• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ARSITEKTUR TIONGHOA PADA MASJID JAMI KALI

A. Mihrab

Pengertian mihrab yang dipakai sekarang, khususnya di Indonesia adalah sebuah atau sesuatu tempat ( ruangan ) di dalam masjid, tempat imam memimpin shalat menghadap kiblat. Pengertian mihrab di Jawa adalah imaman atau paimaman. Belum dapat diketahui secara pasti kapan untuk pertama kalinya mihrab dikenal atau dipakai sebagai pelengkap bangunan masjid. Biasanya, mihrab dibangun cukup luas. Di samping kirinya diletakkan mimbar sebagai tempat khutbah. Dalam catatan masa pemerintahan Mu‟awiyah, membuat mihrab masjid dijadikan suatu aturan.34

Mihrab sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari bangunan masjid, meski tidak selalu berbentuk atap lengkung pada bangunan tempat Shalat yang kecil seperti musolla juga selalu ada mihrab. Di Indonesia, mihrab terletak di ujung bangunan masjid di sebelah Barat bersebrangan dengan pitu masuk.

Biasanya terdapat mimbar di dalam mihrab dan di atasnya dihiasi lukisan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur‟an maupun kalimat dzikir.

Adapun bentuk mihrab Masjid Jami Kalipasir juga dapat disebut mihrab yang melengkung, bahkan bentuk lengkungannya hampir seperempat lingkiran.

Bentuk lengkung seperti ini dapat dijumpai pada jendela-jendela dan pintu-pintu rumah orang-orang Belanda tenpo dulu di Jakarta. Mihrab Masjid Jami Kalipasir terletak di atas fondasi yang padat, tingginya 200 centimeter. Dilihat dari ruang utama mihrab berbentuk persegi empat, dan ukurannya 155x100 centimeter serta tingginya 200 centimeter. Ruang mihrab berbentuk bilik yang tanpa diberi jendela. 35

34 Gathut Dwihastoro, Kompleks Masjid Kasunyatan- Banten Lama, (Depok: Skripsi Fakultas Sastra,Universitas Indonesia, tidak diterbitkan, 2016.

35 H. Ahmad Syairoji, Ketua DKM Masjid Jami Kalipasir, Wawancara Pribadi, Kota Tangerang, 8 November 2016

31

Gambar 5 : Mihrab dan Mimbar36

1. Bagian Luar Masjid

Bagian luar masjid adalah bagian dimana aktifitas di dalamnya tidak berkaitan langsung dengan aktifitas ibadah. Bagian luar masjid masih termasuk dalam lingkungan masjid, tetapi bukan tempat bagian utama dari inti aktifitas masjid. Oleh karena itu, dapat dinyatakan sifatnya hanya pelengkap. Bagian luar masjid adalah bagian di luar bagian utama masjid.

A. Kubah

Secara historis kubah belum dikenal pada masa Rasulullah, sebagaimana dengan menara dan mihrab. Pada awal nya masjid Madinah sama sekali belum mengenal kubah dan masjid Madinah dibangun sangat sederhana. Arsitektur awalnya berbentuk segi empat dengan dinding sebagai pembatas sekelilingnya.

Seiring berkembangnya teknologi arsitektur, kubah yang berbentuk separuh bola muncul sebagai penutup masjid. Masjid Qubbat as Sakhrah di Yerussalem menjadi masjid pertama yang menggunakan model kubah. Setelah adanya Masjid

36 Dokumen Pribadi, Gambar Mihrab, Diakses pada tanggal 12 Januari 2018.

Qubbat as Sakhrah di Yerussalem, para arsitek Islam terus mengembangkan gaya kubah pada masjid yang dibangunnya.37

Kehadiran kubah pada bangunan masjid pertama kali di Indonesia sekitar abad 19 M. Bahkan di Jawa, atap masjid berkubah baru muncul pada pertengahan abad ke 20 M. Di Indonesia masjid berkubah pertama adalah masjid Baiturakhman di Banda Aceh38

Kubah Masjid Jami Kalipasir memiliki daya tarik yang unik karena bentuknya yang tidak biasa. Kubah ini menjadi simbol penyebaran agama Islam di daerah pasar lama Tangerang, yang pada saat itu mayoritas beragama Budha atau Tionghoa. Kubah Masjid Jami Kalipasir memiliki corak atau ornamen Tionghoa yang sengaja dibuat untuk mempermudah penyebaran agama Islam pada saat itu.

