• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian studi kepustakaan sehingga tidak membutuhkan lokasi khusus untuk tempat penelitian. Adapun waktu yang direncanakan dalam penelitian ini tampak pada tabel dibawah ini.

Tabel 3.1

Rancangan Waktu Penelitian

Bulan/Minggu

Kegiatan April Mei Juni Juli Agustus September

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1. Penentuan Judul Penelitian

2. Pembuatan Proposal Penelitian

3. Bimbingan Proposal Penelitian

4. Perbaikan Proposal Penelitian

5. Seminar Proposal

6. Perbaikan Proposal Penelitian

7. Pelaksanaan Penelitian

8. Menganalisis Data

9. Penulisan Skripsi

10. Bimbingan Skripsi 9 Persetujuan

Skripsi 10 Sidang meja

hijau

B. Sumber Data dan Data Penelitian a. Sumber Data

Sumber data adalah subjek dari mana data dapat diperoleh (Arikunto:2006:129). Sumber data dalam penelitian yaitu novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru.

Judul : Perempuan Bersampur Merah

Penulis : Intan Andaru

Jumlah Halaman : 216 hlm

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

Cetakan 2019

ISBN 9786020621951

b. Data Penelitian

Data adalah hasil pencatatan peneliti baik berupa fakta ataupun angka (Arikunto,2006:118). Data-data penelitian ini berupa kutipan-kutipan kalimat yang diperoleh dari novel Bersampur Merah karya Intan Andaru, Penerbit PT.

Gramedia Pustaka Utama, pada tahun 2019 dan menggunakan referensi buku- buku yang berkaitan dengan penelitian ini.

C. Metode Penelitian

Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpukan data penelitian (Arikunto,2006:160). Kemudian menurut Sugiyono (2017: 3), metode penelitian adalah sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu.

Metode penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode deskriptif sehingga datanya berupa kalimat dengan menggunakan pendekatan tertentu. Metode deksriptif digunakan untuk menggambarkan unsur-unsur intrinsik yang mencakup tema, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang dan juga untuk menggambarkan nilai-nilai moral yang mencakup nilai moral hubungan dengan tuhan, hubungan manusia dengan orang lain, dan hubungan manusia dengan diri sendiri.

D. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat dan nilai orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono,2017:61). Pada penelitian variabel yang akan diteliti adalah unsur-unsur intrinsik yang terdapat pada novel antara lain unsur tema, alur,penokohan, latar, sudut pandang, dan nilai- nilai moral yang terkandung dalam novel.

E. Definisi Operasional

1. Karya sastra merupakan hasil karya seni manusia yang sangat berperan penting bagi kemajuan kekayaan budaya bangsa yang kompleks. Melalui karya sastra manusia dapat menggali berbagai pengetahuan, adat istiadat, budaya, pandangan hidup, dan nila-nilai dalam kehidupan.

2. Novel merupakan karangan prosa yang panjang mengandung rangkaian cerita kehidupan seseorang dengan orang di sekelilingnya dengan menonjolkan watak dan sifat setiap pelaku.

3. Novel populer adalah novel yang populer pada masanya dan banyak penggemarnya khususnya pembaca di kalangan remaja. Novel populer menampilkan masalah-masalah yang aktual dan selalu menzaman namun hanya sampai pada tingkat permukaan.

4. Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Kepaduan antarunsur intrinsik membuat novel lebih berwujud.

5. Tema mayor adalah makna pokok cerita yang menjadi dasar atau gagasan umum karya sastra.

6. Tema minor adalah makna pokok tersirat dalam sebagian besar untuk tidak dikatakan keseluruhan cerita.

7. Plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian ini hanya berupa sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadi peristiwa lain.

8. Tokoh cerita adalah orang-orang ditampikan dalam sesuatu karya naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.

9. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan dalam penceritaan dalam novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian.

10. Latar atau setting menunjukan pada pengertian pada tempat, hubungan waktu sejarah, dan lingkugan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.

11. Sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, dan siasat yang secara sengaja dipilih pengarang untuk mengemukakan gagasan dan cerita.

