Bab III Metodologi Penelitian
3.4 Metode Analisis Data
Untuk menguji pengaruh masa pemberian jasa audit dan praktik rotasi audit terhadap kualitas audit, maka pengujian regresi dengan model penelitian sebagai berikut:
Dimana:
= kualitas audit yang diukur berdasarkan ketepatwaktuan absolut riil (Real Absolute Timeliness) perusahaan i pada periode t;
= variabel dummy yang menunjukkan terjadi/tidaknya rotasi auditor di perusahaan i pada tahun t;
= variabel dummy yang menunjukkan terjadi/tidaknya rotasi KAP di perusahaan i pada tahun t;
= log natural dari total aset perusahaan i pada tahun t;
= rasio hutang terhadap aset perusahaan i pada tahun t;
= arus kas bersih dari kegiatan operasi perusahaan i pada tahun t dibagi dengan total aset perusahaan i pada tahun t-1; dan = variabel dummy yang menunjukkan ukuran KAP yang
3.4.2 Variabel dan Pengukuran
3.4.2.1 Variabel Terikat (Dependent Variable)
Variabel terikat yang digunakan adalah kualitas audit. Dikarenakan adanya kesulitan dalam menentukan ukuran yang pasti dari kualitas audit maka dalam penelitian ini digunakan satu proksi pengukuran kualitas audit yaitu ketepatwaktuan penyajian laporan keuangan yang juga merupakan hal yang berkaitan dengan kualitas informasi laporan keuangan.
Ketepatan waktu dalam pelaporan keuangan suatu perusahaan sangat menentukan relevansi dari informasi dalam laporan keuangan tersebut. Apabila perusahaan tidak tepat waktu dalam melakukan pelaporan keuangan maka para pemegang kepentingan akan merasa dirugikan akibat informasi yang diberikan sudah kehilangan relevansinya. Oleh karena itu, auditor perlu berupaya agar pelaporan keuangan yang dilakukan oleh kliennya dilakukan secara tepat waktu. Hal yang dapat dilakukan oleh auditor dalam hal ini adalah dengan berusaha meningkatkan efektivitas dan efisiensi dari pekerjaan audit yang dilakukannya.
Apabila audit yang dilakukan terhadap suatu perusahaan dapat diselesaikan dengan lebih cepat maka pelaporan keuangan perusahaan pun akan dapat dilakukan dengan lebih cepat dan dengan demikian lebih tepat waktu.
Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan untuk mengukur ketepatwaktuan penyajian laporan keuangan adalah Ketepatwaktuan Absolut Riil atau Real Absolute Timeliness (
yang dilakukan oleh Wirakusuma (2008). Dalam penelitian yang dilakukan oleh Wirakusuma (2008), digunakan dua ukuran dari ketepatwaktuan pelaporan keuangan: ketepatwaktuan absolut (absolute timeliness) dan ketepatwaktuan relatif (relative timeliness). Ketepatwaktuan absolut didefenisikan sebagai (1) lamanya penundaan pelaporan (reporting delay) sejak tanggal laporan keuangan, atau (2) lamanya penundaan pelaporan (reporting delay) sejak laporan telah ditandatangani oleh auditor. Ketepatwaktuan relatif di defenisikan sebagai (1) perbedaan antara lamanya penundaan pelaporan keuangan tahun ini dan tahun sebelumnya, atau (2) pembobotan nilai dari perbedaan antara penundaan pelaporan tahun ini dengan tahun sebelumnya.
Peneliti kemudian memilih variabel ketepatwaktuan absolut untuk digunakan sebagai independen variabel dalam penelitian ini dengan alasan bahwa ukuran tersebut dirasa lebih tepat dalam mengukur kualitas laba pada tahun dikeluarkannya laporan keuangan. Dalam penelitian ini dilakukan sedikit modifikasi dalam perhitungan variabel tersebut agar arah variabel sesuai dengan kualitas audit.
Ketepatwaktuan Absolut Riil diukur berdasarkan selisih jumlah hari pelaporan keuangan perusahaan dengan batas waktu yang telah diterapkan dalam lampiran surat Keputusan Ketua BAPEPAM Nomor : Kep-36/PM/2003 yaitu 90 hari setelah tanggal pelaporan keuangan dan kemudian dibagi dengan 90 hari. Sebagai contoh apabila tanggal pelaporan keuangan perusahaan ke BEJ adalah 25 Maret 2007 maka nilai RAT-nya adalah sebesar 6 hari yaitu selisih antara 25 Maret 2007 dengan 31 Maret 2007 dibagi 90 hari = 0.066667. Apabila nilai yang didapatkan semakin besar, maka suatu perusahaan dikatakan semakin tepat waktu dan demikian sebaliknya. Apabila pelaporan keuangan suatu perusahaan
melebihi batas waktu yang ditetapkan maka nilai RAT perusahaan tersebut akan bernilai negatif.
