• Tidak ada hasil yang ditemukan

Metode Pengambilan Sampel dan Data

BAB II LANDASAN TEORI

3.3 Metode Pengambilan Sampel dan Data

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017).

Dalam penelitian kali ini penulis tidak meneliti seluruh mahasiswa yang berada dalam populasi tersebut, sehingga perlu diambil sampel dalam mewakili populasi tersebut. Sampel sendiri merupakan bagian dari populasi yang memiliki karakteristik yang serupa. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling, yaitu teknik pengambilan sampel berdasakan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2017), dalam penelitian ini ada tiga kriteria yang digunakan dalam penentuan sampel, yaitu: responden merupakan mahasiswa STIE IBS, responden memiliki pengetahuan mengenai riba, dan responden belum menjadi nasabah bank syariah.

Dari populasi tersebut, penentuan besar sampel minimum pada penelitian tergantung pada jumlah indikator dikali 5 sampai 10 (Hair, Black, Babin, dan Anderson, 2010). Dalam penellitian ini penulis memiliki 16 pertanyaan/indikator,

dimana berdasarkan perhitungan tersebut, maka dalam penelitian ini dapat diketahui jumlah sampel sebagai berikut:

Jumlah Sampel = Indikator x 5 Jumlah Sampel = 16 x 5 = 80

Dari hasil perhitungan diatas, ditemukan jumlah sampel minimum yang penulis gunakan pada penelitian ini, yaitu sebesar 80 sampel yang sudah sesuai dengan kriteria yang ditentukan. Hasil penyebaran kuesioner terkumpul sebanyak 151 responden yang akan digunakan dalam perhitungan dalam penelitian kali ini.

3.3.2. Jenis dan Sumber Data

Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1. Data Primer

Data primer merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian atau yang bersangukutan yang memerlukan data tersebut.

Data primer disebut juga data asli atau data baru (Supardi, 2012).

2. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh atau dikumpulkan dari sumber- sumber yang telah ada. Data tersebut bersumber dari perpustakaan atau dari laporan serta dokumen peneliti terdahulu (Supardi, 2012). Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari jurnal, skripsi, dan buku-buku referensi.

3.3.3. Metode Pengumpulan Data

Terdapat dua cara untuk mengumpulkan data yang akan diperlukan untuk melakukan analisis dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Pengumpulan Data Primer

Teknik pengumpulan data dari mahasiswa STIE IBS Jakarta dalam penelitian ini menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab. Teknik ini merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu dengan pasti variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden.

2. Pengumpulan Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dari data yang diberikan oleh regulator dalam melihat kondisi perbankan syariah yang ada di Indonesia, serta dari buku referensi dalam menjelaskan teori-teori yang timbul dalam penelitian ini.

Skala yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Skala Likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur respons subjek ke dalam lima poin skala dengan interval sama dengan pilihan sebagai berikut (Hartono, 2013):

1 = Sangat tidak setuju 2 = Tidak setuju 3 = Ragu – ragu 4 = Setuju 5 = Sangat setuju

3.4. Variabel Penelitian dan Operasional Variabel 3.4.1. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya, merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang atau objek yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneiliti untuk dipelajari (Sugiyono, 2017). Berdasarkan telaah pustaka dan perumusan hipotesis, maka variabel-variabel dalam penelitian ini adalah:

1. Variabel Bebas (Independen)

Variabel bebas atau independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau menjadi sebab timbulnya atau berubahnya variabel dependen (variabel terikat).

Dalam penelitian ini yang merupakan variabel bebasnya adalah pengetahuan riba (Sugiyono, 2017).

2. Variabel Mediasi (Intervening)

Variabel intervening secara teoritis adalah variabel yang mempengaruhi hubungan dependen dan independen menjadi hubungan langsung dan tidak langsung yang dapat diamati dan diukur. Dalam penelitian ini yang merupakan variabel mediasi adalah sikap kepada bank syariah (Ghozali, 2016).

3. Variabel Terikat (Dependen)

Variabel terikat atau dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (independen). Dalam penelitian ini yang merupakan variabel terikatnya adalah intensi menjadi nasabah bank syariah (Sugiyono, 2017).

3.4.2. Operasional Variabel

Tabel 3.1 Operasional Variabel

Variabel Definisi Indikator Instrumen

Pengetahuan Riba

Ide, aturan, prosedur, pengalaman,

konteks, interpretasi dari riba serta produk yang terkait dengan riba (Harun, Rashid, & Hamed, 2015).

