F. Manfaat Penelitian
2. Motivasi Berprestasi Guru
a. Pengertian Motivasi Berprestasi
Motivasi dalam bahasa Inggris motivation, berasal dari bahasa latin yaitu Marvere yang berarti ’”dorongan” atau “daya penggerak”. Moekijat (2002:5) mengemukakan bahwa motivasi adalah keinginan di dalam diri seorang diri individu yang mendorong ia untuk bertindak. Sedangkan menurut Robbins (2003:213), motivasi merupakan proses yang ikut menentukan intensitas, arah dan ketekunan individu dalam usaha mencapai sasaran, hal ini berarti ada tiga elemen yang ditentukan oleh motivasi yaitu intensitas, arah dan ketekunan.
Hamzah (2009:30) merumuskan pengertian motivasi berprestasi sebagai motif untuk berhasil dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Dengan demikian motivasi berprestasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan atau keinginan untuk melakukan dan menyelesaikan suatu pekerjaan dengan sebaik-baiknya melalui upaya yang keras sehingga dicapai hasil yang memuaskan.
Menurut Robbins (2003:98) bahwa motivasi berprestasi adalah dorongan dalam diri orang-orang untuk mengatasi segala tantangan dan hambatan dalam upaya mencapai tujuan Kebutuhan untuk berprestasi itu adalah suatu motif yang berbeda dan dapat dibedakan dari kebutuhan lainnya. Seseorang dianggap mempunyai motivasi untuk berprestasi jika ia mempunyai keinginan untuk melakukan suatu karya yang lebih baik dari prestasi karya orang lain
Miftah (2004:90) mengatakan bahwa karakteristik dan orang-orang yang berprestasi tinggi antara lain; 1) suka mengambil resiko yang moderat; 2) memerlukan umpan balik yang segera; 3) memperhitungkan keberhasilan; dan 4) menyatu dengan tugas. Selanjutnya Surya (2006:73), mendefenisikan motivasi berprestasi sebagai suatu cara berfikir tertentu yang apabila terjadi pada diri seseorang, hal ini cenderung membuat orang itu bertingkah laku secara giat untuk meraih suatu hasil atau prestasi.
Pada dasarnya proses motivasi dapat digambarkan jika seseorang tidak puas akan mengakibatkan ketegangan yang pada akhirnya mencari jalan atau tindakan untuk memenuhi dan terus mencari kepuasan menurut ukurannya sendiri, dengan demikian jelaslah bahwa tanpa motivasi, akan menghambat kerja individu.
Keragaman pendapat di atas dikemukakan berdasarkan cara pandang dan latar belakang penelitian masing-masing ahli. Namun pada prinsipnya menunjukkan bahwa manusia melakukan aktifitasnya secara hakiki digerakkan atau didorong oleh sesuatu motif atau kepentingan yang bersumber dari adanya kebutuhan dan keinginan yang harus dipenuhi. Dengan adanya kebutuhan itu, menimbulkan niat untuk memenuhinya, sehingga mendorong seseorang untuk beraktifitas yang pada gilirannya menimbulkan keinginan serta semangat yang kuat untuk bekerja dan berusaha dalam proses pemenuhannya. Jika aktifitasnya dapat memenuhi kebutuhannya, maka ia akan berperilaku atau bersikap mendukung secara ikhlas dan berupaya untuk merealisasikannya. Sebaliknya, jika sesuatu keinginan tersebut berlawanan atau dipandang tidak menyentuh keinginan seseorang, maka akan berperilaku acuh atau masa bodoh, meninggalkan bahkan berupaya menghalanginya.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa motivasi akan sangat mempengaruhi setiap individu dalam organisasi untuk mencapai tujuan, yang terlihat pada prestasi atau kinerja yang dihasilkan, produktivitas kerja yang dihasilkan, besar kecilnya tanggung jawab dalam pekerjaan, pengembangan potensi diri setiap individu, dan kebijakan yang muncul di dalam organisasi.