3.4.2.2 Variabel Tidak Terikat (Independent Variable)
Variabel tidak terikat dibagi menjadi satu variabel utama yaitu masa rotasi audit. Masa pemberian jasa audit terus bertambah, pada titik tertentu, dapat mengakibatkan kualitas audit yang diberikannya semakin berkurang. Hal ini disebabkan karena adanya kemungkinan independensi auditor yang berkurang disebabkan karena auditor yang menjadi terlalu tergantung dengan penerimaan yang didapatnya dari salah satu kliennya. Selain itu, independensi auditor juga dapat terganggu ketika auditor menjadi terlalu dekat dengan pihak kliennya sehingga timbul rasa kekeluargaan yang terlalu erat. Berkurangnya independensi dari seorang auditor dapat mengakibatkan auditor tersebut menjadi tidak objektif lagi dalam pekerjaan yang dilakukannya.
Masa rotasi audit diukur melalui dua variabel, yaitu PROTATION dan FROTATION.
Kebijakan yang mengatur kewajiban dilakukannya rotasi audit setelah beberapa periode perikatan masa audit ditujukan agar independensi auditor tetap terjaga dan dengan demikian hasil audit yang dilakukannya pun dapat dipercaya. Variabel PROTATION merupakan variabel dummy yang mengukur terjadi tidaknya rotasi auditor pada perusahaan i pada tahun t. Sedangkan FROTATION merupakan variabel dummy yang mengukur terjadi tidaknya rotasi KAP pada perusahaan i pada tahun t. Jika pada tahun t perusahaan mengalami rotasi akuntan publik (KAP), maka diberikan nilai 1 pada PROTATION (FROTATION).
Sebaliknya, jika pada tahun t perusahaan tidak mengalami rotasi auditor (KAP), maka akan
3.4.2.2 Variabel Kontrol
Variabel kontrol merupakan variabel yang memoderasi hubungan independen dan dependen yang bisa melemahkan atau menguatkan variabel yang di teliti. Dengan mengetahui pengaruh masing-masing variabel kontrol terhadap kualitas audit, dapat diidentifikasi dengan jelas seberapa besar pengaruh terhadap kualitas audit yang ditimbulkan oleh variabel bebas yang ingin dijadikan fokus dalam penelitian ini—yaitu variabel rotasi audit. Selain itu, dapat diketahui juga seberapa besar pengaruh yang ditimbulkan oleh variabel selain variabel- variabel kontrol terhadap kualitas audit. Dalam model penelitian ini, variabel yang digunakan adalah ukuran perusahaan (SIZE), tingkat hutang perusahaan (LEV), arus kas operasional perusahaan (CFO), dan ukuran KAP (BIG4).
SIZE diperkirakan berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Berdasarkan penyataan Monroe dan Teh (1993) yang dikutip oleh Johl, Jubb, dan Hounghton (2007), ukuran perusahaan mempresentasikan keadaan keuangan perusahaan, semakin besar sebuah perusahaan maka secara umum perusahaan tersebut akan lebih sehat. Berdasarkan pernyataan Kim, et al. (2003) yang dikutip oleh Fajri (2008), terdapat tiga hal dari besarnya ukuran perusahaan yang memberikan dampak positif terhadap tingkat manajemen laba yaitu sistem pengendalian yang baik, akses yang besar terhadap auditor dan berkualitas, serta biaya reputasi yang mahal.
Variabel CFO diperkirakan berpengaruh positif terhadap kualitas audit. Dalam perusahaan yang memiliki tingkat arus kas yang rendah, terdapat kemungkinan adanya dorongan bagi manajer untuk melakukan manajemen laba dalam rangka menutupi kekurangan perusahaan yang kemudian akan mengurangi kualitas audit dan demikian sebaliknya (Hamilton, 2005 yang dikutip oleh Fajri, 2008). Selain itu, arus kas yang tinggi juga
menyebabkan perusahaan memiliki akses terhadap auditor yang lebih berkualitas sehingga kualitas audit yang diberikan pun lebih baik.
LEV diperkirakan berpengaruh negatif terhadap kualitas audit. Menurut Jackson, Moldrich dan Roebuck (2008), tingginya tingkat hutang perusahaan dibandingkan dengan total asetnya mengindikasikan risiko yang lebih besar. Selain itu, hutang perusahaan yang semkain besar akan membuat perusahaan mempunyai kemungkinan semakin tinggi untuk melanggar perjanjian hutang (debt covenants) yang telah ditentukan sebelumnya. Hal ini kemudian menjadi pendorong bagi manajemen untuk melakukan manajemen laba yang kemudian akan menurunkan kualitas audit.
Variabel BIG4 dimasukkan karena adanya pendapat yang menyatakan bahwa semakin besar ukuran suatu KAP merupakan indikasi bagi kualitas audit yang diberikannya ( Jackson, Moldrich dan Roebuck, 2008). Bagi KAP yang besar, pendapatan dari salah satu klien menjadi tidak terlalu signifikan dibandingkan dengan KAP yang hanya mempunyai sedikit klien, hal ini kemudian akan mempengaruhi independensinya. Selain itu, KAP besar, terutama yang termasuk dalam BIG4, akan mempunyai risiko kehilangan nama besar apabila mereka salah dalam memberikan opini (Francis & Wilson, 1998 yang dikutip oleh Jackson, Moldrich
& Roebuck, 2008). Berdasarkan hal tersebut, maka variabel BIG4 diperkirakan berpengaruh positif terhadap kualitas audit.
3.5 Metode Analisis Data