• Tidak ada hasil yang ditemukan

Skripsi Pendidikan Islam dan Nasehat Keagamaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Skripsi Pendidikan Islam dan Nasehat Keagamaan"

Copied!
103
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan (S.Pd) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Jurusan Pendidikan Islam

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh:

Raudhotul Jannah NIM : 084 131 262

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

OKTOBER 2017

(2)
(3)
(4)





































Artinya: “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS.

Luqman:17)1

1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya

(5)

kesah anakmu. Curahan cinta serta kasih sayangnya yang begitu tulus, support moral maupun materil atas semua tahapan pendidikan yang saya lalui, jerih payah dan keringat beliau adalah bukti kepeduliannya terhadap saya, betapa pentingnya pendidikan dan ilmu pengetahuan. Do’anya yang tak

pernah putus yang beliau lantunkan agar putrinya selalu mendapatkan keridhaan dari sang Maha Kuasa. Keluhuran cinta dan kasih sayangnya semoga menjadi amal baik yang mengantarkan beliau pada karunia Allah

SWT.

2. Keluarga besar yang tak pernah letih memberikan dukungan atas semua tahapan pendidikan yang saya lalui, semoga Allah SWT membalas semua

kebaikannya.

3. Serta teman-temanku kelas A6 yang telah banyak memberikan sejuta cinta dan cerita selama ini. Mengukir kisah sedih dan indah bersama-sama.

(6)

Masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kakak-kanak menuju dewasa. Ide-ide agama, dasar-dasar keyakinan dan pokok- pokok ajaran agama, pada dasarnya diterima oleh seseorang pada masa kecilnya.

Pada masa ini tentulah banyak hal yang dirasakan oleh remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam, kebimbangan dalam beragama tentu dirasakan oleh remaja. Hal ini yang mempengaruhi sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam.

Fokus penelitian yang diteliti dalam skripsi ini adalah: (1) Bagaimana sikap remaja turut-turutan dalam mengamalkan nilai–nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017? (2) Bagaimana sikap remaja percaya dengan kesadaran dalam mengamalkan nilai–nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017? (3) Bagaimana sikap remaja kebimbangan beragama dalam mengamalkan nilai–nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017?

Tujuan penelitian: (1) Untuk mendeskripsikan sikap remaja turut-turutan dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017. (2) Untuk mendeskripsikan sikap remaja percaya dengan kesadaran dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017. (3) Untuk mendeskripsikan sikap remaja kebimbangan beragama dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta untuk mengecek data dan validitas data menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik.

Adapun hasil penelitian ini adalah: (1) Sikap remaja turut-turutan dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam hanya sebatas dalam keyakinan atau memeluk agama Islamnya saja. (2) Sikap remaja percaya dengan kesadaran dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam, mereka sudah bisa melaksanakan ibadah dengan baik, mereka tidak perlu untuk diperintah lagi dalam mengamalkan nilai- nilai agama Islam seperti halnya sholat. (3) Sikap remaja kebimbangan beragama dalam mengamalkan nilai-nilai agama tidak ada. Para remaja tidaklah mengalami kebimbangan beragama hal itu karena mereka sudah meyakini ajaran agamanya dengan sepenuh hati.

Kata Kunci: sikap remaja, nilai-nilai Agama Islam

(7)

Puji syukur bagi Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat, dan karunia- Nya sehingga perencanaan, pelaksanaan, dan penyelesaian skripsi ini dapat terselesaikan dengan lancar. Sholawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada

baginda Rasulullah SAW. Semoga kita mendapatkan syafa’atnya di hari kiamat kelak. Amin.

Setelah melalui proses yang panjang, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini untuk memenuhi tugas akhir guna memperoleh gelar Strata satu.

Terselesaikannya skripsi ini tidak terlepas berkat bimbingan dan pengarahan dari berbagai pihak, maka sepantasnya peneliti menyampaikan terima kasih kepada,

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM, Rektor IAIN Jember yang telah meningkatkan mutu penulisan karya ilmiah di IAIN Jember.

2. Dr. H. Abdullah, S.Ag, M.HI, Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Jember yang telah memberikan persetujuan skripsi ini.

3. Khoirul Faizin, M.Ag, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Pengembangan Lembaga yang telah melancarkan proses persetujuan skripsi ini.

4. Dr. H. Mundir Rosyadi, M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Islam yang telah melancarkan proses persetujuan dalam skripsi ini.

5. H. Mursalim, M. Ag, Ketua Program Studi Pendidikan Agama Islam yang telah melancarkan proses persetujuan dalam skripsi ini.

6. Fuadatul Huroniyah, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah mengarahkan dan membimbing proses penyelesaian skripsi ini.

(8)

8. Seluruh Civitas Akademika IAIN Jember, kepada pimpinan, para dosen, karyawan dan seluruh mahasiswa yang telah membantu dalam kelancaran

proses penyelesaian tugas akhir ini.

9. Dan semua pihak yang telah membantu proses penyusunan skripsi.

Tiada kata yang dapat peneliti haturkan selain do’a dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya, semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberi

balasan kebaikan pada semua jasa yang telah diberikan.

Untuk terciptanya karya yang lebih baik, peneliti mengharapkan kritik yang membangun serta saran. Terakhir peneliti berharap semoga skripsi ini dapat

bermanfaat bagi para pembaca.

Jember, 04 Oktober 2017 Peneliti,

Raudlotul Jannah NIM: 084 131 262

(9)

Persetujuan Pembimbing ... ii

Pengesahan Tim Penguji ... iii

Motto ... iv

Persembahan ... v

Abstrak ... vi

Kata Pengantar ... vii

Daftar Isi ... ix

Daftar Tabel ... xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Fokus Penelitian ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Definisi Istilah ... 9

F. Sistematika Pembahasan ... 12

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 14

B. Kajian Teori ... 18

(10)

C. Subyek Penelitian ... 42

D. Teknik Pendumpulan Data ... 43

E. Analisis Data ... 47

F. Keabsahan Data ... 49

G. Tahap-tahap Penelitian ... 49

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS A. Gambaran Obyek Penelitian ... 52

B. Penyajian dan Analisis Data ... 57

C. Pembahasan Temuan ... 70

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 75

B. Saran-saran ... 76

DAFTAR PUSTAKA ... 78 LAMPIRAN

Lampiran 1: Keaslian Tulisan Lampiran 2 : Matrik Penelitian Lampiran 3 : Pedoman Penelitian Lampiran 4 : Pedoman Wawancara Lampiran 5: Data Dokumentasi Lampiran 6: Denah Desa Panti

(11)

Lampiran 10: Biodata Penulis

(12)

1.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian... 17

4.1 Struktur Organisasi Dusun Darungan ... 55

4.2 Data Jumlah Remaja Dusun Darungan ... 56

4.3 Data Sarana Umum Dusun Darungan ... 56

4.4 Hasil Temuan ... 69

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Masa remaja adalah masa peralihan, yang ditempuh oleh seseorang dari kakak-kanak menuju dewasa. Atau dapat dikatakan bahwa masa remaja adalah perpanjangan masa kanak-kanak sebelum mencapai masa dewasa.1 Menurut UU No. 4 Tahun 1997 tentang kesejahteraan anak pasal 1 No 2 menjelaskan, “anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah menikah”2

Jadi yang dimaksud dengan remaja adalah anak yang belum berumur 21 tahun dan belum menikah. Disebut anak karena pada dasarnya masa remaja adalah perpanjangan masa anak-anak yang kelak akan tumbuh menjadi dewasa.

