BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA, DAN HIPOTESIS
A. Kajian Pustaka
5. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament
Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) menurut merupakan model pembelajaran kooperatif dengan menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem kemajuan individu, dimana para siswa sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka (Shoimin, 2014:203).
Teams Games Tournament (TGT) adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelpmpok-kelompok belajar yang beranggotakan 5-6 siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku kata atau ras yang berbeda (Fathurrohman, 2016:55). Slavin (Huda, 2016:197) menemukan bahwa Teams Games Tournament (TGT) berhasil meningkatkan skill- skill dasar, pencapaian, interaksi positif antarsiswa, harga diri, dan sikap penerimaan pada siswa-siswa lain yang berbeda.
Ada lima komponen utama model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament yaitu disajikan dalam tabel 2.4.
Tabel 2.4 Komponen Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament
Fase Deskripsi
Class Presentation Presentasi kelas merupakan tahapan dimana guru menyampaikan materi secara langsung.
Teams Siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil (tim) yang terdiri atas 4-5 orang yang heterogen, baik dari segi kemampuan, gender, ras, maupun karakteristik lainnya.
Games Siswa memainkan permainan dengan anggota tim lain yang untuk memperoleh tambahan poin bagi skor timnya. Permainan disusun dari pertanyaan-pertanyaan yang relevan dengan pelajaran yang dirancang untuk menguji pengetahuan dan pemahaman siswa.
Permainan tersebut di mainkan pada meja-meja turnamen.
Tournament Setiap meja-meja turnamen terdiri atas perwakilan dari kelompok yang berbeda namun, memiliki kemampuan yang setara. Setiap siswa akan bertanding dengan siswa lainnya yang ada pada meja turnamen yang sama dan mengambil kartu yang berisi pertanyaan.
Siswa yang menjawab pertanyaan tersebut akan mendapatkan poin. Turnmaen ini akan memungkinkan siswa dari semua tingkatan kemampuan untuk turut berkontribusi terhadap timnya.
Team Recognition Rekognisi tim diperoleh dari skor yang diperoleh setiap anggota tim pada saat turnamen. Tim yang memperoleh skor yang tinggi akan mendapatkan penghargaan.
Sumber: (Lestari Karunia Eka dan Makhammad Ridwan Yudhanegara 2015:47) Setelah siswa ditempatkan dalam meja turnamen, maka turnamen dimulai dengan memperhatikan aturan-aturannya. (Amanah 2017: Vol.1, No.2) Aturan- aturan turnamen Teams Games Tournament (TGT) yaitu:
1) Cara memulai permainan
Untuk memulai permainan, terlebih dahulu ditentukan pembaca pertama.
Cara menentukan siswa yang menjadi pembaca pertama adalah dengan menarik kartu bernomor. Siswa yang menarik nomor tertinggi adalah pembaca pertama.
2) Kocok dan ambil kartu bernomor dan carilah soal yang berhubungan dengan nomor tersebut pada lembar permainan.
Setelah pembaca pertama ditentukan, pembaca pertama kemudian mengocok kartu dan mengambil kartu yang teratas. Pembaca pertama lalu membacakan soal yang berhubungan dengan nomor yang ada pada kartu. Setelah itu, semua siswa harus mengerjakan soal tersebut agar mereka siap ditantang.
Setelah si pembaca memberikan jawabannya, maka penantang I (siswa yang berada di sebelah kirinya) berhak untuk menantang jawaban pembaca atau melewatinya.
3) Tantang atau lewati
Apabila penantang I berniat menantang jawaban pembaca, maka penantang I memberikan jawaban yang berbeda dengan jawaban pembaca. Jika penantang I melewatinya, penantang II boleh menantang atau melewatinya pula. Begitu seterusnya sampai semua penantang menentukan akan menantang atau melewati.
Apabila semua penentang sudah menantang atau melewati, penantang II memeriksa lembar jawaban dan mencocokkannya dengan jawaban pembaca serta penantang. Siapapun yang jawabannya benar berhak menyimpan kartunya. Jika jawaban pembaca salah maka tidak dikenakan sanksi, tetapi bila jawaban penantang salah maka penantang mendapatkan sanksi. Sanksi tersebut adalah dengan mengembalikan kartu yang telah dimenangkan sebelumnya (jika ada).
4) Memulai putaran selanjutnya
Untuk memulai putaran selanjutnya, semua posisi bergeser satu posisi kekiri. Siswa yang tadinya menjadi penantang I berganti posisi menjadi pembaca, penantang II menjadi penantang I, dan pembaca menjadi penantang yang terakhir.
