• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pencatatan

2.5.6. Cara Penghitungan Pajak Penghasilan

2.5.6.2. Metode Pencatatan

Pencatatan adalah pengumpulan data secara teratur tentang peredaran bruto atau penerimaan penghasilan bruto sebagai dasar untuk menghitung jumlah pajak yang terutang, trermasuk penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau yang dikenai pajak yang bersifat final.

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa Wajib Pajak yang dikecualikan dari kewajiban pembukuan terdiri dari dua golongan, yaitu:

1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas (Kuadran U dan P) yang memenuhi syarat kuantitatif dan kualitatif, dan menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan diperbolehkan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.

Syarat kuantitatif pencatatan bagi kuadran U dan P adalah peredaran usaha atau penerimaan brutonya dalam satu tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00.

Sedangkan syarat kualitatifnya adalah keharusan memberitahukan penggunaan Norma Penghitungan Penghasilan Neto kepada Direktur Jenderal Pajak dalam jangka waktu tiga bulan pertama tahun pajak bersangkutan.

2. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, yaitu Wajib Pajak kuadran K dan I.

Pengecualian dari kewajiban penyelenggaraan pembukuan bagi dua kuadran ini tidak memerlukan syarat apapun seperti batasan penghasilan bruto (kuantitatif) atau syarat pemberitahuan di muka (kualitatif).

Tujuan pencatatan bagi Wajib Pajak adalah:

1. Mempermudah pengisian SPT;

2. Mempermudah penghitungan Penghasilan Kena Pajak;

3. Mempermudah penghitungan PPN dan PPnBM.

Sesuai dengan peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.197/PMK.03/2007 tentang Bentuk dan Tata cara Pencatatan bagi WPOP : 1. Pencatatan yang dibuat harus dibuat secara lengkap dan benar, serta didukung

dengan dokumen yang dijadikan dasar penghitungan peredaran atau penerimaan bruto dan/atau penghasilan bruto, serta penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang dikenakan pajak yang bersifat final;

2. Pencatatan dalam suatu tahun pajak meliputi jangka waktu 12 bulan, mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Desember;

3. Bagi Wajib Pajak yang mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/atau tempat usaha, pencatatan harus dapat menggambarkan secara jelas jumlah peredaran atau penerimaan bruto dari masing-masing jenis usaha dan/atau tempat usaha yang bersangkutan.

Dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-4/PJ/2009, informasi yang terkandung dalam pencatatan diatur lebih detail lagi. Bagi WPOP yang melakukan kegitan usaha atau pekerjaan bebas dengan omzet kurang dari Rp4.800.000.000,00, pencacatan harus:

1. meliputi omzet yang diterima dari kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas yang penghasilannya merupakan objek PPh Final;

2. meliputi penghasilan bruto yang diterima dari luar kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas yang penghasilannya merupakan objek pajak yang tidak dikenai pajak bersifat final, termasuk biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan tersebut;

3. meliputi penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final, baik yang berasal dari kegiatan usaha

dan/atau pekerjaan bebas maupun dari luar kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas;

4. mencakup harta dan kewajiban baik yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas maupun yang tidak digunakan untuk melaksanakan kegiatan usaha dan/atau pekerjaan bebas;

5. menggambarkan secara jelas untuk masing-masing jenis usaha dan/atau tempat usaha yang bersangkutan, apabila mempunyai lebih dari satu jenis usaha dan/atau tempat usaha.

Bagi WPOP yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, maka pencacatan harus :

1. meliputi penghasilan bruto yang merupakan objek PPh yang bersifat tidak final termasuk biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan tersebut;

2. meliputi penghasilan yang bukan objek pajak dan/atau penghasilan yang pengenaan pajaknya bersifat final;

3. mencakup pencatatan atas harta dan kewajiban yang dimiliki.

