• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Penelitian

Dalam dokumen 2) bagaimana biografi Mahmud Yunus? (Halaman 31-36)

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode historis yaitu proses menguji dan menganalisis secara kritis analitis terhadap rekaman dan peninggalan masa lampau berdasarkan data yang diperoleh.21 Tahap-tahap dalam penelitian sejarah ini adalah sebagai berikut.

1. Heuristik (Pengumpulan Sumber)

Heuristik merupakan tahap pengumpulan data tentang topik yang dikaji yaitu Kontribusi Mahmud Yunus Dalam Pembaruan Islam di Minangkabau (1919 M-1982 M). Dalam penelitian ini dilakukan penelitian kepustakaan, riset

20Peter Burke, Sejarah dan Teori Sosial, terj. Mestika Zed dan Zulfami (Jakarta:

Yayasann Obor, 2001), hlm. 69.

21Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, terj. Nugroho (Jakarta: UI Press, 1985), hlm. 32.

15

lapangan dan wawancara. Penelitian kepustakaan yaitu penelitian yang sumbernya diambil dari buku-buku dan ensiklopedi,22 sedangkan riset lapangan digunakan untuk menelusuri peninggalan-peninggalan Mahmud Yunus. Selanjutnya, wawancara digunakan untuk mencari data dan informasi terkait dengan pembaruan Islam yang dilakukan oleh Mahmud Yunus. Sumber utama yang penulis gunakan yaitu studi kepustakaan (library research), sedangkan riset lapangan dan wawancara merupakan sumber pelengkap dari penelitian ini.

Sumber-sumber yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Sumber tertulis: berupa buku-buku, ensiklopedi, skripsi, jurnal dan beberapa tulisan yang diambil dari internet. Dalam penelitian ini penulis melakukan pencarian yang dilacak ke beberapa perpustakaan di Jakarta, antara lain: Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustkaan Fakultas Tarbiyah dan Kegururan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan Riset Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Perpustakaan PTIQ (Perguruan Tinggi Ilmu Al- Qur‟an) Jakarta, Yayasan Perpustakaan Umum Islam Iman Jama Jakarta Selatan, dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).

Selain itu peneliti juga melakukan pencarian ke beberapa perpustakaan di Yogyakarta, antara lain: Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga, Perpustakaan Pusat UIN Sunan Kalijaga, Perpustakaan Universitas Gajah Mada (UGM), Perpustakaan Kolese

22Sutrisno Hadi, Metodologi Research Jilid 1(Yogyakarta: Andi Offset, 1990), hlm. 9.

16

St.Ignatius, Perpustkaan Patin di belakang Kampus UIN Sunan Kalijaga, Perpustakaan Grahatama Pustaka Yogyakarta. Secara umum sumber yang didapatkan peneliti adalah sumber sekunder yang merupakan sumber penunjang yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, sedangkan sumber primer penulis menggunakan karya-karya Mahmud Yunus seperti Tafsir, Fikih, Pendidikan, Sejarah, Bahasa Arab, Kamus, dan sebagainya.

Selanjutnya, penulis juga menggunakan arsip berupa peninggalan- peninggalan Mahmud Yunus.

b. Sumber Benda: berupa peninggalan-peninggalan Mahmud Yunus, dalam hal ini penulis melakukan observasi di wilayah Jakarta seperti Gedung Theater Mahmud Yunus, Lokasi Pemakaman Mahmud Yunus, dan Makam Mahmud Yunus, Auditorium Mahmud Yunus, dan Jalan Mahmud Yunus.

Selanjutnya, peninggalan-peninggalan Mahmud Yunus peneliti dapatkan dari Majalah Suara Kampus dan internet seperti Foto Mahmud Yunus, Foto Mahmud Yunus sekeluarga, Museum PDRI, Tugu Perundingan PDRI, Masjid Baiturrahman, Masjid Al-Ikhlas, Lokasi Madrasah School, Rumah Kelahiran Mahmud Yunsu Sungayang, Rumah Mak Jawa (istri kedua Mahmud Yunus), dan karya-karya Mahmud Yunus.

c. Sumber lisan: berupa wawancara, dalam hal ini metode wawancara terbagi menjadi dua yaitu wawancara terstruktur dan wawancara tidak terstruktur.