Setelah itu, turnamen berlanjut sampai kartu habis atau sampai waktu yang ditentukan guru.
5) Rekognisi tim (penghargaan tim)
Selanjutnya, poin-poin tersebut dipindahkan ke lembar rangkuman tim untuk dihitung rata skor kelompoknya. Untuk menghitung rerata skor kelompok adalah dengan menambahkan skor seluruh anggota tim kemudian dibagi dengan jumlah anggota tim yang bersangkutan.
Penghargaan kelompok diberikan berdasarkan rata skor kelompok.
Penghargaan kelompok diberikan sesuai kriteria berikut:
Tabel 2.5 Rekognisi Tim (Penghargaan Tim) Kriteria (rata-rata tim) Penghargaan
40 Tim baik
45 Tim sangat baik
50 Tim super
Sumber: (Fathurrohman, 2015:59)
Bagan 2.1 Putaran Permaina
Sumber :(Wulandani, 2015:19) Penantang 1
Menentang jika memang dia mau (dan memberika jawaban berbeda) atau boleh melewatinya
Penantang II
Boleh menantang jika penenantang 1 melewati, dan jika memang dia mau.
Apabila semua penantang sudah memnantang atau melewati, penantang II memeriksa lembar jawaban.Siapapun yang jawaabnnya benar berhak meyimpan kartu.
Pembaca
1. ambil satu kartu bernomor dan carilah soal yang berhubungan dengan nomor tersebut pada lembar permainan.
2. bacalah pertanyaan dengan keras.
a. Kegiatan siswa dalam Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT)
Prasetyaningrum (2013) Kegiatan siswa dalam model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament antara lain: (1) Pada awal pertemuan membentuk kelompok dengan anggota 4-5 orang, (2) Mempelajari materi yang diberikan sesuai dengan kemampuan masing-masing, (3) Bekerjasma memadukan untuk saling mengisi, saling membantu guna mengerjakan tugas belajar yang di bagikan guru, (4) Menjelaskan dan menyatukan serta melengkapi pendapat dengan dasar-dasar pemikiran yang rasional, (5) Kelebihan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT).
Adapun kelebihan dan kekurang dari dari model pembelajaran kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) yang disajikan dalam tabel 2.5..
Tabel 2.6 Kelebihan dan kekurangan model pembelajaran kooperatif tipe TGT seperti pada tabel berikut:
Kelebihan Kekurangan
1. Model TGT tidak hanya membuat peserta didik yang cerdas (berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran, tetapi peserta didik yang berkemampuan akademi lebih rendah juga ikut aktif dan mempunyai peranan penting dalam kelompoknya
2. Dengan model pembelajaran ini, akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya
3. Dalam model pembelajaran ini, membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru menjanjikan sebuah penghargaan pada peserta didik atau kelompok terbaik
4. Dalam pembelajaran peserta didik ini, membuat peserta didik menjadi lebih senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa turnamen dalam model ini
1. Membutuhkan waktu yang lama
2. Guru dituntunt untuk pandai memilih materi pelajaran yang cocok untuk model ini.
3. Guru harus mempersiapkan model ini dengan baik sebelum diterapkan. Misalnya, membuat soal untuk setiap meja turnamen atau lomba, dan guru harus tahu urutan akademis peserta didik dari yang tertinggi hingga terendah.
Sumber: (Shoimin, 2014:207)
Dengan serangkaian kegiatan dalam model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) diharapkan kecerdasan emosi siswa yang meliputi self awareness, self regulation, motivation, empathy, dan social skill dapat berkembang. Selain itu prestasi belajar matematika siswa pun dapat tercapai secara maksimal.
6. Penelitian yang Relevan
Penelitian ini relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh :
a. Permanasari. (2015). Menyimpulkan bahwa adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika yang dapat dilihat dari indikator yaitu : (1) Siswa memperhatikan guru pada saat kegiatan pemebelajaran sebelum tindakan ada 14 siswa (35%), setelah tindakan menjadi 35 siswa (87,5%); (2) keberanian siswa bertanya tentang materi yang belum dipahami sebelum tindakan ada 4 siswa (10%), setelah tindakan ada 32 siswa (80%) ; (3) keberaanian siswa yanga mengemukakan pendapat sebelum tindakan ada 5 siswa (12,5%), setelah tindakan menjadi 30 siswa (75%) ; (4) hasil belajar siswa yang mencapai KKM sebelum tindakan ada 11 siswa (27,5%), setelah tindakan 32 siswa (80%) ; dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model Pembelajaran Kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) dengan permainan destiny board dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematiaka.
