BAB II LANDASAN TEORI
B. Kecakapan Hidup
2. Model Pengembangan Kecakapan Hidup
Konsep kecakapan hidup sejak lama menjadi perhatian para ahli dalam pengembangan kurikulum. Tyler (1947) dan Taba (1962) misalnya, mengemukakan bahwa kecakapan hidup merupakan salah satu fokus analisis dalam pengembangan kurikulum pendidikan yang menekankan pada kecakapan hidup dan bekerja29. Pengembangan kecakapan hidup itu mengedepankan aspek-aspek berikut :
a. kemampuan yang relevan untuk dikuasai peserta didik;
b. materi pembelajaran sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik;
c. kegiatan pembelajaran dan kegiatan peserta didik untuk mencapai kompetensi;
d. fasilitas, alat dan sumber belajar yang memadai;
e. kemampuan-kemampuan yang dapat diterapkan dalam kehidupan peserta didik30.
Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang memiliki keanekaragaman multikultural adat istiadat, tata cara, bahasa, kesenian, kerajinan, keterampilan daerah sehingga setiap daerah memiliki
29 www.puskur.net di unduh pada 26 februari 2017
30 Ibid,
kewenangan yang luas. Dalam pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan harus sesuai dengan kondisi peserta didik, keadaan masyarakat, potensi dan kebutuhan daerah. Kecakapan hidup akan memiliki makna yang luas apabila kegiatan pembelajaran yang dirancang memberikan dampak positif bagi peserta didik. Sehingga pendidikan kecakapan hidup tepat sasaran dalam membantu memecahkan problematika kehidupan peserta didik, serta mengatasi problematika hidup dan kehidupan yang dihadapi secara proaktif dan reaktif guna menemukan solusi dari permasalahan yang di hadapi. Karena pendidikan akan melahirkan lapisan masyarakat terdidik menjadi kekuatan perekat yang menautkan unit-unit sosial di dalam masyarakat. Dalam perspektif ekonomi, pendidikan merupakan human investment yang harus dapat menghasilkan manusia-manusia yang andal untuk menjadi subyek penggerak ekonomi nasional 31.
Pendididikan kecakapan hidup juga harus mampu melahirkan lulusan–lulusan bermutu yang memiliki pengetahuan, menguasai teknologi, dan mempunyai keterampilan teknis yang memadai sehingga dapat menghasilkan tenaga profesional yang memiliki kapasitas dan kapabilitas kemampuan berwirausaha yang menjadi salah satu pilar utama aktivitas perekonomian nasional.32 Kecakapan hidup (life skill) secara garis besar terbagi menjadi tiga macam :
a. Kecakapan personal (personal skill)
31 Yoyon Bahtiar Irianto, Kebijakan Pembaruan Pendidikan, Jakarta (PT Raja Grapindo Persada, 2012) h, 5
32 Ibid, h, 6
Kecakapan mengenal diri meliputi kesadaran sebagai makhluk Tuhan, kesadaran akan eksistensi diri, akan potensi serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus meningkatkan diri agar bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.33 Firman Allah SWT :
Artinya :’’Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam Keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur’’34
Program yang dapat di lakukan pada tahap ini misalnya memberikan pengetahuan yang bersifat kognisi, belief dan healing.
Prinsip dasarnya adalah mereka membuat target mengerti bahwa mereka perlu (membanngun/ deman) di berdayakan proses itu di mulai dari dari dalam diri mereka (tidak dari orang lain)35
Maksudnya adalah Peserta didik mempunyai kesadaran penuh dari dalam diri mereka untuk merubah dan berubah serta memiliki dorongan yang kuat yang bersumber dari dalam jiwa mereka berkat motivasi yang di bangun dari luar.
33 Ibid,h, 146
34 QS. An-nahl (16) : 78
35 Randy R. Wrihatnolo, dKk, Manajemen Pemberdayaan sebuah pengantar dan panduan untuk pemberdayaan masyarakat , Jakarta ( PT. Elex Media Komputindo, 2007) h, 3
1) Kecakapan akademik (academic skill)
Kecakapan akademik seringkali disebut juga kecakapan intelektual atau kemampuan berpikir ilmiah yang pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berpikir secara umum, namun mengarah kepada kegiatan yang bersifat keilmuan36.