12. Nilai moral menunjukan pada pengertian ajaran baik buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, kewajiban, sikap, akhlak, budi pekerti, dan susila.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga lebih mudah diolah (Arikunto,2006:160).

Dalam penelitian ini, peneliti membutuhkan data tentang unsur-unsur intrinsik dan nila-nilai moral dalam Novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru. Data didapatkan dari tabel dan ditambahkan dengan keterangan sehingga mempermudah dalam memproses data.

Tabel 3.2

Unsur-Unsur Intrinsik Novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru No Unsur Intrinsik

Novel

Kutipan Teks Halaman

1. Tema

2. Alur

3. Penokohan

4. Latar

5. Sudut Pandang

Tabel 3.3

Nilai-Nilai Moral Novel Perempuan

Bersampur Merah karya Intan Andaru (Burhan Nurgiantoro)

No Hubungan Wujud Nilai Moral Halaman

1. Manusia Dengan Tuhan 2. Manusia Dengan Manusia 3. Manusia Dengan Diri Sendiri

G. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis, data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke pola, memilih nama yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain (Sugiyono,2017:335). Untuk mempermudah dalam menganalisis data, peneliti melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Membaca secara berulang-ulang dengan cermat, menghayati, dan memahami isi novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru.

b. Mengumpulkan data dari isi cerita novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru yang berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik dan nilai moral.

c. Menggarisbawahi pada isi cerita yang berhubungan dengan pendekatan unsur-unsur intrinsik dan nilai moral novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru.

d. Mendeskripsikan hasil temuan peneliti di dalam novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru yang berhubungan dengan unsur- unsur intrinsik dan nilai moral.

e. Menyimpulkan hasil penelitian.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Data Penelitian

Deskripsi data adalah salah satu kegiatan dalam pembuatan laporan hsil penelitian yang telah dilakukan agar dapat dipahami dan dianalisis sesuai dengan tujuan yang dinginkan. Data yang disajikan harus sederhana dan jelas agar mudah dimengerti dan juga mudah dipahami. Sebelum peneliti membahas dan menganalisis penelitian pendekatan objektif dan nilai moral novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru, terlebih dahulu peneliti mendeskripsikan data. Data-data dalam deskripsi ini merupakan gambaran permasalahan yang akan peneliti bahas dalam analisis data.

1. Unsur Intrinsik Novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru

Unsur intrinsik adalah unsur-unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan suatu teks hadir sebagai teks karya sastra dengan unsur-unsur yang secara faktual yang akan dijumpai jika orang membaca karya sastra.

Unsur intrinsik meliputi tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, dan sudut padang. Adanya unsur intrinsik yang terdapat di novel Perempuan Bersampur Merah ini untuk mendekripsikan lebih lengkap mengenai peristiwa yang terdapat dalam novel.

Tabel 4.1

Data Unsur Intrinsik Novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru

No Unsur Intrinsik Kutipan Teks Halaman

1. Tema

“Tanpa Rama, aku dan Ahmad tetap mencari tahu tentang nama-nama yang kutulis di kertas itu. Tidak akan tampak mencurigakan sebab kami pandai melakukan penyelidikan dan berpura-pura sebagaimana dalam buku-buku misteri yang pernah kami baca”.

30

2. Alur/Plot

a. Tahap pemunculan konflik (

“...Terlebih akhir-akhir ini, ketika aku telah mencoba memaafkan apa yang telah terjadi, beranjak dewasa, dan mulai mengenal cinta, beberapa dari mereka bahkan masih bicara : Jangan menikahi, ia anak dukun santet

9

b. Tahap Penyituasian (“Aku merasa

senang sebab Bapak bisa menyuwuk. 22

Aku ikut puas ketika melihat orang- orang itu pulang dengan rasa lega sebab mendapatkan pengobatan. Aku bangga dengan Bapak dan apa yang dilakukannya ... ”).

c. Tahap peningkatan konflik (

“....Orang-orang yang bersemangat 135 membunuh Bapak malam itu adalah

mereka yang pernah atau sedang memiliki kerabat yang sakit dan mereka percayai akibat kiriman yang disebut santet”).

