• Tidak ada hasil yang ditemukan

Usaha Preservasi pada Masjid Jami Kalipasir, Tangerang, Banten

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Usaha Preservasi pada Masjid Jami Kalipasir, Tangerang, Banten"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017 | A 273

Usaha Preservasi pada Masjid Jami Kalipasir, Tangerang,

Banten

Maretta Arninda Dianty [email protected]

Program Studi A rsitektur; Sekolah A rsitekur, Perancangan, dan Perencanaan Kota; Institut Teknologi Bandung.

Abstrak

Suatu kawasan cagar budaya tentunya membutuhkan preservasi yang dilakukan untuk melestarikan cagar budaya itu sendiri. Preservasi suatu cagar budaya tidak hanya melingkupi aspek fisiknya, namun juga melingkupi aspek lain yang terlibat dalam nilai-nilai kebudayaan yang ada pada cagar budaya tersebut. Preservasi arsitektur masjid dilihat dari perspektif bagaimana fasilitas mendukung fungsi ibadah shalat. Aktivitas rutin yang dilakukan pengguna masjid se hari-hari pun dikatakan sebagai salah satu bentuk upaya melestarikan cagar budaya itu sendiri selain preservasi dalam bentuk fisik. Pada Masjid Jami Kalipasir, pengurus DKM telah melakukan usaha-usaha yang bertujuan untuk melestarikan masjid secara swadaya sebelum masjid tersebut ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya. Semenjak Masjid Jami Kalipasir ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya berdasarkan Undang-Undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, terdapat campur tangan pemerintah dalam upaya preservasi Masjid Jami Kalipasir. Pada paper ini akan dibahas usaha preservasi yang sudah dilakukan kepada Masjid Jami Kalipasir. Namun pengurus DKM Masjid Jami Kalipasir dan Pemerintah Kota Tangerang mempunyai pandangan yang berbeda tentang preservasi Masjid Jami Kalipasir ini. Sehingga dibutukan diskusi-diskusi, kerjasama, dan keselarasan dalam preservasi Masjid Jami Kalipasir.

Kata-kunci : arsitektur, arsitektur islam , masjid, preservasi

Pendahuluan

Tangerang merupakan kota yang berada di daerah paling timur dari Provinsi Banten. Kota Tangerang berbatasan dengan Provinsi DKI Jakarta dan Jawa Barat di sebelah timur. Di dalam kota ini hidup berbagai suku bangsa dengan latar belakang budaya dan agama yang berbeda-beda. Salah satunya adalah adanya pemukiman etnis Tionghoa yang dilengkapi dengan sarana ibadah pada akhir abad ke-17. Salah satu bangunan yang merupakan arsitekt ur masjid yang dianggap berpengaruh secara historis di Kota Tangerang yaitu Masjid Jami Kalipasir. Berdasarkan Undang -Undang RI No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Masjid Jami Kalipasir telah ditetapkan menjadi salah satu dari sembilan cagar budaya di Kota Tangerang.

Suatu kawasan cagar budaya tentunya membutuhkan preservasi yang dilakukan untuk melestarikan cagar budaya itu sendiri. Preservasi suatu cagar budaya tidak hanya melingkupi aspek fisiknya, namun juga melingkupi aspek lain yang terlibat dalam nilai-nilai kebudayaan yang ada pada cagar budaya tersebut. Preservasi arsitektur masjid dilihat dari perspektif bagaimana fasilitas mendukung fungsi ibadah shalat. Aktivitas rutin yang dilakukan pengguna masjid sehari-hari dikatakan sebagai salah satu bentuk upaya melestarikan cagar budaya itu sendiri. Dalam paper ini akan dibahas mengenai Masjid Jami Kalipasir yang merupakan salah satu arsitektur masjid yang dipengaruhi oleh kebudayaan Tionghoa dan berpengaruh secara historis di Kota Tangerang.

(2)

A 274 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017

Arsitektur Masjid Jami Kalipasir

Lokasi tapak Masjid Jami Kalipasir berbatasan langsung dengan pemukiman padar Kampung Kalipasir, Kelurahan Sukasari, Kota Tangerang, Provinsi Banten. Di sebelah barat masjid terdapat area pemakaman dan Sungai Cisadane yang mempunyai peran historis sebagai arus transit perdagangan terbesar ketiga setelah Batavia dan Banten. Masjid Jami Kalipasir dikelola dari sejak berdiri hingga sekitar tahun 1918 secara turun temurun. Masjid diperkirakan dibangun pada tahun 1700 oleh Tumenggung Pamitriwidjaja dari Kahuripan. Sekitar tahun 1712, masjid dikelola oleh putranya yang bernama Raden Bagus Uning Wiradilaga. Pada tahun 1740, pengelolaan masjid diserahkan kepada Tumenggung Aria Ramdon yang merupakan putra dari Raden Bagus Uning Wiradilaga. Aria Ramdon meninggal pada tahun 1780 dan dimakamkan di sebelah barat masjid. Sepeninggal Aria Ramdon, pengelolaan masjid diserahkan kepada putranya, Aria Tumenggung Sutadilaga.