Kira-kira kubah masjid Jami Kalipasir mempunyai lebar 4x4 cm, atasnya berbentuk lancip dan atas kubahnya berwarna emas. Masjid Jami Kalipasir juga menjadi saksi kerukunan antar umat beragama.39

Gambar 6 : Kubah/ Mustaka40

37 Gathut Dwihastoro, Kompleks Masjid Kasunyatan- Banten Lama, (Depok: Skripsi Fakultas Sastra,Universitas Indonesia, tidak diterbitkan, 2016.

38 Gathut Dwihastoro, Kompleks Masjid Kasunyatan- Banten Lama, (Depok: Skripsi Fakultas Sastra,Universitas Indonesia, tidak diterbitkan, 2016.

39 H. Ahmad Syairoji, Ketua DKM Masjid Jami Kalipasir, Wawancara Pribadi, Kota Tangerang, 8 November 2016

40 Dokumen Pribadi, Gambar Atap, diakses pada tanggal 12 Januari 2018.

33

B. Menara

Menara berasal dari kata bahasa arab manarah, yang berarti tempat menaruh cahaya. Menara merupakan suatu bagian penting dari bangunan masjid, lain halnya dengan di Indonesia adanya menara tidak menjadi syarat mutlak untuk menentukan bagian masjid itu lengkap atau tidak.41

Tradisi membangun menara diawali oleh khalifah Al-Walid ketika memugar bekas Basilica Santo John menjadi sebuah masjid besar, yang kemudian menjadi masjid Agung Damaskus. Pada bekas Basilica tersebut tadinya terdapat dua buah menara yang berfungsi sebagai petunjuk, lonceng pada siang hari dan kerlipan lampu pada malam hari. Menara itu sendiri merupakan salah satu ciri khas bangunan Byzantium.42

Menara adalah salah satu arsitektur Islam. Menara merupakan struktur tunggal yang tinggi menjulang dan menonjol keluar dari lingkungannya. Sebuah menara biasanya memiliki unsur-unsur, base, shaft, balkon, dan mahkota, kubah, kepala menra. Dalam Islam menara selalu disandingkan dengan masjid dan digunakan oleh muadzin untuk mengumandangkan adzan, memanggil umat Islam shalat berjamaah. Secara fisik menara tidak mempunyai fungsi dominan. Saat ini fungsi menara lebih bersifat estetika visual dan spiritual simbol. Secara universal menara merupakan simbol agama Islam dan identitas masyarakat Islam.

Menara sebenernya tidak dikenal pada masa Rasulullah SAW. Pada masa Rasulullah SAW, adzan dilakukan di atas atap masjid. Bahkan pada masa penggerak Wahabisme di Saudi Arabia, menara dianggap bid‟ah dalam Islam.

Kaum Wahabi melarang pendirian masjid dilengkapi dengan struktur menara serta berbagai ornamen dan dekorasi lainnya.

41 Gathut Dwihastoro, Kompleks Masjid Kasunyatan- Banten Lama, (Depok: Skripsi Fakultas Sastra,Universitas Indonesia, tidak diterbitkan, 2016.

42 Anjar Fiky Sutrisno, Karakteristik Arsitektur Menara Masjid Sebagai Simbol Islam Dari Masa Ke Masa, ( Sulawesi Utara : e-journal Prodi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi ).

Bentuk menara pada masa awal perkembangan arsitektur masjid, setidaknya ada beberapa bentuk dasar masjid. tetapi yang paling awal, seperti menara Masjid Nabawi dan Masjid Damaskus, tidak berdiri sendiri tetapi menyatu dengan struktur bangunan masjid. Pola seperti ini menyebar ke berbagai penjuru di daratan Arab hingga ke Andalusia.

Di Banten sendiri hampir semua masjid dilengkapi dengan menara, namun hal itu juga bukan keharusan. Demikian juga Masjid Jami Kalipasir yang mempunyai menara yang dibangun pada tahun 1904 M. Kalau dilihat menara Masjid jami Kalipasir seperti bentuk pagoda. Menara ini juga salah satu simbol yang menjadi daya tarik yang unik. Menara ini mempunyai ukuran 3x3 m, tingginya sekitar 10 m. Kaki menara Masjid Jami kalipasir mencakup fondasi, tingkat pertama dan ruang penghubung. 43

fondasi menara berukuran 3x3 meter, pada bagian kaki menara diberi dua anak tangga yang tingginya 30 centimeter dari permukaan tanah. Pada bagian bawah menara dipakai sebagai ruang buat mengambil air wudhu, dan ruang tersebut bisa menuju ke makam yang ada di depan masjid. Menara Masjid Jami Kalipasir dibangun hampir mirip tengan sebuah pagoda di Tiongkok. Menara Masjid Jami Kalipasir dibangun hampir mirip dengan sebuah pagoda di Tiongkok.