d. Tahap klimaks (“ Kenapa? masih

172 menunggu Rama? Dia sudah ndak

ada kabarnya.”).

e. Tahap penyelesaian (“Barangkali

masih sulit bagiku untuk menjadi 203 seperti Ibu yang mengikhlaskan, tapi

setidaknya aku bisa menjadi seperti Paman yang memilih melupakan- pergi dari kampung dan meninggalkan ingatan kelam

mengenai orang yang dikasihinya”).

a. Sari atau Ayu ( “....Biar orang 3. Tokoh/Penokohan lain mengangapku hanya anak kecil

17 yang bahkan belum bisa menggosok

daki di ketiaknya sendiri-yang penting aku tetap berusaha menemukan apa yang kucari. Dan bersama keduanya, kupikir dapat memecahkan teka-teki itu.”)

b. Rama ( Rama adalah anak lelaki 15 yang paling baik, setidaknya di

kelasku. Ia dermawan, pandai, dan paling tenang di sekolah).

c. Ahmad ( Ahmad sosok yang ceria 16 dan suka kesendirian)

d. Bapak Sari ( Suka menolong 52 sesama, orang yang baik, dan

penyayang)

e. Ibu Sari ( Sosok yang sabar, baik, 203 penyayang, dan sangat ikhlas)

f. Mbak Rohayah ( Sepupu Sari

yang paling baik, yang selalu 45 menemani Sari)

g. Paman Sari ( Baik hati, 91-92 bertanggung jawab)

h. Bibi Sari (Sosok Bibi yang sangat

7 baik dan bertanggung jawab dan

cerewet bagi Sari)

i. Mak Rebyak ( Seorang guru

114 penari gandrung yang profesional dan

menjadi satu-satu penari yang ada di keluarganya)

j. Mbak Nena ( Penari gandrung 122 yang profesional dan sosok teman

yang baik bagi Sari)

k. Bapak Rama ( Bapak Rama sosok 198-199 yang jahat, suka memfitnah dengan

alasan yang tidak jelas)

l. Ibu Rama ( Sosok Ibu yang baik 197 dan sopan dalam bertutur kata)

a. Latar tempat (“Masih jauh ya?”

4. Latar tanyaku yang tak begitu hafal jalan.

12 Yang aku tahu, langit Banyuwangi

kala itu sungguh terang, seolah telanjang. Mendung-mendung seperti menepi pada langit bagian barat-pada badan Gunung Raung yang hanya tampak seperti kabut tipis dari tempat kami).

b. Latar waktu (“Umurku baru

menginjak lima tahun sepertinya. 45 Karena aku ingat saat itu Mbak

Rohayah berusia tujuh tahun. Usia yang cukup untuk bersekolah-Paman dan Bibi membujuknya tiap hari.

Namun Mbka Rohayah selalu takut”).

c. Latar sosial (“Beberapa perempuan paruh baya berbondong- bondong datang, lantas berjongkok

menata sesajen berupa kupat lepet, 13 jenang-jenangan, air kendi, dan

kinang ayu dalam anak yang berbuat

dari pelepah pisang dan daun bambu...”).

a. “Bapak tidak boleh meninggal.

5. Sudut Pandang Banyak hal yang belum

67 kusamapaikan pada Bapak. Tentang

aku yang sayang bapak. Aku yang bangga padanya sekalipun bapak bukan orang kaya. Aku yang selalu senang tidur di sampingnya...”

b. “Begitu pedih hatiku waktu aku mendapati kertas paling penting

dalam hidupku itu berbentuk remetan 18 dan tersobek-sobek di tempat

sampah. Marahku seperti memanas hingga ke ubun-ubun ... ”.

c. “Aku merasa senang sebab Bapak bisa menyuwuk. Aku puas ketika

orang-orang itu pulang dengan rasa 52 lega sebab mendapatkan

pengobatan..”.