Hal ini jelas akan berdampak pada keinginan untuk mencapai tujuan organisasi, loyalitas, disiplin dalam bekerja dan kemampuan diri untuk menyelesaikan segala masalah dalam pekerjaan.
Dengan demikian, bila dihubungkan dengan profesi guru maka motivasi dapat diartikan sebagai suatu dorongan yang kuat dalam diri guru untuk melaksanakan tugas dan kewenangannya dengan penuh tanggung jawab agar tercapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien.
Seorang guru dapat memiliki motivasi berprestasi yang tinggi jika membutuhkannya. Motivasi berprestasi dapat ditingkatkan melalui pelatihan, yaitu latihan berprestasi (achievement training). Dengan demikian, seorang guru yang memiliki motivasi berprestasi tinggi akan memiliki kinerja yang baik.
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi
Timbulnya motivasi dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berasal dari dalam dan luar diri seseorang. Winardi (2002:54) menjelaskan bahwa motivasi seseorang sangat dipengaruhi faktor internal dan eksternal.
Interaksi kedua faktor tersebut akan dapat menciptakan suasana kondusif dimana pegawai secara individual kelompok dapat bekerja secara optimal, sebaliknya faktor internal dan eksternal yang kurang mendukung
menciptakan suasana yang kurang kondusif bagi pegawai sehingga akan dapat menurunkan konsentrasi kerjanya.
Faktor internal yang berasal dari dalam diri sendiri meliputi persepsi tentang diri sendiri, harga diri, harapan, kebutuhan, keinginan, kepuasan kerja, prestasi kerja yang dihasilkan . Sedangkan faktor eksternal yang berasal dari luar diri sendiri meliputi jenis dan sifat pekerjaan, kelompok kerja dimana seseorang bergabung pada organisasi tempat dia bekerja, situasi lingkungan pada umumnya dan sistem imbalan yang berlaku serta cara penerapannya.
Baik faktor dari dalam maupun faktor dari luar diri seseorang akan menimbulkan rangsangan yang disebabkan kebutuhan tertentu dalam kehidupannya sehingga timbul motivasi.
Siagian (2002:201) menyatakan ada beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi yaitu gaji, kompensasi, kesempatan mengembangkan karier, kepemimpinan dalam organisasi, komunikasi, lingkungan kerja fisik, hubungan dengan rekan kerja, visi, misi dan tujuan organisasi.
Selanjutnya Rivai (2004:34) menyatakan pemberian motivasi seseorang disebabkan dari dalam maupun luar individu. Perbedaan faktor pembentukan motivasi merupakan penyebab adanya perbedaan motivasi antar individu.
Timpe (2000:146), berpendapat motivasi merupakan proses mengendalikan pilihan, dibuat oleh orang atau organisasi dimana ia berkepentingan dengan 1) arah perilaku atau apakah yang dipilih yang akan dilakukan seseorang bila dihadapkan pada sejumlah alternatif yang mungkin, 2) besar atau kekuatan dari usaha, dan 3) kegiatan perilaku. la juga menyatakan bahwa untuk meningkatkan motivasi, pimpinan perlu memperhatikan 1) faktor intrinsik, seperti pengakuan, pencapaian kemungkinan untuk tumbuh, kemungkinan
untuk maju, pekerjaan itu sendiri, 2) faktor ekstrinsik, seperti gaji, hubungan kerja, kebijakan administrasi, kondisi kerja, kehidupan pribadi, status dan kepastian pekerjaan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi kerja menurut:
Siagian (2002:294) baik yang bersifat internal maupun eksternal antara lain. Secara internal antara lain:
a. Persepsi seseorang mengenai diri sendiri:
b. Harga diri:
c. Harapan pribadi:
d. Kebutuhan:
e. Berkeinginan:
f. Kepuasan kerja:
g. Prestasi kerja yang dihasilkan.
