BAB III METODE PENELITIAN
B. Lokasi Penelitian dan Objek Penelitian
Penelitian ini, penulis memilih Sekolah Dasar Negeri Mannuruki Jl. Sultan Alauddin. 2. Nomor 37, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. sebagai obyek penelitian sekolah yang didasarkan pada:
1. Kualitas lokasi yang merupakan salah satu SDN yang punya sarana dan prasarana yang memadai.
2. SDN Mannuruki merupakan salah satu pendidikan Sekolah Dasar yang sangat memperhatikan perkembangan pengetahuan agama pada peserta didiknya.
3. Penanaman nilai-nilai akhlak mulia pada peserta didik merupakan salah satu pengembangan kurikulum di SDN Mannuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
C. Fokus Penelitian 1. Metode Bercerita
2. Penanaman Akhlak Mulia D. Deskripsi Fokus Penelitian
Untuk menghindari kesalahpahaman dan untuk menyamakan persepsi, maka terlebih dahulu penulis mengemukakan deskripsi fokus penelitian yang akan dikaji:
1. Metode Bercerita
Metode digunakan sebagai suatu cara dalam menyampaikan suatu pesan atau materi pelajaran kepada anak didik. Metode mengajar yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya suatu proses belajar mengajar sehingga banyak waktu dan tenaga terbuang sia-sia. Oleh karena itu metode yang diterapkan oleh guru baru berhasil, jika mampu dipergunakan untuk mencapai tujuan. Ahmad Tafsir memberikan pengertian bahwa metode adalah cara yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu.
Metode bercerita merupakan salah satu metode yang banyak digunakan di Taman Kanak-kanak. Sebagai suatu metode bercerita mengundang perhatian anak terhadap pendidik sesuai dengan tema pembelajaran. Bila isi cerita dikaitkan dengan dunia kehidupan anak di Sekolah Dasar, maka mereka dapat memahami
isi cerita itu, mereka akan mendengarkannya dengan penuh perhatian, dan dengan mudah dapat menangkap isi cerita.
2. Akhlak Mulia
Kata akhlak berasal dari bahasa arab, jamak dari khulu-qu-n yang menurut bahasa berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku dan tabiat. Tabiat atau watak dilahirkan karena hasil perbuatan yang diulang-ulang sehingga menjadi biasa.
Perkataan akhlak sering disebut kesusilaan, sopan santun dalam bahasa Indonesia;
moral, ethnic dalam bahasa inggris, dan ethos, ethios dalam bahasa yunani. Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan kha-lqu-n yang berarti kejadian, yang juga erat hubungannya dengan kha-li-q yang berarti pencipta masyarakat, sebenarnya telah dicakup oleh disiplin akhlak dalam islam secara integrative, sempurna dan bahkan mendapat nilai tambah. Dengan demikian dari definisi pendidikan dan akhlak di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan akhlak adalah usaha sadar dan tidak sadar yang dilakukan oleh seorang pendidik secara continue dengan tidak ada paksaan dari pihak manapun.
E. Sumber Data
1. Sumber data primer
Sumber data primer adalah data yang diperoleh Langsung dari lapangan atau sebagai tempat penelitian yang ingin kita teliti. Sedangkan sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan yang diperoleh dari lapangan dengan mewawancarai langsung satu guru Pendidikan Agama Islam dan mengamati peserta didik yang terpilih sebagai infoorman. Peneliti menggunakan data ini untuk mendapatkan informasi langsung tentang “Penerapan Metode
Cerita Bernuansa Islami Dalam Menanamkan Aklak Mulia Siswa Di Sekolah Dasar Negeri Manuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar”. Sumber data utama (primer), yaitu data yang diambil peneliti melalui wawancara, guru pendidkan agama Islam dan peserta didik.
2. Sumber data sekunder
Data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen.50 Data sekunder juga dapat berupa majalah, buletin, hasil survey, studi historis, dan sebagainya.
F. Instrumen Penelitian
Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai pengumpul data utama, hal ini dilakukan karena peneliti memahami kaitan kenyataan- kenyataan di lapangan seperti interaksi antar objek dan subjek. Peneliti sebagai perencana, pelaksana, menganalisis, menafsirkan hingga pelaporan hasil penelitian. Penelitian juga menggunakan instrumen bantuan seperti kamera, daftar catatan dan alat tulis.