Masa remaja adalah masa yang penuh kegoncangan jiwa, masa dalam peralihan atau diatas jembatan goyang, yang menghubungkan masa kanak-kanak yang penuh kebergantungan dengan masa dewasa yang matang dan berdiri sendiri.

Ide-ide agama, dasar-dasar keyakinan dan pokok-pokok ajaran agama, pada dasarnya diterima oleh seseorang pada masa kecilnya. Ide-ide dan pokok ajaran-ajaran agama yang diterimanya waktu kecil itu akan berkembang dan bertambah subur, apabila anak atau remaja dalam

1Zakiah Derajat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2009), 82

2 UU No 4 Tentang Kesejahteraan Anak, 1997

(14)

menganut kepercayaan itu tidak dapat kritikan-kritikan dalam hal agama itu.

Remaja-remaja yang mendapat didikan agama dengan cara yang tidak memberikan kesempatan untuk berfikir logis dan mengkritik pendapat-pendapat yang tidak masuk akal, disertai pula oleh kehidupan lingkungan dan orang tua yang juga menganut agama yang sama, maka kebimbangan pada masa remaja itu agak kurang.

Remaja-remaja akan merasa gelisah dan kurang aman apabila agama atau keyakinannya berlainan dari agama atau keyakinan orang tuanya. Keyakinan orang tua dan keteguhannya menjalankan ibadah, serta memelihara nilai-nilai agama dalam hidupnya sehari-hari menolong remaja dari kebimbangan beragama.3

Berbicara mengenai kebimbangan beragama pada masa remaja tentulah tidak terlepas dari sikap dan minat remaja dalam mengamalkan ajaran yang ada dalam agamanya. Remaja yang pada umumnya memiliki pergaulan erat dengan teman sebayanya dan mereka sering membentuk kelompok yang beranggotakan teman sebayanya akan mempengaruhi perkembangan keagamaan remaja, karena dalam kelompok teman sebaya terdapat kesamaan-kesamaan seperti kesamaan tujuan, kegemaran, cita- cita dan sebagainya.

Ikatan teman sebaya dalam kelompok biasanya sangat kuat, ikatan yang sangat kuat itulah yang membuat mereka saling tergantung dan

3Ibid., 85-87

(15)

mempengaruhi, termasuk dalam keagamaannya.4 Sikap dan minat remaja terhadap masalah keagamaan sangatlah kecil dan hal ini tergantung dari kebiasaan masa kecil serta lingkungan agama yang mempengaruhi mereka.5

Dewasa ini masyarakat Indonesia mengalami perkembangan yang sangat cepat di era globalisasi. Di mana budaya barat mempengaruhi hampir disegala lapisan dan aspek masyarakat. Hal ini bisa diketahui dari bidang sains-teknologi dengan kemajuan telekomunikasi misalnya, telah memunculkan globalisasi pertelevisian. Hal yang ditayangkan mengandung berbagai macam-macam nilai-nilai tertentu yang tidaklah semua dapat diambil secara positif oleh masyarakat. Melalui inilah terjadi ekspansi nilai-nilai seperti kehidupan yang serba materialistik dan hedonistik, kebebasan hubungan antara laki-laki dan perempuan, kekerasan dan nilai-nilai lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama Islam.6

Di dalam agama Islam, terdapat tiga nilai dasar ajaran yang sangat ditekankan, yaitu aqidah, ibadah, dan akhlak. Nilai aqidah (keyakinan) yaitu berhubungan dengan Allah SWT, nilai ibadah yaitu suatu wujud perbuatan yang dilandasi rasa pengabdian kepada Allah SWT, nilai akhlak yaitu berhubungan dengan aktifitas manusia dalam hubungan dengan dirinya dan orang lain serta lngkungan disekitarnya. Pendidikan Islam, nilai-nilai dan norma-norma kehidupan yang tumbuh dalam masyarakat

4Said Alwi, Perkembangan Religiusitas Remaja (Yogyakrta: Kaukaba Dipantara, 2014), 111

5Jalaludin, Psikologi Agama (Jakarta: PT Rajagrafindo Persada, 2010), 76

6 Marwah Daud Ibrahim,, Teknologi Emansipasi Dan Transendensi ( Bandung: Mizan,1994), 78.

(16)

berguna untuk mencari keseimbangan dalam tatanan kehidupan. Hal ini di isyaratkan oleh firman Allah SWT dalam surat An-nisa ayat 36:



































































Artinya: ”Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu- bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, Ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga- banggakan diri.7

Berdasarkan ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa nilai-nilai Islam, antara lain perintah menyembah Allah SWT, serta tidak menyekutukan-Nya, berbuat baik kepada orang tua yaitu ayah dan ibu, kerabat, tetangga, dan teman serta larangan untuk bersikap sombong dan tidak membanggakan diri. 8

Dengan banyak teknologi dan hal baru yang dibawa di dalam era globalisasi ini membawa para remaja kita kehilangan identitasnya sebagai remaja Indonesia. Sikap-sikap yang sering kita lihat di media massa atapun kejadian langsung seperti kerusuhan yang dilakukan oleh siswa-siswa SMK ataupun kasus narkoba yang ditayangkan di televisi tidak menuntut

7 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 124

8Bukhari Umar, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: AMZAH, 2011), 81

(17)

kemungkinan bahwa hal tersebut akan ditiru oleh remaja kita yang rasa penasarannya sangat besar.

Hal itu pula yang mempengaruhi sikap remaja dalam menjalankan nilai-nilai agama Islam. Bagaimana hal itu tidak mempengaruhi sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam, seperti yang terjadi di dusun Darungan ini yang kebanyakan para remajanya sudah dapat menggunakan alat-alat teknologi seperti handphone dan komputer, yang rata-rata mereka sudah memiliki secara individual.

