• Tidak ada hasil yang ditemukan

metode guru al-qur'an hadits dalam mengatasi

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "metode guru al-qur'an hadits dalam mengatasi"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

i

METODE GURU AL-QUR’AN HADITS DALAM MENGATASI KESULITAN BACA TULIS AL-QUR’AN SISWA KELAS III MI AL-MADANIYAH JEMPONG BARAT TAHUN PELAJARAN

2019/2020

Oleh

Sufia Tibamani

160106128

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2020

(2)

ii

METODE GURU AL-QUR’AN HADITS DALAM MENGATASI KESULITAN BACA TULIS AL-QUR’AN SISWA KELAS III MI AL-MADANIYAH JEMPONG BARAT TAHUN PELAJARAN

2019/2020 Skripsi

Diajukan kepada Universitas Islam Negeri Mataram untuk melengkapi persyaratan mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Oleh

Sufia Tibamani

160106128

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2020

(3)

iii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi oleh: Sufia Tibamani, NIM: 160106128 dengan judul “Metode Guru Al-Qur’an Hadits Dalam Mengatasi Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Kelas III MI Al-Madaniyah Jempong Barat Tahun Pelajaran 2019/2020” telah memenuhi syarat dan disetujui untuk di- munaqasyahkan.

Disetujui pada tanggal:

Pembimbing I, Pembimbing II,

Drs. H.Ridwan,M.Pd Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag

NIP. 196512311994031020 NIP. 19740126200701010

(4)

iv

NOTA DINAS PEMBIMBING Mataram, Hal : Munaqasyah

Kepada

Yth. Dekan FTK UIN Mataram di-

Mataram

Assalamu’alaikum Wr. Wb

Disampaikan dengan hormat, setelah melakukan bimbingan, arahan dan koreksi maka kami berpendapat bahwa skripsi saudara :

Nama Mahasiswa : Sufia Tibamani

NIM : 160.106.128

Jurusan/Prodi : Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Judul :Metode Guru Al-Qur’an Hadits Dalam Mengatasi

Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Kelas III MI Al-Madaniyah Jempong Barat Tahun Pelajaran 2019/2020.

Telah memenuhi syarat untuk diajukan dalam sidang munaqasyah skripsi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Oleh karena itu, kami berharap agar skripsi ini dapat segerah di munaqasyahkan.

Wassalamu’alaikum, Wr.Wb

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. H.Ridwan,M.Pd Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag

NIP. 196512311994031020 NIP. 19740126200701010

(5)

vi

(6)

vii

MOTTO

Yang artinya : “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”, (Asy- Syarh : 6 ).1

1 Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahannya, Surah Asy- Syarh, (Jakarta Selatan, PT. Pantja Cemerlang, 2018).

(7)

viii PERSEMBAHAN

“Ku persembahkan skripsi ini untuk kedua orang tuaku, semua guru- guruku, dosenku dan almamaterku tercinta”

(8)

ix

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji dan syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi yang berjudul Metode Guru Al-Qur’an Hadits Dalam Mengatasi Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Kelas III MI Al-Madaniyah Jempong Barat Tahun Pelajaran 2019/2020, dapat terselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW.

Penulis menyadari bahwa proses penyelesaian skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan keterlibatan berbagai pihak, oleh karena itu penulis memebrikan penghargaan setinggi-tingginya dan ucapan terimakasih kepada pihak yang telah membantu yakni sebagaiberikut :

1. Drs. H. Ridwan, M.Pd selaku pembimbing I dan Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag selaku pembimbing II, yang senantiasa memberikan masukan dan bimbingan dalam penyusunan skripsi ini.

2. Dr. Ahmad Sulhan, S.Ag., M. Pd.I selaku penguji I dan Ramdhani Sucilestari, M.Pd selaku penguji II, yang telah memberikan saran untuk menyempurnakan skripsi ini.

3. Bapak Dr. H. Ahmad Sulhan, M.Pd.I selaku ketua jurusan dan Bapak Ahmad Khalakul Khairi, M.Ag selaku sekertaris jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah.

4. Dr. Hj. Lubna, M.Pd selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram

5. Prof. Dr. H. Mutawali, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram

(9)

x

6. Kepada semua dosen yang ada di Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Mataram yang telah banyak memberikan ilmu , nasehat serta bimbingan selama menuntut ilmu di UIN Mataram.

7. Kepada Kepala Madrasah, Wali kelas III, beserta Bapak dan Ibu guru MI Al-Madaniyah Jempong Barat telah banyak memberikan dukungan dan bantuan untuk terselesainya penelitian ini

8. Ayahanda Soleman Tibamani dan Ibunda tercinta Djaenab Yunus yang telah memberikan do’a dan dukungan sepenuhnya demi lancarnya penulisan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun dari semua pihak sangat diharapkan demi penyempurnaan berikutnya.

Demikian yang dapat penulis sampaikan sebagai ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkan dan semoga Allah SWT meridhoinya. Aamiin.

Mataram,...2020 Peneliti

Sufia Tibamani

(10)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ...ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

NOTA DINAS ... iv

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... v

PENGESAHAN... vi

MOTTO ...vii

PERSEMBAHAN ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

ABSTRAK ... xv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latara Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

E. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian ... 10

1. RuangLingkup Penelitian ... 10

2. Setting Penelitian ... 10

F. Telaah Pustaka ... 11

G. Kerangka Teori... 15

1. Metode Pembelajaran Al-Qur’an Hadits ... 15

a. Pengertian Metode Pembelajaran Al-Qur’an Hadits... 15

b. Beberapa macam metode Al-Qur’an Hadits ... 16

c. Penentuan pemilihan metode pembelajaran ... 20

2. Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an... 24

a. Pengertian Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an ... 24

b. Langkah-langkah mengajarkan baca tulis Al-Qur’an ... 26

c. Cara-cara mengatasi baca tulis Al-Qur’an bagi siswa ... .. 27

H. Metode Penelitian... .. 29

I. Pendekatan Penelitian ... .. 29

1. Lokasi Penelitian ... .. 31

2. Kehadiran Peneliti ... 31

3. Sumber Data ... 32

a. Sumber Data Primer ... 32

b. Sumber Data Skunder ... 33

4. Prosedur Pengumpulan Data ... 33

(11)

xii

a. Observasi ... 34

b. Wawancara ... 35

c. Dokumentasi ... 36

5. Teknik Analisis Data ... 36

6. Validitas Data ... 37

J. Sistematika Pembahasan ... 38

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 41

A. GambaranUmum Lokasi Penelitian ... 41

B. Metode guru Al-Qur’an hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al- Qur’an ... 47

C. Kendala-kendala yang dihadapi guru Al-Qur’an hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an ... 52

D. Solusi yang digunakan dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an .... 55

BAB III PEMBAHASAN ... 59

A. Metode guru Al-Qur’an hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al- Qur’an ... 59

B. Kendala-kendala yang dihadapi guru Al-Qur’an hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an ... 65

C. Solusi yang digunakan dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an .... 68

BAB IV PENUTUP ... 72

A. Kesimpulan ... 72

B. Saran-saran ... 73 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(12)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Sarana dan Prasarana,44.

Tabel 2.2 Keadaan Peserta Didik,45, Tabel 2.3 Keadaan Guru dan Pegawai,46.

Tabel 2.4 Struktur Organisasi MI Al-Madaniyah,47.

(13)

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Surat Izin Penelitian Dari UIN Mataram,80.

Lampiran 2 Surat Izin Penelitian Dari Balitbang Kota Mataram,81.

Lampiran 3 Surat Keterangan dari sekolah MI A-Madaniyah Jempong Barat,82.

Lampiran 6 Kartu Konsultasi Pembimbing I,85.

Lampiran 7 Kartu Konsultasi Pembimbing II,86.

