F. Sistematika Pembahasan
2. Nilai-nilai Islam
Nilai telah diartikan oleh para ahli dengan berbagai pengertian, dimana pengertian satu berbeda dengan pengertian lainnya. Kosttaf memandang bahwa “nilai merupakan kualitas empiris yang tidak
33 Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Agama ( Bandung: CV Pustaka Setia, 2015),75
34Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Agama (Bandung: CV PUSTAKA SETIA,2015),71.
dapatdi definisikan, tetapi hanya dapat dialami dan dipahami secara langsung”.35
Aneka ragam pengertian nilai yang telah dihasilkan oleh sebagian dari para ahli sengaja dihadirkan dalam bahasan ini dalam rangka memperoleh pengertian yang lebih utuh. Gazalba menjelaskan bahwa “nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal bukan benda kongkrit, bukan fakta, bukan hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak di kehendaki, disenangi dan tidak disenangi ”.36
Seperti yang telah di ungkapkan oleh ali dan asrori bahwa nilai adalah suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu. Kepribadian manusia terbentuk dan berakar pada tatanan nilai- nilai dan kesejarahan.
Dengan demikian, nilai merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk mewujudkannya. Nilai merupakan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai suatu yang ingin dicapai.37
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai dapat dikatakan sesuatu yang abstrak, ideal dan merupakan kualitas empiris yang tidak dapat didefinisikan namun dapat dialami dan
35Chabib Toga, Kapita Selekta Pendidikan Islam( Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1996), 6.
36Ibid., 61
37Ali Dan Asrori, Psikologi Remaja ( Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 134.
dipahami secara langsung. Dengan demikian untuk melacak sebuah nilai harus melalui pemaknaan terhadap kenyataan lain berupa tindakan, tingkah laku, pola pikir dan sikap seseorang atau sekelompok orang.
Sedangkan Islam adalah suatu nama bagi agama yang ajaran- ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.
Atau lebih tegas lagi Islam adalah ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul.38 Islam dari segi bahasa yang berasal dari kata aslama, yuslimu, islaman, yang berarti submission (ketundukan), resignation ( pengunduran), dan reconcilition (perdamaian) . kata aslama berasal dari kata salima, berarti peace, yaitu damai, aman, dan sentosa.
Pengertian Islam yang demikian itu, sejalan dengan tujuan ajaran Islam, yaitu untuk mendorong manusia agar patuh dan tunduk kepada Tuhan, sehingga terwujud keselamatan, kedamaian, aman dan sentosa, serta sejalan pula dengan misi ajaran Islam yaitu, menciptakan kedamaian dimuka bumi dengan cara mengajar manusia untuk patuh dan tunduk kepada Tuhan. Islam dengan misi yang demikian itu ialah Islam yang dibawa oleh seluruh nabi, dari sejak nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW. Hal ini dinyatakan dalam Q.S Al- Baqarah (2): 136
38Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), 92
Artinya: “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada- Nya.”39
Islam dalam hal ini selain mengemban misi sebagaimana dibawa para nabi sebagaimana tersebut diatas, juga merupakan agama yang ajaran-ajarannya lebih lengkap dan sempura dibandingkan agama yang dibawa oleh para nabi sebelumnya.40 Islam mempunyai nilai-nilai tersendiri, dimana nilai-nilai ini menjadi dasar dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam. Nilai-nilai agama Islam tidaklah berdiri sendiri. Islam pada dasarnya adalah satu sistem, satu paket, paket nilai yang saling terkait satu sama lain, membentuk apa yang disebut sebagai teori-teori Islam yang baku.41
Sebagian ulama berpendapat bahwa komponen utama bagi agama Islam, sekaligus sebagai nilai tertinggi dari ajaran agama Islam
39 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya , 36
40Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), 33.
41Fuad Amsyari, Islam Kaffah Tantangan Sosial Dan Aplikasinya Di Indonesia( Jakarta: Gema Insan Press,1995), 22.
adalah aqidah, akhlak dan syariat (ibadah). Penggolongan ini didasarkan pada penjelasan Nabi Muhammad SAW kepada Malaikat Jibril mengenai arti Iman, Islam, Ihsan yang esensinya sama dengan aqidah,syariat (ibadah), dan akhlak.
a. Nilai-nilai aqidah
Manusia lahir ke alam dunia dalam keadaan sempurna. Di samping diberi akal dan kesempurnaan jasmani, manusia juga memiliki fitrah ketuhanan. Ruh sang pencipta menjadi aspek penting yang menyebabkan manusia menjadi sempurna dan terhormat.karena itu, sering kita dengar bahwa manusia adalah makhluk yang suci atau fitri.42
Aqidah dalam bahasa arab berasal dari kata “aqada, ya’qidu, aqiidatan” artinya ikatan, sangkutan. Disebut demikian, arena ia mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan seluruh ajaran Islam. Secara teknis adalah iman atau keyakinan, karea itu di tautkan dengan rukun iman yang menjadi asas seluruh ajaran Islam.43
Aqidah secara bahasa berarti ikatan, secara terminologi bearti landasan yang mengikat, yaitu keimanan. Keimanan adalah suatu sikap jiwa yang diperoleh karena pengetahuanyang berproses demikian sehingga membentuk tata nilai (norma) maupun pola perilaku seseorang.44
