• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN

1. Mortalitas

Penyebab kematian penting untuk diketahui agar meningkatkan kepedulian hidup sehat masyarakat. Dalam skala yang lebih luas, mengukur seberapa banyak jumlah orang yang meninggal dan penyebabnya pada periode tertentu untuk menilai keefektifan sistem kesehatan serta pemanfaatan sumber daya kesehatan yang tersedia. Mortalitas dan penyebab kematian diperoleh dari laporan penyebab kematian dan survey. Beberapa angka kematian khusus yang akan diulas dalam Profil Kesehatan Kota Bandung ini adalah kejadian jumlah dan penyebab kematian yang dilaporkan oleh Puskesmas, kematian bayi, kematian ibu, dan kematian balita.

a. Pola 10 Besar Kematian yang dilaporkan oleh Puskesmas

Jumlah dan penyebab kematian sepanjang tahun 2020 dikumpulkan, dicatat, dan dilaporkan oleh Puskesmas untuk direkap di tingkat Kota. Dari proses tersebut, sepanjang tahun 2020, tercatat sejumlah 895 kematian dengan 209 jenis penyebab kematian di Kota Bandung. Penyebab kematian terbesar yang tercatat adalah hipertensi primer / esensial sebesar 111 kasus kematian atau 12,40 %.

Pencatatan penyebab kematian oleh Puskesmas dapat menjadi alternatif penguatan Civil Registration & Vital Statistic (CRVS) atau sistem registrasi vital yang rutin / menjadi kewajiban pemerintah daerah untuk melaksanakannya. Tujuan CRVS selain yang utama adalah sebagai sistem registrasi sipil pokok penduduk, juga untuk mengetahui angka lokal indikator kependudukan di daerah. Berikut di bawah ini tabel 10 besar penyebab kematian yang dikumpulkan oleh Puskesmas di Kota Bandung sepanjang tahun 2020.

Tabel 1. Pola 10 Besar Penyebab Kematian yang Tercatat dan Dilaporkan oleh Puskesmas di Kota Bandung

ICD X Penyakit Jumlah Persentase

I10 Hipertensi primer/essensial 111 12.40

I64 Stroke, not specified as haemorrhage or infarction 84 9.39

R54 Senility 46 5.14

I50 Heart failure 34 3.80

I25 Chronic ischaemic heart disease 33 3.69

I50.0 Congestive heart failure 24 2.68

E14 Diabetes melitus, tidak spesifik 22 2.46

I11.9 Hypertensive heart disease without (congestive) heart failur 22 2.46

K29.5 Chronic gastritis, unspecified 20 2.23

N18 Chronic renal failure 16 1.79

E11.8 Non-insulin-dependent diabetes mellitus with unspecified complications 15 1.68

I24.9 Penyakit jantung iskemik akut lainnya 14 1.56

I69.4 Sequelae of stroke, not specified as haemorrhage or infarcti 14 1.56

I50.9 Penyakit gagal jantung (DC) 13 1.45

A15 Respiratory tuberculosis, bacteriologically and histological 12 1.34

I09 Other rheumatic heart diseases 11 1.23

I46.9 Cardiac arrest, unspecified 11 1.23

K29 Gastritis and duodenitis 10 1.12

E11.9 Non-insulin-dependent diabetes mellitus without complications 10 1.12

I24 Other acute ischaemic heart diseases 10 1.12

Lain-lain 363 40.56

Sumber : Sikda Kota Bandung versi 2.6.9 tahun 2020

b. Jumlah Kematian Akibat Kecelakaan Lalu lintas di Kota Bandung Sejak tahun 2019, Pemerintah Kota Bandung mengumpulkan secara elektronik data kecelakaan lalu lintas yang terjadi di wilayah Kota Bandung. Data kecelakaan lalu lintas diperoleh dari pelaporan rumah sakit – rumah sakti yang berlokasi di Kota Bandung dan menangani kasus kecelakaan lalu lintas. Pengumpulan dan pengolahan data kecelakaan ini dijadikan bahan analisa program pencegahan kecelakaan lalu lintas akibat sistem lalu lintas maupun perilaku pengguna jalan.

