• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nuning Irnawulan Ishak 1 , Poedji Hastutiek 2 , Endang Suprihati 2

Dalam dokumen PDF Judul Buku - dri.ipb.ac.id (Halaman 135-161)

Bidang Biologi dan Kesehatan

Kasman 1 Nuning Irnawulan Ishak 1 , Poedji Hastutiek 2 , Endang Suprihati 2

1Fakultas Kesehatan Masyarakat UNISKA Banjarmasin

2Fakultas Kedokteran Hewan UNAIR Surabaya

ABSTRAK

Pemanfaatan senyawa aktif tanaman menjadi alternatif pengendalian nyamuk saat ini dan masa depan karena lebih ramah lingkungan dan tidak menimbulkan gangguan kesehatan. Tanaman Limau Kuit (Citrus amblycarpa) merupakan jeruk lokal Kalimantan Selatan yang memiliki potensi bioinsektisida yang bisa dimanfaatkan dalam pengendalian nyamuk. Hal tersebut mendorong perlu dilakukan penelitian dengan memanfaatkan kulit buah Limau Kuit sebagai bioinsektisida yang melimpah di wilayah Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi senyawa aktif ekstrak etanol kulit limau kuit (Citrus amblycarpa) dan potensi sebagai bioinsektisida pada nyamuk. Hasil uji GC- MS menampilkan 37 senyawa dengan 6 (enam) komponen utama dari fraksi secara berurutan yaitu senyawa 2H-1-Benzopyran-2-one/Coumarin dengan kandungan sebesar 13,67%, senyawa 1,3-butadiene dengan kandungan sebesar 10,78%, senyawa (Z,Z)-9,12-Octadecadienoic acid dengan kandungan sebesar 8,90%, senyawa Pentamethoxyflavone dengan kandungan sebesar 5,98% , senyawa (trimethylsilyl) ester dengan kandungan sebesar 5,76% dan senyawa n- Hecadecanoic acid dengan kandungan sebesar 5,75%. Studi literatur yang telah dilakukan, senyawa aktif ini memiliki aktivitas biologi dengan aktivitas potensial sebagai bioinsektisida, Sehingga diharapkan, senyawa aktif kulit Limau Kuit (Citrus amblycarpa) bisa diaplikasikan kedepannya dalam pengendalian nyamuk dengan menggantikan penggunaan temephos yang telah resisten.

Kata kunci: Bioinsektisida, limau kuit, nyamuk, GC-MS.

ABSTRACT

The use of active plant compounds is an alternative to mosquito control now and in the future because it is more environmentally friendly and does not cause health problems. Citrus amblycarpa plant is a local citrus in South Kalimantan which has bioinsecticidal potential that can be used in mosquito control. This encourages research needs to be done by utilizing the peel of Citrus amblycarpa as an abundant bioinsecticide in the South Kalimantan. This study aims to identify the active compound of ethanol extract of Citrus amblycarpa peel and its potential as a bioinsecticide in mosquitoes. GC-MS test results showed 37 compounds with 6 (six) main components of the fraction in a row namely 2H-1-Benzopyran-2- one/Coumarin compound with a content of 13.67%, 1,3-butadiene compound with a content of 10 .78%, (Z, Z) -9.12-Octadecadienoic acid compound with a content of 8.90%, Pentamethoxyflavone compound with a content of 5.98%, (trimethylsilyl) ester compound with a content of 5.76% and n-Hecadecanoic acid compound with a content of 5.75%. Literature studies have been carried out, this active compound has biological activity with potential activity as a bioinsecticide. So is hoped the

Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB 2019 105 active compound peel Citrus amblycarpa can be applied in the future in controlling mosquitoes that has proven to be resistant to many insecticides.

Keywords: Bioinsecticide, Citrus amblycarpa, mosquitoes, GC-MS.

