• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

C. Pondok Pesantren

4. Metode di Pondok Pesantren

Metodologi pembelajaran adalah ilmu yang mempelajari tentang metode-metode yang digunakan dalam pembelajaran. Pondok pesantren dengan kekhasannya memiliki sejumlah metode yang digunakan dalam pembelajaran, yaitu:

1. Metode Tradisional a. Sorogan

Metode sorogan merupakan metode yang ditempuh dengan cara ustadz menyampaikan pelajaran ke pada santri secara individual. Sasaran metode ini biasanya kelompok santri pada tingkat rendah, yaitu mereka yang baru menguasai pembacaan Al- Qur'an Melalui sorogan, pengembangan intelektual santri dapat ditangkap oleh kiai secara utuh. Dia dapat memberikan bimbingan penuh sehingga dapat memberikan tekanan pengajaran terhadap

38

santri-santri tertentu atas dasar observasi langsung terhadap tingkat kemampuan dasar dan kapasitas mereka.62

b. Wetonan

Metode wetonan atau disebut juga metode bandongan adalah metode pengajaran dengan cara ustaz/membaca, menerjemahkan, menerangkan danmengulas kitab/buku-buku keislaman dalam bahasa Arab, sedangkan santri mendengarkannya.

Mereka memperhatikan kitab/bukunya sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang kata-kata yang diutarakan oleh ustaz/kiai.63

c. Ceramah

Metode ceramah ini merupakan hasil pergeseran dari metode wetonan dan metode sorogan, metode wetonan dan metode sorogan yang semula menjadi ciri khas pesantren, pada beberapa pesantren telah diganti dengan metode ceramah sebagai metode pengajaran yang pokok dengan sistem klasik. Namun pada beberapa pesantrenanya masih menggunakan metode sorogan dan wetonan untuk pelajaran agam, sedangkan untuk pelajaran umum dengan menggunakan metode ceramah.64

62Kompri, Manajemen Dan Kepemimpinan PondokPesantren ( Jakarta: Prenadamedia Group, 2018) Hlm. 130

63Ibid, Hlm. 131

64Ibid, Hlm. 131

39 d. Majelis Taklim

Metode ini adalah suatu metode penyampaian pelajaran agama islam yang bersifat umum dan terbuka.

Metode ini di hadiri jemaah yang memiliki latar belakang pengetahuan, tingkat usia, dan jenis kelamin. Metode ini tidak hanya melibatkan santri mukmindan santri kalong (santri yang tidak menetap di asrama cuma belajar di pesantren), tetapi masyarakat sekitar pesantren yang tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti pengajian setiap hari.Pengajian majelis taiklim bersifat bebas dan dapat menjalin hubungan yang akrab antara pesantren dan masyarakat sekitarnya.65

e. Hafalan (Tahfizh)

Sebagai suatu metodologi pengajaran, hafalan pada umumnya diterapka pada mata pelajaran yang bersifat nadham (syair), bukan natsar (prosa), danitu pun pada umumnya terbatas pada ilmu kaidah bahasa Arab, seperti Nadhm al-'Imrithi, Afiyyah ibnu Malik, Nadhm al-Maqsud, dan Nadhm Jawabir al Maknun.

Namun demikian, ada juga beberapa kitab prosa (natsar) yang dijadikan sebagai hafalan melalui sistem pengajaran hafalan.

Dalam metodologi ini, biasanya santri diberi tugas untuk menghafal beberapa bait atau baris kalimat dari sebuah kitab, untuk kemudian membacakannya di depan sang kiai/ustaz.

Metode ini mengharuskan santri untuk menghafal, dan ini sangat relevan apabila diterapkan kepada santri yang masih tergolong anak-anak, tingkat dasar, dan tingkat menengah. Adapun

65Kompri, Manajemen Dan Kepemimpinan PondokPesantren ( Jakarta: Prenadamedia Group, 2018) Hlm. 135

40

pada usia di atas itu, metode hafalan sebaiknya dikurangi sedikit demi sedikit, dan lebih tepat digunakan untuk rumus dan kaidah- kaidah. Hal ini disebabkan pada usia tersebut, tingkat kemampuan menghafal santri cenderung sekin lemah seiring dengan menguatnya daya nalar dan pemahamannya dalam aplikasinya.

