• Tidak ada hasil yang ditemukan

Negara dan Kekuasaan

Dalam dokumen Kriteria Pemimpin (Halaman 73-81)

BAB IV BAB IV KOMPRASI PEMIKIRAN AL-FARABI dan NICOLLO MARCHIAVELLI

B. Biografi Al-Farabi

1. Negara dan Kekuasaan

35

BAB III

TEMUAN DAN PAPARAN DATA A. Kekuasaan pemikiran Nicollo Machiavelli

36

tujuan negara yang ekspansif dapat dicapai pula dalam bentuk pemerintahan negara republik.47 Menurut Machiavelli mengapa negara harus bersifat espansif karena pentingnya kekuasaan. Negara tanpa kekuasaan merupakan sesuatu yang tak masuk akal. negara membutuhkan kekuasaan sebagai alat untuk meraih tujuan negara. Karena kekuasaan itu begitu penting bagi negara, bahkan sesungguhnya tak terpisahkan dari negara serta merupakan hakikat dari negara itu sendiri, maka beberapa pemikir politik berpendapat bahwa negara adalah penjelmaan dari kekuasaan. Oleh sebab itu, ia juga mengungkapkan seyogianya negara itu adalah negara kekuasaan. Dalam negara kekuasaan, kedaulatan berada pada negara itu sendiri. Hannya dengan menjadi negara kekuasaan. Barulah negara itu memiliki kekuasaan pemaksa yang digunakan untuk melindungi, menjaga, dan mempetahankan eksistensi negara itu.48

Negara dasar memiliki legitimasi berdasarkan tiga hal. Tiga hal tersebut adalah, pertama, pilihan bebas masyarakat, kedua,

47Nicolllo Mchiavelli The Discourses diterj. Yudi Santoso dan Sovia Vp (Yogjakarta: Narasi,2015) hlm. 20

48 J.H Rapper Filsafat Politik Machiavelli (Jakarta. Rajawali Press,1991) hlm.57

37

keuntungan tempat tinggal, dan, ketiga, kemudahan mempertahankan diri. Berdasarkan ketiga hal tersebut, penekanan legitimasi pemerintahan negara tersebut lebih mengacu pada pemimpin negara. Pemimpin negara memiliki legitimasi untuk menentukan hukum bagi rakyat.

Pemimpin negara memiliki kekuatan absolut untuk membentuk hukum. Hukum tersebut bertujuan untuk membuat masyarakat menjauhi kejahatan dan sadar akan nilai keadilan. Hukum yang dibuat untuk menjauhi kejahatan tersebut, berdasarkan Machiavelli pada konsep kodrat manusia yang jahat. Berdasarkan konsep negara yang ekspansif, tekanan Machiavelli kepada penguasa untuk memiliki militer yang kuat.

Kekuatan militer tersebut dibentuk dari rakyat negara itu sendiri. Rakyat yang dibentuk menjadi tentara negara akan semakin kuat jika dijiwai oleh semangat patriotisme.

Patriotisme merupakan sikap dan hasrat cinta tanah air, yang menggerakkan masyarakat untuk mengejar kebaikan umum, melawan tirani, dan menangkis korupsi. Machiavelli juga menggunakan semangat patriotisme tersebut kepada para praktisi politik. Secara khusus,

38

Machiavelli menuntut agar tindakan para praktisi politik harus berdasarkan pada kemurahan hati dan komitmen. Komitmen para praktisi politik tidak hanya untuk kepentingan diri, keluarga atau kelompok sosial tertentu saja, namun mencakup seluruh masyarakat di negara republik49.

Maka dapat di simpulkan dalam membentuk negara, tujuan negara itu berorientasi tentang bagimana mempertahankan kekuasaan.

Sehingga dalam memperkuat kekuasaan lebih didasarkan kepada penguasa atau pemimpin bukan rakyat. Unsur militer salah satu yang dianggap perlu diperkuat oleh Machiavelli, tentunya dijelaskan tentara militer harus terbentuk dari rakyat bukan membayar tentara luar. Apabila langsung berasal dari rakyat akan lebih jauh menguntungkan negara hal tersebut dengan memanfaatkan rasa patriotisme rakyat untuk membela negaranya. Instrumen pendukung lainnya seperti agama tentunya hanya digunakan sebagai alat dalam menjaga kestabilan sehingga

49 Adrianus Fatra, Skripsi : Konsep Negara Menurut Nicollo Machiavelli Dalam Tinjauan Filsafat Politik ( Surabaya, Universitas Khatolik Widya Mandala Surabaya, 2015) Hlm.5

