• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mokhamad Fakhrul Ulum 2 dan Rudy Priyanto 1

Dalam dokumen PDF Judul Buku - dri.ipb.ac.id (Halaman 44-74)

Bidang Pangan

Jakaria 1 Mokhamad Fakhrul Ulum 2 dan Rudy Priyanto 1

1Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, IPB University, Bogor Indonesia

2Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB Univerity, Bogor Indonesia

ABSTRAK

Kualitas daging pada sapi bali dikendalikan oleh beberapa gen utama (major genes) yaitu gen Calpastatin (CAST) dan gen Stearoyl-Coa Desaturase (SCD).

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis keragaman gen CAST dan SCD serta pemanfaataanya untuk seleksi terhadap kualitas daging pada sapi Bali. Sebanyak 95 ekor sapi Bali yang terdiri atas jantan dan betina yang berasal dari BPTU-HPT sapi Bali di Provinsi Bali digunakan dalam penelitian ini. Keragaman gen CAST|Cfr1 dan SCD|Aji1 dianalisis dengan teknik PCR-RFLP. Kualitas daging (score marbling dan lemak intramuscular) dianalisis dengan pencitraan ultrasonografi. Profil asam lemak sapi Bali dianalisis dengan GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gen CAST (alel A=0.142, alel G= 0.8579) dan gen SCD (alel A= 0.6489, alel G= 0.3511) memiliki keragaman tinggi dan merupakan SNP spesifik sapi Bali. Tidak ditemukan asosiasi SNP gen CAST dan gen SCD dengan score marbling dan lemak intramuscular pada sapi Bali. Sapi Bali memiliki score marbling dan lemak intramuscular adalah 2-4 dan 4-12%. Adapun profil asam lemak pada Bali adalah asam lemak jenuh 48.2%, asam lemak tidak jenuh 24.4%, Omega6 2.2% dan Omega3 0.6%.

Kata kunci: Sapi Bali, gen CAST dan SCD, kualitas daging, PCR-RFLP

ABSTRACT

Meat quality in Bali cattle is controlled by several major genes, including the Calpastatin (CAST) gene and the Stearoyl-CoA Desaturase (SCD) gene. The purpose of this study was to analyze the diversity of the CAST and SCD genes and their use for selection of meat quality in Balinese cattle. A total of 95 Bali cattle consisting of males and females originating from BPTU-HPT Bali cattle in Bali Province were used in this study. The diversity of the CAST | Cfr1 and SCD | Aji1 genes was analyzed by the PCR-RFLP technique. Meat quality (marbling score and intramuscular fat) was analyzed by ultrasonographic imaging. Bali beef fatty acid profile was analyzed by GC-MS. The results showed that the CAST gene (allele A = 0.142, allele G = 0.8579) and the SCD gene (allele A = 0.6489, allele G

= 0.3511) had high diversity and were the specific SNP of Bali cattle. There was no association of SNP CAST gene and SCD gene with marbling score and intramuscular fat in Bali cattle. Bali cattle have a marbling score and intramuscular fat is 2-4 and 4-12%. The profile of fatty acids in Bali is 48.2% saturated fatty acids, 24.4% unsaturated fatty acids, 2.2% Omega6 and 0.6% Omega3.

Keywords: Bali cattle, CAST and SCD genes, meat quality, PCR-RFLP

PENGEMBANGAN BUDIDAYA PENDEDERAN UDANG GALAH Macrobrachium rosenbergii BERBASIS MIKROBIAL

(Development of Microbial-Based Nursery Production of Giant Freshwater Prawn Macrobrachium rosenbergii)

Julie Ekasari1, Deasy Angela1, Syahid Arbi1, Yuni Puji Hastuti1, Pande Gde Sasmita Julyantoro2, F.M.I. Natrah3