Di Dusun Darungan memiliki sarana umum seperti masjid yang ada di dusun dan musholla yang dimiliki di setiap Rukun Tetangga (RT) yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan rohani masyarakat khususnya para remaja, serta kegiatan-kegiatan keagamaan seperti khotmil Qur’an, istighosah, tiba’an, pengajian, tahlil malam jumat, sholat berjamaah, dimana kegiatan ini selain sebagai bentuk wujud ibadah kita kepada Tuhan Yang Maha Esa tentunya sebagai sarana dalam memupuk nilai-nilai Agama yang ada pada orang tua juga memberikan contoh dan pembelajaran kepada para remaja yang nantinya akan menjadi generasi penerus di dusun Darungan tersebut.

Keaktifan remaja dalam menjalankan ibadah seperti solat berjamaah dimasjid, tahlilan, khatmil Qur’an menjadi ciri khan tersendiri bagi remaja dusun Darungan khususnya dan masyarakat Darungan umumya. Selain itu keikut sertaan para remaja ketika ada orang meninggal, mereka tanggap dan sigap dalam membantu orang yang

(18)

terkena musibah itu, seperti membantu menyiapkan alat-alat untuk memandikan mayat, mengkafani mayat, mensolati mayat sampai pada menguburkan mayat.

Dari uraian diatas yang menjadi tolak ukur peneliti untuk meneliti lebih lanjut tentang “Sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember”

B. Fokus Penelitian

Bagian ini mencantumkan semua fokus permasalahan yang akan dicari jawabannya melalui proses penelitian. Fokus penelitian harus disusun secara singkat, jelas, tegas, spesifik, operasional yang dituangkan dalam kalimat Tanya.9

Penelitian ini difokuskan pada sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember”. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana sikap remaja percaya ikut-ikutan dalam mengamalkan nilai–

nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017 ?

2. Bagaimana sikap remaja percaya dengan kesadaran dalam mengamalkan nilai–nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017 ?

9 Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember : IAIN Jember Press, 2015), 44.

(19)

3. Bagaimana sikap remaja yang mengalami kebimbangan beragama dalam mengamalkan nilai–nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017 ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang akan dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitiannya harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya. Adapun tujuan penelitian ini ialah :

1. Untuk mendeskripsikan sikap remaja percaya ikut-ikutan dalam mengamalkan nilai–nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017

2. Untuk mendeskripsikan sikap remaja percaya dengan kesadaran dalam mengamalkan nilai–nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017

3. Untuk mendeskripsikan sikap remaja yang mengalami kebimbangan beragama dalam mengamalkan nilai–nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kabupaten Jember Tahun 2017 D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian.Kegunaan dapat berupa kegunaan yang bersifat teoritis dan praktis, seperti kegunaan bagi penulis,

(20)

instansi, dan masyarakat secara keseluruhan, kegunaan peneliti harus realistis.10

1. Manfaat Teoritis

Dengan penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan perkembangan yang luas tentang sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam di Dusun Darungan Desa Panti Kecamatan Panti Kab Jember.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Peneliti

Dengan mengkaji tentang sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam, dapat menambah wawasan peneliti dalam mempersiapkan diri sebagai tenaga kependidikan sesuai dengan jurusan dan program studi Pendidikan Agama Islam.

b. Bagi Mahasiswa IAIN Jember

Penelitian ini diharapkan mampu memberikan padangan kepada mahasiswa IAIN Jember khususnya Jurusan Pendidikan Agama Islam mengenai sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam sehingga mahasiswa dapat mengetahui juga menerapkannya didalam kehidupannya.

10 Ibid., 45

(21)

c. Bagi IAIN Jember

Penelitian ini diharapkan sebagai tambahan literature atau referensi bagi lembaga IAIN Jember dan sebagai inovasi ilmiah tentang sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam.

d. Bagi masyarakat Dusun Darungan

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dusun darungan terutama bagi para remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam.

E. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang istilah-istilah penting yang menjadi titik perhatian peneliti didalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi ksalahpahaman terhadap makna istilah sebagaimana yang dimaksud oleh peneliti.11 Adapun istilah yang terdapat dalam penelitian ini adalah:

1. Sikap Remaja

Menurut kamus besar bahasa Indonesia, sikap dapat diartikan sebagai perbuatan yang berdasarkan pendirian atau keyakinan.Dan remaja dapat diartikan mulai dewasa atau sudah sampai umur untuk kawin.12

Sikap yang dimaksud oleh peneliti adalah sebuah ekspresi atau ungkapan yang berupa kata-kata atau tindakan yang merupakan suatu respon dari sikapnya terhadap objek, baik berupa orang, peristiwa ataupun situasi yang ada dilingkungannya.

11Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember: IAIN Jember, 2015), 73.

12Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga ( Jakarta: Balai Pustaka,2007)

(22)

Remaja adalah masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, bukan hanya dalam artian psikologi tetapi juga fisik. Bahkan perubahan-perubahan fisik yang terjadi itulah yang merupakan gejala primer dalam perubahan remaja, sedangkan perubahan-perubahan psikologi muncul antara lain sebagai akibat dari perubahan-perubahan fisik itu.13

Adapula pendapat bahwa masa remaja adalah masa yang paling menentukan kelanjutan hidup dimasa tuanya. Remaja juga dikatakan sebagai generasi penerus perjuangan bangsa, baik buruk masa depan bangsa tergantung pada baik buruk moral dan akhlak remaja. 14

Dan yang dimaksud remaja dalam penelitian ini adalah anak yang berusia 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria.

Jadi sikap remaja dalam penelitian ini adalah ekspresi atau ungkapan yang berupa kata-kata ataupun tindakan yang merupakan suatu respon dari sikapnya terhadap objek, baik berupa orang, peristiwa ataupun situasi yang di tunjukkan oleh anak yang berusia 12- 22 tahun.

2. Mengamalkan nilai-nilai Agama Islam

Mengamalkan dilihat dari segi bahasa berasal dari kata

“Amal” yang berarti perbuatan baik maupun yang buruk, atau sesuatu

13Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja ( Jakarta: Rajawali Press, 2000), 51.

14Ibid.,9.