(14)

xv

METODE GURU AL-QUR’AN HADITS DALAM MENGATASI KESULITAN BACA TULIS AL-QUR’AN SISWA KELAS III MI AL-

MADANIYAH JEMPONG BARAT TAHUN PELAJARAN2019/2020 Oleh

Sufia Tibamani 160.106.128

ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perhatian penulis yang telah melakukan observasi awal di sekolah MI Al-Madaniyah tentang metode guru Al-Qur’an hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an siswa kelas III. Dalam pembelajaran diperlukan rencana yang terarah dan berkesinambungan salah satunya dengan menggunakan metode yang tepat, dimana metode adalah suatu cara yang sistematis untuk mencapai suatu tujuan.

Tujuan penelitian dalam skripsi ini ada tiga hal, yakni 1) Mengetahui metode guru dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an di MI Al- Madaniyah tahun pelajaran 2019/2020. 2) Mengatahui kendala-kendala yang dihadapi guru Al-Qur’an Hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an di MI Al-Madaniyah tahun pelajaran 2019/2020. 3) Mengetahui solusi yang digunakan dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an di MI Al-Madaniyah tahun pelajaran 2019/2020. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Sumber data utamanya adalah guru Al-Qur’an hadits dan siswa kelas III.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Metode guru Al-Qur’an hadits di MI Al-Madaniyah sangat optimal untuk peserta didik terutama di kelas III, dimana guru dituntut untuk menyelesaikan permasalahan yang ada pada diri siswa sehingga menjadi tanggung jawab guru ketika berada di sekolah. 2) Kendala yang dihadapi guru dimana siswa kurang memperhatikan penjelasan guru, kurang minat dalam belajar Al-Qur’an dan siswa memiliki prilaku yang menyimpang, masalah ini karena kurangnya perhatian dari para orang tua terhadap pendidikan anak. 3) Solusi yang ada di MI Al-Madaniyah juga sangat mendukung yakni guru-guru mengadakan pengajian di musollah setiap pagi satu jam sebelum proses belajar mengajar berlangsung, hal ini dilakukan untuk membantu siswa agar mampu membaca Al-Qur’an.

Kata kunci : Metode Guru, Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an.

(15)

xvi

(16)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah suatu aktivitas untuk mengembangkan seluruh aspek kepribadian manusia yang berjalan seumur hidup.2 Serta proses seseorang menjadi dirinya sendiri yang tumbuh sejalan dengan bakat dan kemampuan yang dimilikinya pendidikan berlangsung seumur hidup yang dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan juga masyarakat. Oleh karena itu, dalam proses pendidikan terjadi pengembangan kemampuan terhadap peserta didik melalui bimbingan pengajaran agar tercapai tujuan pendidikan yang seutuhnya sesuai dengan UUD No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada Bab II pasal 3 bahwa:

Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.3

Perwujudan tujuan pendidikan tersebut adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, pemerintah, dan juga peserta didik itu sendiri. Untuk mencapai tujuan pendidikan sesuai dengan undang-undang diatas maka pemerintah harus menyediakan tenaga kependidikan yaitu guru

2 Zuhairini,Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta:PT Bumi Aksara,2012), h. 149.

3Undang-undang Republika Indonesia Nomor:20 Tahun 2003 SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional),(Bab II, Pasal 3), h. 6.

(17)

sebab gurulah yang berperan secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang dalam arti khusus dapat dikatakan bahwa pada setiap diri guru terletak tanggung jawab untuk membawa para siswanya pada suatu kedewasaan atau taraf kematangan tertentu.4

Begitu pentingnya kinerja guru sehingga profesi guru merupakan suatu profesi yang memiliki peran yang sangat kompleks, dimana guru yang memiliki profesi dalam proses pembelajaran tidak hanya mengajar akan tetapi proses pendidikan dilakukan berupa mendidik, mengajar, serta membimbing sebab ketiga kegiatan ini tidak dapat dipisahkan. Guru tidak hanya sebagai pendidik di dalam kelas tapi juga sebagai tauladan di luar kelas.

Membimbing dalam hal ini dapat dikatakan sebagai kegiatan menuntun anak didik dalam perkembangannya dengan jalan memberikan lingkungan dan arah yang sesuai dengan tujuan pendidikan. Sebagai pendidik, guru harus berlaku membimbing, dalam arti menuntun sesuai dengan kaidah yang baik dan mengarahkan perkembangan anak didik sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan serta ikut memecahkan persoalan-persoalan atau kesulitan yang dihadapi anak didik dengan kata lain pendidik adalah memanusiakan manusia.5

Mengajar yakni guru sekedar memberitahu beberapa hal yang belum diketahui anak didik. Dalam hal ini proses membimbing siswa sangat penting terutama bimbingan dan latihan bagi siswa pada bidang atau ilmu keagamaan seperti bimbingan dalam meningkatkan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an. Terutama melalui mata pelajaran Al-Qur;an Hadits di sekolah

4Ibid.,h. 125.

5Sardiman, Interaksi dan Motivai Belajar Mengajar, (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2016), h. 140.

(18)

baik itu di sekolah dasar madrasah, dan juga dipelajari di dua madrasah lanjutan yaitu Tsanawiyah dan Aliyah. Sampai pada perguruan tinggi sebab melalui pelajaran Al-Qur’an Hadits ini sudah pasti, untuk mencapai tujuan pendidikan nasional maupun tujuan hidup siswa itu sendiri, dengan pembelajaran baca Al-Qur’an ini juga mutlak dilakukan sejak dini sehingga menjadi bekal kehidupan di dunia dan di akhirat.

Pelajaran Al-Qur’an Hadits bertujuan agar peserta didik gemar membaca Al-Qur’an Hadits dengan benar, serta mempelajarinya memahami, meyakini kebenarannya dan mengamalkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai petunjuk dan pedoman dalam seluruh aspek kehidupannya. Pembelajaran Baca tulis Al-Qur’an adalah pembelajaran yang sangat penting bagi seluruh umat Islam, karena membaca Al-Qur’an adalah gerbang menuju pengetahuan Islamiah seperti akidah, ibadah, akhlak dan sebagainya.6

Al-Qur’an yakni universal dimana di dalam Al-Qur’an dapat menjelaskan keadaan alam semesta ini. Proses baca ini adalah proses pertama dan utama dalam membuka kunci petunjuk umat Islam tersebut, sebagaimana wahyu yang pertama turun dari Allah kepada umat manusia melalui Nabi Muhammad SAW yaitu:

6 Muhammad Aman Ma’mun, Kajian Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an,Annaba:

Jurnal Pendidikan Islam, Vol.4, No. 1, 1 Maret 2018, h .54.

(19)

Qs Al- Alaq Ayat 1-5 yang berbunyi :

Yang artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS; Al-‘Alaq : 1-5).7

Metode penyampaian wahyu yang pertama dari malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad ini merupakan metode pembelajaran baca Al-Qur’an yang pertama.8 Sehingga pendidik dapat menjadikan contoh untuk memberikan pengajaran yang sesuai bagi peserta didik terutama dalam hal membaca dan menulis Al-Qur’an sehingga lebih efektif.

Salah satu komponen dalam suatu proses belajar mengajar yang mendukung untuk dapat mencapai tujuan tertentu dibutuhkan metode yang tepat, begitu pula pada pembelajaran Al-Qur’an Hadits. Adapun berbagai macam metode membaca Al-Qur’an yang menjadi pilihan sebagai metode yang praktis dan efektif dalam membantu proses pembelajaran membaca Al- Qur’an seperti ; metode baghdadiyah, metode qiro’ati, metode iqro’, metode tartil dan berbagai metode lainnya.

Kurikulum 2013 mata pelajaran pendidikan agama Islam pada madrasah dimaksudkan untuk mengembangkan potensi peserta didik menuju kemampuan dalam berpikir reflektif bagi penyelesaian masalah sosial di

7 Muliawan, Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjamahnya, (Jakarta Selatan:PT Pantja Cemerlang, Qs, Al-‘Alaq ,2018), h. 597.

8Ibid.,h .54.

