• Tidak ada hasil yang ditemukan

AQABAH KETIGA: AWAIQ

3. Mulut

Wajib bagi kita memelihara mulut. Sebab, di antara anggota badan dan panca indra, mulutlah yang paling usil dan paling banyak menimbulkan keonaran serta kerusakan.

Sufyan bin Abdullah bertanya kepada Rasulullah SAW., "Ya Rasulullah, apa yang paling ditakutkan dariku?" "Inilah," jawab Rasulullah seraya memegang lisannya.

Yunus bin Ubaidillah mengatakan, "Aku merasa mampu dan kuat menahan lapar-dahaganya berpuasa pada siang hari yang terik, seperti di Negeri Basrah yang sangat panas. Tetapi, bagiku sangat sulit meninggalkan sepatah kata yang tidak perlu."

Untuk itu, diperlukan usaha sungguh-sungguh serta memperhatikan lima dasar berikut ini:

1. Seperti yang diriwayatkan Abu Sa'id al-Khudri, bahwa anggota badan anak Adam pada setiap pagi sepadan kepada lisan agar berlaku baik. Seolah- olah mereka berkata, ''Wahai lisan, jika engkau berlaku baik, maka kami

pun akan baik. Dan jika engkau berlaku jahat, kami pun terpaksa berlaku jahat pula." Maksudnya, lisan itu sangat berpengaruh terhadap anggota badan dalam kebaikan dan keburukan. Dan makna ini diperkuat oleh Malik bin Dinar. Beliau berkata, "Jika hatimu keras membatu, maka sekujur tubuhmu akan lemah, dan rezekimu terhalang. Hal itu disebabkan ucapan lisanmu yang tidak karuan."

2. Jangan membuang-buang waktu dengan percuma. Misalnya, ngobrol yang tidak bermanfaat. Sebab, ucapan lisan selain dzikrullah, sebagian besar adalah sia-sia belaka.

Ada cerita, Hisan bin Ali Sinan pada suatu saat melewati sebuah lorong loteng yang baru dibangun. Kemudian, beliau berkata, "Kapan loteng ini mulai dibangun?" Setelah berkata begitu, ia berpikir tentang dirinya, "hai nafsu, untuk apa engkau menanyakan hal itu?" Akhirnya ia menghukum dirinya dengan jalan melakukan puasa selama setahun penuh guna menghapus ucapannya yang iseng itu. Alangkah berbahagianya orang yang dapat menjaga dan memperhatikan dirinya, dan alangkah celakanya orang yang tidak memperdulikan dirinya, berbuat semaunya, dan tidak mampu mengendalikan diri. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Tepat sekali sya'ir yang berbunyi:

Untuk mempertahankan amal saleh, adalah dengan meme- lihara lisan. Sebab, jika lisan tidak terkendali, ia akan, cen- derung berbuat yang tidak keruan, mengumpat orang misalnya.

Sebagian ulama berpendapat, "Barangsiapa banyak bicara, akan banyak pula lidahnya tergelincir. Dan mengumpat ibarat halilintar yang menghapus taat."

3. Selain itu, perumpamaan orang yang suka mengumpat ibarat orang memasang senjata untuk melemparkan kebaikannya ke barat dan ke timur, serta ke kanan dan ke kiri. Sampai kepadaku kisah dari Syaikh al- Hasan, terdapat seorang datang kepadanya menceritakan bahwa ia diumpat si Fulan. Kemudian, saat itu juga orang tersebut mengantarkan sebaki kurma rutab dan berkata, "Aku mendengar kabar bahwa engkau telah menghadiahkan pahala kebaikanmu kepadaku. Maka, terimalah kirimanku ini sebagai ucapan terimakasih."

Syaikh Ibnu Mubarak mendengar cerita tentang seorang pengumpat. Maka beliau berkata, "Jika aku suka mengumpat, tentu aku mengumpat ibuku, sebab ibuku lebih berhak mendapatkan kebaikanku."

Pada suatu malam, syaikh Hatim al-Asam berhalangan mengerjakan shalat tahajjud. Maka, beliau dicemooh oleh istrinya. Beliau berkata, "Mudah- mudahan saja keteledoranku malam itu terbayar oleh kejadian malam itu juga. Yakni, dengan adanya beberapa orang yang mengerjakan shalat tahajjud pada malam itu hingga larut malam, tetapi pagi harinya mereka mengumpatku. Maka, mudah-mudahan di hari kiamat kelak, pahala tahajjud mereka berpindah ke timbangan amalku."