Sedangkan faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi motivasi kerja seseorang adalah:
a. Jenis dan sifat kerja:
b. Kelompok kerja dimana seseorang bergabung:
c. Organisasi tempat kerja:
d. Situasi lingkungan pada umumnya:
e. Sistim imbalan yang berlaku dan cara penerapannya.
Interaksi positif antara kedua kelompok tersebut pada umumnya menghasilkan tingkat motivasi kerja yang tinggi. Dari penjelasan di atas disimpulkan bahwa faktor yang mempengaruhi motivasi kerja meliputi faktor internal dan faktor eksternal yang meliputi gaji/kompensasi, kesempatan mengembangkan karier, kepemimpinan dalam organisasi,
komunikasi, lingkungan kerja fisik, hubungan dengan rekan kerja, visi, misi dan tujuan organisasi sehingga dengan adanya motivasi kerja kinerja karyawan akan meningkat. Motivasi akan sangat mempengaruhi setiap individu dalam organisasi untuk mencapai tujuan bersama, yang terlihat pada prestasi atau kinerja yang dihasilkan, produktivitas kerja yang dihasilkan, besar kecilnya tanggung jawab dalam pekerjaan, pengembangan potensi diri setiap individu, dan kebijakan yang muncul di dalam organisasi. Hal ini jelas akan berdampak pada keinginan untuk mencapai tujuan organisasi, loyalitas, disiplin dalam bekerja dan kemampuan diri untuk menyelesaikan segala masalah dalam pekerjaan.
Menurut Timpe (2000:146) bahwa untuk meningkatkan motivasi, pimpinan perlu memperhatikan 1) faktor intrinsik, seperti pengakuan, pencapaian kemungkinan untuk tumbuh, kemungkinan untuk maju, pekerjaan itu sendiri, 2) faktor ekstrinsik, seperti gaji, hubungan kerja, pelatihan yang diikuti, kebijakan administrasi, kondisi kerja, kehidupan pribadi, status dan kepastian pekerjaan. Dari pendapat di atas dapat dijelaskan bahwa motivasi dipengaruhi oleh faktor kepemimpinan dengan adanya arahan, pengakuan dan penghargaan dari pimpinan serta imbalan atau kompensasi yang diterima pegawai dalam bentuk gaji, tunjangan dan kompensasi lainnya.
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa motivasi akan sangat mempengaruhi setiap individu dalam organisasi untuk mencapai tujuan bersama, yang terlihat pada prestasi atau kinerja yang dihasilkan, produktivitas kerja yang dihasilkan, besar kecilnya tanggung jawab dalam pekerjaan, pengembangan potensi diri setiap individu, dan kebijakan yang muncul di dalam organisasi. Hal ini jelas akan berdampak pada keinginan untuk
mencapai tujuan organisasi, loyalitas, disiplin dalam bekerja dan kemampuan diri untuk menyelesaikan segala masalah dalam pekerjaan.
c. Karakteristik Orang yang Memiliki Motivasi Berprestasi
Menurut McClleland yang dikutip oleh Thoha (1993) mengemukakan ada beberapa karaktersitik orang-orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi,yaitu 1) berani mengambil risiko yang moderat, 2) memerlukan umpan balik, 3) memperhitungkan keberhasilan, 4) menyatu dengan tugas.
Seseorang yang memiliki motivasi berprestasi akan mempunyai prakarsa dalam bekerja, maka berusaha mencari jalan keluarnya, dan kalau berhasil akan menimbulkan perasaaan senang atau puas. Hal ini senada apa yang dikemukakan oleh McClelland bahwa orang yang bermotivasi tinggi akan senang bila berhasil memenangkan persaingan. Seseorang yang memiliki motivasi berprestasi tinggi cenderung memilih rekan kerja dengan kemampuan kerja yang tinggi, dia tidak memilih rekan kerja yang ramah (Hamzah, 2004:30)
Selanjutnya Gellermen (1984) mengemukakan beberapa ciri-ciri orang yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi yaitu : 1) lebih menyukai aktivitas yang dapat memberikan umpan balik yang cepat dan tepat, 2) realisitis terhadap dirinya dan terhadap prestasi yang diinginkan karena mereka menyadari bahwa prestasi yang besar tidak dapat dicapai dalam waktu yang pendek dan dengan cara yang mudah. Oleh karena itu secara mental mereka lebih suka berusaha dan bertarung dengan gigih dari pada mengharpkan nasib baik semata. 3) menggunakan kemampuan untuk menjalankan tugas yang menjadi tanggung jawabnya, 4) berusaha menguasai
lingkungan kerjanya dengan lebih baik dan membutuhkan kerjasama dengan orang-orang lain yang mempunyai keahlian.