(20)

masyarakat. Adapun tujuannya adalah mempersiapkan manusia Indonesia agar memiliki kemampuan hidup sebagai pribadi dan warga Negara yang beriman, produktif, inovatif serta mampu berkontribusi pada kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Struktur kelompok mata pelajaran pendidikan agama islam dan bahasa arab dalam kurikulum madrasah meliputih: Al-Qur’an Hadits, Akidah Akhlak, Fikih, Sejarah Kebudayaan Islam dan Bahasa Arab. Masing-masing mata pelajaran tersebut pada dasarnya saling terkait dan melengkapi.9

Mata pelajaran Al-Qur’an Hadits adalah salah satu mata pelajaran PAI yang menekankan pada kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an dan hadits dengan benar. Hal ini sejalan dengan misi pendidikan dasar yakni untuk 1). Mengembangkan potensi dan kapasitas belajar peserta didik yang menyangkut rasa ingin tahu, percaya diri, keterampilan berkomunikasi dan kesadaran diri. 2). Pengembangan kemampuan baca-tulis-hitung dan bernalar, keterampilanhidup, dasar-dasar keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta 3). Pondasi bagi pendidik berikutnya. Adapun tujuan dari pelajaran Al-Qur’an Hadits Madrasah Ibtidaiyah yaitu : a). Memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik dalam membaca, menulis, membiasakan, dan menggemari membaca Al-Qur’an hadits. b). Memberikan pengertian, pemahaman, penghayatan isi kandungan ayat Al-Qur’an hadits melalui keteladanan dan pembiasaan. c). Membina dan membimbing perilaku

9 Keputusan Mentri Agama RI Nomor 165 tahun 2014 tentang,(Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab pada Madrasah, H.1,2,37.

(21)

peserta didik dengan berpedoman pada isi kandungan ayat Al-Qur’an dan hadits.10

Anak-anak diusia SD/MI sangat aktif dan lebih senang bermain. Oleh sebab itu, diperlukan rencana yang terarah, terpadu dan berkesinambungan, salah satunya dengan menentukan metode yang tepat, dimana metode yakni cara ‘atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuanpembelajaran lebih maksimal.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Al-Qur’an Hadist, Ibu Rabiatul Adawiah

Menjelaskan bahwa“Pada kenyataannya siswa kelas III di MI Al- Madaniyah sebagian besar atau 90% siswa yang belum bisa membaca dan menulis Al-Qur’an dengan baik dan benar sesuai makharijul huruf karena sebagian besar siswa yang masih di tingkat Iqro, hal ini karena orang tua siswa kurang memperhatikan anaknya, seolah-olah mereka menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada kami pihak sekolah, sehingga guru-guru juga kewalahan dalam mengatasi hal tersebut, karena melihat siswa yang nakal kurang memperhatikan dan lebih suka bermain dengan teman- temannya dan waktu siswa berada di sekolah lebih sedikit dibandingkan dengan di rumah. Sehingga kami sebagai guru mencoba cara dengan memberikan kesempatan kepada satu persatu siswa untuk membaca dan menulis di depan kelas setiap jam pelajaran Al-Qur’an Hadits. Adapun tindakan lain yang digunakan guru untuk mengatasi permasalahan tersebut kepala sekolah serta guru-guru lain untuk mengadakan rapat terkait dengan mengadakan pengajaran mengaji setiap hari Senin dan Rabu di musholah sekolah satu jam sebelum kegiatan belajar mengajar di mulai, yang dimana siswa dibagi ke dalam dua kelompok yakni kelompok iqro’ dan kelompok Al-Quran, tujuan diadakan pengajian pagi itu untuk dapat membantu guru-guru di kelas untuk mengatasi siswa yang belum bisa Baca tulis Al-Qur’an(BTQ).11

10Ibid., h. 39-40.

11 Rabiatul A,Wawancara,Jempong Barat,30 Agustus 2019.

(22)

Melalui hasil wawancara dan diperkuat dengan observasi awal juga yang dilaksanakan oleh peneliti pada hari Senin 14 Oktober 2019, yang mana peneliti hanya menjadi pengamat dan melihat secara langsung proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang dilaksanakan di ruangan kelas III MI Al- Madaniyah bersama guru Al-Qur’an Hadits Ibu Rabiatul Adawiah yang pada kegiatannya ketika kegiatan belajar berlangsung dan guru menjelaskan materi siswa terlihat saling mengganggu temannya dan tidak memperhatikan penjelasan guru, hanya beberapa diantaranya yang memperhatikan.12

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan oleh peneliti di atas dapat diketahui bahwa kondisi siswa-siswi kelas III MI Al-Madaniyah pada mata pelajaran Al-Qur’an hadits yakni siswa-siswi sebagian besar belum bisa BTQ serta main-main ketika pembelajaran berlangsung. Selain itu juga orang tua dari siswa-siswinya kurang memperhatikan anaknya sehingga anak-anaknya mengalami kesulitan dalam BTQ.

Salah satu indikator rendahnya prestasi belajar siswa adalah nilai yang didapatkan oleh siswa misalnya nilai ulangan harian mata pelajaran Al-Qur’an hadits hanya beberapa yang mencapai nilai KKM. Sedangkan sebagian besar mendapatkan nilai di bawah rata-rata. Nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada mata pelajaran Al-Qur’an hadits yakni 70. Adapun salah satu penyebap rendahnya prestasi siswa kelas III MI Al- Madaniyah adalah kesulitan peserta didik dalam membaca dan menulis

12Rabiatul A,Observasi awal,Jempong Barat, 14 Oktober 2019.

(23)

khususnya pada pembelajaran BTQ dimana sebagian dari siswa masih belum bisa membaca dan menulis huruf Al-Qur’an karena masih ditingkat iqro’. Oleh sebab itu keterampilan guru dalam memadukan metode belajar dengan materi yang akan diajarkan sangat dibutuhkan dalam mengatasi kesulitan siswa dalam BTQ tersebut.13

Berangkat dari uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melihat metode guru dalam mengatasi kesulitan-kesulitan Baca tulis Al- Qur’ansiswa yang pada umumnya dihadapi dalam menyampaikan mata pelajaran Al-Qur’an Hadits, untuk maksud tersebut maka peneliti mengangkat judul Metode Guru Al-Qur’an Hadits Dalam Mengatasi Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Kelas III MI Al-Madaniyah Jempong Barat Tahun Pelajaran 2019/2020.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana metode guru Al-Qur’an hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an di MI Al-Madaniyah Jempong Barat tahun pelajaran 2019/2020?

2. Apa sajakah kendala-kendala yang dihadapi guru Al-Qur’an Hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an di MIAl-Madaniyah Jempong Barat tahun pelajaran 2019/2020 ?

13Dokumentasi Semester Ganjil MI Al-Madaniyah Jempong Barat 07 Maret 2020.

(24)

3. Bagaimana solusi yang digunakan dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an di MI Al-Madaniyah Jempong Barat tahun pelajaran 2019/2020 ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui metode guru Al-Qur’an hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an di MI Al-Madaniyah Jempong Barattahun pelajaran 2019/2020

b. Untuk mengetahui kendala-kendala yang dihadapi guru Al-Qur’an Hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an di MI Al- Madaniyah Jempong Barattahun pelajaran 2019/2020

c. Untuk mengatahui solusi yang digunakan dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an di MI Al-Madaniyah Jempong Barat tahun pelajaran 2019/2020

2. Manfaat Penelitian a. Manfaat Teoretis

Secara teoretis penelitian ini akan memberi wawasan dan pengetahuan di dalam dunia pendidikan, lebih khususnya lagi yakni mengenai metode guru dan masalah kesulitan membaca dan menulis Al-Qur’an siswa pada mata pelajaran Al-Qur’an Hadits. b. Manfaat Praktis

1) Bagi Siswa

(25)

Dengan adanya penelitian ini dapat mengatasi kesulitan siswa dalam membaca dan menulis Al-Qur’an serta meningkatkan kemampuan siswa dalam BTQ tersebut.

