• Tidak ada hasil yang ditemukan

Moderasi Beragama: Sebuah Diskursus Dinamika Keagamaan di Era Kontemporer

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Moderasi Beragama: Sebuah Diskursus Dinamika Keagamaan di Era Kontemporer"

Copied!
168
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Moderasi Beragama: Sebuah Diskursus

Istilah moderasi beragama seringkali ditentang dengan istilah lain seperti Islam wasathiyah dan Islam rahmatan lil'alamin. Oleh karena itu, kedua istilah tersebut, yaitu moderasi beragama dan istilah Islam wasathiyah, harus dipadukan dan saling berhubungan dalam perspektif pemikiran Islam.

Keragaman Agama dan Dialog: Membangun

Untuk itu hubungan antar umat beragama menjadi pintu dialog dengan tujuan membangun keharmonisan sosial. Penekanan pada dialog yang tidak hanya bersifat tekstual namun berbasis kontekstual ini menjadi hubungan bermakna antar umat beragama.

MODERASI BERAGAMA: SEBUAH WACANA

Hakekat Moderasi Beragama

Sejalan dengan itu, Azra juga menyatakan bahwa Islam Nusantara adalah Islam Asia Tenggara, Islam yang ada di Indonesia, Malaysia, Brunei, Pattani (Thailand Selatan) dan Mindanao (Filipina Selatan).31 Woodward juga mendefinisikan Islam Nusantara sebagai Islam Nusantara Asia Tenggara.32 Namun secara umum, Islam Nusantara adalah Islam yang ramah dan terbuka. Islam Nusantara sebagai Mata Pelajaran Kajian Islam: Lintas Wacana dan Metodologi', dalam Akhmad Sahal dan Munawir Aziz (eds.), Islam Nusantara dari Ushul Fiqh hingga Nasionalisme.

Moderasi Beragama; Kajian dari Segi Etimologi

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia kembali menegaskan perlunya menerapkan moderasi beragama untuk menciptakan kerukunan dan perdamaian. jantung) atau tidak sejajar (tidak bersisi). Dalam konteks ini, moderasi beragama di Indonesia tentu saja berbeda dengan moderasi beragama di negara lain.

Moderasi Beragama: Kajian secara Terminologi

Apalagi, ulama Melayu Kamal Hasan berpendapat kata moderasi beragama tidak cukup mengakomodasi makna Islam wasathiyah. Oleh karena itu, dengan moderasi beragama maka akan tercipta toleransi yang mampu menjaga kerukunan umat beragama.

Prinsip Moderasi Beragama

Berdasarkan tabel di atas, terdapat 7 prinsip moderasi beragama terkait interaksi manusia dengan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa. Sementara itu, setidaknya ada 3 prinsip moderasi beragama yang berkaitan dengan hubungan manusia dengan lingkungan alam sekitar.

Indikator Moderasi Beragama

Dari 17 prinsip tersebut, dapat dikatakan bahwa orang yang tergolong moderat dalam beragama harus memiliki prinsip di atas. Dalam toleransi antar umat beragama, yang dimaksud bukanlah toleransi dalam urusan agama, melainkan wujud sikap keberagaman pemeluk suatu agama dalam interaksi sosial antar umat berbeda agama.70. Masyarakat sebenarnya bisa hidup damai, rukun dan harmonis meski dengan orang yang berbeda agama.

Indikator ini digunakan untuk mengukur sejauh mana umat beragama menolak seseorang atau sekelompok orang yang melakukan kekerasan, ekstremisme, dan terorisme, baik secara fisik maupun verbal, guna mencapai perdamaian. Seseorang yang menyebarkan perdamaian, menolak ekstremisme dan terorisme, serta tidak membesar-besarkan agamanya, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut moderat dalam beragama. Pasti ada di antara kamu sekelompok orang yang menyerukan kebajikan, memerintahkan apa yang baik dan melarang apa yang jahat.

