BAB I PENDAHULUAN
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
3.3. Metode analisis data
Jenis investigasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi korelasional, yakni mengidentifikasi faktor-faktor penting yang berkaitan dengan suatu masalah.
Masalah yang diteliti dalam penelitian ini adalah masalah perhitungan kinerja keuangan perbankan dengan prinsip syariah, sedangkan faktor-faktor penting yang berkaitan dengan masalah yang juga diteliti adalah rasio-rasio keuangan yang dipergunakan sebagai alat ukur kinerja keuangan perbankan sesuai dengan PBI No.9/1/PBI/2007. Dan berdasarkan keterkaitannya dengan jenis investigasi yang digunakan, maka situasi studi dari penelitian ini adalah studi lapangan dimana peneliti hanya melihat situasi yang tidak diatur tanpa adanya intervensi terhadap lingkungan penelitian.
Tingkat intervensi peneliti dalam penelitian ini adalah peneliti memanipulasi dan/atau mengontrol dan/atau melakukan simulasi dikarenakan peneliti melakukan penghitungan sendiri untuk membuktikan hipotesis yang telah dikemukakan.
Horizon waktu dalam penelitian ini adalah studi longitudinal, karena data dikumpulkan pada dua atau lebih batas waktu (data tahun 2007 dan 2008) untuk menjawab penelitian.
Teknik pengolahan data yang digunakan adalah rasio-rasio keuangan antara lain:
rasio KPMM (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum), rasio KAP (Kualitas Aktiva Produktif), rasio NOM (Net Operating Margin), rasio STM (Short Term Mismatch), dan rasio MR (Market Risk) sebagaimana telah dijabarkan dalam bab sebelumnya. Teknik pengolahan data ini digunakan karena penelitian ini didasarkan pada perhitungan kinerja perbankan berdasarkan prinsip syariah dengan metode CAMELS yang telah diatur dalam PBI No. 9/1/PBI/2007. Dengan penghitungan data yang menggunakan rasio-rasio keuangan tersebut, maka tidak diperlukan adanya suatu analisis statistik untuk dapat membuktikan hipotesis yang telah dikemukakan.
Hasil akhir dalam penelitian ini yang merupakan perbandingan antar satu obyek penelitian dengan obyek penelitian lainnya, yang diperoleh dengan mengalikan setiap peringkat yang telah didapatkan dari setiap independen variabel dengan bobot penilaian kinerja keuangan masing-masing yang telah diatur dalam Lampiran Surat Edaran No.
9/24/DPbS Perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah dan mengakumulasikannya untuk mendapatkan satu hasil peringkat yang akan mencerminkan kondisi kinerja keuangan bank tersebut.
Tabel 3.1. Bobot Penilaian Kinerja Keuangan
Rasio Bobot
Peringkat Permodalan 25%
Peringkat Kualitas Aktiva Produktif 50%
Peringkat Rentabilitas 10%
Peringkat Likuiditas 10%
Peringkat Sensitivitas Terhadap Risiko Pasar 5%
Sumber: Lampiran Surat Edaran No. 9/24/DPbS Perihal Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum Berdasarkan Prinsip Syariah
BAB IV
ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran umum obyek penelitian
Sifat penelitian ini adalah studi kasus yang menggunakan dua obyek penelitian, yaitu: Bank Muamalat Indonesia dan Bank Syariah Mandiri. Kedua bank ini dipilih sebagai obyek penelitian karena eksistensinya dalam dunia perbankan syariah di Indonesia.
4.1.1. Gambaran umum Bank Muamalat Indonesia
Ide kongkrit pendirian Bank Muamalat Indonesia berawal dari loka karya “Bunga Bank dan Perbankan” yang diselenggarakan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tanggal 18-20 Agustus 1990 di Cisarua. Ide ini kemudian lebih dipertegas lagi dalam Musyawarah Nasional (MUNAS) ke IV MUI di Hotel Sahid Jaya Jakarta tanggal 22-25 Agustus 1990 yang menagamanahkan kepada Bapak K.H. Hasan Basri yang terpilih kembali sebagai Ketua Umum MUI, untuk merealisasikan pendirian Bank Islam tersebut. Setelah itu MUI membentuk suatu Kelompok Kerja (POKJA) untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Tim POKJA ini membentuk Tim Kecil “Penyiapan Buku Panduan Bank Tanpa Bunga”, yang diketuai oleh Bapak Dr. Ir. M. Amin Azis.