Wajib Pajak yang menyelenggarakan pencatatan wajib menghitung penghasilan neto dengan menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto Norma Penghitungan. Norma Penghitungan Penghasilan Neto adalah persentase tertentu dari peredaran atau penghasilan bruto usaha atau pekerjaan bebas yang merupakan standar umum besarnya penghasilan neto yang dianggap normal atau wajar, yang dibuat dan disempurnakan terus-menerus serta diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak. Untuk mendapatkan angka tertentu, Direktur Jenderal Pajak membentuk suatu tim dengan tugas mengadakan penelitian, baik data eksternal DJP maupun data yang dimiliki DJP tentang kewajaran laba bersih suatu jenis usaha tertentu. Norma penghitungan dibuat dan disempurnakan terus menerus serta diterbitkan oleh DJP dengan berpedoman pada suatu pegangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Pegangan yang ditetapkan Menteri keuangan itu harus memuat:

1. kaitan-kaitan yang harus dipergunakan untuk menentukan besarnya:

a. peredaran (jumlah karyawan, jumlah meja bagi usaha restoran, jumlah mesin bagi usaha industri, jumlah kamar bagi usaha hotel, dan lain-lain),

b. peredaran bruto (jumlah pembelian bahan, jumlah gaji karyawan, dan lain- lain),

c. penghasilan neto (jumlah pengeluaran nyata atau tingkat biaya hidup dan lain-lain);

2. pokok-pokok cara yang harus diperhatikan dalam menyususn Norma Penghitungan;

3. cara-cara menyempurnakan Norma Penghitungan.

Yang dapat menggunakan Norma Penghitungan Penghasilan Neto : 1. Sesuai dengan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan

pasal 14 ayat (2) yaitu WPOP dalam negeri yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, yang peredaran atau penghasilan brutonya dalam satu tahun kurang dari Rp4.800.000.000,00.

2. Wajib Pajak yang bersangkutan wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak dalam waktu tiga bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan.

3. Wajib Pajak yang bersangkutan wajib menyelenggarakan pencatatan sebagai pengganti tidak menyelenggarakan kewajiban pembukuan.

4. Apabila Wajib Pajak tidak memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak, maka dianggap memilih menyelenggarakan kewajiban pembukuan.

5. Apabila ternyata Wajib Pajak tidak atau tidak sepenuhnya menyelenggarakan kewajiban pencatatan atau pembukuan atau tidak memperlihatkan pencatatan atau pembukuan atau bukti-bukti pendukungnya, maka penghasilan netonya dihitung berdasarkan Norma Penghitungan Penghasilan Neto atau cara lain yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.

Menteri Keuangan dapat menyesuaikan besarnya batas peredaran bruto sebagaimana dimaksud dengan memperhatikan perkembangan ekonomi dan kemampuan Wajib Pajak untuk menyelenggarakan pembukuan.

Adapun wujud Norma Penghitungan itu adalah suatu presentase atau angka perbandingan lainnya yang disusun sedemikian rupa berdasarkan hasil penelitian yang cermat sehingga:

a. Sederhana;

b. Terperinci menurut kelompok jenis usaha;

c. Dibedakan dalam beberapa klasifikasi kota/tempat;

d. Dibedakan untuk WPOP yang jumlah peredaran usahanya atau penerimaan brutonya kurang dari Rp4.800.000.000,-

e. Tingkat presentase atau angka perbandingan yang tidak jauh dari kewajaran, namun dapat mendorong Wajib Pajak menyelenggarakan pembukuan untuk menghitung penghasilan neto.

Ada beberapa keuntungan bagi orang pribadi yang memilih menggunakan Norma Penghitungan, yaitu tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk penyelenggaraan pembukuan. Selain itu, penghitungan pajaknya menjadi lebih mudah dan terprediksi. Namun, ada juga kerugian yang harus dicermati, yaitu Norma Penghitungan tidak mengenal rugi. Walaupun pada kenyataannya sebuah usaha mengalami kerugian, pajak tetap dibebankan berdasarkan peredaran bruto.

Dokumen terkait