b. Solihah. (2016). Menyimpulkan bahwa hasil belajar matematika siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) lebih tinggi daripada siswa yang diajarkan dengan model pembelajaran Student Teams-Achievement Divisions (STAD).
c. Lumentut, dkk. (2015). Menyimpulkan bahwa model pembelajatran kooperatif tipe NHT berbantuan blok aljabar dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A SMP Negeri 14 Palu pada materi perkalian faktor bentuk aljabar dengan fase menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa, menyajikan informasi, penomoran (Numbered), memberi pertanyaan (questioning), berpikir bersama (Head Together), menjawab pertanyaan (Answering), dan memberikan penghargaan.
d. Firdaus. (2016). Menyimpulkan bahwa hasil belajar pada siswa yang memiliki aktivitas belajar tinggi sama baiknaya dari siswa yang memiliki aktivitas belajar sedang, hasil belajar pada siswa yang memiliki aktivitas belajar sedang lebih baik dari siswa yng memiliki aktivitas belajar rendah, dilihat dari rata- rata marginalnya yaitu 78,53 > 61,83, hasil belajar pada siswa yang memiliki aktivitas belajar tinggi lebih baik dari siswa yang memiliki aktivitas belajar rendah, dilihat dari rata-rata marginalnya yaitu 85,35 > 61,83.
e. Wulansari. (2016). Menyimpulkan bahwa hasil belajar mata pelajaran IPS Terpadu siswa yang diberikan model pembelajaran TGT lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang diberikan model pembelajaran NHT.
Berdasarkan perbandingan rata-rata tiap butir soal pada kelas eksperimen dan kontrol yaitu 21,2 > 20,13, berarti hipotesis diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang diberikan model pembelajaran TGT dibandingkan dengan siswa yang diberikan model pembelajaran NHT.
B. Kerangka Pikir
Pembelajaran kooperatif dalam matematika akan membantu proses pembelajaran matematika berjalan efektif dan efisien serta memberikan pengaruh positif bagi hasil belajar siswa.
Ada beberapa model pembelajaran kooperatif yang telah dikembangkan oleh para ahli, diantaranya adalah model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan model pembelajaran kooperatif tipe Times Games Turnament (TGT). Pada pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Model ini menjelaskan bahwa siswa dibentuk dalam beberapa kelompok yang heterogen terdiri dari 3-5 orang, yang kemudian masing-masing anggota dalam kelompok diberikan nomor. Dalam mengerjakan soal kelompok, setiap siswa berfikir bersama untuk mengetahui dan mengerti jawaban soal yang dikerjakan secara berkelompok, karena semua nomor dalam kelompok memiliki kesempatan yang sama untuk maju ke depan kelas mempersentasikan hasil kerja kelompoknya. Sedangkan pembelajaran kooperatif tipe Times Games Turnament (TGT) menggunakan turnament akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem skor kemajuan individu, yang mana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka. Dalam penerapan model ini, guru menyampaikan materi pelajaran. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok dengan 4-5 orang yang heterogen. Guru memberikaan tugas/pertanyaan dalam lembar kegiatan siswa untuk dipelajari dalam tim mereka untuk menguasai materi. Setelah itu, siswa memainkan game akademik dalam kelompok yang baru dan homogen
yang mewakaili setiap kelompoknya, dengan satu meja turnament tiga peserta.
Setiap peserta megambil sebuah kartu yang diberi nomor dan menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor pada kartu tersebut. Dan pada akhirnya, guru mengembalikan siswa pada tim asalnya yang pertama dibentuk.
Perbedaan yang terdapat di dalam model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan Teams Games Tournament (TGT) ini adalah terletak pada sintaksnya. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) siswa di bagi berdasarkan nomor yang diberikan oleh guru.