Hal paling utama dilakukan oleh Tim MUI ini di samping melakukan pendekatan-pendekatan dan konsultasi dengan pihak-pihak terkait adalah menyelenggarakan pelatihan calon staf melalui Management Development Program (MDP) di Lembaga Pendidikan Perbankan Indonesia (LPPI), Jakarta yang dibuka pada tanggal 29 Maret 1991 oleh Menteri Muda Keuangan, dan meyakinkan beberapa pengusaha muslim untuk jadi pemegang saham pendiri. Untuk membantu kelancaran tugas-tugas MUI ini dibentuklah Tim Hukum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
(ICMI) yang di bawah Ketua Drs. Karnaen Perwaatmadja, MPA. Tim ini bertugas untuk mempersiapkan segala sesuatu yang menyangkut aspek hukum Bank Islam.
Akhirnya PT Bank Muamalat Indonesia, Tbk. didirikan pada tanggal 1 November 1991, diprakarsai oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Pemerintah Indonesia, dan memulai kegiatan operasinya pada 1 Mei 1992.
Pada tanggal 27 Oktober 1994 Bank Muamalat berhasil menyandang predikat sebagai Bank Devisa yang kemudian predikat ini semakin memperkokoh posisi erseroan sebagai bank syariah pertama dan terkemuka di Indonesia dengan beragam produk maupun jasa yang terus dikembangkan. Bank Muamalat Indonesia sempat mengalami keterpurukan pada akhir tahun 90an saat Indonesia dilanda krisis moneter yang memporakporandakan sebagian besar perekonomian Asia Tenggara. Hal ini menyebabkan di akhir tahun 1998, rasio pembiayaan macet (NPF) Bank Muamalat Indonesia lebih dari 60%, perseroan mencatat rugi sebesar Rp105 miliar dan ekuitas mencapai titik terendah, yaitu Rp39,3 miliar, kurang dari sepertiga modal setor awal.
Perbaikan modal pun dilakukan Bank Muamalat Indonesia dengan mencari pemodal yang potensial, dan ditanggapi secara positif oleh Islamic Development Bank (IDB) yang berkedudukan di Jeddah, Arab Saudi. Pada RUPS tanggal 21 Juni 1999 IDB secara resmi menjadi salah satu pemegang saham Bank Muamalat. Oleh karenanya, kurun waktu antara tahun 1999 dan 2002 merupakan masa-masa yang penuh tantangan sekaligus keberhasilan bagi Bank Muamalat yang berhasil membalikkan kondisi rugi menjadi laba.
Kemudian, diawali dari pengangkatan kepengurusan baru ketika semua anggota Direksi diangkat dari dalam, Bank Muamalat menggelar rencana kerja lima tahun dengan penekanan pada (i) tidak mengandalkan setoran modal tambahan dari para pemegang saham, (ii) tidak melakukan PHK satu pun terhadap sumber daya insani yang ada, dan
dalam pemangkasan biaya, tidak memotong hak Kru Muamalat sedikitpun, (iii) pemulihan kepercayaan dan rasa percaya diri Kru Muamalat menjadi prioritas utama di tahun pertama kepengurusan Direksi baru, (iv) peletakan landasan usaha baru dengan menegakkan disiplin kerja Muamalat menjadi agenda utama di tahun kedua, dan (v) pembangunan tonggak-tonggak usaha dengan menciptakan serta menumbuhkan peluang usaha menjadi sasaran Bank Muamalat pada tahun ketiga dan seterusnya. Rencana lima tahun ini kemudian sukses membawa Bank Muamalat ke era pertumbuhan baru memasuki tahun 2004 dan seterusnya.
Hingga akhir tahun 2004, Bank Muamalat tetap merupakan bank syariah terkemuka di Indonesia dengan jumlah aktiva sebesar Rp5,2 triliun, modal pemegang saham sebesar Rp269,7 miliar serta perolehan laba bersih sebesar Rp48,4 miliar.
