• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pembelajaran Al- Qur’an Hadits

BAB I PENDAHULUAN

F. Kerangka Teori

1. Metode Pembelajaran Al- Qur’an Hadits

a. Pengertian Metode Pembelajaran Al-Qur’an Hadits

Metode diibaratkan sebagai alat yang dapat digunakan dalam suatu proses pencapaian tujuan. Tanpa metode suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan pembelajaran menuju tujuan pendidikan.17

Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani

“metodos”. Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha”

yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia metode adalah “cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud”, Sehingga dapat disimpulan bahwa metodeadalah suatu

16 WIKA,“Metode Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Di Sma Nusantara Palangka Raya.(Skripsi, IAIN Palangkaraya, 2016), h. 89.

17www.kompasiana.com/amp/abdul_latifm/diakses tanggal 05 maret 2020,pukul 21:50

cara yang sistematis yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.18

Pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah usaha mempengaruhi emosi, inteletual dan spiritual seseorang sehingga memiliki kemauan dalam belajar dengan kehendaknya sendiri.

Pembelajaran adalah proses atau usaha yang dilaksanakan oleh pendidik untuk membelajarkan peserta didik dalam aktivitas belajar mengajar, agar para peserta didik paham dengan cara-cara bagaimana belajar memperoleh dan memproses melalui kognitif (pengetahuan), psikomotor(keterampilan)dan afektif (sikap).

Menurut M. Quraish Shihab, Al-Qur’an secara harfiyah berarti bacaan sempurnah. Secara terminology, Al-Qur’an adalah firman Allah swt yang disampaikan oleh Malaikat Jibril dengan redaksi langsung dari Allah swt. Kepada Nabi Muhammad saw.

Dan yang diterima oleh umat islam dari generasi ke generasi tanpa ada perubahan.19

Umumnya pembelajaran Al-Qur’an hadits adalah bagian dari upaya mempersiapkan anak sejak dini agar peserta didik memahami, terampil melaksanakan dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an hadits melalui pendidikan. Sehubungan dengan itu, maka tujuan pembelajaran Al-Qur’an hadits di MI adalah agar peserta didik, mampu, membaca, menulis, menghafal dan terampil melaksanakan isi kandungan Al-Qur’an hadits dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang beriman bertakwa kepada Allah swt.20

Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan para ahli diatas tampaknya saling berhubungan dan saling melengkapi. Jadi

18 Muhammad Aman Ma’mu, Kajian Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an (Jurnal Pendidikan Islam, Vol 4 No 1 Maret 2018),h. 57-61.

19 Anshori, Ulumul Qur’an Kaidah-Kaidah Memahami Firman Tuhan,(Jakarta:PT Rajagrafindo Persada,2013), h.17-18.

20 Ridwan, Pembelajaran Al-Qur’an Hadits Di Madrasah Ibtidaiyah, (Lombok: CV .Elhikam Press Lombok,2016),h.41.

metode pembelajaran Al-Qur’an yaitu cara-cara ataupun langkah- langkah yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Al-Qur’an hadits, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

b. Beberapa Macam Metode Al-Qur’an Hadits

Metode adalah suatu cara yang sistematis yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.

Apabila metode ini dikaitkan dengan pendidikan agama Islam berarti bahwa metode adalah jalan untuk menanamkan pengetahuan agama serta menumbuhkan sikap yang baik kepada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi orang tersebut, yaitu menjadi pribadi yang Islami.21

Dalam mengatasi baca tulis Al-Qur’an, banyak sekali metode yang dapat digunakan. Metode-metode tersebut diciptakan agar dapat membantu pendidik. Adapun beberapa metode yang dilakukan guru dalam membina kemampuan peserta didik dalam membaca Al-Qur’an ialah sebagai berikut:

1) Metode Baghdadiyah

Metode ini merupakan metode yang paling pertama munculditerapkan dan paling lama berkembang di Indonesia, metode yang diterapkan dalam metode ini ialah sebagai berikut:

a) Pertama kali siswa atau santri diajarkan mengenal nama- nama huruf hijaiyyah yaitu dimulai dari huruf alif, ba’, ta’, dan sampai ya’.