Selain menjadi tempat ibadah dan syiar agama, Masjid Kali Pasir memiliki nilai sejarah yang tinggi. Masjid ini menjadi tempat akulturasi budaya dan saksi perjuangan anak bangsa melawan penjajah. Selain itu, dari segi bangunan, menara masjid ini mirip dengan pagoda Tiongkok. Namun, berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh M. Asy Syahid kepada Bapak Syairodji selaku Ketua DKM Masjid Jami Kali Pasir, tidak ada campur tangan etnis Tiongkok pada pembuatan masjid tersebut dan tidak adanya keterkaitan langsung elemen-elemen arsitektural masjid dengan kebudayaan Tionghoa. Hal tersebut juga dinyatakan tertulis pada artikel berjudul “Nyukcruk Galur Mapay Patilasan: Masjid Jami Kali Pasir” yang menarasikan sejarah masjid menggunakan tutur bahasa pribadi dengan mengingat -ngingat memori masa lampau yang disusun oleh pengurus DKM. Hal unik lain adalah bentuk saf yang miring dibandingkan dengan arah masjid. Bentuk saf tersebut ada sejak awal pendirian masjid. Hal ini dikarenakan jika masjid dibangun sesuai arah kiblat maka rumah di sekitar masjid akan terbongkar. Bangunan masjid Kalipasir berdenah persegi dengan menara di sisi timur laut bangunan masjid. Di bagian dalam masjid terdapat mimbar, mihrab, dan beberapa lemari.. Ruang mihrab terdapat pada dinding yang diapit dua pilar. Dinding utara

Gambar 1 Masjid Jami Kalipasir Tangerang dengan area pemakaman pada sisi barat masjid. Sumber: http://wartatangerang.com

(3)

Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017 | A 275

memisahkan ruang utama dengan serambi utara. Pada dinding timur terdapat sebuah jendela dengan lubang angina pada bagian atasnya dan sebuah pintu dengan dua daun pintu. Jendela dan pintu masjid sudah mengalami pergantian material baru.

Hal yang menarik dari masjid ini adalah adanya empat saka guru yang terbuat dari kayu. Kondisi saka guru sudah mulai lapuk, sehingga ditopang oleh besi. Bagian dasar atau dudukan saka guru berupa pasangan bata dan semen yang diplester. Selain saka guru, terdapat 11 kolom yang berbentuk seperti ladam kuda, yakni 5 kolom di sisi selatan dan 6 kolom di sisi timur. Deretan kolom sisi timur, di bagian atas lengkungan terdapat list berbentuk setengah lingkaran dengan diameter ± 2-3 cm, yang dicat berwarna-warni. Menara masjid menyerupai bentuk pagoda dengan tinggi ± 10 m. Area makam Kalipasir terletak di sisi barat bangunan Masjid Kalipasir. Makam-makam tersebut memiliki ukuran 6 m x 2 m dan 4 m x 2 m. Kondisi nisan-nisan pada makam tersebut sudah tidak beraturan dan berantakan. Terdapat beberapa bentuk nisan, antara lain berbentuk gada dan persegi.

Preservasi Masjid Jami Kalipasir

Semenjak masjid difokuskan menjadi bangunan bersejarah, pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) mulai menelusuri secara mendalam mengenai sejarah da nasal muasal masjid di masa awal pembangunannya. Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh M. A sy Syahid kepada ketua DKM Masjid Jami Kalipasir yaitu Bapak Syairodji, salah satu usaha yang dilakukan pengurus DKM adalah Gambar 2. Menara yang bercorak

Tionghoa pada Masjid Jami Kalipasir (kiri) dan kolom soko guru asli yang diberi besi untuk membantu menopang (kanan).

Sumber: Dokumen M. Asy Syahid

Gambar 2. Mihrab dengan ornament khas (kiri) dan pondasi beton yang dilapisi keramik (kanan).