1. Pedoman Observasi
Yaitu berupa teknik yang digunakan sebagai pencatat dalam melaksanakan observasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan keterangan di atas teknik observasi sangat sederhana tidak membutuhkan biaya yang terlalu besar. Berhubungan dengan penelitian penulis, observasi ini merupakan langkah
50Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D, (Cet. 27; Bandung: Alfabeta, 2017), h. 225.
awal untuk mendapatkan informasi tentang apa yang akan diteliti. Dalam observasi ini peneliti menggunakan kamera untuk merekam kejadian yang penting suatu peristiwa baik dalam bentuk foto ataupun video.
2. Pedoman Wawancara
Wawancara adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya. Wawancara ini digunakan bila ingin mengetahui hal-hal yang responden secara lebih mendalam serta jumlah responden sedikit. Adapun wawancara yang akan digunnkan dalam penelitian ini adalah wawancara bebas terpimpin. Dalam pelaksanaanya pewawancara membawa pedoman yang hanya merupakan garis besar tentang hal-hal yang akan dinyatakan.
Merupakan satu teknik pengumpulan data yang dilakukan secara langsung melalui tanya jawab secara lisan dengan narasumber. Peneliti melakukan wawancara dengan guru pendidikan agama Islam, informan diberikan beberapa pertanyaan terkait dengan “Penerapan Metode Bercerita Dalam Penanaman Akhlak Mulia Siswa Di Sekolah Dasar Negeri Manuruki, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar”. Dengan menggunakan alat pendukung dalamwawancara berupa buku catatan, kamera, tape recorder, kemudian mencatat hasil wawancara.
3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Pada tahap ini peneliti meminta beberapa dari staf di Sekolah Dasar Negeri Manuruki, tentunya berkait dengan kegiatan yang akan diteliti.
G. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara:
Riset lapangan, yaitu cara pengumpulan data dengan penulis turun langsung ke
lapangan. Oleh karena itu data yang dikumpulkan ini bersifat empiris. Kemudian dalam penelitian lapangan ini penulis menggunakan teknik-teknik pengumpulan data, sebagai berikut;
1. Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki.
2. Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal yaitu semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi.
3. Dokumentasi adalah mencatat semua data secara langsung dari referensi yang membahas tentang objek peneliitian.51
H. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. Analisis data merupakan rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran dan ferifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademis dan ilmiah.
Analisis data ini dilakukan setelah data yang diperoleh dari sample melalui instrumen yang dipilih dan akan digunakan untuk menjawab masalah dalam penelitian atau untuk menguji hipotesa yang diajukan melalui penyajian data.
Data yang diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi disusun dengan berkelompok dengan berkelompok sesuai dengan rumusan masalah, baru
51Burhan Bungin,Penelitian Kualitatif Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik dan Ilmu sosial lainnya. (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h. 121.
kemudian dilakukan analisis dengan pendekatan kualitatif. Analisa ini dilakukan dengan tehnik analisis induktif.
Analisis induktif adalah pengambilan kesimpulan dimulai dari analisis berbagai data yang terhimpun dari suatu penelitian, kemudian bergerak kearah pembentukan kesimpulan kategoris atau ciri-ciri umum tertentu.52 Oleh karena itu, tehnik analisis induktif ini dimulai dari pekerjaan klasifikasi data. Dalam konteks ini penulis berusaha menggali data-data dari lapangan yang selanjutnya dipaparkan dalam suatu paparan data kemudian dianalisi dengan tehnik induktif ini.
52Burhan Bungin, 2001, Metodologi Penelitian Sosial Surabaya: Airlangga Universitas Press, h. 290.
43 BAB IV
HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Identitas Sekolah
Identitas sekolah merupakan jati diri yang dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan yang bertujuan agar dikenali seperti halnya pada SD Negeri Mannuruki.