Kecakapan ini mencakup antara lain kecakapan mengidentifikasi variabel, menjelaskan hubungan suatu fenomena tertentu, merumuskan hipotesis, merancang dan melaksanakan penelitian. Untuk membangun kecakapan-kecakapan tersebut diperlukan pula sikap ilmiah, kritis, obyektif, dan transparan37.
Termasuk dalam kecakapan menggali dan menemukan informasi memerlukan keterampilan dasar seperti membaca, menghitung, dan melakukan observasi. Sehingga Informasi yang telah dikumpulkan dapat diolah dan memproses informasi tersebut menjadi suatu kesimpulan.
Firman Allah SWT :
Artinya: ’’Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah,
36 Lutfi Wibawa, Konsep Kecakapan Hidup, http://staff.uny.ac.id di unduh tanggal 26 februari 2017
37 www.puskur.net di unduh pada 26 februari 2017
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya’’38.
Dari ayat tersebut dapat kita pahami,bahwa manusia perlu belajar, membaca, menggali informasi, sebanyak-banyaknya. Belajar dalam arti luas tidak hanya terbatas pada kegiatan yang terprogram tetapi belajar sepanjang hayat termasuk di dalamnya kegiatan dalam berusaha dan bekerja.
Tujuan pembelajaran di arahkan pada kemampuan untuk mau dan berani menghadapi problema hidup secara wajar tanpa merasa tertekan, dan kemudian secara proaktif dan kreatif mencari dan menemukan solusinya.
2) Kecakapan Vokasional / Kejuruan (Vocational Skill)
Kecakapan vokasional disebut juga kecakapan kejuruan, yaitu kecakapan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat. Kecakapan ini mengandalkan keterampilan psikomotor atau kecakapan dalam sebuah keterampilan39. Pendidikan kecakapan hidup dikembangkan dengan memperhatikan beberapa hal berikut :
a) Pembentukan kepribadian peserta didik secara utuh baik keimanan, ketaqwaan, dan akhlak mulia;
b) Mengakomodasi semua mata pelajaran untuk dapat menunjang peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia, serta
38 QS. Al-Alaq (96) :1-5
39 Yoyon Bahtiar Irianto, Kebijakan Pembaruan Pendidikan..,h,146
meningkatkan toleransi dan kerukunan antar umat beragama dengan mempertimbangkan norma-norma agama yang berlaku;
c) Memungkinkan pengembangan keragaman potensi, minat dan bakat, kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan kinestetik peserta didik secara optimal sesuai dengan tingkat perkembangannya;
d) Sesuai tuntutan dunia kerja dan kebutuhan kehidupan. Program kecakapan hidup hendaknya memungkinkan untuk membekali peserta didik dalam memasuki dunia kerja/usaha serta relevan dengan kebutuhan kehidupan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta didik;
e) Kecakapan-kecakapan yang perlu dikembangkan mencakup:
kecakapan personal, sosial, akademis, dan vokasional;
f) Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skill)40
Pada tahun 2002-2003 di keluarkan suatu inovasi baru dalam strategi manajement pendidikan yang kemudian diberi label ’’Broad Based Education” yang terfokus pada pendidikan kecakapan hidup (life skill) dengan pendekatan yang berbasisi masyarakat luas41.
Pendidikan kecakapan hidup membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan belajar, menyadari dan mensyukuri potensi diri untuk dikembangkan dan diamalkan, berani menghadapi problema kehidupan, serta memecahkannya secara kreatif.
