BAB II KAJIAN PUSTAKA
2. Minat Bersastra
berulang-ulang. Meskipun banyak membaca karya sastra namun, tanpa kemampuan dan keterampilan yang terlatih, mungkin pembacaan menjadi monoton. Endraswara juga menjabarkan beberapa teknik pembacaan sastra yaitu, (1) konsentrasi, (2) percaya diri, dan (3) pendalaman. Selain itu ia juga menambahkan beberapa latihan dasar yang dianggap penting dalam pembacaan karya sastra yaitu : (a) penghayatan dan pemahaman suasana karya sastra, (b) latihan pernafasan dan vokal, serta (c) latihan mimik dan gerak.
Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca puisi merupakan kegiatan bersastra yang menekankan pada keindahan bunyi. Membaca puisi adalah kegiatan menyampaikan isi puisi kepada orang lain dengan memperhatikan beberapa syarat atau ketentuan. Ketentuan-ketentuan tersebut menjadi indikator keterampilan membaca puisi dalam penelitian ini adalah : ( 1) pelafalan, (2) nada, (3) tekanan, (4) intonasi, dan (5) penghayatan.
kemampuan untuk mengungkapkannya. Hal inilah yang menyebabkan perlunya rangsangan dan motivasi dari orang-orang disekitarnya.
Isna juga menyimpulkan beberapa arti minat diantaranya adalah sebagai berikut ini.
1) Sebagai sumber motivasi
Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu hal, maka minat itu dapat menumbuhkan kekuatan di dalam dirinya. Sehingga, secara tidak langsung minat itu dapat memaksimalkan energi seseorang untuk terus beraktivitas.
2) Kemampuan memahami bahwa sesuatu memiliki manfaat
Seseorang tidak akan berkenan melakukan suatu aktivitas dengan ketekunan yang tinggi manakala ia tidak mengetahui bahwa sesuatu yang ditekuninya itu memberikan manfaat kepada dirinya. Artinya apabila seseorang menyadari bahwa suatu aktivitas itu bermanfaat baginya maka dengan sendirinya ia akan rela melakukan serta memberikan waktunya untuk mengerjakan hal tersebut.
3) Kemampuan dalam memberikan perhatian
Kemampuan dalam memberikan perhatian terhadap sesuatu membuktikan minat yang ada dalam diri seseorang. Perhatian yang dimaksud adalah perhatian khusus terhadap suatu hal yang dianggap lebih menarik. Hal ini dapat dilihat dengan memberikan dua atau lebih pilihan baik berupa buku, game, dan aktivitas.
4) Perpaduan antara keinginan dan kemauan
Keinginan merupakan wilayah imajinasi, dan hal ini hampir mendominasi setiap anak. Jika keinginan atau imajinasi berpadu dengan kemauan, maka
biasanya anak akan berusaha mengekspresikan sesuatu yang terlintas dalam imajinasinya.
Senada dengan itu, Slameto (2010: 57) juga berpendapat “Minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan”. Dalam buku yang sama, Slameto juga menjelaskan bahwa minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, siswa tidak akan belajar dengan baik karena tidak ada daya tariknya. Sementara itu, menurut KBBI (2010: 580), pengertian minat adalah perhatian, kesukaan, dan hati.
Terkait dengan hal di atas, Slameto (2010 : 180) juga mengungkapkan bahwa minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di luar diri. Slameto juga menambahkan bahwa suatu minat dapat diekspresikan melalui suatu pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya, dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktivitas. Dengan kata lain, ketika siswa berminat terhadap suatu hal maka siswa akan memberikan perhatian lebih pada objek tersebut melebihi yang lain.
Sebaliknya, Sardiman (2012 : 76) mengungkapkan, “Minat diartikan sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan- kebutuhannya sendiri.” Bernard dalam Sardiman (2012 : 76) menjelaskan minat timbul tidak secara tiba-tiba/spontan, melainkan timbul akibat dari partisipasi,
pengalman, kebiasaan, pada waktu belajar atau bekerja. Berdasarkan pernyataan- pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa minat adalah kecenderungan hati dalam memilih tanpa ada tekanan.
Minat dan motivasi sangat erat kaitannya. Hal ini karena minat merupakan salah satu alat motivasi. Motivasi merupakan pendorong seseorang dalam melakukan suatu tindakan. Pernyataan ini sesuai dengan pendapat Hamalik (2011:
112) bahwa motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan penggerak tingkah laku. Dalam buku yang sama, Hamalik menjabarkan bahwa motivasi memiliki dua sifat, yakni (1) motivasi intrinsik, (2) motivasi ekstrinsik. Motivasi intrinsik adalah motivasi yang tercakup dalam situasi belajar yang bersumber dari kebutuhan dan tujuan-tujuan siswa sendiri. Motivasi ekstrinsik adalah motivasi yang disebabkan oleh faktor-faktor dari luar situasi belajar. Berdasarkan penjabaran di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa minat adalah keinginan dalam diri seseorang baik karena dorongan dari dalam maupun dari luar.
b. Sastra
Menurut Noor (2011: 17), sastra diartikan sebagai karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik. Jadi, sastra tidak bertentangan dengan etika. Di samping estetik yang menjadi ciri utama sebuah karya sastra, etika juga tidak bisa dikesampingkan, karena keduanya saling berhubungan. Sastra saat ini tidak hanya semata-mata sebagai hiburan, tapi juga sudah menjadi bahan pengajaran dan pembentukan moral.
Menurut Ratna (2011: 180), sastra adalah bentuk khusus bahasa sebagaimana bahasa adalah bentuk khusus sistem komunikasi. Pendapat Ratna ini,
sejalan dengan pendapat Noor di atas. Bahasa merupakan kekuatan sebuah sastra.
Keindahan sebuah sastra dapat dilihat dari bahasa yang digunakan pengarangnya serta diksi yang dipakai.
Almubari (2002: 21) berpendapat bahwa sastra merupakan kumpulan tulisan yang didalamnya terdapat nilai estetik, dan nilai kemanusiaan. Sastra adalah genre dari kebudayaan yang mengekploitasi refleksi kehidupan manusia dengan kemanusiaannya. Pendapat Almubari ini memperkuat pendapat Noor.
Menurut Priyatni (2010: 12), sastra adalah pengungkapan realitas kehidupan masyarakat secara imajiner atau secara fiksi. Hal ini senada dengan pendapat Budianta dkk (2003), yang mengungkapkan bahwa sastra menghibur dengan cara menyajikan keindahan, memberikan makna terhadap kehidupan (kematian, kesengsaraan, maupun kegembiraan), atau memberikan pelepasan ke dunia imajinasi.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah gambaran kehidupan yang nyata. Akan tetapi, dalam karya sastra bukanlah kejadian yang sebenarnya. Karya sastra adalah hasil imajinasi penulis atau pengarang. Akan tetapi, meskipun karya sastra murni hasil imajinasi, namun karya sastra tetap memiliki nilai-nilai kehidupan yang dapat dijadikan pembelajaran hidup. Minat bersastra adalah keinginan yang ada dalam diri seseorang untuk mempelajari dan menikmati hasil karya sastra baik karena dorongan dari dalam dirinya maupun dorongan dari luar. Bertolak dari uraian di atas, yang menjadi indikator minat bersastra adalah : (1) kesenangan, (2) keinginan/kemauan, dan (3) apresiasi.