2. Metode Kombinasi

Sesuai dengan perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan teknologi, banyak pesantren yang melakukan pembenahan dalam metode pembelajaran.Hal itu dilakukan guna memperbaiki kualitas- kualitas sumber daya santri sehingga bisa menyesuaikamn dengan perkembangan zaman.

Bedasarkan perspektif metodik, pesantren terpolarisasi menjadi tiga kelompok, yaitu:

a) Pesantren yang hanya menggunakan satu metode yang bersifat tradisional dalam mengajarkan kitab-kitab klasik.

b) Pesantren yang hanya menggunakan metode-metode hasil penyesuaian dengan metode yang dikembangkan pendidikan formal.

c) Pesantren yang menggunakan metode-metode bersifat tradisional dan mengadakan penyesuaian dengan metode pendidikan yang dipakai dalam lembaga pendidikan formal. 66

Bedasarkan pemaparan di atas pondok pesantren dengan ke khasanya dalam pembelajaran di pondok pesantren memiliki beberapa metode diantaranya metode tradisional dan metode kombinasi yang dapat diterapkan dipondok pesantren manapun.

66Kompri, Manajemen Dan Kepemimpinan PondokPesantren ( Jakarta: Prenadamedia Group, 2018) Hlm. 137

41 5. Tujuan Pondok Pesantren

Tujuan pondok pesantren adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian muslim yaitu kepribadian yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat atau berkhidmad kepada masyarakat dengan jalan menjadi kaula atau abdi masyarakat yaitu sebagai pelayan masyarakat sebagaimana kepribadian Nabi Muhammad SAW, maupun berdiri sendiri, bebas, dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakan islam dan kejayaan islam islam di tengah-tengah masyarakat dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangakan kepribadian manusia.

Pesantren merupakan lembaga yang bertujuan untuk tafaquhfiddin (memahami agama) dan membentuk moralitas umat melalui pendidikan.Dari pengamatan lembaga Research Islam, pesantren selalu mengalami perubahan dalam bentuk penyempurnaan mengikuti tuntutan zaman, kecuali tujuannya sebagai tempat untuk mengajarkan ilmu agama Islamdan membentuk guru guru agama, yang kelak meneruskan usaha dalam kalangan umat Islam.

Tujuan institusional pesantren yang lebih luas dengan tetap mempertahankan hakekatnya dan di harapkan manjadi tujaan pesantren secara nasional pernah diputuskan dalam musyawarah atau loka karya intensifikasi pengembangan pondok pesantren di Jakarta yang berlangsung

42

pada 2 s/d 6 Mei 1978. Tujuan umum pesantren adalah membina warga negara agar berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran ajaran agama Islam dan menanamkan rasa keagamaaan tersebut padasemua segi kehidupannya serta menjadi siswa atau santrinya sebagaiorang yang berguna bagi agama, masyarakat,dan negara. Adapun tujuan khusus pesantren adalah sebagai berikut:

1. Mendidik siswa atau santri anggota masyarakat untuk menjadi seorang muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT berakhlak mulia, memiliki kecerdasan, keterampilan dansehat lahir batin sebagai warga negara yang berpancasila.

2. Mendidik santri untuk menjadi manusia muslim selaku kader- kader ulama dan mubaligh yang berjiwa ikhlas, tabah,tangguh, wiraswasta dalam mengamalkan sejarah Islam secara utuh dan dinamis.

3. Mendidik santri menjadi tenaga-tenaga yang cakap dalam berbagai sektor pembangunan, khususnya pembangunan mental spiritual.

4. Mendidik santri untuk membantu meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat lingkungan dalam rangka usaha pembangunan masyarakat bangsa."67

Dari beberapa tujuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa tujuanpesantren adalah membentuk kepribadian muslim yang menguasaiajaran-ajaran Islam dan mengamalkannya, sehingga bermanfaat bagiagama, masyarakat, dan Negara.

67Haryatoni, “PesantrenSebagai Potensi Pengembangan Dakwah Islam”. Jurnal Dakwah Dan Komunikasi, Vol. 1. No. 1., 2016

43 D. Minat Bakat

Dokumen terkait