Hingga sekarang pun, Bank Muamalat Indonesia terus berusaha mencapai visi mereka yaitu menjadi bank syariah utama di Indonesia, dominan di pasar spiritual, dikagumi di pasar rasional. Dengan selalu melaksanakan misi mereka yaitu menjadi role model Lembaga Keuangan Syariah dunia dengan penekanan pada semangat kewirausahaan, keunggulan manajemen dan orientasi investasi yang inovatif untuk memaksimumkan nilai bagi stakeholder.
Adapun tujuan berdirinya Bank Muamalat Indonesia, yaitu:
1) Meningkatkan kualitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat Indonesia, sehingga semakin berkurang kesenjangan sosial ekonomi, dan dengan demikian akan melestarikan pembangunan nasional, antara lain melalui:
a. Peningkatan kualitas dan kuantitas kegiatan usaha, b. Peningkatan kesempatan kerja,
c. Peningkatan penghasilan masyarakat banyak.
2) Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan terutama dalam bidang ekonomi keuangan, yang selama ini masih cukup banyak masyarakat yang enggan berhubungan dengan bank karena masih menganggap bahwa bunga bank itu riba.
3) Mengembangkan lembaga bank dan sistem perbankan yang sehat berdasarkan efisiensi dan keadilan, mampu meningkatkan partisipasi masyarakat sehingga menggalakkan usaha-usaha ekonomi rakyat antara lain memperluas jaringan lembaga perbankan ke daerah-daerah terpencil.
4) Mendidik dan membimbing masyarakat untuk berpikir secara ekonomi, berperilaku bisnis dan meningkatkan kualitas hidup mereka.
Bank Muamalat Indonesia memiliki produk penghimpunan dana (funding products), produk penanaman dana (investment product), dan produk jasa (service product). Ketiga jenis produk ini dihadirkan Bank Muamalat Indonesia untuk memenuhi seluruh kebutuhan nasabah yang mempercayakan transaksi keuangannya kepada Bank Muamalat Indonesia.
4.1.2. Gambaran umum Bank Syariah Mandiri
Bank Syariah Mandiri berawal dari PT Bank Susila Bakti yang dimiliki oleh Yayasan Kesejahteraan Pegawai (YKP) PT Bank Dagang Negara dan PT Mahkota Prestasi yang berupaya keluar dari krisis 1997-1999 dengan berbagai cara, mulai dari langkah-langkah menuju merger sampai pada akhirnya memilih konversi menjadi bank syariah dengan suntikan modal dari pemilik.
Dan dengan terjadinya merger empat bank (Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim dan Bapindo) ke dalam PT Bank Mandiri (Persero) pada tanggal 31 Juli 1999, rencana perubahan PT Bank Susila Bakti menjadi bank syariah (dengan nama Bank Syariah Sakinah) diambil alih oleh PT Bank Mandiri (Persero).
Sebagai tindak lanjut dari keputusan merger, Bank Mandiri melakukan konsolidasi serta membentuk Tim Pengembangan Perbankan Syariah. Pembentukan tim ini bertujuan untuk mengembangkan layanan perbankan syariah di kelompok perusahaan Bank Mandiri, sebagai respon atas diberlakukannya UU No. 10 tahun 1998, yang memberi peluang bank umum untuk melayani transaksi syariah (dual banking system).
Tim Pengembangan Perbankan Syariah memandang bahwa pemberlakuan UU tersebut merupakan momentum yang tepat untuk melakukan konversi PT Bank Susila Bakti dari bank konvensional menjadi bank syariah. Oleh karenanya, Tim Pengembangan Perbankan Syariah segera mempersiapkan sistem dan infrastrukturnya, sehingga kegiatan usaha BSB berubah dari bank konvensional menjadi bank yang beroperasi berdasarkan prinsip syariah dengan nama PT Bank Syariah Mandiri.
Dan pada tanggal 1 November 1999 merupakan hari pertama beroperasinya PT Bank Syariah Mandiri. Kelahiran Bank Syariah Mandiri merupakan buah usaha bersama dari para perintis bank syariah di PT Bank Susila Bakti dan Manajemen PT Bank Mandiri yang memandang pentingnya kehadiran bank syariah di lingkungan PT Bank Mandiri (Persero).