Masyarakat moderat cenderung lebih terbuka dan ramah terhadap tradisi dan budaya lokal dalam perilaku keagamaannya, selama tidak bertentangan dengan ajaran dasar agama.

IMPLEMENTASI MODERASI BERAGAMA

Implimentasi Moderasi Beragama dalam Perspektif

Pemahaman ini berlaku dengan fatwa dan pandangan yang sangat tekstual (nashiy), kaku (jumud), menyempitkan syariat dan menolak perkara baru, apabila tidak ada nas dalam agama dan tidak ada contoh Rasulullah SAW. Pemahaman ini menolak sistem baru dalam politik dan ekonomi, jika tidak ada nas dalam agama, walaupun sistemnya ijtihadi, tidak bercanggah dengan maksud syariat dan ajaran agama. Dirasah fi Fiqh Maqashid Shari'ah, bainal maqashid al-kulliyah wa an-nusushus al-juz'iyah, II Kaherah: Dar As-Syuruq, h.

Kesederhanaan Islam juga berpegang kepada Qiyas yang jelas dan ilmiah berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, sebagaimana kesederhanaan Islam menerima Ijtihad dalam perkara yang terbuka kepada ijtihad dan empat puluh nas atau nash syariah. Kesederhanaan Islam di samping Al-Quran, Sunnah, Ijma' dan Qiyas juga berpegang kepada pendapat jumhur ulama dalam sesuatu masalah atau masalah fiqh dan fatwa, selagi pendapat jumhur ulama tidak bercanggah dengan syarak. 'ah. 102 Yusuf al-Qardlawi, Dirasah fi Fiqh Maqashid Shari'ah, bainal maqashid al-kulliyah wa annusushus al-juz'iyah, h.

Kesederhanaan Islam dan Mazhab Islam Salafi (Ushuliyah) Antara gerakan pemikiran Islam moden dalam masalah akidah dan syariah ialah gerakan dakwah Salafi.

Implimentasi Moderasi Beragama dalam Islam

Wasatiyyah dalam sudut pandang syariah berpendapat bahwa dialektika antara teks dan kenyataan harus selalu sama dalam mengeluarkan suatu undang-undang, karena apa yang tercantum dalam Al-Qur'an dan hadis tidak pernah bertentangan dengan kemaslahatan umat manusia. Hal ini dapat dicapai jika substansialisasi, kontekstualisasi dan rasionalisasi dalam teks Al-Qur'an dan al-Hadits menjadi prinsip dasar ijtihad.122 Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Penafsiran Al-Qur’an pada hakikatnya dilakukan untuk mengungkap nilai-nilai yang dikandungnya.

Namun, tidak semua orang mampu menggali nilai-nilai yang tersembunyi dalam teks Al-Qur'an. Seorang penafsir harus mengontekstualisasikan Al-Qur’an bagi dirinya sendiri, dalam arti menemukan makna asali teks melalui kajian kebahasaan dan alasan turunnya ayat tersebut serta kondisi sosial secara umum pada saat turunnya suatu ayat. Dalam hal ini, makna asli teks Al-Qur’an dikaitkan dengan konteks masa kini melalui langkah-langkah rasionalisasi.

Dengan prinsip ini maka penafsiran Al-Qur'an tidak kaku karena berkaitan dengan realitas yang ada saat ini, dan juga tidak liberal karena masih bertolak dari pemahaman yang kuat terhadap makna asli teks Al-Qur'an.

Tantangan Implementasi Moderasi Beragama di

Moderasi Beragama di Ruang Digital: Kajian Pengarusutamaan Moderasi Beragama di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri. Nabi Muhammad SAW merupakan contoh yang baik dalam penerapan moderasi beragama dalam bidang ibadah ritual. Hal ini seringkali menimbulkan perbedaan pendapat di kalangan masyarakat dan menjadi hambatan serius dalam upaya membangun sikap moderasi beragama di kalangan umat Islam.