1. Paham pengertian riba 2. Riba merupakan

bentuk ketidakadilan 3. Riba merupakan

perbuatan yang dilarang

4. Bank konvensional menerapkan riba 5. Bunga bank

merupakan bentuk eksploitasi

6. Bunga bank adalah riba

Rahman, A. H. A., Ahmad, W. I. W., Mohamad, M. Y.,

& Ismail, Z. (2011).

Abdullahi, S., &

Shaharuddin, A. (2016).

Likert Scale 1-5

Sikap Kepada Bank Syariah

Merupakan evaluasi yang dipegang teguh oleh seseorang apakah bank syariah dianggap sebagai suatu hal yang baik atau tidak baik, perasaan emosional yang timbul ketika menggunakan bank syariah, dan

kecenderungan untuk bertindak terhadap bank syariah (Kotler dan Keller, 2012).

1. Memilih bank syariah merupakan ide bagus 2. Merasa nyaman

dengan perbankan syariah

3. Merasa puas dengan perbankan syariah 4. Bank syariah lebih

aman dan transparan 5. Bank syariah memberi

manfaat

Haque, A., Sarwar, A., Yasmin, F., Tarofder, A.

K., & Hossain, M. A.

(2015).

Likert Scale 1-5

Variabel Definisi Indikator Instrumen Intensi

Menjadi Nasabah Bank Syariah

Kemungkinan dan keinginaan

seseorang menempatkan

preferensinya kepada bank syariah dalam pertimbangan penggunaan sebuah produk (Nik Abdul Rashid, 2009 dalam Aman, Harun, dan Hussein, 2012).

1. Berencana untuk memilih bank syariah dalam waktu dekat ini 2. Cenderung memilih

bank syariah di kemudian hari 3. Akan memilih bank

syariah

4. Memilih bank syariah tanpa keraguan 5. Memilih bank syariah

cenderung di

pengaruh orang lain Lada, S., Harvey

Tanakinjal, G., & Amin, H. (2009).

Amron, A., Usman, U., &

Mursid, A. (2018).

Likert Scale 1-5

3.5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Berdasarkan tujuan dari penelitian ini, maka beberapa pengolahan dan analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

3.5.1. Uji Instrumen 3.5.1.1. Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2016). Untuk mengukur validitas dapat dilakukan dengan melakukan korelasi antar skor butir pertanyaan dengan total skor konstruk atau variabel. Sedangkan untuk

mengetahui skor masing – masing item pertanyaan valid atau tidak, maka ditetapkan kriteria statistik sebagai berikut:

1. Jika r hitung > r tabel dan bernilai positif, maka variabel tersebut valid.

2. Jika r hitung < r tabel, maka variabel tersebut tidak valid.

3.5.1.2. Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas adalah alat untuk mengukur suatu kuisioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuisioner dinyatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2016). Pengukuran reliabilitas dapat dilakukan dengan dua cara yaitu:

1. Repeated measure atau pengukuran yaitu seseorang aka disodori pertanyaan yang sama pada waktu yang berbeda, dan kemudian dilihat apakah ia tetap konsisten dengan jawabannya.

2. One shot atau pengukuran sekali saja dan kemudian hasilnya dibandingkan dengan pertanyaan yang lain atau mengukur korelasi antara jawaban dengan pertanyaan.

Uji reliabilitas dapat dilakukan dengan menggunakan bantuan program SPSS, yang akan memberikan fasilitas untuk mengukur reliabilitas dengan uji statistik Cronbach Alpha (α). Suatu konstruk atau variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Cronbanch Alpha > 0.70 (Nunally, 1994 dalam Ghozali, 2016).

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan pengukuran reliabilitas dengan cara One Shot atau bisa disebut dengam etode Cronbach Alpha.

3.5.2. Uji Asumsi Klasik 3.5.2.1. Uji Normalitas

Uji ini dilakukan untuk menguji apakah didalam model regresi variabel residual terdistribusi normal atau tidak. Hal ini terkait dengan asumsi pada uji F dan uji t bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Jika pengujian statistik menjadi tidak valid jika asumsi tersebut dilanggar, berlaku pada jumlah sampel yang kecil (Ghozali, 2016). Untuk mendeteksi normalitas dapat menggunakan uji kolmogorov – smirnov (K-S). Uji K-S dilakukan dengan membuat hipotesis:

H0 : Data residual berdistribusi normal.

Ha : Data residual berdistribusi tidak normal.