(4)

A 276 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017

mengadakan kunjungan resmi ke pengurus keratin pusat di Cirebon untuk mengkaji tipologi umum masjid tradisional yang dibangun oleh ulama kesultanan Islam pada abad ke -15 di Pulau Jawa untuk mencari kesamaan yang kemudian akan dibandingkan dengan Masjid Jami Kalipasir sendiri. Usaha pendokumentasian bangunan masjid baru dilakukan oleh keturunan engurus dengan mengoleksi data-data yang tersisa dalam satu buku rapi. Usia bangunan diukur dengan mengandalkan sejarah peristiwa sebagai patokan sebelum dihadirkannya tim ahli arkeologi untuk meneliti sejarah masjid ini.

Masjid Jami Kalipasir mempunyai peran penting dalam penyebaran agama Islam di Kota Tangerang. Namun bagi masyarakat muslim di sekitar Masjid Jami Kalipasir, bangunan masjid ini sejak awal tidak diniatkan untuk menjadi monumen khusus yang perlu diistimewakan dan sebisa mungkin menghindari intervensi arsitektural yang tidak diperlukan. Terdapat pondasi struktural utama yaitu empat kolom soko guru yang terbuat dari kayu yang kondisinya sudah mulai lapuk sehingga sekarang ditopang masing-masing dengan 3 buah besi silinder berwarna kuning. Proses renovasi bangunan seperti pengecatan bangunan masjid menjadi berwarna hijau dan penambahan elemen baru dilakukan secara berkala oleh pengurus DKM yang mewakili arsitektur lokal awal abad ke -20, salah satunya bangunan menara. Meskipun tidak asli dari awal, bangunan menara ini telah berdiri sejak tahun 1904 sehingga saat ini telah berusia lebih dari 100 tahun dan memenuhi syarat bangunan cagar budaya.

Tindakan preservasi pada Masjid Jami Kalipasir telah lama dilakukan oleh pengurus DKM Masjid Jami Kalipasir dengan sifat swadaya sebelum bangunan ini ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya oleh pemerintah melalui undang-undang. Apresiasi pengurus DKM terhadap arsitektur masjid terfokus pada subyek jamaah atau pengguna yang beraktivitas di dalamnya sesuai fungsi asalnya daripada terfokus pada objek dan material bangunannya semata. Sebabnya berbagai kerusakan dan penambahan detail pada elemen arsitektural masjid kerap ditemukan dan kurang diperhatikan. Perhatian pengurus DKM lebih ditekankan pada fungsi objek secara umum seperti penggantian material langit-langit menara yang sudah lapuk.

Gambar 3 Elemen arsitektur masjid yang masih asli sejak awal dibangun. Sumber: Dokumen M. Asy Syahid

(5)

Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017 | A 277 Berdasarkan wawancara yang dilakukan oleh M. Abdu kepada ketua DKM Masjid Jami Kalipasir, disebutkan pada Februari 2016 pengurus DKM sempat dipertemukan dengan Pemerintah Kota Tangerang untuk membicarakan arah dan visi preservasi bangunan Masjid Jami Kalipasir ke depannya. Terdapat wacana pemerintah untuk mengganti atau menambah fungsi masjid seiring dengan tuntutan akan status masjid sebagai bangunan cagar budaya. Untuk itu, diperlukan adanya keselarasan dan kerjasama antara pihak pemerintah dengan masyarakat dan pengurus dalam preservasi Masjid Jami Kalipasir.

Kesimpulan

Dalam perspektif masyarakat lokal yang menjadi pengguna ruang, aktivitas rutin yang terjadi di dalam Masjid Jami Kalipasir merupakan salah satu langkah preservasi itu sendiri. Melestarikan suatu bangunan cagar budaya dengan cara melestarikan kegiatan-kegiatan yang terjadi dalam bangunan tersebut. Di sisi lain, Masjid Jami Kalipasir yang ditetapkan menjadi bangunan cagar budaya berdasarkan undang-undang oleh pemerintah menimbulkan isu dan perdebatan mengenai status dan langkah atau upaya preservasi Masjid Jami Kalipasir ini. Perlu dilakukan kajian tetang asal muasal memori desain Masjid Jami Kalipasir agar kaidah preservasi arsitektural dapat lebih ditelusuri. Masyarakat setempat dan Pemerintah Kota Tangerang perlu menyamakan presepsi agar mempermudah melakukan langkah-langkah preservasi ke depannya.

Acknowledgement

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Bambang Setiabudi, ST., MT., Dr.Eng. selaku dosen pengampu mata kuliah Arsitektur Islam yang memberikan ilmu dan arahan terkait tugas ini.