OPTIMASI PROSES EKSTRAKSI UNTUK PRODUKTIVITAS EKSTRAK, KANDUNGAN TOTAL FLAVONOID, AKTIVITAS PEREDAMAN

RADIKAL DAN SITOTOKSISITAS RIMPANG TEMU IRENG (Optimization of extraction process for extract yields, total flavonoid

content, radical scavenging activity and cytotoxicity of Curcuma aeruginosa RoxB. rhizome)

I Made Artika1*), Eka Nurul Qomaliyah1), Waras Nurcholis1,2), Maria Bintang1)

1Departemen Biokimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam; 2Pusat Studi Biofarmaka Tropika, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut

Pertanian Bogor

ABSTRAK

Rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa RoxB.) secara tradisional digunakan untuk mengatasi beberapa penyakit. Flavonoid merupakan salah satu senyawa yang ada pada temu ireng yang diduga bertanggung jawab terhadap berbagai aktivitas biologi. Penelitian ini untuk optimasi ekstraksi menggunakan pelarut etanol, air, dan aseton yang diaplikasikan pada desain simplex-centroid. Aktivitas peredaman radikal dan kandungan flavonoid ditentukan secara in vitro, sementara untuk sitotoksisitas ditentukan pada toksisitas larva udang. Model linier untuk semua respon yang diukur merupakan rekomendasi yang diperoleh. Ekstrak etanol:aseton memiliki produktivitas ekstrak tertinggi, yaitu 25.15% yang tidak berbeda nyata dengan ekstrak aseton (22.86%) pada p < 0.05. Ekstrak etanol menghasilkan kandungan flavonoid dan sitotoksisitas tertinggi dengan nilai secara berurutan 17.97 mg EQ/g dan 140 μg/ml. Ekstrak etanol-air, etanol, dan air menghasilkan aktivitas peredaman radikal yang sedang ((IC50, 100-500 μg/ml) dibandingkan dengan kontrol asam askorbat (IC50, 7.19 μg/ml). Kandungan flavonoid dan IC50 untuk aktivitas peredaman radikal berkorelasi negatif yang lemah, hal tersebut mengindikasikan bahwa flavonoid rimpang temu ireng tidak menjadi senyawa utama sebagai antioksidan. Kajian awal pada proses ekstraksi ini menunjukkan bahwa ekstrak flavonoid rimpang temu ireng yaitu ekstrak etanol memiliki aktivitas peredaman radikal dan sitotoksisitas terbaik.

Kata kunci: Aktivitas peredaman radikal, Ekstraksi, Flavonoid, Produktivitas ekstrak, Simplex-centroid, Sitotoksisitas, Temu ireng.

ABSTRACK

The rhizome of Curcuma aeruginosa RoxB. (RCA) is used traditionally for several diseases. The flavonoid compounds contained in the RCA that responsible for biological activities. In this study, ethanol, water, and acetone had been used as solvent extraction of RCA and applied the simplex-centroid design to optimize the extraction process. The radical scavenging activity and total flavonoid content were investigated using in vitro assays, while cytotoxicity was evaluated by brine shrimp lethality test. ANOVA suggested a linear model for all responses. The ethanol:

acetone extract had the highest extract yield with a value of 25.15%, and this result showed no significant with acetone extract at p < 0.05 (22.86%). The ethanol extracts confirmed the higher degree of total flavonoid content and cytotoxicity with a value of 17.97 mg QE/g and 140 μg/ml, respectively. The ethanol: water extract, ethanol extract, and water extract (IC50, 100-500 μg/ml) showed moderate radical scavenging activity compared with ascorbic acid (IC50, 7.19 μg/ml). Regarding the

Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB 2019 107 correlation analysis, the negative correlation was weakly observed between flavonoid content and IC50 of free radical scavenging activity, which indicates that the flavonoid in RCA contributes not significantly to the antioxidant activity.

Introductory studies on the extraction process of the advanced flavonoid extracts exhibited a scavenging and cytotoxic effect of the ethanol extract on C. aeruginosa rhizome.

Keywords: Curcuma aeruginosa; Extract yields; Extraction; Flavonoids; Radical scavenging activity; Cytotoxicity; Simplex-centroid.

PENDEKATAN METABOLOMIK UNTUK MENENTUKAN SENYAWA AKTIF XYLOCARPUS GRANATUM SEBAGAI KOSMETIKA (Metabolomics Approach for Finding Active Ingredients from Xylocarpus

granatum for Cosmetic)

Irmanida Batubara1*,2), Yulin Lestari1,3), Rudi Heryanto1,2)

1Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB

2Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB

3Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam IPB

ABSTRAK

Indonesia harus dapat memenuhi swasembada bahan baku obat dan kosmetika, dan salah satunya melalui pemanfaatan biodiveristas Indonesia. Xylocarpus granatum dapat dikembangkan sebagai bahan baku kosmetika berdasarkan penelitian kami sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan senyawa aktif X granatum sebagai bahan baku kosmetika sebagai senyawa penciri kualitas.