Nama Sekolah : SD NEGERI MANNURUKI
NPSN : 40307196
Jenjang Pendidikan : SD Status Sekolah : Negeri
Alamat Sekolah : Jl.sultan Alauddin 11 No.37
RT / RW : 2/7
Kode Pos : 90221
Kelurahan : Mangasa
Kecamatan : Kec. Tamalate
Kabupaten/Kota : Kota Makassar
Provinsi : Prov. Sulawesi Selatan
Negara : Indonesia
Posisi Geografis : -5.1794 Lintang / 119.4369 Bujur Nomor Telepon : 0411881045
Website: -53 - Email: [email protected]
53Arsip Bagian Umum Tata Usaha SD Negeri Mannuruki
2. Visi dan Misi a. Visi
Terwujudnya sekolah yang unggul, berlandaskan keimanan, ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya dan berwawasan lingkungan.
b. Misi
1) Menyiapkan sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan yang berkualitas.
2) Menghasilkan lulusan sekolah yang berkualitas, bersaing dengan satuan pendidikan yang sederajat.
3) Menyelenggarakan proses pendidikan dan pembelajaran berbasis teknologi dan multimedia.
4) Warga sekolah yang patuh, amanah menjalankan ajaran agama yang dianut, tata tertib dan aturan-aturan sekolah.
5) Menjadikan sekolah sebagai sumber pendidikan dan pembelajaran tentang lingkungan yang sehat dan ramah anak.
6) Mendorong partisipasi warga sekolah dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang hijau, indah, dan asri.
7) Mengelolah sampah sekolah menjadi barang yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
8) Menciptakan sekolah yang bebas polusi, aman, sanitasi yang baik dan bebas banjir.
c. Tujuan Pendidikan
1) Tersedianya pendidik dan tenaga kependidikan yang memiliki kompetensi yang berkualitas dan profesional.
2) Peserta didik memenuhi standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang mampu bersaing dengan sekolah sederajat.
3) Prosess pendidikan, pembelajaran yang berkualitas sesuai dengan tuntutan zaman.
4) Mewujudkan Warga Sekolah yang berdisiplin tinggi dan mampu mengamalkan nilai-nilai keagamaan sesuai ajaran yang dianutnya.
5) Mewujudkan lingkungan sekolah yang kondusif, nyaman dan ramah anak.
6) Agar warga sekolah dapat ikut bertanggung jawab dan memiliki rasa kecintaan terhadap pemeliharaan lingkungan sekolah.
7) Melatih siswa mengolah sampah agar bernilai ekonomi, pendidikan, pengomposan, dan mendirikan bank sampah.
8) Menciptakan sekolah yang sehat, aman dan nyaman dan berwawasan lingkungan.
3. Fasilitas Sekolah
Fasilitas pembelajaran baik sarana dan juga prasarana yang dimiliki SDN Mannuruki terdiri dari:
a. Prasarana
Lapangan Sekolah, Ruang Kelas III, Ruang Kamar mandi (WC), Ruang Kantor, Ruang Kelas I, Ruang Kelas II, Ruang Kelas IV, Ruang Kelas V, Ruang Kelas VI, Ruang Penjaga Sekolah.54
b. Sarana
Tabel 1: Fasilitas di SD Negeri Mannuruki
No Jenis Sarana Letak Keterangan
1 Tiang Bendera Lapangan Sekolah Baik
2 Bendera Lapangan Sekolah Baik
3 Pengeras Suara Lapangan Sekolah Baik
4 Tape Recorder Lapangan Sekolah Baik
5 Peralatan Atletik Lapangan Sekolah Baik
6 Peralatan Bola Basket Lapangan Sekolah Baik 7 Peralatan Bola Voli Lapangan Sekolah Baik 8 Peralatan Ketrampilan Lapangan Sekolah Baik
9 Meja Siswa Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
10 Kursi Siswa Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
11 Meja Guru Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
12 Kursi Guru Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
13 Papan Tulis Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
14 Lemari Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
15 Rak hasil karya peserta didik Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Kurang Baik
16 Tempat Sampah Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
17 Tempat cuci tangan Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
18 Jam Dinding Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
19 Kotak kontak Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Kurang Baik
54Arsip Bagian Umum Tata Usaha SD Negeri Mannuruki
20 Alat Peraga Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
21 Papan Pajang Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
22 Soket Listrik Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
23 Soket Listrik/Kotak Kontak Ruang Kelas
I,II,III,IV,V,VI. Baik
24 Tempat Sampah Ruang kamar mandi
(WC) Baik
25 Kloset Jongkok Ruang kamar mandi
(WC) Baik
26 Tempat Air (Bak) Ruang kamar mandi
(WC) Baik
27 Gayung Ruang kamar mandi
(WC) Baik
28 Gantungan Pakaian Ruang kamar mandi
(WC) Baik
29 Gayung (Small Bucket) Ruang kamar mandi
(WC) Baik
30 Gayung Air Ruang kamar mandi
(WC) Baik
31 Tempat Air Ruang kamar mandi
(WC) Baik
4. Keadaan Guru
Tabel 2: Data Guru SD Negeri Mannuruki
No Nama JK Status
Kepegawaian
PENDI DIKA
N
GURU MAPEL
1 Adriani Abbas P PNS S1 Pendidikan Agama
Islam
2 Chahyadin,s.pd L PNS S1
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
3 Faidah Syarifuddin P PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
4 Fitrah Budi L PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
5 Haikal L Honor Daerah
TK.II Kab/Kota S1
6 Hasim L Tenaga Honor
Sekolah
SMA / sederajat
7 Jusnaedah P Honor Daerah
TK.II Kab/Kota D2
Muatan Lokal Bahasa Daerah
5. Keadaan Peserta didik
Table 3: Data Peserta Didik SD Negeri Mannuruki Berdasarkan Jenis Kelamin.