(23)

yang dilakukan dengan tujuan kebaikan tingkah laku, kata amal mendapatkan awalan “meng” dan akhiran “kan” menjadi mengamalkan yang berarti hal, cara, atau proses kerja. 15

Nilai-nilai Islam terdiri dari kata nilai yang artinya sifat atau kualitas yang melekat pada suatu objek, bukan objek itu sendiri.16 Nilai-nilai adalah patokan-patokan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat. Dalam pancasila nilai-nilai hidup yang menjadi pegangan seluruh warga negara Indonesia. Jadi, nilai adalah ukuran baik-buruk, benar-salah, boleh-tidak boleh, suatu perilaku atau pernyataan yang berlaku dalam kehidupan suatu kelompok masyarakat.17

Kata Islam yang merupakan turunan dari kata assalmu, assalamu, assalamatu yang berarti bersih dan selamat dari kecatatan lahir dan batin. Islam berarti suci, bersih tanpa cacat. Islam berarti

“menyerahkan sesuatu”.Makna laindari kata Islam adalah “damai” atau

“perdamaian” dan “keamanan”.18 Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW berpedoman pada kitab suci Al-Qur’an yang diturunkan ke dunia melalui wahyu Allah SWT.19

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan mengamalkan nilai-nilai Agama Islam adalah cara manusia dalam melaksanakan prinsip-prinsip hidup, ajaran-ajaran tentang bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupannya didunia ini, yang satu prinsip

15 Js. Badudu, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan,1994), 40

16Kaelan, Pendidikan Pancasila (Yogyakarta: Paradigma, 2010), 87.

17Zuldafrial, Perkembangan Nilai, Moral, Dan Sikap Remaja (6 Juni 2017).

18Rois Mahfud, Al-Islam (Palang Karaya: Erlangga, 2011), 3.

19Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (Jakarta: Balai Pustaka,2007)

(24)

dengan prinsip lainnya saling berkaitan membentuk satu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisahkan yang sesuai dengan ajaran Islam

Dari uraian di atas, maka yang dimaksud dengan “ sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam ” menurut peneliti adalah suatu bentuk ungkapan atau perbuatan yang dilakukan oleh para remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam seperti sikapnya terhadap nilai-nilai aqidah, syariat (ibadah) dan akhlak.

F. Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan berisi tentang deskripsi alur pembahasan skripsi yang dimulai dari bab pendahuluan hingga bab penutup. 20

Bab satu berisi pendahuluan berisi latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah, dan sistematika pembahasan.

Bab dua tentang kajian kepustakaan berisi tentang penelitian terdahulu dan kajian teori

Bab tiga menjelaskan metode penelitian berisi tentang pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, subjek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data, keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.

Bab empat tentang penyajian data dan analisis berisi tentang gambaran objek penelitian, penyajian dan analisi data, pembahasan temuan.

20Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember : IAIN Jember Press, 2015), 48

(25)

Bab lima adalah bab terakhir atau penutup yang berisi kesimpulan dan saran selanjutnya skripsi ini diakhiri daftar pustaka dan lampiran- lampiran sebagai pendukung didalam pemenuhan kelengkapan data skripsi.

(26)

BAB II

KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu

Pada bagian ini peneliti mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian yang hendak dilakukan, kemudia membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah terpublikasikan atau belum terpublikasikan (skripsi, tensis, disertasi dan sebagainnya).21

Berdasarkan tinjauan terhadap hasil penelitian terdahulu, ada beberapa hasil penelitian yang penulis anggap memiliki kecocokan atau hubungan dengan penelitian yang penulis lakukan.

1. Fannanah Al firdausi mahasiswa UIN Malang tahun 2015 dengan judul “Pengamalan nila-nilai agama Islam pada remaja masjid sabilillah Malang”

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian kualitatif deskriptif. Penentuan subjek penelitian menggunakan purposive sampling, metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dan dokumentasi.Persamaan dari penelitian yang telah dilakukan oleh Fannanah Al Firdausi adalah sama-sama membahas nilai-nilai agama Islam dan sama-sama menggunakan jenis dan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif.

Dan adapun perbedaan dari penelitian yang sudah dilakukan dan yang akan dilakukan oleh peneliti adalah dari segi lokasi

21Tim Penyusun, Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (Jember : IAIN Jember Press, 2015),45.

(27)

penelitian, subjek penelitian maupun fokus penelitian. Jika pada penelitian yang sudah dilakukan adalah membahas tentang pengamalan nilai-nilai agama Islam pada remaja masjid namun pada penelitian yang akan dilakukan ini membahas tentang sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam.

2. Habibi mahmud mahasiswa STAIN Jember jurusan Tarbiyah Prodi pendidikan agama Islam tahun 2001 dengan judul “peranan majlis taklim riyadhus sholihin dalam pembentukan sikap keagamaan remaja di kelurahan Gebang-Jember”.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sedangkan metode pengumpulan datanya menggunakan observasi, interview, dan dokumentasi. Dan data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan analisis teknik refletive thinking, penyajian data dan verifikasi serta validitas data dengan menggunakan triangulasi sumber.

Adapun perbedaan yang terdapat dalam penelitian yang sudah dilakukan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian terdahulu lebih terfokus dalam membahas mengenai peranan masjid dalam pembentukan sikap keagamaan remaja, sedangkan penelitian yang akan dilakukan terfokus pada sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai Islam.

(28)

Dan persamaannya sama-sama membahas tentang sikap remaja. Dan sama-sama menggunakan jenis penelitian kualtatif deskriptif.

3. Mursidi mahasiswa IAIN jember jurusan pendidikan Islam program studi pendidikan agama Islam tahun 2017 dengan judul “peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan agama islam pada anak di Desa Dawuhan Kecamatan Grujugan Kabupaten Bondowoso”.

Penelitian ini merupakan penelitian jenis kualitatif dengan penentuan sampel menggunakan purposive sampling dan snawball sampling. Adapun metode pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Perbedaan yang terdapat dalam penelitian yang sudah dilakukan dengan penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian terdahulu lebih terfokus dalam peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai pendidikan islam , sedangkan penelitian yang akan dilakukan terfokus pada sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai Islam.

Dan persamaannya sama-sama membahas tentang nilai-nilai Islam . Dan sama-sama menggunakan jenis penelitian kualtatif deskriptif.

(29)

Untuk lebih jelasnya bisa dilihat dalam tabel berikut ini Tabel 2.1

Kajian Terdahulu

Nama judul Persamaan Perbedaan

Fannanah Al Firdausi (2015) UIN Malang Tahun

Pengamalan nilai- nilai agama Islam pada remaja masjid sabilillah Malang

sama-sama membahas nilai- nilai agama Islam dan sama-sama menggunakan jenis dan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif.

Dari segi lokasi penelitian, subjek penelitian maupun fokus penelitian. Jika pada penelitian yang sudah dilakukan adalah membahas tentang pengamalan nilai- nilai agama Islam pada remaja masjid namun pada penelitian yang akan dilakukan ini membahas tentang sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai agama Islam.