2. Nilai-Nilai Moral Dalam Novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru

Ajarab moral secara garis mencakup persoalan hidup dan kehidupan secara garis besar. Secara garis besar persoalan hidup dan kehidupan itu dapat dibedakan ke dalam persoalan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan orang lain, dan hubungan manusia dengan diri sendiri. Karya sastra bisa dikatakan mengandung penerapan moral dalam sikap dan tingkah laku para tokoh sesuai dengan pandangan pengarang tentang moral itu sendiri. Melalui cerita, sikap, dan tingkah laku para tokoh itulah pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah dari pesan-pesan moral yang disampaikan. Nurgiantoro membedakan secara garis besar persoalan manusia itu dapat dikelompokkan sebagai berikut.

Tabel 4.2

Data Nilai Moral Novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru

No Hubungan Wujud Nilai Moral Halaman

1. Manusia Dengan Tuhan a. Berdoa 101

b. Shalat 191

c. Ikhlas 203

2. Manusia Dengan Orang a. Tolong-Menolong 51 Lain

b. Kepedulian 121

c. Kerja sama 30

d. Demokrasi 188-189

e. Kewajiban 114

f. Rasa menerima dan 8-9 memiliki

g. Kekeluargaan

91-92

3. Manusia Dengan Diri a. Disiplin 21

Sendiri

b. Kesenangan 52,123

e. Kekecewaan 204

g. Keberanian 17-18

h. Keputusan Diri Sendiri 96,97

B. Analisis Data

Pada novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru ini dianalisis unsur intrinsik dan nilai moral hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan orang lain, dan hubungan manusia dengan diri sendiri.

Hal ini dapat kita uraikan pada pembahasan yang akan dijabarkan sebagai berikut:

1. Unsur Intrinsik Novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru

Unsur intrinsik meliputi tema, alur, latar, tokoh dan penokohan, dan sudut pandang. Secara rinci dan lebih jelas dapat diuraikan berikut ini.

a. Tema

“Tanpa Rama, aku dan Ahmad tetap mencari tahu tentang nama-nama yang kutulis di kertas itu. Tidak akan mencurigakan sebab kami pandai melakukan penyelidikan dan berpura-pura sebagaimana dalam buku-buku misteri yang pernah kami baca.” (Halaman 30)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa tema dalam novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru adalah tentang perjuangan seorang gadis belia untuk mengungkapkan teka-teki atas kematian bapaknya dalam tragedi Banyuwangi tahun 1998. Hal tersebut terlihat pada kalimat “ Tanpa Rama aku dan Ahmad tetap mencari tahu tentang nama-nama yang kutulis di kertas itu.”

b. Alur/Plot

Berdasarkan hasil analisis untuk alur, maka secara garis besar alur yang terdapat pada novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru adalah alur campuran. Dalam novel ini terdapat beberapa tahap peristiwa yang terjadi sebagai berikut.

1. Tahap Pemunculan Konflik

“....Terlebih akhir-akhir ini, ketika aku telah mencoba memaafkan apa yang telah terjadi, beranjak dewasa, dan mulai mengenal cinta, beberapa dari mereka bahkan masih bicara:Jangan menikahinya, ia anak dukun santet.” (Halaman 9)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa tahap pemunculan konflik dimulai dari halaman 7-44 kemudian dilanjutkan dari halaman 103-123. Dari beberapa

halaman dapat dijelaskan bahwa Sari atau Ayu ingin melupakan semua ingatan dan kenangan tentang tragedi tahun 1998 yang telah membuatnya kehilangan bapak yang yang tertuduh sebagai dukun santet. Namun masyarakat di kampungnya masih saja memberikan pendapat yang negatif pada dirinya dan keluarganya. Hal tersebut terlihat pada kalimat “Jangan menikahinya, ia anak dukun santet.”

2. Tahap Penyituasian

“Aku merasa senang sebab Bapak bisa menyuwuk. Aku ikut puas ketika melihat orang-orang itu pulang dengan rasa lega sebab mendapatkan pengobatan. Aku bangga dengan Bapak dan apa yang sudah dilakukannya... ”(Halaman 52)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa tahap penyituasian dalam novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru ini muncul dari halaman 45- 102. Sari atau Ayu memiliki bapak yang sewaktu muda pernah berguru. Karena itulah bapaknya dapat membantu mengobati orang sedang sakit seperti menyuwuk.