Pada tahun pertama telah ditentukan bahwa bagian yang paling aktif pada tumbuhan X. granatum sebagai bahan baku kosmetika ada adalah bagian batangnya dan telah ditentukan metode ekstraksi yang optimumnya. Pada tahun kedua, sampel batang telah diambil dari Cilacap dan Kendari, dikeringkan dan diekstraksi menggunakan Teknik ekstraksi terbaik pada tahun pertama. Senyawa aktif pada ekstrak ditentukan berdasarkan aktivitas pencerah kulit dan antibakteri menggunakan pendekatan metabolomic. Metabolit yang terdapat pada medium telah diekstraksi dengan asetonitril dan dianalisis menggunakan kromatografi cair- spektrometri massa (LC MS-MS). Senyawa aktif sebagai antibakteri dan pencerah kulit merupakan senyawa yang berbeda.

Kata kunci: Xylocarpus granatum, antibakteri, pencerah, metabolomik, senyawa aktif.

ABSTRACT

Indonesia must be independent on the supply of raw materials for medicine and cosmetics, and utilization of Indonesian plants diversity is one of the approaches.

Our previous work showed that Xylocarpus granatum have a potency as cosmetics ingredient. The aim of this research is to find the active ingredient of X. granatum as cosmetics raw materials using metabolomic approach as a marker compound.

In the first-year research results showed that the most potent part of X. granatum is stem part and its optimum extraction condition had been determined. In the second year, the most prospective part of plants was collected in Cilacap and Kendari for stem and fruit peel parts respectively. The samples then dried and extracted with the solvent from the first-year results. From the extract, the active compounds for whitening and antibacterial will be determined by metabolomic approaches. The metabolites in the medium was extracted with acetonitrile and subjected to liquid chromatography mass spectrometry (LC MS-MS). The active ingredient as antibacterial and whitening agents are different.

Keywords: Xylocarpus granatum, antibacterial, whitening agent, metabolomic, active ingredient.

Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB 2019 109 PENGEMBANGAN FORMULA HASIL EKSPLORASI SUMBER DAYA

HAYATI PESISIR UNTUK KOSMETIKA DAN PERSONAL CARE (Development of Coastal Biological Resources Exploration Formula for

Cosmetics and Personal Care)

Irmanida Batubara1*,2), Maily4), Fransiska Devi Junardy4), Wulan Tri Wahyuni1,2), Waras Nurcholis1,3)

1Pusat Studi Biofarmaka Tropika LPPM IPB, Jawa Barat

2Departemen Kimia FMIPA IPB, Jawa Barat

3Departemen Biokimia FMIPA IPB, Jawa Barat

4Martha Tilaar Innovation Center, Martina Berto Tbk

ABSTRAK

Xylocarpus granatum merupakan mangrove paling berpotensi untuk dikembangkan menjadi bahan baku kosmetik berdasarkan hasil eksplorasi penelitian sebelumnya, Tumbuhan ini secara tradisional digunakan sebagai bahan untuk membuat kulit calon pengantin menjadi lebih cantik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan produk kosmetika dan personal care yang berasal dari mangrove X. granatum serta membuatnya menjadi produk komersial. Pada tahun ke-1 telah dilakukan pengembangan produk yang diawali dengan formulasi, standardisasi, pengujian aktivitas formula, uji keamanan, dan daya simpan ekstrak serta telah dibuat prototipe produk skala laboratorium yaitu berupa ekstrak X. granatum terstandar sebagai bahan baku kosmetika.

Selanjutnya pada tahun ke-2 dilakukan pemilihan base formula yang akan digunakan yaitu dengan base gel dan base cream. Base gel menunjukkan ketidakstabilan produk, oleh karena itu, selanjutnya dikembangkan produk dengan base cream. Uji panel, uji keamanan, uji stabilitas, dan uji kompatibilitas untuk formula produk antiaging kemudian ditentukan sebelum dilanjutkan ke skala industri.

Kata Kunci: kosmetik, pesisir, antioksidan, antiaging, pencerah kulit.