Laki-Laki Perempuan Total
218 170 388
Table 4: Data Peserta Didik SD Negeri Mannuruki Berdasarkan Tingkatan Kelas.
Tingkat Pendidikan L P Total
Tingkat 1 39 24 63
Tingkat 2 36 31 67
Tingkat 3 32 24 56
Tingkat 4 30 24 54
Tingkat 5 44 38 82
Tingkat 6 37 29 66
Total 218 170 388
8 Kamsinah P PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
9 Mantasia P PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
10 Muhammad Arfin L Honor Daerah
TK.II Kab/Kota S2
Pendidikan Agama Islam
11 Muhammad
Hidayat L Honor Daerah
TK.II Kab/Kota S2
Pendidikan Agama Islam
12 Neneng Nur Endah P PNS S2 Kepala Sekola
13 Nurhabibi P PNS S2 Guru Kelas SD/MI/SLB
14 Nurmala Tasrif P PNS D2 Seni dan Budaya
15 Rachmi P PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
16 Rika P Honor Daerah
TK.II Kab/Kota S1
Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan
17 Risnah P PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
18 Sitti Saniasa, S.pd P PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB 19 St. Nurhaida
Sampo P PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
20 St.nuraeni P PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
21 Sudirman L PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
22 Supiati,s.pd P PNS S1 Guru Kelas SD/MI/SLB
B. Konsep Penerapan Metode Bercerita dalam Penanaman Akhlak Mulia Peserta Didik di SD Negeri Mannuruki
Pembahasan terdahulu yang telah dikemukakan pada BAB II dan BAB III baik yang bersifat teori maupun data yang telah dihimpun melalui pengumpulan data secara observasi dan wawancara, maka dalam BAB IV ini menganalisa data yang bersifat kualitatif.
Dikarenakan peneliti melakukan penelitian berdasarkan masalah yang ada dilapangan, maka analisis yang peneliti lihat adalah hal-hal yang berkaitan dengan masalah penerapan metode bercerita dalam penanaman akhlak mulia peserta didik di SD Negeri Mannuruki.
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya bahwa metode bercerita adalah menuturkan atau menyampaikan cerita secara lisan kepada peserta didik sehingga dengan cerita tersebut dapat disampaikan pesan-pesan yang baik.
Metode bercerita juga merupakan salah satu metode yang banyak digunakan di sekolah tingkat dasar. Sebagai suatu metode bercerita mengundang perhatian peserta didik terhadap pendidikan sesuai dengan tema pelajaran. Dalam proses pembelajaran, pendidik memegang peran yang sangat penting dalam proses penerapan metode bercerita sehingga dapat menentukan berhasil tidaknya dalam proses pembelajaran dan penanaman akhlak mulia pada peserta didik.