Hal tersebut terlihat pada kalimat “Aku merasa senang sebab Bapak bisa menyuwuk.”

3. Tahap Peningkatan Konflik

Orang-orang yang bersemangat membunuh Bapak malam itu adalah mereka yang pernah atau sedang memiliki kerabat yang sakit dan mereka percayai akibat kiriman yang disebut santet(Halaman 135)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa pada Tahap ini dimulai dari halaman 124-168. Sari atau Ayu meluapkan emosinya tentang nama-nama yang tercatat di lembar kertas. Orang-oramg bersemangat membunuh bapaknya karena mereka percaya bahwa kerabatnya yang sakit akibat kiriman santet. Hal tersebut

terlihat pada kalimat”Orang-orang yang bersemangat membunuh Bapak malam itu.”

4. Tahap Klimaks

“ Kenapa? Masih tunggu Rama? Dia sudah ndak ada kabarnya.”(Halaman 172)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa pada tahap klimaks dimulai dari halaman 169-200. Tahap klimaks ini terjadi saat Sari atau Ayu merasa bahwa ada jarak yang sangat panjang antara dirinya dengan Rama. Terlebih lagi ketakutan Sari akan kehilangan Rama pun memperkuat dengan tidak adanya kabar dari Rama selama setengah tahun terakhir.

5. Tahap Penyelesaian

“Barangkali masih sulit bagiku untuk menjadi seperti Ibu yang mengikhlaskan, tapi setidaknya aku masih bisa menjadi Paman yang memilih melupakan-pergi dari kampung dan meninggalkan ingatan kelam mengenai orang yang dikasihinya.” (Halaman 203)

Tahap penyelesaian konflik terjadi ketika Sari dan ibunya memutuskan untuk melupakan semua yang terjadi dengan pergi meninggalkan kampung halamannya.

c. Tokoh dan Penokohan 1. Tokoh

Berdasarkan hasil analisis terhadap novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru dapat disimpulkan bahwa terdapat 12 tokoh yang dimunculkan. Tokoh utama (tokoh mayor) diperankan oleh Sari atau Ayu.

sedangkan tokoh minor diperankan oleh Rama, Ahmad, Bapak Sari, Ibu Sari, Paman, Bibi, Mbak Rohayah, Bapak Rama, Ibu Rama, Mak Rebyak, dan Mbak Nena.

2. Penokohan

Secara lebih rinci penokohan setiap tokoh dalam novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru adalah sebagai berikut.

a. Sari atau Ayu

“....Biar orang lain mengangapku hanya anak kecil yang bahkan belum bisa menggosok daki di ketiaknya sendiri-yang penting aku tetap berusaha menemukan apa yang kucari. Dan bersama keduanya, kupikir dapat memecahkan teka-teki itu.” (Halaman 17-18)

Kutipan di atas menggambarkan tokoh Sari atau Ayu adalah tokoh utama dalam novel Perempuan Bersampur Merah karya Intan Andaru tokoh Sari merupakan anak perempuan yang terus berusaha mencari kebenaran mengenai kematian bapaknya yang masih menjadi teka-teki. Hal tersebut terlihat pada kalimat “Yang penting aku tetap berusaha menemukan apa yang ku cari.”

b. Rama

“Rama adalah anak lelaki paling baik, setidaknya di kelasku. Ia dermawan, pandai, dan paling tenang di sekolah.” (Halaman 15)

Kutipan di atas menggambarkan Rama adalah sahabat Ayu yang menurutnya Rama lelaki yang paling baik, dermawan, pandai, dan paling tenang.