Motivasi berprestasi guru yang dimaksud dalam penelitian ini adalah suatu dorongan yang dimiliki guru untuk berprestasi demi mencapai prestasi kerja yang optimal. Indikator motivasi berprestasi pada penelitian ini adalah:
a) keinginan untuk berhasil, b) mau bekerja keras, c) memiliki tanggung jawab yang tinggi. d) gigih dalam bekerja, dan e) tekun mengerjakan tugas.
3. Kepemimpinan Kepala Sekolah a. Pengertian Kepemimpinan
Makna kata kepemimpinan erat kaitannya dengan makna kata memimpin. Kata memimpin mengandung makna yaitu kemampuan untuk menggerakkan segala sumber yang ada pada suatu organisasi sehingga dapat didayagunakan secara maksimal untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.
Menurut Wahjosumidjo (2002:34) dalam praktek organisasi, kata
“memimpin” mengandung konotasi menggerakkan, mengarahkan, membimbing, melindungi, membina, memberikan teladan, memberikan dorongan, memberikan bantuan, dan sebagainya. Betapa banyak variabel arti yang terkandung dalam kata memimpin, memberikan indikasi betapa luas tugas dan peranan seorang pemimpin organisasi.
Kepemimpinan biasanya didefinisikan oleh para ahli menurut pandangan pribadi mereka, serta aspek-aspek fenomena dari kepentingan yang paling baik bagi pakar yang bersangkutan. Yukl (1994:26) mendefinisikan kepemimpinan sebagai suatu sifat, perilaku pribadi, pengaruh terhadap orang lain, pola-pola interaksi, hubungan kerjasama antar peran, kedudukan dari
suatu jabatan administratif, dan persepsi dan lain-lain tentang legitimasi pengaruh.
Menurut Abor (1994:32) kepemimpinan adalah tindakan atau tingkah laku individu dan kelompok yang menyebabkan individu dan juga kelompok- kelompok itu untuk bergerak maju, guna mencapai tujuan pendidikan yang semakin bisa diterima oleh masing-masing pihak. Sedangkan menurut Wirawan (2002:16) menyatakan bahwa kepemimpinan adalah proses pemimpin menciptakan visi, mempengaruhi sikap, perilaku, pendapat, nilai- nilai, norma dan sebagainya dari pengikut untuk merealisir visi.
Berdasarkan uraian tentang definisi kepemimpinan di atas, terlihat bahwa kunci kepemimpinan adalah bentuk pengaruh yang dimiliki seorang pimpinan dan dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai pimpinan.
Peranan penting dalam kepemimpinan adalah upaya seseorang yang memainkan peran sebagai pemimpin guna mempengaruhi orang lain dalam organisasi/lembaga tertentu untuk mencapai tujuan.
Bertolak dari pengertian kepemimpinan, terdapat tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu unsur manusia, sarana, dan tujuan. Untuk dapat memperlakukan ketiga unsur tersebut secara seimbang, seorang pemimpin harus memiliki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan kepemimpinannya. Pengetahuan dan keterampilan ini dapat diperoleh dari pengalaman belajar secara teori ataupun dari pengalamannya dalam praktek selama menjadi pemimpin. Namun secara tidak disadari seorang pemimpin dalam memperlakukan kepemimpinannya menurut caranya sendiri, dan cara-cara yang digunakan itu merupakan pencerminan dari sifat-sifat dasar kepemimpinannya.