42 Rois Mahfud, Al Islam, (Jakarta: Erlangga, 2011), 9.
43 Aminudin Dkk, Membangun Karakter Dan Kepribadian Melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 51
44Abu Ahmadi dan Noor Salim, Dasar-Dasar Pendidikan Islam(Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 225
Aqidah islam berawal dari keyakinan kepada zat mutlak yang maha Esa yang disebut Allah. Allah Maha Esa dalam zat, sifat, perbuatan dan wujud-Nya. Kemahaesaan Allah dalam zat, sifat, perbuatan dan wujud-Nya itu di sebut Tauhid. Tauhid menjadi inti rukun iman seluruh keyakinan Islam.45
Aqidah islam berisikan ajaran tentang apa saja yang harus dipercayai, diyakini, dan diimani oleh setiap muslim. Sistem kepercayaan islam atau aqidah di bangun atas dasar keimanan yang lazim disebut rukum iman. Sebelum menguraikan satu persatu tentang rukun iman terlebih dahulu kita akan membahas sedikit tentang iman.
Iman secara umum dipahami sebagai suatu keyakinan yang dibenarkan dalam hati, di ucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan yang didasari dengan niat yang tulus dan ikhlas dan selalu mengikuti petunjuk Allah SWT serta sunah Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menunjukkan kata-kata iman, yaitu terdapat dalam Q.S Al-Baqarah (2):165
45Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam( Jakarta: Rajawali Press, 2010), 199.
Artinya: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang- orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.
dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”46
Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwasanya iman itu identik dengan (asyaddu hubbal lillah) kecintaan yang sangat mendalam. Iman adalah sikap yatu kondisi mental yang menunjukkan kecenderungan atau keimanan luar biasa terhadap Allah SWT. 47
Pokok-pokok aqidah jumlahya ada enam (rukun iman) yaitu: iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Nabi dan Rasul Allah, iman kepada adanya Hari Akhir, dan iman kepada qadha dan qadar Allah. 48 Dan adapun rukun iman tersebut adalah sebagai berikut:
1) Iman kepada Allah
Esensi dari iman kepada Allah adalah pengakuan tentang keesaan (Tauhid)-Nya. Tauhid berarti keyakinan tentang
46 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 41
47 Rois Mahfud, Al Islam, (Jakarta: Erlangga, 2011), 12
48 Aminuddin, dkk, Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 58.
kebenaran keesaan Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sejak ayat pertama diturunkan, Al-Qur’an sudah
“berbicara” tentang tauhid. Tauhid dalam hal ini ada tiga pemahaman yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Mulkiyah, dan tauhid Uluhiyah. Tauhid Rububiyah ialah mengimani Allah sebagi satu- satunya Rabb ( maha mencipta, Mengelola, dan Memelihara ).
Hal ini sesuai dengan penegasan Allah dalam Q.S Al-Fathir 35:11-13
Artinya: Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.12. Dan tiada sama (antara) dua laut;
yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat
mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu Lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.13. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. yang (berbuat) demikian Itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. dan orang- orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.49
Tauhid mulkiyah ialah mengimani Allah sebaga satu- satunya Malik ( Maha Memiliki, penguasaan, pemimpin, dan tujuan segala sesuatu). Hal ini terdapat dalam QS Al-baqarah (2):107.
Artinya: “Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.”50
Tauhid Uluhiyah ialah mengimani Allah sebagai satu- satunya Tuhan yang disembah seperti yang terdapat dalam QS Ar-Ra’d(13): 28
49 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 697
50 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 29
Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” 51
2) Iman kepada malaikat
Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah SWT ynag bersumber daricahaya, ia tidak dapat dilihat dengan panca indra manusia. Namun demikian, ia tetap ada dan melaksanakan tugas- tugas yang diberikan oleh Allah SWT. Malaikat juga makhluk Allah yang tidak pernah mengingkari dan melanggar perintah Allah.52
3) Iman kepada kitab Allah
Selain percaya kepada Allah, orang yang beriamn juga wajib percaya dengan kitab-kitab Allah, sebab iman kepada Allah dan iman kepada rasul-Nya menjadi satu kesatuan yang utuh.
Allah menurunkan kitab-kitabnya untuk dijadikan pedoman oleh manusia dalam menata dan mengatur kehidupannya demi mencapai keridhaan Allah sebagai puncak dari tujuan hidup yang sesungguhnya.
51 Ibid., 373
52 Rois Mahfud, Al-Islam (Palang Karaya: Erlangga, 2011), 17
Allah telah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan pula tab-kitab sebagai pedoman hidup manusia. Sejumlah kitab yang wajib dipercayai dan diimani adalah Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an.
4) Iman kepada para rasul Allah
Rasul yang berati utusan mengandung makna manusia- manusia pilihan yang menerima wahyu dari Allah dan bertugas untuk menyampaikan isi wahyu kepada tiap-tiap umatnya. Rasul- rasul yang diutus oleh Allah SWT memiliki syariat yang berbeda, namun misi diutusnya mereka adalah sama yaitu memperjuangkan tegaknya akidah yang mengesakan Allah.
