.

Aksi Cinta Laut ini diisi oleh berbagai kompetisi yang dapat diikuti pelajar, mahasiswa, dan jurnalis. Diantaranya Aksi Menulis Surat (Tingkat SD/MI), Aksi Menggambar Cinta Laut (Tingkat SD/MI), Aksi Penyuluh Cilik Kelautan dan Perikanan (Tingkat SMP/MTS), Aksi Poster (Tingkat SMA/SMK/MA), Aksi Video Pendek

atau Video Animasi, durasi 3-5 menit (Tingkat SMA/SMK/MA), Aksi Video Animasi Infografis (Mahasiswa/Akademisi), dan Aksi Penulisan Jurnalistik (Jurnalis).

Ajang Aksi Cinta dibuka sejak tanggal 26 Agustus hingga 30 November 2015. Respon masyarakat sangat positif dan antusias. Sambutan tersebut sangat menggembirakan, mengingat acara tersebut baru pertama kali diselenggarakan.

Sebuah kebanggaan mengingat acara ini baru pertama kali diselenggarakan.

Memasuki tahap akhir dari penyelenggaraan Aksi Cinta Laut ini, peserta aksi terbaik telah ditentukan oleh dewan juri dengan penilaian saksama. Panitia saat ini telah mengantongi nama- nama finalis dari masing-masing kategori. Seluruh finalis akan diundang menghadiri acara puncak

Dalam dokumen Majalah Mina Bahari Edisi 3 (Halaman 67-70)

Dokumen terkait