Kata kepala sekolah tersusun dari dua kata yaitu “kepala” yang dapat diartikan ketua atau pemimpin dalam suatu organisasi atau sebuah lembaga, dan “sekolah” yaitu sebuah lembaga di mana menjadi tempat menerima dan memberi pelajaran. Secara sederhana kepala sekolah dapat didefinisikan sebagai seseorang tenaga fungsional guru yang diberi tugas untuk memimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar, atau tempat di mana terjadinya interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan siswa yang menerima pelajaran. Kepala sekolah dilukiskan sebagai orang yang memiliki harapan tinggi bagi para staf dan para siswa. Kepala sekolah adalah mereka yang banyak mengetahui tugas-tugas mereka dan mereka yang menentukan irama bagi sekolah mereka.
Rumusan tersebut menunjukkan pentingnya peranan kepala sekolah dalam menggerakkan kehidupan sekolah guna mencapai tujuan. Studi keberhasilan kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah adalah seseorang yang menentukan titik pusat dan irama suatu sekolah. Kepala sekolah yang berhasil adalah kepala sekolah yang memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi kompleks yang unik, serta mampu melaksanakan perannya dalam memimpin sekolah.
Menurut Abor (1994:32) bahwa peran penting harus dijalankan oleh kepala sekolah sebagai pimpinan di sekolah adalah :
a. Membimbing guru
Kepala sekolah melakukan bimbingan kepada guru dalam melaksanakan tugas sehingga kepala sekolah mengetahui apa permasalahan yang dialami guru dalam bertugas
b. Mengarahkan guru
Kepala sekolah mengarahkan guru dalam melaksanakan tugas dengan cara melakukan supervisi terhadap pelaksanaan tugas guru
c. Memotivasi guru
Kepala sekolah memotivasi guru dalam melaksanakan tugas dan memberikan dukungan moril kepada guru dalam melaksanakan tugas
d. Menfasilitasi guru
Kepala sekolah memfasilitasi guru dalam melaksanakan tugas yaitu dengan memperhatikan kebutuhan guru akan fasilitas yang dibutuhkan dalam pelaksanaan proses belajar mengajar di sekolah
b. Fungsi Kepemimpinan
Menurut Soebagio (2000) fungsi kepemimpinan adalah bagian dari tugas utama yang harus dilaksanakan. Fungsi-fungsi kepemimpinan yaitu:
membantu terciptanya suasana persaudaraan, dan kerjasama dengan penuh rasa kebebasan, membantu kelompok untuk mengorganisasikan diri yaitu ikut memberikan rangsangan dan bantuan kepada kelompok dalam menetapkan tujuan, membantu kelompok dalam menetapkan proses kerja, bertanggung jawab dalam mengambil keputusan bersama dengan kelompok, dan terakhir bertanggung jawab dalam mengembangkan dan mempertahankan eksistensi organisasi.
Kepemimpinan merupakan kegiatan mempengaruhi aktivitas individu atau kelompok untuk mencapai tujuan dalam situasi tertentu. Kepemimpinan dapat juga dijabarkan sebagai sesuatu yang merupakan perwujudan kemampuan seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Aspek
strategi kepemimpinan dalam pendidikan, kepemimpinan merupakan inti manajemen, sedangkan manajemen adalah inti dari administrasi.
Dalam kepemimpinan kepala sekolah diperlukan teori strategi, profil kemampuan, peran kepala dan gaya kepemimpinan. Pemimpin sekolah dalam kontek pemberdayaan mutu pendidikan memiliki kecenderungan berprilaku dinamis, mengadakan perubahan, perkembangan dan inovasi dalam memajukan pendidikan dalam kondisi kurikulum terus berubah sesuai tuntutan masyarakat dan perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Mulyasa (2004:98) membagi fungsi kepemimpinan sebanyak tujuh bagian yaitu.