Pendidikan kecakapan hidup bukanlah mata pelajaran, yang diperlukan disini adalah meorientasikan pendidikan kecakapan hidup melalui pengintegrasian kegiatan-kegiatan yang pada prinsipnya membekali peserta didik terhadap kemampuan-kemampuan tertentu agar dapat diterapkan dalam kehidupan keseharian peserta didik. Untuk itu harus di hindari program-program yang sekedar melatih keterampilan, tetapi tidak terdapat lapangan kerjanya atau tidak dapat di
40 www.puskur.net di unduh pada 26 februari 2017
41 Yoyon Bahtiar Irianto, Kebijakan Pembaruan Pendidikan, h, 144
terapkan sebagai usaha mandiri. Pemahaman ini memberikan arti bahwa mata pelajaran bisa dipahami sebagai keterampilan yang menjadi alat dan bukan tujuan untuk mengembangkan kecakapan hidup yang nantinya akan digunakan oleh peserta didik dalam menghadapi kehidupan nyata. Kebijakan pendidikan yang berbasis kompetensi ini mencakup tiga aspek orientasi penyiapan yakni :
1) Mendasar,
Arti terkait dengan pemberian kemampuan dalam upaya memenuhi kebutuhan mendasar peserta didik . Maksud dari kebutuhan mendasar itu adalah mendapatkan pendidikan dan sumber mata pencaharian atau pendapatan.
2) Kuat,
Dalam arti terkait dengan isi dan proses pembelajaran atau penyiapan peserta didik untuk menguasai pengetahuan, sikap dan keterampilan yang kuat. Sehingga dengan itu mereka memiliki kemampuan untuk mandiri dalam meningkatkan kualitas upaya pemenuhan kebutuhan mendasar
3) Luas,
Orientasi luas ini di artikan sebagai kemampuan peserta didik untuk menjangkau secara luas sumber-sumber baik yang ada di lingkungan sekitarnya maupun di luar lingkungan sekitarnya.
Sumber tersebut di manfaatkan dan di dayagunakan secara optimal oleh peserta didik baik untuk kebutuhan belajarnya maupun usahanya dalam mencari nafkah42.
Kecakapan Hidup (Life skill) dianggap salah satu model orientasi program yang diarahkan pada penguasaan bidang keterampilan, keahlian, dan kemahiran untuk kerja yang dapat diandalkan sebagai bekal kehidupan dan sebagai penambah pendapatan. Merujuk pada pendekatan dan fokus pembelajaran maka langkah-langkah manajemen kurikulum berbasis kompetensi yang perlu di perhatikan adalah sebagai berikut :
42 Ibid., 145
Pertama, tahap perencanaan, pada tahap ini mencakup aktivitas pengadaan data dasar, orientasi, dan motivasi guru/tutor dan narasumber teknis, penetapan jenis-jenis kompetensi, dan menjalin kemitraan. Secara garis besar, pengembangan program yang dapat di jadikan rujukan dalam melaksanakan analisis kebutuhan untuk kepentingan data dasar yaitu bidang-bidang produksi, ektraktif, agraris industri, perdagangan dan jasa.
Orientasi dan memotivasi guru/tutor, narasumber teknis, dan peserta didik. Orientasi di lakukan guna memberikan :
a) Pemahaman, gambaran seluruh proses dan hasil penyelenggara program pendidikan life skill, sehingga guru/tutor dan narasumber teknis mengetahui dan peran atau tugas yang patut di lakukannya dalam proses tersebut.
b) Keterampilan, dasar metodologi fasilitas pembelajaran.
Memotivasi peserta didik di maksudkan untuk memberikan kesiapan peserta didik dalam melibatkan diri pada seluruh proses penyelenggaraan program43.
Aspek utama yang patut di pertimbangkan dalam penetapan jenis keterampilan adalah kesesuaian dengan kesiapan calon peserta didik yang akan di berikan keterampilan. Keterkaitan antara sumber daya manusia dengan potensi atau sumber daya yang tersedia, dapat di kembangkan lebih luas dan berlangsung relatif lama, dapat memberikan penghasilan yang relatif singkat (khusus bagi peserta didik dewasa)44.