Nabi dan Rasul terdahulu mempunyai umat asing- masing, mereka hadir untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada tiap-tiap umatnya sehingga mereka memiliki keterbatasan waktu dan tempat. Keadaan ini berbeda dengan rasul yang terakhir, Muhammad SAW. Ia datang untuk menyempurnakan syariat rasul-rasul sebelumnya dan berlaku untuk seluruh umat manusia yang ada dijagad raya ini. Hal ini sesuai dengan Q.S Al-Maidah (5):3.
Artinya: “diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.
dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.53
5) Iman kepada hari kiamat
Hari kiamat disebut juga dengan yaumul akhir (hari akhir), yaumul ba’ats (hari kebangkitan), yaumul hisab (hari perhitungan), yaumul zaja’i (hari pembalasan). Dalam Al-Qur’an
53 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 157
terdapat sejumlah ayat yang merujuk kepada hari kiamat seperti yang terdapat dalam Q.S Al-Qashah (28):88 yang berbunyi:
Artinya: “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”54
Keyakinan dan kepercayaan kepada hari kiamat memberikan suatu pelajaran bagi kita bahwa semua yang bernyawa akan mengalami kematian dan akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di dunia. Hari kiamat menandai babak akhir dari sejarah hidup manusia di dunia. Kedatangan hari kiamat tidak dapat diragukan lagi bahkan proses terjadinyapun sangatlah jelas.
Oleh karena itu sebagai ummat muslim haruslah mengimani dan meyakini adanya hari kiamat yang bertanda semua yang ada dilangit dan di bumi akan binasa.
54 Ibid.,625
6) Iman kepada qadha dan qadhar
Keyakinan pada qadha dan qadar menjadi rukun iman yang keenam. Qadha dan qadar atau takdir adalah ketentuan atau ketetapan Allah menurut ukuran atau norma tertentu.55
Qadha yang berarti kehendak dan perintah sedangkan Qadhar adalah batasan atau menetapkan ukuran. Iman kepada qhada dan qhadar memberikan pemahaman bahwa kita wajib meyakini kemahabesaran dan kemahakuasaan Allah SWT sebagai satu-satunya dzat yang memiliki otoritas atau kedudukan tunggal dalam menurunkan dan menentukan ketentuan apa saja bagi makhluk ciptaan-Nya.
b. Nilai-nilai syariat (ibadah)
Syariat yang merupakan aturan-aturan Allah yang dijadikan referensi oleh manusia dalam menata dan mengatur kehidupannya baik dalam kaitannya dengan hubungan antara manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan sesama manusia, dan hubungannya manusia dengan alam disekitarnya.
Pada ruang lingkup syariat ada dua aspek yaitu aspek ibadah dan aspek muamalah. Akan tetapi dalam penelitian ini peneliti hanya akan membahas dari aspek ibadah saja, karena peneliti hanya meneliti para remaja dari segi aspek ibadah saja.
Ibadah diartikan secara sederhana sebagai persembahan, yaitu
55 Muhammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam, 202-229.
sembahan manusia kepada Allah SWT sebagai wujud penghambaan diri kita kepada Allah SWT.
Karena itu, ibadah bisa berarti menghambakan diri kepada Allah SWT. telah dikemukakan sebelumnya bahwa bagi orang yang percaya atau iman kepada Allah SWT, detak nafas dan gerak langkah serta segala aktifitas yang dilakukannya, diniatkan sebagai wujud dedikasinya kepada Allah SWT.
Ibadah dalam Islam secara garis besar terbagi dalam dua jenis, ibadah mahdhah (ibadah khusus) dan ibadah ghaira mahdhah (ibadah umum). Jenis-jenis ibadah khusus meliputi shalat, puasa, zakat, dan haji.
c. Nilai-nilai akhlak
Secara etimologis, akhlak adalah bentuk jamak dari khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.56 Sedangkan secara terminologis, bahwa akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terbaik dan tercela, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan manusia secara lahir dan batin.57
Akhlak merupakan refleksi dari tindakan nyata atau pelaksanaan aqidah dan syariat. Akhlak berarti budi pekerti atau perangai. Dalam literatur Islam, akhlak diartikan sebagai
56 Yunahar Ilyas, Kuliah Akhlaq (Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam, 2014), 1.
57 Rois Mahfud, Al-Islam, 96
pengetahuan yang menjelaskan arti baik dan buruk, tujuan perbuatan, serta pedoman yang harus diikuti.
Akhlak memiliki wilayah garapan yang berhubungan dengan prilaku manusia dari sisi baik da buruk sebagaimana halnya etika dan moral. Akhlak merupakan seperangkay nilai keagamaan yang harus direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari dan erupakan keharusan, siap pakai, dan bersumber dari wahyu Ilahi.
Dan adapun ruang lingkup akhlak dalam Islam yaitu: akhlak manusia terhadap Allah SWT, akhlak manusia terhadap sesama, akhlak manusia terhadap lingkungan.58
Ibid., 97
BAB III
METODE PENELITIAN