Setelah membentuk kelompok secara heterogen, siswa akan di beri soal dan mengerjakan soal secara bersama-sama kemudian mempresentasikan di depan kelas. Model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) ini mengajarkan siswa agar dapat bertanggung jawab dan berani mengemukakan pendepat. Sedangkan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT), pembagian kelompok secara heterogen sebelum di mainkan games akademinya. Namun pada turnamen akademik kelompok akan dibagi secara homogan berdasarkan nilai yang diperoleh dari games akademik. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) ini dapat mengajarkan siswa agar melakukan persaingan sehat pada ganmes akademik dan dapat bekerja sama dalam kelompoknya. Selain perbedaan yang terdapat pada sintaks kedua model kooperatif tersebut, masing-masing juga memiliki keunggulannya. Keunggulan dari model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) yaitu 1) setiap siswa menjadi siap semua, 2) dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh, 3) siswa yang pandai dapat
mengajari siswa yang kurang pandai, 4) tidak ada siswa yang mendominasi dalam kelompok. Sedangkan keunggulan dari model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT) yaitu 1) Model TGT tidak hanya membuat siswa yang cerdas (berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran, tetapi siswa yang berkemampuan akademi lebih rendah juga ikut aktif dan mempunyai peranan penting dalam kelompoknya, 2) Dengan model pembelajaran ini, akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya, 3) Dalam model pembelajaran ini, membuat siswa lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru menjanjikan sebuah penghargaan pada peserta didik atau kelompok terbaik, 4) Dalam pembelajaran siswa ini, membuat siswa menjadi lebih senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa turnamen dalam model ini.
Berdasarkan uraian sintaks dari model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan Teams Games Tournament (TGT) di atas, maka hal itu dapat mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.
Bagan Kerangka Pikir
Penerapan Model Pembelajaran
Numbered Head Together (NHT)
Teams Games Tournament (NHT)
1. Setiap peserta didik menjadi siap semua
2. Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
3. Peserta didik yang pandai dapat mengajari peserta didik yang kurang pandai.
4. Tidak ada peserta didik yang mendominasi dalam kelompok
1. Model TGT tidak hanya membuat peserta didik yang cerdas (berkemampuan akademis tinggi) lebih menonjol dalam pembelajaran, tetapi peserta didik yang berkemampuan akademi lebih rendah juga ikut aktif dan mempunyai peranan penting dalam kelompoknya
2. Dengan model pembelajaran ini, akan menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling menghargai sesama anggota kelompoknya
3. Dalam model pembelajaran ini, membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti pelajaran. Karena dalam pembelajaran ini, guru
menjanjikan sebuah
penghargaan pada peserta didik atau kelompok terbaik
4. Dalam pembelajaran peserta didik ini, membuat peserta didik menjadi lebih senang dalam mengikuti pelajaran karena ada kegiatan permainan berupa turnamen dalam model ini.
Pemecahan Masalah
Hasil Belajar
Perbandingan Hasil Belajar Kelebihan
Kelebihan Kelebihan
C. Hipotesis Penelitian
Hipotesis digolongkan menjadi hipotesis penelitian dan hipotesis statistik.
Pada penelitian ini, hipotesis penelitiannya adalah ada perbedaan antara rata-rata hasil belajar matematika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT dengan hasil belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT di kelas VIII Unismuh Makassar.
Berdasarkan hipotesis penelitian tersebut diatas, maka dibuat hipotesis statistiknya sebagai berikut:
H0 : µ1 = µ2
H1 : µ1 ≠ µ2 Keterangan:
µ1 :Rata-rata hasil belajar matematika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT
µ2 :Rata-rata hasil belajar matematika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT
Adapun hipotesis statistik deskriptifnya :
H0: Rata-rata hasil belajar matematika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT sama dengan rata-rata hasil belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT di kelas VIII SMP Unismuh Makassar.
H1: Rata-rata hasil belajar matematika siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe NHT tidak sama dengan rata-rata hasil belajar matematika siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TGT di kelas VIII SMP Unismuh Makassar.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian 1. Jenis Penelitian
Penilitian ini adalah penelitian eksperimen semu (quasi eksperimen) yang melibatkan dua kelompok, yaitu kelompok ekperimen I dan kelompok eksperimen II. Kelompok eksperimen I diajar melalui model kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) sedangkan kelompok eksperimen II diajar melalui model kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).
2. Variabel dan Desain Penelitian a. Variabel Penelitian
Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017:38).
Variabel yang diselidiki dalam penelitian ini adalah hasil belajar matematika yang dicapai oleh siswa kelas VIII SMP Unismuh Makassar menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).
b. Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah The Nonequivalent Posttest-Only Control Group Design. yang merupakan salah satu jenis eksperimen semu (quasi eksperimental design). model desainnya adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 Model Desain Penelitian
Kelompok Variabel Posttest
E1 X1 O1
E1 X2 O2
Sumber: (Lestari Karunia Eka dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara, 2017:136) Keterangan:
E1 = Kelas Eksperimen I ( NHT) E2 = Kelas Eksperimen II (TGT)
X1= Eksperimen I (Numbered Head Together) X2= Eksperimen II (Teams Games Tournament)
O1= Hasil tes setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT).