2) Bagi Guru

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi atau masukan tentang metode pembelajaran yang efektif untuk mengatasi kesulitan dalam kemampuan membaca dn menulis Al-Qur’an.

3) Bagi Sekolah

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada sekolah agar mendapatkan hasil belajar yang lebih baik, serta mendapat peningkatan terutama pada mata pelajaran Al- Qur’an Hadits terkait dengan Baca tulis Al-Qur’an.

4) Bagi Peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan serta referensi bagi peneliti selanjutnya dan sebagai pemberi informasi serta penelitian lain bisa mendapatkan ide baru untuk menambah wawasan.

D. Ruang Lingkup dan Setting Penelitian 1. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini lebih menfokuskan pada kajian tentang metode guru Al-Qur’an Hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an dan kendala-kendala yang dihadapi guru Al-Qur’an Hadits dalam mengatasi

(26)

kesulitan baca tulis Al-Qur’an, serta solusi yang diberikan dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an siswa kelas III MI Al- Madaniyah Jempong Barat Tahun Pelajaran 2019/2020.

2. Setting Penelitian

Penelitian ini dilakukan di MI Al-Madaniyah Jempong Barat.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana metode guru Al- Qur’an Hadis di MI Al-Madaniyah dalam mengatasi kesulitan membaca danmenulis Al-Qur’an. Sejauh yang peneliti lihat di lokasi bahwa guru di MI Al-Madaniyah belum efektif melaksanakan bimbingan belajar Al- Qur’an untuk mengatasi kesulitan dalam membaca dan menulis Al- Qur’an. Sehingga masih sebagian besar siswa yang belum bisa membaca Al-Qur’an dengan baik sesuai makharijul huruf dikarenakan banyak siswa yang masih di tingkat atau pada tahap Iqro. Hal inilah yang perlu diteliti guna mengatasi kesulitan dalam hal membaca dan menulis Al- Qur’an siswa di MI Al-Madaniyah Jempong Barat. Agar tercapai tujuan pendidikan secara optimal. Hal lainnya yang mendukung bagi peneliti adalah guru Al-Qur’an Hadits sekaligus sebagai wali kelas III yang ada di MI Al-Madaniyah mudah diajak berinteraksi serta lokasi penelitiannya cukup strategis dan mudah dijangkau oleh peneliti.

Dari beberapa alasan tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian di MI Al-Madaniyah Jempong Barat tahun Pelajaran 2019/2020.

(27)

E. Telaah Pustaka

Telaah pustaka merupakan penelaahan terhadap studi terdahulu yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti saat ini.

Adapun judul penelitian yang menjadi telaah pustaka dalam penelitian yakni oleh :

1. Muhammad Mubin,dengan judul skripsi Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Al Qur’an Studi Kasus di SMK Saraswati Salatiga di jurusan pendidikan agama islam IAIN Salatiga.

Hasil penelitiannya adalah Guru sudah melakukan banyak usaha untuk membantu para peserta didiknya yang masih mengalami kesulitan dalam membaca Al Qur’an tapi sebagian dari peserta didik belum ada minat untuk belajar. Sampai sekarang para guru Pendidikan Agama Islam di SMK Saraswati Salatiga masih tetap berusaha untuk menumbuh kembangkan minat peserta didik untuk belajar membaca Al Qur’an. Guru juga telah menggunakan banyak metode yang sesuai dengan karakter anak yang mana motode tersebut sudah sesuai dengan harapan siswa dengan metode Halaqoh atau membuat lingkaran bersama akan membantu siswa untuk belajar mengingat huruf, mengenali dan melafalkan huruf Al Qur’an, disinilah upaya guru sangat penting untuk membimbing dan megarahkan siswa, sebab permasalahan yang dialami peserta didik di sekolah ini sangat beragam.Untuk Solusi mengatasi kesulitan ketika akan membaca Al Qur’an upaya guru di sekolah sangat diperlukan, bisa melalui pemilihan metode mengajar, pemilihan materi ajar, pemilihan tempat

(28)

belajar, membangun komunikasi dengan peserta didik hingga berusaha mengenal latar belakang peserta didik.14

Pada penelitian ini terdapat kemiripan kajian permasalahan yakni Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi KesulitanMembaca Al-Qur’an Studi Kasus di SMK Saraswati Salatiga.

Sedangkan peneliti yang sekarangMetode Guru Al-Qur’an Hadits Dalam Mengatasi Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an siswa-siswi di MI Al- Madaniyah.Metode yang digunakan sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif. Penelitian tersebut dilakukan diSMK Saraswati Salatiga sedangkan peneliti di MI Al-Madaniyah Jempong Barat.

2. Anis Nurwahyuni, dengan judul skripsi Implementasi Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an dengan Metode Al-Tartil di MI Persiapan Negeri Miftahul Huda Turen. Hasil penelitiannya adalah Rencana pembelajaran baca tulis Al-Qur’an dengan metode Al-Tartil disesuaikan dengan RPP telah dirancang oleh pusat. Guru hanya menyesuaikan dengan RPP dan mengatur kondisi siswa dalam kelas sedangkan persiapan yang diperlukan yaitu materi penunjang hafalan pendek, do’a sehari-hari dan menulis arab untuk meningkatkan kualitas kemampuan siswa, setelah melakukan persiapan seperti diatas kemudian masuk materi guru menjelaskan dan siswa menyimak pada buku jilid, setelah itu siswa membaca beberapa kali kemudian menulis dengan memindahkan tulisan di buku jilid ke buku tulis

14Muhammad Mubin, “Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Al Qur’an Studi Kasus di SMK Saraswati Salatiga di jurusan pendidikan agama islam” (Skripsi,IAIN Salatiga,2016),h. 104.

(29)

siswa.Evaluasi pembelajaran baca tulis Al-Qur’an dengan metode Al- Tartil penilaian harian ini dilaksanakan setiap akhir pertemuan pembelajaran siswa dites satu persatu ke depan guru.15

Pada penelitian tersebut kajian permasalahan yang diteliti hampir sama tentang Implementasi Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an dengan Metode Al-Tartil di MI Persiapan Negeri Miftahul Huda Turen.

Sedangkan pada penelitian sekarang Metode Guru Al-Qur’an Hadits Dalam Mengatasi Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an siswa-siswi di MI Al- Madaniyah. Serta penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya dan peneliti sekarang sama-sama menggunakan metode pendekatan kualitatif.

Lokasi yang diteliti peneliti tersebut di MI Persiapan Negeri Miftahul Huda Turen sedangkan peneliti sekarang di MI Al-Madaniyah Jempong Barat.

3. WIKA, dengan judul skripsi Metode Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Di SMA Nusantara Palangka Raya. Hasil penelitiannya adalah Metode Iqro yang digunakan ini dalam implementasinya tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam karena hanya ditekankan pada bacaanya (membaca huruf Al-Qur’an dengan fasih), dan menggunakan CBSA ( cara belajar santri aktif). Guru PAI dalam mengatasi kesulitan belajar baca tulis Al- Qur’an dengan menggunakan metode individual atau privat yaitu

15Anis Nurwahyuni,”Implementasi Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an dengan Metode Al-Tartil di MI Persiapan Negeri Miftahul Huda Turen” (Skripsi, UIN Malik Ibrahim Malang,2018), h.141.

(30)

merupakan strategi untuk mengatur kegiatan belajar mengajar sedemikian rupa sehingga siswa memperoleh perhatian lebih banyak.16

Adapun letak persamaan dari peneliti di atas dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis ialah sama-sama mengkaji tentang bagaimana Mengatasi Kesulitan Belajar Baca Tulis Al-Qur’an Siswa dan sama-sama menggunakan metode penelitian kualitatif. Perbedaannya peneliti di atas menekankan pada metode pendidikan agama islam dalam mengatasi kesulitan belajar baca tulis Al-Qur’an sedangkan peneliti sekarang menekankan Metode Guru Al-Qur’an Hadits Dalam Mengatasi Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an siswa kelas III MI Al-Madaniyah Jempong Barat.