ABSTRACT

Xylocarpus granatum is a potent mangrove plant to be developed as cosmetic raw materials from our previous exploration research result. This plant traditionally used as an ingredient to make the skin of the bride more beautiful. Therefore, this study aims to obtain cosmetics and/or personal care products derived from X.

granatum and make it as a commercial product. In the first year, product development has been carried out beginning with formulation, standardization, formulation, safety, and storability of formulated extracts had been determined.

The prototype laboratory scale product has been made in the form X. granatum standardized extract as a cosmetic raw material. Furthermore, in the 2nd year the base formula will be selected, namely base gel and base cream. Base gel shows product instability, therefore, further developed products with base cream. Panel tests, safety tests, stability tests, and compatibility tests for antiaging product formulas are then determined before proceeding to industrial scale.

Keywords: cosmetic, coastal, antioxidant, antiaging, whitening agent.

SCREENING VIRUS ZIKA (ZIKV) PADA SATWA PRIMATA INDONESIA MENUJU PENGEMBANGAN HEWAN MODEL

PENELITIAN VIRUS ZIKA

(Screening of Zika Virus (ZIKV) in Indonesian Nonhuman Primates Toward the Development of ZIKV Animal Model)

Joko Pamungkas1*,2,4), RP Agus Lelana1,,2,4),, Dedy Duryadi Solihin1,3,4), Diah Iskandriati1,4), Rachmitasari Noviana1), Fitri L.N. Annisaa4), Suryo Saputro1)

1Pusat Studi Satwa Primata, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, IPB University

2Fakultas Kedokteran Hewan, IPB University

3Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, IPB University

4Program Studi Primatologi, Sekolah Pascasarjana, IPB University

ABSTRAK

“Zika” adalah penyakit infeksius emerging (PIE) yang disebabkan oleh infeksi virus Zika (ZIKV), anggota keluarga Flaviviridae dari genus Flavivirus yang diketahui dapat ditularkan ke manusia oleh vektor nyamuk genus Aedes sp. Gejala yang ditimbulkan diantaranya demam, ruam-ruam, pusing, nyeri sendi dan konjungtivitis, serta microcephaly pada bayi yang lahir dari wanita hamil yang terinfeksi ZIKV. Laporan kejadian infeksi ZIKV pada wisatawan Australia setelah digigit monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Bali pada tahun 2015 membangun hipotesis bahwa penularan ZIKV dimungkinkan terjadi selain oleh nyamuk juga dapat melalui gigitan satwa primata yang terinfeksi ZIKV. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan surveilans ZIKV pada satwa primata Indonesia, yaitu monyet ekor panjang (M. fascicularis) dan beruk (M. nemestrina) mengenai sebaran antibodi maupun kemungkinan terdeteksinya materi genetik ZIKV pada kedua jenis satwa primata tersebut dengan metode Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) dan Polymerase Chain Reaction (PCR) sebagai uji lanjutan. Sampel yang diperiksa adalah serum satwa primata dari fasilitas penangkaran. Hasil sementara prevalensi antibodi ZIKV adalah 3,80% dari 184 sampel yang telah dikoleksi, yaitu 3,27% dari fasilitas penangkaran PSSP LPP- IPB dan 4,84% dari fasilitas penangkaran perusahaan swasta. Sejauh ini belum terdeteksi materi genetik virus Zika pada sampel yang diperiksa dengan teknik PCR. Penelitian masih dilanjutkan dengan melibatkan sampel dari populasi satwa primata dari fasilitas lain di luar PSSP LPPM-IPB.

Kata kunci: Virus Zika, Macaca fascicularis, M. nemestrina, surveilans, prevalensi.

ABSTRACT

"Zika" is an emerging infectious disease (EID) caused by Zika virus infection (ZIKV), a member of the Flaviviridae family of the genus Flavivirus known to be transmitted to humans by the mosquito vector of the genus Aedes sp. The clinical symptoms include fever, rashes, dizziness, joint pain and conjunctivitis, and microcephaly in babies birth from infected mother. A report of ZIKV infection in Australian tourist after returning from Bali bitten by a long-tailed macaque (Macaca fascicularis) raised a hypothesis that ZIKV transmission may be possible through the bite of ZIKV-infected primate, in addition to already reported transmission by mosquitoes. The aim of the study is to conduct ZIKV surveillance in Indonesian nonhuman primates (M. fascicularis and M. nemestrina) based on antibody distribution and possibility of detecting ZIKV genetic material in the two nonhuman

Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB 2019 111 primate species by Enzyme Linked Immunosorbent Assay (ELISA) and by Polymerase Chain Reaction (PCR). The samples were serum from non-human primates from captivity facilities. Preliminary results for the prevalence of ZIKV antibodies were 3.80% of the 184 samples collected, 3.27% from the LPP-IPB PSSP captive facilities and 4.84% from the private company captive facilities. So far there has not been Zika virus genetic material detected in samples examined by PCR technique. Study is ongoing to involve samples from primate populations from other facilities outside the PSPM LPPM-IPB.