Wawancara dengan Bapak Muhammad Arfin selaku guru pendidikan agama Islam di SD Negeri Mannuruki mengatakan bahwa:
Jadi yang saya pahami tentang metode bercerita adalah suatu proses kita mengenalkan peserta didik tentang sejarah-sejarah atau kisah yang mana kita mampu membekali peserta didik dengan kisah itu sehingga paradigma peserta didik tertanam bahwa dengan cerita itu peserta didik dapat membuka wawasannya, jadi orientasinya bahwa bagaimana peserta didik
dapat memahami dengan mudah dan menumbuhkan semangat dan motivasi peserta didik melalui metode bercerita tersebut.55
Wawancara dengan Ibu Sitti Saniasa selaku guru kelas di SD Negeri Mannuruki mengatakan bahwa:
Yang saya pahami itu bahwa metode bercerita mampu menumbuhkan daya tarik kepada siswa yang dapat menyentuh jiwa mereka langsung sehingga simpati peserta didik terhadap materi yang diberikan dapat kita rasakan dalam proses pembelajaran metode bercerita yang kita sampaikan.56
Hasil wawancara dari kedua narasumber di atas maka peneliti dapat mengambil kesimpulan yang sama bahawa metode bercerita sangat efektif digunakan dalam proses pembelajaran sebab dengan itu, seorang pendidik lebih mudah untuk memberi pemahaman dan membuka wawasan peserta didik terhadap meteri yang diberikan dalam proses pembelajaran, sehingga peserta didik juga dapat mengamalkan nilai-nilai moral atau akhlak mulia yang terdapat dalam sebuah cerita atau kisah yang dibawakan oleh guru tersebut selain itu juga dapat menumbuhkan motivasi peserta didik.
Data yang diperoleh melalui wawancara terhadap guru pendidikan agama Islam dan guru kelas di SD Negeri Mannuruki, maka dapat diketahui tentang pemahaman guru terhadap metode bercerita telah sesuai dengan yang telah dijelaskan dalam buku Abudin Nata yaitu seabagai berikut:
Metode bercerita adalah suatu metode yang mempunyai daya tarik yang menyentuh perasaan anak. Islam menyadari sifat alamiah manusia untuk menyenangi cerita yang pengaruhnya besar terhadap perasaan. Oleh karenanya, dijadikan salah satu teknik pendidikan.57
55Muhammad Arfin A.Md, S.Ag, M.Pd. Guru PAI (Wawancara Daring, 15-07-2020)
56Sitti Saniasa, S.Pd. Guru Kelas dan Wali Kelas (Wawancara, 17-07-2020)
57Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Cet.ke-4; Jaklarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), h. 97.
Selain tugas utama seorang guru memahami tentang penerapan metode bercerita dalam proses pembelajaran maka sangat diupayakan juga seorang guru untuk mempersiapkan beberapa konsep sebelum guru memasuki ruang kelas.
Wawancara dengan Bapak Muhammad Arfin selaku guru pendidikan agama Islam di SD Negeri Mannuruki mengatakan bahwa:
Jadi sebelum kita masuk ke ruang kelas memang seharusnya sebagai seorang guru yang professional bahan pembelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didik itu sudah dikonsep pada saat malamnya baik dalam bentuk kita melihat sumber referensi seperti buku siroh nabawiyah atau buku kisah-kisah para sahabat ataukah jika memang ada kolerasi dengan al-Qur‟an dan hadist bisa kita buka dan tentunya pasti mengacu pada RPP.58
Wawancara dengan Ibu Sitti Saniasa selaku guru kelas di SD Negeri Mannuruki mengatakan bahwa:
Untuk konsep awal yang saya lakukan sebelum masuk ke ruang kelas dan menerapakan metode bercerita tentu merujuk pada RPP yang telah saya buat dan mempersiapkan beberapa bahan ajar yang akan saya terapkan dalam proses pembelajaran salain itu saya juga memepersiapkan beberapa alat peraga yang akan membantu saya dan lebih memudahkan saya untuk proses pembelajaran penerapan metode bercerita.59
Berjalannya sebuah proses pembelajaran dengan baik dikarenakan oleh persiapan yang matang dan terencana ada beberapa media juga sangat berperan dalam proses penerapan metode cerita agar lebih memudahkan guru dalam pembelajaran tersebut.