Habibi mahmud (2001) STAIN Jember

Peranan majlis taklim riyadhus sholihin dalam pembentukan sikap keagamaan remaja di kelurahan gebang-jember

Sama-sama membahas tentang sikap remaja.Dan sama- sama

menggunakan jenis penelitian kualtatif deskriptif.

Penelitian terdahulu lebih terfokus dalam peran keluarga dalam

menanamkan nilai-nilai pendidikan islam ,

sedangkan penelitian yang akan dilakukan terfokus pada sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai Islam.

Mursidi mahasiswa (2017) IAIN jember

Peran keluarga dalam menanamkan nilai-nilai

pendidikan agama islam pada anak di desa dawuhan kecamatan grujugan kabupaten

bondowoso

Sama-sama membahas

tentang nilai-nilai Islam .Dan sama- sama

menggunakan jenis penelitian kualtatif deskriptif.

Penelitian terdahulu lebih terfokus dalam peran keluarga dalam

menanamkan nilai-nilai pendidikan islam ,

sedangkan penelitian yang akan dilakukan terfokus pada sikap remaja dalam mengamalkan nilai-nilai Islam.

(30)

B. Kajian teori 1. Sikap remaja

a. Pengertian sikap remaja

Sikap ( attitude ) adalah istilah yang mencerminkan rasa senang, tidak senang atau perasaan biasa-biasa saja (netral) dari seseorang terhadap sesuatu. “Sesuatu” itu bisa benda, kejadian, situasi, orang-orang atau kelompok. Kalau yang timbul terhadap sesuatu itu adalah perasaan senang, maka disebut sikap positif, sedangkan kalau perasaan tak senang, sikap negatif. Kalau tidak timbul perasaan apa-apa, berarti sikapnya netral.22

Munurut Saifuddin bahwa sikap sebagai sautu pola prilaku, tendensi atau kesiapan antisipatif, predis posisi untuk menyesuaikan diri dalam situasi sosial, atau secara sederhana, sikap adalah respons terhadap stimuli sosial yang telah terkondisikan.23 Sikap menurut Gerungan, secara umum diartikan sebagai kesediaan bereaksi individu terhadap sesuatu. Sikap ini berkaitan dengan motif dan mendasari tingkah laku seseorang. Sikap belum merupakan suatu tindakan, tetapi baru merupakan kecenderungan. Jadi sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek sebagai hasil penghayatan terhadap objek tertentu.24

Sikap merupakan variabel laten yang mendasari, mengarahkan, dan memengaruhi perilaku. Sikap tidak identik

22 Sarlito W, Pengantar Psikologi Umum (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2012), 201

23Saifudin Zuhri, Sikap Manusia (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2015), 5

24Zuldafrial, “Perkembangan Nilai, Moral, Dan Sikap Remaja”, (6 Juni 2017).

(31)

dengan respon dalam bentuk perilaku, tidak dapat diamati secara langsung tetapi dapat disimpulkan dari konsistensi perilaku yang dapat diamati. Secara operasional, sikap dapat diekspresikan dalam bentuk kata-kata atau tindakan yang merupakan respon reaksi dari sikapnya terhadap objek, baik berupa orang, peristiwa ataupun situasi.25

Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah remaja awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir.

Remaja yang bahasa aslinya adalah adolescence, berasal dari bahasa Latin adolescere yang artinya “ tumbuh atau tumbuh untuk mencapai kematangan”. Perkembangan lebih lanjut, istilah adolescence sesungguhnya memiliki arti yang luas, mencakup kematangan mental, emosional, sosial, dan fisik.

Remaja juga sedang mengalami perkembangan pesat dalam aspek intelektual. Transformasi intelektual dari cara berpikir remaja ini memungkinkan mereka tidak hanya mampu mengintegrasikan dirinya kedalam masyarakat dewasa, tapi juga merupakan

25Ali Dan Asrori, Psikologi Remaja ( Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 141

(32)

karakteristik yang paling menonjol dari semua periode perkembangan.

Remaja masih belum mampu menguasai dan mengfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya.

Namun, yang perlu ditekankan disini adalah bahwa fase remaja merupakan fase perkembangan yang tengah berada pada masa amat potensial, baik dilihat dari aspek kognitif, emosi, maupun fisik.26

Remaja adalah masyarakat yang akan datang. Dan dapat diperkirakan bahwa gambaran kaum remaja sekarang adalah pencerminan masyarakat yang akan datang, baik buruknya bentuk dan susunan masyarakat, bangunan moral dan intelektual, dalam penghayatan dalam agama, kesadaran kebangsaan, dan derajat kemajuan perilaku dan kepribadian antara sesama masyarakat yang akan datang tergantung kepada remaja sekarang.

Masa remaja merupakan masa yang mengarah kepada pertumbuhan dan perubahan yang cepat dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Selanjutnya masa remaja dapat dbagi menjadi tiga yaitu remaja awal, remaja pertengahan, dan remaja akhir.27 b. Bentuk-bentuk sikap remaja

Menurut Zakiah Derajat membagi sikap remaja terhadap masalah keagamaan sebagai berikut:

26Ali Dan Asrori, Psikologi Remaja ( Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 9-10

27Said Alwi, Perkembangan Religiusitas Remaja Yogyakrta: Kaukaba Dipantara, 2014), 45.

(33)

1) Percaya turut-turutan (ikut-ikutan)

Percaya turut-turutan, artinya ikut percaya dan melaksanakan ibadah dan ajaran-ajaran agama, sekedar mengikuti suasana lingkungan di mana ia hidup. Seolah-olah apatis, tidak ada perhatian untuk meningkatkan agama dan tak mau aktif dalam kegiatan-kegiatan keagamaan.28

Sesungguhnya kebanyakan remaja yang percaya kepada Tuhan dan menjalankan ajaran agama, adalah mereka yang terdidik dalam lngkungan yang beragama, ibu-bapaknya beragama, teman-teman dan masyarakat kelilingnya rajin beribadah. Oleh karena itu merekapun ikut percaya dan melaksanakan ibadah dan ajaran-ajaran agama, sekedar mengikuti suasana lingkungan di mana ia hidup.

Kenyataan ini dapat dilihat di mana-mana, sehingga banyak sekali remaja yang beragama hanya karena orang tuanya yang beragama. Kepercayaan turut-turutan ini biasanya terjadi apabila orangtuanya memberikan didikan agama dengan cara yang menyenangkan, jauh dari pengalaman-pengalaman pahit diwaktu kecil, dan di masa remaja juga tdak mengalami peristiwa- peristiwa atau hal-hal yang menggoncangkan jiwanya, sehingga cara kekanak-kanakan dalam beragama itupun berjalan dan berkelanjutan, dan tak perlu ditinjau ulang.

