• Tidak ada hasil yang ditemukan

Arsitektur Tionghoa pada Masjid Jami kalipasir (1671-2001) M

N/A
N/A
Wuri Handoko

Academic year: 2023

Membagikan "Arsitektur Tionghoa pada Masjid Jami kalipasir (1671-2001) M"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Metode Penelitian

Tinjauan Pustaka Terdahulu

Kerangka Teori

Sistematika Penulisan

MASJID JAMI KALI PASIR

Masjid Kali Pasir Jami terletak di Kota Tangerang. Secara geografis terletak pada bujur timur (BT) dan 6 6 – 6 lintang selatan (LS). Di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Teluk Naga dan Kecamatan Sepatan Kabupaten Tangerang, di sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan. Masjid Kali Pasir Jami secara administratif terletak di Kelurahan Kali Pasir, Kecamatan Sukasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Pada tahun 1608 M, Pangeran Kuripan datang dari Bogor yang ingin menyebarkan agama Islam dari Kesultanan Cirebon ke wilayah Banten, namun Pangeran Kuripan singgah di peninggalan Ki Tengger Jati dari Galuh Kawali di Kerajaan Pasundan.

Dari tempat pertapaan tersebut dibangunlah sebuah masjid kecil bernama Masjid Jami Kali Pasir yang terletak di Tangerang, tepat di pemukiman Tionghoa di Pasar Lama. Melihat penderitaan masyarakat setempat yang mayoritas adalah Tionghoa, Pangeran Kuripan mulai menyebarkan agama Islam dengan membangun masjid kecil yang dibangun dari batang pohon kelapa dan beratap daun kelapa. desa yaitu Desa Kali Pasir. Masjid Kali Pasir Jami didirikan oleh Pangeran Kuripan dan dibantu oleh masyarakat setempat. Setelah Pangeran Kuripan meninggal, pengelolaan masjid dilanjutkan pada tahun 1671 M oleh putranya, Tumenggung Pamit Wijaya.

Namun pada tahun 1865 pengelolaan masjid dilanjutkan oleh Putri Idar Dilaga yaitu Nyi Raden Djamrut dan suaminya Raden Abdullah hingga tahun 1904. Di Masjid Kali Pasir hanya terdapat beberapa bangunan asli seperti tiang penyangga dan menara yang sudah tidak mirip lagi dengan aslinya,”* Sebenarnya ada beberapa makam di belakang masjid ini, termasuk makam bupati pertama Tangerang yaitu Raden H. Ahmad Penna. Masjid Kalipasir Jami juga berperan penting dalam penyebaran budaya dan agama Islam di Pasar Lama, Kota Tangerang.

Namun bagi umat Islam di sekitar kawasan Kali Pasir, bangunan masjid ini awalnya tidak diperuntukkan sebagai monumen khusus sehingga harus diistimewakan dari fungsi aslinya dan menghindari intervensi arsitektur yang tidak perlu. Dengan tradisi prosesi miniatur perahu sebagai simbol kedatangan sesepuh Islam di Sungai Cisadane Kota Tangerang. Masjid Kalipasir Jami mempunyai unsur-unsur arsitektur yang berkaitan dengan ingatan subyektif para pengurus masjid dan masyarakat sekitar pada umumnya mengenai penggunaan model elemen.15 Arsitek masjid tidak memiliki kaidah desain khusus atau sakral dalam agama Islam dan bersifat universal.

Corak Masjid Jami Kali Pasir dihasilkan dari kenangan masyarakat setempat Kali Pasir, kenangan yang dimaksud adalah yang dibangun atas tekanan masyarakat setempat atau lingkungan sekitar. Bangunan asli di Masjid Kali Pasir hanya terdapat beberapa, seperti tiang, kubah dan menara.16. Di depan Masjid Kali Pasir Jami terdapat beberapa makam, salah satunya makam Bupati Pertama Tangerang, makam-makam tersebut kurang terawat dan terlihat sangat kotor.