Berdasarkan dari hasil wawancara kedua narasumber diatas maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa seperti yang dikatakan oleh Bapak Muhammad Arfin selaku guru pendidikan agama Islam di SD Negeri Mannuruki konsep awal
58Muhammad Arfin A.Md, S.Ag, M.Pd. Guru PAI (Wawancara Daring, 15-07-2020)
59Sitti Saniasa, S.Pd. Guru Kelas dan Wali Kelas (Wawancara, 17-07-2020)
yang beliau lakukan sebelum masuk ke ruang kelas adalah mempersiapkan beberapa bahan ajar dalam bentuk buku yang digunakan sebagai referensi dalam proses penerapan metode bercerita dan yang tentunya mengacu pada RPP, dikarenakan beliau adalah seorang guru yang memegang mata pelajaran pendidikan agama islam tentu beliau memiliki peran besar dalam pembinaan dan penanaman akhlak mulia peserta didik maka sebagai bentuk suri tauladan terbaik manusia khususnya ummat muslim Bapak arfin lebih dominan menceritakan kisah para nabi dan sahabat nabi kepada peserta didik yang bersumber pada buku siroh nabawiyah atau buku kisah-kisah para sahabat serta al-Qur‟an dan kitab hadist yang berkaitan dengan materi yang terdapat dalam RPP.
Kesimpulan yang dapat diambil dari wawancara Ibu Sitti Saniasa selaku guru kelas di SD Negeri Mannuruki, konsep awal yang beliau lakukan adalah tidak jauh berbeda dengan apa yg dilakukan oleh bapak Muhammad Arfin dan tentu semua guru melakukan persiapan awal berdasarkan dengan RPP yang telah dibuat namun yang membedakan yaitu bentuk persiapannya dalam proses penerapan metode bercerita, sebab mata pelajaran yang dibawakan oleh setiap guru itu berbeda-beda, khususnya selaku guru kelas tentu banyak mata pelajaran yang perlu dikuasai kemudian dari setiap mata pelajaran tersebut memiliki metode dan strategi yang berbeda-beda dalam proses pembelajarannya.
Jadi hal-hal yang sering dipersiapkan sebelum memasuki ruang kelas, Ibu Sitti Saniasa lebih banyak mempersiapkan bahan ajar berupa buku yang berkaitan dengan materi, alat peraga dan media yang berupa audio visual yang dapat membantu proses pembelajaran berjalan dengan baik dan dalam metode bercerita
yang mengunakan alat peraga atau media peserta didik lebih mudah untuk memahami materi yang sedang diberikan.
Adapun jenis penyampaian materi bercerita yang disampaikan pada saat proses pembelajaran oleh guru yaitu:
Wawancara dengan Bapak Muhammad Arfin selaku guru pendidikan agama Islam di SD Negeri Mannuruki mengatakan bahwa:
Apabila saya akan mengajar, maka terlebih dahulu saya telah mempersiapkan materi ajar yang akan disampaikan kepada peserta didik lalu saya memilih salah satu tema yang telah dipersiapakan dengan baik dan bahan cerita yang saya sampaikan tentu berdasarkan pada kompetensi dasar yang telah dipersiapkan, untuk jenis materi yang saya sampaikan dalam metode bercerita biasanya ada beberapa fokus pembahasan materi kisah yang bermakna pada tokoh yang berpengaruh dengan segala perjuangannya dan kisah yang relevansi berkaitan dengan lingkungan atau tema aqidah akhlak yaitu seperti kisah para Nabi atau cerita tokoh dalam al-Qur‟an.60
Terkhusus dalam pembelajaran pendidikan agama islam tidak pernah terlepas dari al-Quran dan hadist namun sebagai suatu proses pembelajaran untuk menanamkan akhlak mulia peserta didik sebagai suri tauladan terbaik, tokoh para orang-orang sholeh terdahulu juga merupakan hal penting dalam sebuah pembahasan materi cerita yang disampaikan.
Wawancara dengan Ibu Sitti Saniasa selaku guru kelas di SD Negeri Mannuruki mengatakan bahwa:
Jadi jenis materi pelajaran yang saya sampaikan selaku guru kelas adalah yang mencangkup pada bidang prilaku peserta didik yaitu dalam pembinaan akhlak peserta didik, pengamalan nilai-nilai akhlak, pendidikan moral yang biasa terdapat dalam mata pelajaran PKN, keimanan dan ketaqwaan, kedisiplinan, dan kemampuan bermasyarakat atau bersosialisasi, namun dalam jenis penyampaian materi bercerita tentu yang
60Muhammad Arfin A.Md, S.Ag, M.Pd. Guru PAI (Wawancara Daring, 15-07-2020)