PT Bank Syariah Mandiri hadir sebagai bank yang mengombinasikan idealisme usaha dengan nilai-nilai rohani yang melandasi operasinya. Harmoni antara idealisme usaha dan nilai-nilai rohani inilah yang menjadi salah satu keunggulan PT Bank Syariah Mandiri sebagai alternatif jasa perbankan di Indonesia.
Bank Syariah Mandiri memiliki visi untuk menjadi bank syariah terpercaya pilihan mitra usaha. Untuk pencapaian visi tersebut, Bank Syariah Mandiri menerapkan misi antara lain: mewujudkan pertumbuhan dan keuntungan yang berkesinambungan, mengutamakan penghimpunan dana konsumer dan penyaluran pembiayaan pada segmen UMKM, merekrut dan mengembangkan pegawai professional dalam lingkungan kerja
yang sehat, mengembangkan nilai-nilai syariah universal, dan menyelenggarakan operasional bank sesuai dengan standar perbankan yang sehat.
Untuk mendukung pencapaian visi dan misi tersebut, Bank Syariah Mandiri menerapkan nilai-nilai perusahaan yang disebut Shared Values Bank Syariah Mandiri yang disingkat menjadi ETHIC. Excellence sebagai shared value pertama adalah berupaya mencapai kesempurnaan melalui perbaikan yang terpadu dan berkesinambungan, teamwork sebagai shared value kedua adalah mengembangkan lingkungan kerja yang saling bersinergi, humanity sebagai shared value ketiga adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan religious, integrity adalah shared value ketiga adalah menaati kode etik profesi dan berpikir serta berperilaku terpuji, dan shared value yang terakhir adalah customer focus yaitu memahami dan memenuhi kebutuhan pelanggan untuk menjadikan Bank Syariah Mandiri sebagai mitra yang terpercaya dan menguntungkan.
Bank Syariah Mandiri menyediakan produk penyimpanan dana, penanaman dana dan jasa yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Semenjak berdirinya, Bank Syariah Mandiri telah berhasil memperkuat keberadaan dan peran Bank Syariah Mandiri dalam perbankan syariah nasional. Hal ini tercermin pada berbagai penghargaan yang diperoleh BSM dari lembaga-lembaga nasional maupun internasional yang memiliki kredibilitas dalam memberikan penghargaan tersebut. Dalam setiap tahunnya semenjak mereka berdiri, BSM selalu berhasil menyabet beberapa penghargaan yang semakin membuktikan eksistensi Bank Mandiri dalam dunia perbankan syariah.
Di tahun 2008, Bank Mandiri berhasil mendapatkan sepuluh penghargaan antara lain: The Best Human Resource Development dari Bank Indonesia bekerja sama dengan Karim Konsulting dalam Sharia Acceleration Award 2008; Indonesian Bank Loyalty Award (IBLA) dari majalah InfoBank bekerja sama dengan MarkPlus Insight dalam
bidang loyalitas pelanggan; Kriya Pranala Award dari Bank Indonesia atas partisipasi aktif Bank Syariah Mandiri dalam Linkage Program; The Best Islamic Bank in Indonesia dari Islamic Finance News, Kuala Lumpur bekerja sama dengan Redmoney; The Best Islamic-Fully Pledged Bank dari Karim Business Consulting dalam Islamic Finance Award and Cup (IFAC) 2008; Banking Efficiency Award dari harian Bisnis Indonesia bekerja sama dengan Management Research Centre dan Fakultas Pasca Sarjana Ekonomi Universitas Indonesia (UI); The Best Islamic Financial Institution in Indonesia dari Global Finance Magazine, New York dalam The World Best Islamic Financial Institution 2008; Golden Trophy Award dari majalah InfoBank kepada bank yang memenuhi kriteria kinerja keuangan “Sangat Bagus” selama lima tahun berturut-turut;
The Best Brand Award dari majalah SWAsembada kepada perusahaan yang memiliki brand sangat kuat di masyarakat untuk kategori bank syariah di Indonesia; dan Bank Syariah Terbaik dari majalah Investor bekerja sama dengan Karim Business Consulting (KBC).