28 Zakiah Derajat, Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Bulan Bintang,2009)

(34)

Percaya turut-turutan ini biasanya tak lama dan pada umumnya hanya pada masa remaja pertama ( umur 13-16 tahun).

Setelah itu, biasanya akan terjadi pekembangan ke arah jiwa yang lebih kritis dan lebih sadar.29

2) Percaya dengan kesadaran

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa masa remaja adalah masa perubahan dan kegoncangan di segala bidang, yang dimulai dengan perubahan jasmani yang sangat pesat, jauh dari keseimbangan dan keserasian. Tentu saja hal itu menyebabkan remaja tertarik untuk memerhatikan dirinya, yakni sebuah perhatian disertai kecemasan dan ketakutan, terlebih lagi ketika timbul perasaan ingin menentang orang tua dan terasa dorongan- dorongan sesual yang tidak pernah dirasakan sebelumnya.

Perhatian pada ilmu pengetahuan, agama, dan soal-soal sosial tumbuh bertambah besar. Terkadang, pertumbuhan jiwanya terjadi secara abnormal atau menyimpang, sehingga mereka bergabung dalam geng-geng nakal dan terkadang pula tumbuh dalam bentuk kesadaran agama yang berlebihan.

Kesadaran atau semangat keagamaan pada masa remaja dimulai dengan kecenderungannya untuk meninjau dan meneliti ulang cara ia beragama di masa kecil dulu. Kepercayaan tanpa pengertian yang diterimanya semasa kecil tak memuaskan lagi.

29 Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Agama (Bandung: CV Pustaka Setia,2015), 71-72

(35)

Kepatuhan dan ketundukannya kepada ajaran tanpa komentar atau alasan tak lagi menggembirakannya. 30

3) Kebimbangan beragama

Sesungguhnya kebimbangan terhadap ajaran agama yang pernah diterima tanpa kritik semasa kecil merupakan pertanda pula bahwa kesadaran beragama telah terasa oleh remaja.

Kebimbangan remaja terhadap agama itu tidak sama, antara satu dengan lainnya, sesuai dengan kepribadiannya masing-masing.

Ada yang mengalami kebimbangan ringan yang dengan cepat dapat diatasi dan ada yang sangat berat sampai membawanya untuk berubah agama. 31

Dapat kita katakan bahwa pada masa remaja terakhir, keyakinan beragama lebih dikuasai pikirannya. Hal ini berbeda dengan masa permulaan remaja, ketika perasaan lebih menguasai keyakinan agamanya. Karena pikiran yang menguasai, pada masa remaja terakhirnya, tentu saja banyak ajaran agama yang kembali diteliti atau dikritik, terutama apabila pendidikan agama yang diterimanya semaa kecil lebih bersifat otoriter, paksaan orang tua, atau karena takut akan kehilangan kasih sayang orang tua.32

4) Tak percaya kepada Tuhan

Salah satu perkembangan yang mungkin terjadi pada akhir masa remaja adalah mengingkari wujud Tuhan sama sekali

30 Bambang Syamsul, Psikologi Agama ( Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), 72-73

31 Zakiah Derajat. Ilmu Jiwa Agama (Jakarta: PT Bulan Bintang, 2009),

32 Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Agama ( Bandung: CV Pustaka Setia, 2015), 74

(36)

dan menggantinya dengan keyakinan lain. Atau mungkin pula tidak mempercayainya sama sekali. Ketidak kepercayaan sama sekali kepada Tuhan tidak terjadi sebelum umur 20 tahun.

Mungkin saja, terjadi pengakuan dari seorang remaja bahwa dia ateis, tetapi ketika dianalisis, di balik keingkaran itu, tersembunyi kepercayaan kepada Tuhan.

Dalam hal seperti inilah, kebanyakan remaja di bawah umur 20 tahun mengaku dan menyangka bahwa ia tidak percaya dengan Tuhan, tetapi sesungguhnya pengakuan tersebut hanyalah protes atau ketidakpuasan terhadap Tuhan.33 Perkembangan remaja ke arah tidak mempercayai adanya Tuhan itu, sebenarnya mempunyai akar atau sumber dari kecilnya.

Apabila seseorang anak merasa tertekan oleh kekuasaan atau kezaliman orang tua kepadanya, maka ia telah memendam sesuatu tantangan terhadap kekuasaan orang tua, dan selanjtnya kekuasaan terhadap siapapun. Setelah usia remaja dicapainya, maka tantangan itu akan berani menampakkan diri dalam bentuk menentang Tuhan, bahkan menentang wujud-Nya.34

2. Nilai-nilai Islam

Nilai telah diartikan oleh para ahli dengan berbagai pengertian, dimana pengertian satu berbeda dengan pengertian lainnya. Kosttaf memandang bahwa “nilai merupakan kualitas empiris yang tidak

33 Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Agama ( Bandung: CV Pustaka Setia, 2015),75

34Bambang Syamsul Arifin, Psikologi Agama (Bandung: CV PUSTAKA SETIA,2015),71.

(37)

dapatdi definisikan, tetapi hanya dapat dialami dan dipahami secara langsung”.35

Aneka ragam pengertian nilai yang telah dihasilkan oleh sebagian dari para ahli sengaja dihadirkan dalam bahasan ini dalam rangka memperoleh pengertian yang lebih utuh. Gazalba menjelaskan bahwa “nilai adalah sesuatu yang bersifat abstrak, ia ideal bukan benda kongkrit, bukan fakta, bukan hanya persoalan benar dan salah yang menuntut pembuktian empirik, melainkan soal penghayatan yang dikehendaki dan tidak di kehendaki, disenangi dan tidak disenangi ”.36

Seperti yang telah di ungkapkan oleh ali dan asrori bahwa nilai adalah suatu tatanan yang dijadikan panduan oleh individu untuk menimbang dan memilih alternatif keputusan dalam situasi sosial tertentu. Kepribadian manusia terbentuk dan berakar pada tatanan nilai- nilai dan kesejarahan.

Dengan demikian, nilai merupakan sesuatu yang diyakini kebenarannya dan mendorong orang untuk mewujudkannya. Nilai merupakan sesuatu yang memungkinkan individu atau kelompok sosial membuat keputusan mengenai apa yang dibutuhkan atau sebagai suatu yang ingin dicapai.37

Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa nilai dapat dikatakan sesuatu yang abstrak, ideal dan merupakan kualitas empiris yang tidak dapat didefinisikan namun dapat dialami dan

35Chabib Toga, Kapita Selekta Pendidikan Islam( Yogyakarta: Pustaka Belajar, 1996), 6.

36Ibid., 61

37Ali Dan Asrori, Psikologi Remaja ( Jakarta: Bumi Aksara, 2011), 134.