1 Department of Aquaculture, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, IPB University

2 Department of Aquatic Resource Management, Faculty of Fisheries and Marine Science, University of Udayana

3 Department of Aquaculture, Faculty of Agriculture, University of Putra Malaysia

ABSTRAK

Pemanfaatan bioflok sebagai sumber pakan bagi organisme akuakultur merupakan salah satu factor yang menentukan keberhasilan efisiensi pemanfaatan nutrient dalam system bioflok. Tingkat pemanfaatan nutrient bioflok ditentukan oleh tingkat konsumsi dan jumlah nutrient yang diretensi oleh organisme budidaya. Konsumsi partikel bioflok sangat ditentukan oleh karakteristik fisiknya seperti ukuran partikel dan daya endap (settleability), sedangkan retensi nutrient bioflok ditentukan oleh profil nutrisi bioflok. Berdasarkan hal ini maka untuk meningkatkan pemanfaatan nutrient bioflok dalam system bioflok maka diperlukan upaya untuk memperbaiki fungsionalitas bioflok sebagai pakan bagi organisme budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan mikroalga terhadap karakteristik fisik dan biokimia bioflok dan pemanfaatannya oleh udang galah Macrobrachium rosenbergii. Penambahan microalgae menghasilkan karakteristik fisik dan biokimia bioflok yang berbeda. Volume flok, daya endap dan ukuran partikel bioflok meningkat dengan penambahan mikroalga.

Namun perubahan karakteristik bioflok ini tidak berpengaruh positif terhadap kinerja pertumbuhan udang galah yang dipelihara secara outdoor. Hal ini berbeda dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan secara indoor. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan mikroalga dapat berpengaruh terhadap karakter fisik dan nutrisi bioflok, namun pengaruhnya terhadap kinerja pertumbuhan udang galah masih tergantung pada system budidaya indoor/outdoor.

Kata kunci: bioflok, mikroalga, pertumbuhan, udang galah.

ABSTRACT

The utilization of bioflocs as a food source for aquaculture species is one of the factors that determine the success of nutrient utilization efficiency in biofloc systems. The level of bioflocs nutrient utilizations is determined by the level of consumption and the level of nutrients retained by the cultured organisms. The consumption of bioflocs particles strongly depends on its physical characteristics such as its particle size and settleability, whereas the retention of bioflocs nutrients is affected by the nutritional profile of the bioflocs. Thereby, more efforts should be made to improve the functionality of biofloc as a food source for the cultured organisms in order to optimize overall nutrient utilization efficiency in biofloc systems. This study aimed to evaluate the effect of microalgae addition on bioflocs physical and biochemical characteristics and bioflocs utilization by freshwater prawn Macrobrachium rosenbergii. The addition of microalgae resulted in different biofloc characteristics. Floc volume, settleability and particle size were significantly

Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB 2019 18 increased by the addition of microalgae. However, our current study demonstrated that the addition of microalgae in outdoor biofloc-based freshwater prawn nursery culture could not improve the growth of the prawn, which was different from that results in indoor culture. In conclusion, the addition of microalgae could affect the physical and nutritional characteristics of bioflocs as a food source, but its effect on the prawn growth performance might be dependent on indoor/outdoor culture system.

Keywords: bioflocs, microalgae, freshwater prawn, growth.

PENGEMBANGAN ENZIM BERBASIS KAPANG LAUT UNTUK MENDUKUNG INDUSTRIALISASI RUMPUT LAUT

(Marine Fungal Base Enzyme Development for Supporting Seaweed Industrialization)

Kustiariyah Tarman1,2*, Linawati Hardjito1, Uju1,Nurul Hikmatul Ain1, Septiana Sulistiawati1, Pipin Supinah1, Joko Santoso1

1Departemen TeknologiHasilPerairan, FakultasPerikanandanIlmuKelautan, IPB, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia

2Pusat KajianSumberdayaPesisirdanLautan, LPPM, IPB, Kampus IPB Baranangsiang, Bogor 16144, Indonesia

*E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Karaginan merupakan polisakarida yang banyak digunakan di industri makanan, tekstil dan percetakan sebagai pengental, penstabil dan gelling agent. Ekstraksi karaginan umumnya menggunakan alkali yang residunya dapat berbahaya bagi lingkungan. Untuk meminimalisir efek tersebut karaginan dapat diekstraksi secara biologis menggunakan fungi laut. Tujuan penelitian ini adalah mengekstraksi karaginan menggunakan fungi laut dan menentukan pengaruh praperlakuan, konsentrasi enzim dan lama ekstraksi terhadap karakteristik karaginan yang dihasilkan. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua kapang laut (EN dan RS6A) dan rumput laut kering Kappaphycus alvarezii. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah kultivasi kapang laut dalam media selulosa untuk memproduksi enzim. Tahap kedua adalah ekstraksi enzim dan tahap ketiga adalah ekstraksi karaginan menggunakan enzim kapang laut.