Jika hasil uji statistik K-S lebih besar daripada Z Tabel maka H0 ditolak dan Ha diterima, maka data residual model regresi tersebut disimpulkan tidak terdistribusi normal.

3.5.2.2. Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas dilakukan untuk menguji apakah terdapat korelasi antara variabel independen dengan variabel independen lainnya. Korelasi tersebut seharusnya tidak terjadi diantara variabel-variabel tersebut. Jika ada variabel independen yang saling berkorelasi, maka variabel-variabel tersebut dapat dikatakan tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yang memiliki nilai korelasi sama dengan nol (Ghozali, 2016). Terdapat beberapa cara untuk mendeteksi multikolineritas, yaitu:

1. Nilai R2 dari suatu persamaan regresi sangat tinggi, namun masing – masing dari variabel independen yang dimiliki tidak menunjukan signifikansi yang tinggi bahkan pengaruhnya tidak signifikan terhadap variabel dependen.

2. Dengan menganalisis matriks korelasi variabel – variabel independen yaitu jika diantara variabel independen ada yang memiliki korelasi yang tinggi (umumnya diatas 0.90), maka hal tersebut mengindikasikan adanya multikolinertias.

3. Melihat nilai tolerance dan Varian Inflation Factor (VIF). Apabila nilai tolerance lebih dari 0.1 maka tidak terjadi multikolineritas, namun apabila nilai tolerance kurang dari 0.1 maka dapat dikatakan terjadi multikolineritas. Lalu, jika nilai VIF-nya kurang dari 10.00 maka dapat dikatakan tidak terjadi multikolineritas, dan ataupun sebaliknya.

3.5.2.3. Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah terdapat adanya ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain dalam suatu model regresi. Model regresi dapat dikategorikan baik apabila terjadi homoskedastisitas, homoskedastisitas dikatakan sebagai suatu kejadian dimana variance dari residual suatu pengamatan ke pengamatan lain dalam suatu model regresi itu sama (Ghozali, 2016). Terdapat beberapa metode untuk mendeteksi heteroskedastisitas, antara lain:

1. Uji Park, mengemukakan metode bahwa variance (s2) merupakan sebuah fungsi dari variabel independen yang dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut:

σ2i = αXiβ

Persamaan tersebut diubah menjadi linier dalam bentuk persamaan logaritma sehingga menjadi:

Ln σ2i = α + β Ln Xi + Vi

karena σ2i umumnya tidak diketahui, maka dapat ditaksir dengan menggunakan μt sebagai proksi sehingga menjadi:

LinU2i = α + β Ln Xi + Vi

Apabila koefisien parameter β dari persamaan regresi tersebut signifikan secara statistik, dapat disimpulkan bahwa didalam data model empiris terdapat heteroskedastisitas.

2. Uji Glejser, uji ini mengusulkan untuk meregresi nilai absolut residual terhadap variabel independen dengan menggunakan persamaan:

|Ut| = α + βXt + vt

Jika variabel independen signifikan secara statistik mempengaruhi variabel dependen, maka dapat disimpulkan bahwa adanya heteroskedastisitas dalam model.

3.6. Teknik Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis yang telah diajukan dan untuk menguji pengaruh variabel mediasi (variabel intervening) dalam memediasi variabel independen terhadap variabel dependen digunakan metode analisis regresi linear dan analisis jalur. Analisis jalur merupakan perluasan dari analisis regresi berganda, atau dengan kata lain analisis jalur adalah penggunaan analisis regresi untuk menaksir

hubungan kausalitas antar variabel yang telah ditetapkan sebelumnya berdasarkan teori. Persamaannya antara lain adalah sebagai berikut:

Sikap = β0 + β2Peng.Riba + ε1

Intensi = β0 + β1Peng.Riba + β3Sikap + ε2

Dimana:

β0 = Konstanta persamaan regresi

β1,2,3  = Koefisien garis regresi

ε = Residual atau prediction error

3.6.1. Uji R2 (koefisien determinasi)

Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel independen. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen (Ghozali, 2016).

3.6.2. Uji F

Uji F dilakukan untuk mengukur seberapa jauh pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-sama atau secara simultan (Ghozali, 2016). Berikut merupakan kriteria pengambilan keputusan dengan menggunakan statistik F:

1. Quick Look: jika nilai F lebih besar dari 4 maka Ho dapat ditolak dengan derajat kepercayaan 5%; yang berarti menerima Ha, dan hal tersebut menyatakan bahwa variabel independen secara simultan mempengaruhi variabel dependen.

