BAB II MODERASI BERAGAMA: SEBUAH WACANA
C. Moderasi Beragama: Kajian secara Terminologi
Secara istilah moderasi beragama, menurut Tim Kemenag RI, dalam buku Moderasi Beragama, diartikan sebagai cara pandang, pola pikir, sikap, dan prilaku selalu mengambil di tengah-tengah, selalu bertindak adil, dan tidak ekstrem dalam beragama, baik ektrem kanan, maupun ekstrem kiri.46 Sementara itu, dalam buku Peta Jalan (Roadmap) Pengauatan Moderasi Beragama Tahun 2020-2024, istilah moderasi beragama dirumuskan sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama yang melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemashlahatan umum berlandaskan prinsip adil berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.47
Selain itu, sebagian cendekiawan muslim kontemporer memberikan pengertian moderasi beragama memakai frase Islam wasathiyah. Yusuf al-Qaradhawi memperkenalkan konsep wasath dalam teologi Islam modern. Menurutnya, Islam wasathiyah adalah pandangan mayoritas yang berlawanan dengan pandangan minoritas yang diwakili oleh muslim ekstrem radikal di satu sisi atau
46 Tim Kemenag RI, Moderasi Beragama, h. 17.
47 Tim Kelompok Kerja Moderasi Beragama Kementerian Agama RI. (2020).
Peta Jalan (Roadmap) Penguatan Moderasi Beragama Tahun 2020-2024, Jakarta:
Kemenag RI, 16.
pemikir ekstrem liberal di sisi lain. Gagasan al-Qardhawi tidaklah timbul dari ruang yang kosong melainkan muncul sebagai respons terhadap kedua sisi ekstremitas tersebut dan sebagai respons terhadap kondisi politik keagamaan di Timur Tengah, terutama di Mesir. Islam wasathiyah menjadi pagar pembeda bagi Islamiyyun (pendukung Ikhwanul Muslimin) di satu sisi dan kelompok Almaniyyun (sekularis) di sisi yang lain.48
Menurut Mohammad Hashim Kamali, moderation is the heart and the way (moderasi adalah jantung dan metode berislam).
Moderasi beragama, menurut Kamali, disinonimkan dengan wasathiyah. Karena itu, prinsip wastahiyah harus disandingkan dengan isu-isu yang menjadi tantangan masyarakat kontemporer.
Di antaranya ialah moderasi sebagai jalan keluar mengatasi kerusakan lingkungan. Prinsip wasathiyah juga menjadi panduan untuk menyikapi perbedaan di kalangan umat Islam, khususnya dan antar umat beragama umumnya. Apa yang disampaikan oleh Kamali tampaknya sejalan dengan prinsip dan nilai-nilai yang terkandung dalam makna Islam wasathiyah atau moderasi beragama, terutama hasil kesepakatan 100 Ulama dan Cendekiawan di Bogor, yakni 7 nilai utama, tasamuh, i’tidal, tasamuh, syura, ishlah, qudwah, dan muwathanah. Artinya selain harus bersikap moderat dan toleran kepada sesama manusia, juga harus bersikap moderat kepada lingkungan alam. Mengelola dan memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraan manusia di satu sisi, harus adil dan seimbang dengan menjaga lingkungan agar tetap hijau dan asri untuk kehidupan yang lebih rukun dan damai.
Kerusakan lingkungan hidup akan mengakibatkan bencana alam
48 Yusuf al-Qaradhawi. (2011). Kalimah fi al-Wasathiyah wa Ma’alimiha, Kairo:
Dar al-Syuruq.
yang lebih besar atau krisis lingkungan, dan bahkan akan berefek negatif kepada kelangsungan dan kesejahteraan masyarakat, bahkan hal tersebut dapat memicu konflik dan perselisihan antara umat manusia.