Perlakuan terbaik adalah hidrolisis rumput laut kering menggunakan kapang RS6A dan gelatinisasi menggunakan panas selama 20 menit (RK20).

Rendemenkaraginan yang dihasilkan adalah 71.28%, persen hidrolisis selulosa 90.18% dan persen hidrolisis lignin 90.21%. Derajat putih karaginan 66.17% dan kekuatan gel 43.35 gf. Karakteristik kimia dan fisik karaginan perlakuan RK20 memenuhi standar FAO, kecuali derajat putih dan kekuatan gel.

Kata kunci: alga, hidrolisis, kapang laut, karaginan, polisakarida

ABSTRACT

Carrageenan is a polysaccharide that widely used in food, pharmaceutical, cosmetic, textile and printing industries as a coagulate agent, stabilizer, and gelling agent. The extraction of carrageenan usually is carried by alkali treatment, but it may have toxic effect for the environment. To reduce toxic effect from carrageenan extraction will be required another extraction method. Carrageenan also can be extracted by a cellulolytic enzyme. A natural cellulolytic enzyme can be produced from endophytic fungi. The objectives of this research were to extract carrageenan using endophytic fungal cellulase, and to evaluate the effect of pretreatment for seaweed hydrolysis, fungal cellulase concentration and extraction time on the characteristics of carrageenan. The materials used in this research were marine endophytic fungi (EN and RS6A) and dried seaweed Kappaphycusalvarezii. This research was conducted in three steps. The first step was cultivating of endophytic fungi in cellulose basal medium. The second step was cellulase extraction from endophytic fungus. The last step was extraction of carrageenan by marine fungal cellulases. The best treatment was hydrolysis of dried seaweed using fungus RS6A and gelatinization by heating for 20 minutes (RK20). The yield of carrageenan was

Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB 2019 20 71.28%, percentage of cellulose hydrolysis was 90.18%, and percentage of lignin hydrolysis was 90.21%. The white degree of the carrageenan was 66.17% and the gel strength was 43.35 gf. The chemical and physical characteristics of carrageenan (RK20) met the standard of carrageenan according to FAO, except gel strength and whiteness.

Keywords: algae, carrageenan, hydrolysis, marine fungi, polysaccharide.

Hilirisasi Nenas PK 1 untuk Meningkatkan Produksi dan Mutu Nenas di Daerah Sentra Produksi Nenas Kabupaten Kediri

(Publicity of New Pineapple Variety PK 1 to Increase Fruit Production and Quality in Kediri Regency)

M Rahmad Suhartanto1,2, Sobir 1,2, Heri Harti 2, Kusuma Darma2

1Departemen Agronomi dan Hortikultura Faperta IPB; 2Pusat Kajian Hortikultura Tropika IPB, jalan Raya Pajajaran Baranangsiang, Bogor,

email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Nenas (Ananas commosus L. Mer.) merupakan komoditas yang potensial untuk dikembangkan karena manfaat kesehatan yang tinggi, dapat dipanen sepanjang tahun, umur panen relatif pendek, serta memiliki daya adaptasi yang luas termasuk lahan marginal. Dari penelitian Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) melalui RUSNAS Buah tahun 2001-2009 telah menghasilkan beberapa calon varietas nenas antara lain PK-1. Pada tahun 2010 melalui program riset insentif dari KMNRT telah dilakukan uji observasi, uji adaptasi dan beberapa uji teknik perbanyakan bibit untuk nenas PK-1. Calon varietas unggul nenas tersebut belum dapat dikatakan bermanfaat bagi masyarakat (petani dan konsumen) jika varietas belum dikomersialkan. Sebagai genotipe unggul, varietas PK-1 merupakan nenas tipe Smooth Cayenne yang memiliki karakter bobot buah 1.0-1.3 kg, PTT > 16%, mahkota buah tegak dan proporsional, warna daging buah kuning sampai jingga, daging buah renyah, hati kecil, umur simpan panjang, bentuk buah silindris, tidak berduri, responsif terhadap induksi pembungaan, produktivitas tinggi yaitu 80-100 ton per ha.