(38)

dipahami secara langsung. Dengan demikian untuk melacak sebuah nilai harus melalui pemaknaan terhadap kenyataan lain berupa tindakan, tingkah laku, pola pikir dan sikap seseorang atau sekelompok orang.

Sedangkan Islam adalah suatu nama bagi agama yang ajaran- ajarannya diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui seorang Rasul.

Atau lebih tegas lagi Islam adalah ajaran-ajaran yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul.38 Islam dari segi bahasa yang berasal dari kata aslama, yuslimu, islaman, yang berarti submission (ketundukan), resignation ( pengunduran), dan reconcilition (perdamaian) . kata aslama berasal dari kata salima, berarti peace, yaitu damai, aman, dan sentosa.

Pengertian Islam yang demikian itu, sejalan dengan tujuan ajaran Islam, yaitu untuk mendorong manusia agar patuh dan tunduk kepada Tuhan, sehingga terwujud keselamatan, kedamaian, aman dan sentosa, serta sejalan pula dengan misi ajaran Islam yaitu, menciptakan kedamaian dimuka bumi dengan cara mengajar manusia untuk patuh dan tunduk kepada Tuhan. Islam dengan misi yang demikian itu ialah Islam yang dibawa oleh seluruh nabi, dari sejak nabi Adam as sampai dengan Nabi Muhammad SAW. Hal ini dinyatakan dalam Q.S Al- Baqarah (2): 136

38Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006), 92

(39)

































































Artinya: “Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada- Nya.”39

Islam dalam hal ini selain mengemban misi sebagaimana dibawa para nabi sebagaimana tersebut diatas, juga merupakan agama yang ajaran-ajarannya lebih lengkap dan sempura dibandingkan agama yang dibawa oleh para nabi sebelumnya.40 Islam mempunyai nilai-nilai tersendiri, dimana nilai-nilai ini menjadi dasar dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama Islam. Nilai-nilai agama Islam tidaklah berdiri sendiri. Islam pada dasarnya adalah satu sistem, satu paket, paket nilai yang saling terkait satu sama lain, membentuk apa yang disebut sebagai teori-teori Islam yang baku.41

Sebagian ulama berpendapat bahwa komponen utama bagi agama Islam, sekaligus sebagai nilai tertinggi dari ajaran agama Islam

39 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya , 36

40Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2012), 33.

41Fuad Amsyari, Islam Kaffah Tantangan Sosial Dan Aplikasinya Di Indonesia( Jakarta: Gema Insan Press,1995), 22.

(40)

adalah aqidah, akhlak dan syariat (ibadah). Penggolongan ini didasarkan pada penjelasan Nabi Muhammad SAW kepada Malaikat Jibril mengenai arti Iman, Islam, Ihsan yang esensinya sama dengan aqidah,syariat (ibadah), dan akhlak.

a. Nilai-nilai aqidah

Manusia lahir ke alam dunia dalam keadaan sempurna. Di samping diberi akal dan kesempurnaan jasmani, manusia juga memiliki fitrah ketuhanan. Ruh sang pencipta menjadi aspek penting yang menyebabkan manusia menjadi sempurna dan terhormat.karena itu, sering kita dengar bahwa manusia adalah makhluk yang suci atau fitri.42

Aqidah dalam bahasa arab berasal dari kata “aqada, ya’qidu, aqiidatan” artinya ikatan, sangkutan. Disebut demikian, arena ia mengikat dan menjadi sangkutan atau gantungan seluruh ajaran Islam. Secara teknis adalah iman atau keyakinan, karea itu di tautkan dengan rukun iman yang menjadi asas seluruh ajaran Islam.43

Aqidah secara bahasa berarti ikatan, secara terminologi bearti landasan yang mengikat, yaitu keimanan. Keimanan adalah suatu sikap jiwa yang diperoleh karena pengetahuanyang berproses demikian sehingga membentuk tata nilai (norma) maupun pola perilaku seseorang.44

42 Rois Mahfud, Al Islam, (Jakarta: Erlangga, 2011), 9.

43 Aminudin Dkk, Membangun Karakter Dan Kepribadian Melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 51

44Abu Ahmadi dan Noor Salim, Dasar-Dasar Pendidikan Islam(Jakarta: Bumi Aksara, 2008), 225

(41)

Aqidah islam berawal dari keyakinan kepada zat mutlak yang maha Esa yang disebut Allah. Allah Maha Esa dalam zat, sifat, perbuatan dan wujud-Nya. Kemahaesaan Allah dalam zat, sifat, perbuatan dan wujud-Nya itu di sebut Tauhid. Tauhid menjadi inti rukun iman seluruh keyakinan Islam.45

Aqidah islam berisikan ajaran tentang apa saja yang harus dipercayai, diyakini, dan diimani oleh setiap muslim. Sistem kepercayaan islam atau aqidah di bangun atas dasar keimanan yang lazim disebut rukum iman. Sebelum menguraikan satu persatu tentang rukun iman terlebih dahulu kita akan membahas sedikit tentang iman.

Iman secara umum dipahami sebagai suatu keyakinan yang dibenarkan dalam hati, di ucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan perbuatan yang didasari dengan niat yang tulus dan ikhlas dan selalu mengikuti petunjuk Allah SWT serta sunah Nabi Muhammad SAW. Dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah ayat yang menunjukkan kata-kata iman, yaitu terdapat dalam Q.S Al-Baqarah (2):165











































45Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam( Jakarta: Rajawali Press, 2010), 199.

(42)























Artinya: “Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah

tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang- orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah.

dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).”46

Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui bahwasanya iman itu identik dengan (asyaddu hubbal lillah) kecintaan yang sangat mendalam. Iman adalah sikap yatu kondisi mental yang menunjukkan kecenderungan atau keimanan luar biasa terhadap Allah SWT. 47

Pokok-pokok aqidah jumlahya ada enam (rukun iman) yaitu: iman kepada Allah, iman kepada Malaikat-malaikat Allah, iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Nabi dan Rasul Allah, iman kepada adanya Hari Akhir, dan iman kepada qadha dan qadar Allah. 48 Dan adapun rukun iman tersebut adalah sebagai berikut:

1) Iman kepada Allah

Esensi dari iman kepada Allah adalah pengakuan tentang keesaan (Tauhid)-Nya. Tauhid berarti keyakinan tentang

46 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 41

47 Rois Mahfud, Al Islam, (Jakarta: Erlangga, 2011), 12

48 Aminuddin, dkk, Membangun Karakter dan Kepribadian melalui Pendidikan Agama Islam (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2006), 58.