F. Kerangka Teori

1. Metode Pembelajaran Al-Qur’an Hadits

a. Pengertian Metode Pembelajaran Al-Qur’an Hadits

Metode diibaratkan sebagai alat yang dapat digunakan dalam suatu proses pencapaian tujuan. Tanpa metode suatu materi pelajaran tidak akan dapat berproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan pembelajaran menuju tujuan pendidikan.17

Secara etimologi, istilah metode berasal dari bahasa Yunani

“metodos”. Kata ini terdiri dari dua suku kata yaitu “metha”

yang berarti melalui atau melewati dan “hodos” yang berarti jalan atau cara. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia metode adalah “cara yang teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai maksud”, Sehingga dapat disimpulan bahwa metodeadalah suatu

16 WIKA,“Metode Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Baca Tulis Al-Qur’an Siswa Di Sma Nusantara Palangka Raya.(Skripsi, IAIN Palangkaraya, 2016), h. 89.

17www.kompasiana.com/amp/abdul_latifm/diakses tanggal 05 maret 2020,pukul 21:50

(31)

cara yang sistematis yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.18

Pembelajaran secara sederhana dapat diartikan sebagai sebuah usaha mempengaruhi emosi, inteletual dan spiritual seseorang sehingga memiliki kemauan dalam belajar dengan kehendaknya sendiri.

Pembelajaran adalah proses atau usaha yang dilaksanakan oleh pendidik untuk membelajarkan peserta didik dalam aktivitas belajar mengajar, agar para peserta didik paham dengan cara-cara bagaimana belajar memperoleh dan memproses melalui kognitif (pengetahuan), psikomotor(keterampilan)dan afektif (sikap).

Menurut M. Quraish Shihab, Al-Qur’an secara harfiyah berarti bacaan sempurnah. Secara terminology, Al-Qur’an adalah firman Allah swt yang disampaikan oleh Malaikat Jibril dengan redaksi langsung dari Allah swt. Kepada Nabi Muhammad saw.

Dan yang diterima oleh umat islam dari generasi ke generasi tanpa ada perubahan.19

Umumnya pembelajaran Al-Qur’an hadits adalah bagian dari upaya mempersiapkan anak sejak dini agar peserta didik memahami, terampil melaksanakan dan mengamalkan isi kandungan Al-Qur’an hadits melalui pendidikan. Sehubungan dengan itu, maka tujuan pembelajaran Al-Qur’an hadits di MI adalah agar peserta didik, mampu, membaca, menulis, menghafal dan terampil melaksanakan isi kandungan Al-Qur’an hadits dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi orang yang beriman bertakwa kepada Allah swt.20

Berdasarkan beberapa definisi yang dikemukakan para ahli diatas tampaknya saling berhubungan dan saling melengkapi. Jadi

18 Muhammad Aman Ma’mu, Kajian Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an (Jurnal Pendidikan Islam, Vol 4 No 1 Maret 2018),h. 57-61.

19 Anshori, Ulumul Qur’an Kaidah-Kaidah Memahami Firman Tuhan,(Jakarta:PT Rajagrafindo Persada,2013), h.17-18.

20 Ridwan, Pembelajaran Al-Qur’an Hadits Di Madrasah Ibtidaiyah, (Lombok: CV .Elhikam Press Lombok,2016),h.41.

(32)

metode pembelajaran Al-Qur’an yaitu cara-cara ataupun langkah- langkah yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran khususnya pada mata pelajaran Al-Qur’an hadits, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.

b. Beberapa Macam Metode Al-Qur’an Hadits

Metode adalah suatu cara yang sistematis yang harus dilalui untuk mencapai suatu tujuan.

Apabila metode ini dikaitkan dengan pendidikan agama Islam berarti bahwa metode adalah jalan untuk menanamkan pengetahuan agama serta menumbuhkan sikap yang baik kepada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi orang tersebut, yaitu menjadi pribadi yang Islami.21

Dalam mengatasi baca tulis Al-Qur’an, banyak sekali metode yang dapat digunakan. Metode-metode tersebut diciptakan agar dapat membantu pendidik. Adapun beberapa metode yang dilakukan guru dalam membina kemampuan peserta didik dalam membaca Al-Qur’an ialah sebagai berikut:

1) Metode Baghdadiyah

Metode ini merupakan metode yang paling pertama munculditerapkan dan paling lama berkembang di Indonesia, metode yang diterapkan dalam metode ini ialah sebagai berikut:

a) Pertama kali siswa atau santri diajarkan mengenal nama- nama huruf hijaiyyah yaitu dimulai dari huruf alif, ba’, ta’, dan sampai ya’.

21 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam Edisi Baru, (Jakarta:Gaya Media Pratama, 2005), h. 143-144.

(33)

b) Setelah siswa mengenal huruf kemudian diajarkan tanda- tanda baca (harakat) serta bunyi bacaanya. Dalam hal ini siswa ataupun santri dituntun bacaannya secara pelan dan dieja, seperti alif fathah a, alif kasrah i, alif dhammah u, dan seterusnya.

c) Terakhir setelah siswa ataupun santri mempelajari huruf hijaiyah dengan cara-cara diatas barulah siswa diajarkan membaca Al-Qur’an atau juz’amma (juz yang ke-30 dari urutan juz dalam al-Qur‟an).22

Dalam memberikan bimbingan serta pengajaran kepada siswa, tentunya guru memberikan contoh terlebih dahulu kemudian baru diikuti oleh siswa.

Adapun kelebihan dan kekurangannya yaitu sebagai berikut:

a) Siswa akan mudah dalam belajar karena sebelum diberikan materi guru sudah memberikan pengenalan huruf-huruf hijaiyyah, serta telah menghafalnya.

b) Siswayang lancar membaca Al-Qur’an akan cepat melanjutkan pada materi selanjutnya tanpa menunggu teman yang lain.

Adapun kekurangannya yakni sebagai berikut :

a) Membutuhkan waktu yang lama sebab harus menghafal dan mengeja huruf hijaiyyah terlebih dahulu, siswa merasa bosan dan kebanyakan dari siswa yang tidak selesai dalam membaca Al-Qur’an

b) Siswa kurang aktif dalam belajar karena harus mengikuti ustad-ustadzahnya membaca.23

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode Al- Bagdadiyah bertujuan untuk melibatkan peserta didik aktif sejak dimulainya pembelajaran. Untuk meyakinkan dan memastikan bahwa peserta didik mampu menguasai materi pelajaran sehingga siswa diharapkan tidak hanya mampu dalam aspek kognitif saja tetapi juga dalam aspek lainya.

22 Muhammad Aman Ma’mun, Kajian Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an, Jurnal Pendidikan Islam, Vol.4, No. 1, 1 Maret 2018, h. 57.

23Ibid., h. 57-58.

(34)

2) Metode Qiro’ati

Metode Qiro’ati merupakan suatu metode membaca Al-Qur’an yang langsung memasukkan dan mempraktekan bacaan tartil sesuai kaidah ilmu tajwid. Cara mengajarnya untuk jilid 1 dan 2 pengajarannya secara perorang sedangkan jilid 3 sampai 6 pengajarannya secara klasikal namun setiap siswa atau santri diberikesempatan untuk membaca.24 Penggunaan pada metode ini berpusat pada murid serta kenaikan jilid tidak ditentukan bulan/tahundan tidak secara klasikal tapi secara individual.

Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode Qiro’ati yakni sebagai berikut :

a) Dalam mengajar pada metode ini menggunakan ketukan, sehingga dalam membaca yang pendek dibaca pendek dan yang panjang dibaca panjang.

b) Pada metode ini setelah khatam 6 jilid siswa/santri dapat meneruskan lagi bacaan–bacaan ghorib

c) Dalam penerapannya banyak sekali metode yang digunakan.

d) Bagi siswa/santri yang tidak lancar atau tidak lulus maka akan lama karena metode ini lulusnya tidak ditentukan oleh bulan/tahun.25

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam metode Qiro’ati terdapat dua yang mendasari yakni membaca Al-Qur’an secara langsung dan pembiasaan pembacaan dengan tartil sesuai dengan ilmu tajwid.