O2= Hasil tes setelah menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT).
B. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian
Populasi diartikan sebagai wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Unismuh Makassar pada tahun ajaran 2018/2019 yang terdiri dari 3 kelas yaitu kelas VIII A, kelas VIII B1, dan kelas VIII B2. Penempatan siswa kelas VIII dilakukan secara merata baik dalam hal kemampuan maupun kurikulum, sehingga
dapat dikatakan bahwa karakteristik setiap kelas adalah homogen.
2. Sampel Penelitian
Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah Cluster Random Sampling. Cluster Random Sampling merupakan teknik yang digunakan untuk menentukan sampel jika objek-objek yang diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya siswa dari suatu negara, provinsi atau kabupaten. Teknik ini pun dapat dilakukan jika kelas dalam populasi yang akan diambil sebagai sampel memiliki karakteristik yang homogen/relatif homogen (tidak ada kelas unggulan) (Lestari Karunia Eka dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara, 2017:107).
Di SMP Unismuh Makassar di ambil dua kelas dari tiga kelas untuk dijadikan sampel penelitian. Kelas yang terpilih menjadi sampel adalah kelas pertama yaitu siswa kelas VIII B1 dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan kelas yang kedua adalah siswa kelas VIII B2 dengan penerapan pembelajaran Teams Games Tournament (TGT).
C. Definisi Operasional Variabel
Variabel yang dilibatkan dalam penelitian ini secara operasional di definisikan sebagai berikut:
1. Model pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) adalah model pembelajaran dengan menggunakan penomoran, kemudian berpikir bersama untuk menjawab pertanyaan dan persentasi di depan kelas.
2. Model pembelajaran Kooperatif Tipe Teams Games Tournament (TGT) adalah model pembelajaran yang menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan
kuis-kuis dan sistem kemajuan individu, dimana para siswa sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.
3. Hasil belajar matematika siswa dalam penelitian ini adalah nilai yang diperoleh siswa setelah diajar melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dan Teams Games Tournament (TGT).
D. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian. Instrumen yang digunakan untuk penelitian ini adalah jenis instrumen tes yaitu lembar tes hasil belajar. Tes ini berbentuk essay, tes dibuat berdasarkan materi yang diberikan selama penelitian ini berlangsung dengan berdasarkan rumusan indikator pembelajaran.
Tes hasil belajar matematika dibuat dan dikembangkan sendiri oleh peneliti berdasarkan persetujuan dosen pembimbing/validator serta disetujui oleh guru matematika SMP Unismuh Makassar, tes itu kemudian diberikan kepada siswa.
Adapun bentuk data yang diperoleh yaitu dalam bentuk skor, penskroran hasil tes siswa menggunakan skala bebas yang tergantung dari bobot butir soal tersebut.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data (Sugiyono, 2011:224). Data-data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan pemberian tes menggunakan lembar tes.
Sebelum memulai penelitian, terlebih dahulu dilakukan observasi untuk
mengambil data ujian semester ganjil seluruh kelas VIII SMP Unismuh Makassar. Dengan data ini akan diketahui bagaimana hasil belajar matematika siswa tersebut. Data hasil belajar matematika siswa pada penelitian ini diambil melalui tes akhir dengan menggunakan lembar tes. Tes akhir diberikan kepada kedua kelas sampel, kelas VIII B1 yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT), dan kelas VIII B2 yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament (TGT). Data hasil belajar matematika siswa pada penelitian ini diambil melalui tes akhir dengan menggunakan lembar tes. Tes akhir diberikan kepada kedua kelas sampel, baik yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT maupun yang diajar dengan model pembelajaran koooperatif tipe TGT.
Setelah tes akhir dilakukan maka akan dilakukan penskoran sebagai hasil belajar matematika siswa. Dengan didapatkan hasil belajar matematika siswa ini, maka data akan diolah untuk menguji kebenaran hipotesis.
F. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan untuk menganalisis data yang diperoleh dengan menggunkan analisis statistika deskriptif dan analisis statistika inferensial.
1. Analisis Statistika Deskriptif
Analisis statistika deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan skor hasil belajar matematika siswa yang diperoleh dari masing-masing kelas eksperimen penelitian. Untuk keperluan analisis digunakan mean, median, modus, standar deviasi, variansi, nilai minimum, dan nilai maksimum. Kriteria yang digunakan