Sepanjang tahun 2020, tercatat 2.615 korban kecelakaan lalu lintas dengan 2.573 cedera dan 42 meninggal dunia. Jumlah korban cedera dan meninggal di tahun 2020 lebih sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2019. Di tahun 2019, jumlah korban akibat kecelakaan lalu lintas sebanyak 7.426 orang dengan rincian 7.384 orang cedera dan 76 orang meninggal dunia. Grafik perbandingan jumlah korban kecelakaan lalu lintas di Kota Bandung tahun 2019 – 2020 dapat dilihat di bawah ini.

Grafik 11. Perbandingan Jumlah Kematian Akibat Kecelakaan Lalu lintas di Kota Bandung Tahun 2019 dan 2020 (lokasi kejadian di Kota Bandung)

Sumber : Sicalakan Kota Bandung tahun 2020

c. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka kematian bayi menjelaskan kemungkinan kematian bayi dalam 1.000 kelahiran hidup di suatu wilayah dalam periode tertentu. Angka kematian bayi selalu digunakan untuk menentukan derajat kesehatan di suatu wilayah. Oleh sebab itu, banyak program kesehatan yang menitikberatkan pada upaya penurunan jumlah kematian bayi.

Jumlah kasus kematian bayi tahun 2020 di Kota Bandung sebanyak 82 kasus kematian. Jumlah ini menurun cukup tajam sebanyak 32 kasus kematian bila dibandingkan dengan tahun 2019. Jumlah kematian di tahun 2020 menjadi jumlah kematian bayi terendah setidaknya sejak tahun 2012. Dalam rangka menekan jumlah kematian bayi, Pemerintah Kota Bandung melakukan upaya operasional berupa penguatan Puskesmas dan jaringannya, manajemen program, dan sistem rujukan serta pembiayaan.

Perbandingan jumlah kematian bayi di Kota Bandung tahun ke tahun tampak pada grafik batang di bawah ini.

Grafik 12. Grafik dan Tren Perbandingan Jumlah Kematian Bayi Kota Bandung Tahun 2014 - 2020

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Bandung Tahun 2020 76

42

0 20 40 60 80

2019 2020

Jumlah Orang

Tahun 2019 2020

95

138

223

129 113 114

82

201 4 201 5 201 6 201 7 201 8 201 9 202 0

JJumlah Kematian Bayi (Jiwa)

Tahun

Bila dilihat secara kewilayahan, jumlah kematian bayi tahun 2020 terbanyak berada di wilayah Sukajadi (10 kasus), Coblong (9 kasus), dan Bandung Kulon (7 kasus). Tidak terdapat kasus kematian bayi di kecamatan Sukasari, Regol, Cibeunying Kaler, dan Astanaanyar. Persebaran kasus kematian bayi di tahun 2020 tersebar di 26 kecamatan dari 30 Kecamatan di Kota Bandung. Bila dibandingkan dengan tahun 2019, kasus kematian bayi tahun 2020 sebarannya berkurang 3 kecamatan. Peta tematik di bawah ini menerangkan jumlah kematian bayi menurut wilayah kecamatan di Kota Bandung tahun 2020

Gambar 4. Jumlah Kematian Bayi Menurut Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2020

- Sumb er : Seksi Kesehatan Keluarga dan Giz i Dinkes Kota Bandung Tahun 2020

Pada periode 2015 – 2020, Kecamatan Bojongloa Kidul memiliki jumlah kasus kematian bayi terbanyak dengan 69 kasus, diikuti oleh Batununggal dan Coblong dengan masing-masing jumlah kematian bayi sebanyak 67 kasus dan 64 kasus. Sedangkan Kecamatan Buah Batu bersama Kecamatan Panyileukan merupakan dua kecamatan dengan jumlah kematian bayi terkecil yaitu 5 kasus kematian pada periode yang sama.

Berikut ini peta mengenai jumlah kejadian kematian bayi per kecamatan dari tahun 2015 - 2020.