Keywords: Zika virus, Macaca fascicularis, M. nemestrina, surveillance, prevalence.

PENGEMBANGAN PRODUK PERSONAL CARE (BODY SCRUB) BERBASIS SUMBERDAYA LOKAL ALGA HIJAU DAN

TEPUNG KONJAC

(Personal Care (Body Scrub) Development Using Local Base Resources Green Algae and Konjac Flour)

Kustiariyah Tarman1*,3), Azima Rahtu Yunida1), M. Asep Ruslan1), Anita Ervina1), Yulita Larasati1), Joko Santoso1), Bayu Febram Prasetyo2,

Iriani Setyaningsih1)

1Departemen Teknologi Hasil Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB, Kampus IPB Dramaga, Bogor 16680, Indonesia

2Departemen Klinik Reproduksi Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia

3Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, LPPM, IPB, Kampus IPB Baranangsiang, Bogor 16144, Indonesia

ABSTRAK

Body scrub merupakan produk kosmetik yang mengandung partikel kasar yang juga disebut sebagai kosmetik obrasiver yang dapat mengangkat sel kulit mati.

Bahan alam diantaranya Halimeda macroloba dapat digunakan sebagai scrub.

Halimeda macroloba mengandung CaCO3 dalam talusnya yang membuat teksturnya kasar. Bahan pengemulsi untuk body scrub dapat menggunakan bahan lokal yaitu tepung konjac. Tepung konjac mengandung glukomanan yang dapat digunakan sebagai emulsifier. Penelitian ini bertujuan untuk membuat body scrub berbasis alga hijau Halimeda macroloba dan tepung konjac. Alga hijau yang digunakan dalam kondisi basah dan kering. Formulasi body scrub menggunakan alga hijau Halimeda macroloba, tepung konjac dan bahan lain untuk body scrub.

Formulasi dilakukan pada suhu 70oC dan 80oC. Kitosan dengan konsentrasi berbeda ( 2 dan 3%) ditambahkan sebagai pengawet alami dan metil paraben sebagai kontrol. Body scrub yang dihasilkan dalam penelitian ini mengandung kadar air 58.49-75.15%, pH 6.48-6.93, daya sebar 1.63-2.17 cm, dan warna putih kehijauan. Formula yang paling disukai untuk warna dan aroma berdasarkan uji hedonis adalah formula 2 yang mengandung H. macroloba segar dan kitosan 2%, sedangkan untuk kekentalan dan teksturnya adalah formula 5 yang menggunakan H. macroloba kering dan kitosan 2%. Hasil uji iritasi pada tikus menunjukkan bahwa tidak ada efek iritasi karena penggunan body scrub berbasis H. macroloba dan tepung konjac. Penggunaan kitosan dapat mempertahankan kestabilan body scrub selama 9 minggu penyimpanan.

Kata kunci: calsium, formula, Halimeda, iles-iles, kitosan

ABSTRACT

Body scrub is a cosmetic product that contains slightly rough material or known as cosmetic obrasiver that can remove dead skin cells. Natural ingredients such as Halimeda macroloba is potential to be used as scrub. H. macroloba deposits CaCO3 in the thallus which makes the texture of Halimeda flour is rougher than that of other flour so that it is potentially used as a scrub. The emulsion-forming agent for body scrub can use konjac flour. Konjac flour contains high glucomannan which can used as emulsifier. This study aimed to characterize the body scrub containing green alga Halimeda macroloba and konjac flour. The green alga used in this study was fresh and dried seaweeds. Formulation of body scrub was carried

Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat IPB 2019 113 out by mixing water base (propylene glycol, glycerine, aquadest) and oil base (cetyl alcohol, stearic acid, DEA, perfume) at temperatures of 70oC and 80oC then the water base and oil base were mixed to form a cream. Afterwards the mixture was added with 3% of H. macroloba and konjac flour. Chitosan was added as preservative with two different concentration (2 and 3%). Body scrub produced in this study contained moisture of 58.49-75.15%, pH 6.48-6.93, spreadability 1.63- 2.17 cm, and the color was greenish white. The most preffered formula for color and aroma based on the result of hedonically assessment was formula 2 (fresh H.

macroloba with chitosan 2%), while the most preferred for thickness and texture characteristic was formula 5 (dried H. macroloba with chitosan 2%). No irritation on mice was detected. Chitosan could preserve the body scrub for 9 weeks storage.