Moderasi Beragama: Hubungan Manusia dengan Orang Lain di Era Disrupsi Digital Masyarakat di Era Disrupsi Digital. Dalam proses pengajaran prinsip moderasi beragama, guru (guru atau dosen) terlebih dahulu harus memahami moderasi beragama dalam praktik sehari-hari. Pembahasan dapat difokuskan pada pembahasan topik terkini mengenai moderasi beragama di era digital dan era society 5.0.

Penerapan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari dalam perspektif pemikiran Islam dapat dilihat dari ketiga Hubungan Moderasi Beragama.

Tabel 1. Tri Relasi Moderasi Bergama
Tabel 1. Tri Relasi Moderasi Bergama

TRI RELASI MODERASI BERAGAMA ;

Moderasi Beragama: Relasi Manusia dengan Allah

Selain itu, ketika mendekati hari raya Idul Fitri, umat Islam wajib membayar Zakat Fitrah, dan pertanyaan ini sering muncul di media sosial tentang apakah boleh membayar Zakat Fitrah dengan uang atau tidak. Memang diakui sebagian besar umat Islam Indonesia menganut mazhab Syafi'i yang membayar zakat fitrah dengan bahan pokok yaitu beras, namun jangan salahkan masyarakat lain yang membayar zakat fitrah dengan uang (qimah). Orang yang menyalahkan orang lain karena membayar zakat dengan uang sebenarnya adalah orang yang tidak toleran dan kurang memahami ajaran Islam.

Begitu pula ketika melaksanakan salat Tarawih di Indonesia, ada sebagian umat Islam yang melaksanakan 8 rakaat, namun ada juga yang 20 rakaat. Jangan sampai perbedaan rakaat salat Tarawih menimbulkan konflik dan perpecahan di kalangan umat Islam. Padahal, mendahulukan (awlawiyah) atau mendahulukan yang wajib (ukhuwah Islamiyah) dibandingkan salat Sunnah Tarawih merupakan bagian penting dari moderasi beragama.

Justeru, orang yang mempunyai wawasan agama yang luas dan mendalam, tidak fanatik bermazhab dan memahami antara satu sama lain, bertolak ansur dan bekerjasama, insya-Allah akan mengembangkan kesederhanaan beragama dalam bidang ibadah ritual.

Moderasi Beragama: Relasi Manusia dengan

Pendidikan formal di sekolah dan universitas memegang peranan penting dalam menumbuhkan dan mengembangkan akhlak, nilai-nilai atau prinsip hidup yang luhur, termasuk prinsip moderasi beragama. Guru atau dosen harus menjadi teladan (qudwah) yang mampu merangkum nilai-nilai moderasi beragama, memberikan contoh nyata dan mengintegrasikannya dalam proses pembelajaran di dalam dan di luar kelas. Khususnya di kampus IAIN Palangka Raya, penerapan prinsip moderasi beragama menjadi bagian penting dalam mencegah intoleransi, terorisme radikal, dan liberalisme.

Pada tahun 2023, selain melanjutkan KKN Moderasi Beragama, ketiga PTKN di Palangka Raya juga akan bersinergi dan berinovasi membangun “Desa Kerukunan”. Selain itu, perlu juga direncanakan program Fodcast yang isinya selain menenangkan dakwah dan menangkal narasi ekstrem dan liberal, juga mengedepankan nilai-nilai moderasi beragama di kalangan anak generasi Y dan Z. Peran media sosial dalam penerapan Moderasi Beragama Media sosial di era digital ini, baik di era industri 4.0 maupun di era society 5.0, sangat berperan penting dalam mengubah perilaku.

Singkatnya, di era digital ini, media sosial dengan berbagai platformnya seperti Whatsapp, Facebook, Youtube, Instagram dan Tiktik sangat penting bagi berbagai pihak untuk menguasai penyebaran nilai-nilai moderasi beragama melalui pesan-pesan dakwah, pendidikan, dll.