Rama sahabat Ayu dari kecil sekaligus menjadi pacar Ayu. Hal tersebut terlihat pada kalimat “Rama adalah anak lelaki paling baik, setidaknya di kelasku. Ia dermawan, pandai, dan paling tenang disekolah.”

c. Ahmad

Ahmad adalah sehabat Ayu selain Rama. Ahmad sosok orang ceria dan suka sendirian. Ahmad ikut membantu Ayu yang mencari kebenaran tentang kematian Bapak Ayu. Hal tersebut dalam dilihat pada kutipan berikut.

“Sedang Ahmad, di balik keceriaanya, rupanya cukup serius bila sedang sendirian. Aku pernah mendapati dirinya terlihat begitu serius ketika membaca buku di kamarnya.” (Halaman 16)

“Tanpa Rama, aku dan Ahmad tetap mencari tahu tentang nama-nama yang kutulis di kertas itu. Tidak akan tampak mencurigakan sebab kami pandai melakukan penyelidikan dan berpura-pura sebagaimana dalam buku-buku misteri yang pernah kami baca.” (Halaman 30)

d. Bapak Sari

“Aku merasa senang sebab Bapak bisa menyuwuk. Aku ikut puas ketika melihat orang-orang itu pulang dengan rasa lega sebab mendapatkan pengobatan. Aku bangga dengan Bapak dan apa yang sudah dilakukannya.”(Halaman 52)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa pekerjaan Bapak Sari yang suka menolong orang, Bapak yang baik , dan penyayang. Hal tersebut terlihat pada kalimat “Aku merasa senang sebab Bapak bisa menyuwuk.”

e. Ibu Sari

“Barangkali masih sulit bagiku untuk menjadi seperti Ibu yang mengikhlaskan, tapi setidaknya aku masih bisa menjadi seperti Paman yang memilih melupakan-pergi dari kampung dan meninggalkan ingatan kelam mengenai orang yang dikasihinya.” (Halaman 203)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa Ibu Sari sosok yang sangat sabar, baik, penyayang, dan sangat ikhlas menerima kematian suaminya yang difitnah oleh warga kampung sebagai dukun santet. Hal tersebut tampak pada kalimat“ Ibu yang mengikhlaskan”.

f. Mbak Rohayah

“Umurku baru menginjak lima tahun sepertinya. Karena aku ingat, saat itu Mbak Rohayah berusia tujuh tahun. Usia yang cukup untuk bersekolah-Paman dan Bibi membujuknya tiap hari. Namun, Mbak Rohayah selalu takut. Ia bersembunyi di balik rok Bibi sambil mengigit empat jarinya sekaligus.” (Halaman 45)

Kutipan di atas menggambarkan bahwa sosok Mbak Rohayah yang sudah dari kecil menemani Sari. Mbak Rohayah adalah sepupu Sari yang paling baik menurut Sari karena Mbak rohayah selalu menemani Sari dan membantu Sari.

g. Paman Sari

“Paling tidak sebulan sekali surat dari Paman kami terima. Makin hari isi suratnya semakin dipenuh berita baik. Mulai dari pekerjaanya yang untung banyak hingga keinganan membuka warung kecil-kecilan. Dalam suratnya juga kuterima uang diselipkan pada lipatan kertas karbon supaya tak ketahuan petugas pos...” (Halaman 91-92)

Kutipan di atas menggambarkan sosok Paman Sari yang baik hati, Paman Sari adalah adik dari Bapaknya Sari. Sejak kematian Bapak Sari Paman yang bertanggung jawab untuk memenuhi sebagian kebutuhan Sari dan Ibunya. Hal tersebut terlihat pada kalimat “Dalam suratnya juga kuterima uang yang diselipkan pada lipatan kertas karbon supaya tak ketahuan perugas pos.”

h. Bibi Sari

“Sebenarnya, aku pun merindukan Bibi dan Mbak Rohayah. Meski cerewet bukan kepalang, Bibi pandai sekali menghilangkan masuk angin hanya dengan kerokan yang memenuhi punggung. Dekapan Bibi juga hangat. Aku mudah tidur kalau dipeluknya.” (Halaman 7)

Bibi Sari sama dengan seperti paman, Bibi sosok yang sangat baik.

Bersama Paman, Bibi juga menolong Sari dan Ibunya untuk memenuhi kebutuhan

Dokumen terkait