Daftar Pustaka

Anon. (Juni 2012). “Masjid Jami' Kali Pasir”. http://kekunaan.blogspot.co.id/2012/06/masjidjami-kalipasir.html (diakses pada Maret 2017)

Balai Pelestarian Cagar Budaya Serang, September 2015. “Masjid dan Makam Kali Pasir Tangerang”.

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbserang/2015/09/01/masjid-danmakam-kalipasir-tangerang/ (diakses pada Maret 2017)

Fanzy. (6 Januari 2015). “Masjid Kali Pasir: Bukti Akulturasi dan Kerukunan Beragama”.

http://jakarta.panduanwisata.id/beyond-jakarta/tangerang/masjid-kalipasir-buktiakulturasi-dan-kerukunan-beragama/ (diakses pada Maret 2017)

Gambar 4 Kerusakan yang terdapat pada langit-langit menara. Sumber: Dokumen M. Asy Syahid

(6)

A 278 | Prosiding Seminar Heritage IPLBI 2017

Fitrianto, R. (21 Juni 2015). “Ukiran Bunga Tertai Hiasi Kubah Masjid Jami Kali Pasir”.

http://news.merahputih.com/megapolitan/2015/06/21/ukiran-bunga-teratai-hiasi-kubahmasjid-jami-kalipasir/17830/ (diakses pada Maret 2017)

Syahid, M. Abdu Asy. (2016). Dinamika Preservasi & Konservasi Arsitektur Masjid Jami’ Kali Pasir, Kota Tangerang – Banten.

Surat Keputusan Walikota Tangerang Nomor 430 tentang Bangunan Cagar Budaya tahun 2011. Anon. (17 Januari 2017). “Masjid Jami Kali Pasir, Masjid Tertua di Kota Tangerang”.

http://wartatangerang.com/tangerang/kota-tangerang/masjid-jami-kali-pasir-masjid-tertua-di-kota-tangerang/ (diakses pada Maret 2017)

Catatani

iCenderung memberikan penilaian spt hakikat, manfaat, kelebihan/kekurangan, positif/negatif.

2 Cenderung netral dan mengelaborasi persoalan tertentu.

3 Pembahasan akan lebih mudah apabila dibatasi atau fokus pada persoalan (issue) tertentu yang

terkait dengan perencanaan, perancangan, penggunaan, atau pengelolaan lingkungan binaan.

4 Data objek/subjek dikumpulkan dengan detail/lengkap dan dianalisis menggunakan metode

tertentu. Kritik/diskusi menafsirkan dan mengelaborasi secara mendalam/panjang/lebar hasil analisis.

5 Objek/subjek diamati atau ditanyai secara detail, tanpa dianalisis menggunakan metode tertentu.

Kritik/diskusi berdasarkan hasil pengamatan/pendengaran.

6 Objek/subjek tidak diamati atau ditanyai secara langsung atau data tidak dikumpulkan dengan

lengkap. Kritik/diskusi berdasarkan data sekunder, pernyataan-pernyataan tentang objek/subjek yang disusun oleh rekan sejawat, atau penalaran/opini penulis.

Gambar

Gambar 1 Masjid Jami Kalipasir Tangerang dengan area pemakaman pada sisi barat masjid
Gambar 2. Mihrab dengan  ornament khas (kiri) dan pondasi  beton yang dilapisi  keramik  (kanan)
Gambar 3 Elemen arsitektur masjid yang masih asli sejak awal dibangun.
Gambar 4 Kerusakan yang terdapat pada langit-langit menara.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam laporan setiap tahun, harus menyertakan pula dokumentasi hasil Rapid dalam bentuk standar produk (karakterisasi, spesifikasi desain, implementasi, pengujian), laporan

Dari hasil pengukuran kinerja salah satu rumah sakit di kota Malang dengan performance prism diperoleh hasil perancangan sistem pengukuran kinerja diperoleh 99 KPI

Meskipun demikian, masih ada juga siswa yang dengan sengaja tidak mengikuti program CSD, maka dari itu panitia memberikan hukuman kepada mereka yang tidak ikut

Mardalis (2005) memaparkan bahwa kualitas pelayanan, kepuasan pelanggan, citra perusahaan dan switching barrier berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan, sehingga

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dikemukakan pada Bab IV, dalam penelitian ini menguji pengaruh perputaran piutang, perputaran persediaan,

gerakan Islam kampus seperti lembaga dakwah kampus (LDK), Kesatuan Aksi Mahasiawa Muslim Indonesia (KAMMI) serta Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang tersebnr hampir

Selanjutnya, bahwa sampai dengan penyusunan tesis ini, penulis tidak menemukan tesis yang membahas mengenai desain industri berjudul “IMPLEMENTASI UNSUR KEBARUAN DALAM