Tujuan umum dari penelitian ini adalah adalah untuk meningkatkan kapasitas produksi dan kualitas nenas di Indonesia yang berdaya saing sehingga industri nenas semakin berkembang. Lokasi utama kegiatan ini adalah di Desa Ngancar Kabupaten Kediri. Kegiatan hilirisasi dan pengembangan varietas nenas PK-1 dibagi dalam tiga kegiatan, yaitu: 1) Pelepasan varietas, dan 2) Perbanyakan bibit bagi komersialisasi nenas PK-1 dan 3) Diseminasi benih nenas PK-1. Dari kegiatan tahun 2017 – 2018 diperoleh hasil berupa varietas tanaman yang sudah didaftarkan ke kementerian pertanian dan sudah dilepas oleh Menteri Pertanian dengan SK pendaftaran varietas No 54/kpts/SR.120/D.2.7/2/2018. Selain itu juga telah dilakukan pembuatan demplot dan pengembangan nenas di Koperasi Ngudi Mulyo Kediri sebanyak 20 000 bibit. Sosialisasi budidaya dan pengendalian OPT nenas PK 1 di Kediri terhadap 30 petani nenas juga telah dilakukan. Selama tahun 2017-2019 dilakukan kegiatan perbanyakan massal dengan kultur Jaringan dan tunas basal daun mahkota serta cacah bonggol bekerjasama dengan kelompok tani dan perusahaan swasta. Pelatihan penanganan pasca panen segar dan olahan nenas juga dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan produksi di masa yang akan datang.

Kata Kunci: benih, dayasaing, komersialisasi, nenas, varietas.

ABSTRACT

Pineapple (Ananas commosus L. Mer.) is a potential commodity to developed because of its high health benefits, can be harvested all year long , the harvest is relatively short, and has a large adaptability on marginal land. From the research of the Center for Tropical Fruit Study (PKBT IPB) through the RUSNAS Program

Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB 2019 22 at 2001-2009, several pineapple varieties have been produced including PK-1. In 2010 through the KMNRT incentive research program, an observation test, an adaptation test and several seed propagation technique tests were conducted for PK-1 pineapple. Candidates for superior varieties of pineapple cannot be said to be beneficial to the people (farmers and consumers) if the varieties have not been commercialized. As a superior genotype, PK-1 variety is a Smooth Cayenne type pineapple that has fruit weight characteristics of 1.0-1.3 kg, PTT> 16%, upright and proportional fruit crown, yellow to orange fruit flesh color, crispy fruit flesh, small heart, shelf life long, cylindrical fruit shape, non-thorny, responsive to flowering induction, and high productivity that is 80-100 tons per ha.

The general objective of this research is to increased the production capacity and quality of pineapple in Indonesia that are competitive so that the pineapple industry is growing. The main location for this activity is in Ngancar Village, Kediri Regency.

The publicity activities and development of PK-1 pineapple varieties are divided into three activities, namely: 1) Release of varieties, and 2) Propagation of seedlings for the commercialization of PK-1 pineapple and 3) Dissemination of PK- 1 pineapple seedlings. From the activities of 2017 - 2018 the results obtained are in the form of plant varieties that have been registered with the Ministry of Agriculture and have been released as new variety by the Minister of Agriculture with SK registration number 54 / kpts / SR.120 / D.2.7 / 2/2018. In addition, a demonstration plot and pineapple development in Ngudi Mulyo Kediri Cooperative had been carried out by 20 000 seedlings. Socialization of cultivation and pest control of PK 1 pineapple in Kediri to 30 pineapple farmers has also been carried out. During 2017-2019 mass propagation activities were carried out with tissue culture and basal buds of crown leaves cuttage in collaboration with farmer groups and private companies. Training on handling post-harvest fresh and processed pineapple is also conducted to anticipate future production increases.

Keywords: commersalization, cultivation, propagation, seedlings, tissue culture.