1. Sebagai edukator artinya kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik di sekolah, menciptakan iklim sosial yang kondusif, dan memberikan dorongan kepada seluruh pengajar.
2. Sebagai manajer artinya kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga pengajar melalui kerja sama yang kondusif, memberikan kesempatan kepada pendidik untuk meningkatkan profesionalisme.
3. Sebagai administrator artinya kepala sekolah mempunyai strategi untuk mengelola kurikulum pendidikan, administrasi sarana dan administrasi personalia.
4. Sebagai supervisor artinya kepala sekolah harus mampu melakukan pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja dan komitmen tenaga pengajar, menyusun serta melaksanakan program supervisi pendidikan.
5. Sebagai leader artinya, kepala sekolah harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan serta meningkatkan kemampuan tenaga kependidikan.
6. Sebagai inovator artinya, kepala sekolah harus mempunyai strategi bagai mana menjalin hubungan dengan lingkungan, mencari gagasan baru dan memberikan teladan kepada pengajar di sekolah.
7. Sebagai motivator artinya kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk memotivasi tenaga pengajar dalam melakukan tugas dan fungsinya. Memotivasi guru, pengaturan suasana kerja, disiplin, pengaturan lingkungan, penghargaan secara efektif.
Peran strategis kepala sekolah untuk prestasi suatu sekolah ditentukan oleh kemampuan kinerja kepala sekolah dan seluruh tenaga kependidikan yang ada di lingkungan sekolah. Soebagio (2000:111) menyatakan bahwa
”Kepala sekolah itu mempunyai peran ganda, yakni sebagai frontline supervisor yang berusaha menjaga agar tugas berjalan dengan lancar mengatur tugas dengan cara memonitor kegiatan bawahan, memecahkan masalah, mengatasi keadaan yang ricuh, serta menjaga disiplin.”
Di samping itu, kepala sekolah berperan sebagai middle manager artinya, ia perlu mengadakan pendelegasian kebijakan yang penting, seperti tanggung jawab serta mengamati implementasi program baru. Dengan demikian betapa pentingnya kualitas kepemimpinan kepala sekolah dalam mencapai keberhasilan suatu sekolah. Oleh karena itu, kepemimpinan kepala sekolah mempunyai arti vital atau strategis dalam proses pendidikan yang harus mampu mengelola dan memanfaatkan segala sumber daya manusia yang ada, sehingga tercapai aktivitas sekolah yang melahirkan perubahan kepada bawahan. Hal ini dapat dicapai apabila kepala sekolah selalu memperhatikan
dan melaksanakan konsep pengembangan sumber daya manusia meningkatkan kualitas sekolah. Paparan di atas menjadi alternatif dalam meramu sebuah teori kepemimpinan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai berupa rintisan untuk dijadikan alternatif strategi kepemimpinan dan pemberdayaan mutu pendidikan.
Kepemimpinan adalah proses menggerakkan, mempengaruhi, memberikan motivasi dan mengarahkan orang-orang di lembaga. pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Untuk mewujudkan tugas tersebut seorang pemimpin harus mampu bekerjasama dengan orang yang, dipimpinnya. Seorang pemimpin harus tabu fungsi dan peranannya sebagai pemimpin. Adapun fungsi kepemimpinan pendidikan menurut Abor (1994:33) adalah pada dasarnya yaitu:
1) Fungsi yang bertalian dengan tujuan yang hendak dicapai
2) Pemimpin berfungsi memikirkan dan merumuskan dengan teliti tujuan kelompok serta menjelaskan supaya anggota dapat bekerjasama mencapai tujuan itu.
3) Pemimpin berfungsi memberi dorongan kepada anggota-anggota kelompok untuk menganalisis situasi supaya dapat dirumuskan rencana kegiatan kepemimpinan yang dapat memberi harapan baik.