Menara masjid ini sebagai salah satu simbol kerukunan antara umat beragama. Menara masjid selain berfungsi sebagai tempat untuk mengumandangkan adzan juga berfungsi ganda seperti halnya mercusuar atau menara pengintai. Hal ini terdapat pada menara-menara masjid yang ada di kota pelabuhan atau tepi sungai.

43 H. Ahmad Syairoji, Ketua DKM Masjid Jami Kalipasir, Wawancara Pribadi, Kota Tangerang, 8 November 2016

35

Gambar 7 : Menara44

B. Fungsi dan Peran Masjid Dalam Sosio Religius 1. Fungsi Masjid

a. Sebagai Tempat Ibadah

Memotivasi dan membangkitkan kekuatan ruhaniyah dan keimanan seseorang adalah fungsi utama masjid. Makna etimologis dari kata masjid sendiri adalah tempat untuk bersujud, sehingga bisa ditarik kesimpulan masjid adalah tempat ibadah secara khusus diperuntukan bagi orang-orang muslim.

Secara umum ibadah berarti bakti manusia kepada Allah SWT, karena didikan dan dibangkitkan oleh akidah dan tauhid. Ibadah merupakan tugas hidup manusia, sebagaimana Firman Allah yang berbunyi :

لااو ّهجلا تقلخ امو .نو دبعيل ّلاا سو

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku”.( Adz-Dzariyaat /surat 51 / ayat 56).

44 Dokumen Pribadi, Gambar Menara, diakses 12 Januari 2018

b. Sebagai Pusat Kegiatan Umat

Dalam fungsi sosialnya, masjid berperan untuk menyatukan masyarakat muslim. Ketika Rasulullah hijrah dari Makkah ke Madinah, maka usaha pertama kali yang dilakukannya membangun masjid.

c. Sebagai Tempat Pendidikan dan Kebudayaan

Pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik untuk perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Pendidikan di sini adalah pendidikan Islam yang merupakan pewarisan dan perkembangan budaya manusia yang bersumber dan berpedoman kepada ajaran Islam sebagai mana termaktub dalam Al-Qur‟an dan terjabar dalam sunnah Rasul. Adapun yang dimaksud adalah dalam rangka terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan demikian ciri yang membedakan antara pendidikan Islam dengan yang lain adalah pada penggunaan ajaran Islam sebagai pedoman dalam proses pewarisan dan pengembangan budaya umat manusia tersebut Sama halnya dengan peradaban Islam, maka demikian pula halnya pendidikan Islam, ia merupakan satu kebulatan dari saling pengaruh mempengaruhi diantara kebudayaan dari bermacam-macam bangsa.

Sedangkan kebudayaan merupakan berbagai pola, bertingkah laku mantap, pikiran, perasaan dan reaksi yang diperoleh dan terutama diturunkan oleh simbol- simbol yang menyusun pencapainnya secara tersendiri dari kelompok-kelompok manusia, termasuk didalamnya perwujudan benda-benda materi. Pusat esensi kebudayaan terdiri dari atas tradisi cita-cita atau paham, dan terutama keterkaitan terhadap nilai-nilai.

Kebudayaan disini adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia untuk memenuhi kehidupannya dengan cara belajar, yang semuanya tersusun dalam kehidupan masyarakat. Jadi unsur-unsur kebudayaan itu meliputi semua kebudayaan di dunia, baik yang kecil, bersahaja dan terisolasi,

37

maupun yang besar, komplek, dan dengan jaringan hubungan yang luas. Dengan kebudayaan yang baik masyarakat nantinya akan menjadi masyarakat yang baik pula, karena suatu kebudayaan sangat mempengaruhi kehidupan manusia di muka bumi ini. Disamping masjid sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan tempat pusat kebudayaan Islam. Di samping masjid sebagai tempat ibadah, masjid juga merupakan tempat pusat kebudayaan Islam. 45

Dimana pola tingkah laku manusia diatur dan diciptakan yang sedemikian rupa sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Kebudayaan Islam adalah kebudayaan yang diwarnai dan dijiwai oleh ajaran Islam (Al-Qur‟an dan Sunnah), sehingga tampillah corak-corak kebudayaan Islam. Hal ini juga merupakan suatu cara untuk menyatakan bagi Islam yang menyatakan diri dalam seluruh segi kehidupan dari segolongan manusia yang membentuk lingkungan sosial, dalam suatu ruang dan waktu.