39

bukan menjadi sesuatu yang sakral dalam sebuah negara.50

b. Bentuk Negara

Semua negara dan wilayah kekuasaan tempat umat manusia bernaung berbentuk suatu negara republik atau suatu kerajaan. Kerajaan dapat berupa kerajaan karena warisan turuntemurun, dengan wangsa raja yang sudah lama memerintah sebagai penguasa atau dapat pula berupa suatu kerajaan baru. Kerajaan baru itu sendiri dapat berbentuk kerajaan yang baru sama sekali, seperti Kerajaan Milan bagi Francesco Sforza atau dapat berupa negara bagian yang digabungkan pada kerajaan warisan seorang raja yang telah memperoleh kekuasaan atas negara- negara bagian tersebut, seperti umpamanya Kerajaan Napels dalam hubungannya dengan raja Spanyol. Wilayah-wilayah yang diperoleh tersebut dapat merupakan wilayah yang sudah biasa diperintah seorang raja atau dapat pula wilayah yang dahulu merdeka; raja memperoleh wilayah- wilayah tersebut entah dengan senjata orang lain

50 Nicollo Machiavelli, il Principe (Inggris: Oxford, 1981) diterjemahkan oleh C. Woekirsari, Sang Penguasa ( Jakarta: PT Gramedia, 1991) cet. 4 hlm.26

40

atau dengan senjata sendiri atau karena warisan atau karena petualangan yang penuh keberanian.

Menurut Machiavelli jika pada suatu negara yang pemerintahannya berpusat pada dibandingkan dengan negara feodal yang kekuasaanya disebar. Didalam negara birokratis secara langsung atau tidak langsung raja mengangkat semua pejabat politik diangkat dari kalangan keluarga Aristokrat, sedangkan didalam negara feodal yang kekuasaan tersebar, jabatan dan kekuasaan selalu diwariskan.

Dengan demikian negara birokratis ditandai dengan terbukanya peluang mobilitas sosial dan politis, dimana orang-orang yang berasal dari tingkatan bawah dapat mencapai kedudukan tinggi, sedangkan negara feodal terdiri dari banyak lapisan sosial dan jarang sekali orang dapat beranjak dari kedudukan yang satu posisi lain. Di dalam negara birokratis selalu terdapat lebih banyak spesialisasi fungsi-fungsi pemerintahan dibandingkan dengan negara feodal.

Dengan demikian negara birokratis selalu cendrung mengarah pada pemisahan fungsi dan pemisahan kekuasaan, sedangkan negara feodal

41

cendrung menuju pada penggabungan fungsi dan pembagian kekuasaan51

Kekuasaan menurut Machiavelli bersandar pada pengalaman manusia. Kekuasaan memiliki otonomi terpisah dari nilai moral. Karena menurutnya, kekuasaan bukanlah alat untuk mengabdi pada kebajikan, keadilan dan kebebasan dari tuhan, melainkan kekuasaan sebagai alat untuk mengabdi pada kepentingan negara. Dalam pemikiran Machiavelli kekuasaan memiliki tujuan menyelamatkan kehidupan negara dan mempertahankan harus mengetahui wilayah dari tindakannya dan apa yang wajar dilakukan. Untuk melakukan sesuatu, seorang penguasa harus mengetahui medan yang dihadapi. Dengan demikian, ia tidak akan buta. Tentu, memiliki tujuan untuk meraih sukses adalah yang utama.

Ia pun memberi gambaran mengenai relasi antara penguasa dan rakyat haruslah hidup berdampingan dengan rukun. Menurutnya suasana seperti itu hanya bisa terbangun dalam suasana politik yang stabil di mana di satu sisi terdapat penguasa yang kuat dan di sisi lain terdapat rakyat

51 Samuel P.Huntigton, Tertib Politik di Tengah Pergeseran Masa, terjeh. Sahat Simamora dan Suryatim ( Jakarta: Grafindo Pers 2003) hlm 173- 174

42

yang kuat pula. Adapun Machiaveli membenarkan untuk mencapai tujuan kekuasaan dapat dilakuan dengan berbagai cara, termasuk dengan despotik.

Namun pada sisi lainnya menurutnya rakyatpun harus kuat, dengan cara, rakyat harus dipersenjatai diri dengan pengetahuan agar rakyat tidak diperdayai oleh penguasa. Secara umum machiavelli mendukung kekuasaan yang menerapkan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Penguasa berhak melanggar hak-hak rakyatnya bilamana dianggap menghalangi tujuan dan cita-cita penguasa. 52 Machiavelli berpendapat bahwa manusia beradab hampir pasti akan menyeimbangi egositas yang tidak bermoral. Jika seseorang menginginkan untuk mendirikan Negara Republik, Machiavelli mengungkapkan, ia akan merasa lebih mudah untuk meraihnya, dibandingkan dengan seseorang dari kota besar, karena yang kondisinya sudah rusak. Jika seorang egois yang tidak bermoral, dia akan bijak dalam bertindak serta tetap

52 Nicollo Machiavelli, il Principe (Inggris: Oxford, 1981) diterjemahkan oleh C. Woekirsari, Sang Penguasa ( Jakarta: PT Gramedia, 1991) cet. 4 hlm.26

43

menyesuaikan dengan kondisi yang sedang dihadapian kemerdekaan.53

Bagan 1.3 Teori Machiavellli

Dalam dokumen Kriteria Pemimpin (Halaman 73-81)

Dokumen terkait