43 Ibid,
44 Lina Anatan dan Lena Elitan, Manajemen Sumber Daya Manusia dalam bisnis modern, Bandung ( Al fabeta 2009 ) h, 141
Ada beberapa kompetensi yang di tuntut dalam pendidikan kecakapan hidup adalah sebagai berikut :
1) Personal Competencies, secara praktis dapat di identifikasi dari sipat-sipat seperti : percaya terhadap diri sendiri, berani dalam mengambil resiko, bersemangat dalam bekerja, murah hati terhadap sesama, berperilaku baik;
2) Thinking Competenceis, secara praktis dapat di identifikasi dari keterampilan; menggali dan menemukan data, mengolah data menjadi informasi, merumuskan persoalan, mengidentifikasi alternatif, keterampilan memilih alternatif pemecahan masalah;
3) Social Competencies, secara praktis dapat di identifikasi dari cara memahami karakteristik orang lain, keterampilan berhubungan pribadi, berkomunikasi dalam kelompok, keterampilan dalam bekerja sama;
4) Vocational Competencies, secara praktis yaitu keterampilan yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu dan bersifat spesifik dan teknis yang terdapat pada masyarkat45.
Secara umum keterampilan kejuruan ini terbagi ke dalam tiga aspek yaitu:
a) Keterampilan yang berkenaan dengan aspek persiapan usaha atau produksi (praproduksi) misalnya: keterampilan dalam menganalisis dan menentukan peluang usaha yang dapat menghasilkan nafkah. Menyiapkan sarana dan prasarana usaha, keterampilan dalam menghitung anggaran usaha, permodalan dan ongkos produksi, keterampilan dalam menentukan tempat dan waktu yang tepat unruk berproduksi;
b) Keterampilan melaksanakan usaha, misalnya : keterampilan mengolah bahan baku, keterampilan menggunakan peralatan produksi, keterampilan merawat dan memelihara bahan produksi, keterampilan dalam meningkatkan kemampuan diri;
c) Keterampilan dalam memasarkan hasil usaha, (pasca produksi), misalnya : keterampilan menentukan saat yang tepat untuk memetik/memanen hasil produksi, keterampilan mengemas hasil produksi, menentukan pasar (konsumen) serta keterampilan membina jaringan atau pemasaran46
45 Yoyon Bahtiar Irianto, Kebijakan Pembaruan Pendidikan, h, 154
46 Ibid,156
Praktik-praktik pendidikan yang di selenggarakan, jika tidak didukung oleh administrasi dan manajemen yang baik maka menurut kamars (2005) besar kemungkinan tujuan-tujuan yang ingin di capai kurang memenuhi kuantitas dan kualitas yang telah di rencanakan atau yang telah di tetapkan sebelumnya.47
Admistrasi pendidikan menurut saxe (1980) adalah keikutsertaan dalam proses pembuatan kebijakan dalam berbagai kegiatan diperlukan untuk mengamankan dan mengarahkan sumber daya manusia dan sumber daya bahan untuk mencapai tujuan- tujuan organisasi pendidikan.48
Dengan demikian, upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional maupun tujuan kelembagaan sekolah akan banyak di pengaruhi oleh keterampilan (skill) dan wawasan (vision) yang di miliki oleh manajer pendidikan dalam melaksanakan tugas, peranan, dan fungsinya sebagai manajer pendidikan49.
Apabila para manajer pendidikan memiliki visi, wawasan, dan kemampuan frofesional, yang di butuhkan dalam pelaksanaan tugasnya sebagai pimpinan pendidikan maka akan tercapai tujuan- tujuan pendidikan secara efektif 50.
Pemantauan, pengendalian, pembinaan secara konseptual merupakan suatu rangkaian dari proses manajemen setelah
47 Syaiful Sagala, Budaya dan Reinventing Organisasi.,h, 18
48 Ibid,
49 Yoyon Bahtiar Irianto, Kebijakan Pembaruan Pendidikanh, 109
50 Ibid,
mengupayakan perencanaan, pengorganisasian, dan melaksanakan suatu proses aktivitas program untuk mencapai efektivitas, efisiensi, dan produktifitas program yang sedang di lakukan.
Kemudian tahap pelaksanaan proses pembelajaran yang meliputi pengorganisasian dan super visi pelaksanaan program.
Pengorganisasian mencakup peserta didik, guru/tutor, narasumber teknis, tempat dan fasilitas pembelajaran. Pengorganisasian ini di lakukan guna sarana dan prasana pembelajaran dapat terdayagunakan secara efektif dan efisien.