4. Untuk menghindari bahaya dunia, Imam Sufyan mengatakan, "Jagalah mulutmu, jangan sampai membuat ompong gigimu.

Ulama lain mengatakan, "Jangan mengumbar mulut, agar kau tidak hancur (maksudnya, jika seseorang bicara seenaknya, ada kemungkinan ia dipukul orang hingga ompong dan roboh).

Berikut ini sya'ir hasil gubahan sebagian ulama:

Jagalah mulutmu jangan sampai mengucapkan sesuatu yang dapat mengundang petaka, karena sesungguhnya petaka itu berpangkal dari ucapan.

Dan Sya'ir Ibnu Mubarak ra.:

Ingatlah! Jaga mulutmu, sesungguhnya mulut itu mempercepat kematian, dan lisan merupakan cermin hati seseorang yang bisa menunjukkan kadar rasio seseorang.

Di bawah ini sya'ir Sayyidina Ibnu Abi Muthi':

Lisan seseorang ibarat singa dalam kandang, jika dilepaskan pasti ia menerkam. Jagalah mulut dari ucapan kotor dan kendalikan, niscaya kendali itu menjadi dinding dari segala petaka.

5. Mengingat bahaya akhirat dan akibat-akibatnya, maka akan penyusun sebutkan hal-hal penting, yaitu: bahwa seseorang tidak dapat terlepas dari dua hal dalam berbicara, yakni ucapan yang diharamkan dan mubah. Dan keduanya mengandung cela.

Akibat dari ucapan haram adalah siksa yang pedih dan seseorang tidak akan mampu menanggungnya.

Rasulullah SAW. bersabda:

Ketika aku di-isra'kan, aku lihat manusta di dalam neraka sedang makan bangkai.

"Siapa mereka, hai Jibril," tanyaku.

Jawab Jibril, "Mereka adalah orang-orang yang ketika di dunia

suka makan daging manusia (suka mengumpat). "

Rasulullah SAW. pernah menasihati Sayyidina Mu'adz , "Hentikan mengumpat para ahli al-Qur'an dan penuntut ilmu. Dan janganlah engkau mencabik-cabik manusia dengan mulutmu agar dirimu tidak dicabik-cabik anjing-anjing neraka."

Abu Qalabagh mengatakan, "Sesungguhnya mengumpat itu menjadikan hati bobrok dari petunjuk."

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dari perbuatan seperti itu.

Sedangkan ucapan yang mubah, paling tidak menimbulkan empat hal:

1. Merepotkan Malaikat Kiraman Katibin dengan harus mencatat ucapan seseorang yang tidak bermanfaat. Karena itu, janganlah kita menyusahkan malaikat.

Allah berfirman:

Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir. (Qaf: 19).

2. Dengan demikian berarti kita mengirimkan catatan kepada Allah hal-hal yang tidak bermanfaat. Seharusnya kita takut berbuat demikian.

Diceritakan, bahwa seorang ulama mendatangi seseorang yang sedang berbicara yang tidak bermanfaat, "Wahai saudara! Merugilah engkau dengan ucapan yang tidak bermanfaat itu. Sebab, berarti engkau mendikte surat untuk Tuhanmu. Perhatikanlah jenis-jenis dikteanmu itu."

3. Catatan ucapannya itu, kelak akan ia baca di akhirat, di hadirat Allah, dan di depan para saksi di tengah-tengah penderitaan dan pergolakan. Ketika itu, mereka telanjang, kehausan, kelaparan, mereka terputus dari surga dan jauh dari kenikmatan.

4. Ucapan-ucapannya akan mengundang cerca dan ejekan. la tidak akan lagi berdalih, serta akan mendapat malu dari Rabbul 'Alamin.

Ada yang mengatakan:

Janganlah engkau berbicara melebihi yang diperlukan, sebab hisabnya akan panjang.

Cukup kiranya pokok-pokok ini dijadikan peringatan bagi yang memerlukannya.

Dan telah penyusun terangkan dalam buku Asraru Mu'amalat ad-Din. Dengan memperhatikan isinya, niscaya akan pembaca dapatkan cara-cara untuk

menghindarinya.

Dalam dokumen Buku Wasiat Imam Ghazali (Minhajul Abidin) (Halaman 113-117)

Dokumen terkait