21 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam Edisi Baru, (Jakarta:Gaya Media Pratama, 2005), h. 143-144.

b) Setelah siswa mengenal huruf kemudian diajarkan tanda- tanda baca (harakat) serta bunyi bacaanya. Dalam hal ini siswa ataupun santri dituntun bacaannya secara pelan dan dieja, seperti alif fathah a, alif kasrah i, alif dhammah u, dan seterusnya.

c) Terakhir setelah siswa ataupun santri mempelajari huruf hijaiyah dengan cara-cara diatas barulah siswa diajarkan membaca Al-Qur’an atau juz’amma (juz yang ke-30 dari urutan juz dalam al-Qur‟an).22

Dalam memberikan bimbingan serta pengajaran kepada siswa, tentunya guru memberikan contoh terlebih dahulu kemudian baru diikuti oleh siswa.

Adapun kelebihan dan kekurangannya yaitu sebagai berikut:

a) Siswa akan mudah dalam belajar karena sebelum diberikan materi guru sudah memberikan pengenalan huruf-huruf hijaiyyah, serta telah menghafalnya.

b) Siswayang lancar membaca Al-Qur’an akan cepat melanjutkan pada materi selanjutnya tanpa menunggu teman yang lain.

Adapun kekurangannya yakni sebagai berikut :

a) Membutuhkan waktu yang lama sebab harus menghafal dan mengeja huruf hijaiyyah terlebih dahulu, siswa merasa bosan dan kebanyakan dari siswa yang tidak selesai dalam membaca Al-Qur’an

b) Siswa kurang aktif dalam belajar karena harus mengikuti ustad-ustadzahnya membaca.23

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode Al- Bagdadiyah bertujuan untuk melibatkan peserta didik aktif sejak dimulainya pembelajaran. Untuk meyakinkan dan memastikan bahwa peserta didik mampu menguasai materi pelajaran sehingga siswa diharapkan tidak hanya mampu dalam aspek kognitif saja tetapi juga dalam aspek lainya.

22 Muhammad Aman Ma’mun, Kajian Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an, Jurnal Pendidikan Islam, Vol.4, No. 1, 1 Maret 2018, h. 57.

23Ibid., h. 57-58.

2) Metode Qiro’ati

Metode Qiro’ati merupakan suatu metode membaca Al-Qur’an yang langsung memasukkan dan mempraktekan bacaan tartil sesuai kaidah ilmu tajwid. Cara mengajarnya untuk jilid 1 dan 2 pengajarannya secara perorang sedangkan jilid 3 sampai 6 pengajarannya secara klasikal namun setiap siswa atau santri diberikesempatan untuk membaca.24 Penggunaan pada metode ini berpusat pada murid serta kenaikan jilid tidak ditentukan bulan/tahundan tidak secara klasikal tapi secara individual.

Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode Qiro’ati yakni sebagai berikut :

a) Dalam mengajar pada metode ini menggunakan ketukan, sehingga dalam membaca yang pendek dibaca pendek dan yang panjang dibaca panjang.

b) Pada metode ini setelah khatam 6 jilid siswa/santri dapat meneruskan lagi bacaan–bacaan ghorib

c) Dalam penerapannya banyak sekali metode yang digunakan.

d) Bagi siswa/santri yang tidak lancar atau tidak lulus maka akan lama karena metode ini lulusnya tidak ditentukan oleh bulan/tahun.25

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam metode Qiro’ati terdapat dua yang mendasari yakni membaca Al-Qur’an secara langsung dan pembiasaan pembacaan dengan tartil sesuai dengan ilmu tajwid.

24Ibid.,h. 58.