(43)

kebenaran keesaan Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sejak ayat pertama diturunkan, Al-Qur’an sudah

“berbicara” tentang tauhid. Tauhid dalam hal ini ada tiga pemahaman yaitu tauhid Rububiyah, tauhid Mulkiyah, dan tauhid Uluhiyah. Tauhid Rububiyah ialah mengimani Allah sebagi satu- satunya Rabb ( maha mencipta, Mengelola, dan Memelihara ).

Hal ini sesuai dengan penegasan Allah dalam Q.S Al-Fathir 35:11-13

















































































Artinya: Dan Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan). dan tidak ada seorang perempuanpun mengandung dan tidak (pula) melahirkan melainkan dengan sepengetahuan-Nya. dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.12. Dan tiada sama (antara) dua laut;

yang ini tawar, segar, sedap diminum dan yang lain asin lagi pahit. dan dari masing-masing laut itu kamu dapat memakan daging yang segar dan kamu dapat

(44)

mengeluarkan perhiasan yang dapat kamu memakainya, dan pada masing-masingnya kamu Lihat kapal-kapal berlayar membelah laut supaya kamu dapat mencari karunia-Nya dan supaya kamu bersyukur.13. Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. yang (berbuat) demikian Itulah Allah Tuhanmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. dan orang- orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari.49

Tauhid mulkiyah ialah mengimani Allah sebaga satu- satunya Malik ( Maha Memiliki, penguasaan, pemimpin, dan tujuan segala sesuatu). Hal ini terdapat dalam QS Al-baqarah (2):107.





































Artinya: “Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong.”50

Tauhid Uluhiyah ialah mengimani Allah sebagai satu- satunya Tuhan yang disembah seperti yang terdapat dalam QS Ar-Ra’d(13): 28

49 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 697

50 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 29

(45)

























Artinya: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” 51

2) Iman kepada malaikat

Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah SWT ynag bersumber daricahaya, ia tidak dapat dilihat dengan panca indra manusia. Namun demikian, ia tetap ada dan melaksanakan tugas- tugas yang diberikan oleh Allah SWT. Malaikat juga makhluk Allah yang tidak pernah mengingkari dan melanggar perintah Allah.52

3) Iman kepada kitab Allah

Selain percaya kepada Allah, orang yang beriamn juga wajib percaya dengan kitab-kitab Allah, sebab iman kepada Allah dan iman kepada rasul-Nya menjadi satu kesatuan yang utuh.

Allah menurunkan kitab-kitabnya untuk dijadikan pedoman oleh manusia dalam menata dan mengatur kehidupannya demi mencapai keridhaan Allah sebagai puncak dari tujuan hidup yang sesungguhnya.

51 Ibid., 373

52 Rois Mahfud, Al-Islam (Palang Karaya: Erlangga, 2011), 17

(46)

Allah telah mengutus para Rasul-Nya dan menurunkan pula tab-kitab sebagai pedoman hidup manusia. Sejumlah kitab yang wajib dipercayai dan diimani adalah Zabur, Taurat, Injil dan Al-Qur’an.

4) Iman kepada para rasul Allah

Rasul yang berati utusan mengandung makna manusia- manusia pilihan yang menerima wahyu dari Allah dan bertugas untuk menyampaikan isi wahyu kepada tiap-tiap umatnya. Rasul- rasul yang diutus oleh Allah SWT memiliki syariat yang berbeda, namun misi diutusnya mereka adalah sama yaitu memperjuangkan tegaknya akidah yang mengesakan Allah.

Nabi dan Rasul terdahulu mempunyai umat asing- masing, mereka hadir untuk memberikan bimbingan dan penyuluhan kepada tiap-tiap umatnya sehingga mereka memiliki keterbatasan waktu dan tempat. Keadaan ini berbeda dengan rasul yang terakhir, Muhammad SAW. Ia datang untuk menyempurnakan syariat rasul-rasul sebelumnya dan berlaku untuk seluruh umat manusia yang ada dijagad raya ini. Hal ini sesuai dengan Q.S Al-Maidah (5):3.

































(47)





























































































Artinya: “diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala.

dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.53

5) Iman kepada hari kiamat

Hari kiamat disebut juga dengan yaumul akhir (hari akhir), yaumul ba’ats (hari kebangkitan), yaumul hisab (hari perhitungan), yaumul zaja’i (hari pembalasan). Dalam Al-Qur’an

53 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 157

(48)

terdapat sejumlah ayat yang merujuk kepada hari kiamat seperti yang terdapat dalam Q.S Al-Qashah (28):88 yang berbunyi:









































Artinya: “Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”54

Keyakinan dan kepercayaan kepada hari kiamat memberikan suatu pelajaran bagi kita bahwa semua yang bernyawa akan mengalami kematian dan akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya di dunia. Hari kiamat menandai babak akhir dari sejarah hidup manusia di dunia. Kedatangan hari kiamat tidak dapat diragukan lagi bahkan proses terjadinyapun sangatlah jelas.

Oleh karena itu sebagai ummat muslim haruslah mengimani dan meyakini adanya hari kiamat yang bertanda semua yang ada dilangit dan di bumi akan binasa.

54 Ibid.,625

(49)

6) Iman kepada

Gambar

Tabel 4.3  Tabel hasil temuan

Referensi

Dokumen terkait

Peranan guru pendidikan agama Islam dalam pembinaan sikap keagamaan siswa signifikan di indikatori oleh dengan perintah guru agama untuk melaksanakan shalat (95%)

Di antara umat Islam yang sangat majemuk, Islam dianggap sebagai sumber nilai, Islam sebagai. agama anutan formal, ataupun Islam sebagai agama formal dan

Faiza Anisa Hanum. Nilai Keshalehan Sosial dalam Serat Kalatidha dan Relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas

105191100116 yang berjudul “Peran Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Membina sikap Kedisiplinan Beribadah Siswa di SMA Muhammadiyah Wilayah Disamakan” telah diujikan

Jadi dalam penelitian ini peneliti akan meneliti kekhususan dari subyek peneliti, terutama upaya guru pendidikan agama Islam dalam meningkatkan kesadaran beribadah

pendidikan agama Islam dalam membentuk sikap religius siswa, dengan mendeskripsikan nilai-nilai religius yang ditanamkan guru pendidikan. agama Islam kepada siswa, dengan

Strategi guru pendidikan agama Islam disini dengan menumbuhkan kesadaran beribadah untuk memberikan pengarahan pada siswa agar siswa tersebut melaksanakan sholat duha

Pendidikan pada remaja adalah Pendidikan yang islami, dalam arti islami mengandung makna bahwa setiap jenis Pendidikan yang diberikan pada remaja harus dengan nilai agama Islam, karena