4) Pemimpin berfungsi membantu anggota kelompok dalam memberikan keterangan yang perlu supaya dapat mengadakan pertimbangan yang sehat.
5) Pemimpin berfungsi menggunakan kesempatan dan minat khusus anggota kelompok.
6) Fungsi yang bertalian dengan suasana pekerjaan yang sehat dan menyenangkan.
7) Pemimpin berfungsi memupuk dan memelihara kebersamaan di dalam kelompok.
8) Pemimpin berfungsi mengusahakan suatu tempat bekerja yang menyenangkan, sehingga dapat di pupuk kegembiraan dan semangat bekerja dalam pelaksanaan tugas.
9) Pemimpin dapat menanamkan dan memupuk perasaan para anggota bahwa mereka termasuk dalam kelompok dan merupakan bagian dari kelompok.
Nawawi (1997:47) menjelaskan bahwa kedua dimensi di atas secara operasional dapat dibedakan dalam lima fungsi pokok kepemimpinan, kelima fungsi tersebut ialah :
a) Fungsi instruktif ; fungsi ini berlangsung dalam satu arah. Pemimpin sebagai pengambil keputusan berfungsi memerintahkan pelaksanaan pada orang yang dipimpin. Fungsi ini berarti juga keputusan yang ditetapkan pimpinan tidak akan ada artinya jika tanpa kemampuan untuk mewujudkannya, atau menterjemahkan menjadi perintah, selanjutnya perintah tidak akan ada artinya jika tidak dilaksanakan.
b) Fungsi konsultatif. fungsi ini berlangsung dan bersifat dua arah, meskipun pelaksanaannya sangat bergantung pada pihak pemimpin. Kosultasi yang dilakukan pemimpin dengan bawahannya bertujuan mendengarkan pendapat dan saran, sebagai bahan pertimbangan sebelum yang direncanakan ditetapkan.
c) Fungsi partisipatif, fungsi ini tidak sekadar berlangsung dan bersifat dua arah, tetapi juga berwujud pelaksanaan hubungan manusia yang efektif,
antara pemimpin dengan semua orang yang dipimpin. Fungsi ini hanya mungkin terwujud jika pimpinan mengembangkan komunikasi yang memungkinkan terjadinya pertukaran pendapat, gagasan dan pandangan dalam memecahkan masalah, yang bagi pemimpin akan dapat dimanfaatkan untuk mengambil keputusan-keputusan. Di sini musyawarah menjadi bagian penting.
d) Fungsi pengendalian; fungsi ini cenderung bersifat satu arah meskipun tidak mustahil dilakukan dengan cara komunikasi dua arah. Fungsi pengendalian bermaksud kepemimpinan yang mampu mengatur aktivitas anggotanya secara efektif dan efisien. Pengendalian juga dilakukan dengan cara mencegah anggotanya berfikir dan berbuat sesuatu yang cenderung merugikan kepentingan organisasi.
e) Fungsi delegasi, fungsi ini dilaksanakan dengan memberikan pelimpahan wewenang membuat/menetapkan keputusan baik melalui persetujuan maupun tanpa persetujuan dari pemimpin.
Berdasarkan teori kepemimpinan kepala sekolah maka dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah adalah usaha kepala sekolah menjalankan fungsi dan peranannya sebagai pemimpin sekolah sehingga dapat mempengaruhi, mendorong, membimbing, mengarahkan dan menggerakkan guru-guru untuk melakukan pekerjaan masing-masing untuk mencapai tujuan sekolah secara efektif dan efisien. Kepemimpinan kepala sekolah yang dimaksud pada penelitian ini adalah pandangan guru-guru di SMP Negeri Kecamatan Pasaman Kabupaten Pasaman tentang perilaku kepala sekolah dalam melaksanakan kepemimpinannya sehubungan dengan bagaimana ia: a) membimbing guru, b) mengarahkan guru, c) memotivasi
guru, dan d) menfasilitasi guru, agar guru-guru menampilkan unjuk kerja lebih baik.