25Munzidah,” Implementasi Metode Qiro’ati dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an” dalam digilib.uinsby.ac.id/1501/5/BAB%202,pdf, diakses tanggal 30 November 2019, pukul 18:00.

3) Metode Iqro’

Metode Iqro’ merupan metode membaca Al-Qur'an yang menekankan langsung pada latihan membaca. Adapun buku panduan iqra‟ terdiri dari 6 jilid dimulai dari tingkat yang sederhana, tahap demi tahap sampai pada tingkatan yang sempurna. Pembelajaran membaca al-Qur’an dengan Metode Iqro’ ini dalam prakteknya tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam, karena ditekankan pada bacaannya (membaca huruf Al-Qur’an dengan fasih), bacaan langsung tanpa dieja. Artinya diperkenalkan nama-nama huruf hijaiyah dengan cara belajar siswa aktif (CBSA) dan lebih bersifat individual.26

Adapun kelebihan metode Iqro’ adalah sebagai berikut:

a) Menggunakan metode CBSA, dimana pembelajarannya perpusat pada siswa

b) Dalam penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama), privat, maupun cara eksistensi (santri yang lebih tinggi jilid-nya dapat menyimak bacaan temannya yang berjilid rendah).

c) Komunikatif artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan benar guru dapat memberikan pujian, perhatian dan hadia.

d) Bila ada santri yang sama tingkat pelajaran-nya, boleh dengan sistem tadarus, secara bergilir membaca sekitar dua baris sedang lainnya menyimak.

e) Bukunya iqro’ ini juga mudah di dapat di toko-toko.

Adapun kekurangan metode Iqro’ adalah sebagai berikut:

a. Siswa kurang tahu bacaan-bacaan dalam ilmu tajwid karena tidak dikenalkan sejak awal pembelajaran

b. Tidak ada media belajar dan tidak pula menggunakan irama murottal.27

26Ibid,h. 58-59.

27Ibid.,h. 60-61.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode Iqro’

yakni metode membaca Al-Qur’an yang menekankan langsung pada latihan membaca. Dalam implementasinya tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam karena hanya ditekankan pada bacaannya dan menggunakan CBSA (cara belajar siswamaktif).

c. Penentuan Pemilihan Metode Pembelajaran

Adapun pemilihan dan penentuan metode pembelajaran dilihat dari, Tujun, Sifat Materi, Kemampuan Guru, Alat/bahan dan Sarana.

Sebagaimana yang akan diuraikan yakni sebagai berikut : 1) Sesuai Tujuan

Sebaik apapun pendidikan, jika tidak didukung dengan metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik.

Metode harus dilihat dari segi tujuan, apakah dengan pemakaian metode tersebut dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Sebab metode berfungsih sebagai alat untuk mencapai tujuan pengajaran. Karena itu guru hendaklah melihat tujuan apa yang hendak dicapai dari penyajian bahan tersebut. Pengajaran Al-Qur’an, tujuan instruksionalnya adalah supaya peserta didik dapat mengenal dan mengucapkan dengan sebenarnya bacaan Al-Qur’an.28

Siti Tarwiyah mengutip Prof. Dr. Zakiyah Darajat, mendefinisikan bahwa metode adalah suatu cara atau penyampaian bahan pelajaran tertentu dari suatu mata pelajaran agar peserta didik dapat mengetahui, memahami, menggunakan serta dapat menguasai bahan pelajaran tersebut. Karena tidak ada metode mengajar yang

28Ibid., h .82-83.

lebih baik dari pada metode yang lain. Sebab setiap metode tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing semuaitu tergantung keadaan serta kondisi yang dihadapi. Oleh karena itu tugas seorang guru adalah memilih metode yang tepat untuk digunakandalam menciptakan proses belajar mengajar yang menarik perhatian siswa dan membuat kelas menjadi kondusif ketika belajar.29 2) Sifat-Sifat Materi

Bahan ajar merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Melalui bahan ajar guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode yang tepat sehingga siswa akan mudah dalam belajar.