Lebih dari itu, cendekiawan Malaysia, Kamal Hasan berpandangan bahwa kata moderasi beragama tidak memadai untuk mewadahi makna Islam wasathiyah. Sebab moderasi beragama yang berimbang hanyalah salah satu aspek dari Islam wasathiyah. Sementara Islam wasathiyah memiliki tiga unsur yang saling berkaitan, yakni keadilan, unggul, dan seimbang.49 Menurut Anshari, Surawan & Fatimah (2023), moderasi beragama berarti berpikir secara moderat dan bukan berarti goyah keyakinan agama seseorang atau bahkan memiliki cacat dalam iman, percaya diri pada esensi ajaran agama, yang mengajarkan prinsip keadilan dan keseimbangan, tetapi berbagi kebenaran sejauh interpretasi masing-masing agama yang bersangkutan. Karakter religious moderasi membutuhkan keterbukaan, penerimaan, dan kerja sama dari masing-masing kelompok yang berbeda.50
Oleh karena itu dengan adanya moderasi beragama akan tercipta toleransi yang mampu menjaga kerukunan beragama.
Paradigma ini diharapkan akan memungkinkan terjadinya hubungan antar budaya, agama dan lain untuk membentuk suatu komunitas, yang menerima perbedaan dan mampu hidup bersama dalam perbedaan situasi kehidupan.51
49 Tim Penyusun. (2022). Moderasi Beragama Perspektif Bimas Islam, Jakarta:
Kementrian Agama, h.7.
50 Anshari, M. R., Surawan, S., & Fatimah, C. (2023, March). RELIGIOUS MODERATION IN PUBLIC SCHOOLS; A SEARCH FOR A MODEL OF THE TEACHER'S ROLE. In Proceeding International Seminar of Islamic Studies (pp. 354-369).
https://jurnal.umsu.ac.id/index.php/insis/article/view/13864
51 Zakiyuddin Baidhawi. (2005). Religious Freedom Creed. Jakarta: Psap, h. 160.
Keberagaman pemeluk suatu agama ini, menjadikan umat beragama secara umum dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu eksklusif, inklusif dan sedang. Pandangan umum, dalam sikap eksklusif dan inklusif adalah sikap yang dianggap kurang mendukung kerukunan antar umat beragama, hal ini terjadi karena faktor sentimental sikap terhadap keberadaan agama lain, dan juga rentan menjadi bahan bakar yang akan memperburuk situasi atau memicu konflik sosial.52 Keagamaan moderasi sendiri dapat diartikan sebagai suatu konsep praktek, tempat seorang pemeluk agama itu menjalankan atau mengamalkan ajaran agamanya secara moderat atau tidak ekstrim, baik itu ekstrim kanan atau liberal atau tidak ekstrim kiri atau berlebihan (radikal) sehingga mengancam keutuhan negara.53
Berdasarkan beberapa rumusan terminologi moderasi beragama tersebut tampaknya dapat disimpulkan bahwa kebanyakan para cendekiawan muslim memandang kedua frase moderasi beragama dan Islam wasathiyah mempunyai esensi yang sama. Oleh karena itu, mereka memadankan antara keduanya. Jadi, dapat dikatakan bahwa moderasi beragama sepadan dengan Islam wasathiyah.
Perlu diketahui bahwa moderasi beragama berbeda pengertiannya dengan moderasi agama atau moderasi Islam yang terkadang muncul di berbagai tulisan. Agama tidak bisa dimoderasikan karena sudah menjadi ketetapan Tuhan. Begitu juga Islam tidak bisa dimoderasikan karena Islam sendiri sudah moderat dan sudah sempurna. Tetapi yang dimoderasikan di sini adalah cara
52 Muh. Zainal Abidin. (2010). Muhammad Syahrur's argument for religious diversity. Ushuluddin Science Journal, 9(2): 172.
53 M. R. Anshari, S. Surawan, M. I. P. Adi, & A. Azmy, (2021). Buku Monograf:
Moderasi beragama di Pondok Pesantren. Yogyakarta: K-Media.
pandang, pemahaman (tafsir), sikap, dan praktik pengamalan beragama yang dipeluk oleh seseorang sesuai dengan kondisi dan situasi yang mengitarinya sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa moderasi beragama merupakan padanan Islam wasathiyah yang dapat diartikan sebagai cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama, melindungi martabat kemanusiaan, membangun kemaslahatan masyarakat umum dan membangun lingkungan alam berkelanjutan berlandaskan berbagai prinsip dan nilai dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan bernegara.