Penyebaran dan pertumbuhan kebudayaan Islam di Indonesia terutama terletak dipundak para ulama‟. Paling tidak ada dua cara yang dilakukannya 1.

Membentuk kader-kader ulama yang akan bertugas sebagai muballig ke daerah yang lebih luas. Cara ini dilakukan dalam lembaga pendidikan Islam yang dikenal dengan pesantren di Jawa, Dayak di Aceh, dan Surau di Minangkabau. 2. Melalui karya-karya yang tersebar dan dibaca di berbagai tempat yang jauh.

d. Sebagai Wadah Ekonomi Umat

Masjid juga berfungsi sebagai wadah berkumpulnya para Jama‟ah yang memiliki kelebihan ilmu dan harta. Sebab itu, masjid juga harus berfungsi sebagai pusat perencanaan dan manegemen pengembangan ekonomi dan bisnis umat.

45 Suwarto, Peranan Masjid Dalam Perkembangan Ekonomi Masyarakat Di Masjid Riyad Surakarta, ( Surakarta: Skripsi Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta 2012).

2. Peran Masjid

Dalam arti khusus, masjid adalah tempat atau bangunan yang dibangun untuk menjalankan ibadah, terutama sholat jama‟ah. Pengertian ini mengerucut menjadi masjid. Masjid yang digunakan buat shalat jum‟at disebut masjid jami‟

karena shalat jum‟at diikuti banyak orang. Masjid Jami Kalipasir selain menjadi tempat ibadah dan syiar agama Islam, Juga memiliki sejarah yang sangat tinggi.

Masjid ini menjadi tempat akulturasi budaya dan saksi perjuangan anak bangsa melawan penjajah dan ada beberapa peran masjid yaitu:

A. Masjid sebagai Sumber Aktifitas

Peranan masjid tidak hanya menitik beratkan pada aktifitas akhirat saja, tetapi juga memadukan antara aktivitas ukhrawi dan aktivitas duniawi. Dalam perkemba-ngannya yang terakhir, masjid mulai memperlihatkan aktivitas oprasional menuju keragaman dan kesempurnaan kegiatan. Pada garis besarnya oprasionalisasi masjid menyangkut:

a. Aspek Hissiyah (bangunan)

Dalam masalah bangunan fisik masjid, Islam tidak menetukan dan mengturnya. Artinya umat Islam diberikan kebebasan sepanjang bangunan masjid itu berperan sebagai rumah ibadah dan pusat kegiatan jamaah/umat, bukan hanya menitik beratkan kepada aspek kemegahan saja.

b. Aspek Maknawiyah (tujuan)

Pada masa Rasulullah, masjid dibangun atas dasar taqwa dengan melibatkan masjid sebagai pusat ibadah dan pusat pembinaan umat islam.

c. Aspek Ijtima‟iyah (segala kegiatan) 1. Lembaga Dakwah dan Bakti Sosial

Kegiatan dakwah dan bakti sosial dimiliki hapir oleh semua masjid.

Kegiatan dakwah bisa dilihat dalam bentuk pengajian/tabligh, diskusi, silaturahmi dan lain-lain. Kegiatan bakti sosialterwujud dalam bentuk santunan anak yatim, khitanan masal, zakat fitrah, pemotongan hewan qurban dan lain-lain juga dilakukan di masjid.

39

2. Lembaga Manajemen dan Dana

Masjid di Indonesia pada umumnya bercorak tradisional, hanya di beberapa masjid tertentu manajemen masjid dapat dilaksanakan secara propesional.

3. Lembaga Pengelola dan Jamaah

Antara pengelola dan jamaah terjalin ikatan yang tidak dapat dipisahkandari kegiatan masjid. Kedua komponen ini merupakan pilar utama yang memungkinkan berlangsungnya aneka kegiatan di masjid.