24Ibid.,h. 58.

25Munzidah,” Implementasi Metode Qiro’ati dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Tulis Al-Qur’an” dalam digilib.uinsby.ac.id/1501/5/BAB%202,pdf, diakses tanggal 30 November 2019, pukul 18:00.

(35)

3) Metode Iqro’

Metode Iqro’ merupan metode membaca Al-Qur'an yang menekankan langsung pada latihan membaca. Adapun buku panduan iqra‟ terdiri dari 6 jilid dimulai dari tingkat yang sederhana, tahap demi tahap sampai pada tingkatan yang sempurna. Pembelajaran membaca al-Qur’an dengan Metode Iqro’ ini dalam prakteknya tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam, karena ditekankan pada bacaannya (membaca huruf Al-Qur’an dengan fasih), bacaan langsung tanpa dieja. Artinya diperkenalkan nama-nama huruf hijaiyah dengan cara belajar siswa aktif (CBSA) dan lebih bersifat individual.26

Adapun kelebihan metode Iqro’ adalah sebagai berikut:

a) Menggunakan metode CBSA, dimana pembelajarannya perpusat pada siswa

b) Dalam penerapannya menggunakan klasikal (membaca secara bersama), privat, maupun cara eksistensi (santri yang lebih tinggi jilid-nya dapat menyimak bacaan temannya yang berjilid rendah).

c) Komunikatif artinya jika santri mampu membaca dengan baik dan benar guru dapat memberikan pujian, perhatian dan hadia.

d) Bila ada santri yang sama tingkat pelajaran-nya, boleh dengan sistem tadarus, secara bergilir membaca sekitar dua baris sedang lainnya menyimak.

e) Bukunya iqro’ ini juga mudah di dapat di toko-toko.

Adapun kekurangan metode Iqro’ adalah sebagai berikut:

a. Siswa kurang tahu bacaan-bacaan dalam ilmu tajwid karena tidak dikenalkan sejak awal pembelajaran

b. Tidak ada media belajar dan tidak pula menggunakan irama murottal.27

26Ibid,h. 58-59.

27Ibid.,h. 60-61.

(36)

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa metode Iqro’

yakni metode membaca Al-Qur’an yang menekankan langsung pada latihan membaca. Dalam implementasinya tidak membutuhkan alat yang bermacam-macam karena hanya ditekankan pada bacaannya dan menggunakan CBSA (cara belajar siswamaktif).

c. Penentuan Pemilihan Metode Pembelajaran

Adapun pemilihan dan penentuan metode pembelajaran dilihat dari, Tujun, Sifat Materi, Kemampuan Guru, Alat/bahan dan Sarana.

Sebagaimana yang akan diuraikan yakni sebagai berikut : 1) Sesuai Tujuan

Sebaik apapun pendidikan, jika tidak didukung dengan metode yang tepat, tujuan tersebut sangat sulit untuk dapat tercapai dengan baik.

Metode harus dilihat dari segi tujuan, apakah dengan pemakaian metode tersebut dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Sebab metode berfungsih sebagai alat untuk mencapai tujuan pengajaran. Karena itu guru hendaklah melihat tujuan apa yang hendak dicapai dari penyajian bahan tersebut. Pengajaran Al-Qur’an, tujuan instruksionalnya adalah supaya peserta didik dapat mengenal dan mengucapkan dengan sebenarnya bacaan Al-Qur’an.28

Siti Tarwiyah mengutip Prof. Dr. Zakiyah Darajat, mendefinisikan bahwa metode adalah suatu cara atau penyampaian bahan pelajaran tertentu dari suatu mata pelajaran agar peserta didik dapat mengetahui, memahami, menggunakan serta dapat menguasai bahan pelajaran tersebut. Karena tidak ada metode mengajar yang

28Ibid., h .82-83.

(37)

lebih baik dari pada metode yang lain. Sebab setiap metode tentunya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing semuaitu tergantung keadaan serta kondisi yang dihadapi. Oleh karena itu tugas seorang guru adalah memilih metode yang tepat untuk digunakandalam menciptakan proses belajar mengajar yang menarik perhatian siswa dan membuat kelas menjadi kondusif ketika belajar.29 2) Sifat-Sifat Materi

Bahan ajar merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Melalui bahan ajar guru akan lebih mudah dalam melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode yang tepat sehingga siswa akan mudah dalam belajar.

Metode tersebut hendaklah dilihat dari segi anak, apakah metode tersebut serasi atau sesuai dengan tingkatan anak, karena tingkatan umur sangat menentukan akan kemampuannya dalam menerima pelajran. Dalam pemilihan suatu metode mengajar, pendidik harus memperhatikan kemampuan peserta didik. Maka pada anak MI/SD pelajaran hendaklah diberikan secara konkrit, karena mereka kurang bisa menanggapinya dengan hal-hal yang bersifat abstrak.30

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menyampaikan materi dalam proses belajar mengajar tentunya guru terlebih dahulu mangetahui sifat-sifat materi yang akan diajarkan kepada anak dan harus disesuaikan dengan tingkat pengetahuan anak agar peserta didik dapat memahami dengan jelas.

29 Siti Tarwiyah,”Perana Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatai Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an” dalam repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream,pdf, diakses tanggal 14 Desmber 2019, pukul 15:00.

30Ibid., h .81-82.

(38)

3) Kemampuan Guru

Guru profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki pengalaman dan keahlian di bidangnya.

Dimana guru harus melihat metode itu dari kemampuannya untuk melaksanakan metode tersebut. sebab tidak semua metode yang sesuai dengan kemampuan seorang guru. bila metode itu kurang mampu dilaksanakan oleh guru, maka suasana kelas tidak hidup atau hasil belajar menjadi kurang efektif.31

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menentukan metode pembelajaran dilihat dari kemampuan guru, agar kegiatan belajar mengajar benar-benar terlaksana dengan baik. Karena dengan suasana kelas yang menyenangkan, siswa tentunya semangat dan akan menghindari hal-hal yang negatif seperti membuat kegaduan atau ngobrol dengan teman sebangku. Sehingga pembelajaran akan mencapai hasil yang diinginkan.

4) Alat, Bahan/Media

Media pembelajaran sebagai salah satu sumber belajar yang dapat membantu guru untuk mengoptimalkan proses belajar mengajar.

Metode hendaklah dilihat dari segi bahan, apakah sesuai atau tidak. Hal ini tentulah dilihat dari tujuan yang akan dicapai dari bahan tersebut, bahan pengajaran Al-Qur’an pada tingkat MI/SD berkisar pada pengetahuan huruf, tanda-tanda bacaan, hukum bacaan sehingga anak dapat membaca Al-Qur’an dengan benar dan fasih. Untuk itulah perlu disusun bahan tersebut dengan sistematika yang kemudian disajikan dengan metode yang serasi dan sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai.32

31Ibid., h.80.

32Ibid.,h.83-84.

(39)

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dalam menyampaikan materi harus menggunakan alat, bahan atau media dalam proses belajar mengajar yakni interaksi antara pendidik dan peserta didik.

Dimana pembelajaran harus menggunakan media yang berbeda-beda, hal ini dapat membangkit semangat anak dalam belajar.

5) Sarana

Prasarana pendidikan merupakan semua komponen yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses belajar mengajar di sekolah.