2. Melihat perbandingan antara nilai F hitung dengan F tabel pada tabel ANOVA.

Bila nilai F hitung lebih besar daripada F tabel, maka dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima.

3.6.3. Uji t

Uji t pada dasarnya menguji seberapa jauh pengaruh satu variabel independen secara individual dalam menjelaskan atau menerangkan hubungannya terhadap variabel dependen (Ghozali, 2016). Uji t dapat dibuktikan dengan cara sebagai berikut:

1. Quick Look: bila jumlah degree of freedom (df) adalah 20 atau lebih, dan derajat kepercayaan sebesar 5%, maka Ho akan ditolak jika memenuhi syarat yaitu apabila nilai t lebih besar daripada 2. Dengan kata lain, Ha diterima yang menyatakan bahwa suatu variabel secara individual mempengaruhi variabel dependen.

2. Membandingkan t hitung dengan t tabel pada tabel coefficients. Jika, hasil dari t hitung lebih besar daripada t tabel maka Ha diterima dan Ho ditolak.

3.6.4. Uji Efek Mediasi (Analisis Jalur)

Mediasi atau intervening merupakan variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel independen dengan dependen, tetapi tidak

dapat diamati dan diukur. Variabel ini merupakan variabel penyela/antara yang terletak di antara variabel independen dan dependen, sehingga variabel independen tidak langsung mempengaruhi berubahnya atau timbulnya variabel dependen (Sugiyono, 2017).

Gambar diatas menunjukan secara eksplisit hubungan kausalitas antar variabel. Anak panah menunjukan hubungan antar variabel. Model bergerak dari kiri ke kanan dengan implikasi prioritas hubungan kausal variabel yang dekat ke sebelah kiri. Setiap nilai p menggambarkan jalur dan koefisien jalur. Berdasarkan gambar 3.1 menunjukan hubungan Pengetahuan Riba mempunyai hubungan langsung dengan Intensi Menjadi Nasabah Bank Syariah (β1). Namun demikian Pengetahuan Riba juga mempunyai hubungan tidak langsung ke Sikap Kepada Bank Syariah yaitu dari Pengetahuan Riba ke Sikap Kepada Bank Syariah (β2) baru kemudian ke Intensi Menjadi Nasabah Bank Syariah (β3).

Pengetahuan Riba  Mahasiswa (X) 

Intensi Menjadi  Nasabah Bank 

Syariah (Y) 

Sikap Kepada  Bank Syariah (M) 

Gambar 3.1

Path Analysis Variabel Pengetahuan Riba dan Intensi Menjadi Nasabah Bank Syariah dimediasi oleh Sikap Kepada Bank Syariah

Β2

Β1

Β3

Pengujian hipotesis mediasi dapat dilakukan dengan prosedur yang dikembangkan oleh Sobel (1982) dan dikenal dengan Sobel test (Ghozali, 2016).

Sobel test ini dilakukan dengan cara menguji kekuatan pengaruh tidak langsung variabel independen (X) kepada variabel dependen (Y) melalui variabel mediasi (M). Pengaruh tidak langsung X ke Y melalui M dihitung dengan cara mengalikan jalur X→M (a) dengan jalur M→Y (b) atau ab. Jadi koefisien ab = (c−c’), di mana c adalah pengaruh X terhadap Y tanpa mengontrol M, sedangkan c’ adalah koefisien pengaruh X terhadap Y setelah mengontrol M. Standar error koefisien a dan b ditulis dengan sa dan sb, besarnya standar error tidak langsung (indirect effect) adalah sab dihitung dengan rumus berikut ini:

𝑠𝑎𝑏 𝑏 𝑠𝑎 𝑎 𝑠𝑏 𝑠𝑎 𝑠𝑏

Untuk menguji signifikansi pengaruh tidak langsung, maka kita perlu menghitung nilai t dari koefisien ab dengan rumus sebagai berikut:

𝑡 𝑎𝑏 𝑠𝑎𝑏

Nilai t hitung ini dibandingkan dengan nilai t tabel dan jika nilai t hitung lebih besar dari nilai t tabel maka dapat disimpulkan bahwa terjadi pengaruh mediasi.

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Objek Penelitian

4.1.1. Profil STIE Indonesia Banking School (STIE IBS)

STIE IBS secara resmi beroperasi sejak tahun 2004, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan Nasional RI Nomor: 37/D/O/2003. Pendirian IBS merupakan pengembangan dari Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), lembaga nirlaba yang memberikan jasa kepada perbankan dan masyarakat dalam membentuk tenaga kerja bankir profesional.