Metode tersebut hendaklah dilihat dari segi anak, apakah metode tersebut serasi atau sesuai dengan tingkatan anak, karena tingkatan umur sangat menentukan akan kemampuannya dalam menerima pelajran. Dalam pemilihan suatu metode mengajar, pendidik harus memperhatikan kemampuan peserta didik. Maka pada anak MI/SD pelajaran hendaklah diberikan secara konkrit, karena mereka kurang bisa menanggapinya dengan hal-hal yang bersifat abstrak.30

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menyampaikan materi dalam proses belajar mengajar tentunya guru terlebih dahulu mangetahui sifat-sifat materi yang akan diajarkan kepada anak dan harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan anak agar peserta didik dapat memahami dengan jelas.

29 Siti Tarwiyah,”Perana Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatai Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an” dalam repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream,pdf, diakses tanggal 14 Desmber 2019, pukul 15:00.

30Ibid., h .81-82.

3) Kemampuan Guru

Guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman dan keahlian di bidangnya.

Dimana guru harus melihat metode itu dari kemampuannya untuk melaksanakan metode tersebut. sebab tidak semua metode yang sesuai dengan kemampuan seorang guru. bila metode itu kurang mampu dilaksanakan oleh guru, maka suasana kelas tidak hidup atau hasil belajar menjadi kurang efektif.31

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan metode pembelajaran dilihat dari kemampuan guru, agar kegiatan belajar mengajar benar-benar terlaksana dengan baik. Karena dengan suasana kelas yang menyenangkan, siswa tentunya semangat dan akan menghindari hal-hal yang negatif seperti membuat kegaduan atau ngobrol dengan teman sebangku. Sehingga pembelajaran akan mencapai hasil yang diinginkan.

4) Alat, Bahan/Media

Media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar yang dapat membantu guru untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar.

Metode hendaklah dilihat dari segi bahan, apakah sesuai atau tidak. Hal ini tentulah dilihat dari tujuan yang akan dicapai dari bahan tersebut, bahan pengajaran Al-Qur’an pada tingkat MI/SD berkisar pada pengetahuan huruf, tanda-tanda bacaan, hukum bacaan sehingga anak dapat membaca Al-Qur’an dengan benar dan fasih. Untuk itulah perlu disusun bahan tersebut dengan sistematika yang kemudian disajikan dengan metode yang serasi dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.32

31Ibid., h.80.

32Ibid.,h.83-84.

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menyampaikan materi harus menggunakan alat, bahan atau media dalam proses belajar mengajar yakni interaksi antara pendidik dan peserta didik.

Dimana pembelajaran harus menggunakan media yang berbeda-beda, hal ini dapat membangkit semangat anak dalam belajar.

5) Sarana

Prasarana pendidikan merupakan semua komponen yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses belajar mengajar di sekolah.

Metode harus dilihat dari segi alat atau fasilitas, yaitu alat- alat tersebut dapat dipergunakan dalam pemakai metode yang dimaksud. Dalam hal ini termasuk situasi pelajar, apakah serasi dengan metode dan waktu yang tersedia.

dengan kata lain: dalam pemilihan metode atau pemakaiannya seluruh faktor ikut terlibat yang berhubungan satu sama lain secara sikronisasi yang integral. Pada saat inilah guru harus mampu dan mempunyai kebijaksanaan baik dalam pemilihan metode maupun pada waktu menyampaikan bahan pelajaran pada peserta didik.33

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sarana dalam suatu lembaga pendidikan sangat penting karena dalam proses belajar mengajar sarana atau fasilitas tersebut sangat mendukung berjalannya suatu kegiatan terutama dalam hal mengajar. Karena fasilitas dalam sebua lembaga sangat menentukan keberhasilan atau ketercapaian suatu tujuan pembelajaran.

33Ibid.,h.84.