Metode harus dilihat dari segi alat atau fasilitas, yaitu alat- alat tersebut dapat dipergunakan dalam pemakai metode yang dimaksud. Dalam hal ini termasuk situasi pelajar, apakah serasi dengan metode dan waktu yang tersedia.

dengan kata lain: dalam pemilihan metode atau pemakaiannya seluruh faktor ikut terlibat yang berhubungan satu sama lain secara sikronisasi yang integral. Pada saat inilah guru harus mampu dan mempunyai kebijaksanaan baik dalam pemilihan metode maupun pada waktu menyampaikan bahan pelajaran pada peserta didik.33

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa sarana dalam suatu lembaga pendidikan sangat penting karena dalam proses belajar mengajar sarana atau fasilitas tersebut sangat mendukung berjalannya suatu kegiatan terutama dalam hal mengajar. Karena fasilitas dalam sebua lembaga sangat menentukan keberhasilan atau ketercapaian suatu tujuan pembelajaran.

33Ibid.,h.84.

(40)

2. Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an

a. Pengertian Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an

Kesulitan adalah keadaan sulit, kesukaran, kesulitan. Kata sulit memiliki arti susah diselesaikan atau dikerjakan dan lain sebagainya. Jadi kesulitan baca tulis Al-Qur’an adalah keadaan yangsulit untuk dikerjakan dalam baca tulis Al-Qur’an. Dalam memahami bacaan Al-Qur’an dibutuhkan metode pembelajaran sebagai suatu alat untuk memudahkan dalam membaca Al-Qur’an. Inti dari pengajaran membaca Al-Qur’an ialah suatu usaha memberikan ilmu pengetahuan tentang membaca Al- Qur’an dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid. Siti Tarwiyah mengutip pendapat prof.Dr. ZakiyahDarajat dalam bukunya “Metodik khusus pengajaran agama islam beliau mengatakan bahwa pada umumnya isi dari pembelajaran Al-Qur’an yakni :

1) Pengenalan huruf hijaiyyah dari huruf Alif sampai Ya 2) Cara membunyikan masing-masing huruf hijaiyyah dan

sifat-sifat huruf

3) Bentuk dan fungsi tanda baca misalnya syakal,mad dan tanwin dan sebagainya

4) Bentuk dan fungsi tanda berhenti baca (waqaf), misalnya waqaf mutlak, waqaf mujawwaz dan sebagainya

5) Cara membaca, melakukan dengan bermacam-macam irama.34

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa mengatasi kesulitan baca tulis, tentunya seorang pendidik mengajarkan peserta didik dengan menggunakan bermacam-macam cara seperti pada metode mengajar dan sebagainya, agar peserta didik tidak bosan ketika belajar di dalam kelas. Serta baca tulis Al-Qur’an disini merupakan kegiantan seseorang dalam melisankan serta melambangkan huruf-huruf Al-Qur’an oleh karena itu pendidikan Al-Qur’an merupakan salah satu materi atau

34 Siti Tarwiyah,”Perana Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatai Kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an” dalam repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream,pdf, diakses tanggal 14 Desmber 2019, pukul 20:31.

(41)

bahan pelajaran dalam pendidikan agama islam untuk mengarahkan peserta didik kepada kemampuan membaca, menulis, memahami dan menghayati Al-Qur’an untuk menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Adapun tiga aspek penting yang harus diketahui terkait dengan baca tulis, diantarnya :

1) Baca tulis adalah perkembangan dari keterampilan membaca dan menulis maupun tindakan-tindakan kreatif dan analitis dalam memproduksi dan memahami teks

2) Perkembangan baca tulis telah dimulai sejak lama sebelum anak-anak memulai intruksi formal dalam membaca

3) Belajar baca dan tulis penting bagi keberhasilan anak-anak di sekolah.35

b. Langkah-Langkah Mengajarkan Baca Tulis Al-Qur’an

Dalam mengajarkan Baca Tulis Al-Qur’an tentunya memiliki langakah-langkah yakni sebagai berikut :

1) Sistematikanya

2) Langkah-Langkah Pengajaran Ejaan 3) Mengajarkan Huruf Berbaris Atas/Fathah 4) Menyambung Huruf

5) Mengajarkan Huruf-Huruf Berbaris Kasrah/Bawah 6) Mengajarkan Huruf Berbaris Dhomah/Dapan 7) Mengajarkan Baris Sukun/Mati

8) Mengajarkan Mad,Tanwin, Alif Syamsiah Dan Qomariah 9) Mengajarkan Nama-Nama Huruf

10) Mengajarkan Tanda Baca Mad Dan 11) Mengajarkan Tanwin36

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa dalam pengajaran BTQ tentunya memiliki langkah-langkah yang sistematis oleh karena itu seorang pendidik memiliki tanggung jawab untuk membantu siswa dalam

35Ni gusti ayu made yeni lestari,”Peningkatan Kemampuan Baca Tulis Permulaan Melalui Penggunaan Media Wayang Abjad Kontekstual” (Jurnal Pendidikan Usia Dini, vol 7 edisi 2 November 2013),h. 205-206.

36Ridwan, Pembelajaran Al-Qur’an Hadits Di Madrasah Ibtidaiyah, (Lombok: CV .Elhikam Press Lombok,2016), h. 108-122.

(42)

membaca dan menulis, terutama pada matapelajaran Al-Qur’an Hadits, kedua hal ini merupakan keterampilan dasar yang mempengaruhi kemampuan siswa yang akan membantu mereka menempuh pendidikan kejenjang selanjutnya seperti SMP, MA hingga perguruan tinggi. Namun bagaimana cara mengajarkan membaca dan menulis Al-Qur’an. Disini guru memiliki peran penting dalam Pembelajaran BTQ dengan cara mengajarkan sesuai langkah-langkah tersebut.

Adapun dalam pembelajaran membaca Al-Qur’an perlu dilakukan sejak dini secara terus menerus oleh umat islam agar dapat mengembangkan diri secara sistematis dan menjalani hidup sesuai aturan dengan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya serta dapat menciptakan manusia dengan berakhlak yang baik.

c. Cara-Cara Mengatasi Baca Tulis Al-Qur’an bagi siswa 1) Cara Mengatasi Membaca Al-Qur’an Bagi Siswa

Dengan mengajarkan Al-Qur’an kepada peserta didik dan mendorong, serta memberikan semangat kepada mereka untuk mampu membaca, menulisserta menghafalkannya merupakan sebuah tugas mulia. Seorang guru harus memiliki wawasan ilmiah serta memiliki kreatifitas yang luas dalam hal metode pengajaran yang akan membantunya dalam menunaikan tugas dan tanggung jawab dalam pengajaran sehingga mampu mendapatkan hasil yang terbaik. Begitu pula, seorang pendidik harus membekali dirinya dengan berbagai keterampilan yang dapat mempermudahnya dalam mencapai tujuantanpa

(43)

menimbulkan keburukanatau dampak negatif dalam kondisi kejiwaan peserta didik ataupun masyarakat secara umum.37

Dengan adanya pembinaan kemampuan siswa baca tulis Al- Qur’an masih terdapat kesulitan-kesulitan, maka perlu ditempuh cara- cara untuk mengatasi kesulitan-kesulitan bagi siswa tersebut.

2) Dari Pihak Guru

Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut perperan dalam usaha pembentukan sumber daya manusia yang potensial dibidang pembangunan. oleh karena itu guru yang merupakan salah satu unsurdibidang kependidikan harus berperan serta secara aktif dan menempatkan kedudukannya sebagai tenaga profesional, sesuai dengan tuntutan masyarakat yang semakin berkembang.38

Berhubungan dengan mengatasi kesulitandalam pembinaan baca tulis Al-Qur’an, maka guru harus terus berusaha untuk lebih meningkatkan kemampuan profesionalnya dalam hal mendidik, membimbing, melatih dan mengajarkan peserta didik tersebut. Dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran baca tulis Al-Qur’an.Guru harus mengetahui serta menguasai metode-metode pada pembelajaran yang akan digunakan dalam proses belajar mengajar di kelas, serta guru harus menetapkan berbagai macam metode yangseperti apa yang cocok atau tepat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.39

37 Muhammad Mubin,”Upaya Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Al-Qur’an” dalam repository.perpus.iainsalatiga.ac.id/1944/1/,pdf, diakses tanggal 18 Desmber 2019, pukul 16:10.