Gambar 5. Jumlah Kematian Bayi Menurut Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2015 – 2020

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Bandung Tahun 2020

Penyebab-penyebab terbanyak kematian bayi (0-11 bulan) di Kota Bandung tahun 2020 yakni BBLR, asfiksia, sepsis kelainan bawaan, pneumonia dan diare. Terdapat pula penyebab lain-lain yang masih menjadi jumlah terbesar penyakit penyebab kematian bayi 32 kasus). Penyebab terbanyak kematian bayi di Kota Bandung di tahun 2020 berturut- turut terbesar di luar penyebab kematian lain – lain adalah BBLR (19 kasus), Asfiksia (11 kasus), kelainan bawaan (8 kasus), pneumonia (6 kasus) dan diare (4 kasus).

d. Angka Kematian Balita (AKABA)

Angka kematian Balita (AKABA) dihitung dengan jumlah kematian anak berusia 0 – 4 tahun selama satu tahun dalam 1.000 anak umur yang sama pada tahun tersebut (termasuk kematian bayi). Indikator Angka Kematian Balita Kota Bandung tahun 2020 belum tersedia sehingga kesehatan Balita di Kota Bandung digambarkan dengan jumlah kematian balita yang ditampilkan di Profil Kesehatan ini (12 bulan – 59 bulan).

Jumlah kematian balita (12 – 59 bulan) tahun 2019 - 2020 sebanyak kasus 27 kasus meningkat 5 kasus lebih banyak dari tahun sebelumnya yang sebanyak 22 kasus.

Grafik berikut ini menggambarkan perbandingan jumlah kematian balita dari tahun ke tahun di Kota Bandung.

Grafik 11A. Grafik Perkembangan Jumlah Kematian Balita (12 – 59 Bulan) di Kota Bandung Tahun 2015 - 2020

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Bandung Tahun 2020

Indikator angka kematian Balita merefleksikan secara langsung kualitas kelangsungan hidup anak dan kelangsungan kehidupan sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Kematian Balita penting untuk diketahui hubungannya dengan permasalahan kesehatan anak dan faktor risiko lain yang berpengaruh terhadap kematian anak seperti infeksi, gizi dan lain-lain.

e. Angka Kematian Ibu (AKI)

Pengertian kematian ibu adalah kematian selama kehamilan, ketika persalinan, atau dalam 42 hari periode setelah berakhirnya kehamilan yang disebabkan oleh semua kondisi kehamilan dan efek penanganannya, di luar penyebab kecelakaan. AKI dihitung sebagai jumlah kematian ibu dalam 100.000 kelahiran hidup di wilayah tertentu pada periode tertentu.

Angka kematian ibu Kota Bandung hingga saat ini tidak tersedia sehingga gambaran kematian ibu di Kota Bandung dijelaskan dengan jumlah kematian ibu di Kota Bandung.

Sepanjang tahun 2020 di Kota Bandung terdapat 28 kasus kematian ibu dari 34.366 kelahiran hidup. Jumlah kematian ibu di tahun 2020 menurun satu kasus dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 29 kasus. Perbandingan jumlah kematian ibu dari tahun ke tahun dapat diperhatikan pada grafik di bawah ini.

Grafik 12A. Grafik Perkembangan Jumlah Kematian Ibu di Kota Bandung Tahun 2014 – 2020

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Bandung Tahun 2020 30

26 27

16

29 29 28

2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020

Jumlah Kematian Ibu (jiwa)

Tahun 8

26

15

22

27

10

2015 2016 2017 2018 2019 2020

Kematian Balita (Jiwa)

Tahun

Dalam rangka menekan jumlah kematian ibu, Pemerintah Kota Bandung melakukan upaya operasional berupa penguatan Puskesmas dan jaringannya, manajemen program, dan sistem rujukan dan pembiayaan. Bentuk upaya tersebut berupa:

1. Pendistribusian buku KIA hingga sesuai dengan sasaran ibu hamil 2. Peembentukan tim penyelamat ibu dan bayi Kota Bandung

3. Optimalisasi pencatatan dan pelaporan KIA-KB 4. Reorganisasi tim AMP Kota Bandung

5. Pengalokasian anggaran Jampersal untuk ibu hamil dan bayi baru lahir dari kalangan masyarakat tidak mampu.

Terdapat beragam penyebab kematian ibu di Kota Bandung tahun 2020. Penyebab kematian ibu dari 28 kasus adalah perdarahan (12 kasus), hipertensi pada kehamilan (3 kasus), infeksi (3 kasus), gangguan system peredaran darah (2 kasus), serta terdapat 8 kasus dengan penyebab lain-lain.