IBS sendiri berakreditasi “B” yang dimana penilaian tersebut didapat dari BAN-PT sebagai Lembaga resmi penilaian akreditasi, nilai tersebut didapat pada tahun 2008, dan nilai akreditasi tersebut masih sama pada tahun 2013. Nilai akreditasi tersebut diperoleh bagi program studi Strata satu (S1) baik Prodi Akuntansi maupun Prodi Manajemen, dan secara resmi ijin untuk dua prodi tersebut berfokus pada bidang perbankan. Sejak tahun 2014 sampai saat ini, baik prodi Akuntansi, dan Manajemen, sedang dilakukan peningkatan pada semua aktivitas dan tata kelolanya. Peningkatan di segala bidang ini bertujuan untuk mendapatkan reakreditasi dengan nilai A dari BAN-PT. Berbagai upaya yang sedang dilakukan diharapkan juga mampu menjadikan nilai akreditasi A secara institusi.

IBS menjalin kerjasama (networking) dengan berbagai institusi, terutama yang erat kaitannya dengan bidang keuangan dan perbankan. MOU yang sudah terjalin meliputi kerjasama dengan Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan.

Bentuk kerjasama lainnya antara lain dengan: Bank Mandiri, Bank Syariah Mandiri, Bank Muamalat Indonesia, Bank BCA Syariah, Panin Syariah, Bank Danamon Indonesia, BRI Syariah, BNI Syariah, Bank Mega Syariah, BTPN Syariah, Bukopin, Bank DKI.

Pada tahun 2016 diresmikan program studi baru yaitu prodi Manajemen Keuangan dan Perbankan Syariah sebagai bentuk minat dan antusiasme mahasiswa dalam terbentuknya prodi ini. STIE IBS bertekad menghasilkan lulusan yang juga memiliki kompetensi serta profesional di bidang ekonomi syariah sehingga dapat memberikan kontribusi di tingkat nasional dan memenuhi kebutuhan industri keuangan syariah.

4.1.2. Visi dan Misi STIE Indonesia Banking School

Visi dan misi STIE IBS merupakan pedoman dan tolak ukur dalam menghasilkan lulusan yang terbaik dalam memberikan konstribusi di industri keuangan Indonesia.

1. Visi

Terwujudnya Banking School yang Unggul di ASEAN pada tahun 2025 (Superior ASEAN Banking School in 2025)

2. Misi

a. Melalui Tri darma Perguruan Tinggi (Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat) dapat ikut serta mensejahterakan Bangsa Indonesia, menyampaikan kebenaran dan membawa rahmat bagi alam semesta.

b. Melalui Tri darma Perguruan Tinggi mengembangkan dan menyebarkan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang sesuai dengan perkembangan di ASEAN.

c. Melalui Tri darma Perguruan Tinggi menghasilkan lulusan yang ber integritas, memiliki keunggulan keilmuan keuangan dan perbankan, memiliki keterampilan dalam bidangnya, professional dan mandiri.

d. Melalui Tri darma Perguruan Tinggi dapat menghasilkan lulusan yang berilmu amaliah, dan beramal ilmiah.

4.1.3. Profil Mahasiswa STIE Indonesia Banking School 2014-2017

Jumlah keseluruhan mahasiswa yang terdaftar di STIE IBS dari angkatan 2014 hingga 2017 sebanyak 1088 mahasiswa, yang dimana jumlah mahasiswa berdasarkan program studi yang diambil sebagai berikut:

Tabel 4.1

Jumlah Mahasiswa IBS Berdasarkan Program Studi

Program Studi Jumlah Mahasiswa Persentase (%)

Akuntansi 422 38,8

Manajemen 584 53,7

Manajemen Syariah 82 7,5

Jumlah 1088 100,0

Sumber: Data STIE Indonesia Banking School, 2018

Dari tabel diatas program studi yang paling banyak dipilih oleh mahasiswa IBS adalah Manajemen yang dimana 53,7% mahasiswa IBS memilih prodi tersebut, Akuntansi sebesar 38,8%, dan Manajemen Syariah 7,5%. Sedikitnya mahasiswa program studi Manajamen Syariah dikarenakan program studi tersebut merupakan program studi baru yang dibuka pada tahun 2016. Untuk persebaran kepercayaan atau agama yang dianut oleh para mahasiswa IBS dijelaskan pada tabel berikut:

Tabel 4.2

Jumlah Mahasiswa IBS Berdasarkan Agama Kepercayaan Kepercayaan Jumlah Mahasiswa Persentase (%)

Islam 983 90,3

Katolik 26 2,4

Protestan 72 6,6

Hindu 5 0,5

Budha 2 0,2

Jumlah 1088 100,0

Sumber: Data STIE Indonesia Banking School, 2018

Tabel diatas menunjukan mayoritas agama kepercayaan yang dianut oleh mahasiswa IBS adalah Islam, yang dimana 90,3% mahasiswa IBS beragama Islam, Katolik sebesar 2,4%, Protestan sebesar 6,6%, Hindu 0,5%, dan Budha 0,2%.