PERAKITAN VARIETAS UNGGUL CABAI RAWIT YANG MEMPUNYAI PRODUKTIVITAS TINGGI, BERKUALITAS DAN ESTETIS DENGAN

MEMANFAATKAN SUMBER DAYA GENETIK LOKAL

(Superior Varieties Improvement of Bird Chili for High Productivity, Quality and Estetic using Local Genetic Resources)

Muhamad Syukur, Awang Maharijaya, Arya Widura Ritonga, M. Alfarabi Istiqlal, Abdul Hakim, dan Sulassih

Departemen Agronomi dan Hortikutura, Fakultas Pertanian IPB, Jl. Meranti Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia

Pusat Kajian Hortikultura Tropika, LPPM IPB, Jl. Raya Pajajaran Baranangsiang, Bogor, Indonesia

*Penulis untuk korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Cabai rawit adalah salah satu komoditas unggulan hortikultura Indonesia.

Perakitan varietas unggul menggunakan sumber daya genetik lokal diharapkan dapat meningkatkan produktivitas cabai rawit. Tujuan umum penelitian ini adalah menghasilkan cabai rawit (spesies Capsicum annuum dan C. frutescens) berdaya hasil tinggi, berkualitas dan estetis untuk dataran rendah. Kegiatan penelitian selama tiga tahun adalah terdiri dari: (1) Pembentukan populasi bersegregasi, (2) Seleksi F2 sampai F6, (3) Uji pendahuluan dan lanjutan, (4) Uji multilokasi, (5) Pembuatan dokumen pendaftaran varietas untuk diajukan ke Pusat Perlindungan Varietas dan Perizinan Pertanian, (6) Pembuatan dokumen usulan pelepasan varietas untuk diajukan ke Direkotat Perbenihan Hortikultura (7) Perbanyakan benih, dan (8) Diseminasi varietas baru. Strategi melakukan kegiatan pemuliaan dengan menggunakan plasma nutfah lokal adalah agar diperoleh varietas yang sesuai dan adaptif terhadap lingkungan di dalam negeri. Disamping itu, apabila varietas tersebut telah direlease, harga benihnya lebih murah daripada benih import, sehingga dapat terjangkau oleh petani. Penelitian ini sangat mendukung program pemerintah dalam memanfaatkan sumberdaya genetik (SDG) lokal dan membantu petani dalam mendapatkan varietas unggul cabai rawit dengan harga yang dapat terjangkau. Hasil penelitian tahun ketiga adalah 7 varietas cabai hias.

Tiga varietas cabai hias IPB yaitu Ayesha IPB, Lembayung IPB, dan Syakira IPB sudah disetujui oleh Kementerian Pertanian dokumen pelepasan varietasnya.

Empat varietas cabai hias IPB yaitu Triwarsana IPB, Viola IPB, Violeta IPB dan Nazla IPB telah mendapatkan SK pendaftaran dari Pusat Perlindungan Varietas dan Perizinan Pertanian, Kementerian Pertanian.

Kata kunci: cabai rawit, pemuliaan, produktivitas, sumber daya genetik, varietas

ABSTRACT

Bird chili is one of Indonesia's main horticultural commodities. Superior varieties improvement using local genetic resources is expected to increase the productivity of bird chili. The general objective of this study was to produce bird chili (species of Capsicum annuum and C. frutescens) for high yield, quality and aesthetics for lowland. The three-year research activity consists of: (1) Formation of segregated populations, (2) Selection of F2 to F6, (3) Preliminary and advanced tests, (4) Multilocation testing, (5) Preparation of registration documents for varieties to be submitted to the Center for Plant Variety Protection and Agriculture Licensing, (6)

Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB 2019 24 Preparation of proposal documents for release of varieties to be submitted to the Directorate of Horticulture Seed (7) Propagation of seeds, and (8) Dissemination of new varieties. The strategy of conducting breeding activities using local germplasm is to obtain varieties that are suitable and adaptive to the environment in the country. Besides that, if the variety has been released, the price of the seed is cheaper than the imported seed, so it can be affordable by farmers. This research strongly supports government programs in utilizing local genetic resources (SDG) and helps farmers in getting superior varieties of bird chili at affordable prices. The results of the second year study were 7 varieties of ornamental chili. Three varieties of ornamental chili IPB namely Ayesha IPB, Lembayung IPB, and Syakira IPB have been approved by the Ministry of Agriculture for releasing their varieties. Four IPB ornamental chili varieties, namely Triwarsana IPB, Viola IPB, Violeta IPB and Nazla IPB were registered at the Center for Plant Variety Protection and Agriculture Licensing, Ministry of Agriculture.