Kematian ibu terbanyak terjadi pada ibu berusia ≥ 35 tahun sebanyak 12 kasus, kemudian diikuti ibu berusia 20 – 34 tahun sebanyak 14 kasus, lalu ibu berusia < 20 tahun dengan 2 kasus. Masa peninjauan kematian ibu terbagi dari beberapa fase sesuai dengan proses kehamilan itu sendiri, yakni fase kehamilan, fase persalinan dan fase nifas. Di tahun 2020 tercatat kematian ibu terbanyak terjadi pada masa nifas dengan 14 kasus (50,00 %), masa bersalin 8 kasus (28,57 %), dan masa nifas 6 kasus (21,43%). Grafik di bawah ini menerangkan mengenai proporsi kematian ibu pada fase kehamilan di tahun 2020 di Kota Bandung.

Grafik 13. Grafik Persentase Fase Kejadian Kematian Ibu di Kota Bandung Tahun 2020

Sumber :Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Bandung Tahun 2020

Pandemik Covid 19 berdampak pada terbatasnya layanan kesehatan maternal terutama yang bersifat kunjungan di fasilitas kesehatan serta pemantauan langsung ibu hamil oleh petugas. Hal tersebut disebabkan oleh kekhawatiran ibu hamil tertular Covid 19 ketika melakukan pemeriksaan kehamilan maupun persalinan di fasilitas kesehatan.

Ham il , 21.43

Bersalin , 28.57 Nifas,

50.00

Untuk mengatasi permasalahan ini beberapa solusi diterapkan seperti perluasan sosialisasi kepada masyarakat akan pentingnya pemeriksaan dan persalinan di fasilitas kesehatan. Selain itu mayakinkan ibu hamil bahwa persalinan di fasilitas kesehatan aman dilakukan karena terpisah dengan pelayanan pasien Covid 19. Selain itu dilakukan j uga penguatan pemanfaatan media komunikasi antar petugas kesehatan, juga kepada ibu hamil serta kader.

Bila ditinjau secara kewilayahan, di tahun 2020, kejadian kematian ibu tertinggi berada di Kecamatan Coblong sejumlah 5 kasus, berikutnya ada Kecamatan Cibeunying Kidul, Andir, dan Astanaanyar dengan masing-masing 3 kasus. Di tahun yang sama, tidak ditemukan kematian ibu di 15 kecamatan. Sebaran kematian ibu di Kota Bandung tahun 2020 tampak pada gambar berikut ini.

Gambar 6. Jumlah Kematian Ibu Menurut Kecamatan di Kota Bandung Tahun 2020

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Bandung Tahun 2020

Sebaran kematian ibu di Kota Bandung bila diamati sejak dari 2016 terjadi dengan jumlah yang beragam antara satu kecamatan dan lainnya. Kecamatan Cibeunying Kaler pada periode pengamatan 2016 hingga 2020 menjadi satu-satunya kecamatan yang tidak terdapat kematian ibu. Wilayah dengan kematian ibu terbesar berada di Kecamatan Coblong (12 kasus) dan Kiaracondong (11 kasus), sedangkan lima kecamatan dengan jumlah kematian ibu terkecil (1 kasus) yakni Kecamatan Cinambo, Cicendo, Sumur

Bandung, Bandung Wetan, dan Panyileukan. Berikut ini gambar sebaran jumlah kematian ibu di Kota Bandung antara tahun 2016 – 2020.

Gambar 7. Perbandingan Jumlah Sebaran Kematian Ibu Menurut Kecamatan di Kota Bandun g Tahun 2015-2020

Sumber : Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kota Bandung Tahun 2020

Angka kematian ibu merupakan indikator penting bukan hanya untuk melihat kondisi kesehatan ibu hamil di masyarakat, akan tetapi juga untuk melihat kondisi kesehatan secara umum terdiri dari pendidikan, pelayanan kesehatan, serta lingkungan kesehatan.

Dalam dokumen Gambaran Kesehatan Berbasis Bukti (Halaman 32-40)

Dokumen terkait