Keywords: calsium, chitosan, formula, Halimeda, konjac flour

ANEMIA DAN DEFISIENSI ZAT BESI PADA IBU HAMIL TRIMESTER TIGA DI KECAMATAN CIAMPEA, KABUPATEN BOGOR

(

Anemia and iron deficiency among pregnant women at third trimester in subdistrict of Ciampea, district of Bogor

)

Lilik Kustiyah1*) Mira Dewi1), Cesilia Meti Dwiriani2)

1Fakultas Ekologi Manusia Departemen Gizi Masyarakat, IPB Universtity

2IPB Universtity

ABSTRAK

Anemia (kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dL) dalam kehamilan diketahui dapat menyebabkan berbagai komplikasi kehamilan seperti perdarahan pasca melahirkan, kelahiran prematur, dan berat bayi lahir rendah. Penyebab utama dari anemia pada ibu hamil adalah kekurangan zat besi, namun data mengenai status simpanan besi ibu hamil di daerah Bogor masih sangat terbatas. Dalam penelitian ini, dilakukan analisis asupan zat gizi dan kadar hemoglobin dan feritin darah untuk menilai simpanan zat besi tubuh dari sebanyak 41 ibu hamil trimester 3 di kecamatan Ciampea, Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 80%

ibu hamil memiliki tingkat kecukupan energi dan protein yang rendah (<70% angka kecukupan), dan semua ibu hamil (100%) mengalami kekurangan asupan zat besi (<77% dari angka kecukupan). Rata-rata kadar hemoglobin dan feritin berturut- turut adalah 11.46 mg/dL dan 19.74 ng/mL. Prevalensi anemia ibu hamil cukup tinggi, yakni 34.1%, namun prevalensi defisiensi zat besi (kadar feritin serum <15 ng/mL atau anemia disertai kadar feritin serum < 40 ng/mL) lebih tinggi lagi, yakni mencapai 65.9%. Semua (100%) ibu hamil yang menderita anemia mengalami defisiensi zat besi. Penelitian ini menunjukkan bahwa berdasarkan data asupan dan biomarker, anemia masih merupakan masalah yang umum ditemukan pada ibu hamil di daerah penelitian dan terutama disebabkan oleh defisiensi zat besi.

Karenanya, usaha penanggulangan anemia yang diarahkan pada pemenuhan kebutuhan zat besi baik melalui edukasi gizi maupun suplementasi zat besi perlu digalakkan.

Kata kunci: anemia, hemoglobin, feritin, ibu hamil, asupan.

ABSTRACT

Anemia (hemoglobin level less than 11 g/dL) during pregnancy may cause complications such as post partum bleeding, premature birth, and low birth weight.

The main cause of anemia in pregnant woman is iron deficiency, but data of iron store status among pregnant woman in Bogor district is scarce. In this research we analyzed nutrient intake, hemoglobin blood level, and serum ferritin to estimate body iron store of 41 pregnant women at their third trimester in Ciampea subdistrict, Bogor. The result of consumption nutrient analysis showed that over 80% of pregnant women had low energy and protein adequacy level (<70% required dietary intake), and all (100%) pregnant women were deficient in iron intake (<77%

required dietary intake). The average level of hemoglobin and ferritin were 11.46 mg/dL dan 19.74 ng/mL, respectively. Prevalence of anemic pregnant women was high, i.e. 34.1%; however, the prevalence of iron deficiency (serum ferritin level

<15 ng/mL or anemia with serum ferritin level <40 ng/mL) was even higher, i.e.

65.9%. All (100%) anemic pregnant women suffered from iron deficiency. Based on nutrient intake and biomarker analysis, this research suggested that anemia is still a common problem among pregnant women in this research area, and iron

Dalam dokumen PDF Judul Buku - dri.ipb.ac.id (Halaman 135-161)