Allah berfirman dalam surat Al-Jin ayat 18

اًدَحَأ ِ َّاللَّ َعَم اوُعْدَت لاَف ِ َّ ِلِلّ َدِجاَسَمْلا َّنَأَو Artinya: “Dan Sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah)

Allah”. ( Al-Jin / 72 :18)

A. Masjid dalam Arus Informasi Modern

Islam sebagai agama universal (Kaffah atau menyeluruh) ditakdirkan sesuai dengan tempat dan jaman, ia sempurna sebagai sumber dari segala sumber nilai. Dewasa ini kita memasuki era globalosasi. Era yang ditandai dengan gencarnya pembangunan menyeluruh dan pemamfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), dengan arus informasi sebagai acuan utamanya. 46

Dampak negatif globalisasi sudah banyak di rasakan contohnya mempermudah penyusupan budaya asing, praktik gaya hidup bebas yang mengakibatkan krisis moral, lenyapnya rasa gotong royong dan silaturahmi dan lain-lain. Pada sisi lain ia menghembuskan dampak fositif berupa kesanggupan melahirkan masyarakat yang kreatif, baik itu krearif dalam berfikir maupun dalam hal berkarya. Jelasnya manusia bisa mengaktifkan potensi insani dan alaminya.

Bagi masjid dampak fositif ini berarti kesaggupan meningkatkan wawasan yang luas dan jauh ke depan. Dengan bekal tersebut setidaknya ada kesiapan dalam mengambil tindakan dengan langkah yang tepat dan cepat.

46 Suwarto, Peranan Masjid Dalam Perkembangan Ekonomi Masyarakat Di Masjid Riyad Surakarta, ( Surakarta: Skripsi Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta 2012)

40

BAB V PENUTUP

A. KESIMPULAN

Arsitektur Tionghoa pada Masjid Jami Kalipasir terdapat pada ku- bah/mustaka dan menara. Pada bagian kubah

Masjid Jami Kalipasir didirikan dengan mengikuti kaidah-kaidah, dalam kontruksi arsitektural rumah ibadah dalam budaya masyarakat seki- tar yaitu Tiong Hoa. Bahan-bahan serta kontruksinya, masih memper- tahankan budaya yang ada di daerah tersebut, sehingga terlihat masih asli dan terpelihara masih ada Masjid Jami Kalipasir. Bahan-bahan yang digunakan dan teknik kontruksi lokal, mengantarkan Masjid Jami Kalipasir tetap menjaga keaslian dan kekuatan kontruksinya hingga saat ini. Yaitu:

1. Arsitektur: karena mengikuti perkembangan masyarakat sekitar, dengan perbedaan pada bagian kubah.

2. Status: Masjid ini memiliki stasus istimewa di Tangerang, dengan di- jadikan tempat wisata religi hingga bangunan ini dijadikan cagar bu- daya di Tangerang.

3. Keaslian bangunan: disaat bangunan-bangunan Masjid Jami Kalipasir lainnya direnovasi, Masjid Jami Kalipasir masih tetap mempertahan- kan keasliannya.

Masjid Jami Kalipasir memang hanya sebuah benda diam, namun makna yang dimunculkan dari berbagai simbol yang di tampakkan dalam seni arsitekturnya, membuat dinamika masyarakat sekitar ikut memakmurkan kegiatan masjid.

Arsitektur Tionghoa merupakan arsitektur khas oriental yang berasal dari daratan Tiongkok yang pada dasarnya memiliki akar budaya

41

yang sangat tua dan dilestarikan dengan baik selama beribu-ribu tahun.

Arsitektur tradisional yang berornamen atau berhias. Dari segi interior, gaya oriental ditandai dengan penggunaan material kayu, kertas pelapis dingding dan warna yang dominan merah, coklat tua, dan emas. Gaya ukiran dalam interior khas oriental biasanya berbentuk ukiran seperti naga dan singa. Bunga Lotus pun kerap digunakan sebagai motif ukiran ataupun lukisan. Atap khas Tionghoa yang berwarna mencolok seperti merah, biru, dan kuning dengan menggunakan patung naga sebagai wujud kepercayaan.

Gaya arsitek Tionghoa masih tetap bertahan setelah berabad-abad dibentuk. Prinsip arsitektur Tionghoa tidak pernah berubah, apabila adanya perubahan, perubahan tersebut adalah detail dekoratif. Sejak Dinasti Tang, seni arsitek Tionghoa telah banyak mempengaruhi arsitektur. Keunikan arsitektur tradisional Tionghoa adalah penggunaan kayu sebagai material kontruksi utama

Arsitektur Tionghoa pada Masjid Jami Kalipasir merupakan bangunan yang menjadi daya tarik masyarakat Tangerang. Beberapa bagi- an bangunan masjid mengikuti kondisi di daerah tersubut yang mana di daerah tersebut menganut Etnis Tionghoa dan bagian tersebut masih ben- tuk aslinya yaitu Kubah dan Menara.