Moderasi Beragama: Relasi Manusia dengan

Meski terdapat perbedaan pendapat mengenai istilah moderasi beragama di kalangan ulama dan ulama, namun sebagian besar cendekiawan muslim berpendapat bahwa moderasi beragama itu bermakna, sejalan dan sepadan dengan Islam. Moderasi beragama diartikan sebagai cara pandang, sikap dan pengamalan keagamaan dalam hidup bersama dengan mewujudkan hakikat ajaran agama, menjaga harkat dan martabat manusia, membangun kemaslahatan bagi masyarakat umum, dan membangun lingkungan alam yang lestari berdasarkan prinsip keadilan, toleransi, keseimbangan. patut dicontoh dan taat pada konstitusi sebagai konvensi negara. Nilai-nilai atau prinsip utama moderasi beragama dalam perspektif pemikiran Islam terbagi dalam tiga hubungan yang harus selalu dijaga dengan baik, yang disebut dengan Tri Relasi Moderasi Beragama.

Pertama, hubungan manusia dengan Tuhan mempunyai 8 prinsip moderasi beragama, yaitu keadilan, keseimbangan, kebaikan dan kemajuan, kasih sayang, keutamaan amal, bertahap dalam beragama dan kemudahan dalam beragama. Kedua, hubungan antarmanusia mempunyai 17 prinsip moderasi beragama, yaitu i’tidal atau adliyah (keadilan), tawassuth (tengah), tawazun (keseimbangan), tasamuh (toleransi), insaniyah (kemanusiaan), mahlahat atau ishlah (berbuat). baik dan bermanfaat), rahamutiyah (kasih sayang), musawah atau mubjadi (kesetaraan atau gotong royong), syura (musyawarah), urfiyah (menghormati adat istiadat), qudwah (kepemimpinan/teladan), awlawiyah (mengutamakan pemikiran), amar ma'ruf nahi munkar, bertahap dalam beragama, kemudahan dalam beragama, tahadhdhur (beradab) dan tathawwur wa ibtikar (maju dan inovatif). Sementara itu, menerapkan moderasi beragama dan hubungan antarmanusia di era digital ini dengan memperkuat literasi digital dan cerdas.

Sementara itu, penerapan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari, dalam konteks hubungan manusia dengan lingkungan alam, memerlukan perubahan cara pandang (paradigma) dari antroposentrisme menjadi ekosentrisme, dari sebelumnya pandangan mengeksploitasi dan merendahkan alam menjadi berorientasi lingkungan dan ramah lingkungan. pemikiran yang berorientasi. -pembangunan ramah.

PENUTUP

Gambar

Tabel 1. Tri Relasi Moderasi Bergama

Referensi

Dokumen terkait

Hasil dari penelitian adalah Pandangan tokoh agama Desa Banaran tentang kerukunan antar umat beragama adalah hal penting, dimana dalam kemajemukan di masyarakat yang

pemikiran Abdurrahman wahid tentang masalah kerukunan antar umat. beragama

Pandangan masyarakat sekitar terhadap usaha GBKP dalam mewujudkan sikap Toleransi antar umat beragama …… 56.

Ditinjau dari teori konstruksi perdamaian kerukunan antar umat beragama dapat dilihat dari beberapa unsur, antara lain: effective channels of communication,

Diantara usaha untuk mewujudkan kerukunan umat beragama tersebut, tentunya ada upaya untuk saling berdialog antar umat beragama sebagai refleksi perwujudan

Langkah-langkah yang ditempuh oleh Forum Kerukunan Umat Beragama dalam meningkatkan toleransi antar umat beragama di Kabupaten Tana Toraja Langkah-langkah yang ditempuh

Penelitian Terdahulu Judul dan Nama Penulis Persamaan Perbedaan Kerukunan Antar Umat Beragama Studi Terhadap Relasi Islam, Katoloik, Dan Hindu Di Dusun Kalibago, Desa Kalipang,