Mahasiswa yang masih aktif kuliah di kampus STIE IBS ditunjukan pada tabel sebagai berikut:

Tabel 4.3

Jumlah Mahasiswa Aktif IBS Berdasarkan Program Studi Program Studi Jumlah Mahasiswa Persentase (%)

Akuntansi 328 39,7

Manajemen 418 50,6

Manajemen Syariah 80 9,7

Jumlah 826 100,0

Sumber: Data STIE Indonesia Banking School, 2018

Mahasiswa IBS yang masih aktif kuliah sebanyak 826 dari 1088 mahasiswa yang terdaftar di STIE IBS, dimana mahasiswa aktif dari Akuntansi sebanyak 328 dari 422 yang terdaftar, Manajemen 418 dari 584 yang terdaftar, dan Manajamen Syariah 80 dari 82 yang terdaftar. Mahasiswa-mahasiswa aktif inilah yang diteliti dalam penelitian kali ini.

4.2. Analisis Deskriptif

4.2.1. Deskripsi Responden Penelitian

Penelitian ini mengangkat permasalahan pengetahuan riba dan sikap kepada bank syariah pada mahasiswa STIE IBS dalam menimbulkan intensi untuk menjadi nasabah bank syariah. Responden yang digunakan sebanyak 151 mahasiswa dan harus memenuhi kriteria yang dimana merupakan mahasiswa STIE IBS, pernah mempelajari riba, dan belum menjadi nasabah bank syariah, yang dimana perlu proses penyeleksian dari 826 mahasiswa yang ada. Karakteristik mahasiswa STIE IBS yang didapat setelah melakukan pengisian kuesioner akan di identifikasi berdasarkan: jenis kelamin, tahun angkatan, program studi, usia, tahun angkatan, wilayah domisili, dan dimana awal mengenal riba. Identifikasi ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik secara umum mahasiswa STIE IBS di penelitian ini.

4.2.1.1.Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin

Berdasarkan karakteristik jenis kelamin akan dilihat jumlah distribusi mahasiswa laki-laki dan perempuan, yang hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4.4

Jenis Kelamin Responden

Jenis Kelamin Frekuensi Persentase (%)

Laki-laki 48 31,8

Perempuan 103 68,2

Jumlah 151 100,0

Sumber: Data Primer, 2018

Dari tabel diatas, hasil menunjukan jumlah responden perempuan terlihat lebih banyak dibandingkan jumlah responden pria, dimana responden perempuan

sebanyak 103 mahasiswa (68.2%) dan responden pria sebanyak 48 mahasiswa (31.8%).

4.2.1.2.Karakteristik Responden Berdasarkan Tahun Angkatan

Berdasarkan karakteristik menurut jenis tahun angkatan akan dilihat jumlah distribusi mahasiswa angkatan 2014, 2015, 2016, dan 2017, yang hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4.5

Tahun Angkatan Responden

Tahun Angkatan Frekuensi Persentase (%)

2014 26 17,2

2015 82 54,3

2016 29 19,2

2017 14 9,3

Jumlah 151 100,0

Sumber: Data Primer, 2018

Dari tabel diatas, hasil menunjukan jumlah mahasiswa angkatan 2015 yang mendominasi dalam penelitian ini, sebanyak 82 mahasiswa dalam penelitian ini berasal dari angkatan 2015 (54,3%), untuk angkatan 2014 sebanyak 26 mahasiswa (17,2%), angkatan 2016 sebanyak 29 mahasiswa (19,2%) dan angkatan 2017 sebannyak 14 mahasiswa (9,3%).

4.2.1.3.Karakteristik Responden Berdasarkan Prodi

Berdasarkan karakteristik menurut jenis program studi akan dilihat jumlah distribusi mahasiswa akuntansi, manajemen, dan manajemen syariah, yang hasilnya dapat dilihat dari tabel berikut:

Dokumen terkait