Gambar 1 : Peta Kalipasir 13
Gambar 1 : Peta Kalipasir 13

ARSITEKTUR TIONGHOA

Ragam Arsitektur Tionghoa

Arsitektur Tiongkok banyak menekankan pada aspek penataan ruang, konstruksi, detail, dan simbolisasi sehingga menjadikan arsitektur Tiongkok terlihat unik. Penataan ruang dalam arsitektur Tionghoa didasarkan pada kebutuhan sehari-hari yang dipadukan dengan persyaratan estetika yang dianut masyarakat Tionghoa. Ciri arsitektur tradisional Tiongkok selanjutnya adalah simetri struktur dan bentuk ortogonal pada denah dan bagian.

Corak dan corak bangunan arsitektur Tionghoa terlihat jelas dari hiasan pada bagian atas atap maupun hiasan pada pilar-pilar bangunan yang semuanya menampilkan lukisan bunga dan binatang. Bentuk mihrab Masjid Kalipasir Jami bisa disebut juga dengan mihrab melengkung, bahkan bentuk lengkungannya hampir seperempat lingkaran. Kubah Masjid Kalipasir Jami mempunyai corak atau hiasan Tionghoa yang sengaja dibuat untuk memudahkan penyebaran agama Islam pada masa itu.

Kira-kira kubah Masjid Jami Kalipasir lebarnya 4x4 cm, bagian atasnya runcing dan bagian atas kubahnya berwarna emas. Masjid Kalipasir Jami selain sebagai tempat ibadah dan penyebaran agama Islam juga memiliki sejarah yang sangat kaya. Masjid Kalipasir Jami dibangun sesuai kaidah konstruksi arsitektur rumah ibadah budaya masyarakat sekitar yaitu Tiong Hoa.

Bahan dan konstruksinya masih mempertahankan budaya daerah sehingga masih terlihat asli dan Masjid Kalipasir Jami tetap terjaga kelestariannya. Bahan-bahan yang digunakan dan teknik konstruksi lokal memastikan Masjid Kalipasir Jami tetap mempertahankan keaslian dan kekuatan konstruksinya hingga saat ini. Keaslian bangunan: Meskipun bangunan Masjid Kalipasir Jami lainnya telah direnovasi, namun Masjid Kalipasir Jami masih tetap mempertahankan keasliannya.

Masjid Kalipasir Jami memang hanya berupa benda diam, namun makna yang muncul dari berbagai simbol yang ditampilkan dalam seni arsitekturnya menjadikan dinamika masyarakat sekitar turut menunjang tumbuh suburnya aktivitas masjid tersebut. Arsitektur Tionghoa merupakan ciri khas arsitektur oriental yang berasal dari daratan Tiongkok yang pada dasarnya mempunyai akar budaya. Abdu, Mushab Asy Syahid, Dinamika Konservasi Arsitektur dan Konservasi Masjid Kalipasir Jami Kota Tangerang-Banten, (Depok: Jurnal Teori Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Unpublished, 2016.

Gambar 2 : Courtyard 25
Gambar 2 : Courtyard 25

Pemanfaatan Arsitektur Tionghoa

ARSITEKTUR TIONGHOA PADA MASJID JAMI KALI

Bagian Dalam Masjid

Bagian terbesarnya merupakan area dalam masjid yang khusus diperuntukkan bagi kegiatan terbatas yang hanya bersifat ibadah saja, seperti salat, mengaji, i'tikaf. Bagian utama masjid, sebagai tempat yang digunakan hanya untuk kegiatan ibadah seperti salat dan pelaksanaan ibadah sehingga memerlukan mihrab sebagai tempat ibadahnya.32. Bagian utama masjid dengan beranda dibatasi oleh tembok keliling, jendela dengan kisi-kisi kayu, dan pintu kayu.

Dahulu dindingnya terbuat dari kayu kelapa dan atapnya dari daun kelapa dan pada tahun 1671 M, pada masa pemerintahan Pangeran Tumenggung Pamit Wijaya, masjid ini mulai direnovasi baik dinding maupun atapnya dengan batu bata yang diplester pasir dan kapur 33 In bagian tengah utama masjid ditopang empat tiang penyangga dari bahan kayu jati, tiang-tiang tersebut masih berdiri kokoh namun kini mulai lapuk.