Daftar Pustaka

Buku :

Abdu, Mushab Asy syahid, Dinamika Preservasi dan Konservasi Arsitektur Masjid Jami Kalipasir, Kota Tangerang-Banten, (Depok: Journal Te- ori Arsitektur Fakultas Teknik, Universitas Indonesia, tidak diterbit- kan, 2016.

Ayub, E. Mohammad, Management Masjid : Petunjuk Praktis Bagi Para Pengurus, Jakarta : Gema Insani Press,1996.

Dwi Hastoro, Gathut, Kompleks Masjid Kesunyatan Banten Lama, (Depok : Skripsi Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, tidak diterbitkan, 2016.

Eko Prasetyo, Johan, Masjid Pathok Negoro Plosokuning 1724-2014 ( Kajian Arsitektur Jawa ), (Ciputat: Skripsi Fakultas Adab dan Humaniora, Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam UIN Syarif Hidayatullah, tidak diterbitkan, 2016.

Fiky, Anjar, Sutrisno, Karakteristik Arsitektur Menara Masjid Sebagai Sim- bol Islam dari Masa ke Masa, ( Sulawesi Utara : e-Journal Prodi Arsi- tektur, Fakultas Teknik, Universitas Sam Ratulangi).

Gottschalk, louis, Mengerti Sejarah. Terj: Nugroho Notosusanto (Jakarta: UI Press, 1983).

Hansel, Stefanus Suryatenggara, Klenteng Boen Tek Bio Tangerang Kajian Arsitektural, (Depok : Skripsi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, tidak diterbitkan, 2011.

Kartodirdjo, Sartono Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, Ja- karta: Gramedia PustakaUtama, 1992.

Khaliesh, Hamdil, Arsitektur Tradisional Tionghoa: Tijauan Terhadap Iden- titas, Karakter Budaya dan Eksistensinya, (Pontianak : Journal Pro- gram Studi Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas

Tanjungpura).

43

Moedjiono, Ragam Hias dan Warna Sebagai Simbol Dalam Arsitektur Cina, (Semarang: Journal Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Diponogoro Semarang).

Munawwir, A.W, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia, (Yogyakarta : Pustaka Progresif 1984).

Pudjiastuti Titik, Perang, Dagang, Persahabatan Surat-surat Sultan Banten, Jakarta Yayasan Obor Indonesia 2007.

Salim, Poniwati,Arsitektur Cina Pada Klenteng Jin De Yuan di Kawasan Pecinan Jarkarta Sebagai Suatu Perwujudan Akulturasi Kebudayaan, , (Jakarta: Journal Jurusan Desain Interior, Fakultas Komunikasi dan Multimedia, Universitas Bina Nusantara).

Siregar, Parlindungan, The Mosque kebon Jeruk: a Potrait of Acculturation of Moeslem Society in Jakarta 18th century, Penerbit Atlantis Press, Jakarta.

Sopandi, Setiadi, Sejarah Arsitektur Sebuah Pengantar, (Jakarta: PT. Grame- dia Pusaka Utama).

Sumardjo, Jakob, Arkeologi Budaya Indonesia, Pelacakan Hermeneutis- Historis Terhadap Artefak-artefak Kebudayaan Indonesia, Yogyakar- ta: PENERBIT QALAM, 2002.

Suwarto, Peranan Masjid Dalam Perkembangan Ekonomi Masyarakat Di Majid Riyad Surakarta, (Surakarta: Skripsi Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta 2012).

Tim Pusat Studi Sunda, Sejarah Kabupaten Tangerang (Tangerang:

Pemerintahan Kabupaten Tangerang).

Sumber Elektronik :

www.tangerangkota.go.id/9-bangunan-dijadikan-cagar-budaya-kota- tangerang ( Diakses 13 Maret 2017 Pukul 22:28 WIB)

www.tionghoa,org, diakses 17 April 2018, pukul 22.16 Wib.

Wawancara :H. Ahmad Syairoji, Ketua DKM Masjid Jami Kalipasir, Wawancara Pribadi, Kota Tangerang, 8 November 2016.

MASJID JAMI KALIPASIR

PAPAN CAGAR BUDAYA MASJID JAMI KALIPASIR

45

KUBAH MASJID JAMI KALIPASIR

MENARA MASJID JAMI KALIPASIR

MAKAM-MAKAM DI DEPAN MASJID JAMI KALIPASIR

Dokumen terkait