38Sardiman, Interaksi dan Motivai Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016), h.125.

39 Elok Sri Wahyuni,”Model Pembelajaran Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ)”dalam etheses.uin-malang.ac.id/4788/,pdf, diakses tanggal 24 Desmber 2019, pukul 10:00.

(44)

3) Dari Pihak Guru dan Kepala Sekolah

Dalam usaha mengedepankan sekolah dan menanggulagi kesulitan-kesulitan yang dialaminya yang bersangkutan dengan pendidikan peserta didik, kepalah sekolah selaku pemimpin dalam lingkungan sekolah perlu melakukan kerja sama dengan guru-guru tersebut.40

Sehubungan dengan mengatasi kesulitan Baca Tulis Al-Qur’an, perlu di adakan rapat antara kepala sekolah maupun guru-guru. Rapat tersebut merupakan pertemuan antara kepala sekolah dan guru-guru yang ada di lingkungan sekolah sebab pada dasarnya berhasil dan tidaknya proses pendidikan dalam salah satu sekolah adalah tanggung jawab bersama. Yang dimaksud disini adalah guru yang lain ikut serta dalam membantu, begitupun sebaliknya. Dalam rapat tersebut guru kelas dapat mengemukakan kesulitan yang dialami dalam penyenglenggaraan pengajaran baca tulis Al-Qur’an di kelas dalam menghadapi siswa dan sebagainya.41

Diadakan rapat tersebut maka dapat ditemukan jalan yang baik untuk memberikan metode dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur’an.

Sehingga masalah pembelajaran tersebut bukan hanya ditanggung olehguru kelas yang bersangkutan, akan tetapi menjadi beban dan tanggung jawab bersama. Sehubungan dengan rapat tersebut pula dapat

40Ibid., h. 56.

41Ibid.,h .57.

(45)

membahas terkait metode guru, tenaga pembinaan, sarana dan prasarana dan lain-lain yang berkaitan dengan baca Tulis Al-Qur’an.

G. Metode Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah salah satu penelitian yang ditunjukkan dalam mendeskripsikan serta menganalisis pristiwa, fenomena, aktivitas sosial, sikap, persepsi dan pemikiran orang secara individual ataupun kelompok. 42

Menurut Bogdan dan Tylor penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis ataupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. Menurut mereka, pendekatan tersebut diarahkan pada latar dan individu secara holistik/utuh.Penelitian kualitatif seperti orang mau piknik, sehingga ia baru tahu tempat yang akan dituju, tetapi belum tentu tahu pasti apa yang ada di tempat itu.

Penelitian kualitatif baru akan jelas setelah terjun langsung kelapangan dan melihat, menganalisis objek tersebut dengan berbagai cara seperti berfikir dan melihat objek dan aktifitas orang yang ada disekelilingnya, melakukan wawancara dan sebagainya.43

Penelitian kualitatif yakni lebih bersifat deskriptif, dan data yang terkumpul berbentuk kata-kata atau gambar dan tidak menekankan pada angka.

Mengenai pendapat di atas bahwa penelitian kualitatif merupakan salah satu proses penelitian yang dilakukan dalam hal untuk

42Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung : Rosdakarya, 2010), h. 60.

43 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 4&27.

(46)

mendapatkan data yang holistik/utuh dengan proses pengumpulan data berupa kata-kata lisan ataupun tulian serta gambar-gambar terkait dengan objek yang diteliti. Sehingga penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena sesuai dengan permasalahan yang akan diteliti yakni tentang metode guru Al-Qur’an hadits dalam mengatasi kesulitan baca tulis Al-Qur’an pada siswa kelas III MI Al-Madaniyah Jempong barat tahun pelajaran 2019/2020.

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ialah di MI Al-Madaniyah jl.H. Naim, Jempong Barat, Kec. Sekarbela, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

3. Kehadiran Peneliti

Kehadiran peneliti dalam penelitian kualitatif dimana peneliti berperan sebagai instrumen kunci secara langsung terlibat di dalam kehidupan subyek yang telah ditentukan dalam penelitiannya. Kehadiran peneliti di lapangan juga merupakan suatau hal yang mutlak, sebab seluruh rangkaian dari penelitian dapat terlaksana dengan baik serta maksimal.

Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrument atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Oleh karena itu peneliti sebagai instrument juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan. validasi terhadap peneliti sebagai instrument meliputi validasi terhadap pemahaman metode penelitian kualitatif, penguasaan wawasan terhadap bidang yang diteliti, kesiapan peneliti untu memasuki obyek penelitian, baik secara akademik maupun logistiknya.44

44Ibid., h. 101.

(47)

Dalam penelitian kualitatif pengumpulan data peneliti harus terjun langsung ke lapangan sebagai obsever atau pengamat agar mendapatkan data yang dibutuhkan untuk bahan penelitian. Namun supaya peneliti ketika dilapangan untuk mendapatkan kemudahan dalam memperoleh data tersebut, maka segala macam syarat serta perizinan terkait dengan penelitian tersebut harus diperoleh terlebih dahulu dari pihak yang berkaitan sesuai dengan prosedur yang berlaku agar penelitian ini dapat berjalan dengan yang diharapkan oleh peneliti.

4. Sumber Data

Sumber data dalam sebuah penelitian ialah subyek dimana data tersebut dapat diperoleh. Menurut Lofland dalam Lexi J. Moleong bahwa : Sumber data utama pada penelitian kualitatif ialah berupa kata-kata serta tindakan, selebihnya data tambahan yang didapatkan dari dokumen dan sebagainya45

Jadi terkait dengan penjelasan di atas bahwa sumber data dalam penelitian kualitatif, data-data yang dapat diperoleh yakni melalui kata- kata.

Sedangkan menurut pendapat lain bahwa Ketika penelitian tersebut menggunakan kuesioner dalam pengumpulan data maka sumber data disebut responden, sedangkan penelitian menggunakan dokumentasi, maka dokumen maupun catatan yang disebut sumber data.46

Dalam penelitian disini, sumber data yang akan digunakan adalah:

45Lexi J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung:PTRemaja Rosdakarya,2010),h. 157.

46Suharsini Arikunto,Prosedur Penelitian, (Jakarta :Rineka Cipta, 2002), h. 107.

(48)

a. Sumber Data Primer

Adapun sumber data dalam penelitian adalah didapatkan langsung dari sumber yang asli tanpa mendapatkan dari perantara manapun.

Sumber data primer merupakan yang didapat dari sumber pertama baik dari individu atau perseorangan seperti hasil dari wawancara atau hasil pengisian koesioner yang biasa dilakukan oleh peneliti47

Sehingga terdapat dua metode atau cara yang peneliti gunakan dalam pengumpulan data primer, yaitu dengan cara survey dan observasi.

b. Sumber Data Sekunder

“Sumber data sekunder merupakan pengambilan data melalui tangan kedua”.48“Adapun menurut Sugiono menyatakan bahwa sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data”.49

Jadi data dari sumber primer adalah sumber data pokok atau asli yang langsung dikumpulkan dari lapangan oleh peneliti, berbeda dengan data sumber sekunder adalah data primer yang telah diolah terlebih dahulu yang didapatkan dari tangan kedua atau merupakan data tidak langsung.

47 Husein, Umar Metode Penelitian Untuk Skripsi Dan Thesis Bisnis, (Jakarta:

Rajawali Pers, 2011), h. 42.

48Ibid.,h 24.

49 Sugiono, Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif Dan Kombinasi,(Mixed Methods),(Bandung:Alfabeta,2014), h.187.

Gambar

Tabel 2.1 Sarana dan Prasarana,44.

Referensi

Dokumen terkait

PENUTUP 6.1 Simpulan Berdasarkan pokok permasalahan dan tujuan penelitian ini, maka hasil penelitian analis data dan pembahasan, dapat diperoleh simpulan yang berkaitan dengan