Mihrab

  • Bagian Luar Masjid

37 Gathut Dwihastoro, Kasunyatan- Komplek Masjid Banten Lama, (Depok: Skripsi Fakultas Sastra Universitas Indonesia, durung terbit, 2016. 38 Gathut Dwihastoro, Kompleks Masjid Kasunyatan- Banten Lama, (Depok: Skripsi Fakultas Fakultas Universitas Indonesia, ora diterbitake 2016. 41 Gathut Dwihastoro, Komplek Masjid Kasunyatan - Banten Lama, (Depok: Skripsi Fakultas Sastra Universitas Indonesia, ora diterbitake, 2016.

42 Anjar Fiky Sutrisno, Ciri-Ciri Arsitektur Menara Masjid Sebagai Simbol Islam Dari Masa Ke Masa, (Sulut: e-journal Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi. Menara Masjid selain berfungsi sebagai tempat beribadah mengumandangkan Adzan juga mempunyai fungsi ganda sebagai mercusuar atau menara pengintai: Dapat ditemukan di menara masjid di kota pelabuhan atau di tepi sungai.

45 Suwarto, Peran Masjid Dalam Perkembangan Ekonomi Masyarakat di Masjid Riyad Surakarta, (Surakarta: Disertasi Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta 2012). Artinya, umat Islam diberikan kebebasan selama bangunan masjid berfungsi sebagai rumah ibadah dan pusat kegiatan jamaah, tidak hanya mementingkan aspek kemegahan saja. Pada masa Rasulullah, masjid dibangun atas dasar ketakwaan dengan melibatkan masjid sebagai pusat ibadah dan pusat pengembangan umat Islam.

46 Suwarto, Peran Masjid dalam Pembangunan Ekonomi Masyarakat di Masjid Riyad Surakarta, (Surakarta: Skripsi, Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Surakarta 2012). Dwi Hastoro, Gathut, Komplek Masjid Kesunyatan Banten Lama, (Depok: Skripsi Fakultas Sastra Universitas Indonesia, unpublished, 2016. Fiky, Anjar, Sutrisno, Ciri-ciri Arsitektur Menara Masjid Sebagai Simbol Islam Dari Masa ke Masa, (Utara Sulawesi : e-Journal Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi).

Hansel, Stefanus Suryatenggara, Kajian Arsitektur Candi Boen Tek Bio Tangerang, (Depok: Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, tidak diterbitkan, 2011. Suwarto, Peran Masjid dalam Pembangunan Ekonomi Masyarakat di Majid Riyad Surakarta, ( Surakarta: Tesis: Tesis: , Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta 2012).

Gambar 5 : Mihrab dan Mimbar 36
Gambar 5 : Mihrab dan Mimbar 36

Gambar

Gambar 1 : Peta Kalipasir 13
Gambar 2 : Courtyard 25
Gambar 3 : Atap Bangunan Tionghoa  26
Gambar 2 : Rumah Rakyat Biasa 28
+5

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Sungai brantas yang terletak disebelah selatan masjid adalah yang digunakan sebagai jalan depan yang utama/satu- satunya untuk kearah menuju masjid Jami’ tersebut, sebagai

ukiran serta konstruksi kayu sebagai bagian dari struktur bangunan pada arsitektur Tionghoa, dapat dilihat sebagai ciri khas pada bangunan Tionghoa. Detail-detail konstruktif

Arsitektur tradisional merupakan bangunan yang sangat mudah bahan yang. dipakai serta banyak didapat di alam, seperti: batu, kayu, bambu, tanah,

Tindakan preservasi pada Masjid Jami Kalipasir telah lama dilakukan oleh pengurus DKM Masjid Jami Kalipasir dengan sifat swadaya sebelum bangunan ini ditetapkan menjadi

Perkembangan Arsitektur di Jawa Timur khususnya Masjid Jami‟ Sunan Dalem desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik belum pernah diteliti dan diugkapkan secara Khusus

Masjid Tua Al-Wahhab Bontang merupakan karya interior arsitektur yang dimunculkan dari bentuk-bentuk tradisional budaya masyarakat pembentuknya. Secara historis bangunan

Dinding Dinding pada masjid jami al-yahya memiliki karakteristik tebal dan cukup rendah, hal ini juga merupakan salah satu karakteristik dari masjid Jawa, dinding yang tebal ditujukan

86 | SIAR III 2022 : SEMINAR ILMIAH ARSITEKTUR Hasil wawancara yang dilakukan Bersama dengan pengelola masjid Agung Jami Pekalongan bahwa pernah terdapat jamaah difabel namun akses