Keywords: bird chili, breeding, genetic resources, productivity, varieties

PENINGKATAN EFISIENSI PEMIJAHAN MASAL IKAN PLATY CORAL (Xiphophorus maculatus) MELALUI INDUKSI HORMON (Hormonal Induction of Platy Coral Fish Xhiphophorus maculatus for

Improving Mass Spawning Efficiency)

Muhammad Zairin Junior1*, Fajar Maulana1, Alimuddin1, Muhammad Fahmi Alamsyah2, Nuralim Paturakhman2, Abdur Rasyid Fakhrur Rozy2

1Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

2Mahasiswa Program Studi Teknologi dan Manajemen Perikanan Budidaya, Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor

*E-Mail: [email protected]

ABSTAK

Ikan plati koral merupakan salah satu kelompok ikan hias yang bereproduksi dengan cara melahirkan (vivipar). Tantangan produksi skala massal dari ikan adalah waktu kelahiran yang tidak merata/serentak, yang mengarah pada variasi ukuran dalam produksi. Untuk menyinkronkan waktu kelahiran, dilakukan pengujian pada berbagai hormon yang dikombinasi dengan peningkatan suhu serta rangsangan keberadaan jantan. Penelitian ini dilakukan dengan rancangan acak kelompok tiga ulangan menggunakan hormon oksitosin (0; 0,1; 0,2; 0,4 mL.L-

1), hormon prostaglandin (0; 0,01; 0,1; 1 mL.L-1), dan perendaman induk selama 12 jam pada suhu (28 °C dan 31 °C). Uji tambahan yang dilakukan adalah faktor keberadaan jantan dengan jumlah 0, 1, 2, dan 3 ekor. Sebanyak 30 induk betina siap melahirkan dengan ukuran 4,00±0,19 cm dan berat 2,00±0,07 g digunakan pada setiap kondisi perlakuan. Setelah perlakuan, ikan ditempatkan di akuarium yang telah diberi tanaman air (Hydrilla sp.) sebagai shelter tempat melahirkan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi optimal untuk meningkatkan sinkronisasi waktu kelahiran adalah dosis 0,2 mL.L-1 oksitosin, dan dosis 0,1 mL.L-

1 prostaglandin pada suhu 31 °C dengan persentase kelahiran masing-masing adalah 70,00±10,00% dan 83,33±9,08% dengan tingkat kelangsungan hidup larva masing-masing sebesar 86,91±0,76% dan 86,62±1,24%. Pada penelitian yang dilakukan tidak ditemukan adanya interaksi antara suhu dan dosis hormon yang diberikan, serta tidak ditemukan interaksi kombinasi perlakuan hormon dan keberadaaan induk jantan dalam merangsang sinkronisasi waktu melahirkan pada ikan plati koral.

Kata kunci: keberadaan jantan, oksitosin, prostaglandin, sinkronisasi kelahiran, Xiphophorus maculatus.

ABSTRACT

Coral platy is a group of ornamental fish that reproduce by giving birth (viviparous).

The challenge of mass-scale production of fish is the uneven birth time, which leads to variations in size in production. To synchronize the time of birth, a variety of hormones combined with an increase in temperature and stimulation of the male's presence are carried out. This research was conducted using a randomized block design with three replications using the oxytocin (0; 0.1; 0.2; 0.4 mL.L-1), and prostaglandin hormone (0; 0.01; 0.1; 1 mL L-1), and immersing the parent for 12 hours at a temperature (28 °C and 31 °C). Additional tests was carried out to evaluate the presence of males (0, 1, 2, and 3 individuals) in synchronizing birth time. A total of 30 female parents of 4.00±0.19 cm and a weight of 2.00±0.07 g

Dalam dokumen PDF Judul Buku - dri.ipb.ac.id (Halaman 44-74)