Wawancara yang digunakan oleh penulis adalah wawancara semi standar (semi standardized interview) atau menurut Patton adalah wawancara tidak

17

terstruktur atau wawancara bebas terpimpin (controlled interview).23 Dalam hal ini penulis melakukan wawancara tidak terstruktur dengan orang yang mengetahui mengenai topik penelitian ini. Hal ini dikarenakan keluarga Mahmud Yunus sudah tidak bermukim lagi di Minangkabau.

2. Verifikasi (Kritik Sumber)

Setelah sumber sejarah terkumpul, dilakukan klasifikasi dan dicari bagian- bagian yang berkaitan dengan permasalahan. Langkah peneliti berikutnya adalah melakukan kritik sumber (verifikasi). Verifikasi adalah menguji dan menganalisis data secara kritis baik ekstern maunpun intern. Kritik ekstren dilakukan untuk menguji keotentikan dan keaslian sumber dengan menguji bagian-bagian fisiknya yang bertujuan untuk mencari keaslian (otentitas) sumber. Kemudian untuk menguji keshahihan dan kekredibilatasan sumber, penulis melakukan kritik intern dengan cara menelaah isi tulisan dan membandingkan dengan tulisan lainnya agar didapat data yang kredibel dan akurat.24 Dalam penelitian ini, penulis menggunakan kritik intern dengan menelaah dan membandingkan karya-karya Mahmud Yunus dan arsip yang telah ditemukan yaitu peninggalan-peninggalan Mahmud Yunus. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan sumber-sumber yang telah dinyatakan otentik seperti buku, ensiklopedi, skripsi dan lain-lain.

Kemudian, penulis juga menggunakan sumber terkait dengan peninggalan- peninggalan Mahmud Yunus seperti Museum PDRI, Tugu Perundingan, Karya- karyanya, dan lain-lain.

23Djam‟an Satori dan Aan Komariah, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung:

Alfabeta, 2012), hlm. 135.

24Dudung Abdurrahman, Metodologi Penelitian Sejarah (Yogyakarta: ar-Ruzz Media, 2007), hlm. 63.

18

3. Interpretasi (Analisis Fakta Sejarah)

Setelah melakukan kritik sumber, langkah selanjutnya adalah penafsiran atau interpretasi. Di dalam tahap interpretasi ini dibagi menjadi dua bagian.

Pertama interpretasi analisis (menguraikan suatu peristiwa atau kejadian). Kedua interpretasi sintesis (menyatukan dan mengelompokkan data). Analisis sejarah bertujuan untuk melakukan sintesis atas sejumlah fakta yang diperoleh dari sumber-sumber sejarah dan bersamaan dengan teori-teori, maka disusunlah fakta itu ke dalam suatu interpretasi yang menyeluruh.25 Pada penelitian ini peneliti melakukan kedua interpretasi tersebut. Pertama interpretasi analisis yaitu penulis menganalisis dan menguraikan peristiwa yang dilakukan oleh Mahmud Yunus di Minangkabau. Kedua, interpretasi sintesis yaitu menyatukan, mengelompokkan, dan heuristik yang diperoleh dapat menjadi suatu bahasan sejarah. Untuk menganalisis hasil penelitian digunakan pendekatan sosiologis dan teori peranan sosial.

4. Historiografi (Penulisan Sejarah)

Setelah melakukan penafsiran terhadap sumber-sumber sejarah, langkah selanjutnya yaitu melakukan historiografi yang merupakan fase atau tahap terakhir dalam penelitian sejarah. Sebagaimana dinyatakan oleh F.R. Ankersmith yang dikutip dari Haskell Fain, ada dua lapisan dalam proses sejarah. Lapisan pertama merupakan lapisan fakta-fakta. Lapisan kedua adalah lapisan rangkaian fakta-

25Ibid.,hlm. 58-59.

19

fakta sehingga menjadi kisah sejarah yang padu.26 Pada tahap inilah hasil dari proses pencarian sumber, kritik sumber, dan penafsiran sumber dituangkan secara tertulis dalam sebuah laporan secara deskriptif-analitis, kronologis, dan sistematis, dibagi dalam beberapa bab dan sub bab.

Dalam dokumen 2) bagaimana biografi Mahmud Yunus? (Halaman 31-36)

Dokumen terkait